Di Balik Operasi KB

Ada sebuah pelajaran menarik dari praktik KB, tubektomi. Ini adalah pelajaran kehidupan yang pernah dialami oleh sebuah pasangan suami-isteri. Di balik keputusan melakukan tubektomi ternyata meninggalkan prahara berkepanjangan. Semoga kita cukup bijaksana untuk mengambil hikmah. Amin.

Di antara cara-cara KB, metode tubektomi termasuk yang paling ekstrem. Biasanya, alat kontrasepsi fisik dipakai untuk mencegah pertemuan antara sel telur dengan sperma, ketika hubungan seks dilakukan. Sedangkan kontrasepsi kimiawi bekerja melemahkan kesuburan seorang wanita, sehingga sel telur yang dihasilkan tidak bisa menghasilkan pembuahan (fertilisasi). Cara kimiawi dilakukan dengan meminum pil sesuai jadwal harian, suntik, atau menanam implant (susuk) di tubuh seorang ibu. Kalau IUD (spiral), sifatnya mencegah pertemuan sel telur dan sperma dengan meletakkan alat tertentu dalam saluran rahim wanita. Adapun tubektomi sifatnya mematikan saluran penghasil sel telur itu sendiri. Caranya bisa memutus saluran sel telur, atau mengikat saluran tersebut agar tersumbat. Tentu saja tubektomi hanya bisa dilakukan dengan cara operasi terlebih dahulu.

Dalam kamus Oxford dijelaskan, metode vasektomi kebalikan dari cara di atas. Vasektomi dikenakan kepada kaum pria, untuk memutus saluran spermanya, sehingga dia tidak pernah lagi menghasilkan sperma. Vasektomi untuk kaum laki-laki, sedangkan tubektomi untuk kaum wanita.

Pernah ada seorang ibu yang memiliki tingkat kesuburan tinggi. Setelah bertahun-tahun menikah, dia dikaruniai 7 orang anak laki-laki dan wanita. Belum termasuk anak yang meninggal akibat keguguran atau meninggal di usia kecil. Karena suaminya seorang PNS, sepertinya ada rasa malu dengan memiliki anak banyak. Apalagi ketika lahir anak ke-7 di saat usia mereka sudah tua. Ia terjadi sekitar 18 tahun lalu. Sang suami waktu itu sudah berusia 60 tahunan.

Mungkin karena saran dokter, tekanan atasan, atau karena rasa malu kepada lingkungan sekitar, sang suami tanpa seijin isterinya langsung memutuskan operasi tubektomi bagi isterinya. Tentu saja pihak dokter mau saja, sebab semakin banyak operasi semakin besar uang mengalir. Operasi tubektomi pun dilakukan tidak lama setelah kelahiran bayi. Dalam operasi itu sang isteri masih belum mengetahui apa yang terjadi. Dan lebih penting lagi, dia belum memahami konsekuensi dari operasi KB yang sangat serius itu.

Saudaraku, di saat-saat selanjutnya kita seperti lagi membaca sebuah cerita horor yang menakutkan. Segalanya serba dramatis, keras, penuh gejolak. Sebelum saya teruskan, cobalah Anda mengambil nafas dalam-dalam, khawatir Anda terlalu berat mendengar cerita ini. Sebenarnya, semua ini aib yang tidak perlu diungkap; tetapi demi memberi nasehat dan peringatan, ia tetap perlu diungkapkan. Tujuannya agar kejadian dramatis itu tidak menimpa rumah-tangga kita. Amin.

Prahara Rumah Tangga

Adalah suatu kesalahan besar ketika suami di atas memutuskan menerima operasi tubektomi bagi isterinya, tanpa ijin isterinya sama sekali. Bukan hanya karena suatu kemakrufan seorang suami menghargai kedudukan isterinya, apalagi menyangkut hal-hal yang sangat sensitif dalam tubuhnya. Lebih dari itu, betapa amat sangat besar pengaruh KB tubektomi maupun vasektomi itu bagi pelakunya. Saya mengira, hanya orang tidak berakal saja yang akan menempuhnya.

Setelah melakukan operasi, isteri di atas tentu merasakan sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya. Ada sesuatu yang tidak nyaman dia rasakan. Namun karena habis bersalin, dia berprasangka baik. Mungkin ketidaknyamanan itu muncul sebagai konsekuensi persalinan. Barulah dia merasa sangat gelisah ketika suasana hubungan seksual yang dia rasakan mengalami perbuahan secara radikal. Dulu waktu berhubungan seksual dengan suami, segalanya baik-baik saja. Tetapi kemudian terasa sangat berbeda, begitu banyak kenikmatan-kenikmatan yang hilang.

Ketika satu dua kali merasa kehilangan kenikmatan adalah sesuatu yang wajar, sebab hubungan seksual tidak selalu berhasil. Namun ketika setiap melakukan hubungan seksual, sang isteri selalu kehilangan sebagian besar kenikmatannya, dia mulai menggugat. Dia bertanya ke suaminya, apa yang terjadi? Maka dijawablah, bahwa telah dilakukan operasi terhadap saluran telurnya. Seperti gunung berapi tiba-tiba meledak dahsyat di depan mata, sang isteri sama sekali tidak menyangka dia akan mengalami operasi itu. Bahkan dia memandang jauh ke depan, bahwa hari-harinya akan dilalui dengan kehilangan kenikmatan seksual yang banyak. Oh, siapa yang sanggup menjalani? Wanita itu sangat-sangat marah, dia merasa dilecehkan, bahkan dirampas hak-haknya untuk mendapat kenikmatan seksual yang wajar. Betapa amat sangat dia membenci suaminya setelah itu.

Butuh waktu dua tahun bagi sang isteri menjalani hari-hari dalam stress berat. Pertengkaran, cek cok, konflik rumah-tangga serasa menjadi menu sehari-hari. Bahkan sang isteri pernah merangkak datang ke RS tempat operasi dulu. Dia bermaksud menggugat haknya, tetapi tidak berdaya. Berkali-kali kata perceraian bertaburan, rumah tangga yang semula tenang menjadi kisruh. Sampai seluruh anak-anak merasakan kerasnya konflik suami-isteri itu. Kursi dan perabot rumah-tangga dibanting bukan hal aneh, kejar-mengejar satu orang terhadap lainnya terjadi. Seluruh kawasan itu gemuruh menyaksikan pertengkaran hebat sepasang suami-isteri. Hampir satu RW tahu tentang permasalahan keluarga tersebut.

Dalam hubungan seksual yang terjadi, sang isteri merasa kehilangan terlalu banyak kenikmatan yang seharusnya dia peroleh. Dia merasakan kehambaran cinta, kehilangan kehangatan kasih-sayang. Katanya, dulu dia mampu mencintai suaminya dengan baik, meskipun dengan segala kekurangan yang mereka miliki. Namun operasi KB itu membuat segalanya berubah secara radikal. Sang isteri kehilangan cintanya, kehilangan kontak batin dengan suaminya. Dia merasa terlalu hambar, hubungan seksual hanya sebatas hubungan fisik, tanpa makna lain. Bahkan seks semacam itu mungkin tak ubahnya seperti seks binatang. Hambar tanpa rasa, tanpa cinta. Na’udzubillah min kulli dzalik.

Pertengkaran seputar masalah cerai tidak terhitung jumlahnya. Bahkan hal itu kemudian ditiru anak-anaknya ketika mereka berkeluarga. Jadi bermudah-mudah mengatakan kata cerai (thalaq) ketika mengalami kebuntuan masalah. Sebagai ungkap rasa benci atas keputusan operasi KB, pada awalnya sang isteri sering mencakar-cakar suaminya saat berhubungan seksual. Na’udzubillah min dzalik.

Intinya, kalau seorang wanita dioperasi KB (tubektomi), dia akan merasa sangat kehilangan kepuasan seksual. Kalau suaminya yang dioperasi (vasektomi), dia juga akan merasa amat sangat kehilangan kepuasan seksual. Tetapi apapun bentuk operasinya, kedua belah pihak menanggung rugi besar. Oleh karena itu, banyak laki-laki yang isterinya menjalani operasi KB, mereka merasa tidak puas, lalu mencari cara liar untuk memuaskan diri. Na’udzubillah min dzalik. Bukan hanya isteri, sang suami pun mengalami kehambaran. Hanya saja, pihak yang mengalami operasi menanggung kerugian paling besar.

Sampai disini saudaraku, saya menyimpulkan bahwa operasi KB (tubektomi atau vasektomi) adalah suatu kezhaliman. Ia bisa merusak kehidupan rumah-tangga, menghancurkan harmoni keluarga. Secara Syar’i pun ia haram, sebab mengubah fithrah manusia (merusak saluran sel telur atau sperma). Mengubah-ubah ciptaan Allah, termasuk kondisi fithrah tubuh kita adalah perbuatan syaitan.

Dalam Al Qur’an, “Dan benar-benar aku (syaitan) akan menyesatkan mereka (manusia), membangkitkan angan-angan kosong mereka, dan benar-benar aku akan menyuruh mereka memotong telinga-telingan hewan ternak, dan agar mereka mengubah ciptaan Allah. Maka siapa yang menjadikan syaitan sebagai walinya selain Allah, maka sungguh dia akan merugi dengan kerugian yang nyata (amat besar).” (An Nisaa’: 119).

Seperti dalam kasus ini, sebagian orang ditakut-takuti dengan anak banyak, rasa malu, tertekan, dll. lalu dia memutuskan melakukan tubektomi/vasektomi. Akibatnya, keluarganya dilanda prahara besar dan sangat melelahkan. Bukankah benar janji Allah, bahwa mereka akan mengalami kerugian besar?

Efek Jangka Panjang

Inti dari tubektomi/vasektomi adalah menghancurkan kenikmatan seksual yang sewajarnya diperoleh pasangan suami-isteri. Maka dampaknya sangatlah panjang dan rumit. Seperti dalam rumah-tangga di atas.

Sang isteri di atas sangat membenci suaminya. Dia juga berniat menggugat suaminya kelak di hadapan Allah. Dia tidak bisa memaafkan suaminya sama sekali dan bertekad akan menggugat suaminya di hadapan Allah. Bagi seorang wanita yang mengalami operasi KB, dampaknya jauh lebih berat dari perceraian. Kalau bercerai, dia masih bisa menikah dengan laki-laki lain. Kalau tidak mendapat kenikmatan seksual dari satu sumber, masih mungkin mendapatkan dari sumber lain. Tetapi setelah operasi KB dari suami manapun (jika menikah lagi) tetap tidak ada harapan kenikmatan. Bahkan suami barunya juga bisa merasa tidak puas.

Pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Lama-lama intensitasnya semakin menurun, tetapi hati-hati mereka sudah terlanjur pecah. Sang suami merasa marah karena terus disalahkan, dicela, dilecehkan. Di sisi lain, dia menanggung rasa bersalah yang amat sangat karena kecerobohannya. Bagi sang isteri, dia tidak lagi mendapatkan kehangatan cinta, sesuatu yang berpuluh-puluh tahun menyertai hidupnya. Hidup mereka berdua seperti sebatang pohon yang ditebang, terkena hujan setiap waktu, terkena terik mentari sepanjang tahun, sampai akhirnya lapuk. Hingga suatu ketika, ia roboh tanpa daya. Rumah-tangga roboh karena operasi KB. Sejujurnya, operasi seperti itu adalah jalan yang dicipta Yahudi laknatullah untuk merusak kehidupan manusia. Hanya saja, para ahli medis menerima begitu saja konsep Yahudi itu, seperti kawanan bebek makan pakan saat kelaparan.

Konflik antar suami-isteri lambat laun berubah menjadi konflik antar anak. Sebagian berpihak ke ibunya, sebagian ke ayahnya. Bahkan hawa konflik ini sampai merembet ke anak-anak menantu. Betapa hebatnya banjir prahara itu sampai semua orang terkena getahnya. Para tetangga pun perlahan-lahan menjauhi atau memandang remeh. Bahkan sang isteri kemudian memiliki konflik batin dengan para tetangganya. Sampai kasus ini disampaikan ke saya, ia seperti nasi yang baru diangkat dari kompor. Masih sangat hangat, panas, asapnya mengepul kemana-mana. Kasus ini seolah baru terjadi satu atau dua minggu lalu, padahal waktu telah berlalu 18 tahunan lebih, setelah operasi KB dilakukan.

Satu sisi, sang suami tidak mengerti tentang nilai-nilai Islam, sehingga menyepelekan langkah operasi KB itu. Di sisi lain, sang isteri menjadikan kenikmatan seksual seperti agama. Ia dianggap segala-galanya. Seakan, hidup menjadi hambar tanpa kenikmatan seksual; padahal ia merupakan salah satu sub bagian dari totalitas kenikmatan hidup manusia. Ketika jiwa dalam resah, nikmat seks dianggap segala-galanya, lalu ketika nikmat itu tercabut, dunia serasa kiamat seketika. Dua sisi kenyataan ini berpangkal dari minimnya ilmu keislaman dan komitmen keimanan.

Memungut Hikmah Berharga

Bagaimanapun alasannya, jangan melakukan tubektomi atau vasektomi. Itu adalah cara jahiliyah, jalan syaitan, yaitu mengubah kodrat Allah dalam diri kita. Di samping itu, ia akan menghancurkan salah satu pilar rumah-tangga Islami yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, yaitu: kenikmatan seksual. Bagaimana mungkin sepasang suami-isteri akan hidup sakinah, jika urusan seksualnya hancur? Bukankah Anda perhatikan betapa payahnya kehidupan para selebritis, ketika mereka mengalami banyak kegagalan dalam masalah ini, lalu mencari solusi-solusi instan? Seorang Tora Sudiro, rumah-tangganya nyaris hancur gara-gara selingkuh dengan rekan mainnya di TV. Begitu pula Ariel Peterpen, Kristina, Ahmad Dani, dan lainnya.

Dalam kasus tubektomi/vasektomi, keadaannya jauh lebih rumit dari kondisi para selebritis itu. Sebab, disini yang dihancurkan adalah kemampuan seksual manusia itu sendiri. Kalau sebuah pasangan suami-isteri bercerai, masih mungkin mereka akan mendapat kepuasan dari pasangan suami/isteri baru. Tetapi dalam operasi KB ini, justru saluran seksual yang dihancurkan. Maka biarpun menikah dengan siapa saja, seseorang tetap tidak akan mendapat kepuasan seksual.

Keadaannya seperti manusia-manusia yang mengebiri diri. Misalnya dalam tradisi China ada istilah “Kasim”. Ia adalah laki-laki yang telah membudakkan dirinya untuk melayani keluarga kerajaan dengan cara memotong penisnya, sehingga dia tidak mampu lagi melakukan hubungan seksual. Saya sarankan, kalau ada dokter, atau atasan, atau siapapun yang menyarankan melakukan operasi KB, katakan kepada mereka: “Coba Bapak dulu yang memberi contoh melakukan! Kalau perlu, isteri Bapak suruh juga melakukan operasi.” Saya yakin, sebagian besar mereka akan menolak mentah-mentah. Kalau mereka ternyata sudah melakukan juga, Anda jangan mau menuruti saran mereka. Katakan saja: “Terimakasih atas saran Bapak. Tetapi kami bukan orang tidak berakal yang mau melakukan operasi bodoh itu!”

Andai merasa telah berat untuk mempunyai anak lagi, dengan segala pertimbangan yang ada, janganlah lakukan tubektomi atau vasektomi. Lakukan saja pemasangan IUD (spiral) dalam saluran rahim seorang ibu. Para bidan wanita akan membantu dengan penuh tanggung-jawab. Ikuti petunjuk mereka untuk mendapat pelayanan terbaik. Nanti jika ada masalah-masalah, silakan kontrol lagi ke bidan wanita itu.

Pemakaian IUD ini dengan beberapa pertimbangan, yaitu:

Pertama, jangka waktu pemasangan bisa bertahun-tahun, misalnya 8 sampai 10 tahun. Kedua, menurut para pemakainya IUD tidak terlalu mengganggu hubungan suami-isteri. Ketiga, IUD tidak memiliki efek merusak tubuh secara kimiawi. Atau efeknya lebih rendah dari pil, suntik, maupun susuk KB. Dan keempat, IUD bisa dilepas lagi jika pasangan suami-isteri berniat memiliki anak lagi.

Dibandingkan tubektomi atau vasektomi, IUD jauh lebih baik. Disana tidak perlu ada pengebirian organ-organ seksual, namun upaya pencegahan pembuahan lebih efektif. Bahkan secara ekonomis pun IUD dianggap lebih murah dibandingkan cara-cara lain.

Demikian, demi membina situasi harmoni dalam rumah-tangga jangan sekali-kali mendekati cara tubektomi/vasektomi. Cara semacam itu hanya akan mengundang prahara rumah-tangga yang sangat menyakitkan. Banyak orang telah merasakan betapa perihnya cara-cara yang dibuat oleh Yahudi itu. Kini tinggal kita untuk pintar-pintar mengambil pelajaran.

Wallahu a’lam bisshawaab.

[LBM-AMW].

Iklan

27 Responses to Di Balik Operasi KB

  1. indah berkata:

    terlalu lebai, kakak ipar saya tubektomi dan masih mendapatkan kenikmatan seksual. Ada beberapa orang yang tidak dapat memakai alat kontrasepsi apapun karena alasan kesehatan dan harus memilih tubektomi. Kalau cerita di atas lebih karena si suami yang seenaknya saja steril istrinya tanpa sepengetahuannya, akhirnya ia mendapat balasan sendiri.Makanya….baca! baca! dan bacalah!!!! efek, prosedur dll serba-serbi tubektomi or vasektomi sebelum mau melakukannya! Di sana ditekankan bahwa proses ini harus dengan persetujuan suami dan istri…dua-duanya! dengan pertimbangan matang! Dan juga dengan teknologi yang semakin canggih ini, tubektomi dapat dipulihkan dengan metode rekanalisasi…jangan picik dan sempit pikiran.

  2. icha berkata:

    Maaf sbelumnnya, apa tidak terlalu berlebihan?
    banyak penelitian kesehatan yang bsa sangat menyangkal sluruh pernyataan anda d web ini.. dan dapat dbuktikn pula bhwa kebanyakan anggapan orang mengenai dampak/efek kontap (tubektomi/vasektomi) berhembus bukan dari pesertanya itu sendiri.
    mungkin prlu mncari referensi lg yg lbih bsa dprcaya dan brtanggungjwb. makasih.

  3. Dee berkata:

    maaf juga sama kaya icha, hehehe
    saya sependapat dengan icha mengenai tulisan anda di web ini, kesannya horor banget, padahal tidak seburuk itu,
    dari buku tentang kontap yang saya baca, vasektomi/tubektomi itu tidak berpengaruh tentang libido seksual karena hanya salurannya saja yang diikat/diputus, libido itu udah lain urusannya itu sumbernya di hipotalamus(kalo ga ngerti cari dibuku), tempatnya diotak, selain itu faktir psikologis jg berperan. dari peserta kontap sendiri, ga muncul coment yang sedemikian ekstrim, malah ada opini tentang kepuasan mengekspresikan perilaku seksual karna GA TAKUT HAMIL!!!
    emang agama melarang, tapi pada kondisi tertentu hal ini dihalalkan, jadi saya rasa tulisan anda ini terlalu meng-underestimate KONTAP!!!!
    JADI KESIMPULANNYA TULISAN ANDA PERLU DIREVISI LGI, munculkan unsur ilmiahnya juga jangan cuma pendapat aja.
    HEHEHE
    salam peace Dee
    Maaf ya….
    Terimakasih….

  4. abisyakir berkata:

    @ Mbak Icha….

    Tapi Mbak, dalam tulisan di atas, itu justru disampaikan oleh pelakunya sendiri. Dan yang menyampaikan itu juga mendapat kesan yang sama dari orang-orang lain yang mengalami hal itu. Tulisan ini bersifat “dari pengalaman”. Meskipun mungkin, ada sisi berlebihannya juga dari saya. Terimakasih.

    AMW.

  5. abisyakir berkata:

    @ Dee…

    Iya, maka sejak awal tulisan, sudah disebutkan, tulisan itu berdasarkan “pengalaman” seseorang. Orang itu sendiri cerita kepada saya. Nah, dia menceritakan bahwa banyak orang lain yang merasakan keluhan seperti dirinya. Jelas, kasihan kalau melihat orang menderita seperti itu. Maka, agar tidak terjadi hal yang sama, yaa jangan dilakukan vasektomi/tubektomi. Pilih cara yang lain saja.

    Ngomong-ngomong, Anda dan Mbak Icha sudah melakukan tubektomi/vasektomi? Mungkin bisa bagi-bagi pengalaman disini. Kalau belum melakukan, ya jangan keburu mengeritik seperti itu. Saya masih lumayan, berdasarkan pengalaman seseorang. Terimakasih.

    AMW.

  6. Mama Thifa berkata:

    Ini yang dikategorikan propaganda anti KB.
    Kesalahan penulis diantaranya:
    1. Terlalu mendramatisir (mungkin karena kebenciannya terhadap program KB);
    2. Kurang bijak memilih narasumber. Dalam cerita tersebut jelas penyebabnya ketidak jujuran suami yang menyebabkan efek psikologis, bukan karena tubektominya.
    3. Tidak menyertakan pembanding dari narasumber lain.

    Saya muslimah juga, dan saya mengalami sendiri tubektomi setelah punya sepasang putri-putra. Tanpa efek negatif, malah positif karena memberi ketenangan.
    Saya juga tidak pro pemerintah dengan KB-nya. Tapi akan lebih bijaksanan bila kita tulis cerita apa adanya dan gunakan pembanding.
    Jangan diulang ya…

  7. rini berkata:

    Mas, bener bgt klo u tu lebay banget!!!gak ada lg hub kenikmatan seks ma vasektomi…salurannya aja beda…hanya orang yg kurang pengetahuan aja yg berpikiran kayak gitu…suami aq vasektomi tuch…ga da masalah bwt aq..baek2 aja..malah aq sbg istri seneng, masalah kb gak harus dibebankan pd wanita…n bener operasi vasektomi harus ada persetujuan dari istri..klo gak ada persetujuan istri,dokter jg gak mau operasi…satu lg,skrg vasektomi bisa dipulihkan lg dgn metode rekanalisasi..sebaiknya mas jgn men jelek2kan sesuatu kalo gak ngalami sendiri,yg mas tulis itu kan cerita orang,,thx

  8. Si Anu berkata:

    Terlalu berlebihan. Banyak yg tubektomi, tapi masih asyik aja tuuuuh ! Hehe

  9. windy berkata:

    segala sesuatu selalu ad pro dan kontra. yang penting kb merupakan sarana untuk membentuk keluarga yang sejahtera lahir dan bathin. semua harus benar-benar persetujuan ke dua belah pihak. disisi lain kita juga tidak boleh egois dgn menghabiskan semua aset yang ada sekarang, kita harus ingat dengan anak cucu kita besok.mungkin ” 2 anak selalu lebih baik”

  10. abisyakir berkata:

    @ Windy…

    “2 anak selalu lebih baik” …(tambahan) bagi yang anaknya memang hanya 2. He he he…

    AMW.

  11. cenul berkata:

    ahhh… boong loe!! gue pake tubektomi.. malah makin asyik tuh!! dasar pembohong!!

  12. Sasha... berkata:

    Yang saya tangkap dr cerita diatas adalah tidak adanya lg rasa cinta, toleransi, perhatian dan pengertian yang merupakan dasar dari alasan kenapa sex itu dlakukan. Saya banyak bertemu pasangan suami istri dengan suami yg memiliki disfungsi sexual tapi mereka tetap saling mencinta, saling support dan saling bertoleransi.
    Kalau saya jadi penulis, saya akan tulis seperti ini, kehidupan berumahtangga yg hanya berpondasi dari sex tidak akan bertahan lama, berbeda dengan kehidupan rumah tangga yg didasari rasa sayang, keinginan untuk berbagi, ketulusan, komunikasi, perhatian, bla bla bla yang ujung2nya akan menghasilkan cinta…
    Cinta yang akan membuat manusia bahagia, bukan cuma sex.
    Sepertinya mas penulis ini kehidupan pribadinya lebih berat ke sex ya, karena angle yang diambil kok hanya dari sudut itu aja..

    Maaf kalau tidak berkenan
    Hanya opini seorang pembaca saja

  13. abisyakir berkata:

    @ Sasha…

    Cinta yang akan membuat manusia bahagia, bukan cuma sex. Sepertinya mas penulis ini kehidupan pribadinya lebih berat ke sex ya, karena angle yang diambil kok hanya dari sudut itu aja..

    Komentar: Apa yang ditulis itu kan pengalaman orang lain, Bu. Bukan pengalaman kami. Kami sendiri tidak melakukan sterilisasi, walhamdulillah. Di mata kami perbuatan sterilisasi itu haram. Soal apakah saya berorientasi ke seks melulu atau tidak, ya silakan saja deh Anda berkomentar. Tidak perlu diberi jawaban spesifik. Terimakasih atas masukannya.

    AMW.

  14. Nggurunggoles berkata:

    komentar-komentar yang ditawarkan dalam tulisan-tulisan di atas umumnya baik. Tidak selamanya komentar negatif itu merugikan atau sebaliknya menguntungkan. Komentar di atas kelihatan amat situasionaldan tergantung fisik yang bersangkutan. Aku lebih setuju komentar berasal dari pengalaman nyata bagaimana mereka alami sebelum dan sesudah tubek/fasek tomi.. Tentu pasti ada sesuatu yang perubahan dalam tubuh orang tersebut setelah pengurangan atau penambahan sesuatu dalam tubuhnya. saya yakin juga bahwa ada pengurangan kenikmatan setelah KB mantap.

  15. Fulan berkata:

    Di mata kami perbuatan sterilisasi itu haram <<< kalau sterilisasi di ambil demi keselamatan seseorang, misalnya aja seseorang telah menjalani SC sebanyak 4x dan sudah tidak memungkinkan lagi untuk memiliki anak dikarenakan resiko yg sangat besar yang berujung pada kematian janin dan ibunya sendiri, apakah masih anda sebut haram?

    tulisan anda itu tidak membantu apa2 justru akan membuat seseoang yang seharusnya melakukan sterilisasi demi keselamatannya akan merasa ketakutan dan tidak tenang. justru hal itu akan membuat depresi yang tinggi dan menimbulkan ketidak seimabangan hormon dan mental, hal itu akan menyebabkan terjadinya ketidak harmonisan rumah tangga dan bisa berakibat fatal yang merugikan baik suami-istri serta anak-anak mereka.

    lain kali jka ingin menuliskan informasi layaknya di lakukan riset dulu .. tidak hanya berdasarkan 1 atau 2 nara sumber saja, dan tolong di perhatikan untuk tidak hanya menuliskan hal negatifnya saja karena setiap hal itu memiliki dua sisi, sisi positif dan negatif!!

  16. abisyakir berkata:

    @ Fulan…

    Ya sebenarnya, soal sterilisasi itu kan ada yang permanen, ada yang sementara (hanya diikat). Ulama-ulama umumnya mengharamkan sterilisasi, karena dianggap ia mengubah ciptaan (kodrat alami manusia). Coba cari data seputar fatwa sterilisasi itu. Ini bukan cuma pandangan saya lho.

    Ya sesuatu kalau darurat, bisa membolehkan yang haram. Kaidahnya: “Ad dharuratu tubihu al mahdzuraat” (kondisi darurat membolehkan yang haram-haram). Tetapi kalau ada jalan lain yang lebih ringan, dan aman (semodel IUD), itu lebih dipilih. Jangan mentang-mentang, langsung sterilisasi.

    Admin.

  17. jojo berkata:

    Tinggal pilih punya anak sedikit bermutu atau banyak anak nga da mutu ( dalam pendidikan dan kualitas menentukan hidupnya saat dewasa……liat riil kehidupan biaya hidup dll mahal….jng banyak filosofi…….dan liat cerita diatas itu masih kurang jelas. suami wajar melakukan hal itu liat usianya donk emang ampe umur berapa cari duitnya trus pa dy nga cerita klo senjatanya setengah tiang dan bininya usianya berapa

  18. jojo berkata:

    Tolong berpikiran cerdas soal KB. Pemerintah tidak membatasi kita mau punyak anak berapa tetapi kita diajarkan secara bijak dapat menghitung kemampuan kita sendiri dalam mempunyai anak agar kita dpt membiayai dan mengurusnya.agar kelak menjadi kebanggaan ( mempunyaikualitas hidup dan ahklak yg tinggi ). Jd klo anda seorang kaya raya mau punya anak 20 nga masalah. Pemerintah menganjurkan 2 anak bukan tanpa alasan. Itu berdasarkan riset kemampuan rakyat rata2 secara ekonomi.

  19. desliani amga berkata:

    Saya IUD alergi dgn tembaganya, sehingga semakin lama IUD dlm tubuh ini semakin parah bentol2 gatal alergi di sekujur tubuh, makin lama semakin besar bentolnya, KB Hormon PIL sakit kepala dan akhirnya endometriosis, KB suntik menstruasi tak berhenti, akhirnya memutuskan steril, tp skr menyesal setelah tau haram, bingung meski bagaimana skr, semua terlanjur.

  20. abisyakir berkata:

    @ Desliani amga…

    Ya Mbak, kami ikut prihatin dan empati. Memang tak semua orang cocok dengan jenis-jenis kontrasepsi itu. Kalau upaya steril-nya sudah permanen, ya silakan dijalani saja, tugas selanjutnya memohon ampunan dan taubat kepada Allah; karena Mbak semula kan tidak tahu. Sesuatu yang tak diketahui, tak sengaja, atau lupa, dimaafkan dalam Syariat. Tapi kalau sterilnya tidak permanen, coba konsultasikan, apa mungkin dibuka lagi.

    Ada cara alami ber-KB yang boleh dicoba, jika cocok. Setelah melakukan hubungan suami-isteri, sang isteri segera duduk dalam posisi jongkok. Bisa bersandar di dinding atau lainnya. Yang penting jongkok. Biarkan sperma yang sudah masuk keluar lagi. Tapi ini hanya usaha ya, bisa berhasil bisa tidak. Tapi ada seorang ibu yang mengaku berhasil dengan cara itu. Terimakasih.

    Admin.

  21. Fulan2 berkata:

    Fakta lapangan: Emang bener kata jawaban yg di atas.. Aku cntohnya 2 kali rujuk (setelah cerai) tetep gak ada kepuasan dalam hubungan seks. Gara2 istriku tubektomi. Istri juga banyak ngelamun. Kalo yg blum ngalamin sama yg tubektomi pasti menyalahkan jawaban yg di atas.

  22. Erwin Anthony berkata:

    Ha ha ha ha,……. cerita ini sungguh-sungguh menggelikan, walaupun memang mungkin terjadi pada segelintir orang. Tetapi pengalaman saya sendiri melakukan vasektomi tidak ada kenikmatan yang hilang.
    Setelah membaca cerita ini saya bertanya terhadap teman-teman pria yang istrinya di steril / tubekotomi, ternyata tidak ada masalah pada istri mereka. Malah ada yg bilang kalo istrinya tambah bersemangat karena sdh tidak ada ketakutan untuk hamil lagi.
    Saya juga telah bertanya terhadap teman pria yang melakukan vasektomi, mereka juga sama dengan saya, TIDAK ADA KENIKMATAN YANG HILANG.

    Tambahan:
    Tidak ada dokter yang mau melakukan tubekotomi tanpa sepengetahuan wanita yg hendak di tubekotomi karena mereka juga takut akan tuntutan di belakang hari.

  23. Anonim berkata:

    harus lebih hati hati jika kita mau berbagi informasi spt ini. awal baca blog ini saya sempet kaget juga, karena saya juga baru kb steril karena hamil di luar kandungan dan di sebelah kiri ada kista, jadi pengangkatan janin, kista dan steril dalam satu waktu.

    itu atas saran dokter demi keselamatan saya.
    tapi uraian di atas terlalu berlebihan dan sepihak.
    tolong lain kali lebih bijak lagi dalam memberikan info tentang apapun.

  24. Fulan2 berkata:

    Sy pikir terlalu lebay emang…ok, cerita diatas umur suami pada saat itu 60 tahun…emang umur istrinya berapa…? Wanita itu ada masa menopause lho…klo udh menopause kebanyakan gak bisa hamil lagi, kecuali mukjizat Allah…
    Sy rasa sedikit sih type wanita berumur, apalagi menopuase yg masih kuat nge sex gitu…sampe gegerrrr ceritanya…
    Apa gak ada pengaruh lain, selain karena pake KB tubektomi…?
    Buat risih aja nih cerita, aq baru steril juga nih karena IUD lain gak ad yg cocok, lagian itu bukan keputusan kita semata. Tapi hasil periksa dokter krn sebelumnya KB spiral pendarahan terus…
    Langkah terakhir dokter menyarankan steril…apa haram…? Klo pendarahan terus gak bisa layani suami juga dosa…hadehhhh…

  25. ikut menyimak ulasna menariknya mas

  26. princello berkata:

    Saya udh tubektomi 3thn,ga ada masalah tuh. Ga ada hubungan sm kenikmatan seksual di saya or suami. Dan tubektomi mmg hrs dilaksanakan dgn tanda tgn persetujuan suami istri,ga boleh seorang dokter lakukan tnp tanda tangan salah satunya. Tubektomi kan pemotongan saluran,ga ada hubungan sm hormon seksual. Literaturnya drmana kl tubektomi menghilangkan kenikmatan seks. Lagian dlm crita ini,si istri kesannya gila seks bgt,sgitunya ga trima dunia akherat kl ga bs dpt kepuasan lg. Pdhl anak udh 7 (yg hdp). Apa kurang hubungan seks slama nikah? Buset. Udh uzur kali!

  27. abisyakir berkata:

    @ All

    Terimakasih untuk semua komen, kritik, masukan, share, dan sebagainya. Semoga bermanfaat.

    Admin.

%d blogger menyukai ini: