Obama atau Oh Mama…

Selasa, 4 November 2008, kandidat Partai Demokrat, Barack Obama, memenangi pemilu Amerika. Dia menang mutlak, unggul atas John McCain, kandidat dari Partai Republik. Obama menjadi presiden Amerika ke-44, sekaligus presiden kulit hitam pertama sejak era George Washington. Dalam pemilu yang menelan biaya 2,4 triliun dolar itu, Obama membawa Partai Demokrat mengakhiri dominasi Partai Republik selama 10 tahun terakhir. Pemilu Amerika kali ini tergolong emosional, sebab diikuti oleh sekitar 139 juta pemilih. Ia merupakan rekor partisipasi tertinggi sejak tahun 1960. Selain itu, Obama meraih sekitar 350 suara dari total 538 suara di 50 negara bagian Amerika. (BBCIndonesia.com dan Kompas.com).

Kemenangan Barack Obama sebenarnya sudah diramalkan, sebab menurut pooling-pooling yang diadakan, Obama selalu mengungguli McCain. Berkali-kali Sarah Palin (kandidat wakil presiden Republik) menyerang Obama, tetapi publik Amerika tetap haus mendukung Obama. Kampanye “Hope” (harapan) yang dilancarkan Obama telah membuat publik Amerika takluk. Mereka begitu terpukau oleh “Hope” Obama, sehingga segala rintangan apapun dibaikan, demi mendukung Obama. Oh Mama, kandidat Partai Demokrat satu itu meraih kemenangan besar.

Kemenangan Obama seketika menyulut histeria dunia. Bukan hanya warga Amerika yang bersuka cita, tetapi juga orang Australia, Eropa, Asia, Afrika, termasuk Indonesia. Obama Euphoria, begitulah kira-kira. Apalagi SD Menteng 1 Jakarta, setiap hari mereka menggelar doa agar Obama menang pemilu. Sebuah rumah yang dulu pernah ditempati Obama di Jakarta konon ditawar ratusan miliar. MetroTV tampak sangat gembira dengan kemenangan Obama. Mereka seperti lebih memiliki Amerika daripada warga Amerika sendiri. (Jangan-jangan mereka masuk jajaran tim pemenangan Obama. He he he…).

Kampanye “Hope”

Kunci kemenangan Obama adalah kampanye “Hope”. Dia menjanjikan banyak harapan (hope) bagi kehidupan rakyat Amerika setelah 10 tahunan terlunta-lunta di bawah regim maniac, George W. Bush. Rakyat Amerika di hari ini mengalami krisis ekonomi yang hebat dan akut, akibat kehancuran lembaga-lembaga finansial. Kurs dolar terus merosot, indeks saham meluncur ke titik terendah. Pemerintah Amerika kesulitan keuangan, sementara rakyatnya juga sulit mendapat uang. Dua sisi ini, pemerintah dan rakyat, ketika bokek secara jama’i, hal itu menandakan kondisi perekonomian yang hancur. Pemerintah tidak bisa membantu rakyat, rakyat juga tidak bisa menyumbang pajak kepada pemerintah.

Seperti ikan-ikan yang lagi kelaparan, tiba-tiba Obama datang sambil membawa “pakan” dengan merk “Hope”. Namanya orang susah, lalu ditawari impian, ya jelas mereka sangat gembul menyantap tawaran itu. Hal seperti itu banyak terjadi di Indonesia. Saat ekonomi sulit banyak penipu yang menawarkan mimpi-mimpi menggiurkan. Celakanya, masih saja ada yang tertipu mentah-mentah. Misalnya penipuan berkedok hadiah undian lewat SMS; tawaran kerja ke luar negeri dengan gaji 10 juta sebulan; tawaran ikut bisnis dengan keuntungan 100 % per bulan; tawaran menjadi presenter dan pemain sinetron dengan keharusan membayar uang muka; tawaran kerja PNS, militer, atau BUMN dengan kewajiban menyetor uang sampai puluhan juta; dan berbagai macam tawaran mimpi.

Kemenangan Obama itu bisa dianggap sebagai kemenangan “saat orang susah”. Jadi bukan kemenangan yang terjadi secara rasional. Contoh, Abdurrahman Wahid menjadi presiden saat rakyat mendambakan kondisi yang lebih baik dari Orde Baru. Rakyat rela mendukung Wahid. Ternyata, belum setahun Wahid jadi presiden, semua orang dibuatnya stress (kecuali PKB). SBY juga sama. Dia terpilih sebagai presiden karena rakyat terpikat oleh kepemimpinan dia sewaktu menjadi Menko Polkam di jaman Megawati. SBY tampak cakep, gagah, berwibawa, dan background militer. Dia seperti pemimpin yang digadang-gadang (sangat diharapkan). Tetapi waktu kemudian membuktikan, pemerintahan SBY sangat lemah di depan kepentingan asing; rakyat tidak mengapa dikorbankan asal mendapat ridha asing.

Obama gembira sebab saat ini dia menang. Rakyat Amerika (atau dunia) juga berharap banyak kepada Obama. Dia diharapkan bisa mengakhiri trauma kepemimpinan dajjal Amerika, George W. Bush. Tetapi di sisi lain, Obama tahu bahwa masalah yang dia hadapi sangat-sangat berat.

Saya menganggap, kegembiraan Obama hanya saat-saat sekarang saja, setelah menang pemilu sampai bulan Januari 2009 nanti, ketika dia disumpah menjadi presiden United Of States. Setelah dia resmi jadi presiden, barulah hari-harinya akan diisi dengan stress tingkat tinggi. Selain Obama harus membuktikan ucapan-ucapannya dalam “Hope”, dia juga harus menyembuhkan bermacam “luka” yang ditinggalkan oleh Bush Junior.

Kenyataan ini serupa seperti terpilihnya gubernur baru di Jawa Barat, HADE. Ketika berhasil terpilih, semua partai pendukung HADE sangat gembira, termasuk ormas Persatuan Umat Islam (PUI), tempat Ahmad Heriyawan berkiprah sebelumnya. Tetapi setelah HADE menjabat gubernur, barulah terhampar di depannya begitu banyak masalah-masalah pelik. HADE dituntut untuk membuktikan janji-janjinya di hadapan masyarakat Jawa Barat dengan segudang masalahnya.

Maka itu, Nabi Saw telah mengingatkan hal ini. Beliau pernah berpesan kepada Abdurrahman bin Samurah Ra, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan (al imarah). Jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya terlebih dulu, engkau akan ditolong (oleh Allah untuk memikul jabatan itu). Namun jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka engkau akan diserahkan kepada jabatan itu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Cermin Kedukaan Bangsa Amerika

Namanya juga manusia, baik di Amerika atau Indonesia, memiliki kecenderungan sama. Karena semua manusia memiliki fithrah tertentu. Kemenangan Obama secara telak atas Mc Cain memberikan pelajaran lain. Tampak disana bahwa bangsa Amerika sudah nyaris frustasi di bawah kepemimpinan maniac-maniac Republiken. George Bush telah membawa Amerika menjadi negara paling jahat dan dibenci di muka bumi. Rakyat Amerika merasakan hal itu. Seluruh dunia sudah aklamasi, bahwa Amerika sangat arogan dan sewenang-wenang.

Publik Amerika menyaksikan runtuhnya double tower WTC. Tetapi mereka sulit memahami bahwa gedung itu hancur karena serangan Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah-nya. Mereka bertanya-tanya, “Mungkinkah Bin Ladin yang tinggal di gunung-gunung Afghanistan itu yang melakukannya? Sementara pasukan khusus Amerika sendiri tidak mampu melakukannya?” Dan mereka lebih tidak bisa memahami lagi, ketika karena alasan WTC itu Amerika melakukan penyerangan terhadap Thaliban di Afghanistan. Bahkan mereka lebih mencak-mencak lagi saat Bush menyiapkan serangan ke Iraq. Maka waktu itu masyarakat Amerika dan dunia menentang keras serangan ke Iraq, dengan slogannya, “No war for oil!”

Masyarakat Amerika juga menyaksikan kebiadaban Bush Junior dengan penjara-penjara bawah tanah yang sangat mengerikan, seperti di Guantanamo, Kandahar, Beghram, Abu Ghraib, dan lainnya (yang tidak diketahui). Foto-foto kebiadaban penjara itu tersebar ke seluruh dunia. Lagi-lagi Bush Cs menjadi pemimpin yang dikutuki manusia sedunia. Amerika pun dibenci publik dunia.

Fakta lain yang membuat amarah rakyat Amerika mencapai ubun-ubun, yaitu saat tim inspeksi PBB tidak menemukan bukti-bukti instalasi senjata nuklir dan kimia di Iraq. Mereka sangat geram, selain karena perang itu telah membakar dana negara triliunan dolar, telah menyebabkan ribuan prajurit Amerika mati, puluhan ribu cacat, mereka juga merasa telah dibohongi oleh The Maniac, George W. Bush. Bahkan yang membuat sangat gedeg, meskipun jelas-jelas Bush telah berbohong, dia tetap ngeyel ingin melanjutkan perang untuk “menciptakan demokrasi” di Iraq. Jangankan rakyatnya, para serdadu Amerika yang dikirim ke Iraq sendiri sebagian besar stress berat. Mereka tidak tahu, perang itu untuk siapa?

Jadi, kemenangan Obama itu mencerminkan betapa rakyat Amerika sudah bulat merasa muak dengan Si Terlaknat George Bush dan Partai Republik. Entah apakah ini disengaja untuk memenangkan Obama atau tidak, dalam kampanye-kampanyenya, McCain juga punya bakat ngeyel seperti Bush Jr. Dia tetap percaya, pasukan Amerika dibutuhkan di Iraq. (Iya dibutuhkan, untuk menggelembungkan pundi-pundi kantong perusahaan Halliburton, Exxon Mobile, Black Water, dll).

Mampukah Obama?

Rakyat Amerika sangat mengharapkan kepemimpinan Obama berhasil membuat perubahan-perubahan. Pertanyaannya, mampukah Obama memimpin Amerika dan membawa rakyatnya bangkit dari keterpurukan?

Di atas kertas saya menilai, Obama tidak akan sanggup menghadapi peliknya problem Amerika saat ini. Sangat sulit dan sulit. Bukan hanya karena beban persoalan itu berat, tetapi Obama tidak memiliki pengalaman penting di bidang birokrasi. Dia memang senator terkenal, publik figur, cerdas, orasi-orasinya disukai masyarakat Amerika. Tetapi yang dibutuhkan Amerika saat ini adalah kemampuan manajerial yang sangat handal dan tindakan berani, di tengah lautan konflik kepentingan antar elemen-elemen masyarakat merika. Kalau hanya sekedar “presiden figuran”, Obama mungkin bisa; tetapi untuk membawa Amerika survive, apalagi bisa berubah secara drastis, dibutuhkan super energi yang tidak dimiliki oleh Obama.

Sebenarnya, kualitas mental sekuat Bush Junior, dibutuhkan oleh Amerika saat ini, bukan seorang pemimpin populis. Tetapi kuatnya mental itu harus digunakan untuk membangun dan bangkit, bukan menebar malapetaka seperti Bush Junior selama ini. Kepribadian Bush itu sangat kuat, jarang manusia setangguh dia. Hanya saja, ketangguhannya dipakai untuk menyebarluaskan kerusakan di muka bumi. Andai Obama punya konsep bagus, punya tim solid, dan mentalnya sekuat Bush, bisa jadi Amerika akan bangkit.

Kalau melihat dari sisi mentalitas, kemungkinan Obama tidak akan sanggup membawa Amerika keluar dari krisis. Mentalitas kaum kulit hitam tidak seprima mental kulit putih. Dalam berbagai kesempatan, ketika dihadapkan kepada kondisi ekstrem, kalangan kulit hitam sering tidak berdaya. Kecuali, kalau orang kulit hitam itu seorang Muslim dan konsisten di atas nilai-nilai Islam. Hingga seorang pemimpin sekaliber Nelson Mandela, jika bukan Muslim yang shalih, dia memiliki sekian kerapuhan mentalitas. Anda mesti tahu, Nelson Mandela besar namanya, tetapi dia mengalami banyak masalah dengan isterinya.

Di mata kaum Republiken, Obama juga ditertawakan. Bisa jadi Republiken sengaja memberi kesempatan Obama memimpin, justru karena situasi Amerika lagi sulit-sulitnya. Mereka tidak bersedia memimpin karena situasinya sulit, lalu mempersilakan Obama mengambil tanggung-jawab. Nanti kalau situasi sudah pulih lagi, krisis terlewati, barulah mereka akan mati-matian memperebutkan posisi. Dalam situasi ini, Obama bisa dianggap sebagai “pembersih sampah” atau “pencuci piring”.

Dalam waktu jangka pendek, Obama harus memikirkan cara keluar dari krisis. Dia harus memastikan cadangan keuangan Amerika menguat, lembaga-lembaga keuangan dipercaya lagi, industri bergerak, skandal subprime mortgage terlewati, lapangan kerja bergairah lagi, dan sebagainya. Dan semua itu sangat tidak mudah. Dalam jangka panjang, jika Obama menginginkan Amerika berubah total, dia harus membuat perhitungan serius terhadap 3 hal: Kapitalisme, dekadensi moral, dan kriminalitas. Inilah “trilogi” yang telah membuat Amerika babak-belur seperti saat ini. Jika Obama tidak berani menyentuh ketiga persoalan itu, yakinlah dia akan sama saja dengan pemimpin-pemimpin Amerika sebelumnya.

Posisi Kulit Hitam

Obama bukan satu-satunya calon presiden kulit hitam. Dulu dari Demokrat pernah muncul kandidat presiden, seorang pendeta, Jesse Jackson. Hanya saja, dalam konvensi di Partai Demokrat, dia kalah. Jesse Jackson menjadi salah satu isyarat, betapa kuatnya harapan warga kulit hitam untuk memiliki presiden black man di Amerika. Sebenarnya, dalam segala level jabatan birokrasi, militer, bisnis, entertainment, sampai film, kalangan kulit hitam Amerika sudah banyak menyumbang prestasi. Misal, Oprah Winfrey sangat dikenal di layar TV, bahkan dipuja; Collin Powel di bidang militer; Condoleeza Rice di bidang pemerintahan; Don King di bidang bisnis tinju dan perjudian; dan lain-lain.

Tetapi untuk jabatan presiden, sepertinya masih tabu bagi masyarakat Amerika untuk memilih tokoh kulit hitam. Sifat rasialis itu masih ada, sampai saat ini. Meskipun secara formal UU yang berisi aturan rasial tidak ada, tetapi perilaku masyarakat masih ada. Bangsa Amerika terlalu berburuk sangka kepada warga kulit hitam, yang dianggap merupakan keturunan budak dari Afrika, dan tidak merepresentasikan semangat kulit putih Amerika.

Di mata bangsa Amerika sendiri, warga kulit hitam disikapi secara dilematik. Dari sisi warna kulit, jelas sangat kontras antara white dan black. Dari tinjauan sejarah, bangsa Amerika merasa lebih unggul dibandingkan warga pendatang kulit hitam asal Afrika. Kemudian, dari sisi keadaan kaum kulit hitam sendiri, banyak dari mereka hidup dalam budaya hidup yang buruk; gangster, narkoba, kriminalitas, pembunuhan, seks bebas, prostitusi, aborsi, single parent, dll. Kehidupan kulit hitam tidaklah mudah, di samping yang sudah sukses tentunya.

Tetapi bangsa Amerika juga melihat bahwa kaum kulit hitam itu bermanfaat, menyumbang peranan bagi pembangunan Amerika. Bahkan banyak juga yang sukses secara ekonomi, profesi, dan karier. Bagi kaum Afro-Amerika (peranakan Afrika Amerika), mereka memiliki penampilan yang “lebih terang”. Banyak Afro-Amerika yang kemudian menjadi bintang-bintang film.

Kalau mau jujur, sebagian besar pendatang Afrika di Amerika, tadinya Muslim. Setelah masuk Amerika, mereka melebur dengan agama setempat. Karena itu, salah satu spirit yang dimunculkan untuk mengangkat martabat kaum kulit hitam, adalah dengan dibentuknya Nation of Islam, yang dirintis oleh Elijah Muhammad. Organisasi ini ingin mengangkat harkat kaum kulit hitam Amerika, dengan mengingatkan mereka terhadap asal-mula sejarahnya, yaitu pemeluk Islam. Hanya saja, konsep Elijah Muhammad sangat ekstrem. Dia mengklaim bahwa Allah adalah Tuhan-nya orang kulit hitam, sementara kulit putih disebut iblis. Di masa Malcolm X dan kemudian Louis Farrakhan, sikap Nation of Islam tidak seekstrem Elijah Muhammad.

Keberadaan kulit hitam di Amerika, seakan tidak berbeda dengan posisi masyarakat Jawa di Suriname. Mereka terpojok oleh situasi yang mereka warisi dari pendahulu-pendahulunya. Mereka ingin melebur dalam masyarakat baru, tetapi secara etnikal memiliki banyak perbedaan dengan masyarakat tersebut. Di sisi lain, mereka telah terputus hubungan dengan masyarakat asal-usulnya. Sebagaimana kulit hitam di Amerika tidak lagi memiliki kaitan dengan negara-negara Afrika, masyarakat Javanese di Suriname juga sulit menyatu dengan Jawa di Indonesia. Masyarakat itu bisa berbahasa Jawa dengan sangat baik, bahkan untuk kualitas bahasa Jawa yang sangat tinggi. Tetapi mereka justru tidak bisa berbahasa Indonesia (Melayu).

Banyak orang kulit hitam suka cita setelah Obama terpilih jadi presiden Amerika. Tetapi dia keturunan Afro-Amerika, tidak murni Afrika tulen. Maka itu penampilan dan kulitnya “gray area”, tidak terlalu gelap seperti pendahulu-pendahulunya. Secara moral, hal ini menguntungkan warga kulit hitam. Tetapi juga bisa menjadi bom waktu, yaitu ketika: Obama tidak bisa memenuhi harapan warga kulit hitam. Jika itu terjadi, bisa muncul rasa kekecewaan yang lebih besar dalam hati masyarakat kulit hitam Amerika. Mereka bisa beranggapan, bahwa siapapun pemimpinnya, kulit hitam sekalipun, tidak membawa manfaat bagi hidup mereka.

Hanya satu kesempatan yang bisa memuliakan warga kulit hitam, warga Afro Amerika, warga Indian, warga Hispanic (keturunan Amerika Latin), warga Vietnam, warga Aborigin, Papua, Flores, Timor Leste, dll. yaitu ketika mereka menjadi seorang Muslim dan konsisten di atasnya. Ya, hanya itu peluangnya. Jika tidak, maka kelemahan potensi etnikal akan dimanfaatkan oleh orang-orang bengis untuk melakukan eksploitasi tanpa ampun. Na’udzubillah min dzalik.

Partai Demokrat dan Ummat Islam

Obama terpilih sebagai Presiden Amerika mewakili Partai Demokrat. Sebelumnya, selama dua periode jabatan presiden dipegang oleh George Walker Bush dari Partai Republik. Banyak orang berharap, dengan presiden dari Partai Demokrat, politik luar negeri Amerika akan berubah total, menjadi lebih ramah, lebih toleran, bersahabat, bahkan berakal sehat. Tidak ekstrem dan maniac seperti era George Bush. Banyak orang percaya, Partai Demokrat lebih baik memimpin ketimbang Partai Republik. Republik dianggap sangat konservatif, dengan pemikiran-pemikiran radikal kapitalistik yang sangat haus peperangan (baca: jualan senjata).

Ada kesamaan karakter antara Partai Demokrat Amerika dengan Partai Demokrat (PD) di Indonesia. Secara kepemimpinan, mereka cenderung progressif, senang dengan kehadiran pemimpin-pemimpin muda. Bill Clinton maupun Barack Obama adalah tokoh-tokoh muda. SBY sendiri di kalangan militer bukanlah sosok yang terlalu senior. Masih banyak jendral-jendral yang lebih senior darinya. Secara penampilan, SBY menunjukkan dirinya sebagai “sosok muda”. Dari sisi ekonomi, Partai Demokrat Amerika jelas pendukung liberalisme. Dan PD di Indonesia juga sama, pendukung liberalisme. Mereka suka mencabuti subsidi-subsidi, dengan alasan: “Negara tidak boleh terlalu ikut campur urusan rakyatnya!” [Meskipun, prinsip itu kini sangat dilanggar oleh Amerika, dengan pengucuran dana sekitar US$ 700 miliar untuk memperbaiki struktur finansial yang hancur. Untuk perusahaan AIG saja, Amerika menggelontorkan dana sekitar US$ 150 miliar. Jangan-jangan nanti di Amerika akan terjadi kasus seperti BLBI]. Sejak era Habibie, Wahid, dan Megawati, belum pernah kita saksikan situasi yang seliberal saat ini. Seakan, menjadi dosa besar bagi negara untuk mensubsidi kebutuhan rakyatnya.

Kalau mau jujur, untuk apa negara dibentuk? Untuk gagah-gagahan? Terbentuk secara tidak sengaja? Dibentuk tanpa arah yang pasti? Dibentuk karena ikut-ikutan negara lain? Atau dibentuk untuk melayani kepentingan segelintir manusia? Tentu saja, negara tidak dibentuk untuk alasan-alasan itu. Negara dibentuk untuk memayungi, mengatur, dan memenuhi hajat kehidupan rakyatnya. Jadi kebutuhan rakyat lebih dulu muncul daripada negara itu sendiri. Andia untuk memenuhi kebutuhan rakyat hanya bisa dicapai dengan subsidi dan proteksi, tidak masalah. Jangankan dana 30 % atau 40 % APBN untuk subsidi, 100 % sekalipun, jika memang dibutuhkan, tidak masalah. Wong, negara itu seperti kepanitiaan tetap yang dibentuk untuk mengurus keperluan rakyat. Negara bukan sistem tersendiri yang kemudian sewenang-wenang menjajah rakyatnya.

Pemikiran seperti di atas jelas sangat-sangat ditentang oleh kaum liberalis-kapitalistik. Mereka ingin agar rakyat berusaha sendiri, tanpa campur-tangan negara; agar orang-orang lemah bisa ditindas oleh orang-orang bengis. Kalau akhirnya rakyat menderita, mereka hanya mengatakan, “Laissez faire!” (Biarkan sajalah). Jadi, liberalisme itu tak ubahnya seperti aturan yang memperbolehkan sebagian manusia (yang kuat) menindas manusia lain (yang lemah).

Lalu bagaimana prospek sikap Obama kepada Ummat Islam?

Jika Obama komitmen menarik pasukan Amerika dari Irak dan Afghanistan, jelas hal itu sangat menguntungkan. Sejak lama, rakyat Irak maupun Afghanistan mendesak agar penjajah Amerika angkat kaki dari kedua negara tersebut. Bahkan sebenarnya, para sekutu Amerika dari Eropa (NATO), mereka sudah keletihan melayani ambisi-ambisi negara cowboy itu. Inggris, Perancis, Jerman, sudah berkali-kali ingin menarik pasukannya, karena pasukan mereka semakin banyak tewas. Dan Obama harus memenuhi janjinya untuk mengakhiri petualangan berdarah Amerika di Irak dan Afghanistan. [Tetapi ambisi itu kemungkinan akan mendapat tentangan sangat hebat dari kaum Republiken, sebab banyak di antara mereka yang terlibat bisnis perang. Seperti pasukan Black Water yang terjun di Irak. Sebenarnya ia milik swasta, tentara bayaran, bukan pasukan organik Amerika].

Adapun secara ekonomi, situasi tidak banyak berubah. Amerika tetap kapitalis-liberalistik, dan sangat haus kekayaan bangsa lain. Harus dicatat, Presiden Amerika yang kuat menekan Indonesia agar menanda-tangani pakta pasar bebas, APEC dan WTO, adalah Bill Clinton. Anda tahu dari partai apa dia? Juga Presiden Amerika yang menekan Presiden Soeharto agar memenuhi skema penyelesaian krisis ekonomi ala IMF, adalah Bill Clinton juga. Padahal, hancurnya ekonomi Indonesia saat ini sepenuhnya karena skema bejat IMF. Anda lihat sendiri, dalam soal liberalisasi-kapitalisme, Bill Clinton tidak segan menekan bangsa lain, seperti Indonesia ini.

Perbedaan menyolok antara Partai Republik dan Partai Demokrat (di Amerika) bagi bangsa lain, Republik suka jual-beli peperangan; sementara Demokrat suka praktik penjajahan ekonomi (bukan penjajahan fisik). Keduanya sama berbahayanya bagi bangsa lain. Kalau Republik caranya keras, berdarah-darah; kalau Demokrat, caranya lunak, tampak damai, tetapi sangat menghisap kekayaan bangsa lain. Partai apapun yang menang di Amerika, tidak akan mengubah sifat ekspansif negara itu dalam mengeksploitasi kepentingan bangsa lain.

Hanya Seorang “Boneka”

Sistem kepemimpinan di Amerika telah terbentuk sangat kuat. Ia tersistematisasi dalam masa yang sangat panjang, sejak era Theodore Roosevelt. Struktur yang kuat itu adalah kepemimpinan yang dikendalikan oleh kepentingan Yahudi internasional. Hampir tidak ada satu pun presiden Amerika modern yang keluar dari restu Yahudi internasional. Jika ada, kemungkinan dia akan dipaksa tunduk. Jika tidak mau, dia akan dibunuh seperti John F. Kennedy.

Yahudi internasional memiliki jaringan yang sangat kuat di Amerika. Bukan hanya perusahaan-perusahaan besar dan media-media massa pro Zionisme, tetapi juga lembaga-lembaga lobby yang sangat kuat. Konon, jatuhnya reputasi Bill Clinton akibat perbuatan mesum dengan Monica Lewinsky, hal itu telah diatur terlebih dulu. Akibatnya, Partai Demokrat hancur sesudah itu, sehingga untuk dua periode Amerika dipimpin oleh Partai Republik (George Bush). Siapapun kandidat presiden yang tidak mendapat restu dari jaringan Yahudi tidak akan lolos menjadi presiden. Jika lolos, kemungkinan umurnya tidak panjang.

Menjadi Presiden Amerika bukanlah suatu kebanggaan, sebab posisi jabatan itu sendiri tidak independen. Setiap pejabat presiden Amerika harus tunduk kepada kepentingan-kepentingan Yahudi. Jika tidak, dia akan dipatahkan, dengan berbagai cara yang memungkinkan. Kalau tidak dengan peluru tajam, opera sabun, atau skandal korupsi. Apa yang dikhawatirkan oleh Benyamin Franklin ratusan tahun lalu, tentang kaum Yahudi sangat berbahaya bagi negara Amerika. Benyamin Franklin bahkan menyebut etnis Yahudi seperti komunitas vampire.

Tentang begitu kuatnya dominasi Yahudi terhadap Amerika, PM Israel Ariel Sharon terang-terangan mengakui hal itu. Ariel Sharon pernah berkata kepada Menlu Israel, Shimon Perez: “Setiap kali kita melakukan sesuatu, Anda mengatakan pada saya, orang Amerika akan melakukan ini itu. Saya katakan pada Anda sejelas-jelasnya, jangan khawatirkan tekanan Amerika Serikat pada Israel. Kita, orang-orang Yahudi mengendalikan Amerika, dan orang Amerika tahu itu.” (Republika, 22 Mei 2002, hal. 1. Sumber: Radio Israel, Kol Yisrael, 3 Oktober 2001). Shimon Perez sangat terkejut mndengar perkataan Ariel Sharon. Bukan karena dia menolak perkataan Sharon, tetapi takjub dengan keterus-terangannya.

Jangankan seorang Obama, pemimpin sekuat Bush saja tidak berdaya menghadapi Yahudi. [Ada juga yang mengatakan, Bush masih memiliki darah Yahudi]. Apalagi hanya seorang Obama. Obama tidak memiliki “otot kawat balung wesi” untuk menghadapi dominasi Yahudi. Sehebat-hebatnya Obama, dia tidak seperti Benyamin Franklin yang sangat nasionalis, atau Abraham Lincoln yang anti perbudakan, atau John F. Kennedy yang ingin berpihak ke rakyatnya sendiri.

Hanya sebuah keajaiban jika Obama bisa melawan berbagai sistem kooptasi (membelenggu) yang ada di sekitar Gedung Putih. Namun jika kemudian dia “setali tiga uang” (sama saja) dengan pendahulu-pendahulunya, hal itu bukan sesuatu yang aneh. Sudah diprediksikan demikian. Saya menduga, wallahu a’lam bisshawaab, Obama akan mengalami situasi-situasi seperti yang pernah menimpa Bill Clinton. Ya, masih seputar “dunia kewanitaan”.

Jika menyadari semua ini, Ummat Islam tidak bisa berharap banyak kepada Barack Obama. Jelas dia tidak memiliki komitmen terhadap Islam. Jika ada komitmen itu, dia akan terlalu lemah menghadapi multi sistem yang membelenggu Gedung Putih selama ini. Baik jaringan birokrasi, lobby Yahudi, media massa, korporasi kapitalistik, bahkan jaringan mafia, mereka tidak akan membiarkan Obama keluar dari desain kekuasaan yang mereka bentuk.

Sepintas lalu kehadiran Obama membawa euphoria bagi rakyat Amerika, juga warga dunia, termasuk bangsa Indonesia (dan SD Menteng 1 Jakarta). Tetapi dia hadir saat situasi Amerika sangat sulit; dia hadir sebagai orang “separo hitam” di tengah masyarakat yang masih bersikap rasialis; dan dia memimpin di tengah sebuah multi sistem yang sangat membelenggu. Obama kebagian apes di atas apes (kenyataan yang sangat-sangat tidak enak).

Tidak berlebihan, jika nama Obama diplesetkan: Oh Mama! Atau dalam bahasa Jawa, “Aduh Biyung!” atau “Aduh Simbok!” Betapa tidak, kalau melihat kegembiraan Obama dan para pendukungnya, kita pun merasa iri; tetapi saat melihat prospek kepemimpinan Obama, dia tidak memiliki “Hope”. Bukan tidak mungkin, nanti rakyat Amerika akan menyebut Obama sebagai: Barack “The Hopeless” Obama. Wallahu a’lam bisshawaab. [Oleh: AM. Waskito].

Iklan

4 Responses to Obama atau Oh Mama…

  1. joyo berkata:

    hehehe…emang bener ketika lihat metroTV, fenomena yang sangat lucu. Yang punya gawe siapa…?Yang ribut siapa?

  2. uyungs berkata:

    Mau lebih kenal Obama, bagaimana dr pemuda mabuk2an bertransformasi jadi pendekar hukum dan senator yg sudah diprediksi jadi Presiden sejak 2004 maka simaklah: http://obatngantuk.wordpress.com/2008/11/14/biografi-obama-perjalanan-seorang-manusia-dari-kripton/

  3. LiaBali berkata:

    Kami Smart Business Global
    http://www.sbgbali.com
    adalah Marketing Online anda.

    Juga Pendukung Perjuangan
    Made Ariawan, SST.Par.MBA
    Partai Demokrat Badung Bali
    dari http://www.sbgbali.com/madeariawan.htm
    http://www.forumprobali.org

  4. abisyakir berkata:

    @ LiaBali

    Biar fair, saya muat juga ya komentar Anda. Terimakasih.
    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: