Tiga Terpidana Mati dan Hari Pahlawan

Masyarakat luas tidak terlalu menyadari ketika tanggal 7 November 2008, Pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan kepada Allahuyarham Buya Muhammad Natsir dan Allahuyarham Bung Tomo (Sutomo).

Buya Natsir adalah mantan pemimpin besar Masyumi. Beliau sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, tetapi sangat telat diberi anugerah gelar pahlawan. Dibandingkan pemimpin-pemimpin Masyumi lainnya, beliau paling telat diakui sebagai pahlawan. Pihak Keluarga Besar Bulan Bintang, khususnya keluarga Buya Natsir, sejak lama memperjuangkan anugerah gelar pahlawan itu. Dan baru kemarin usaha tersebut berhasil. Alhamdulillah. Buya Natsir sangat berjasa kepada bangsa Indonesia. Kepahlawanan beliau jauh lebih besar daripada peranan Dr. Soetomo, Douwes Decker, WR. Supratman, Syahrir, Otto Iskandar Dinata, Gatot Subroto, 7 Pahlawan Revolusi, dsb. Bahkan lebih besar daripada jasa Jendral AH. Nasution.

Kemudian Bung Tomo juga demikian. Beliau adalah pahlawan Perang 10 November 1945 di Surabaya. Beliau seorang komandan militer yang memberi komando dilancarkannya perang dalam mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan Sekutu. Orasi beliau di RRI sangat terkenal, dengan pekikan Allahu Akbar yang sangat bersemangat.

Jasa Bung Tomo sangat besar ketika Perang 10 November 1945. Tanpa orasi-orasi beliau, belum tentu para pejuang akan terbakar semangatnya. Perang itu menjadi bukti perlawanan total terhadap penjajah yang bermaksud meruntuhkan kemerdekaan yang baru diproklamasikan beberapa bulan sebelumnya. Ia juga menjadi isyarat bagi Sekutu untuk sepenuhnya mundur dari Indonesia. Terbukti, pasca Perang 10 November, Sekutu tidak berniat menguasai Indonesia. Hanya Belanda dengan NICA dan pasukan Gurkha yang terus berusaha memperpanjang kolonialismenya di Indonesia. Suatu keanehan, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan, tetapi Bung Tomo tidak diakui sebagai pahlawan.

Sejak lama Ummat Islam di Indonesia sangat heran dengan kasus Buya M. Natsir dan Bung Tomo rahimahumallah ini. Jelas-jelas mereka berjasa, mengapa negara belum ada kelapangan dada untuk mengakui jasa-jasanya? Katanya, mengutip kalimat Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa pahlawannya.” Kalau tokoh-tokoh yang tidak jelas diberi penghargaan, mengapa untuk dua tokoh Muslim legendaris seperti keduanya, sangat telat sekali.

Bagaimanapun kita tetap menghargai langkah Pemerintah RI memberi gelar kepada keduanya, meskipun sangat telat sekali. Seperti kata ungkapan, “Lebih baik telat, daripada bolos sekolah.” Kalau keduanya tidak diberi gelar pahlawan, statusnya akan sangat meragukan bagi generasi muda Islam. Mereka akan bertanya-tanya, “M. Nastsir dan Bung Tomo itu siapa? Apakah mereka pahlawan, pemberontak, orang radikal, atau teroris?” Nah, keraguan akan status itu benar-benar harus dihapuskan. Bangsa Indonesia harus sepakat mengakui, bahwa mereka adalah pahlawan sejati. Bahkan, dalam pandangan saya, keduanya lebih mulia daripada Soekarno-Hatta yang keduanya diabadikan dalam pecahan uang 100 ribu rupiah, dipakai sebagai pengganti nama Gelora Senayan, sebagai pengganti nama bandara internasional Cengkareng, dan nama jalan-jalan penting di kota besar.

Tiga Terpidana Mati

Hari Ahad dini hari, 9 November, pukul 00.15 WIB, tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron (Mukhlas), dan Imam Samudra dieksekusi mati di kawasan Nirbaya Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Setelah menanti sekian lama, akhirnya ketiganya wafat di depan regu tembak dari Polda Jawa Tengah.

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘afihim wa’fu anhum. Semoga Allah memaafkan mereka, mengasihi mereka, memberikan sentosa, dan memaafkan mereka. Allahumma amin.

Saya sering mendengar pandangan kritis terhadap apa yang telah dilakukan oleh ketiga almarhum di atas. Banyak yang menyayangkan tindakan mereka ketika melakukan pengeboman di Paddy’s Club dengan bom mobil. Tetapi bagaimanapun, mereka adalah Muslim, mereka saudara kita, saudara dalam keimanan kepada Rabbul ‘alamin dan kepada petunjuk Nabiyul Huda shallallah ‘alaihi wa sallam. Mereka telah berijtihad dalam amalnya. Ijtihad itu bisa benar, bisa juga salah. Hanya Allah Ta’ala yang secara mutlak tahu hakikat ijtihad dan amal mereka.

Seperti almarhum Ustadz Mukhlas, menurut isterinya Farida Abbas di Malaysia. Dia telah lama mencari mati syahid. Dia datang ke Afghanistan, lalu pulang dalam keadaan selamat. Sewaktu di Ambon terjadi konflik, beliau datang pula kesana; kemudian ke Poso; bahkan pernah ke Filipina dalam rangka mencari syahid. Perjalanannya mencari syahadah ini tidaklah bisa diremehkan. Ketika di berbagai tempat tidak dijumpai apa yang diinginkan, maka serangan ke Bali dipikirkan sebagai salah satu kemungkinan. Dan kini beliau telah wafat di depan regu tembak bersama kedua rekannya, rahimahumullah.

Cita-cita meraih syahadah adalah impian yang benar. Tidak boleh ada yang menghalanginya, siapapun. Dengan itulah seorang hamba berharap mendapat kemudahan langkah saat kelak berjumpa dengan Allah di Al Yaumul ‘Asir (hari yang sangat sulit atau Hari Kiamat).

Sejak awal, kita semua menghargai kesungguhan para almarhum. Kesungguhan dan pengorbanan mereka tidaklah kecil. Jika ada kritik, hal itu menyangkut sasaran di Bali dan korban dari Ummat Islam sendiri. Juga ada yang mengatakan, “Amerika sendiri tidak dirugikan oleh aksi-aksi mereka.” Tetapi kita juga harus ingat, mereka di berbagai kesempatan telah mengakui kesalahannya, telah meminta maaf kepada keluarga korban (Muslim), bahkan mereka katanya sudah menunaikan kafarat (penebus dosa) selama di LP Nusakambangan.

Mungkin karena kafarat itu pula situasi saat ini sangat berbeda dengan situasi setelah Bom Bali I, 12 Oktober 2002. [Tanggal 12 Oktober 2002 ini, hanya berbeda 1 digit dengan 11 September 2001. Baik tanggal, bulan, dan tahunnya hanya terpaut 1 angka saja]. Kalau dulu masyarakat secara umum mengecam keras tindakan mereka, termasuk tokoh-tokoh Islam. Tetapi kini Allah telah mengishlahkan hati kaum Muslimin, sehingga perlahan-lahan mereka bisa menerima posisi almarhum Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi. Baik di Serang Banten maupun Tenggulun Lamongan Jawa Timur, para pemuda Islam menyambut penuh haru kedatangan jenazah terpidana Bom Bali I. Seandainya mereka salah secara strategi, mereka tidak salah secara niat, yaitu ingin menolong penderitaan kaum Muslimin di berbagai belahan bumi lain yang teraniaya.

Hal ini mengingatkan kepada nasib Dr. Azahari yang meninggal dalam tembak-menembak di Batu, Malang. Beliau meskipun fotonya tersebar di seantero Indonesia bersama Noordin M. Top, kedatangan jenazahnya di Malaysia disambut gegap-gempita oleh keluarga dan para simpatisannya.

Memang idealnya perjuangan Islam dipimpin oleh seorang Khalifah kaum Muslimin, berdasarkan fatwa ulama dan pertimbangan yang matang. Itu pun ketika ada alasan-alasan yang kuat untuk menggerakkan Jihad Fi Sabilillah. Idealnya demikian. Tetapi dalam situasi kaum Muslimin penuh kelemahan seperti saat ini, tidak ada satu pun Khalifah yang menaungi urusan mereka. Sementara berbagai penindasan, pembantaian, bombardir rudal, teror terus-menerus, menimpa kaum Muslimin di berbagai negeri seperti Palestina, Irak, Afghanistan, Chechnya, Kashmir, Filipina, Pattani, Balkan dan lainnya. Apa yang bisa dilakukan sekedar menghambat segala bentuk kezhaliman atas kaum Muslimin itu? [Jangankan ingin mengakhiri segala kezhaliman, jika mampu kita mengerem sedikit saja kezhaliman itu, hal tersebut sudah sangat disyukuri].

Munculnya para pemuda Islam seperti Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi dan lainnya adalah suatu konsekuensi yang sulit dihindari. Bukan karena Ummat Islam hobi kekerasan atau meremehkan harga nyawanya, tetapi hal itu dipicu oleh solidaritas antar sesama Muslim. Nabi Saw bersabda, “Mukmin yang satu dengan Mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian lainnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Solidaritas ini sangat kuat, sehingga tidak ada yang sanggup meruntuhkannya, selain kehendak Allah semata.

Seandainya kita ingin melihat dunia aman dari aksi-aksi kekerasan, jangan selalu berpikir bahwa UU atau satuan elit tertentu bisa menciptakan dunia aman (peace in the world). Tetapi hindari segala tindakan politik-militer yang menzhalimin Ummat Islam, maka insya Allah dunia ini akan aman. Sejujurnya, kaum Muslimin itu sangat lembut, hatinya cepat kembali kepada kebenaran. Tetapi jika sepanjang masa mereka selalu “diteror” oleh berita-berita mengenaskan yang menimpa saudaranya, pasti mereka akan bangkit untuk menunjukkan solidaritas.

Dari sisi sasaran, bisa jadi almarhum Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi melakukan kesalahan. Tetapi dari sisi solidaritas mereka kepada kaum Muslimin yang menderita di berbagai belahan dunia, mereka adalah pejuang Islam. Tidak ada yang menyalahkan solidaritas kaum Muslimin terhadap saudara-saudaranya yang menderita. Bahkan solidaritas itu berlaku bagi pemeluk agama apapun yang ingin membantu sesama saudara seagamanya.

Anda masih ingat bagaimana ketika Tibo Cs. diancam hukuman mati karena melakukan pembantaian di Poso. Elemen-elemen Katholik menolak eksekusi mati Tibo Cs. Bahkan sampai Paus di Vatikan juga mengirimkan surat meminta supaya eksekusi mati itu tidak dilaksanakan. Apa yang mendasari semua aksi penolakan eksekusi mati itu? Solidaritas keagamaan kan? Mengapa Katholik merasa solider, sementara Protestan diam-diam saja? Sebab Tibo adalah penganut Katholik. Sangat mencengangkan ketika Imam Samudra tidak boleh solider kepada sesama saudaranya yang ditindas di Palestina, Irak, Afghanistan, dll. sementara orang lain boleh solider kepada sesama saudaranya. Bahkan mereka hendak mengintervensi keputusan hukum yang telah ditetapkan. Luar biasa! Seolah solidaritas haram bagi Ummat Islam, dan halal mutlak bagi selain Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Begitu pula, mungkin Anda masih ingat kejadian peledakan gedung FBI oleh sebuah truk berisi penuh bahan peledak beberapa tahun sebelum WTC 2001. Semula Jamaah Islamiyyah di Amerika, yaitu Dr. Umar Abdurrahman dan murid-muridnya dituduh sebagai pelaku. Ternyata kemudian hari terbukti, bukan mereka pelakunya. Pelakunya adalah Timothy McVeigh. Seorang pemuda yang sangat marah atas serangan FBI terhadap markas sekte Advent Davidian, yang dipimpin oleh David Coresh. Serangan FBI yang menewaskan David dan banyak pengikutnya itu telah menimbulkan solidaritas di hati pengikut sekte itu.

Sejak peristiwa WTC 11 September 2001, banyak publik dunia bersimpati kepada para korban WTC. Salah satu bentuk simpati itu dengan cara meneror Ummat Islam di berbagai belahan dunia, khususnya kaum Muslimin di Amerika. Banyak sekali Muslim yang tidak tahu-menahu tentang Tragedi WTC, tetapi mendapat tekanan psikologis dan fisik yang berat. Arab Saudi menjadi bulan-bulanan masyarakat dunia, sebab sebagian besar pelaku peledakan itu disebut sebagai warga negara Saudi. Apalagi Usamah bin Ladin sendiri semula orang Saudi. Begitu paranoid-nya Barat terhadap dakwah Salafiyah (sering diklaim sebagai Wahhabi), sehingga begitu mudahnya mereka memojokkan Saudi, agar masyarakat dunia membenci dakwah Salafiyah itu sendiri. Bahkan yang paling mengerikan, Afghanistan dan Irak harus dibombardir oleh rudal Sekutu, untuk suatu dosa yang tidak mereka lakukan. Semua tindakan teror itu dianggap sah, benar, dan wajib sebagai bentuk solidaritas atas penderitaan dan kehancuran pasca Tragedi WTC.

Disinilah beratnya situasi kaum Muslimin saat ini. Jumlah mereka banyak, tetapi keadaannya seperti ghu-tsa-is sail (buih banjir). Mereka menjadi bulan-bulanan kekuatan jahat di dunia. Kalau Ummat Islam memiliki banyak kekayaan, mereka terus dirongrong oleh negara rakus. Kalau Ummat ini lemah, mereka dipaksa menjadi konsumen produk-produk asing. Kalau Ummat tidak memiliki uang, mereka diadu-domba agar membeli senjata untuk konflik. Kalau mereka hidup harmoni, kebahagiaannya dirusak karena kedengkian yang amat sangat. Kalau mereka dilanda bencana, pura-pura ditolong, sesudah itu dilancarkan Kristenisasi kepada para korban bencana. Kalau mereka damai, terus diprovokasi agar bertengkar. Kalau mereka membela diri, segera direaksi dengan menjatuhkan ribuan ton rudal agar rumah-rumah hancur, kebun-kebun, pabrik, dan rumah sakit hancur. Kalau Ummat Islam membalas, mereka dicap sebagai: TERORRIST! Bahkan Andai Ummat ini diam saja, tidak memberikan perlawanan apapun, mereka dibodoh-bodohkan oleh para orientalis dan kaki-tangan mereka. Lalu Ummat ini harus berbuat apa lagi? Segala tindakan kita selalu dan selalu melulu. Semua perbuatan kita tidak ada benarnya di mata kafir laknatullah ‘alaihim. Dan yang sangat menyakitkan, para kafir itu berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Makanya jangan menjadi Muslim. Jadi kafir saja, seperti kami. Dijamin hidupmu akan aman!”

Dalam Al Qur’an, “Mereka tidak putus-putusnya memerangi kalian, sampai membuat kalian murtad dari agama kalian (Al Islam), sekiranya mereka mampu. Dan siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, kemudian dia mati dalam keadaan kafir, maka terhapus sudah amal-amal mereka di dunia dan Akhirat. Dan mereka menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 217).

Motivasi almarhum Imam Samudra, Ali Ghufron, dan Amrozi yang merasa solider terhadap penderitaan kaum Muslimin adalah sesuatu yang terpuji. Bisa jadi tindakannya keliru, tetapi niatnya tidak. Dalam suatu acara Metro Realitas di MetroTV beberapa tahun lalu, Imam Samudra pernah berbicara jujur, dia mengakui kesalahan menjadikan Bali sebagai sasaran. Kemudian dia mengatakan, seandainya dia masih berkesempatan hidup, dia ingin melakukan aksi lagi, tetapi tidak di Indonesia. Dia akan mencari sasaran lain yang lebih tepat.

Pelaku Bom di Paddy’s Club

Bom Bali 12 Oktober 2002 terjadi di dua lokasi di Legian Kuta Bali. Pertama di depan café Paddy’s Club, kemudian tidak berselang lama di depan Sari Club. Bom yang sangat dahsyat dengan korban sangat banyak itu terjadi di Sari Club, bukan Paddy’s Club. Namun masyarakat dunia, termasuk aparat hukum Indonesia, menyamaratakan kejadian itu dengan istilah “Bom Bali I”.

Kalau menyaksikan berbagai kesaksian tiga pemuda Islam, Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi, mereka memang mengakui melakukan aksi bom mobil di depan Paddy’s Club. Hal ini mereka akui dan hal itu bisa diterima pengakuannya. Tetapi kejadian di Sari Club bukanlah perbuatan mereka. Bagaimana bisa mereka mempersiapkan satu bom mobil, tetapi meledak di dua tempat berbeda? Orang berakal tidak akan mempercayai hal itu. Sekali lagi, mereka mempersiapkan satu bom mobil, tidak mungkin meledak di dua tempat berbeda. Bom mobil tidak bisa beranak, dan semua orang berakal memahami hal itu.

Apalagi kekuatan detonasi bom yang meledak di Sari Club sangat besar. Hingga ia menimbulkan lubang besar dan dalam, yang kemudian selalu ditutupi dengan genangan air. Banyak pakar menyebutkan bahwa bom tersebut bukan TNT, sebab TNT tidak akan menimbulkan lubang di tanah. Mereka menyebut bom itu dengan daya ledak tinggi, seperti C4 atau RDX. Bahkan ada yang menyebutnya mengandung bahan mikronuklir. Pakar politik Hermawan Sulistyo menolak anggapan bom itu mengandung bahan nuklir.

Tetapi kalau mau jujur, sehebat-hebatnya bom mobil di berbagai negara, misalnya di Irak dan Afghanistan, hampir tidak pernah menyebabkan korban meninggal sampai ratusan orang. Coba saja Anda cari bagaimana hasil korban akibat bom-bom mobil di Irak atau Afghanistan! Tidak pernah disana sampai menimbulkan korban hingga ratusan jiwa manusia. Paling puluhan manusia. Sebagai perbandingan lain, ialah bom mobil di depan JW. Marriot dan Kedubes Australia di Kuningan. Jelas-jelas keduanya bom mobil berkekuatan tinggi. Lalu apakah korban yang jatuh disana sampai ratusan orang? Tidak sama sekali. Apalagi kerusakan yang terjadi di Sari Club itu sangat hebat. Lihatlah kerusakan bangunan-bangunan di sekitarnya. Ia benar-benar remuk. Padahal biasanya, bom mobil kerusakan bersifat lokal.

Bahkan yang sangat mengherankan, korban-korban yang berjatuhan di Bom Bali I itu banyak yang langsung diterbangkan ke Australia, tidak boleh dirawat atau diotopsi di Indonesia. Baru sesudah itu korban-korban selamat tertentu dipulangkan kembali ke Indonesia. Hal ini menjadi misteri tersendiri. Mengapa sejak awal bukan para ahli medis Indonesia saja yang menangani semua korban itu, termasuk korban warga Australia? Pendek kata, bom yang meledak di Sari Club masih meninggalkan sekian banyak tanda-tanya.

Sampai disini, seharusnya siapapun menyebut ketiga pemuda Islam itu sebagai pelaku peledakan bom di Paddy’s Club. Mereka bukan pelaku bom di Sari Club. Tim mereka hanya mempersiapkan satu bom mobil, tidak mungkin akan meledak di dua tempat berbeda. Lagi pula, bom TNT tidak akan menimbulkan kerusakan parah seperti di Sari Club. Kalau mau jujur, bom mobil di Kuningan dan JW Marriot bisa menjadi bukti, bahwa kerusakan yang muncul tidak sedahsyat di Sari Club. Bahkan Ustadz Ismail Yusanto dari HTI, dia berkali-kali mengatakan, bom mobil yang dipersiapkan oleh tim Imam Samudra dalam rapatnya ialah mobil Carry, tetapi kenyataan di lapangan, mobil yang meledak L300 yang berukuran lebih besar.

Seharusnya hukum cukup menyalahkan mereka dalam tindakan yang mereka di Paddy’s Club, bukan di Sari Club. Para korban atau keluarga korban di Sari Club seharusnya tidak menyalahkan ketiganya. Kalau mereka menjadi korban di Paddy’s Club, ya ketiga pemuda itu layak menyalahkan. Tetapi untuk di Sari Club, jangan bebankan kesalahan ke pundak mereka! Seperti membebaskan pelakuka kejahatan adalah keliru, maka menuduh kejahatan terhadap pelaku yang tidak melakukan perbuatan itu juga merupakan kesalahan.

Jadi, Bom Bali I seharusnya dibedakan antara kasus di Paddy’s Club dengan di Sari Club. Menyebut ketiga pemuda tersebut bertanggung-jawab atas kedua peledakan itu adalah kesalahan serius. Jangan sampai kita membebankan tuduhan kepada pihak yang bersalah melebihi kadar kesalahannya.

Momentum Hari Pahlawan

Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2008 kali ini sangat istimewa. Selain karena sebelumnya dua tokoh Islam, Buya M. Natsir dan Bung Tomo rahimahumallah dianugerahi gelar pahlawan nasional; Hari Pahlawan kali juga sangat dekat dengan hari “H” eksekusi mati tiga terpidana, Imam Samudra, Mukhlas, dan Ali Ghufron. Ia dilakukan 9 November dini hari, satu hari sebelum Hari Pahlawan.

Entahlah, disengaja atau tidak, yang jelas ada ribuan pemuda Islam yang mengklaim bahwa Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra adalah mujahid Islam, bukan teroris. Bahkan mereka mengklaim, ketiga almarhum meninggal dalam keadaan syahid sebagai pejuang Islam. Biarpun Pemerintah dan media-media massa berusaha keras agar ketiga terpidana mati itu tidak disebut sebagai pahlawan atau pejuang syahid, tetap saja mereka tidak bisa menahan kharisma ketiganya yang telah masuk ke dalam hati kaum Muslimin. Bertahun-tahun ketiganya diberitakan media, sejak tertangkap 2001 sampai wafatnya, nama ketiganya terkenal, wajahnya sangat dikenal, bahkan gayanya begitu khas di mata masyarakat. Pemerintah dan media massa berusaha menjatuhkan reputasi ketiganya, agar disebut sebagai teroris jahat, berdarah dingin, buruk akhlak, dll. Tetapi semakin mereka dibahas, semakin keras difitnah, justru semakin kuat pengaruhnya di hati-hati manusia. Luar biasa, sebenarnya yang membesarkan citra ketiga almarhum bukan diri mereka sendiri, tetapi peranan media massa yang sangat intensif ingin menelanjanginya.

Mengapa efek paradoks ini terjadi?

Jawabnya sederhana, sebab pihak yang mencela sangat rendah keshalihannya dibandingkan pihak yang dicela. Mereka mencela para pemuda itu, “Ini teroris! Ini jahat! Ini zhalim! Ini mujahid sesat!” dan seterusnya. Tetapi diri para pencela itu tidak ada bekas-bekas keshalihannya. Shalat asal-asalan (itu pun kalau masih shalat); membaca Al Qur’an tidak pernah; lidah selalu berdusta dan berdusta; khianat menjadi makanan sehari-hari; meremehkan Allah menjadi hobi favorit; suka bermain wanita; menghalalkan korupsi, menghalalkan ribawi, menghalalkan manipulasi; bertingkah sok alim, padahal akhlak buruk; tidak pernah peduli dengan nasib Ummat Islam; menjilat orang-orang kuat; dan berbagai kelakuan lain yang sangat jauh dari keshalihan. Orang seperti itu mau mencela pemuda-pemuda Islam tersebut, jelas celaan mereka malah melambungkan nama ketiganya.

Kalau mau jujur, negara kita saat ini dikuasai oleh para politisi dan partai-partai politik. Sejak dari kawasan Istana Negara sampai daerah-daerah pelosok, para politisi menjadi “bangsawan-bangsawan” yang berkuasa. Lidah mereka menjilati seluruh urusan masyarakat dari yang besar sampai yang kecil. “Reformasi adalah milik para politisi,” begitulah kesimpulannya. Inilah sebuah Indonesia baru yang hendak ditegakkan dengan ruh politik, sepenuhnya.

Di sisi lain, praktik politik yang berjalan saat ini jauh dari sifat politik luhur yang semestinya dibangun. Kebohongan politik, obral janji-janji, ambisi kekuasaan, mementingkan kelompok sendiri, persaingan tidak sehat, money politics, manipulasi data, percaloan jabatan, makelar proyek, mahar politik, amplop kunjungan, korupsi, perzinahan, mangkir dari tugas, obral statement miskin kerja, dan sebagainya. Sangat-sangat buruk perilaku mereka. Namun kemudian ada yang menyanggah, “Tetapi kan tidak semua politisi seperti itu.” Ya, memang tidak semua. Tetapi berapa banyak politisi yang terpuji? Mereka mayoritas atau minoritas? Mereka dominan atau tersisih? Semua orang tahu kenyataan ini, termasuk para politisi sendiri, bahwa sebagian besar para poltisi itu tidak menunaikan amanah dan janji-janjinya. Mereka gendut tubuhnya di atas ketidak-berdayaan rakyat.

Semua itu membuat masyarakat frustasi. Mereka berharap perubahan, tetapi kenyataan lebih buruk dari harapan. Saudara-saudara kita seperti Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, dan lain-lain, mereka juga menyadari kenyataan ini. Mereka hidup di tengah masyarakat dan sedih menyaksikan penderitaan kaum Muslimin. Sementara para “bangsawan” (politisi) tadi, mereka hanya membuat masyarakat semakin putus-asa. Akhirnya mereka menempuh jalan yang dipercayainya bisa menghasilkan perubahan. Jika kemudian banyak generasi muda yang lebih bersimpati kepadanya, ya tidak ada yang mampu mencegah. Meskipun Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi tidak pernah mendirikan “partai Nusakambangan”, tetapi mereka telah menyampaikan pesan-pesan politik yang sangat kuat.

Bagi sebagian orang Imam Samudra dan kawan-kawan tetap dianggap sebagai teroris. Tetapi di mata banyak generasi muda Islam, mereka adalah pahlawan, dan wafat sehari sebelum Hari Pahlawan 2008. Di mata saya pribadi, mereka adalah pemuda pejuang Islam yang berniat berjihad; hanya terlalu bersemangat, sehingga menjadikan sasaran obyek yang mestinya tidak menjadi sasaran. Solidaritas mereka kepada kaum Muslimin adalah sesuatu yang terpuji, hanya caranya tidak tepat.

Semoga perjalanan ketiga pemuda Islam ini, almarhum Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi menjadi pelajaran besar bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi kaum Muslimin. Kita jangan memahami sesuatu hanya berdasarkan kenyataan-kenyataan materiil saja, tetapi pahami juga mengapa semua itu terjadi? Banyak orang merasa dirinya suci dan selalu menyalahkan langkah para pemuda, sementara mereka sendiri tidak mengaca diri akan perbuatannya dari waktu ke waktu. Di dunia ini berlaku hukum aksi-reaksi, atau seperti ungkapan, “Ada asap karena ada api!”

Jangan pernah bermimpi dunia akan damai, selama masih ada yang menghalalkan kezhaliman terhadap sesama. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumaatun yaumal qiyamah” (Takutlah kalian akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu merupakan kegelapan di Hari Kiamat. HR. Muslim). Siapapun yang beranggapan bahwa kezhaliman adalah solusi terbaik, maka dia telah memusnahkan hidupnya sendiri dan kehidupan orang lain. Hidup mereka tak lebih dari arang yang hitam-kelam setelah dibakar api.

Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abu Muhammad Waskito).

10 Responses to Tiga Terpidana Mati dan Hari Pahlawan

  1. Ibn Abd Muis berkata:

    Kalaulah cacian itu diungkapkan oleh orang kafir atau munafik dan bodoh masih bisa saya maklumi. Tapi kalau keluar dari sekelompok orang yg mengaku paling nyunah smpai pula menerbitkan buku. Wallahi ! Ana bener2 nggak ngerti mengapa mereka bisa sampai seperti itu terhadap saudara muslimnya sendiri ! 👿

    Ustadz, ana ijin kutip sebagian article ini.

    Barakallahu fik.

  2. Ibn Abd Muis berkata:

    Afwan nambah lagi. Ana ijin copas sebagian untuk melengkapi article ana. 😳

  3. Ibn Abd Muis berkata:

    Eh… Udah ijin ya di atas. Jadi 2x. *MALU MODE ON 😳
    😳 *

  4. khalis berkata:

    Mas Ibnu tdk ngerti, silahkan baca bukunya bagian bab bantahan thd mas Imam Samudera atas peremehannya thd Ulama Sunnah, juga baca pelecehan Mas Joko Waskito thd Ulama Sunnah pada komentarnya di Melihat sisi Kebaikan HT. Maka ane katakan :
    “Kalaulah cacian itu diungkapkan oleh orang kafir atau munafik dan bodoh masih bisa saya maklumi. Tapi kalau keluar dari sekelompok orang yg mengaku paling ‘mujahid’ smpai pula menerbitkan buku. Wallahi ! Ana bener2 nggak ngerti mengapa mereka bisa sampai seperti itu terhadap saudara muslimnya sendiri ‘bahkan kpd Ulama’ !”
    Wallohul Musta’an.

  5. abisyakir berkata:

    @ Ibn Abd Muis.

    Silakan-silakan Akhi, Antum kutip atau apalah, selama bermanfaat, silakan. Antum ijin sampai dua kali. Mungkin karena ana kelamaan belum jawab, jadinya antum tak sabar. Jadi diulang, siapa tahu segera ada jawaban. Maafin…he he he.

    Akhi, blog Antum kelihatan rame sekali. Kalau icon “gundul2” itu bagaimana ya memuatnya. Apa harus ada support tersendiri? Jazakallah. (Maklum masih gaptek soal web design).

    [AMW].

  6. abisyakir berkata:

    @ Khalis: “Mas Ibnu tdk ngerti, silahkan baca bukunya bagian bab bantahan thd mas Imam Samudera atas peremehannya thd Ulama Sunnah, juga baca pelecehan Mas Joko Waskito thd Ulama Sunnah pada komentarnya di Melihat sisi Kebaikan HT. Maka ane katakan :
    “Kalaulah cacian itu diungkapkan oleh orang kafir atau munafik dan bodoh masih bisa saya maklumi. Tapi kalau keluar dari sekelompok orang yg mengaku paling ‘mujahid’ smpai pula menerbitkan buku. Wallahi ! Ana bener2 nggak ngerti mengapa mereka bisa sampai seperti itu terhadap saudara muslimnya sendiri ‘bahkan kpd Ulama’ !”
    Wallohul Musta’an.

    Jawab:

    – Iya, seolah hanya Anda yang mengerti tentang kebenaran. Semua kagak ngerti, selama belum ikut barisan Syaikh Rabi’. Wallahul Musta’an.

    – Saya sudah baca tulisan Luqman Baabduh, dari halaman depan sampai daftar pustaka. Sudah, sudah, sudah, bahkan saya menulis kritik tajam terhadap pemikiran-pemikiran Ba’abduh itu. Hanya hal ini belum saya publikasikan. Anda mau dipublikasikan disini? (Hai khalis, mau dipublikasikan disini gak? Tolong jangan ganti-ganti nama ya).

    – Lho, apa yang disebut Ulama Sunnah di dunia ini sejak jaman Imam Bukhari sampai hari ini hanya Syaikh Rabi’? Lalu apa berdosa kalau kita tidak setuju atau benci dengan pemikiran-pemikirannya yang kasar kepada harakah Islam dan tokoh-tokohnya itu? Ulama lain saja bisa lembut dan hikmah, tetapi beliau kasar sekali.

    Buktinya apa? Ya, itu buku-bukunya yang menyerang Sayyid Quthb, Abdurrahman Abdul Khaliq, Salman Al Audah, Safar Al Hawali, dan semisalnya.

    Saya merasa heran, mengapa Syaikh Rabi’ boleh mengecam orang sedemikian banyak. Sampai Ustadz Zaitun di Makassar itu pernah ditahdzir oleh dia. Sementara orang tidak boleh berbeda pandangan dengan dia. Hakikat apakah ini? Ya ini, menempatkan manusia di maqam Nubuwwah, seperti Nabi. Na’udzubillah min dzalik.

    – Saya tidak merasa lebih mujahid lho. Tidak ada bukti ke arah klaim semacam itu.

    – Iya iya saya ngerti. Memang Anda dkk itu orang aneh. Kalau dirinya merasa bebas menulis buku, membuat majalah, bikin website, bikin blog untuk menyerangi Ummat Islam. Tetapi giliran ada counter balik, yang meng-counter tidak boleh melawan. Sampai ada kata “Wallahi” (demi Allah) segala. Memang ini orang-orang sesat yang aneh.

    Wallahu a’lam.

    [AMW].

  7. Ibn Abd Muis berkata:

    @ ustadz abi syakir.

    Itu menggunakan kode smile. Misal yg gundul dgn pipi semu mera ditulis : o o p s : tanpa spasi.

    Nah kalo yg ijo dgn gigi boneng ditulis : m r g r e e n : tanpa spasi.

    Kalo orang nyengir : l o l : tanpa spasi

    Kalo orang yg matanya gerak2 : r o l l : tanpa spasi

    Kalo….

    Ana cape stadz 😆 coz lagi jwb lwt hp nie 🙄 ntar ana lanjut lewat email ya 😳

    Tangan ana jadi keriting ni… :mrgreen:

  8. Ibn Abd Muis berkata:

    @ khalis

    Apakah jreng combro tidak sadar kalau itu pertanyaan sindiran?

    HarE ghEnE ghEtu loch… :mrgreen:

    Kalian tersinggung kan ketika Imam Samudra rahimahullah di dalam bukunya Mereka Adalah Teroris menulis :

    Hal. 92 ‘mereka (ulama salafi irja) tidak ngerti trik2 politik’

    Hal. 184 ‘fatwa yg keluar dari mereka akibat tekanan Amerika

    Hal. 186 ‘mereka ulama munafiq’

    Itukan alasannya? 🙄

    Makanya jgn suka menghujat ulama kalau ulamanya nggak ingin dihujat. :mrgreen: *nyengir kuda mode ON*

  9. Ibn Abd Muis berkata:

    Sorry jreng! Maksudnya Aku Melawan Teroris!

    Lagi sich bikin judul buku bantahan nggak kreatif, malah mirip2 dgn judul yg akan dibantah.

    Jadi keserimpet ghEtu… :mrgreen:

  10. khalis berkata:

    Klu memang tidak benar apa yang dikatakan Syaikh Rabi’ tentang Sayyid Quthub atau sikap kasar kepadanya coba Antum berikan argumen2 bantahan yang jelas terhadap kitab2 Syaikh Rabi’ yang menjarah Sayyid Quthub.
    Apakah Anda tidak tahu atau pura2 tdk tahu bahwa dibalik kelemahlembutan generasi Salaf juga ada sikap keras dan kasar kepada kelompok dan tokoh menyimpang?!
    Bagaimana klu saya tunjukkan bukti-bukti sikap keras banyak sekali Ulama yang lainnya kepada harakah-harakah Islam kontemporer maupun ahli bid’ah jaman dulu, selain Syaikh Rabi’?
    Paling Anda mengatakan Islam itu bukan hanya sikap keras, maka saya katakan juga, Islam itu bukan hanya lemah lembut Mas. Begitupula dengan hikmah, tidak selamanya diartikan lemah lembut. Makanya belajar yang tuntas Mas.
    Ulama Sunnah semuanya harus dihormati termasuk Syaikh Rabi’ (taruhlah Beliau bersalah menurut Antum, tetep wajib dihormati Mas,begitu sikap yang benar), bahkan semenjak zaman Sahabat, siapa pula yang bilang Ulama Sunnah hanya Syaikh Rabi’.
    Alhamdulillah sudah muncul bantahan orang awam di Melihat Sisi keburukan Hizbut Tahrir yang dikira kebaikan” yang tadinya disingkirkan Mas Joko.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: