Krisis Amerika dan Nasib Indonesia

Saat ini dunia sedang digemparkan oleh kehancuran struktur ekonomi Amerika. Sebab khususnya adalah subprime mortgage, kredit perumahan. Singkat kata, di Amerika sono ternyata ada yang semisal “KPR BTN” seperti di Indonesia, yaitu kredit perbankan untuk pembelian rumah. Setelah berlalu waktu yang sekian lama, terjadi kemacetan massal dari nasabah perumahan itu. Satu sisi bank-bank Amerika sudah kadung memberi talangan pembiayaan rumah, di sisi lain pengembalian kredit oleh nasabah perumahan mengalami kemacetan. Dana bank sudah terlanjur dikeluarkan untuk membangun jutaan rumah, tapi dana itu tidak bisa ditarik kembali.

Bisa saja, rumah-rumah itu disita dari pemiliknya, kalau mereka tidak mampu lagi mengangsur. Tetapi setelah disita, ia mau dikemanakan? Mau dibiarkan rusak, atau “dibuang ke laut”? Tidak mungkin, sebab akibatnya pasti akan sangat merepotkan pemerintah. Atau bisa saja, rakyat Amerika dipaksa membayar kredit; kalau tidak mau, mereka dipenjara. Lha, mau memenjara orang sebanyak itu, apa negara siap memberi makan mereka di penjara? Bahkan, ini bukan kasus kriminal, sehingga tidak bisa “main penjara” saja. Akhirnya, pemerintah Bush pusing tujuh keliling.

Akibat subprime mortgage ini, posisi keuangan bank-bank Amerika hancur. Imbasnya, harga-harga saham di bursa efek Amerika (misal Dow Jones, NYSE, Nasdaq) rontok berkeping-keping. Kurs dollar terus merosot. Betapa tidak, bank-bank mereka tidak ada uang, lalu bagaimana akan menjamin kredibilitas bursa saham dan pasar uang? Seperti dulu di Indonesia, setelah industri perbankan hancur akibat Likuidasi 16 Bank, seluruh elemen ekonomi lainnya ikut hancur. Tidak berbeda jauh kasusnya. Hanya saja, saat ini penyebab “Krismon Amerika” adalah kredit macet di bidang perumahan.

Untuk mengatasi masalah ini George Bush mengusulkan “langkah enak”, yaitu negara menyetujui anggaran talangan senilai US$ 700 miliar. Atau setara dengan Rp. 6300.000.000.000.000,- (enam ribu tiga ratus triliun rupiah), dengan kurs per dolar Rp. 9000,-. Padahal ketika Krismon 1997, dana yang dijanjikan IMF untuk mengatasi kesulitan ekonomi nilainya hanya sekitar US$ 43 miliar. Itu pun memberinya dicicil dan kita harus mau dicocok hidung oleh IMF (sampai saat ini).

Dana 700 miliar dolar yang diminta oleh George Bush itu darimana asalnya? Paling besar adalah dari pajak rakyat Amerika (bisnis maupun non bisnis). Tentu saja Konggres Amerika menolak mentah-mentah usulan George Bush, bahkan sekalipun wakil-wakil dari Partai Republik. Kalau disetujui, rakyat Amerika bakal diperas keringatnya sampai kering oleh George Bush. Sementara kalau nanti ekonomi membaik lagi (kalau membaik lho ya) Bush akan lebih mengutamakan kroni-kroninya sendiri seperti Halliburton, Exxon Mobile, Freeport, Newmont, dsb.

Sebenarnya, ada masalah lain yang sangat mengerikan terkait dengan hancurnya keuangan Pemerintah Amerika, yaitu pengeluaran untuk Perang Irak dan Afghanistan. Dampak kedua perang ini sungguh gila bagi keuangan Amerika. Sampai Joseph Stiglitz memperkirakan kerugian akibat perang ini bisa mencapai angka 5 triliun dolar Amerika. Amerika datang ke Irak untuk mengeruk minyak, tetapi mereka malah mengalami kebangkrutan seperti yang dulu menimpa Uni Soviet di Afghanistan. Amerika memburu minyak, tapi modal yang di tangannya amblas. Seperti analogi, mau menembak seekor rusa dengan menggunakan rudal Tomahawk. Nilai buruannya berapa, harga rudal berapa?

Kehancuran di bursa saham dan pasar mata uang hanyalah akibat dari kehancuran keuangan perbankan akibat kredit macet perumahan dan kehancuran keuangan Pemerintah akibat membiayai perang Irak-Afghanistan. Ia sama seperti kasus Krismon 1997 di Indonesia lalu.

Dalam buku “Hidup Itu Mudah” (Khalifa Jakarta), saya sempat membahas secara sepintas. Buku tersebut terbit Ramadhan 1428 H lalu (tahun 2007). Disana saya katakan, kalau Amerika terus bertahan di Irak sampai 3 tahun ke depan (2007-2010), negara itu akan hancur berkeping-keping. Masya Allah, ternyata sebelum 2010 dia sudah hampir-hampir hancur dan sulit diselamatkan. Allahu Akbar, kezhaliman yang dilakukan tidak akan berakibat, kecuali kepada pelakunya sendiri.

Dan satu lagi yang perlu dicatat, bahwa skenario menghancurkan WTC tanggal 11 September 2001 oleh George Bush Cs., ia juga menyumbang kekacauan besar. Bush menghitung, “WTC tidak apa-apa dikorbankan. Semua sudah kami perhitungkan secara masak. Apalagi, WTC ini sudah tua, sudah waktunya digantu gedung bisnis lain.” Saya tidak tahu, apakah sesimple itu kalkulasinya. Katakanlah, secara aset dan jaringan bisnis, WTC taruhlah anggap “tidak berharga”. Tetapi sebagai icon New York, gedung WTC adalah pusat bisnis yang menjadi icon kapitalisme dunia. Kalau gedung ini hancur, berarti kedigdayaan kapitalisme dunia rontok sudah. Lagi pula, sejak kasus WTC itu terjadi trauma yang sangat hebat di mata dunia, khususnya warga Amerika sendiri. Mereka merasa telah masuk ke dalam the age of fear (jaman serba ketakutan). Betapa tidak, untuk yang semegah WTC saja bisa rontok “oleh teroris”, apalagi kehidupan mereka yang lemah?

Dan Bush ketiban sial yang lebih menyakitkan lagi. Ternyata, opini dunia saat ini tidak ada yang percaya bahwa WTC hancur karena Osama bin Laden. Tidak mungkin orang seperti Osama bisa melakukan kejahatan itu, meskipun dia berkali-kali meyakini bahwa WTC dihancurkan oleh anak buahnya. Mari kita tanya Si Osama, “Bagaimana strategi Anda untuk bisa menghancurkan WTC dengan pesawat sipil? Coba jabarkan strateginya!” Kalau pertanyaan itu terjawab secara detail dan logis, mari kita tanya lagi, “Apakah kamu percaya bahwa pesawat sipil bisa menghancurkan gedung WTC sampai berkeping-keping jadi debu? Bagaimana teorinya?” Kalau pertanyaan itu terjawab juga, kita tanya lagi, “Kalau Anda memang hebat, coba ulangi lagi perbuatan Anda! Itu masih banyak gedung-gedung lain yang tinggi-tinggi di negara lain.”

Paling-paling dia akan menjawab, “Itu adalah bentuk pertolongan Allah. Kalau Allah berkehendak, segalanya bisa saja terjadi.” Ya, itu jawaban simple-nya. Lalu bagaimana dengan nasib Ummat Islam yang terus menderita akibat perang global melawan teroris? Bagaimana dengan nasib Irak dan jutaan rakyatnya yang tewas? Bagaimana nasib Pemerintahan Thaliban yang dijatuhkan, dan jutaan rakyat Afghan yang menderita? Bagaimana nasib ratusan ribu pemuda dan aktivis Islam yang disiksa di penjara-penjara bawah tanah? Bagaimana nasib dakwah Islam yang terus dilucuti pasca runtuhnya WTC? Apakah semua itu akan kamu bilang sebagai bentuk pertolongan Allah? Jika demikian, berarti kamu telah mensifati Allah dengan sifat-sifat buruk. Na’udzubillah min dzalik. Saya merasa, Osama dan George Bush ini seperti film kartun Tom and Jerry. Jerry terus dikejar-kejar Tom, lalu seisi rumah berantakan. Kehidupan kaum Muslimin berantakan akibat kejar-kejaran antara “teroris” dan “pemburu teroris”. Harus pula diingat, hubungan antara keluarga Bush dan keluarga Bin Laden itu sudah terjalin sejak lama. Mereka sudah berserikan sejak lama. Mungkin saat ini, mereka sedang memainkan “drama antagonis”. Wallahu a’lam.

Alhamdulillah, Allah memiliki sekian banyak karunia atas Ummat Islam. Di tengah-tengah makar yang tidak ada habisnya, Allah justru menampakkan pembelaan. Lihatlah, banyak orang percaya bahwa Tragedi WTC dibuat sendiri oleh George Bush dan kawan-kawan; Kemudian di balik WTC itu banyak orang Barat masuk Islam; dan kini Pemerintah Amerika nyaris berada dalam titik kebangkrutan paling mengerikan. Bahkan kebangkrutan ini sudah diperkirakan oleh banyak kalangan. Anda masih ingat, beberapa bulan lalu IMF sengaja menjual ribuan kuintal emas miliknya. Hal itu ternyata merupakan persiapan untuk menghadapi situasi sesulit saat ini.

Betapa benar Al Qur’an, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (At Taubah: 32).

Lalu bagaimana dengan nasib Indonesia?

Sebenarnya, ini merupakan kesempatan emas bagi bangsa kita untuk keluar dari cengkeraman ekonomi Amerika. Kita selama ini terjajah oleh sistem Amerikanis yang eksploitatif dan zhalim itu. Kini lah saatnya kita keluar dari dominasi Amerika. Selagi Amerika sedang piyek-piyeknya, mari manfaatkan kesempatan untuk membangun kemandirian negara. Trend positif yang berkembang saat ini, untuk membangun kemajuan, kita harus kembali ke kepentingan internal bangsa, bukan selalu mengekor sistem orang lain. Rusia, China, Venezuela, Bolivia, Brasil, India, dll sudah memberi contoh, bahwa mengikut Amerika akan sakit. Kita harus kembali ke kepentingan internal bangsa sendiri, jangan mau terus menjadi batur orang lain.

Secara filosofis, bangsa ini harus menjatuhkan “talak tiga” kepada kapitalisme Amerika, termasuk produk-produk derivatnya. Secara khusus, orang-orang “gajian Amerika” harus dieliminir dari segala hajat manajemen negara. Sri Mulyani Cs itu harus dieliminasi, lambat atau cepat.

Kalau hal ini tidak kita lakukan, bangsa ini benar-benar akan hina. Setiap ada fenomena positif di dunia, kita tidak bisa menikmati manisnya; setiap ada guncangan penderitaan dunia, kita selalu kebagian getahnya. Itu adalah kehinaan dan kehinaan yang sangat memilukan. Indonesia jangan mau menjadi sapi perahan terus-menerus, sebab tidak ada nasib baik bagi sapi seperti itu; sepanjang hidup harus mau diperas dan diperas, terus dihina kehormatannya, dan tidak bisa menikmati kebaikan yang dimilikinya. Jadilah kuda yang merdeka, bukan sapi perahan!

Berkali-kali Allah memberikan kesempatan kepada bangsa ini untuk berubah. Tetapi tetap saja, rakyat negeri ini seperti telah menikmati nasibnya sebagai manusia yang hina sejak lahir sampai mati. Tidak ada kemuliaan, selain kehinaan, kehinaan, dan kehinaan; selain ditipu, dikibuli, dibodohi, dicocok hidung, dan seterusnya. Hanya dengan diberi tontotan Extravaganza, kita sudah merasa mendapat syurga, meskipun hidupnya hina-dina tak terkira.

Kini kesempatan di depan mata untuk menjadi bangsa mandiri, mumpung George Bush Cs lagi sekarat-sekaratnya. Ayo lakukan suatu perubahan fundamental untuk memperbaiki nasib rakyat dan masa depan generasi nanti! Jangan sia-siakan kesempatan ini! Ingat, kesempatan tidak datang dua kali! Kalau kita gagal membersihkan “otak Amerika” dari tubuh bangsa ini, khawatir nasib bangsa Indonesia memang benar-benar menjadi sapi perahan sepanjang hayat. Alangkah baik, jika seperti itu kenyataannya, kita ganti nama bangsa ini menjadi Sapiperahanesia. Seperti manusia tidak berakal, selama-lamanya mau menyiksa diri demi menyenangkan hati orang lain. Mengerikan!

Dari hati kecil, saya menghimbau agar elit-elit politik nasional, khususnya yang Muslim. Cobalah Anda ambil kesempatan ini, jangan dilepaskan. Bergeraklah yang sigap untuk melakukan perubahan. Siapapun yang mengabdi kepada Amerika, jangan beri kesempatan untuk terus bergerak. Bebaskan negeri ini dari dominasi Amerika dalam segala sisinya!

Untuk sementara ini target paling utama, bebaskan masyarakat dari penderitaannya. Penderitaan ini bermula ketika corong kehidupan kita selalu berkiblat ke Amerika. Tinggalkan negeri itu, kembalilah kepada kepentingan internal masyarakat kita sendiri. Bangun kemakmuran, tegakkan hukum, tunaikan keadilan, jaga negerimu, muliakan kehormatannya. Saya sarankan, cobalah menggunakan instrumen-instrumen ajaran Islam untuk membebaskan negeri dari ketergantungan kepada negara asing. Islam ini sumber khazanah ilmu luar biasa, kalau Anda menyadarinya!

Jika langkah seperti itu tidak kita tempuh, kita pasti akan kembali dalam pusaran penderitaan yang sudah-sudah. Ya Allah, betapa letihnya kehidupan ini, jika tidak ada kemauan dari kaum Muslimin untuk berubah. Mereka hanya pandai menjerit, menangis, menghiba, berteriak-teriak meminta tolong. Tetapi saat dituntun untuk keluar secara kongkret dari penderitaan, mereka emoh. Mereka ingin keluar dari penderitaan dengan proses yang enak, cepat, instan, happy-happy, enjoy, funny, diiringi lagu hip hop, senandung rapp atau music house. Ya, mana ada kemenangan dicapai dengan metode senang-senang? Itu kan jebakan budaya Amerikanis yang membuat bangsa ini akhirnya menjadi pecundang.

Semoga Allah memberi hidayah dan taufik kepada bangsa Indonesia untuk membangun kehidupannya yang lebih baik, sentausa, dan dirahmati Allah Ta’ala. Allahumma amin.

Ardhillah, 17 Oktober 2009.

AM. Waskito.

Iklan

9 Responses to Krisis Amerika dan Nasib Indonesia

  1. caramba berkata:

    wao…tuh orang sibuk amat…biasa aja kali…entah itu amerika mau serang siapa ke..itu kan urusan dia…kalau mengenai krisis saat ini kita mesti maklum…..kalau dengan WTC itu kan sudal lau…lihatlah ke depan …dan berjuanglah…jangan lihat ke masa lalu..ok..

  2. Jamila Lestyowati berkata:

    ok deh

  3. Moris Priyandono berkata:

    Amerika,, selamat datang di dalam krisis..
    Mereka membuat makar, tapi sungguh Alloh juga punya makar yang lebih dahsyat..

  4. abisyakir berkata:

    @ caramba

    Terimakasih sudah singgah, silakan lihat-lihat.

    Lho, Amerika serang sana serang sini kan bukan hanya urusan dia. Ia urusan kita juga. Bagaimana kalau yang diserang negara-negara Muslim? Atau bagaimana kalau yang diserang Indonesia? Apakah “itu urusan dia”? Wah, payah sekali cara berpikirnya. Seorang Muslim punya solidaritas kepada saudaranya, misal Irak dan Afghanistan.

    Lho, krisis kok dimaklumi? Payah nih. Ya, kita harus paham mengapa terjadi hal begini? Apa sebabnya, bagaimana solusinya? Jangan diam saja. Masak sudah diberi akal bisanya hanya jadi penonton. Cara “memaklumi” itu dulu yang membuat kita sengsara karena Krismon, sampai sekarang.

    Wah, kelihatan tidak pandai membaca sejarah nih. Krisis saat ini di Amerika, masih ada kaitannya dengan WTC. WTC itu icon kota New York, dengan double tower-nya. New York adalah jantung kapitalisme Amerika. Masak tidak ada hubungannya? Setidaknya, AS serang Irak karena kasus WTC, lalu negeri ini bangkrut kehabisan dana saat ini.

    Ya Allah, Anda salah besar! Kita diajarkan Al Qur’an selalu belajar dari masa lalu (sejarah). “Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu ada pelajaran, bagi orang-orang yang berakal,” begitu kata Al Qur’an.

    Anda bilang “OK”, tapi kalau pemikiran begitu jawab saya “tidak OK”.

    – AMW –

  5. abisyakir berkata:

    @ Jamila

    Sama-sama Ok. Moga Ok (baik) selalu. Amin.

  6. abisyakir berkata:

    Syukran @ Moris Priyandono. Silakan mampir-mampir, lihat-lihat. Moga bermanfaat. Amin. [AMW].

  7. Alim berkata:

    Urus diri aja belum bisa, ngacongi negara lain bisa.
    Urus dan keritik sana para pejabat Indonesia yang korup.
    Amerika ambruk emang gue pikirin. Kita aja kenna, perekonomian smpe ga bsa ketolongin itu baru imbasnya. Mikir kek yang positif, Kenapa ya Indonesia kena? Bagaimana caranya keluar dari masalh ini? Membantu satu sama lain supaya bisa keluar..

    Malah berdoa untuk kehancuran orang lain…ga ada bedanya ma atheis….

  8. abisyakir berkata:

    @ Alim.

    (Moga benar-benar alim, amin).

    ==> Urus diri aja belum bisa, ngacongi negara lain bisa.

    Ya apa sih salahnya kita membahas orang lain? Apa salah apa dosa? Anda lihat sendiri, setiap hari ada “berita dunia” di TV. Kenapa itu? Kenapa harus ada “berita dunia”? Kenapa kita tidak berita “dalam negeri” semua?

    Tidak apa-apa kan kita bahas orang lain. Mereka saja sangat ngurusi kita, sampai waktu itu Bush datang ke Bogor, digelar karfet merah, Bogor dibuat “clear”. Mengapa hanya mereka yang boleh ngurusi kita? Anda termasuk yang inferior ya…

    ==> Urus dan keritik sana para pejabat Indonesia yang korup.

    Di bagian tulisan-tulisan lain kan sudah dibahas juga. Masa mau terus bicara soal korupsi. Media ini nanti ganti nama dong? Misal “Langit Korupsi Watch”. Wah, kalo gitu saya tak mau. Silakan saja, kalau Anda mau buat.

    ==> Amerika ambruk emang gue pikirin. Kita aja kenna, perekonomian smpe ga bsa ketolongin itu baru imbasnya.

    Satu sisi Anda tak mau mikirin soal krisis Amerika, tetapi di sisi lain Anda merasa krisis Amerika itu ada dampaknya bagi kita. Lho, gimana kok tabrakan begitu!

    ==> Mikir kek yang positif, Kenapa ya Indonesia kena? Bagaimana caranya keluar dari masalh ini? Membantu satu sama lain supaya bisa keluar..

    Apa, mikir positif tentang Amerika? Hah… Emang Amerika itu siapa? Buat apa mikirin soal nasib mereka, apalagi sampai mau membantu. Enak bener, Rek.

    Coba Amerika pulihkan lagi kerusakan di Irak, di Afghanistan, coba Amerika cabut semua veto dia ke Israel, coba Amerika kembalikan Indonesia ke posisi yang lebih baik seperti sebelum kehancuran ekonomi yang didalangi IMF dan Bill Clinton. Kalau Amerika bisa berbuat begitu, barulah kita positif thinking ke mereka.

    ==> Malah berdoa untuk kehancuran orang lain…ga ada bedanya ma atheis….

    Kalau negara zhalim tidak apa didoakan agar hancur. Oh ya, orang atheis tidak berdoa lho. Mau doa ke siapa ya…Lenin, Stalin, atau Marx?

    [AMW].

  9. yan p berkata:

    terserah kalianlah!!! capek tau…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: