Menghargai Jasa Seorang Muslim…

Sungguh, menulis tentang Soeharto itu sangat tidak mudah. Bukan karena kita tidak memiliki bahan untuk ditulis, tetapi opini keliru yang telah terbentuk sangat massif, luas, dan mengkristal di dasar otak jutaan manusia. Gambaran umum yang ada Soeharto itu kejam, zhalim, koruptor, memperkaya diri, militeristik, dan seterusnya. Selama lebih dari 10 tahun, media-media TV mendoktrinkan politik mereka secara intensif, sehingga sikap melawan arus disini akan seketika dihakimi sampai hancur. Na’udzubillah.

Saya sudah memahami masalah ini sejak lama. Bahkan istilah-istilah yang dipakai untuk menghancurkan siapapun yang berusaha berkata obyektif tentang politik Soeharto sudah digudangkan dengan sangat rapi. Kalimat seperti: antek Soeharto, antek Orde Baru, pro Soeharto, pro status quo, anti Reformasi, anti perubahan, orang suruhan Cendana, pro militer, dsb. Banyak sekali.

Jadi proses indoktrinasi disini berjalan dengan dua arah: Pertama, mengangkat berbagai isu yang mendukung liberalisme di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pergaulan, seni, informasi, sampai keyakinan (SEPILIS). Kedua, menghantam siapapun yang tidak setuju dengan liberalisasi dengan label antek Soeharto, pro Orde Baru, anti Reformasi.

Cara demikian sudah dilakukan sejak jaman Fir’aun di Mesir dulu. Cobalah baca dialog-dialog antara Fir’aun dengan Musa As. Fir’aun tidak hanya menyerang misi Kenabian yang dibawa oleh Musa, tetapi Fir’aun juga ingin melakukan pembunuhan karakter kepada Musa, dengan tuduhan Musa adalah tukang sihir, dan hendak menyesatkan kaumnya dari agama semula. Ini cara klasik, tetapi terus dipakai oleh siapapun yang berjalan di atas akidah kebathilan.

Mungkin karena alasan inilah, banyak kaum Muslimin tidak berani mengungkit-ungkit tentang kebaikan Soeharto. Padahal faktanya sangat banyak dan kita rasakan manfaatnya sampai saat ini. Sistem bank Syariah itu dimulai dari era Soeharto; begitu pula dengan legalisasi jilbab, sistem ONH, BMT, kopontren, labelisasi halal MUI, UU Perkawinan, UU Pendidikan Nasional, penerimaan KHI, dan sebagainya. Banyak dan banyak sekali.

Untuk melihat seberapa besar manfaat kebijakan-kebijakan di atas, cobalah Anda perhatikan beberapa indikasi berikut ini:

[o] Apa yang akan kita rasakan, seandainya semua itu tidak pernah dilegalisasi dalam kehidupan kaum Muslimin di Indonesia? Apa komentar Anda jika semua itu tidak ada sampai saat ini? Tidakkah Anda akan merasakan bahwa eksistensi ajaran Islam bisa terancam?

[o] Bandingkan dengan legalisasi UU Pornografi. Selama 10 tahun, baru kelar UU ini. Padahal dalam waktu yang sama -bahkan lebih pendek- Soeharto bisa menyetujui banyak aturan/UU/kebijakan yang menguntungkan Ummat Islam.

[o] Siapa bisa menolak bahwa di Indonesia ada tokoh-tokoh dengan komitmen Islam sangat kuat, mereka sangat mendukung penegakan Syariat Islam. Tetapi sejauh ruang gerak mereka di luar pemerintahan, bisakah mereka melegalisasi satu UU/aturan yang bermanfaat bagi Ummat? Jelas tidak bisa, bukan.

[o] Segala sesuatu ada resikonya. Termasuk dalam kebijakan-kebijakan politik. Jangan pernah menyangka bahwa kebijakan politik itu murah atau tidak beresiko. Disana ada konsekuensi-konsekuensi tertentu yang akan ditanggung pelakunya.

Saya meyakini, bahwa andai saja Pak Harto hanya berjasa memasyarakatkan kalimat “assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh” dan “bismillahirrahmaanirrahiim” dalam pidato-pidato kenegaraan, maka cukup baginya untuk dihargai jasanya dalam hal itu. Padahal jasa-jasa beliau sangat banyak bagi kepentingan kaum Muslimin di negeri ini.

Tentu saja, kita tidak ingin fanatik kepada siapapun. Kita hanya fanatik kepada kebenaran, kepada Kitabullah dan Sunnah. Bukan fanatik kepada manusia yang tidak suci dari kesalahan dan kelemahan. Sebagaimana saya tidak suka ada sikap fanatik madzhab, apalagi hal ini hanya menyangkut politik seorang pemimpin di jaman ini? Tidak pantas kita fanatik personal.

Saat kita utarakan masalah ini, tujuannya bukan untuk menutup mata atas kesalahan-kesalahan masa silam almarhum Pak Harto. Jelas beliau banyak salahnya, banyak kelirunya, banyak kelemahan, dan catatan kezhalimannya. Namun yang diinginkan disini adalah SIKAP ADIL TERHADAP SEORANG MUSLIM. Kalau dia jahat, katakan jahat; kalau dia baik, jangan ingkari kebaikan-kebaikannya.

Sungguh saya merasa sangat heran sekali. Bagaimana kita bisa tidak menghargai jasa seorang pemimpin Muslim, padahal sehari-hari kita menikmati jasa-jasanya itu? Jangankan menghargai, teringat saja rasanya masih jauh. Apa komentar kita seandainya tokoh kita, orangtua kita, guru kita, ustadz kita, jamaah kita, atau komunitas kita yang diperlakukan seperti itu? Dinikmati hasil keringatnya, tetapi tidak dihargai kebaikannya. Hiiihhh, sungguh mengerikan!

Begitu takutnya kita dihakimi oleh media-media massa kapitalis, sampai tidak berani mengakui kebenaran. Seolah hidup dan kehidupan ini diserahkan ke tangan kapitalis-kapitalis bejat itu. Mereka datang kesini hanya untuk memoroti kehidupan kita, lalu kita sepakati setiap fatwa-fatwa mereka. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Saudaraku…seorang Muslim itu mengerti balas budi. Seorang Muslim itu pandai bersyukur kepada manusia, sebelum kepada Rabb-nya. Disini saya ajak Anda menyelami beberapa catatan Islam tentang pendirian seorang Muslim.

[=] Dalam Shirah Nabawiyah Al Mubarakfury diceritan kisah menarik. Nabi Saw pernah diusir dari Kota Thaif dan dilempari batu sampai berdarah-darah. Beliau tidak diterima oleh penduduk Thaif, sementara beliau sudah dianggap keluar oleh penduduk Makkah. Nabi tidak berani masuk Makkah lagi, sebelum ada jaminan dari tokoh-tokoh Makkah yang bisa dimintai jaminan. Setelah mencari-cari jaminan, akhirnya Muth’im bin Ady bersedia memberi beliau jaminan. Muth’im dan kabilahnya siap berperang dalam rangka menjamin keselamatan Rasulullah saat masuk Makkah. Sampai Abu Jahal merasa perlu untuk bertanya kepada Muth’im, “Apakah kamu sudah masuk Islam atau hanya memberi jaminan?” Muth’im menjawab, dia hanya memberi jaminan saja.

Suatu saat, setelah berlalu waktu bertahun-tahun, Rasulullah dan para Shahabat memenangkan perang Badar. Disana beliau menawan banyak orang musyrikin Makkah. Ketika melihat tawanan-tawanan itu, Nabi berujar, “Seandainya Muth’im bin Ady masih hidup, tentu akan aku serahkan urusan tawanan itu kepadanya.”

Lihatlah akhlak Nabi! Biarpun kepada orang musyrik, bukan Muslim, beliau tetap menghargainya, dan ingin membalas jasa kebaikannya ketika dia melindungi Nabi masuk Makkah.

[=] Begitu pula dengan sikap Nabi Saw kepada pamannya, Abu Thalib. Sampai menjelang wafatnya, Abu Thalib belum masuk Islam, padahal pengorbanan beliau untuk melindungi Nabi sudah tidak diragukan lagi. Nabi merasa iba melihat pamannya belum menjadi Muslim, maka beliau berkata kepadanya saat sekarat, “Paman ucapkan satu kalimat saja, laa ilaha illa Allah, yang dengan kalimat itu kelak aku akan bersaksi di hadapan Allah untuk paman!” Berulang-ulang Nabi meminta pamannya mengucapkan laa ilaha illa Allah, namun sayang sampai wafatnya dia tetap ‘ala dini abih (di atas agama ayahnya, Abdul Muthalib, yaitu agama musyrik jahiliyah). Hal itu terjadi karena di dekat Abu Thalib juga ada dua tokoh musyrik yang terus bekerja keras menyesatkan Abu Thalib, dan mereka sukses. Ini satu lagi contoh sikap menghargai jasa orang lain, sekalipun dia belum masuk Islam.

[=] Nabi Saw pernah shalat lama sekali di malam hari. Sampai kaki beliau bengkak-bengkak, karena lamanya berdiri. (Kaki tampak membesar dari ukuran normalnya). Aisyah Ra. melihat hal itu beliau menangis, lalu mengatakan, “Mengapa harus demikian, padahal Allah telah memaafkan dosamu yang lalu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi abdan syakura?” Maksudnya, hamba yang banyak bersyukur.

[=] Dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul juga ada dalil-dalil tentang pentingnya menghargai jasa kebaikan manusia, meskipun kita berbeda keyakinan dengannya.

Lihatlah Ibrahim As dengan ayahnya. Biarpun ayah Ibrahim musyrik dan sesat, bahkan pernah mengancam akan merajam Ibrahim, tetapi Ibrahim tetap berjanji akan memintakan ampunan baginya. Meskipun ampunan itu tidak akan diterima, tetapi Ibrahim tetap menunaikan janjinya.

Lihatlah pula sikap Nuh As kepada anaknya Kan’an. Ketika Kan’an sedang berenang di tengah gelombang banjir, Nuh berusaha mengajaknya naik perahu. Namun usaha Nuh itu sia-sia, Kan’an tetap meninggal tenggelam oleh banjir. Meskipun begitu, Nuh dalam doanya meminta agar Allah memasukkan Kan’an ke dalam bagian keluarganya. Doa itu ditolak oleh Allah, sebab amal-amal yang telah dilakukan Kan’an selama hidupnya tidak masuk kategori amal shalih (amalun ghairu shalih).

Anda jangan beranggapan bahwa Kan’an itu jahat. Tidak. Dia itu baik dan sangat baik kepada ayahnya, Nuh. Hanya amalnya dilakukan karena belas kasih kekeluargaan, bukan karena keimanan. Oleh karena itu Nabi Nuh ingin memintakan ampunan baginya. Hanya Allah yang Tahu, bahwa amal Kan’an tidak ikhlas karena-Nya.

Dalam kisah Nabi Musa As kita juga mendapati pelajaran. Ketika Musa berhadapan dengan Fir’aun, terjadi dialog menarik. Dialog ini terpencar-pencar di tempat berbeda dalam Al Qur’an. Salah satu dialog itu, Musa As mengakui kelemahan dirinya, ketika Fir’aun mengingatkan dia, bahwa Musa sejak kecil telah dipelihara dengan baik di istana Fir’aun. Saat itu Musa tidak bisa menolak alasan itu, dan mengakui kelemahan dirinya.

Dalam kisah Yusuf As juga demikian. Beliau dan ayahnya mendapat kehormatan di mata penguasa Mesir, karena jasanya mengatur urusan pangan di Mesir, sehingga terhindar dari kelaparan. Bahkan karena jasa Yusuf dalam soal ta’bir mimpi, dia meminta kepada pelayan raja yang dia takwilkan nasibnya akan selamat, agar menyampaikan keadaannya kepada raja. Hanya sayang, pelayan itu lupa.

Bahkan sebuah sifat yang unik dari seekor gajah. Dia akan selalu ingat kebaikan seseorang yang pernah berbuat baik kepadanya. Hal itu akan terus teringat, meskipun yang bersangkutan sudah lupa. Begitu pula, seekor kucing yang dipelihara dengan baik, dia akan sangat jinak kepada pemiliknya. Artinya, sampai hewan-hewan pun tahu balas budi.

Dalam kehidupan ini sendiri berlaku Sunnatullah, yaitu: Siapa yang berbuat baik, meskipun sebesar debu kelak akan dia saksikan hasilnya; siapa yang berbuat jahat, meskipun sebesar debu, kelak juga akan dia lihat hasilnya. (Akhir Surat Al Zalzalah).

Kembali ke topik Soeharto…

Sungguh, tidak ada niat dalam hati saya untuk mengingkari kesalahan-kesalahan Pak Harto. Perbuatan seperti itu jelas tidak fair, tidak adil. Yang salah ya tetap salah, tidak perlu suatu kesalahan disembunyikan atau dihias-hias agar terlihat seperti tidak salah. Hanya, mari kita berani mengakui, bahwa beliau memiliki sekian banyak jasa bagi Ummat Islam yang tidak bisa diingkari. Justru karena jasanya itu, saya berani mengklaim bahwa beliau adalah: Seorang pemimpin Muslim yang berjasa!

Ya Ummat Islam harus banyak berbenah, untuk memperbaiki diri. Tentu termasuk diri saya! Sampai di titik ini, kita masih jauh dari kategori cukup untuk mengungkap berbagai kelemahan kaum Muslimin, lalu mencarikan solusi-solusinya. Sikap pasrah kepada doktrin media-media TV, lalu meninggalkan panduan ajaran Islam, merupakan salah satu pangkal ketidak-berdayaan kita selama ini.

Semoga Allah merahmati saya, Anda, dan kaum Muslimin seluruhnya. Amin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 3 November 2008.

AMW.

Iklan

12 Responses to Menghargai Jasa Seorang Muslim…

  1. uta888 berkata:

    pak, kalau ada tuilisan2 yg bagus (di internet) kasih tau dong link2nya.

    salam kenal dan keep in this romantic road. pray for me so that i ‘ll be in syahid as you destination too . amin ya rabbal alamien.

  2. Dewanto berkata:

    Assalamu alaikum. Wr. Wb. Alhamdulillah. Ulasan Ustadz cukup dalam mengenai hal ini dan saya kira ummat muslim Indonesia perlu berterima kasih kepada Pak Harto atas segala jasa-jasanya yang begitu banyak dan memaafkan segala kesalahannya waktu beliau masih dalam pengaruh para pembisik kafirin.
    Tapi, ada satu hal dalam tulisan Ustadz yang membuat saya agak kurang berkenan dan sangat menyayangkan ini karena dapat mengaburkan pesan utama tulisan tersebut, yaitu pembahasan mengenai seruan Amien Rais agar bangsa Indonesia agar mau memaafkan Pak Harto yang waktu itu dalam kondisi kritis. Ustadz berpendapat bahwa hal ini adalah suatu manuver politik yang “kacangan”. Menurut saya, hal ini adalah ajakan yang simpatik. Mungkin saja waktu itu Pak Amien teringat akan jasa-jasa Pak Harto diakhir masa pemerintahannya kepada ummat Islam Indonesia, dan beliau berpandangan bahwa Pak Harto sangat layak dimaafkan kesalahan-kesalahannya yang telah lalu karena jasa-jasanya tersebut, sebesar apapun kesalahan-kesalahannya. Menurut saya, memintakan maaf untuk orang yang sedang sakaratul maut bukan sesuatu yang “kacangan”, karena siapa manusia di dunia ini yang tidak pernah berbuat salah walau jasa-jasanya luar biasa besar?
    Mungkin ini saja uneg-uneg saya. Terus terang, saya suka baca tulisan-tulisan Ustadz, ulasannya selalu dalam dan dikuatkan dengan dalil-dalil syar’i, belum lagi cara penyampaiannya yang menarik. Teruskan menulis, Ustadz. Wassalamu alaikum. Wr. Wb.

  3. abisyakir berkata:

    @ Akhi Dewanto.

    Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakaatuh.

    Syukran jazakumullah atas dukungan Antum dan apresiasinya. Semoga apa yang kita lakukan ini bermanfaat bagi kita semua dan kaum Muslimin. Allahumma amin.

    Tentang seruan Amien Rais agar memaafkan Pak Harto. Ya, itu opini saya pribadi. Terus terang menyaksikan betapa sedihnya kondisi Ummat Islam saat ini, saya sering emosi jika teringat Amien Rais. Orang ini katanya pakar ilmu politik, tetapi -maaf- tidak mengerti banyak tentang realitas politik.

    Tentang sebutan “kacangan”, insya Allah akan saya perbaiki. Hanya saya menyayangkan, mengapa dia sangat telat menyerukan hal itu. Setelah berlalu waktu 10 tahun baru dia sadari. Padahal melakukan suatu pembangunan itu tidak mudah, lho. Terbukti, selama Amien menjadi Ketua MPR, dia tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan aset ekonomi dan aset kehidupan rakyat Muslim di negeri ini.

    Maksud saya, mengapa bukan dia yang memulai meminta maaf kepada rakyat Indonesia dan mengajak kaum Muslimin secara gentle mengakui kebaikan-kebaikan mantan Presiden. Nah, itu titik intinya.

    Bagaimanapun, syukran jazakumullah Akhi atas dukungan Antum. Doakan Allah Ta’ala memudahkan upaya ini. Allahumma amin.

    [AMW].

  4. abisyakir berkata:

    @ uta888

    Link yang Antum maksud bagaimana ya? Tapi sudahlah Akhi, cari saja dengan search engine, insya Allah bisa.

    Amin Allahumma amin. Semoga Allah mengabulkan doa kita dalam kebaikan. Syukran jazakallah khair. [AMW].

  5. […] Oiiya pak, saya punya article menarik nih untuk dijadikan tambahan pemikiran kita. Yang punya blog bukan juga antek suharto juga bukan antek parpol kontroversi tersebut. Dari tadi kok ngomongnya antek-antek mulu kayanya sadis banget ghitu. Ya mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan aja. Ni mas articlenya https://abisyakir.wordpress.com/2008/11/03/menghargai-jasa-seorang-muslim/ […]

  6. Yenni berkata:

    Memaafkan sebuah kehilafan adalah keharusan bagi seorang muslim. Tetapi…

    Kebetulan kami sedang diskusi tentang tema ini…jika berkenan bis amampir ke:
    http://yennioctarina.wordpress.com

    Syukron

  7. […] Oiiya pak, saya punya article menarik nih untuk dijadikan tambahan pemikiran kita. Yang punya blog bukan juga antek suharto juga bukan antek parpol kontroversi tersebut. Dari tadi kok ngomongnya antek-antek mulu kayanya sadis banget ghitu. Ya mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan aja. Ni mas articlenya https://abisyakir.wordpress.com/2008/11/03/menghargai-jasa-seorang-muslim/ […]

  8. Ibnu Abdul Muis berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Afwan stadz ngelinkin artikel antum tanpa ijin sekaligus klarifikasi tulisan ”saya punya artikel…” di atas tetapi maksudnya ”ada artikel menarik” yg berkaitan dgn diskusi di blog sebelah.

    Memang susah bener dah kalo maafin kejahatan manusia. 😦

    Btw kita memang berbeda dlm kasus iklan kontroversi tsb tapi kita sama dlm memandang kebaikan orang lain. Masing2 punya alasan atas perbedaan tsb. Tapi jgn sampai berujung pada permusahan. Kita serahkan saja kpd niat masing2 terkhusus latar belakang kenapa buat iklan yg bikin heboh itu 👿 Karena sesungguhnya Allah tdk akan menerima amal yg tdk ikhlas untuk’Nya semata. 🙂

  9. abisyakir berkata:

    @ All (khususnya Mbak Yenni dan Bang Abdul Muis)

    Terimakasih ya atas responnya. Maafkan, akhir-akhir ini saya agak sedikit komentar. Bukan apa, waktu online-nya terbatas. Lebih sering kepakai posting. Jadi, asal posting aja. Kurang ikuti perkembangan dialog disini. Tapi gak apa2 kok kalau mau dialog sendiri, meski tanpa peran saya disana. Asal tetap sopan, jujur, dan adil…(lho, kok kayak sifat-sifat Pemilu ya?).

    Wis, tidak apa-apa Bang Muis, tidak usah terlalu dipikirkan. Insya Allah kita lapang-lapang dalam kebaikan. Amin. Syukran atas komentar dan nasehat Antum.

    [AMW].

  10. hmcahyo berkata:

    numpang lewat 😀

  11. tajul berkata:

    Insya Allah kita slalu mejadi orang-orang yang slalu bersyukur, atas apa yang selalu di berikan kepada kita. saya setuju dengan artikel ini, pada awalnya sebelum membaca artkel ini pandangan saya terhadap pa HARTO sama dengan kebnykn orang-orang di luar sana, namun setelah membaca artikel ini saya baru tersadarkan bahwa semua orang mempunyai kejelekan, kesalahan, keihklafan, namun dibalik itu juga semua manusia mempunyai fitrah kebikan hati nurani untuk berbuat kepada orang lain, menghargai jasa orang lain sangat penting setelah saya tersadarkan, saya hanya bisa mendoakan semoga kesalahan pemahaman saya ini di ampuni oleh ALLAH SWT sang pemberi ampun, dan juga saya doakan kepada BAPAK SUHARTO semoga ALLAH SWT mengampuni dosa-dosanya, memberikan dia kebahagiaan akhirat selayaknya orang-orang terdahulu yang di rahmati ALLAH. AMIN.

  12. ahmad berkata:

    setiap pemimpin di negeri tercinta indonesia. pasti ada kesalahan & kebaikan nya… orde baru selalu di hati..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: