Balada Naik KA Ekonomi Lebaran

Ada sebuah tip bagi Anda kalau pulang “mudik” dengan KA ekonomi. KA ekonomi saat mudik identik dengan sengsara yang butuh banyak kesabaran. Wih, tak terlukiskan deh “duka laranya” (ye…kok jadi melankolik amat ya). Tapi bener Akhi wa Ukhti, naik KA ekonomi saat Idul Fithri sungguh butuh kesabaran.

Tetapi ingatlah, seberat-beratnya beban kita, ada tip untuk mengatasi derita ini, yaitu dengan menyadari bahwa, “Kesulitan ini hanya sebentar saja. Paling lama 20 jam. Setelah tiba di tempat tujuan, segalanya akan berubah jadi baik, insya Allah.” Dengan kesadaran ini, alhamdulillah kita merasa kuat untuk melawan kesulitan. Pokoknya, ingat selalu bahwa penderitaan itu akan segera berakhir, begitu KA sampai di stasiun tujuan. Tetapi, agar selamat dan Anda dimudahkan, jangan lupa tetap shalat saat di KA. Boleh dijamak dua waktu shalat, tapi jangan ditinggalkan. Tidak perlu malu saudaraku!

Saya jadi ingat ketika berkunjung ke Museum Brawijaya di Malang. Disana ada “Gerbong Maut”, yaitu semacam gerbong KA yang diisi manusia sebanyak-banyaknya, sehingga sesak, sempit, panas, dan banyak manusia mati kehabisan nafas dan udara. Itu cara licik setan Belanda di masa lalu dalam menyiksa para pendahulu kita. Meskipun tentu PT KAI tidak ada niat melestarikan “Gerbong Maut” itu, tetapi derita di KA ekonomi itu sungguh tidak ringan lho.

Disini ada sebuah ide kreatif yang bisa dicoba oleh PT KAI. Kalau Ary Ginandjar punya ESQ, KAI bisa mengadakan STSQ (Super Train Spiritual Quotient). Maksudnya, fasilitas KA Ekonomi saat lebaran itu bisa menjadi sarana training untuk melatih kesabaran. Target pelatihannya ialah setiap pejabat mulai dari tingkat walikota, bupati, kepala bagian, dirjen, anggota DPR/DPRD, ketua-ketua partai, sampai presiden, ketua BUMN, anggota MPR, dan sebagainya. Sebaiknya, bapak-bapak itu sebelum menjadi pejabat, mereka bisa ikut pelatihan bertema “Indahnya Kesabaran di KA Ekonomi Lebaran”. Saya yakin, kalau KAI mengadakan itu, dan banyak pejabat ikut, insya Allah banyak pejabat akan jadi manusia-manusia sabar. Ini kesabaran riil, tidak dibuat-buat lho.

Nah, nanti setiap calon pejabat peserta training tidak boleh bawa HP, tidak boleh bawa uang saku, tidak boleh bawa pengawal/asisten, tidak boleh memakai pakaian eksklusif, tidak boleh bawa ATM/credit card. Pokoknya mereka harus seperti penumpang biasa. Sudah itu, setiap peserta diberi tambahan beban membawa kardus kulkas masing-masing 2 kardus, plus sangkar burung, dan 5 ekor ayam. Mereka harus mencari tempat duduk sendiri, tidak diberi nomer tempat duduk. Satu lagi yang penting, mereka tidak boleh membawa rokok sebatang pun.

Saya yakin jika STSQ ini dijalankan, para pejabat kita akan bisa meraba derita rakyat kecil. Mereka sesekali perlu diajak mengikuti pelatihan eksklusif bertema “Napak Tilas Gerbong Maut”. Nanti sesampai di stasiun tujuan (misal Surabaya), kalau masih ada yang sadar, nah dia lulus ujian, dan berhak menjadi pejabat. Tetapi kalau teler semua alias pingsan atau koma, berarti mereka belum layak jadi pejabat, sebab belum memiliki skill di bidang kesabaran.

Meskipun begitu, ada juga cerita-cerita lucu yang pernah kami alami dulu waktu naik KA Ekonomi. Ya, ini hiburan di atas hamparan kesulitan yang menyertai. Alhamdulillah. Disini saya sebut sedikit saja, biar tidak terlalu panjang.

Akhi wa Ukhti, kalau Anda semua tahu, betapa naik KA ekonomi baik saat mudik maupun balik, sangat padat penumpang. Sampai WC yang baunya tidak pernah Anda cium selama hidup di dunia itu…ditempati oleh orang-orang yang tidak kebagian kursi. Entah, apa yang mereka lakukan agar tahan lebih dari 12 jam mendekam dalam WC mengerikan itu. (WC seperti itu bisa menjadi alternatif salah satu bentuk hukuman mati bagi koruptor…he he he). Mungkin mereka menutup rapat hidungnya dengan kapas, dan bernafas dari mulut. Entahlah, yang jelas mereka hebat, tabah sekali.

Begitu padatnya isi KA, sampai untuk keluar masuk dari tempat duduk kita keluar, sulitnya bukan main. Tidak ada tempat tersisa yang kosong dari manusia. Meskipun begitu, bagi penjual nasi pecel, aqua, pop mie, rokok, tissue, dll mereka tidak kenal kata menyerah pada keadaan. Mereka terus masuk di sela-sela manusia yang begitu padatnya. Kami benar-benar takjub menyaksikan kehebatan mental mereka dalam soal jualan dagangan.

Waktu itu kami naik KA dari Malang tujuan ke Jakarta. Maksudnya, nanti di Cirebon turun, lalu cari angkutan ke Bandung. Di suatu tempat kami pernah tertarik untuk membeli rambutan. Waktu itu sepertinya mulai musim rambutan, tetapi masih banyak rambutan-rambutan asam. Cirinya rambutannya kemerahan, kekuningan, dengan rambut panjang-panjang. Rambutan seperti itu biasanya asam. Tetapi kalau rambutan dengan potongan “cepak” alias rambutnya pendek-pendek, biasanya manis. Meskipun ia rambutan yang masih agak hijau. Panjang-pendeknya rambut disini memiliki korelasi dengan manis-asamnya daging rambutan.

Waktu itu kami tertarik membeli rambutan dari seorang abang-abang. Menarik, bulu rambutnya pendek-pendek alias “cepak”. Nah, ini rambutan manis. Kami pun membeli satu atau dua ikat, lupa tepatnya. Setelah agak lama, kami makan rambutan itu. Ternyata…yaaa ini sih asam juga. Ternyata, rambutan “cepak” itu asam juga, tidak manis seperti perkiraan.

Saya penasaran, lalu mengamati kulit rambutan itu. “Biasanya rambutan cepak manis, ini kok asam ya.” Saya perhatikan secara teliti. Setelah dicermati, kami pun tidak bisa menahan rasa geli. “Yaa, rambutan ini rambutnya diguntingi oleh abangnya, jadi kelihatan cepak. Dia tidak asli cepak dari sononya.” Ternyata, rambutan itu tampak gundul karena digunduli abangnya sendiri, bukan gundul sejak dari pohonnya. Hal itu terlihat dari bekas potongan rambut di kulitnya. Kami pun tertawa.

“Abang abang, jualan aja kok gini-gini amat. Telaten amat menggunduli setiap kulit rambutan. Lagian salon mana yang menggunduli rambutan-rambutan itu? Mungkin biaya salon-nya lebih mahal dari harga rambutannya. Tapi amit-amit dah, ada salon rambutan…”

Ya, itu sedikit kenangan menarik seputar angkutan Lebaran. Mungkin Anda punya pengalaman lain yang lebih menarik? Silakan berbagi dengan temannya.

Salam kasih-sayang dalam Islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: