Karakter Minder Bangsa Indonesia

Dulu Soekarno mengenalkan sebuah prinsip BERDIKARI, yaitu berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno menginginkan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa mandiri, independen, tidak inferior. Meskipun pada kenyataannya, Soekarno adalah salah satu contoh pemimpin Indonesia yang sangat inferior kepada ajaran-ajaran asing. Sejak sebelum merdeka, dia dikenal sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Karl Marx dan Kemal At Taturk.

Sikap rendah diri, inferior, atau minder telah menjadi penyakit serius bangsa Indonesia. Kalau membaca catatan-catatan sejarah, tampak benar bahwa bangsa ini memang mengidap inferiority complex. Kita merasa kecil di bawah dominasi peradaban-peradaban besar, seperti Eropa (Amerika), China, India, atau Arab (tidak identik dengan Islam). Dalam konteks politik, bangsa Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari hegemoni Sosialisme Timur dan Kapitalisme Barat. Sejak dulu sampai saat ini, tidak bergeser dari dua tarikan ideologi itu.

Cara termudah melihat realitas masalah ini, lihatlah prestasi Indonesia dalam pertandingan sepak bola internasional! Sejak dulu para pengamat bola, pemerhati olahraga, praktisi, atau sekedar suporter, mereka sangat hebat berbicara tentang “konsep ideal sepak bola Indonesia”. Tetapi kita tahu, sejak dulu hasilnya tetap begitu-begitu saja. Para pengamat bola di Indonesia bisa mengkritik penampilan MU, Chelsea, Inter Milan, dan sebagainya, tetapi kualitas tim nasional kita sendiri belum tentu lebih baik dari juara RT di sebuah pelosok Argentina, atau belum tentu menang melawan “tim gajah” dari sebuah kaki gunung di Nigeria.

Mengapa kita tidak pernah maju di bidang sepak bola, sementara negara yang sangat terbelakang seperti Pantai Gading di Afrika bisa menghasilkan pemain sekaliber Didier Drogba? Alasannya sederhana, yaitu: kelemahan fisik. Sepak bola dibuat untuk standar orang Eropa, dengan kualitas fisik Eropa. Baik besarnya lapangan, besarnya bola, sampai waktu dan aturan pertandingan telah di-set untuk bangsa Eropa. Sepak bola itu tadinya olah raga rakyat jelata di Inggris, sangat mengandalkan otot. Oleh karena itu, negara-negara yang fisiknya kuat dengan cepat bisa meraih prestasi besar. Bahkan negara-negara seperti Korea, Jepang, dan China, ketika mereka memperbaiki fisik para pemainnya, mereka bisa sukses juga.

Sifat minder bangsa Indonesia sangat terlihat disini. Ingin jaya seperti tim-tim besar dunia, tetapi –maaf- tenaga letoy. Akhirnya, yang maju adalah gaya dan penampilan, sementara prestasi dalam kompetisi, “Ntar dulu, deh.” Semestinya, kita memahami posisi bangsa kita, lalu tidak memaksakan diri untuk sesuatu yang memang sulit dijangkau. Namun, di bidang-bidang yang kita diberi keutamaan, seharusnya disana benar-benar dimaksimalkan. Setiap manusia diciptakan unique, hal itulah yang mestinya disadari lalu dikembangkan maksimal.

Sejarah Bangsa Minder

Secara fisik bangsa kita memang kecil, stamina lemah, dan penampilan biasa. Secara intelektual tidak terlalu istimewa, secara heroisme juga bukan bangsa spartan, dan mentalitas pun ringkih. Mungkin karena alasan-alasan inilah, jiwa-jiwa kita dihinggapi sifat minder akut. Justru dengan “bakat” keminderan itu, bangsa kita sangat mudah ditaklukkan oleh bangsa-bangsa lain.

Kalau melihat catatan sejarah, betapa banyaknya gambaran buruk tentang mentalitas bangsa ini, sejak jaman Belanda dulu sampai era Reformasi. Sejak lama kita terlalu minder dengan diri sendiri. Untuk mengatasi keminderan itu, kita berusaha meng-up grade diri dengan melakukan copy-paste terhadap model bangsa-bangsa asing. Dari sisi model, kita sudah selera asing, tetapi dari sisi potensi diri dan akselerasi, kita memiliki banyak kekurangan. Akhirnya yang tampak ialah pemandangan pincang; chasing BMW, tetapi mesin Hijet1000. Ya seperti para pemain bola itu, gaya seperti Lampard, tetapi kemampuan seperti Si Tukul.

Selama 350 tahunan bangsa Indonesia berada di bawah kolonialisme Belanda. Mulanya dijajah VOC, lalu diambil alih oleh Kerajaan Belanda. VOC itu semacam Kadin di Indonesia, sebuah kongsi dagang. Hanya saja VOC dilengkapi pasukan bersenjata, ambisi imperialisme, dan mental bandit. Mulanya Kerajaan Belanda mengecam fenomena korupsi di tubuh VOC, kemudian dia menjadikan alasan korupsi itu sebagai dalih untuk mengambil alih negeri jajahan (Indonesia). Mungkin sambil bersungut-sungut mereka berkata, “Korupsi ini tidak boleh, tidak baik, ini haram. Hasil jajahan tidak boleh dikorupsi. Ini untuk kesejahteraan rakyat kita.” (Mau tertawa saya membayangkan betapa konyolnya para kolonial itu. Mereka mengecam korupsi, tetapi melupakan penjajahan yang lebih kejam. Mengerikan!).

Belanda termasuk bangsa rasialis, suka mengkavling-kavling manusia sesuai selera hawa nafsunya. Waktu itu mereka menerapkan kebijakan sosial yang sangat rasialis. Belanda membagi rakyat Indonesia menjadi tiga kelas. Kelas I jelas bangsa Belanda (Eropa); kelas II adalah China, Arab, dan India; dan kelas III, kelas paling rendah dan hina, adalah bangsa bumi putera. Mayoritas kita masuk kategori third degree (kelas III). Dan setelah merdeka, ternyata kategorisasi itu masih sangat kuat bercokol di jiwa bangsa ini. Belanda mewariskan kebijakan Apartheid, lalu kita meneruskannya dengan penuh suka cita. Na’udzubillah min dzalik.

Di jaman itu Belanda mengadakan sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak mereka. Orang pribumi yang memiliki uang boleh masuk sekolah seperti AMS, HIS, Mulo, dan lainnya. Tetapi jumlah mereka sangatlah sedikit. Itu pun harus mau diperlakukan seperti binatang. Bagi yang fithrahnya benar, pasti akan mengingkari perlakuan itu. Adapun bagi yang fithrahnya rusak, dia akan menduplikasi perilaku mister-mister Belanda menjadi gaya hidupnya.

Alhamdulillah, kemudian datang Jepang ke Indonesia. Meskipun sama-sama penjajah, datangnya Jepang seakan menjadi blessing in disguise (keuntungan di balik penderitaan) bagi bangsa Indonesia. Jepang mau melatih pemuda-pemuda Indonesia dengan kemiliteran, meskipun semula hal itu dimaksudkan untuk membantu Jepang dalam Perang Dunia. Para pejuang Indonesia sangat banyak belajar militer dari “akademi” Dai Nipon ini. Di sisi lain, Jepang adalah bangsa Asia, bahkan fisiknya juga pendek-pendek. Hal itu meningkatkan kewibawaan bangsa Indonesia. “Ternyata orang Asia juga mampu mengalahkan bule,” begitu logikanya.

Dan yang sangat penting, kehadiran Jepang bisa memutus penjajahan Belanda yang telah berjalan selama ratusan tahun. Waktu itu, bangsa Indonesia nyaris tidak sanggup lagi memikirkan perlawanan menentang Belanda. Apalagi putra-putra terbaik bangsa kebanyakan dididik di sekolah Belanda; kulitnya pribumi, tetapi otaknya terinvasi oleh pemikiran-pemikiran Belanda. Dalam sidang-sidang Volksrad (semacam parlemen untuk pribumi), para pemimpin Indonesia umumnya hanya bisa mengeluhkan penjajahan, tanpa bisa berbuat banyak. Kehadiran Jepang menjadi bentuk pertolongan Allah, tanpa disadari. Padahal Jepang juga penjajah dan tak kalah kejamnya daripada Belanda.

Seandainya harus bertempur, bangsa Indonesia tidak akan sanggup menyingkirkan orang-orang Belanda itu. Selain mereka banyak, bangsa Indonesia bukan tipe masyarakat yang suka dengan kekejaman. Sedangkan Jepang, dia bisa berlaku sangat kejam untuk membersihkan orang-orang Belanda itu.

Maka dari itu saya sangat setuju dengan sebuah kalimat dalam Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah.” Kalimat ini benar dan sangat menakjubkan. Coba perhatikan dua hal ini: (1) Penjajahan Belanda sudah ratusan tahun dan bangsa kita sudah nyaris ambruk, tidak mampu lagi untuk melawan. Sampai putra-putra terbaik kita pun telah teracuni pikiran-pikiran Belanda; (2) Meskipun kehadiran Jepang banyak membantu, tetapi kita tidak perlu berterima kasih kepada mereka. Mengapa? Sebab mereka datang ke Indonesia sebagai penjajah (kolonialis), seperti Belanda. Bahkan mereka lebih kejam, sehingga para pejuang di beberapa medan perang melancarkan perang menentangnya. Lagi pula mereka mengakhiri penjajahan bukan karena baik hati, tetapi kalah dalam Perang Dunia.

Secara teori, Jepang sebenarnya tidak perlu ikut Perang Dunia II. Dia negara Asia, tidak ada sangkut-pautnya dengan konflik di Eropa antara Jerman-Itali dengan Inggris-Perancis. Lagi pula, Jepang tidak ada kaitannya dengan Perang Dunia I sebelumnya. Tetapi Allah menjerumuskan Jepang agar terjun Perang Dunia mendukung Jerman-Itali. Maksud Jepang tentu untuk menjadi imperialis di Asia Pasifik. Oleh karena itu sasaran dia yang pertama adalah Pearl Harbour di Pasifik. Ternyata, di balik ambisi keserakahan itu, Allah Ta’ala justru ingin menyelamatkan bangsa Indonesia dari penindasan Belanda selama ratusan tahun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ya Allah ya Karim, kemerdekaan Indonesia benar-benar anugerah Allah Ta’ala. Kita dipersilakan mengatur diri sendiri, tidak diatur kolonial. Hanya sayangnya, setelah merdeka kita mulai berhadapan dengan “Belanda Belanda kulit coklat”. Mereka adalah elit-elit nasional hasil didikan sekolah Belanda. Belanda sangat pintar, dia ingin melestarikan kolonialisme melalui jalur pendidikan. Ya akhirnya, bangsa Indonesia harus berjuang lagi, bersabar lagi. (Namanya juga hidup, penuh perjuangan. Dan perjuangan itu pula yang kelak akan dinilai di sisi Allah).

Di jaman Orde Lama, sebenarnya Soekarno sangat menentang imperialisme-kapitalis. Hal itu tampak dalam orasi-orasinya yang melecehkan Kapitalis Barat. Soekarno menyebut kapitalis Barat dengan istilah Nekolim (neo kolonialis imperialis). Dia dalam orasinya sangat menolak kapitalisme, dengan slogan yang terkenal, “Go hell with your aids!” Tetapi sayang, Soekarno ingin melawan Kapitalis Barat dengan menggandeng Sosialisme Timur. Hal ini seperti orang yang ingin menyembuhkan sakit dengan memakai penyakit yang lain. (Atau seperti mau mengusir ular dengan mendatangkan buaya. Sami mawon, Mas!).

Waktu itu Soekarno membuat poros Jakarta-Peking-Pyongyang-Moskow. Putra-putra terbaik Indonesia disekolahkan ke Moskow untuk “ngaji kitab” Das Capital karya Karl Marx. Setelah pulang, mereka menjadi pawang-pawangnya PKI laknatullah alaihim. Soekarno terang-terangan memaksakan konsep NASAKOM. Di tangan Soekarno, Indonesia sangat condong ke blok Komunis. Hal itulah yang ditentang habis-habisan oleh Masyumi, sehingga suatu saat Masyumi dibubarkan secara zhalim. Bahkan Soekarno pun pecah dengan Hatta.

Di jaman Orde Baru, secara politik Seoharto memilih non blok (tidak memihak blok Barat atau Timur). Tetapi secara ekonomi, dia tidak mampu melepaskan diri dari kapitalisme Barat. Melalui lembaga seperti Wordl Bank, IMF, Asia Development Bank, IGGI, lalu CGI, dll. Soeharto terjebak dalam permainan kapitalisme dunia. Sampai kemudian Indonesia terikat oleh beban hutang yang besar. Para ekonom menyebutnya debt trap (jeratan hutang). Di sisi lain Soeharto menggandeng Mafia Berkeley (sarjana-sarjana ekonomi lulusan Berkeley) untuk membentuk master plan pembangunan ekonomi nasional. Mafia Berkeley dengan IMF masih satu sumber: kapitalisme Barat. Dan satu lagi yang tidak dilupakan, yaitu Chinese Overseas. Soeharto menggandeng pemodal-pemodal China untuk membantu pembangunan. Tentu saja mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

Baik grup IMF maupun Chinese Overseas, pada mulanya tampak ramah, pro pembangunan, sangat mendukung Soeharto. Ibarat memelihara anak harimau, saat kecilnya tampak lucu sekali, kita gemas melihatnya. Tetapi bila harimau itu sudah besar, ia bisa menerkam pemiliknya. Itulah yang terjadi. Baik IMF maupun bisnis China kemudian menjadi monster ekonomi yang mengancam stabilitas negara. Hancurnya kurs rupiah di tahun 1997 dan mega skandal BLBI berhubungan erat dengan IMF dan bisnis China itu.

Di jaman Soekarno negara bokek, tidak ada uang untuk membangun. Soekarno memberi makan rakyatnya lewat orasi yang berapi-api. Lama-lama rakyat ya klenger juga. Adapun Soeharto berusaha mengambil dana pembangunan dari sumber-sumber kapitalis. Langkah Soeharto itu sangat beresiko, tetapi dia sangat terdesak oleh situasi. Kalau negara tidak punya uang, apa yang bisa dilakukan? Sebagai perbandingan, demi mendongkrak ekonomi Abdurrahman Wahid pernah ingin membuka hubungan dagang dengan Israel; Megawati menjuali aset-aset negara dengan harga sangat murah; sementara SBY-Kalla menghapuskan subsidi-subsidi, terutama subsidi BBM, sehingga rakyatnya sengsara. Semua itu demi alasan ekonomi.

Alangkah baik jika Soeharto waktu itu tidak meminjam hutang dari para kapitalis. Tetapi konsekuensinya, kita harus membangun perlahan-lahan, harus mau susah-susah dulu, hidup sederhana, hemat, tidak banyak gaya, lebih banyak bekerja daripada hiburan. Pendek kata, mau prihatin dulu. Tetapi siapkah bangsa kita hidup prihatin sebagai dirinya sendiri? Siapkah kita tidak ngiler melihat kemajuan negara-negara lain? Nah, itulah pertanyaannya. Saya yakin, sebagian besar masyarakat tidak siap hidup sederhana dan mandiri. Jika demikian, jangan salahkan pemimpin jika mereka mengambil hutang-hutang luar negeri.

Di jaman Reformasi situasinya tidak lebih baik. Penyakit minder lagi-lagi menjadi sumber masalah yang menyusahkan. Kalau dulu kita minder dengan Sosialisme Timur dan Kapitalisme Barat, sekarang kita minder dengan apapun yang berbau asing. Secara politik, kita berkiblat ke sistem liberal ala Amerika, bahkan jauh lebih liberal (di Amerika hanya ada 2 partai, di Indonesia paling sedikit 24 partai). Secara ekonomi, kita menjalankan ekonomi liberal yang mengacu ke pasar. Pergerakan kurs rupiah dan indeks saham ditentukan pasar! Secara sosial budaya, jangan tanya lagi! Kita saat ini sangat westernist (kebarat-baratan). Anak-anak SMA jaman sekarang banyak yang melakukan seks bebas, lalu merekam kelakuan bejatnya itu, lalu disebarkan secara luas agar bermunculan syaitan-syaitan sejenis. Bahkan secara ideologi, banyak orang bejat berkata penuh arogan, “Apa hak Tuhan mengatur urusan sosial? Masalah moral itu urusan privat. Suka suka kita, dong.” Semua ini merupakan budaya liberal yang dipaksakan agar diikuti bangsa kita.

Episode Kemandirian

Ada satu episode ketika Soeharto berusaha keluar dari jebakan kondisi. Panggilan hatinya sebagai mantan rakyat kecil, mantan prajurit rendahan, anggota militer yang merangkak dari bawah, menginginkan Indonesia lebih mandiri. Soeharto ingin Indonesia bebas dari tekanan lembaga-lembaga donor seperti IMF dan World Bank. Pernah ketika IGGI terlalu mencampuri urusan internal Indonesia, lembaga donor asal Belanda itu “ditalak tiga” oleh Pak Harto. Lalu para kapitalis merasa perlu untuk membentuk lembaga semacam IGGI, yaitu CGI. Jurusnya sama saja, produk debt trap (jeratan hutang). Kemudian Soeharto berusaha memaksa para konglomerat untuk menyisihkan sebagian hasil keuntungannya untuk usaha rakyat kecil. Itulah yang kemudian dikenal sebagai Kelompok Jimbaran, sebuah forum yang dibentuk di Jimbaran Bali. Sampai disini, beliau peduli dengan nasib rakyat banyak, sesuatu yang menurut kapitalisme adalah tabu. Dalam sistem kapitalisme, kepedulian terhadap rakyat banyak adalah musuh abadi. Kalaupun peduli, cukup di pidato-pidato saja, tidak perlu sampai ada kebijakan kongkret.

Dengan langkah-langkah di atas, sebenarnya Soeharto sudah mulai dimusuhi oleh kapitalisme internasional. Dia dianggap mulai menjauhi prinsip-prinsip kapitalisme. Tetapi permusuhan itu menjadi semakin berkobar-kobar ketika Soeharto berusaha menjalin aliansi dengan kekuatan Islam. Di mata Soeharto, kalangan santri adalah satu-satunya energi potensial yang bisa diandalkan untuk menghadapi kapitalisme internasional. Beliau jelas tidak mau menengok ke Komunisme, tetapi kalau meneruskan kerjasama dengan para kapitalis, akibatnya rakyat akan dikorbankan. Beliau membuka pintu terhadap kalangan dakwah Islam, menjalin kerjasama baik dengan dunia Timur Tengah, serta menyetujui usaha-usaha pemberdayaan kehidupan Ummat Islam. Sebelumnya, amat sangat jauh Pak Harto dari hal-hal itu.

Kalau ditanya, mengapa Pak Harto menggandeng kalangan Islam?

Disinilah letak keistimewaan Soeharto. Beliau itu tulen pro rakyat. Orang bilang, dia nasionalis sejati. Entahlah apa istilahnya, tetapi keberpihakannya memang kuat. Kalau mau jujur, mengapa Soeharto harus melepaskan diri dari komitmen dengan lembaga-lembaga kapitalis dunia seperti World Bank, IMF, ADB, IGGI, dll.? Apa untungnya baginya? Toh, kalau mau untung sendiri, terus bermitra dengan mereka jelas lebih enak, ketimbang membangun aliansi dengan kalangan Islam. Orang-orang shalih di Indonesia itu fuqara’ wa masakin, kata Anis Matta. Sementara dengan berkongsi dengan kapitalis itu, jabatan tetap aman, kekayaan mengalir terus. Pak Harto menyaksikan, bahwa ujung dari kerjasama dengan para kapitalis itu kelak akan menyengsarakan rakyat, maka dia menolak.

Andai Soeharto seorang nasionalis sejati, dia jelas pro rakyat, dan hal itu baik. Sebab mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Disini peduli dengan rakyat sama dengan peduli kepada Ummat Islam. Tidak penting siapa pemimpinnya, kalau dia benar-benar belas kasih dan peduli dengan kaum Muslimin, dia perlu didukung. Justru aneh, katanya Reformasi demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat, tetapi hasilnya malah menyebabkan penderitaan berlipat-ganda. Ini sih bukan Reformasi sama sekali, tetapi LIBERALISASI 100 %. Kita hanya ditipu oleh opini-opini media yang sangat menyesatkan. Andai Reformasi itu ada dan riil, pasti hasilnya akan lebih baik dari kondisi Orde Baru. Bukan malah berantakan seperti saat ini.

Ada analisis bagus dari sebagian ahli. Dalam situasi kapitalisme global merajalela seperti saat ini, negara yang survive adalah yang peduli dengan kepentingan internalnya. Seperti Rusia, Venezuela, Bolivia, China, Brasil, dan India. Mereka menolak terseret kapitalisme global dan kembali ke diri sendiri. Brasil dan India sebagai contoh. Dua negara ini pernah menolak tunduk kepada tekanan Amerika agar produk-produk pertanian Amerika dipermudah masuk ke negerinya. Mereka menolak, selama Amerika terus menaikkan subsidi bagi para petani-petaninya. Jika Pemerintah Amerika terus memberi subsidi ke petani-petaninya, nanti harga produk pertanian itu akan lebih murah. Bagaimana tidak murah, wong disubsidi? Kalau harga murah, produk Amerika pasti akan mengalahkan harga-harga produk pertanian Brasil dan India. Sementara kalau di Indonesia, apel Malang boleh dibantai beramai-ramai oleh apel New Zaeland, apel Amerika, pir Korea, buah China, dll.

(Mungkin disini akan ada yang berkata, “Ya semua ini kan masalah dunia. Kita tidak diperintahkan mengurusinya. Kita cuma disuruh beramal untuk Akhirat, misalnya duduk-duduk “ngaji kitab” dan berjihad membantah ahli bid’ah.” Saya katakan, “Tidak diperintahkan, mbok-mu itu! Lihat bagaimana jihad Nabi dan para Shahabat untuk menyingkirkan ekonomi Yahudi di Madinah!”).

Dan kita berbaik sangka, bahwa Pak Harto berpihak ke Ummat Islam juga didasari panggilan hatinya untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam, setelah sekian lama mengabaikan. Adapun sikap nasionalis, Pancasilais, militeristik, hal itu memang tidak bisa dilepaskan dari latar-belakangnya. Toh, Allah tidak menolak siapapun yang ingin berbuat baik, dari manapun arahnya. Hingga seorang wanita pelacur dari kalangan Bani Israil, yang menyelamatkan nyawa seekor anjing, dia dihargai kebaikannya. Allah tidak menzhalimi amal manusia, walau sebutir debu. Dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi seseorang meskipun hanya seberat debu. Jika ada suatu kebajikan (seberat debu) itu, maka Dia akan melipat-gandakannya, dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An Nisaa’: 40). Rasanya, ayat-ayat seperti ini sudah lama kita lupakan.

Sungguh, dengan menulis seperti ini saya bisa disikat habis oleh para kapitalis. Tuduhan antek Soeharto, orang suruhan Cendana, pro status quo, bisa menjadi stempel yang melekat sepanjang hayat. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Tetapi tujuan ini adalah menjelaskan kepada Ummat kenyataan sebenarnya. Setidaknya, Ummat Islam perlu diberi tahu pandangan lain yang berbeda dari pandangan versi kapitalis. Kita harus menuliskan sejarah sendiri.

Sebagai pribadi, saya meyakini Pak Harto itu orang baik, dan berusaha menjadi lebih baik. Tetapi kesalahan langkahnya di awal-awal karier politiknya menjadi bom waktu yang kemudian menghancurkan dirinya.

Saudaraku, seandainya tidak ada yang menerima pandangan-pandangan ini, saya akan tetap meyakininya sebagai pribadi dan kelak akan dipersaksikan di hadapan Allah Ta’ala, insya Allah. Pendek kata, di antara kita harus ada yang tetap mengakui jasa-jasa kebaikan almarhum HM. Soeharto, di samping yang mengkritisi kesalahan-kesalahannya. Sejauh yang saya pahami, beliau lebih baik daripada pemimpin-pemimpin sekuler atau Sosialis di Timur Tengah.

Minder Secara Kultural

Ketika seseorang minder secara pemikiran, maka sikap budayanya juga akan minder. Biarpun kepada penyembah berhala, penyembah dewa-dewa, peminum minuman keras, pelaku zina, tidak pernah shalat, tidak pernah bersuci, dan menyembah hawa nafsu, kita akan selalu merasa lebih rendah dari mereka. Kenyataan ini amat sangat terlihat dalam diri bangsa kita.

Lihatlah generasi muda yang sangat maniac dengan musik pop, penyanyi, grup band, konser musik, dan sebagainya. Lihat pula kecintaan secara berlebihan kepada bintang-bintang sepak bola dunia. Lihat perilaku kebarat-baratan, mulai dari pakaian, T Shirt, rambut dicat, memakai tindik, berbagai macam aksesoris (seperti yang biasa dipakai hewan-hewan peliharaan), tatto, dan sebagainya. Belum lagi pakaian seksi, jins ketat, pornografi, seks bebas, prostitusi, homoseks, dan seterusnya. Termasuk di dalamnya perjudian, narkoba, miras, vandalisme (biasanya diwujudkan dengan corat-coret dinding dan merusak fasilitas umum), tawuran, gangster, dan sebagainya.

Di tingkat eksekutif, birokrat, dan selebritis juga begitu. Mereka menerima budaya selingkuh, kumpul kebo, dan dugem. Bahkan ada yang senang dengan wild sex, cara-cara berpikir kaum psycopat. Kemudian juga hobi kebarat-baratan, dalam soal koleksi motor, mobil, benda antik, komputer, desain rumah, dan sebagainya. Sampai anak-anak ABG saat ini sangat maniac dengan tokoh-tokoh kartun Jepang, komik Jepang, mengumpulkan gambar-gambar, saling berbagi koleksi, sampai membeli aneka macam aksesoris dan gimmicks. Begitu pula maniac telepon seluler, mulai dari pesawat dengan bermacam-macam tipe, berbagai fitur, program, dan fungsi-fungsinya. Saat masyarakat Eropa sangat rasionalis dalam memakai telepon seluler, anak-anak kita justru bermewah-mewah dengan style-nya. (Di Eropa pernah saya lihat di TV, ada lomba melempar telepon seluler paling jauh. Benda itu dilempar dan dibanting sekeras mungkin. Tentu bukan maksudnya agar kita meniru, tetapi cobalah bersikap rasional dan percaya diri. Jangan setiap yang dibuat oleh industri, kita selalu mengiyakannya).

Bangsa-bangsa kapitalis sangat paham kecenderungan ini. Mereka sadar orang Indonesia tidak memiliki jati diri, sangat minder dengan dirinya sendiri. Mereka pun membuat sebanyak mungkin produk, lalu menjualnya dengan promosi habis-habisan, dijamin rakyat Indonesia akan mengerubuti produk-produk itu seperti bebek-bebek nyosor. Selama ini bangsa kita begitu dibodohi oleh Nokia, Microsoft, McD, Coca Cola, Honda, Yamaha, Suzuki, Sony, LG, Samsung, dll. Kita dimanjakan oleh “merek baru” yang selalu muncul. Tetapi kita sendiri tidak sadar-sadar, malah sangat membanggakan produk-produk itu. Inilah bangsa super minder, super inferior, tidak tahu siapa dirinya dan apa kebutuhannya?

Di bidang dakwah Islam kita juga menyaksikan realitas yang serupa, meskipun berbeda bentuknya. Banyak pemuda bersimpati dengan gerakan Usamah bin Ladin melalui Al Qa’idah-nya, padahal gerakan itu lahir sangat terkait dengan situasi politik di negara tertentu. Kalau jihad internasional, ia telah ada sejak lama, sebelum Usamah bin Ladin masuk di bidang ini. Kemudian ada lagi orang-orang yang memfotokopi cara-cara keras dari Yaman atau Saudi, dengan menghakimi manusia seenak perutnya. Mereka membagi-bagikan vonis sesat, bid’ah, Khawarij, hizbi, seperti membagi-bagikan kue. Hal itu juga mencerminkan sikap inferior, tidak tahan menghadapi kerasnya doktrin-doktrin orang lain.

Begitu pula dengan sebagian saudara kita yang sangat peduli dengan isu Palestina, tetapi lalai dengan keadaan di sekitarnya. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, mereka sangat antusias berbicara dan memikirkan Palestina. Sementara keadaan kaum Muslimin disini terus merosot. Adalah pincang membicarakan yang jauh-jauh, sementara yang dekat diabaikan. Bahkan yang lebih ironi, kita hanya membicarakan Palestina sebagai isu, bukan berupa tindakan nyata. Setelah bertahun-tahun hanya berbicara soal Palestina, dulu saya pernah berkata ke seorang aktivis, “Mengapa kita hanya berbicara terus? Mengapa tidak berperang saja?” Ternyata, dia kesal dan menganggap saya tidak loyal dengan jamaah.

Jika ada seorang Muslim ingin berjihad di Palestina, membantu saudaranya, dia dihalang-halangi. Katanya, “Mereka lebih butuh uang dan senjata, bukan butuh manusia. Disana manusia sudah banyak. Jangan-jangan nanti kita malah merepotkan para pejuang Palestina.” Ya Allah ya Karim, betapa polosnya alasan itu. Ketahuilah ya Akhi, jiwa seorang Mukmin yang ikhlas berjihad itu lebih bernilai daripada sumbangan 1 miliar rupiah atau bantuan 10 pucuk rudal Tomahawk. Jiwa Mukmin bisa mendatangkan pertolongan Allah, sementara dana 1 triliun pun belum tentu bisa mendatangkan pertolongan Allah. Itulah, berbicara yang jauh-jauh, kurang peduli dengan keadaan sekitar; tetapi tindak nyata juga tidak. Ini inferior juga!

Sampai disini, penyakit minder itu telah menyebar sebegitu luas. Seperti kata Rasulullah Saw, kita akan mengikuti Sunnah kalangan Ahlul Kitab, selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, hingga saat mereka masuk lubang biawak pun, kita akan mengikutinya. Kita terus ingin mengkopi kehidupan orang lain dengan tidak menghargai kehidupan sendiri. Kata Malik bin Nabi rahimahullah, Ummat Islam telah memenuhi syarat-syarat untuk dihalalkan sanksi penjajahan atas diri mereka. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Konsep Solusi Islami

Islam memberikan solusi jitu untuk mengatasi masalah minder ini. Intinya berangkat dari upaya memperbaiki keadaan jiwa kita (tarbiyah nafsiyyah). Jika jiwanya baik, insya Allah hidupnya akan baik. Dalilnya sangat jelas, “Sesungguhnya Allah tidak akan memperbaiki keadaan suatu kaum, sampai kaum itu memperbaiki apa yang ada dalam dirinya.” (Ar Ra’du: 11). Ahli tafsir menjelaskan, bahwa memperbaiki diri itu maksudnya memperbaiki keadaan jiwa.

Pada dasarnya rasa minder itu lahir karena jiwa-jiwa kita memang sakit. Kalau jiwa kita merdeka, bebas lepas dari segala belenggu, insya Allah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hidup ini. Seperti ungkapan terkenal dalam Al Qur’an, “Laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun” (tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati). Hal itu dicontohkan ketika seorang anak gembala di jaman Khalifah Umar Ra., dia diuji oleh Khalifah agar berbuat kebohongan. Dengan tegas dia menolak, “Fa ‘ainallah?” (kalau begitu, dimana Allah?). Artinya, penggembala itu bisa berbohong kepada majikannya, tetapi tidak kepada Allah, sebab Dia selalu mengawasi keadaan kita, dimanapun. Itulah contoh jiwa merdeka, hanya merasa minder kepada Allah, bukan minder kepada makhluk.

Dalam masalah pendidikan jiwa ini, Islam memberikan banyak instrumen, tetapi yang paling mendasar ialah: Iqamatus Syahadatain! (Menegakkan Dua Kalimat Syahadat). Disini seorang Muslim tidak mengibadahi siapapun, selain hanya Allah saja; dan dalam ibadah itu dia mengikuti Syariat Nabi Saw. Itu saja maknanya, sangat sederhana, meskipun pengamalannya tidak sesederhana itu. Kalau dirunut-runut, segala kesesatan pemahaman dan kelemahan kaum Muslimin selama ini, berpangkal dari urusan Dua Kalimat Syahadat ini.

Mungkin Anda pernah mendengar syair tembang Ilir-ilir yang digubah oleh Wali Songo! Disana ada satu kalimat yang berbunyi: “Cah angon cah angon, penekno belimbing kuwi. Lunyu lunyu ya penekno kangga mbasuh dada tira.” (Wahai anak gembala, panjatkan buah belimbing itu. Meskipun licin tetap panjatkan, untuk membasuh dahaga di dada).

Anak gembala dalam syair di atas adalah perumpamaan diri seorang manusia, yang pada dasarnya adalah pemimpin. Kata Nabi Saw, “Setiap kalian adalah pemimpin, maka setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” Belimbing adalah buah tropis yang sudutnya ada lima, ia adalah perumpamaan Rukun Islam yang terdiri dari 5 perkara. Jika “buah belimbing” itu dimakan, maka ia akan mengobati segala masalah yang ada di dada. Sejak jaman dahulu hal ini telah diajarkan. Bahwa solusi bagi krisis jiwa kita adalah kembali ke prinsip Rukun Islam, dan yang paling atas dari Rukun Islam adalah Dua Kalimat Syahadat.

Jika Dua Kalimat Syahadat ditunaikan dengan baik, insya Allah akan lahir jiwa-jiwa merdeka dari kalangan Ummat ini. Bahkan para Wali rahimahumullah menambahkan prinsip penyempurnaan dari konsep Rukun Islam. Ia kita kenal dalam syair Tombo Ati (obatnya hati). Ini sebenarnya merupakan amal-amal tazkiyatun nafs (mensucikan jiwa), yang terdiri dari: (1) Membaca Al Qur’an dengan maknanya [tadabbur]; (2) Shalat malam dijalankan; (3) Bergaul dengan para Shalihin; (4) Menjalankan puasa sunnah di siang hari; (5) Banyak berzikir di malam hari. Jika Rukun Islam dijalankan dengan baik, lalu ditambah amal-amal tazkiyah itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk hidup sengsara dan hina.

Tembang Ilir-ilir dan Tombo Ati ini pelajaran sederhana dari para wali agar kaum Muslimin di Nusantara mendapatkan kebajikan hidup yang besar. Sengaja dipilih tetembangan, karena ia mudah diingat sebagai slogan sosial. Namun selama ratusan tahun Ummat Islam tidak mempedulikan nasehat itu. Kita malah terjebak oleh keindahan melodinya. Jelas, bukan itu yang mereka inginkan.

(Namun ada juga kalangan ekstrem tertentu, mereka tidak mau menghargai dakwah para Wali. Seolah di mata mereka, yang memiliki kebaikan dan kebenaran, hanya Syaikh Fulan dan Fulan dari Saudi, Yaman, atau Yordan. Padahal kalau mau jujur, banyak imam-imam hadits yang bukan asli orang Arab. Al Albani rahimahullah dari Balkan Eropa, Ibnu Hazm rahimahullah dari Andalusia Spanyol, Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah pun dari Palestina, bukan Arab mainstream. Kebaikan itu dimeratakan oleh Allah di keluasan bumi-Nya).

Sudah ratusan tahun kita diingatkan tentang kembali ke diri sendiri, menjadi hamba Allah murni dengan mengikuti Syariat Nabi. Jika hal ini dilakukan, tentu kita akan diberi anugerah kebebasan jiwa. Begitu menakjubkan kekebasan jiwa itu, sampai Ibnu Taimiyah bertamsil, “Syurgaku ada dalam dadaku!” Maka jangan diteruskan hal-hal yang keliru dalam hidup ini. Mari kita pertahankan prestasi-prestasi yang baik, dan kita perbaiki hal-hal yang salah.

Mohon maaf beribu-ribu maaf jika engkau mendapati sesuatu yang mengusik kenyamanan hatimu. Maafkanlah, semoga Allah memaafkanku dan memaafkanmu. Allahumma amin. Ini adalah upaya perbaikan yang bisa kulakukan, dengan segala kekuatan yang Allah berikan, meskipun akan ada yang mencibir, “Seperti teriak-teriak di tengah gurun pasir!” Ya, daripada kita diam saja, lalu binasa dipanggang panas gurun pasir; lebih baik teriak-teriak, jika itu satu-satunya cara tersisa untuk bertahan hidup. Barakallah fikum jami’an!

Wallahu a’lam bisshawaab.

AM. Waskito.

NB.: Suatu saat “kuliah pemikiran” seperti ini akan berakhir juga. Tidak mungkin saya akan terus-menerus membuat publikasi demikian. Bagi ikhwan dan akhwat yang ingin membuat dokumentasi, silakan. Semua bebas dan lapang, selama tidak ada unsur kelicikan. Mohon maaf dan maaf, bila ada salah kata dan kalimat. Kepada Allah jua saya memohon ampunan. Jzakumullah khair.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: