Mengapa Sih Tidak Berdoa Sendiri?

Sejak lama saya memiliki keheranan besar dengan sikap umumnya Muslim Indonesia. Saya dibesarkan dalam lingkungan Nahdhiyin sampai beranjak remaja. Dalam tradisi Nahdhiyyin ada suatu kebiasaan yang sangat sulit saya mengerti. Hal itu telah dirasakan sejak lama. Ternyata, tradisi seperti itu juga banyak dianut di Jawa Barat, Depok, Jakarta, dan lainnya.

Dalam Surat Al Fatihah disebutkan, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepadamu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Begitu agungnya ayat ini sehingga menginspirasi Ibnul Qayyim Al Jauziyyah untuk menilis Zaadul Ma’ad. Beliau bahas ayat itu sedalam-dalamnya, -mungkin paling dalam dari ulama manapun lainnya.

Dengan bahasa sederhana, tanpa takwil macam-macam, ayat itu mengajarkan dua hal, yaitu: al ikhlas (memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja) dan doa (memohon pertolongan hanya kepada Allah). Dua hal ini merupakan bekal hidup orang beriman, dalam mengarungi kehidupan dunia dan mencari Mardhatillah di sisi Allah di Akhirat nanti.

Tetapi di tengah masyarakat kita banyak sekali kaum Muslimin yang minder. Mereka minder untuk berdoa dan memohon langsung kepada Allah. Mereka tidak percaya diri, merasa kotor, merasa tidak berharga, sehingga untuk urusan doa, harus selalu melalui perantara (wasilah). Wasilahnya bisa macam-macam, misalnya: berkah wali, doa orang shalih, berkah kuburan keramat, berkah Syaikh Abdul Qadir Jailani, jah Rasulullah, barakah Al Fatihah, dll. Banyak sekali bentuknya, tetapi intinya merasa minder dengan dirinya sendiri.

Dalam menghadapi urusan apapun alangkah baiknya kalau tidak memakai banyak prosedur, tidak melalui meja-meja yang banyak, tidak terlalu biroikrasi. Kata orang, “Urusannya gampang, tidak bertele-tele.” Nah, siapapun pasti suka urusan yang lancar, mudah, cepat, praktis; tidak perlu berbelit-belit, prosedural, makan waktu dan energi, sudah begitu tidak dijamin hasilnya baik.

Dalam doa kita sudah dimudahkan oleh Allah. “Ud’uni astajib lakum” (Berdoalah kalian kepada-Ku, maka Aku jawab doa kalian). Atau ayat lain, “Ujibu dakwatad da’i idza da’ani” (Aku mengabulkan doa seorang pendoa yang berdoa kepada-Ku).

Kalau mau doa, silakan saja langsung doa kepada-Nya. Tidak perlu prosedur macam-macam, tidak perlu wasilah ini itu, langsung saja ke Allah. Ini hotline kepada-Nya, tidak butuh macam-macam birokrasi yang menyusahkan. Doa, doa, doa apa saja kepada-Nya, selama isi doa itu baik dan bermanfaat.

Memakai bahasa apapun bisa, kalau belum fasih berdoa bahasa Arab. Anda memakai bahasa semut juga boleh, sebab Allah paham doa semut, kalau Anda bisa berdoa dengan bahasa itu. Mau doa sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, silakan saja. Mau minta jodoh, kesehatan, kekayaan, keturunan, ilmu, perlindungan, sukses usaha, rizki, kehormatan, kemuliaan, apa saja asalkan baik dan bermanfaat bagi kita. Anda mau doa setelah shalat, doa setelah baca Al Qur’an, ketika puasa, ketika dalam khutbah, ketika saat berperang di jalan Allah, ketika safar, ketika sakit, ketika sedang makan, ketika sedang kumpul-kumpul dengan teman, ketika sedang ngetik di blog, ketika sedang di atas kendaraan, ketika sedang menggendong anak, bahkan ketika sedang di atas tubuh isteri -maaf bagi yang belum menikah, silakan disensor sendiri-, boleh-boleh saja, asal tidak di WC.Dalam soal doa ini sifatnya benar-benar langsung (hotline) kepada Allah, tidak perlu dibuat rumit-rumit.

Namun, lihatlah Ummat Islam ini. Lidah mereka kelu untuk berdoa. Mereka baru mau berdoa kalau sedang di dekat kuburan keramat, sedang haul ulama anu dan anu, saat Maulid Nabi, dibacakan ratib Barzanji, harus dengan nama Syaikh Abdul Qadir Jailani, disebut nama Ja’far As Shadiq, imam ini itu, dan sebagainya. Allah tidak mempersulit Anda dengan semua itu, mengapa harus dibuat rumit saudaraku?

Bebaskan dirimu dari bermacam-macam BIROKRASI yang tidak benar itu! Tinggalkan semua itu. Kini berdoa-berdoalah kepada-Nya secara eksklusif, antara dirimu dengan-Nya, dengan rasa percaya diri, dengan hati yang penuh, tidak ragu-ragu atau meragukan Allah. Harus dicatat, Allah tidak memberi jalur kesulitan dalam soal doa ini, maka jangan mempersulit diri.

Memang Anda boleh meminta doa dari orang lain, misalnya dari ustadz, kyai, shahabat baik, atau kaum Muslimin yang bisa diharap doanya. Tetapi mereka bukan orang yang sudah wafat, biarpun dirinya seorang ulama/wali yang dihormati. Mintalah doa dari manusia-manusia yang masih hidup, sebab yang sudah wafat tidak akan bisa memberi manfaat kepadamu.

Cara-cara mencari wasilah (perantara) itu, suatu saat bukan hanya akan membuat doa seseorang tidak didengar oleh Allah, tetapi bisa menjerumuskan hatinya mempertuhankan orang-orang shalih. Lihatlah orang-orang yang sudah terbelenggu oleh nama Syaikh Abdul Qadir Jailani itu! Mereka begitu ketakutan kepada beliau, melebihi takutnya kepada Allah sendiri. Kenyataan apa ini? Inilah kemusyrikan yang diajarkan oleh syaitan secara diam-diam, tak berasa.

Mereka tidak berani berkata, “Syaikh Abdul Qadir Jailani itu terlalu lemah. Dia tidak bisa menolong diri kita.” Mereka takut kualat kepada Syaikh Abdul Qadir itu. Mereka sangat takut kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani, sedangkan yang bersangkutan sudah wafat berabab-abad lamanya. Bayangkan, kalau Syaikh Abdul Qadir masih hidup di jaman ini, apa yang akan mereka lakukan? Mungkin akan diperlakukan secara berlebihan melebihi kepantasannya sebagai manusia. Bukankah sebenarnya, setiap keshalihan itu adalah karunia Allah, bukan diciptakan sendiri oleh manusia?

Kita tidak boleh menciderai kehormatan ulama-ulama di masa lalu yang telah terkenal keshalihan, ilmu, dan kebaikannya. Tetapi kita juga dilarang takut kepada mereka, lalu menganggap diri mereka bisa menyebabkan “manfaat dan kerugian” atas hidup kita. Ini salah dan salah. Hal semacam ini tidak berbeda dengan kaum Nuh As. yang menyembah patung orang-orang shalih. Hanya beda penampilannya saja.

Akhi wa Ukhti, tinggalkan wasilah-wasilahan ini. Berdoalah hotline kepada Allah, tanpa perantara apa-apa. Kalau ada perantara, ia adalah amal-amal shalihmu sendiri dan doa orang-orang beriman untuk kebaikanmu. Hanya itu saja. Tinggalkan segala wasilah-wasilahan itu. Selain hanya mempersulit diri, belum tentu doamu akan dihargai oleh Allah, engkau bisa terjerumus syirik di dalamnya.

Selama engkau menghayati dengan tulus murni kalimat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), lalu konsisten melaksanakannya, yakinlah engkau akan dibukakan pintu-pintu kebajikan yang banyak.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Ardhillah, 16 Oktober 2009.

AM. Waskito.

Iklan

5 Responses to Mengapa Sih Tidak Berdoa Sendiri?

  1. mulachelaa berkata:

    Bayangkan, kalau Syaikh Abdul Qadir masih hidup di jaman ini, apa yang akan mereka lakukan? Mungkin akan disembah-sembah sampai jidatnya menghitam seperti panci di atas tungku. Na’udzubillah min dzalik……….. assalamualaikum ust mbok ya pake bhs yg lebih lembut, Alloh mencintai kelembutan bukan?, ohh ya klo masalah wasilah panjenengan nggak setuju ya monggo, sepengetahuan saya wasilah adalah jalan , dimana untuk menuju kehadapan Alloh, baik melalui Ayat-ayat Al quran , nabi-nabi ataaupun orang-orang sholeh , dan itu bukan merupakan suatu birokrasi yg berbelit, memang benar kita berdo’a bisa secara langsung meminta , tapi apakah ada salahnya klo sebelum berdoa kita kita merendahkan diri lalu bertobat membaca-baca Al quran / sholat terlebih dahulu lalu mendoakan orang sholeh, baru kita menyebut apa yg kita inginkan, berkenaan dengan syeh Abdul qadir Al jailani itukan sebuah implementasi kita cinta kepada orang-orang sholeh, kalau kita cinta kepada orang-orang sholeh tersebut tidak hanya syeh Abdul qadir Al jailani saja siapapun dia, kitakan bisa mengambil manfaat melalui mereka. karena yang membuat mulia seseorangkan bukan krn jasadnya melainkan kedudukannya mereka disisi Alloh, dan mereka memiliki kedudukan tersebut karena tingkat ketaqwaan mereka, meski tidak ada yang mampu membuat manfaat ataupun madlorot melainkan semuanya atas kehendak Alloh SWT, dan manfaat maupun madlorot itupun ada jalanya ,Wallohua’lam bishowab

  2. abisyakir berkata:

    @ mulachelaa

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih atas saran Antum. Insya Allah kata-kata kasar itu akan segera direvisi. Mohon maaf kalau tidak berkenan di hati.

    Mulachelaa: “sepengetahuan saya wasilah adalah jalan , dimana untuk menuju kehadapan Alloh, baik melalui Ayat-ayat Al quran , nabi-nabi ataupun orang-orang sholeh, dan itu bukan merupakan suatu birokrasi yg berbelit.”

    Kalau kita ingin mendekat (taqarrub) kepada Allah jalannya banyak diajarkan dalam Kitabullah dan Sunnah, misalnya dengan ibadah wajib, dengan menuntut ilmu, dengan tilawah dan memahami Al Qur’an, dengan beramal shalih sekuat kemampuan, dengan bersedekah, dzikrullah, bahkan dengan berjihad di jalan-Nya. Intinya, dengan amal shalih yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Kalau taqarrub dengan memuja Nabi atau orang shalih yang telah wafat, nah ini tidak ada contohnya seperti itu. Ia tidak boleh dilakukan, sebab besar kemungkinan akan menjerumuskan hati-hati ke arah pemujaan terhadap orang-orang itu. Jangankan kepada yang sudah meninggal, kepada orang shalih yang masih hidup saja, kalau kita bersikap sangat fanatik kepadanya, juga tidak boleh. Itu yang dinamakan kultus individu.

    Mulachelaa:”memang benar kita berdo’a bisa secara langsung meminta, tapi apakah ada salahnya klo sebelum berdoa kita kita merendahkan diri lalu bertobat membaca-baca Al quran / sholat terlebih dahulu lalu mendoakan orang sholeh, baru kita menyebut apa yg kita inginkan.”

    Iya benar, kita sebaiknya berdoa dengan tadharruan wa khufyah (merendahkan diri dan rasa takut kepada Allah). Dan alangkah baik sebelum berdoa melakukan amal-amal nawafil/tambahan seperti yang Anda sebut itu. Meskipun ia tidak wajib. Artinya, tanpa itu pun kita boleh berdoa. Dan mendoakan orang shalih, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, itu sangat utama. Itu dicontohkan dalam Al Qur’an, dimana banyak doa-doa selalu memakai kata “kami”, bukan aku. Kami disana meliputi banyak pihak, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, insya Allah. Tetapi orang shalih yang dimaksud tidak harus dikhususkan pada nama-nama tertentu, kecuali terhadap Nabi, orangtua kita, keluarga kita, atau saudara-saudara kita yang ada hubungan urusan dengan mereka.

    Mulachelaa: “Berkenaan dengan syeh Abdul qadir Al jailani itukan sebuah implementasi kita cinta kepada orang-orang sholeh, kalau kita cinta kepada orang-orang sholeh tersebut tidak hanya syeh Abdul qadir Al jailani saja siapapun dia, kitakan bisa mengambil manfaat melalui mereka.”

    Ya, beliau adalah seorang ulama yang terkenal. Ahli ilmu, meskipun karya-karyanya kurang tampak. Beliau seorang dai dan pendidik jiwa. Bahkan beliau disebutkan juga seorang ulama mujahid. Wallahu a’lam. Setahu saya, Ahlus Sunnah mengakui beliau sebagai seorang alim di masanya. Mencintai orang shalih adalah suatu ibadah, seperti dikatakan oleh Nabi, “Al mar’u ma’a man ahhaba” (seseorang akan bersama yang dicintainya). Tetapi, cinta kita jangan sampai ke tahap mengagungkan manusia melebihi maqamnya. Seshalih-shalihnya manusia, masih lebih shalih para Nabi dan Rasul. Terhadap para Nabi saja kita tidak boleh memujanya, apalagi kepada para ulama di bawahnya? Nabi Isa pernah ditegur oleh Allah, apakah dia mengajarkan supaya para pengikutnya menyembah dirinya dan ibunya (Maryam)? Dan Isa mengingkari perbuatan kaumnya, jika seperti itu. (Lihat akhir Surat Al Maa’idah).

    Mulachelaa: “Karena yang membuat mulia seseorangkan bukan krn jasadnya melainkan kedudukannya mereka disisi Alloh, dan mereka memiliki kedudukan tersebut karena tingkat ketaqwaan mereka, meski tidak ada yang mampu membuat manfaat ataupun madlorot melainkan semuanya atas kehendak Alloh SWT, dan manfaat maupun madlorot itupun ada jalanya. Wallohua’lam bishowab.”

    Ya benar, tetapi kita tidak tahu sejauhmana kedudukan seseorang (misal Syaikh Abdul Qadir Jailani) di hadapan Allah. Kalaupun dia mulia, tetap saja tidak boleh diagungkan. Boleh mengambil ilmunya, teladan perjuangannya, akhlaknya, hingga mendoakan kebaikan baginya. Tetapi menganggap Syaikh Al Jailani ini sebagai “sesembahan” yang diharapkan manfaat dan ditakuti bahayanya, itu adalah salah. Jangankan Syaikh Al Jailani, Isa As. saja yang seorang Nabi dilarang mendakwahkan dirinya agar diibadahi manusia.

    Wallahu a’lam bisshawaab. [AMW].

  3. tholibul ilmi berkata:

    Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (bukan Ibnul?).
    Zaadul Ma’ad atau Madaarijus Saalikin bayna manaazili iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.
    Laqod ji’ta bi syawahid al-Jahl, ta’allam yaa akhiy…

  4. Buchori Muslim berkata:

    Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa suatu saat nanti banyak kaumku yang menganut bermacam-macam aliran. Dari kata-kata beliau kita harus bersatu untuk kebersamaan dunia dan akherat. Alqur’an dan hadist merupakan pegangngan kita. Menurutku doa yang utama adalah ketulusan kita meminta kepada Allah tanpa diniati yang lain. Semakin banyak kita meminta atau berdoa, Allah semakin senang karena kita selalu ingat kepadaNya. Kalau membicarakan pakai nama orang sholeh atau tidak menurutku kita tinggal pilih yang mana jangan hal tersebut dipermasalahkan. Karena Allah membenci pertengkaran atau pertikaian.

  5. al-fatih berkata:

    saya setuju dg artikel ini sudah sepantasnya org2 berdoa langsung, tanpa embel, bagaikan birokrasi, jika dibilangin doanya seperti birokrasi marah, jika dia melihat birokrasi negra juga marah.. .. karena birokrasi mempersulit kita, jadi yg senang berdoa dg birokrasi maka nikmatilah birokrasi negara,,, ada jalan lurus maunya berbelok2 kesandung malah nyasar, akhrinya gak sampai ketujuan… beda pendapat silahkan… barakallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: