Ketika Trio ISMA Menjadi “Pahlawan”

Setelah eksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali pada 9 November 2008 lalu, di atas kertas masalah ini telah selesai, tuntas. Ketika pelaku utamanya telah meninggal, otomatis kasus besarnya terkunci. Begitu logikanya. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bahwa rentetan persoalan ini akan masih panjang? [Lho, kok begitu?]. Iya, sebab pemberitaan intensif tentang sosok Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi (disingkat Trio ISMA) selama ini, justru telah menempatkan mereka ke level pahlawan sosial yang dikagumi oleh banyak orang.

Secara yurudis, Trio ISMA divonis sebagai teroris, pelaku peledakan bom, pelaku tindak kriminal. Menurut logika hukum seperti itu, tetapi di mata publik persoalannya tidak sesederhana itu. Publik memiliki logikanya sendiri. Di mata masyarakat Trio ISMA tidak tampak seperti penjahat dengan muka sangar, bertato, hidup bergelimang dosa; mereka terlihat shaleh, berwajah bersih, berwibawa dengan penampilan dan sikap khasnya. Mereka berani berkata tegas tentang perjuangan, ketika banyak orang hidup berselimutkan kebohongan dan sikap munafik. Hal itu menurut masyarakat sebagai bahasa kejujuran yang lebih membekaskan pengaruh.

Kemudian, sikap antipati secara berlebihan kepada Trio ISMA justru berbalik menjadi lautan simpati bagi mereka. [Ingat kasus 27 Juli 1996 di Jakarta yang mendorong lahirnya PDI Perjuangan]. Selama ini pemerintah, aparat hukum, para pakar, dan media massa secara intensif, massif, dan terus-menerus menempatkan ketiga tokoh tersebut sebagai sosok paling berbahaya bagi negara. “It’s the most dangerous enemies!” begitulah labelisasinya. Kemudian diberikan porsi liputan luar biasa terhadap ketiganya, sejak tertangkap, selama proses pengadilan, sampai saat eksekusi mati di Nirbaya Nusakambangan. Dalam pemberitaan, publikasi, penerbitan buku, diskusi, dll. Trio ISMA diposisikan sebagai teroris yang sangat jahat dan kejam. Sementara masyarakat tidak melihat bahwa pemuda-pemuda itu memiliki karakter seperti yang digambarkan.

Hampir semua TV swasta memberikan porsi perhatian luar biasa kepada Trio ISMA. Sebagai contoh, MetroTV. TV milik Surya Paloh ini jelas secara ideologis berlawanan 180° dengan keyakinan Trio ISMA. Tetapi berkali-kali MetroTV mengangkat topik Bom Bali dalam berbagai liputan khusus. Apapun nama program, durasi, dan waktunya; MetroTV sering mengangkat isu Bom Bali. Dalam salah satu episode Metro Realitas, redaksi MetroTV pernah membeberkan fakta-fakta kejanggalan di balik tuduhan teroris kepada Trio ISMA itu. Saya sendiri merasa aneh dengan kasus Bom Bali salah satunya karena acara Metro Realitas itu. Jika ada stasiun TV yang dianggap “suci” dari pemberitaan ini, mungkin SCTV. Sejak dulu, SCTV konsisten bersikap sentimen kepada ketiga tokoh tersebut. Meskipun, bisa jadi wartawan SCTV secara pribadi ada yang bersimpati ke mereka.

Jika pemberitaan seputar Bom Bali dianggap sebagai medan perang opini, maka sejak awal pemberitaan kasus ini sampai saat pelakunya dieksekusi, maka pemenang sejati dari perang opini ini adalah Trio ISMA sendiri. Segala bentuk pencitraan negatif atas diri mereka berbalik menjadi simpati, kekaguman, bahkan memunculkan citra kepahlawanan. Kharisma Trio ISMA sangat kuat, sehingga publik nasional dan internasional tidak bosan-bosan membicarakan mereka. Mungkin saja nada pembicaraan itu tetap menganggap mereka sebagai teroris, tetapi siapapun tidak bisa menampik, bahwa Trio ISMA melakukan aksi peledakan di Paddy’s Club itu karena misi perjuangan yang diyakininya. Motiv mereka bukan kriminalitas (materi), bukan kekuasaan, bukan dendam pribadi, atau alasan-alasan duniawi. Bahkan di antara korban Bom Bali sendiri, ada yang telah memaafkan mereka, tidak mendendam, bahkan mendoakan ketiganya. Arus seakan berbalik tajam.

Ada jihad lain di luar makna jihad yang diyakini oleh Trio ISMA. Ia adalah jihad menaklukkan hati masyarakat. Publik yang semula antipati, perlahan-lahan mulai bersikap netral, kemudian mulai memahami, hingga mengagumi. Bahkan menjelang eksekusi mati Imam Samudra, rombongan anak-anak TK datang ke rumah ibunya, untuk memberi dukungan. Begitu pula, setelah jenazah Imam dikuburkan, anak-anak SD dan masyarakat sekitar datang berkunjung untuk berziarah. Ribuan orang di Serang datang mengantarkan Imam Samudra ke pemakaman. Andai, tidak ada satu pun TV yang memberitakan acara pemakaman itu, ribuan orang tersebut telah menjadi bukti, bahwa Imam Samudra dan kawan-kawan, telah memenangkan jihad ini, yaitu jihad menaklukkan hati masyarakat. Hanya pertolongan Allah saja yang bisa membuat segala sesuatu berbalik arah.

Sungguh, stigmatisasi terhadap ketiga sosok tersebut, sangat luar biasa. Hingga ada orang tertentu yang menunjukkan sikap kebencian luar biasa lewat penulisan buku yang bernada melecehkan. Namun kemudian arus berbalik, sehingga penulisan buku itu mengundang kecaman dari sana-sini.

Acara Barometer SCTV

12 November 2008 malam, acara Barometer di SCTV menayangkan dialog penting tokoh-tokoh media massa di Indonesia. Dialog yang jam tayangnya sama seperti waktu eksekusi Trio ISMA itu menghadirkan elit-elit media, pengamat, pakar, anggota Dewan Pers, pejabat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Temanya sangat menarik, sputar tuduhan bahwa media massa telah memposisikan Trio ISMA sebagai pahlawan. Sebenarnya, setting masalahnya juga dikaitkan dengan mutilasi Ryan “Jagal Jombang”. Tetapi saya yakin, soal Ryan itu hanyalah kembangan saja, sekedar “syarat wajib” agar SCTV tidak terlalu kelihatan sangat sentimen.

Dialog ini sangat penting, sebab dihadiri orang-orang penting media, seperti Karni Ilyas (TVOne), Retno Shanti (MetroTV), Uni Lubis (ATVSI), Iskandar Siahaan (Liputan 6 SCTV), Ikhwanul Kiram (Republika), Budiman Tanuredja (Kompas), Bambang Harimurti (Dewan Pers), Don Bosco Salaman (KPI), Imam B. Prasodjo (Sosiolog UI), Venven Wardhana (Pengamat Budaya Massa), dan Agus Sudibyo (Pengamat Media). Tema yang diangkat bertajuk, “Menggugat Peran Media?”

Dalam dialog itu ada dua pandangan besar yang mengemuka: Pertama, yaitu kritik para pemerhati terhadap porsi pemberitaan kasus Trio ISMA yang sangat berlebihan, sehingga opini yang dihasilkan justru mendukung posisi ketiga almarhum itu. Pandangan ini terutama sangat didukung oleh Imam B. Prasodjo, Don Bosco Salamun, dan presenter SCTV.

Kedua, pandangan para praktisi media yang beranggapan bahwa tayangan mereka adalah konsekuensi profesi jurnalistik. Mereka merasa tidak mungkin mengabaikan kasus pemberitaan sangat eksklusif seputar eksekusi mati Trio ISMA. Mereka menolak jika disebut mendukung terorisme, sebab tayangannya sudah sesuai dengan patron profesionalisme jurnalistik TV. Pandangan ini terutama didukung oleh Karni Ilyas, Uni Lubis, Retno Shanti, dan Ikhwanul Kiram. Iskandar Siahaan dari Liputan 6 SCTV juga tidak menampik tentang posisi jurnalisme TV itu.

Sangat disayangkan, dalam diskusi di atas sejak awal presenter SCTV sudah mengarahkan TVOne sebagai tertuduh. Hal itu juga diikuti Imam Prasodjo dan Don Bosco. Dalam situasi seperti itu bukan diskusi yang berkembang, justru seperti forum pengadilan. Herannya Don Bosco dari KPI cenderung tidak bisa menahan diri. Seharusnya dia memahami, bahwa dialog itu bukan forum “persidangan KPI” sehingga diusahakan situasinya tetap bersifat general view, bukan specific judgment. Dalam situasi demikian, terlihat Karni Ilyas bersitegang dengan Imam B. Prasodjo. Untuk wartawan sesenior Karni Ilyas pasti merasa tidak nyaman diperlakukan seperti “disidang”, padahal yang meliput berita seputar Trio ISMA adalah semua media TV nasional, tanpa terkecuali.

Sejak munculnya, TVOne tampak sangat berambisi ingin menjadi “the number one” dalam bidang TV informasi, liputan, dialog, dsb. Mereka sesumbar bisa menembus ke akses-akses informasi paling esklusif dalam liputan-liputannya. Hal itu benar-benar mereka buktikan dalam pemberitaan eksekusi mati Trio ISMA. Beberapa saat sebelum eksekusi mati, mereka mendapat akses eksklusif tentang situasi di ruangan terpidana mati. Hal ini pula yang membuat Ketua BIN Samsir Siregar merasa kecolongan. Secara umum, posisi TVOne saat ini mulai diperhitungkan, mengancam esksistensi MetroTV yang sudah lama spesialisasi di bidang berita.

Kita bisa membayangkan betapa besar posisi Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi (ISMA), sehingga mereka bisa membuat perselisihan serius di tubuh elit-elit media. Sebenarnya, sejak tahun 1999 media-media TV sudah bersikap liberal. Seharusnya, kalau konsisten dengan prinsip itu, mereka tidak boleh marah-marah dengan pemberitaan seperti apapun, selama tetap sesuai aturan dan kode etik jurnalistik. Tentu aneh sekali, mereka sudah bertahun-tahun meliberalkan pikiran masyarakat, tetapi baru kali ini bicara soal, “Menggugat peranan media?” Telat sekali, Mas. Baru kali ini Anda merasa perlu bicara soal etika media? Waduh, bener-bener sangat oportunistik!

Berulang kali pemberitaan media menyebabkan gejolak hebat dalam konstruksi politik nasional. Di tahun 1998 media memprovokasi mahasiswa agar memberontak kepada Soeharto; tahun 1999 media memprovokasi mahasiswa anti Habibie agar menjatuhkan dia; tahun 1999-2001 media menguliti kepemimpinan Mbah Dur; tahun 2001-2004 media mendelegitimasi kepemimpinan Megawati; tahun 2004 sampai saat ini media melancarkan kritik kepada SBY-JK. Nah, mengapa baru dalam kasus Trio ISMA ini media merasa dirinya masih beretika?

Dialog seperti di atas semakin menampakkan sikap antipati media massa kepada gerakan dakwah Islam. Ketika bertahun-tahun mereka meliberalkan pikiran masyarakat, sehingga kehidupan sosial menjadi centang-perenang akibat ulah mereka, tidak ada kepedulian mereka untuk mengerem pola jurnalisme liberal itu. Namun ketika jurnalisme liberal ternyata kemudian menguntungkan para “pelaku terorisme”, mendadak mereka marah-marah. Bayangkan saja, sampai Bambang Harimurti “turun gunung” melakukan peninjauan. [Seharusnya media memberikan porsi besar untuk liputan khusus tentang tokoh-tokoh seperti Bambang Harimurti, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung, dll.].

Media Islam Phobia

Suatu hal aneh ketika media sampai melakukan otokritik terhadap dirinya sendiri. “Benarkah kita selama ini telah bersikap adil? Jangan-jangan ada yang salah dengan pola pemberitaan kita? Bisa jadi kita cenderung berpihak kepada obyek berita? Jangan-jangan kita ikut larut dalam konflik? Atau bisa jadi kita telah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar?” Pertanyaan-pertanyaan ini muncul ketika opini yang berkembang di masyarakat menguntungkan dakwah Islam. Tetapi andai opini menginjak-injak kepentingan Ummat Islam, mereka tidak pernah sedikit pun mau menyentuh pertanyaan-pertanyaan itu.

Kalau kita mundur ke belakang, akan trerlihat disana begitu banyak pemberitaan media yang merugikan Ummat Islam. Tetapi semua itu dibiarkan, tidak ada otokritik, bahkan media-media itu lebih banyak melakukan pembelaan diri. Disini ada beberapa contoh kasus yang bisa disebutkan:

[o] Lihatlah bagaimana cara media mengangkat sosok Barack Obama, yang beberapa waktu lalu terpilih sebagai presiden Amerika. Jauh-jauh hari sebelum Obama terpilih, media-media massa sengaja membuat “demam Obama”, agar masyarakat berduyun-duyun mengagungkan Obama. Apa tujuan semua itu? Apa pentingnya Obama bagi kehidupan kita?

[o] Kemudian lihatlah pemberitaan media tentang sosok kontroversial dari Semarang, Syekh Puji. Karena dia pemimpin pesantren dan kebetulan memiliki tingkah aneh, media intensif memberitakannya. Komnas Perlindungan Anak, aktivis perempuan, ibu rumah-tangga, para pendidik, sampai seksolog ditanya tentang pernikahan Syekh Puji. Meskipun Syekh Puji tidak mewakili sikap Islami, tetapi posisi dia sebagai pemimpin pesantren sudah cukup menjadi alasan untuk mencemari kehormatan Ummat Islam. Sebaliknya, lihatlah pemberitaan kasus poligami Aa Gym. Meskipun poligami itu wajar-wajar saja, tetapi media massa mengadili pernikahan Aa Gym sehebat-hebatnya. Bisa dimaklumi saat pernikahaan Syekh Puji dicecar oleh media, tetapi ketika media juga mencecar poligami yang halal, itu lain masalahnya.

[o] Kemudian bagaimana sikap media-media massa dalam proses legislasi RUU Pornografi? Alih-alih mendukung gerakan anti pornografi, sebagian besar media justru menjadi corong bagi para penentang RUU Pornografi. Para penentang RUU mendapat tempat leluasa untuk berkomentar sesuka hatinya.

[o] Lihat pula bagaimana pemberitaan media seputar kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008 yang melibatkan aktivis FPI dan Komando Laskar Islam (KLI). Sebagian besar media secara sistematik menyerang FPI, bahkan mereka mengusulkan agar FPI dibubarkan saja.

[o] Kemudian dalam pemberitaan soal Ahmadiyyah. Betapa banyak media-media massa TV yang sengaja menampilkan sisi-sisi humanis kaum Ahmadiy, agar masyarakat bersimpati kepada mereka. Korban kekerasan, rumah hancur, isolasi, dan sebagainya mereka perlihatkan untuk membangun simpati publik.

[o] Kemudian lihat juga pemberitaan media seputar acara Pilkada di seluruh Indonesia. Pilkada itu sangat memiskinkan masyarakat, membuat mereka selalu konflik, menyita waktu produktif, dan pekat diwarnai berbagai macam cara-cara korupsi (money politics). Tetapi media massa terus memberitakan Pilkada-Pilkada itu, seolah ia telah menjadi gaya hidup kita. “Tiada hari tanpa politik,” begitulah slogannya. Padahal banyak orang tahu, masyarakat sudah amat sangat jenuh dengan politik gak genah ini. Setiap Pilkada betapa banyak yang dimenangkan oleh suara golput.

[o] Kemudian lihatlah cara media dalam pemberitaan seputar Irak dan Afghanistan. Sebagian besar pemberitaan hanyalah tentang peledakan bom bunuh diri, peledakan bom mobil, ranjau di jalan, dll. Semuanya seputar “kekejaman” para gerilyawan Irak dan Afghanistan. Jarang sekali media secara berani menyerang Amerika yang benar-benar menjajah kedua negara itu. Bahkan tidak jarang, para gerilyawan tersebut oleh media disebut sebagai pemberontak atau teroris.

[o] Kemudian lihat lagi, bagaimana pemberitaan media seputar kasus WTC 11 September 2001. MetroTV sebagai contoh benar-benar menjadi corong bagi CNN. Tulisan “America Under Attack” di MetroTV persis seperti judul liputan yang diangkat oleh CNN. Waktu itu, media-media massa seperti sedang merayakan hari raya kehancuran kehormatan dan nama baik Ummat Islam. Mereka seperti berlomba-lomba mencari keridhaan George Bush, agar segera dilempari “carrots” oleh Gedung Putih.

[o] Belum lagi acara seputar kriminalitas, kekerasan, klenik, dunia selebritis, musik, seks, dan romantisme yang sangat massif, sejak pagi sampai malam, selama puluhan tahun. Mereka tidak merasa bersalah ketika menyajikan semua itu, dan baru kali ini merasa perlu untuk menggugat dirinya.

Dalam pemberitaan kasus-kasus di atas, media-media tidak merasa perlu ada sopan-santun lagi, tidak perlu merasa sensitif dengan kepentingan Ummat Islam, tidak perlu merasa bersalah dengan mencelakai Ummat. Namun saat mereka melakukan kesalahan dengan tanpa sengaja memposisikan Trio ISMA sebagai pahlawan, seketika itu mereka melakukan “taubat nasuha”. Padahal arah pemberitaan Trio ISMA itu semula untuk menghancurkan citra ketiganya, citra para pendukung “terorisme”, dan tentu saja untuk menghakimi gerakan Islam. Sebagai media-media yang melayani misi New World Order, mereka merasa telah melakukan dosa besar. “Oh Tuhan, ampuni kami, ampuni kami! Kami sudah melakukan dosa besar dengan mendukung para teroris itu. Ampuni kami Tuhan, kami butuh pertobatan total. Kami telah lancang mendukung misi Islam, padahal takdir kami adalah untuk menghancurkan mereka,” begitu doa media dengan sangat khusyuk. [Hiihh, mengerikan!!!]. Upaya memerangi kaum Muslimin menjadi profesi, memusuhi Allah dan Rasul-nya sebagai sumber nafkah, melayani misi syaitan sebagai jalan hidup. Na’udzubillah min dzalik. [Ya Allah ya Rabbi, jauhkan kami dari fitnah dan kebinasaan itu. Amin].

Mayoritas media-media massa selama ini dikendalikan kaum Islam phobia. Media-media itu dibangun, dikembangkan, dan dipelihara untuk melayani misi destruktif anti Islam. Setiap ada yang merugikan Islam segera dikeruk sedalam-dalamnya; adapun kalau menguntungkan Islam, disikat sehabis-habisnya. Hanya saja, dalam kasus Trio ISMA media-media itu telah membuat kesalahan sangat besar. Mereka telah membangun sesuatu yang semula hendak dihancurkannya. Sungguh, kekeliruan media-media massa dalam pemberitaan Trio ISMA tidak akan bisa dihapus, sebab skalanya sangat luas, selama bertahun-tahun. Hingga ada seorang pelajar SMA di Jakarta, dia berani mengirimkan SMS ancaman bom, sekedar menunjukkan bahwa dirinya menolak eksekusi mati Trio ISMA.

Nasehat Bagi Ummat

Ada pelajaran penting dari kisah panjang Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi –semoga Allah merahmati dan memaafkan mereka-. Tanpa disadari mereka telah menasehati banyak pihak; menasehati saya, Anda, keluarga kita, elit-elit politik, organisasi Islam, Pemerintah, dan kaum Muslimin secara umum.

Kalau kita melihat secara kritis kehidupan kaum Muslimin di Indonesia, menelisik ke fakta-fakta paling dalam, mendengar suara hati masyarakat, melakukan perbandingan sejarah, serta membaca tanda-tanda kerusakan di alam sekitar, maka kita akan mendapati suatu kenyataan: Bahwa bangsa ini seperti kembali kepada penderitaan kolonialisme di masa lalu. Kita seperti kembali ke masa lalu, ketika bangsa ini selama ratusan tahun terjerumus penjajahan, lalu tidak mampu bangkit akibat jiwanya telah dirusak oleh kolonialisme selama ratusan tahun. Hanya dengan kehadiran Jepang secara sangat tidak terduga, akhirnya bangsa ini menemukan jalannya untuk mencapai kemerdekaan. Penjajahan ratusan tahun itu telah amat sangat memayahkan bangsa ini, sehingga sekedar berdiri saja tak mampu.

Secara formal, tanggal 17 Agustus 1945 adalah proklamasi kemerdekaan RI. Tetapi kenyataannya, kita hanya berganti operator kolonialisme saja. Kalau semula operatornya Belanda, maka setelah proklamasi operatornya anak negeri sendiri. Buktinya apa? Sejak merdeka bangsa ini nyaris lupa dengan tujuan awalnya, yaitu: Membangun masyarakat yang adil dan makmur! Lihatlah, keadilan tidak ditegakkan, kemakmuran juga jauh dari harapan [padahal negeri ini sangat kaya raya]. Masyarakat yang semula hidup nestapa dalam penjajahan, akhirnya harus nestapa lagi setelah kemerdekaan. Jadi kita bertanya-tanya, apa manfaat kemerdekaan bagi bangsa ini? Ternyata, kemerdekaan itu hanya dinikmati oleh segelintir kaum “bangsawan jadi-jadian”. Mereka adalah kaum elit yang mendapat kehidupan luar biasa mewah di atas penderitaan mayoritas rakyat.

Kenyataan yang lebih menyedihkan, yaitu realitas kelumpuhan hidup masyarakat. Seperti dulu bangsa Indonesia tidak berdaya akibat penjajahan Belanda ratusan tahun, kini kita kembali tidak berdaya setelah berlaku sistem “kolonialisme lokal”. Rumus yang digunakan untuk mengelola negara, di jaman Belanda dengan jaman merdeka nyaris sama. Bahkan KUHP kita berasal dari UU pidana Belanda. Pendekatan yang dipakai untuk menyikapi kekuatan Islam pun juga sama, yaitu menggunakan teori-teori Snouck Hurgronje. [Di IAIN atau UIN pikiran-pikiran orientalis Belanda diposisikan seperti wahyu. Na’udzubillah]. Nyaris tidak ada yang berbeda, selain operatornya saja. Bahkan kolonialis lokal itu kemudian menjalin kerjasama harmonis dengan induk semang-nya, di Barat sana.

Bangsa ini arahnya tidak jelas. Mau kemana bangsa ini berjalan? Tidak ada yang sanggup menjawab. Segalanya serba membingungkan dan sesat. Tujuan-tujuan pembangunan hanya pepesan kosong, tanpa makna. Ia begitu indah terdengar, tetapi realitasnya nol besar. Kemunafikan telah menjadi UUD yang paling banyak berlaku, ketimbang UUD itu sendiri. Berbagai rumusan solusi sudah dilontarkan, dan tidak ada yang berdaya. Alasannya, negara ini telah terjerumus ke sistem kolonialisme lagi, meskipun secara de jure kita merdeka.

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam dialog di MteroTV bersama Desi Anwar, menjelang kenaikan harga BBM Mei 2008 lalu, dia tegas menolak istilah penjajahan. Dia merasa bisa tegak berdiri, diakui bangsa-bangsa lain. Ya, bagaimana dia tidak akan menolak, wong dia bagian dari kolonialisme itu sendiri? Bukankah Sri Mulyani adalah generasi titisan Mafia Berkeley (para ekonom kapitalis UI) dan pernah menjadi supervisor IMF di Asia Pasifik?

Ibarat tempe yang digoreng di atas wajan. Mau dibolak-balik, digeser ke kanan-kiri, diangkat atau ditekan, dipotong atau ditumpuk, hasilnya sama saja. Sistemnya sudah rusak sejak awal; kita bermaksud mencela penjajahan di muka bumi, tetapi akhirnya malah mengagumi dan mewarisi prinsip-prinsipnya. Dasar pemikirannya sederhana sekali, “Ya, rakyat kita kan bodoh-bodoh, pada bego, ndeso. Laissez faire, laissez faire. Biarin aja mereka, biarin! Pembangunan dimanapun selalu butuh korban! Mereka bisa dikorbankan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.” [Indeks pertumbuhan ekonomi hanyalah kemajuan di atas kertas dan tidak selalu berkaitan dengan kesejahteraan hidup masyarakat].

Bukan sekali dua kali saya mendengar ucapan masyarakat. Mereka berkata polos mengungkapkan kata hatinya. Di antara perkataan itu, “Kalau dipikir-pikir, kita seperti kembali ke jaman penjajahan lagi.” Atau perkataan lain, “Hidup kita memang sedang dijajah!” Atau perkataan, “Apa bedanya jaman sekarang dengan jaman penjajahan?” Itu perkataan orang kecil yang jauh dari akses politik, ekonomi, birokrasi, dan media. Di kalangan terpelajar, profesional, dan intelektual, yang masih memiliki idealisme, perkataan mereka tentu lebih tajam lagi.

Dalam situasi demikian, yang dibutuhkan masyarakat adalah keberanian, ketulusan, dan pengorbanan. Kita tidak membutuhkan teori muluk-muluk, atau konsep canggih yang hanya menghabiskan kertas. Di titik ini, kehadiran Trio ISMA dengan pendirian, penampilan, dan ketegasannya menjadi inspirasi publik. Mungkin saja, langkah yang mereka tempuh tidak tepat, tetapi keberanian dan pengorbanan mereka seperti mengingatkan bangsa ini tentang masa depannya. Mungkinkah kehidupan kita nanti akan menjadi lebih baik, tanpa keberanian, pengorbanan, dan ketegasan? Rasanya sangat mustahil perbaikan itu akan tercapai.

Ada jihad lain yang dilakukan Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi. Jihad itu lebih tinggi dan bernilai ketimbang rusaknya fasilitas-fasilitas fisik Amerika. Ia adalah nasehat besar kepada kaum Muslimin tentang nasib hidupnya. Seolah Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi –semoga Allah merahmati mereka- ingin mengingatkan Ummat Islam, “Kalau Anda ingin kehidupan berubah, berjuanglah, berkorbanlah. Perbaikan tidak akan muncul hanya dengan berpangku tangan, atau menanti pertolongan jatuh dari langit. Pengorbanan kita tidak sia-sia, setiap pengorbanan memiliki arti, sekecil apapun itu. Janganlah takut untuk melakukan perbaikan, sebab ketakutan itu yang akhirnya membunuh kesempatan.”

Trio ISMA telah memberi contoh baik tentang sikap berani, berkorban, dan tegas dalam memperjuangkan sesuatu. Nah, kini mari kita bawa spirit itu untuk memperbaiki bangsa ini. Tentu bukan untuk mengulang kasus yang sama, tetapi untuk memperbaiki berbagai kerusakan akibat praktik “kolonialisme” baru.

Wahai orang-orang beriman, takutlah kalian kepada Allah, dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, kemudian berjihadlah di jalan-Nya agar kalian mendapat kemenangan.” (Al Maa’idah: 35).

Wallahu a’lam bisshawaab. [AMW].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: