Sisi Lain Kehancuran Amerika

Mengatakan ungkapan “kehancuran Amerika” di waktu sebelum tahun 2000 adalah suatu kebodohan. Semua orang akan membalas ucapan itu dengan perkataan, “Dasar bodoh! Sinting! Bulshit!” Semua orang tidak ada yang percaya. Hingga Francis Fukuyama membuat kesimpulan, “Pertarungan peradaban sudah usai. Pemenangnya adalah sistem kapitalisme dunia.” Dengan kata lain, dia ingin mengatakan, “The real winner is United States!”

Tetapi setelah tahun 2000, khususnya setelah Tragedi WTC 11 September 2001, kehancuran Amerika adalah sesuatu yang niscaya. Dan dunia menjadi saksi bahwa hari ini Amerika mengalami “Krismon” seperti yang menimpa kita tahun 1997 lalu. Bahkan ini krisis yang lebih dahsyat dari itu. Penyebab khususnya ialah subprime mortgage, kemacetan kredit perumahan.

Dalam kenyataan seperti ini, Uni Eropa serba ewuh pakewuh. Di depan publik dunia, Eropa harus menampakkan simpati atas derita yang menimpa Amerika. Tetapi dalam hati, mereka berkata, “Syukurin lo, syukurin, rasain tuh. Enak kan? Hih, nikmati man, nikmati krisis yang lezat itu. Bawa sono krisis kamu, rasain sendiri. Jangan bawa-bawa kami.” Uni Eropa sebenarnya dalam masa yang lama menyimpan dendam terhadap Amerika. Secara egois Amerika memimpin ekonomi dunia dengan dominasi dollar di pasar mata uang. Mata uang Eropa tidak ada yang kuat melawan dominasi dollar. Sampai mereka menemukan ide menyatukan mata uang, sehingga jadilah Euro saat ini. Mata uang Euro ini kini menjadi pesaing berat bagi dollar, pounsterling, yen Jepang.

Eropa sejak lama merasa tersaingi dengan kuatnya dominasi Amerika. Apalagi sewaktu Perang Dingin, posisi Eropa hanya menjadi pelengkap. Mereka juga memiliki track hubungan sangat negatif dengan Yahudi. Yahudi dan Nashrani Eropa adalah dua kekuatan yang secara historis berhadap-hadapan. Yahudi dianggap mengendalikan Amerika dalam usahanya mengeliminasi peranan Eropa di dunia internasional. Kalau teringat hubungan buruk Yahudi-Eropa, sangatlah wajar jika saat ini Eropa “tampak senang” dengan derita Paman Sam. Kalau ada yang masih bersikap manis kepada Yahudi, ia adalah Inggris yang dalam sejarah dikenal sebagai “bidan” yang melahirkan Israel. (Bukan bidan yang membantu kelahiran, tetapi bidan yang melahirkan bayi Israel. He he he).

Krisis Amerika menjadi sulit diatasi dengan kenyataan, bahwa sebagian besar mata uang dollar tidak beredar di Amerika. Sebagian besar menumpuk di Jepang, China, dan Timur Tengah. Lucu memang, sebuah negara mata uangnya banyak beredar di luar negeri. Bisa saja, untuk mengatasi menipisnya cadangan dollar di dalam negeri Amerika mencetak kertas dollar sebanyak-banyaknya. Tetapi akibatnya akan terjadi inflasi, jumlah uang dollar lebih banyak daripada barang yang diperjual-belikan. Inflasi itu secara luas jauh lebih menyulitkan untuk diatasi. Ia bisa membunuh nilai dollar di pasaran internasional. Pendek kata, situasi Amerika saat ini jauh lebih kalut daripada yang dulu menimpa bangsa Indonesia tahun 1997.

Sebenarnya, pasca Perang Dingin, sejak tahun 90-an, tanda-tanda krisis ekonomi Amerika sudah muncul. Mereka keletihan membiayai Perang Dingan, dalam lomba persenjataan menghadapi seterunya, Uni Soviet. Trus, yang meletihkan lagi, Amerika terlalu ngurusi orang lain. Mereka merasa punya uang, merasa jumawa, lalu mencetak komprador sebanyak-banyaknya di seantero bumi. Termasuk di Indonesia. Nah, semua ini kan sangat memakan biaya.

Amerika agak tertolong ketika George Bush Senior melancarkan perang terhadap Irak tahun 1991 lalu. Setelah operasi badai gurun itu, Amerika mendapat “fee keamaan” yang sangat besar dari Kuwait dan Arab Saudi. Termasuk setoran “pajak kemenangan” dari Irak sendiri. Waktu itu ekonomi Amerika bergairah, sehingga Bill Clinton bisa terpilih lagi.

Semuanya menjadi kacau, ketika Amerika bermaksud mengulang sukses teori “fee keamanan” tahun 2003, yaitu dengan menyerang Irak kembali. Mereka bermaksud menundukkan Irak kembali dan meminta “fee keamanan” dari Kuwait dan Saudi. Ternyata, kedua negara itu karena merasa “pernah dikibuli”, tidak mau lagi melayani niat buruk Amerika. Karena sudah terlanjur menyatakan perang, George Bush Yunior tidak bisa “menarik liurnya sendiri”. Dia harus terus maju perang, dengan Kuwait dan Saudi tidak bisa lagi menjadi “bendahara”, melainkan mereka harus menguras koceknya sendiri, untuk menaklukkan Irak. Sejak tahun 2003 sampai 2008, Irak terus diinvasi oleh Amerika, dengan hasil sangat mengecewakan, bahkan ongkos perang itu sendiri sangat mahal.

Mengapa Amerika bikin gara-gara di Irak sejak 2003?

Sebab mereka butuh dana. Mereka butuh sumber keuangan. Kondisi ekonomi mereka sangat buruk, tetapi tidak tampak di permukaan. Akhirnya, profesi “satpam dunia” pun mau dijalani, demi mendapatkan penghasilan. Mereka itu sulit pasca Perang Dingin yang sangat meletihkan. Hanya sayangnya, setelah sukses tahun 1991, mereka gagal sepenuhnya menjadi “satpam Timur Tengah” pada tahun 2003 sampai saat ini. Alih-alih dapat “fee keamanan”, keuangan Pemerintah Amerika nyaris colapse untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Kalau tidak ada yang membantu, negara itu benar-benar akan hancur mengerikan.

Nah, mengapa Amerika bisa terpuruk seperti ini?

Jawabnya sederhana, yaitu life style (gaya hidup). Gaya hidup mereka hedonis, memuja maksiyat dan syahwat, memuja kesenangan, memuja kebebasan mutlak, memuja persaingan bebas, dsb. Gaya hidup cowboy itulah yang membuat mereka saat ini sengsara. Betapa tidak, amoralitas itu sangat high risk (tinggi resiko) dan high cost (tinggi biaya). Contoh sederhana, hubungan seksual dengan isteri yang sah, meskipun 100 kali sehari -kalau mampu-, tidak menyebabkan kerugian; sedangkan sekali saja free sex, akibatnya bisa sangat panjang dan perih. Begitu pula, sebotol air putih sangat murah, sedangkan sebotol Menson mahal harganya. Ini hanya contoh kecil, bahwa amoralitas itu sangat mahal. Hanya syaitan saja yang mengindah-indahkan fantasi manusia, seolah amoralitas itu enak dan very fun. Padahal perih dan boros biaya.

Negara semaju apapun teknologi, industri, dan dagangnya, kalau rakyatnya amoral, negara itu akan bangkrut, cepat atau lambat. Saya perkirakan, dalam masa 10 atau 15 tahun ke depan, Jepang akan mengalami krisis nasional luar biasa. Meskipun secara ekonomi mereka saat ini baik, tetapi gaya hidup rakyatnya sudah hancur. Mereka telah termakan oleh budaya Amerika yang memuja kebebasan. Ya, ini hanya perkiraan saja, dengan mengamati tanda-tanda empiriknya.

Seharusnya, semua ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Betapa, saat Allah menyuruh kita taat dan patuh kepada-Nya, hal itu bukan untuk siapapun, tetapi untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan apapun dari hamba-Nya.

Dalam Al Qur’an, “Maka jika datang kepada kalian dari sisi-Ku berupa petunjuk, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al Baqarah: 38).

Wallahu a’lam bisshawaab.

Ardhillah, 17 Oktober 2009.

AMW.

Iklan

11 Responses to Sisi Lain Kehancuran Amerika

  1. caramba berkata:

    hai..mas…jangan jelek-jelekin orang kayak gitu dong…nga enak tahu…kayaknya UNieropa nga mikir kayak mas mikirin tu…maybe masnya aja yang iri hati ama Amerika so bilangnya kayak gitu….mas dengar ya…unieropa itu bukan bodoh sehingga menjelek-jelekan orang yang masih ada hubungan SARA…ok…amerika dengan unieropa selalu saling membantu….ya..mungkin aja kita di negara-negara asia timur yang kayak githu kali…coz kita tuh…udah miskin…nga mau kerja..pemalas..tugasnya hanya untuk ….iri hati….

  2. joyo berkata:

    yang lebih menyayat hati, hal ini juga nampak di negara kita Indonesia. Bahkan yang lebih aneh lagi kok ya ada…saja orang indonesia yang ribut membanggakan amerika sebagai bangsa besar. capek deh…

  3. abisyakir berkata:

    @ caramba.

    Lho, kalau memang jelek mau dibilang apa? Barat kan selalu usil dengan Ummat Islam. Masih ingat penghinaan kartun Nabi oleh Jaylland Posten? Dari dulu mereka selalu mencari-cari cara untuk menjelekkan Ummat Islam. Sampai dibuat studi tersendiri, namanya orientalisme. Anda pernah tidak “merasa tidak enak” saat Barat menjelek-jelekkan Islam? Kali kalau kita menjelekkan Barat, Anda sakit hati; giliran mereka menjelekkan Islam, Anda diam saja. Begitu kan…

    Ha ha ha…Anda nih kelihatan kurang membaca. Maaf, terpaksa harus saya katakan demikian. Anda tidak tahu betapa susahnya Eropa membentuk mata uang tunggal yang bernama Euro itu. Anda juga tidak tahu, bahwa seluruh Eropa menolak mendukung serangan AS ke Irak tahun 2003, kecuali sohib akrabnya Inggris. Eropa sudah senang Irak akan memindah transaksi minyaknya ke mata uang Euro, tapi AS marah karena tujuan itu. Perancis termasuk negara paling menentang invasi AS ke Irak.

    Secara keturunan, memang AS berasal dari negara-negara Eropa. Tetapi secara kultur budaya, Eropa berbeda dengan AS. Dalam banyak sisi, Eropa masih menonjol sisi analisis ilmiahnya, sedangkan AS cenderung liberalis, seperti binatang. Gaya Eropa itu berbeda dengan AS.

    Memang kalau Amerika dan Inggris, memang sobatan baik, sebab pusat Yahudi internasional itu ada di London dan Manchester. Penentang paling keras Uni Eropa dan mata uang Euro juga Inggris. Ini masih setali tiga uang.

    Cobalah lebih rill membaca peta hubungan negara-negara, jangan menilai dengan intuisi atau perasaan-perasaan feminim seperti itu.

    Kalau saya sih tidak iri hati, hanya berharap Ummat Islam di Indonesia ini bangkit, jangan diam terus dalam keterpurukan. Ayo perjuangkan nasibmu, jangan diam saja, jangan terjebak dalam gaya hidup hedonis yang sangat menghancurkan.

    Soal iri hati, aahh Barat itu hanya diberi dunia, sementara kita diberi iman, ilmu, hikmah, sakinah, dan sebagainya. Alhamdulillah. Apa yang harus diirikan? Kalau kita kritis, itu untuk menyelamatkan Ummat dari kehancuran hidup, dengan ijin Allah. Itu saja @ caramba.

    Alhamdulillah. AMW.

  4. abisyakir berkata:

    @ Joyo

    Jazakallah khair Akhi, masih sempat singgah kesini.

    Iya di Indonesia ini mentalnya inlander, mental kaum terjajah. Kata Ibnu Khaldun, bangsa terjajah biasanya silau dengan budaya mantan penjajahnya. Indonesia tidak jauh dari itu.

    Kaum Muslimin di Indonesia merasa suatu bahagia dengan meniru budaya liberal orang Barat, meskipun amoral. Maklum, yang paling dominan perasaannya, bukan akal sehatnya. Perasaan malu/minder kalau tampak ketinggalan jaman; sementara akal tidak kritis tentang bejatnya budaya orang lain.

    Sementara para ustadz/kyai tidak pernah memberi peringatan keras atau mengajak masyarakat meninggalkan jeratan budaya Barat. Kalau kita bicara sedikit keras, segera disebut ekstrem, garis keras, radikal. Dari atas ke bawah, berada dalam situasi terlena, tidak memiliki kebanggaan terhadap jati diri sebagai Muslim.

    Di sisi lain, Pemerintah juga menyetir negara agar berkiblat ke Barat. Buktinya apa? Lihat berapa banyak pelajar-pelajar pintar di Indonesia yang disekolahkan ke Amerika, untuk -maaf beribu maaf- nyecep ketiak George Bush dan semisalnya? Kalau mereka pulang, pasti bawa oleh-oleh “sampah” dari Amerika, sedikit atau banyak.

    Moga Ummat Islam, Anda, saya, dan kita semua selalu diberi karunia istiqamah. Allahumma amin. [AMW].

  5. masbadar berkata:

    waduh, nasib wordpress gimana donk..

  6. Realogis berkata:

    Kenapa selalu ada perasaan iri dengki dan keinginan melakukan penbalasan jika disakiti, itu yang diajarkan agama. Perasaan ga mampu bangkit dari keterpurukan sering kali orang Indo khususnya mencari kambing hitam dengan cara menakut-nakuti memakai dalil-dalil agama. Kalau anda benci budaya barat lalu kenapa Anda memakai internet? Itu salah satunya.

  7. abisyakir berkata:

    @ masbadar.

    He he he, Antum peka juga rupanya.

    Iya sih, krisis Amrik ini mungkin nanti ada imbasnya bagi wordpress, blogspot, dll. Ya itu pasti. Tetapi kalau mereka bisa mendapt support keuntungan dari manca negara, dunia internasional dari bisnis itu, misalnya begini ya, mungkin tetap bisa tahan. Seperti dulu saat krisis moneter, peternak udang Indonesia malah berkibar-kibar sebab nilai ekspornya melejit tinggi.

    Tapi kalau wordpress akhirnya gulung tikar…ya sudah cari yang lain saja. Atau gimana kalau wordpress kita beli saja? He he he. (Kebayang mau beli wordpress, justru kita pakai dia karena GRATIS. Iya kan…jujur aja lagi).

    Salam perjuangan dan persaudaraan! [AMW].

  8. abisyakir berkata:

    @ Realogis.

    Terimakasih sudah berkunjung.

    Anda berkata: “Kenapa selalu ada perasaan iri dengki dan keinginan melakukan penbalasan jika disakiti, itu yang diajarkan agama. Perasaan ga mampu bangkit dari keterpurukan sering kali orang Indo khususnya mencari kambing hitam dengan cara menakut-nakuti memakai dalil-dalil agama. Kalau anda benci budaya barat lalu kenapa Anda memakai internet? Itu salah satunya.”

    Ya, kita tidak iri, hanya berharap Ummat Islam di negeri kami ini bangkit, jangan diam saja. Setahu saya, tidak ada sebuah negeri di dunia yang rela kekayaan negerinya diborong orang lain, lalu dia hanya menyalahkan dirinya sendiri, selain INDONESIA. Vietnam, Laos, Myanmar saja punya harga diri, punya gengsi di mata orang asing; tapi di negeri ini para pemimpinnya rela menjadi makelar bangsa lain untuk menjual-belikan keringat rakyatnya sendiri. Mengerikan!

    Saya yakin, lembah hab-hab di neraka yang disebutkan dalam riwayat, tempat penyiksaan pemimpin-pemimpin durhaka, ia nanti akan lebih banyak diisi para pemimpin dari Indonesia. Wallahu a’lam.

    Lho, posisi agama (Islam) ini kan memperbaiki kehidupan manusia. Kalau Anda baca sejarah, Islam itu menjadi inspirasi kemerdekaan negara-negara dunia ketiga dari penjajahan Eropa. Nah, dalam hal itu Islam dianggap baik atau buruk? Kalau dianggap buruk, berarti kita lebih suka dijajah asing. Nah, kebetulan situasi saat ini bentuknya new colonialism, maka Islam tampil kembali memberi spirit. Agama ini baik, tanpa Islam, Indonesia tidak memiliki apa-apa di dunia dan Akhirat.

    Mengapa pakai internet?

    Jawabnya sama, mengapa kita pakai baju, sepatu, kacamata, jam tangan, dll. Mengapa kita memakai semua itu? Karena butuh kan. Nah, internet ini kan kebutuhan juga, dari sisi tertentu, jadi tidak masalah kita pakai.

    Lho, internet kan dari Barat?

    Tidak masalah, internet sebagai barang dagangan bisa dari mana saja. Siapa yang punya barang, kita boleh membelinya, kalau butuh dan punya uang. Lagi pula Barat kan menjual internet ini, lalu kita membelinya. Transaksi jual-beli, wajar kan.

    Tapi wordpress kan gratis, tidak bayar?

    Ya, tapi pemilik wordpress juga mendapat untung kan. Bukan hanya kita, tetapi juga mereka. Kalau wordpress tidak dipakai konsumen, dia juga yang ruginya. Buktinya pemilik wordpress saja tidak keki kok, tapi yang lain merasa “terusik”.

    Maap, maap, kalau tidak berkenan.

    [AMW].

  9. Ibn berkata:

    Hihihi… Kayanya para penetek ketiak dajal AS bakal siap2 mudik nih! Mudah2 mereka pada mati deh sblm tiba di tanah air :mrgreen: uuph!.. 😳 sorry maksudnya pada sadar dan kembali kepada Islam yg hanif. Barakallahu fikum ustadz.

  10. abisyakir berkata:

    @ Ibn.

    Barakallah fikum aidhan ya Akhiyal Karim. Ya, moga mereka kembali ke jalan yang lurus, amin. Hidup dalam sederhana, terbatas, terpinggirkan, selama kokoh di atas As Shirath al Mustaqim lebih baik ketimbang hidup di atas penodaan Islam. Sampai ada ulama yang mengatakan, “Kesulitan di atas keshalihan, jauh lebih ringan ketimbangan kesulitan dalam kedurhakaan kepada Allah.”

    Jazakumullah khair. [AMW].

  11. forlan berkata:

    saya meyakini kehancuran AMerika ada diambang mata. untuk itu kita bersiap menyongsong sinar islam.
    http://pendengardakta.blogspot.com/2008/12/kehancuran-negeri-amerika-di-ambang.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: