Ummat Islam dan Teori Konspirasi

November 24, 2008

Sebuah buku berjudul, Akar Konflik Politik Islam di Indonesia, ditulis oleh Dhurorudin Mashad, terbitan Pustaka Al Kautsar, cetakan Juni 2008. Buku ini diberi kata pengatar oleh Eep Saefulloh Fatah, pakar politik UI. Pustaka Al Kautsar termasuk sering menerbitkan buku-buku yang bertema politik Islam. Buku ini melengkapi wacana yang telah diterbitkan sejak lama. Dalam buku karya peneliti LIPI ini banyak wawasan-wawasan informasi yang bisa dijadikan alat untuk memahami peta politik Islam di Indonesia, sejak dulu sampai saat ini.

Namun kali ini saya tidak bermaksud membahas buku Dhurorudin Mashad di atas. Cukuplah pembaca mengkajinya secara mandiri. Disini saya lebih tertarik membahas salah satu materi kata pengantar Eep Saefulloh Fatah, ketika dia menjelaskan sumber-sumber kemunduran kehidupan Ummat Islam di Indonesia. Menurut Eep, secara statistik jumlah Muslim Indonesia sangat banyak, tetapi secara realitas peranan Ummat Islam marginal. Dia berusaha mencari jawaban atas masalah ini. Salah satunya, menurut Eep, biang kerok kemunduran Ummat Islam, karena kita terlalu banyak terbelit oleh TEORI KONSPIRASI.

Dalam buku itu Eep mengatakan:

“Salah satu cara menjawab yang seringkali diajukan oleh kalangan Islam adalah menemukan sumber-sumber di luar sebagai penyebab, biang kerok, kekalahan atau kegagalan politik mereka (Ummat Islam, pen.). Salah satu cara sangat populer dalam kerangka ini adalah mengajukan teori konspirasi: menunjuk kalangan-kalangan di luar Islam yang dipersepsikan sebagai komplotan yang memang terus-menerus menjaga agenda mereka untuk memarjinalisasikan kalangan Islam.

Goenawan Mohamad menyebut teori konspirasi sebagai “teori orang malas”. Saya tidak bisa tidak bersetuju. Bahkan menurut hemat saya, bukan sekedar itu. Teori konspirasi, bukan alat penjelasan orang-orang yang malas, tetapi juga “teori para pecundang”. Seorang pecundang membiasakan telunjuknya mengarah ke luar dirinya, seolah mengharamkan introspeksi. Seorang pemenang, sebaliknya, senantiasa ikhlas melihat pertama-tama ke dalam dirinya. Introspeksi.

Menuding penyebab di luar sebagai sebab utama atau semata-mata adalah salah satu cara yang kontra-produktif untuk memahami kegagalan dan kekalahan politik kalangan Islam. Karena itu, cara semacam itu selayaknya ditinggalkan. Selayaknya kalangan Islam memulai usaha pencarian jawaban atas pertanyaan itu dengan melihat ke dalam, ke dalam diri sendiri, melakukan introspeksi secara ikhlas, dan menemukan kekeliruan atau kesalahan pertama dan terutama dari sana.” (Akar Konflik Politik Islam di Indonesia, Dhurorudin Mashad, halaman xii).

Eep Saefulloh Fatah beberapa tahun lalu mengambil studi doktoral di Amerika. Kini mulai aktif kembali dalam kancah pemikiran politik di Indonesia. Dia seorang demokrat sejati dengan segudang optimisme tentang kehidupan rakyat yang adil, makmur, sentosa, aman, damai, bersatu, bermartabat, terhormat, mulia, berdaya, harmonis,…: melalui proses demokrasi! Pada sebagian orang, demokrasi telah menjadi nilai-nilai yang mengendap ke dasar keyakinan di hati. [Padahal dalam Islam, politik saja posisinya hanya sekedar wasilah (sarana), bukan prinsip fundamental. Apa lagi demokrasi?].

Saya masih ingat dialog Eep Saefulloh Fatah dengan HS. Dillon di sebuah stasiun TV. Setelah 10 tahun Reformasi, kondisi masyarakat malah acur mumur (hancur berantakan). HS. Dillon berkali-kali menanyakan ke Eep tentang ongkos besar di balik praktik politik selama ini. Tetapi Eep keukeuh dengan keyakinannya, bahwa demokrasi adalah jalan terbaik bagi bangsa Indonesia. Menyikapi situasi penderitaan masyarakat di era Reformasi, Eep begitu pintarnya mencari black sheep (baca: kambing hitam) dengan menyebut konstruksi kepemimpinan politik saat ini yang dianggapnya belum demokratis. Contoh, pada Pemilu 1999 PDIP memperoleh suara terbanyak, tetapi malah Gus Dur yang menjadi presiden. Atau Pemilu 2004, yang jadi presiden malah SBY dari Partai Demokrat.

Pendek kata, dalam pandangan Eep, Indonesia belum mencerminkan kondisi negara yang demokratis. Lalu apa komentar dia ketika menyaksikan kondisi keterpurukan Amerika saat ini? Bukankah disana adalah syurganya demokrasi? Entah, nanti “black sheep” siapa lagi yang akan dibawa-bawa…

Baca entri selengkapnya »


Gerakan Juhaiman Al Utaibi

November 24, 2008

Pada 29 tahun lalu, tepatnya tanggal 20 November 1979 di Makkah terjadi sebuah peristiwa menggemparkan dunia. Ketika itu sekelompok pemuda Arab merebut Masjidil Haram dengan kekuatan senjata dan mengklaim bahwa Masjid Suci berada di bawah kendali mereka. Mereka menyandera para jamaah Masjidil Haram, membunuh polisi yang melawan, serta mengelilingi masjid dengan sistem pertahanan militer. Gerakan ini dipimpin oleh seorang putra gurun Najd, yaitu Juhaiman Al Utaibi.

Gerakan pemuda Arab ini bukan saja membuat Kerajaan Saudi kalang-kabut, tetapi membuat Dunia Islam merasa kalut dan cemas. Bahkan Amerika dan Eropa pun ikut ketar-ketir menyaksikan serangan militer yang tak terduga itu. Hampir tidak pernah ada yang menduga jika Masjidil Haram direbut dan dikendalikan sebuah milisi bersenjata. Mereka kurang dikenal, tidak tahu dari mana arahnya, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sudah menguasai Masjid Suci yang penuh berkah itu. Gerakan Juhaiman nyaris luput dari perhatian intelijen.

Setelah bertahan beberapa minggu, gerakan bersenjata Juhaiman berhasil ditaklukkan. Sandera dibebaskan, Masjidil Haram diamankan, dan para pemberontak di tangkap. Dari kontak senjata yang terjadi, 75 pengikut Juhaiman terbunuh, 170 orang ditahan. Dari pihak pasukan Saudi, 60 orang terbunuh, 200 orang terluka. Masjidil Haram As Syarif mengalami kerusakan-kerusakan, sehingga membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memulihkannya kembali. Akhir dari drama kekerasan ini, 63 orang kelompok Juhaiman dijatuhi hukuman pancung di 8 kota Saudi. Juhaiman sendiri dan Sayyid (saudara “Al Mahdi”), dipancung di Makkah.

Data di atas diambil dari buku berjudul, Kudeta Mekkah: Sejarah yang Tak Terkuak. Ditulis seorang jurnalis, The Wall Street Journal, Yaroslav Trofimov. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Alvabet, Tangerang Jakarta. Cetakan kedua Februari 2008. Judul aslinya, The Siege Of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and The Birth of Al Qaeda. (Pengepungan Makkah: Pemberontakan yang terlupakan di tempat paling suci Ummat Islam dan awal kelahiran Al Qaidah).

Sebagaimana lazimnya buku karya penulis Barat, opini-opini yang dikembangkan cenderung sensasional dan buthek (keruh) oleh asumsi-asumsinya sendiri. Mereka melihat suatu kenyataan tidak seperti orang-orang beriman melihatnya. Sikap sekuler dan meremehkan nilai-nilai keagamaan, merupakan ciri khas buku-buku mereka. Kalau membaca buku seperti itu, secara otomatis harus di-scan dulu, agar “virus” yang bertebaran dimana-mana tidak menyebar ke sel-sel otak.

Sebagai sebuah studi sejarah, opini Yaroslav Trofimov tentang peristiwa pengepungan Masjidil Haram, tidak perlu diterima. Tetapi data-data umum yang dia sampaikan, bisa menjadi referensi untuk memahami suatu realitas sejarah.

Baca entri selengkapnya »


Masih Soal “Ketik REG Spasi”

November 18, 2008

Anda penggemar aktivitas REG-REG-an ??? Anda termasuk satria SMS ??? Anda tidak bisa hidup tanpa ketak-ketik SMS ??? Jangan lewatkan program-program menarik berikut ini:

Ramalan Nasib

Anda mau tahu masa depan? Anda ingin membaca keadaan jaman di masa nanti? Anda ingin mengetahui ramalan kehidupan? Jangan khawatir. Kini Anda berjumpa ahlinya. Kami adalah peramal ulung, pembaca masa depan, rajanya tebak-tebakan jaman.

Apa yang Anda ingin ketahui di masa depan…

Berapa centi bibir Anda akan maju ke depan?

Berapa kali Anda akan ditinggal kawin oleh pacar?

Dimana Anda akan mengalami serangan jantung?

Siapa saja debt collector yang akan memburu Anda?

Berapa kali Anda akan dimaki-maki atasan?

Berapa kali Anda akan dilirik oleh Ryan “Jagal Jombang”?

Berapa kali Anda ditabrak motor?

Atau berapa kali Anda akan ditilang polisi?

Dapatkan jawabannya dari ramalan kami!

Gampang caranya. Anda tinggal ketik REG, spasi MAMA LORENG, kirim ke 007 (James Bond). Tarif Rp. 5000,-/karakter.

Konsultasi Spiritual

Anda merasa selalu gagal? Sekolah tidak lulus? Kuliah nilai E melulu? Bisnis kandas terus? Pacaran tidak ada yang mau? Mau menikah, gagal maning gagal maning? Cari kerja susah? Cari penghasilan, minta ampun? Cari perhatian, malah dikeroyok warga? Cari mati, tidak ada nyali? Mau ikut pilkada, teu boga duit? Mau jadi anggota DPR, ijazah palsu ketahuan? Wis, pokoknya sial terus.

Anda mau mengusir aura sial? Anda mau hidup makmur, sejahtera, damai, dicintai masyarakat? Anda mau sukses karier, bisnis, asmara, dan rumah-tangga? Anda mau sehat lahir-batin?

Mau tahu caranya? Gampang sekali. Tinggal ketik REG, spasi DUKUN MENDEM, lalu kirim ke PO. BOX 1100 LA, California. [Dijamin sampe jaman SMS-an sudah tidak laku, Anda tidak akan dapat SMS balasan].

Bergabunglah bersama kami, kaum pria penggemar REG-REG-an! Nikmati hidup yang penuh pesona. Bersama saya: Doni Colbuntet. Salam dahsyat!

Kehilangan Gairah

Apakah Anda kehilangan gairah? Apakah Anda mengalami keluhan-keluhan seperti di bawah ini:

Hilang nafsu makan, susah minum.

Mata sulit dibawa tidur.

Hati selalu gelisah, hilang semangat.

Pergaulan semakin terasing.

Belajar ditinggalkan.

Kerja di-PHK.

Bisnis gagal, kantor kebakaran.

Isteri minta cerai.

Mertua menuntut ke pengadilan.

Anak-anak bandel sekali.

Tersenyum tidak mampu.

Selalu murung, tatapan mata kosong.

Shalat sudah ditinggalkan.

Berdoa tidak sanggup.

Taubat tidak kepikiran.

Dan lain-lain.

Anda mau tahu solusinya?

Gampang saja, cukup ketik REG, spasi UGD. Lalu kirim ke 1010, bagian pengaduan RSCM Jakarta. Kebetulan, mereka lagi semangat cari relawan untuk percobaan operasi organ dalam. Bagi yang gagal dalam percobaan, sudah disediakan ambulan, dan biaya pemakaman ditanggung.

[Maaf lho, RSCM. Ini cuma humor! Tidak sungguhan. Jangan diambil hati. Kebetulan nama RSCM itu lebih legendaris ketimbangan RS lainnya].

Aduhai, alangkah malangnya hari-hari saat manusia begitu mudah dibodoh-bodohi oleh orang lain. Tidakkah mereka berpikir untuk kebaikan hidupnya? Semoga!


Di Balik Operasi KB

November 18, 2008

Ada sebuah pelajaran menarik dari praktik KB, tubektomi. Ini adalah pelajaran kehidupan yang pernah dialami oleh sebuah pasangan suami-isteri. Di balik keputusan melakukan tubektomi ternyata meninggalkan prahara berkepanjangan. Semoga kita cukup bijaksana untuk mengambil hikmah. Amin.

Di antara cara-cara KB, metode tubektomi termasuk yang paling ekstrem. Biasanya, alat kontrasepsi fisik dipakai untuk mencegah pertemuan antara sel telur dengan sperma, ketika hubungan seks dilakukan. Sedangkan kontrasepsi kimiawi bekerja melemahkan kesuburan seorang wanita, sehingga sel telur yang dihasilkan tidak bisa menghasilkan pembuahan (fertilisasi). Cara kimiawi dilakukan dengan meminum pil sesuai jadwal harian, suntik, atau menanam implant (susuk) di tubuh seorang ibu. Kalau IUD (spiral), sifatnya mencegah pertemuan sel telur dan sperma dengan meletakkan alat tertentu dalam saluran rahim wanita. Adapun tubektomi sifatnya mematikan saluran penghasil sel telur itu sendiri. Caranya bisa memutus saluran sel telur, atau mengikat saluran tersebut agar tersumbat. Tentu saja tubektomi hanya bisa dilakukan dengan cara operasi terlebih dahulu.

Dalam kamus Oxford dijelaskan, metode vasektomi kebalikan dari cara di atas. Vasektomi dikenakan kepada kaum pria, untuk memutus saluran spermanya, sehingga dia tidak pernah lagi menghasilkan sperma. Vasektomi untuk kaum laki-laki, sedangkan tubektomi untuk kaum wanita.

Pernah ada seorang ibu yang memiliki tingkat kesuburan tinggi. Setelah bertahun-tahun menikah, dia dikaruniai 7 orang anak laki-laki dan wanita. Belum termasuk anak yang meninggal akibat keguguran atau meninggal di usia kecil. Karena suaminya seorang PNS, sepertinya ada rasa malu dengan memiliki anak banyak. Apalagi ketika lahir anak ke-7 di saat usia mereka sudah tua. Ia terjadi sekitar 18 tahun lalu. Sang suami waktu itu sudah berusia 60 tahunan.

Mungkin karena saran dokter, tekanan atasan, atau karena rasa malu kepada lingkungan sekitar, sang suami tanpa seijin isterinya langsung memutuskan operasi tubektomi bagi isterinya. Tentu saja pihak dokter mau saja, sebab semakin banyak operasi semakin besar uang mengalir. Operasi tubektomi pun dilakukan tidak lama setelah kelahiran bayi. Dalam operasi itu sang isteri masih belum mengetahui apa yang terjadi. Dan lebih penting lagi, dia belum memahami konsekuensi dari operasi KB yang sangat serius itu.

Saudaraku, di saat-saat selanjutnya kita seperti lagi membaca sebuah cerita horor yang menakutkan. Segalanya serba dramatis, keras, penuh gejolak. Sebelum saya teruskan, cobalah Anda mengambil nafas dalam-dalam, khawatir Anda terlalu berat mendengar cerita ini. Sebenarnya, semua ini aib yang tidak perlu diungkap; tetapi demi memberi nasehat dan peringatan, ia tetap perlu diungkapkan. Tujuannya agar kejadian dramatis itu tidak menimpa rumah-tangga kita. Amin.

Baca entri selengkapnya »


Ketik REG Spasi…

November 18, 2008

tukul

Si Tukul Piranha Arwana

Buat kamoe-kamoe yang demen banget ama aku…

Gemes ama bibirku…

Pingin punya foto-fotoku yang aduhai…

Buat lucu-lucuan di rumah…

Fotoku saat baru bangun tidur…

Foto saat pakai kaos singlet…

Foto saat masih menderita…

Foto saat kecopetan di bis…

Foto saat dimarahi produser…

Foto saat putus cinta…banyak banyak banget.

Mau tahu caranya?

Gampang aja…

Ketik REG spasi TUYUL, eh maaf maksudnya TUKUL.

Lalu kirim ke: 3030 (baca: ga nol ga nol).

Kamu bisa download sepuas-puasmu foto-foto keren aku.

Hayo buruan ketik REG spasi TUMPUL, eh salah lagi, maksudnya TUKUL.

Jangan lupa kirim ke 3 0 3 0.

Nikmati foto-foto kerenku, super ndeso, katro, wong kampung.

Segera fren, caranya gampang.

Cuma ketik REG, spasi PUKUL, eh TUKUL.

Kirim ke “ga nol ga nol”, dijamin kamoe akan puas deh.

Silakan ciumi foto-fotoku sepuasnya. Sampek ndower…

Ketik REG, spasi TUKUL, kirim ke 3030.

Dijamin kamoe tak bakal dapat apa-apa.

Sebab ini cuma humor aja, tidak beneran.

Hayo, siapa mau kumpulin foto-foto Tukul…?

Bonus MP3, suara khas Tukul,”Kembali ke laptop!!!”

Sumber foto: anangku.blogspot.com.


Ketika Trio ISMA Menjadi “Pahlawan”

November 18, 2008

Setelah eksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali pada 9 November 2008 lalu, di atas kertas masalah ini telah selesai, tuntas. Ketika pelaku utamanya telah meninggal, otomatis kasus besarnya terkunci. Begitu logikanya. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bahwa rentetan persoalan ini akan masih panjang? [Lho, kok begitu?]. Iya, sebab pemberitaan intensif tentang sosok Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi (disingkat Trio ISMA) selama ini, justru telah menempatkan mereka ke level pahlawan sosial yang dikagumi oleh banyak orang.

Secara yurudis, Trio ISMA divonis sebagai teroris, pelaku peledakan bom, pelaku tindak kriminal. Menurut logika hukum seperti itu, tetapi di mata publik persoalannya tidak sesederhana itu. Publik memiliki logikanya sendiri. Di mata masyarakat Trio ISMA tidak tampak seperti penjahat dengan muka sangar, bertato, hidup bergelimang dosa; mereka terlihat shaleh, berwajah bersih, berwibawa dengan penampilan dan sikap khasnya. Mereka berani berkata tegas tentang perjuangan, ketika banyak orang hidup berselimutkan kebohongan dan sikap munafik. Hal itu menurut masyarakat sebagai bahasa kejujuran yang lebih membekaskan pengaruh.

Kemudian, sikap antipati secara berlebihan kepada Trio ISMA justru berbalik menjadi lautan simpati bagi mereka. [Ingat kasus 27 Juli 1996 di Jakarta yang mendorong lahirnya PDI Perjuangan]. Selama ini pemerintah, aparat hukum, para pakar, dan media massa secara intensif, massif, dan terus-menerus menempatkan ketiga tokoh tersebut sebagai sosok paling berbahaya bagi negara. “It’s the most dangerous enemies!” begitulah labelisasinya. Kemudian diberikan porsi liputan luar biasa terhadap ketiganya, sejak tertangkap, selama proses pengadilan, sampai saat eksekusi mati di Nirbaya Nusakambangan. Dalam pemberitaan, publikasi, penerbitan buku, diskusi, dll. Trio ISMA diposisikan sebagai teroris yang sangat jahat dan kejam. Sementara masyarakat tidak melihat bahwa pemuda-pemuda itu memiliki karakter seperti yang digambarkan.

Hampir semua TV swasta memberikan porsi perhatian luar biasa kepada Trio ISMA. Sebagai contoh, MetroTV. TV milik Surya Paloh ini jelas secara ideologis berlawanan 180° dengan keyakinan Trio ISMA. Tetapi berkali-kali MetroTV mengangkat topik Bom Bali dalam berbagai liputan khusus. Apapun nama program, durasi, dan waktunya; MetroTV sering mengangkat isu Bom Bali. Dalam salah satu episode Metro Realitas, redaksi MetroTV pernah membeberkan fakta-fakta kejanggalan di balik tuduhan teroris kepada Trio ISMA itu. Saya sendiri merasa aneh dengan kasus Bom Bali salah satunya karena acara Metro Realitas itu. Jika ada stasiun TV yang dianggap “suci” dari pemberitaan ini, mungkin SCTV. Sejak dulu, SCTV konsisten bersikap sentimen kepada ketiga tokoh tersebut. Meskipun, bisa jadi wartawan SCTV secara pribadi ada yang bersimpati ke mereka.

Jika pemberitaan seputar Bom Bali dianggap sebagai medan perang opini, maka sejak awal pemberitaan kasus ini sampai saat pelakunya dieksekusi, maka pemenang sejati dari perang opini ini adalah Trio ISMA sendiri. Segala bentuk pencitraan negatif atas diri mereka berbalik menjadi simpati, kekaguman, bahkan memunculkan citra kepahlawanan. Kharisma Trio ISMA sangat kuat, sehingga publik nasional dan internasional tidak bosan-bosan membicarakan mereka. Mungkin saja nada pembicaraan itu tetap menganggap mereka sebagai teroris, tetapi siapapun tidak bisa menampik, bahwa Trio ISMA melakukan aksi peledakan di Paddy’s Club itu karena misi perjuangan yang diyakininya. Motiv mereka bukan kriminalitas (materi), bukan kekuasaan, bukan dendam pribadi, atau alasan-alasan duniawi. Bahkan di antara korban Bom Bali sendiri, ada yang telah memaafkan mereka, tidak mendendam, bahkan mendoakan ketiganya. Arus seakan berbalik tajam.

Ada jihad lain di luar makna jihad yang diyakini oleh Trio ISMA. Ia adalah jihad menaklukkan hati masyarakat. Publik yang semula antipati, perlahan-lahan mulai bersikap netral, kemudian mulai memahami, hingga mengagumi. Bahkan menjelang eksekusi mati Imam Samudra, rombongan anak-anak TK datang ke rumah ibunya, untuk memberi dukungan. Begitu pula, setelah jenazah Imam dikuburkan, anak-anak SD dan masyarakat sekitar datang berkunjung untuk berziarah. Ribuan orang di Serang datang mengantarkan Imam Samudra ke pemakaman. Andai, tidak ada satu pun TV yang memberitakan acara pemakaman itu, ribuan orang tersebut telah menjadi bukti, bahwa Imam Samudra dan kawan-kawan, telah memenangkan jihad ini, yaitu jihad menaklukkan hati masyarakat. Hanya pertolongan Allah saja yang bisa membuat segala sesuatu berbalik arah.

Sungguh, stigmatisasi terhadap ketiga sosok tersebut, sangat luar biasa. Hingga ada orang tertentu yang menunjukkan sikap kebencian luar biasa lewat penulisan buku yang bernada melecehkan. Namun kemudian arus berbalik, sehingga penulisan buku itu mengundang kecaman dari sana-sini.

Baca entri selengkapnya »


Tiga Terpidana Mati dan Hari Pahlawan

November 11, 2008

Masyarakat luas tidak terlalu menyadari ketika tanggal 7 November 2008, Pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan kepada Allahuyarham Buya Muhammad Natsir dan Allahuyarham Bung Tomo (Sutomo).

Buya Natsir adalah mantan pemimpin besar Masyumi. Beliau sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, tetapi sangat telat diberi anugerah gelar pahlawan. Dibandingkan pemimpin-pemimpin Masyumi lainnya, beliau paling telat diakui sebagai pahlawan. Pihak Keluarga Besar Bulan Bintang, khususnya keluarga Buya Natsir, sejak lama memperjuangkan anugerah gelar pahlawan itu. Dan baru kemarin usaha tersebut berhasil. Alhamdulillah. Buya Natsir sangat berjasa kepada bangsa Indonesia. Kepahlawanan beliau jauh lebih besar daripada peranan Dr. Soetomo, Douwes Decker, WR. Supratman, Syahrir, Otto Iskandar Dinata, Gatot Subroto, 7 Pahlawan Revolusi, dsb. Bahkan lebih besar daripada jasa Jendral AH. Nasution.

Kemudian Bung Tomo juga demikian. Beliau adalah pahlawan Perang 10 November 1945 di Surabaya. Beliau seorang komandan militer yang memberi komando dilancarkannya perang dalam mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan Sekutu. Orasi beliau di RRI sangat terkenal, dengan pekikan Allahu Akbar yang sangat bersemangat.

Jasa Bung Tomo sangat besar ketika Perang 10 November 1945. Tanpa orasi-orasi beliau, belum tentu para pejuang akan terbakar semangatnya. Perang itu menjadi bukti perlawanan total terhadap penjajah yang bermaksud meruntuhkan kemerdekaan yang baru diproklamasikan beberapa bulan sebelumnya. Ia juga menjadi isyarat bagi Sekutu untuk sepenuhnya mundur dari Indonesia. Terbukti, pasca Perang 10 November, Sekutu tidak berniat menguasai Indonesia. Hanya Belanda dengan NICA dan pasukan Gurkha yang terus berusaha memperpanjang kolonialismenya di Indonesia. Suatu keanehan, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan, tetapi Bung Tomo tidak diakui sebagai pahlawan.

Sejak lama Ummat Islam di Indonesia sangat heran dengan kasus Buya M. Natsir dan Bung Tomo rahimahumallah ini. Jelas-jelas mereka berjasa, mengapa negara belum ada kelapangan dada untuk mengakui jasa-jasanya? Katanya, mengutip kalimat Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa pahlawannya.” Kalau tokoh-tokoh yang tidak jelas diberi penghargaan, mengapa untuk dua tokoh Muslim legendaris seperti keduanya, sangat telat sekali.

Bagaimanapun kita tetap menghargai langkah Pemerintah RI memberi gelar kepada keduanya, meskipun sangat telat sekali. Seperti kata ungkapan, “Lebih baik telat, daripada bolos sekolah.” Kalau keduanya tidak diberi gelar pahlawan, statusnya akan sangat meragukan bagi generasi muda Islam. Mereka akan bertanya-tanya, “M. Nastsir dan Bung Tomo itu siapa? Apakah mereka pahlawan, pemberontak, orang radikal, atau teroris?” Nah, keraguan akan status itu benar-benar harus dihapuskan. Bangsa Indonesia harus sepakat mengakui, bahwa mereka adalah pahlawan sejati. Bahkan, dalam pandangan saya, keduanya lebih mulia daripada Soekarno-Hatta yang keduanya diabadikan dalam pecahan uang 100 ribu rupiah, dipakai sebagai pengganti nama Gelora Senayan, sebagai pengganti nama bandara internasional Cengkareng, dan nama jalan-jalan penting di kota besar.

Baca entri selengkapnya »


Obama atau Oh Mama…

November 11, 2008

Selasa, 4 November 2008, kandidat Partai Demokrat, Barack Obama, memenangi pemilu Amerika. Dia menang mutlak, unggul atas John McCain, kandidat dari Partai Republik. Obama menjadi presiden Amerika ke-44, sekaligus presiden kulit hitam pertama sejak era George Washington. Dalam pemilu yang menelan biaya 2,4 triliun dolar itu, Obama membawa Partai Demokrat mengakhiri dominasi Partai Republik selama 10 tahun terakhir. Pemilu Amerika kali ini tergolong emosional, sebab diikuti oleh sekitar 139 juta pemilih. Ia merupakan rekor partisipasi tertinggi sejak tahun 1960. Selain itu, Obama meraih sekitar 350 suara dari total 538 suara di 50 negara bagian Amerika. (BBCIndonesia.com dan Kompas.com).

Kemenangan Barack Obama sebenarnya sudah diramalkan, sebab menurut pooling-pooling yang diadakan, Obama selalu mengungguli McCain. Berkali-kali Sarah Palin (kandidat wakil presiden Republik) menyerang Obama, tetapi publik Amerika tetap haus mendukung Obama. Kampanye “Hope” (harapan) yang dilancarkan Obama telah membuat publik Amerika takluk. Mereka begitu terpukau oleh “Hope” Obama, sehingga segala rintangan apapun dibaikan, demi mendukung Obama. Oh Mama, kandidat Partai Demokrat satu itu meraih kemenangan besar.

Kemenangan Obama seketika menyulut histeria dunia. Bukan hanya warga Amerika yang bersuka cita, tetapi juga orang Australia, Eropa, Asia, Afrika, termasuk Indonesia. Obama Euphoria, begitulah kira-kira. Apalagi SD Menteng 1 Jakarta, setiap hari mereka menggelar doa agar Obama menang pemilu. Sebuah rumah yang dulu pernah ditempati Obama di Jakarta konon ditawar ratusan miliar. MetroTV tampak sangat gembira dengan kemenangan Obama. Mereka seperti lebih memiliki Amerika daripada warga Amerika sendiri. (Jangan-jangan mereka masuk jajaran tim pemenangan Obama. He he he…).

Baca entri selengkapnya »


Antara Orde Baru dan Orde Reformasi

November 8, 2008

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masyarakat Madani berbeda dengan masyarakat Badwi. Masyarakat Madani telah berperadaban, memiliki aturan sosial yang mengatur hidupnya, dan diatur oleh suatu pemerintahan. Masyarakat Badwi sebenarnya juga memiliki corak kepemimpinan juga, tetapi sangat tradisionalis.

Sebagai bagian dari masyarakat berperadaban, hidup kita tidak lepas dari keberadaan suatu IMARAH (kepemimpinan atau pemerintahan). Disini ada ungkapan menarik dari Khalifah Umar Ra.: “Tidak ada Islam, tanpa jamaah; tidak ada jamaah, tanpa kepemimpinan; tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.” Selama kita menjadi Ummat Islam, kita akan selalu berperadaban (tidak hidup secara Badwi), dan otomatis kita akan selalu bersinggungan dengan kepemimpinan.

Saudaraku, dalam beberapa tulisan terakhir saya menyinggung tentang Politik Soeharto. Secara umum, saya berani menghargai kebaikan-kebaikan beliau kepada kaum Muslimin. Bahkan saya percaya, beliau adalah seorang tokoh Muslim yang berjasa. Insya Allah. Adapun tentang kritik-kritik kepadanya, saya tidak berbeda dengan para pemerhati yang obyektif dalam hal ini. Beliau memiliki sekian kesalahan dan kekeliruan yang tidak boleh dilupakan.

Sebelumnya, perlu Anda ketahui, dalam penulisan artikel-artikel ini, seluruhnya mandiri, dengan biaya dan support sendiri. Secara politik maupun ekonomis, tidak ada kaitan saya dengan para ahli waris Pak Harto. Kenal pun tidak. Ini dedikasi murni untuk melayani penerangan Islam, insya Allah. Seandainya, melupakan jasa baik seorang Muslim merupakan amal shalih, tentu hal itu lebih tepat untuk dilakukan. Apalagi sikap para aktivis politik banyak yang melampaui itu: mereka berani memfitnah, melakukan kebohongan, pembunuhan karakter, menghujat, dan seterusnya.

Secara umum, ketika kita melihat suatu pemerintahan yang memerintah kehidupan kaum Muslimin, ada dua rujukannya: (1) Pandangan Syariat Islam, dan (2) Pandangan tarikh (sejarah) tentang pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kedua pandangan ini perlu dipakai, agar kita bisa menghasilkan penilaian yang jujur dan tidak kehilangan banyak kebaikan.

Kalau melihat Pemerintahan Soeharto (kadang disebut Orde Baru), sebenarnya disana masih jauh dari ideal. Ya, kita sudah sama-sama memaklumi, bahwa segala sesuatu mesti ditimbang secara Syariat Islam. Sedangkan, Pemerintah Pak Harto waktu itu bukanlah Pemerintahan Islami (seperti Thaliban misalnya), juga bukan Republik Islami (seperti Sudan misalnya), atau juga tidak menerapkan Syariat Islam (seperti Kelantan di Malaysia), atau juga bukan Kerajaan di atas Syariat Islam (seperti Kerajaan Saudi). Dari sisi ini, jelas disana akan kita temukan banyak kekurangan-kekurangan. Pendek kata, secara formalis pemerintahan Soeharto bukan pemerintahan Islami.

Tetapi di akhir jabatannya, beliau banyak mengakomodir aturan/kebijakan yang selaras dengan Syariat Islam. Alhamdulillah. Belum seluruhnya, masih sebagian, dan terasa manfaatnya. Andai waktu itu tidak ada akomodasi sama sekali, mungkin kehidupan dakwah Islam saat ini lebih susah lagi. Secara formalis, Pak Harto bukan seorang pemimpin negara Islami, baru menerima substansi Syariat Islam pada sebagian aturan/kebijakannya.

Dari sisi kekurangan, jelas disana banyak kekurangan. Contoh, sakralisasi Pancasila dan UUD 1945, militerisme, sikap lunak kepada sistem konglomerasi, pelanggaran HAM berat terutama DOM di Aceh, dan lain-lain. Jadi kekurangan itu tetap ada, tidak bisa dipungkiri.

Hanya saja, saat politik Soeharto dibandingkan SISTEM LIBERALISASI saat ini, ia lebih baik. Kalau saya menerima politik beliau, bukan berarti mengabaikan kesalahan-kesalahannya. Tetapi saat membandingkan dengan kondisi saat ini, politik beliau lebih baik. Tetapi secara ideal, apa yang kita anggap terbaik adalah SISTEM ISLAMI. Seperti kata Ali bin Abi Thalib Ra., “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

Sistem Liberalisasi ini sangat membahayakan kehidupan Islam dan kaum Muslimin. Di segala sektor diliberalisasikan, antara lain:

[o] Politik liberal. Pemilu multi partai (tahun 2009 nanti diikuti 34 partai, pernah sampai 48 partai). Pemilihan presiden langsung, pilkada langsung, dan otonomi daerah secara berlebihan. Ini sangat liberal. Di Amerika saja hanya 2 partai, pemilihan DPR disatukan dengan pemilihan presiden.

[o] Ekonomi liberal. Sistem pasar terbuka, sistem kurs dan indeks saham terserah mekanisme pasar, pencabutan subsidi-subsidi untuk masyarakat. Tidak ada perlindungan terhadap produk dalam negeri. Investasi terbuka, perusahaan-perusahaan asing bebas. Luar biasa liberalisasi ini.

[o] Media massa liberal. Sejak tahun 1999 di Indonesia berlaku UU Pers yang menjamin kebebasan media massa sebebas-bebasnya. Tanpa ada kontrol, restriksi, ancaman sanksi berat bagi pers atas kesalahan mereka. UU Pers itu lebih melindungi pers daripada masyarakat.

[o] Sistem pendidikan liberal. Sekolah-sekolah bebas berdiri, dengan kontrol yang tidak ketat. PT diswastanisasi dengan kebebasan mengelola anggaran sendiri.

[o] Budaya dan pergaulan liberal. Hal itu sangat terlihat di masyarakat, baik melalui doktrin TV, media massa, hiburan, iklan, dsb. Sangat westernist sekali.

[o] Ideologi liberal. Diusung oleh JIL dan kawan-kawan. Intinya, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. JIL ingin meliberalkan pemahaman kita atas agama ini.

Liberalisasi itu adalah kekafiran. Sebab segala sesuatunya diserahkan ke mekanisme pasar dan hawa nafsu manusia. “Suka suka gue dong!” begitu slogan populernya. Ini adalah hakikat kekafiran, tidak mau tunduk kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan liberalisasi itu sistem yang menganut “hukum rimba”, siapa yang kuat dia yang menang.

Kalau begini kenyataannya, Islam dan kaum Muslimin lama akan hancur di negeri ini. Islam mengajarkan prinsip sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami patuh, ya Allah). Sementara liberalisasi menyerahkan segala urusan kepada MEKANISME PASAR atau HAWA NAFSU MANUSIA sendiri. Apakah Anda bisa melihat hakikat kekafiran ini?

Coba sekarang Anda pikirkan secara jernih, benarkah di negara kita telah berlangsung LIBERALISASI di segala bidang? Apakah fakta yang saya ajukan itu mengada-ada, membual, atau berdusta?

Lalu pikirkan lagi, berbahayakah LIBERALISASI ini bagi Islam dan kaum Muslimin? Apakah tidak bahaya? Apakah sesuai ajaran Islam? Apakah sesuai Syariat Islam? Apakah berkah dan patut disyukuri? Cobalah jawab secara jujur.

Saya tidak percaya bahwa ada pemerintahan ideal, sebelum ia benar-benar menegakkan Syariat Islam secara murni dan konsisten. Pemerintah Orde Baru masih jauh dari ideal, tetapi ia telah mengakomodasi sebagian substansi Syariat Islam dalam aturan/program/kebijakan. Adapun orde Reformasi saat ini adalah hakikat LIBERALISASI yang sangat membahayakan Islam dan kaum Muslimin.

Semoga Anda memahami di titik mana upaya ini diarahkan. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

AMW.


Konsep Berpikir Holistik

November 6, 2008

Sebenarnya, topik ini merupakan isu lama. Tetapi ia sangat relevan untuk dibahas. Apalagi kalau disadari bahwa tema-tema yang dibahas dalam blog LANGIT BIRU ini sangat luas, menjangkau berbagai masalah.

Bertahun-tahun silam, Dr. Hidayat Nur Wahid (HNW) pernah melontarkan kritik terhadap corak pemikiran ensiklopedik. Maksudnya, seorang pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan mengkaji berbagai tema-tema berbeda. Ia tidak fokus atau spesialis di bidang tertentu, tetapi membahas banyak masalah. Pemikiran seperti itu beliau sebut sebagai “ilmu wartawan”, lawan dari ilmu spesialis. Mungkin, Ustadz Hidayat sudah melupakan hal ini, tetapi alhamdulillah ia masih teringat.

Sebenarnya, HNW mengarahkan kritiknya kepada Nurcholis Madjid yang menulis banyak essay dengan topik-topik berbeda, mulai dari masalah pemikiran, teologis, spiritual, sejarah, politik, sosial, teknologi, sampai pernah dia membahas materi genetika. Waktu itu HNW masih satu pemikiran dengan Dr. Daud Rasyid dalam mengkritisi pemikiran-pemikiran Nurcholis. Tapi seiring perkembangan, HNW cenderung lunak dengan ide-ide Nurcholis Madjid.

Soal sikap anti terhadap pemikiran Nurcholis Madjid, ya kita sepakat. Alhamdulillah, bi ni’matillah. Tetapi menyebut corak pemikiran ensiklopedik (jika boleh disebut demikian) sebagai “ilmu wartawan” adalah suatu kesalahan serius. Meskipun seseorang pro dengan pengembangan ilmu secara spesialisasi, tidak berarti berpikir holistik (meliputi berbagai bidang kajian) itu keliru.

Dari sisi keragaman tema-tema yang dipilih Nurcholish Madjid, hal itu sudah tepat. Hanya substansi pemikirannya yang sekuler, pluralis, dan liberalis (SEPILIS), itulah yang keliru. Bahkan saya mendapati sebuah kesimpulan, bahwa untuk membangun kebangkitan peradaban Islam kembali, kita membutuhkan lebih banyak lagi para pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan yang bersifat holistik, bukan melulu terkurung dalam batas-batas kesempitan spesialisasi ilmu.

Baca entri selengkapnya »