Diskusi dengan Seorang Rabi’iyun

Tulisan ini awalnya dari artikel yang saya tulis tentang HT. Tujuan saya tentu bukan untuk sepakat dengan hal-hal yang keliru dalam pergerakan HT. Masak kita akan setuju dengan kekeliruan itu, sedangkan dalam kehidupan kita menjauhinya? Hanya saya merasa kagum dengan kesungguhan HT dalam isu penegakan Syariat Islam, pentingnya Khilafah Islamiyyah, dan gerakan anti Kapitalisme. Ketiga hal itu sungguh sangat layak kita perjuangkan, baik ada atau tidak ada HT.

Kemudian muncul tanggapan dari seseorang yang menyebut dirinya @ orang awam. Seperti biasa, selain menyalah-pahami apa yang dituju, dia juga melancarkan celaan-celaan yang tidak sedap didengar. Tapi gaya bahasa dia masih jauh lebih sopan daripada maniak-maniak sesat pengasuh blog-blog fitnah, seperti Fakta dkk itu. Saya sendiri sudah menjawab tanggapan dia via e-mail, tetapi katanya e-mail itu tidak dia terima. Padahal dalam e-mail saya jelas disebutkan “message sent” dan tidak ada penjelasan bahwa e-mail tersebut gagal. Bahkan itu pun saya masih “kena semprot” sebagai pengecut luar biasa, hanya karena saya tidak menampilkan tanggapan dia di blog ini. Kalau misal tanggapan dia saya hapus lagi, misalnya begitu, mungkin saya akan dia sebut sebagai “pengecut akbar fil ‘alam”. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik!

Dari sekian banyak poin-poin yang dia ajukan sebagian sudah saya jawab, sebagian tertunda. Nah, disini saya lanjutkan bagian-bagian yang tertunda. Karena penjelasannya cukup panjang, sengaja dimuat dalam sebuah artikel tersendiri. Biar semua pihak bisa mengambil pelajaran, meminjam kalimat @ orang awam itu. Diskusi seperti ini bukan sekali dua kali saya lakukan dengan orang-orang semacam ini, baik lewat buku, e-mail, forum diskusi MyQuran, surat-menyurat, sampai lewat SMS. Hanya saja, tidak semua orang mengikuti diskusi sejak awal, sehingga akhirnya harus mengulang hal-hal yang di tempat lain sudah dibahas. Tidak mengapa, demi menjelaskan kebenaran, mengusir keraguan, dan meneguhkan keyakinan, bi idznillah. Semoga sedikit tulisan ini bermanfaat! Amin.

Berikut isi diskusinya, bi nashrillah:

Orang awam:

“Lalu kenapa hanya kebaikan (HT) yg Antum tampilkan!? Bahkan tanpa Antum tampilkan pun sudah jelas seorang Muslim pastilah memiliki kebaikan. Ya, seorang Muslim pasti memiliki kebaikan meski dia seorg Ahli bid’ah, tapi mengapa dalam masalah tahdzir tidak diperbolehkan kita menyebutkan kebaikan mereka (seperti dlm fatwa Syaikh Albani dan Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam al-Ajwibah al-Mufiidah). Jawabnya karena jangan sampai ummat tertipu sehingga bergabung dgn mereka. Mudah-mudahan di lubuk hati Antum yang paling dalam menerima kebenaran ini.”

Jawab:

Alasan saya jelas, mereka melakukan sesuatu yang banyak kaum Muslimin justru tidak peduli dengan sesuatu itu, padahal ia adalah Sunnah besar dari Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Ia adalah: (1) Penegakan Syariat Islam; (2) Menegakkan Khilafah Islamiyyah; (3) Melawan Kapitalisme. Semua ini telah dilakukan Nabi sejak jamannya, tetapi saat ini banyak kaum Muslimin kurang peduli. Termasuk orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Salafi ini. Itulah alasannya.

Tentang masalah kesalahan dan kebaikan, Syaikh Al Albani pernah ditanya tentang posisi Sayyid Quthb. Beliau mengatakan, beliau orang pertama yang mengkritisi Sayyid Quthb. Beliau pernah dikeluarkan dari Ikhwanul Muslimin karena berpendapat Sayyid Quthb berpaham wihdatul wujud. Seiring perjalanan waktu Syaikh Al Albani memahami bahwa Sayyid Quthb adalah seorang penulis, seorang sastrawan. Bahasa sastrawan berbeda dengan bahasa ulama dinniyah pada umumnya. Rekaman dan transkrip percakapan Syaikh Al Albani ini bisa dillihat di www.islamgold.com. Disana beliau mengucapkan sebuah prinsip yang sangat bagus, “An nu’tiya kulla dzi haqqin haqqahu” (kami memberikan kepada setiap yang berhak akan haknya).

Lalu, yang mempunyai kesalahan, keburukan, atau kesesatan apa hanya HT saja? Apakah kelompok Antum tidak memiliki kesesatan? Coba baca lagi DSDB I dan II. Lihat disana sebagian koleksi kesalahan-kesalahan kalian! Sungguh, Ummat ini layak diperingatkan dari majlis-majlis kalian, agar tidak ikut tersesat!

Orang awam:

“Kutipan dari Antum: //Adapun dalam soal Syaikh Muqbil dan Syaikh Rabi’. Ini lain masalahnya. Seandainya mereka semata-mata mengkaji ilmu dan menyebarkan ilmu secara hikmah. Tentu tidak layak mengabaikan kebaikan-kebaikannya. Tetapi yang tampak dari dua syaikh ini dan semisalnya ialah permusuhan membabi-buta terhadap gerakan-gerakan Islam yang komitmen ingin menegakkan Syariat Islam.// Selesai kutipan.

Laa haula wala quwwata illa billah. Komentar yg sangat lancang dan berbahaya sekali. Selama sy bergaul dgn Ustadz2 WI tidak ada yang berani berkata seperti Antum. Karena memang tidak ada satupun Ulama Sunnah di zaman ini yang berani berkata ttg Syaikh Muqbil dan Syaikh Robi’ seperti perkataan Antum.”

Jawab:

Ya Allah ya Karim, Antum bilang tidak ada ulama Sunnah yang berani berkata seperti itu. Ya Ilahi, memang kedua Syaikh itu siapa? Apa mereka Rabb yang diibadahi atau Nabi yang ma’shum sehingga tidak ada yang berani mengkritiknya? Lalu apa ada wahyu yang turun dari langit bahwa kedua Syaikh itu adalah penentu kebenaran? Jawablah dengan penuh kejujuran, hai manusia!

Ucapan Antum itu sebuah indikasi bahwa kalian telah menjadikan mereka sebagai “ilah” tanpa kalian sadari. Padahal kita sudah diingatkan: “Mereka telah menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (mereka juga melakukan hal itu kepada) Isa bin Maryam. Padahal mereka tidak disuruh selain mengibadahi Allah Ilah yang Satu, tidak ada Ilah selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan;” At Taubah 31).

Ada sebuah bukti valid dari ucapan Dzulqarnain, ustadz Salafi semacam ini dari Makassar. Saya ada file-nya, kalau dibutuhkan, insya Allah saya kirim. Dalam sebuah ceramah dia berkata tentang Luqman Ba’abduh:

“Juga dari keterangan Ustadz Shabaruddin, rupanya Luqman Ba’abduh ini dicoret namanya oleh Syaikh Muqbil. Dia sendiri yang menyampaikan. Padahal Ustadz Shabaruddin dan beberapa temannya yang lain. Dan ini orang yang dicoret namanya oleh Syaikh Muqbil cuma dua kemungkinan. Dia telah menjadi hizbi atau orang yang menyimpang.

Saya tidak mau komentari soal Ba’abduh, itu lain perkara. Lihat ucapan Dzulqarnain di atas! Dia mengatakan, kalau ada seseorang dicoret oleh Syaikh Muqbil, berarti dia hizbi atau menyimpang. Tidak ada pilihan lain. Kalau begitu, berarti Syaikh Muqbil secara mutlak berada di atas kebenaran (seperti Nabi), sedang yang menyelesihinya adalah hizbi atau sesat. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. [Opo iki rek, kok ada Ahlussunnah akidahnya rusak seperti ini?].

Juga ucapan Dzulqarnain yang lain, masih tentang Luqman Ba’abduh.

“Sampai Syaikh Rabi’ memberikan hukum yang sedemikian kerasnya, padahal laporan kita (tentang kesalahan-kesalahan Laskar Jihad –pen.) tidak seberapa. Dari data gambaran yang nampak saja. Kalau mereka laporkan semua kegiatan mereka, mungkin akan keluar hukum yang lebih keras lagi. Hukum Syaikh Rabi’ dari apa yang kita laporkan, mereka itu sudah memiliki sifat Ikhwanul Muslimin secara sempurna, bahkan lebih. Hukum beliau di kaset nasehat. Kalau menurut ta’bir-nya Usamah, Syaikh berkata: ‘Kalian sekarang lebih bejat, akhbat min Ikhwanul Muslimin, lebih bejat dari Ikhwanul Muslimin.’”

Ucapan di atas keluar dari Dzulqarnain, ustadz Salafi yang sudah masyhur di Makassar. Lihatlah betapa menakjubkan! Orang-orang ini sejak kecil belajar Islam, belajar ‘Arabiyyah sampai mendalam, bahkan pernah lama tinggal di Jazirah Arab untuk belajar Islam. Tetapi lihatlah, betapa rusaknya akidah mereka! Sampai mengucapkan “Hukum Syaikh Rabi’”. Apa ada dalam Islam ini hukum Syaikh ini, hukum Syaikh itu? Hukum dalam agama ini hanya satu, yaitu: Hukum Islam atau Hukum Syar’i yang mengacu kepada Kitabullah dan Sunnah. Apa yang dikatakan manusia hanyalah pendapat (al qaul), bukan hukum itu sendiri.

Mungkin Dzulqarnain dan kawan-kawan akan membantah, “Maksud kami, bukan hukum Syaikh Rabi’, tetapi pendapat hukum menurut beliau.”

Andai benar ucapan mereka, pernahkan hukum Islam menggunakan parameter keadaan Ikhwanul Muslimin untuk menetapkan suatu hukum? Parameter Hukum Islam itu Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan qiyas yang shahih (menurut sebagian ulama). Tidak ada perbuatan manusia dijadikan parameter Hukum Islam, selain perbuatan Nabi, Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, dan ijma’ Shahabat. Hal ini menjadi bukti bahwa orang-orang yang berkata di atas dan yang meyakini kebenaran ucapannya, mereka tidak sadar telah menempatkan seseorang ke maqam ma’budiy. Na’udzubillah min dzalik.

Hal itu pun masih diperkuat oleh pengakuan mereka sendiri tentang kebiasaan melapor ke Syaikh Rabi’. Kalau mereka berakal dan hidup sebagai jiwa merdeka, mereka bisa menghukumi kenyataan-kenyataan di sekitarnya dengan bimbingan Kitabullah, Sunnah, dan pendapat Salaf. Tetapi lihatlah, hati mereka merasa belum tenang, jiwa mereka belum terbebas dari was-was, sebelum mendengar langsung ucapan verbal atau tulisan eksplesit dari Syaikh Rabi’.

Pertanyaannya, siapakah Syaikh Rabi’ itu? Apakah dia semacam Hai’ah Kibaril Ulama atau Lajnah Da’imah? Atau apakah dia Majma’ Fiqih Islami? Atau apakah dia semisal Lajnah Fatwa Al Azhar? Atau apakah dia seorang Mufti Aam Saudi, atau Yaman, atau Kuwait, atau Mesir, atau Qatar, atau Yordan, atau negara lain? Atau apakah dia seorang Rektor Universitas Madinah, atau Rektor Ummul Qura Makkah, atau Rektor Jamiah Al Imam Riyadh, atau mungkin Imam Masjid Nabawi, Imam Masjid Haram? Syaikh Rabi’ tidak menempati satu pun posisi itu. Beliau ini seseorang yang membanggakan diri sebagai “pemegang bendera jarah wa ta’dil”, lalu merasa kuasa untuk mengadili manusia dengan fatwa-fatwanya.

Sungguh, sangat mengherankan fenomena Syaikh Rabi’, ulama-ulama semisalnya, serta para pengikut fanatik mereka di seluruh Dunia Islam. Apakah mereka tidak takut dengan peringatan Al Qur’an, “Mereka ingin berhukum kepada thaghut, padahal mereka diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’: 60).

Orang awam:

“Coba Antum cari apa komentar, pandangan serta fatwa Syaikh Ibnu Baz, Syaikh ‘Utsaimin, Syaikh Al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad tentang Syaikh Muqbil dan Syaikh Robi’, adkah diantara Ulama Sunnah di zaman ini yg mengatakan bahwa kedua Syaikh tsb tdk hikmah dalam mengkaji dan menyebarkan ilmu?! Adakah yang berfatwa untuk mengabaikan kebaikan-kebaikan kedua Syaikh?! Adakah yang mengatakan kedua Syaikh secara membabi buta memusuhi harookaat islamiyah yg ada saat ini?!”

Jawab:

Mungkin kalau mencari kalimat verbal dari mereka, bisa jadi tidak ada. Tetapi bukti-bukti tentang kekasaran dua Syaikh itu sudah banyak. Banyak orang yang tahu, sehingga aneh jika dianggap tidak ada yang berani mengkritiknya.

Syaikh Rabi’ ini dia mencela keras Sayyid Quthb dalam buku-bukunya yang banyak. Dia mencela keras Abdurrahman Abdul Khaliq dan Ihyaut Turats dalam bukunya Jamaah Wahidah Laa Jamaat. Dia juga mencela keras Salman Al Audah dalam bukunya, Ahlul Hadits Humut Thaifah Al Manshurah. Dia mencela Safar Al Hawali, Abul Hasan Al Ma’ribi, Al Muntada’ Al Islami, Yayasan Al Sofwa Jakarta, sampai dia pernah mentahdzir Ustadz Ziatun Rasmin dari WI. Syaikh Rabi’ dan murid-muridnya sangat anti terhadap Ikhwanul Muslimin, Ihyaut Turats Al Islami, Jamaah Islamiyyah, dsb.

Syaikh Rabi’ sangat keras mencela Sayyid Quthb, sementara Syaikh Al Albani berusaha bersikap inshaf (adil) kepadanya, dengan memandangnya sebagai seorang penulis, sastrawan, sangat cemburu kepada Islam, dan wafat sebagai pejuang Islam. Ini ada rekamannya di www.islamgold.com. Kemudian Syaikh Rabi’ juga menyerang Salman Al Audah, sedangkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau jelas-jelas memuji Salman Al Audah dalam buku Al Uzlah Wal Khutlah. Beliau menganjurkan kaum Muslimin mengambil ilmu dari buku Salman Al Audah tersebut. Kata pengantar Syaikh bin Baz ada dalam buku Al Uzlah Wal Khutlah itu sampai saat ini. Kok bisa ya, Al Albani bersikap inshaf kepada Sayyid Quthb, Bin Baz mendorong kaum Muslimin membaca buku Salman, tetapi Syaikh Rabi’ mencela kedua tokoh itu sangat keras? Lalu siapa yang hendak dipegang, pandangan Syaikh Albani dan Bin Baz, atau Syaikh Rabi’?

Kemudian Syaikh Muqbil bin Hadi. Beliau ini sudah bersikap keras sejak kuliah di Madinah. Beliau sering mengkritik atau berdebat keras dengan dosen-dosennya. Hal itu beliau ceritakan sendiri dalam sebgain tulisannya. Puncaknya, beliau ditangkap oleh Pemerintah Saudi, lalu dipenjara di Madinah. Ini diakui sendiri oleh Syaikh Muqbil di salafipublications.com. Saya ada datanya, kalau Anda membutuhkan. Syaikh Muqbil kemudian dideportasi ke Yaman, dengan tidak boleh membawa barang-barang dari kamarnya. Beliau dibelenggu sampai tiba di Yaman. (Baca buku Siapa Teroris Siapa Khawarij, oleh Abduh ZA, hal. 119-121). Syaikh Muqbil ini ide-idenya banyak diikuti oleh Juhaiman Al Utaibi yang kemudian melakukan “kudeta Masjidil Haram”, tanggal 20 Juni 1979. Ingat lho, yang memberi perlakuan seperti di atas adalah Kerajaan Saudi, negara tempat Al Madkhali berasal).

Tentang kekasaran Syaikh Muqbil, dia menulis buku Iskatul Kalbi Awi Yusuf ibn Abdillah Al Qaradhawi (= membungkam anjing menggonggong, Yusuf bin Abdullah Al Qaradhawi). Beliau menyerang Ihyaut Turats Al Islami dan mensifati Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq seperti –maaf- anjing. Kalau dihalau ia menjulurkan lidah, kalau dibiarkan juga menjulurkan lidah. (Al A’raaf: 176). Beliau sering sekali menyebut Ikhwanul Muslimin dengan sebutan: Ikhwanul Muflisin (persaudaraan orang-orang bangkrut amalnya). Dari mana dia tahu amal seseorang itu bangkrut? Apakah dia tahu perkara ghaib di Hari Kiamat nanti? Atau Jibril telah memberitahukan kepadanya tentang “kebangkrutan” orang-orang Al Ikhwan? Padahal, hanya dengan mengatakan kepada seorang Muslim, “Allah tidak akan mengampunimu!” Perkataan ini bisa membuat yang mengucapkan mendapat murka Allah, apalagi dengan membatalkan amal-amal kaum Muslimin.

Apakah untuk hal-hal seperti ini, Anda akan diam saja? Mana buktinya bahwa Anda seorang Ahlus Sunnah? Jangan-jangan hanya klaim kosong tanpa bukti. Seharusnya, orang-orang itu memperlihatkan ketajaman pedang lidahnya untuk mencela kemungkaran-kemungkaran seperti di atas! Wal Izzatu Lillahi jami’an.

Orang awam:

Mungkin ini yang bisa meluruskan syubhat dlm pikiran Antum:

[1] Hikmah dalam dakwah. Akhi, hikmah bukan semata-mata bersikap lemah lembut dlm dakwah, tetapi hikmah adalah mencontoh dakwahnya Salaf, yaitu terkadang kita harus keras terhadap kelompok-kelompok yang menyimpang, tidakkah Antum membaca sikap-sikap keras generasi Salaf terhadap Ahlul Bid’ah, ana ingat betul bagaimana kata2 keras M. Yusron Anshor, terhadap Qoshim Matahar tokoh IAIN Mks ketika dialog di Mks.

Adapun tentang lemah lembut dalam dakwah juga terkadang ini yang dituntut, seperti terhadap orang2 awam yang mereka tersesat karena kebodohan mereka, tidakkah Antum membaca kisah perjalanan dakwah Syaikh Robi’ di Sudan yang diterima masyarakat luas karena kelemah lembutan Beliau?! Tidakkah Antum membaca bagaimana Syaikh Muqbil berdakwah kepada kabilah besar Wadhi’ah sehingga sampai hari ini ma’had Beliau didukung penuh oleh kabilahnya?! Itu semua karena Allah Ta’ala kemudian karena hikmah dalam berdakwah. Kalau Antum berprasangka baik kepada Ulama Sunnah, mestinya Antum katakan: “barangkali para Ulama tsb mengetahui ttg hikmah yang tdk aku ketahui, sehingga mereka bersikap keras kepada ahlul bid’ah”

Jawab:

Ya betul, kadang kita harus bersikap keras kepada firqah sesat. Contohnya adalah firqah kalian ini (Salafi Rabi’iyun). Saya anjurkan kaum Muslimin, jangan segan-segan dan setengah hati menghadapi kelompok satu ini. Mereka ini firqah sesat, tetapi mengklaim sebagai Ahlus Sunnah. Kalau Allah mudahkan, suatu saat akan saya tulis silsilah kesesatan kelompok satu ini, bi idznihi wa nashrih.

Tentang kekasaran Syaikh Muqbil tidak perlu dibahas lagi. Beliau ini pernah ditahan oleh Pemerintah Saudi, dicekal oleh Universitas Madinah, dideportasi langsung ke Yaman dari Saudi. Juhaiman Al Utaibi pernah berguru dari ceramah-ceramah Syaikh Muqbil ini. Itu hanya sebagian contoh saja.

Berikut contoh perkataan keras Syaikh Muqbil ketika memberi kata pengantar untuk buku Ahmad Manshur Al Udaini: “Di antara sekian banyak dai dhalalah (sesat) yang menyeru kepada kesesatan pada jaman sekarang ini adalah Yusuf Al Qaradhawi, Mufti Qatar. Sungguh dia telah menjadi amunisi baru bagi musuh-musuh Islam. Dia telah mencurahkan pena dan lisannya guna menyerang agama Islam. Dai Ahlus Sunnah tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengarahkan anak panah kepadanya dan menghabisi argumennya sebagaimana mereka telah menghabisi dai-dai sesat lainnya.” (DSDB I, hal. 100, dari sumber salafy.or.id).

Adapun tentang Syaikh Rabi’ Al Madkhali, ada beberapa tambahan data yang perlu dijelaskan dalam tulisan ini. Ia bersumber dari buku STSK karya Ustadz Abduh ZA dan buku DSDB II bagian lampiran oleh Abdullah Al Misri.

Tentang celaan Al Madkhali terhadap buku Ma’alim Fit Thariq karya Sayyid Qutbh, Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud rahimahullah memberi komentar. Beliau adalah anggota Hai’ah Kibaril Ulama Saudi (semacam MUI di Saudi), teman sejawat Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:

“Telah membawa berita kepadaku lebih dari seorang, tentang perkataanmu (perkataan Syaikh Rabi’ –pen.) di suatu pertemuan orang baik-baik (semoga mereka demikian adanya) bahwa engkau mengatakan buku Ma’alim Fit Thariq adalah buku terlaknat. Subhanallah!! Sebuah buku yang dibayar mahal oleh penulisnya dengan mati di jalan Allah karena menentang penguasa komunis Jamal Abdul Nashir, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal buku tersebut telah diedarkan oleh banyak pihak di Kerajaan Saudi ini selama bertahun-tahun, dimana mereka adalah orang berilmu dan berdakwah kepada Allah. Bahkan, banyak di antara mereka (yang mengedarkan itu –pen) adalah para syaikh dari syaikh-sayikhmu (dari guru-gurumu –pen). Dan tidak ada satu pun di antara mereka mengatakan seperti yang engkau katakan. Akan tetapi, engkau ini –wallahu a’lam– tidak mau memahami lebih mendalam apa yang engkau bicarakan sebelum MARAH, terutama untuk tema-tema semacam: Jail Qur’ani Farid, Jihad, Laa Ilaha Illallah Manhaj Hayat, Jinsiyyatul Muslim Aqidatuhu, Isti’lal Iman, Hadza Huwat Thariq, dll. dimana maknanya secara keseluruhan adalah keberagamaanmu kepada Allah? Bagaimana engkau nanti jika berdiri di hadapan Allah ketika orang ini (Sayyid Quthb) mendebatmu? Padahal, orang ini telah bertahun-tahun lamanya secara berturut-turut disifati oleh media massa Saudi sebagai Syahidul Islam.” (STSK, Abduh ZA, hal. 324-326. Dinukil dari buku Syaikh Abdullah Al Qu’ud, Majmu’ Rasa’il Wal Maqalat. Arsip bisa dilihat di www.islamgold.com).

Pernyataan Syaikh Al Qu’ud di atas adalah jawaban yang sangat tegas atas serangan-serangan Syaikh Rabi’ terhadap Sayyid Quthb. Seluruh konstruksi pemikiran Al Madkhali tentang Sayyid Quthb dimentahkan dengan sangat meyakinkan oleh Syaikh Al Qu’ud rahimahullah. Harus diingat, beliau adalah anggota Hai’ah Kibaril Ulama Saudi, teman sekantor dan segenerasi Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

Syaikh Rabi’ ini sangat keras sikapnya kepada tokoh-tokoh seperti Salman Al Audah dan Safar Al Hawali. Hal itu menurun ke para pengikutnya di Indonesia. Ketika Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah bersikap simpatik kepada kedua tokoh dai itu, Syaikh Rabi’ tidak terima. Lalu dia menuduh Syaikh Bin Baz telah menyerang dakwah Salafiyah (mungkin lebih tepat disebut Dakwah “Rabi’iyyah”).

Diceritakan, Syaikh Farid Al Maliki suatu ketika mengatakan kepada Syaikh Rabi’, “Maaf wahai Syaikh, saya mendengar Anda pada hari ini

–Allah dan para Malaikat-Nya serta seluruh manusia menjadi saksi- saat kita berada di bandara, Anda berkata kepada saya, bahwa Syaikh Bin Baz telah menyerang Salafiyah dengan serangan yang sangat keras. Kalau saya wahai Syaikh, mengatakan ini di dalam negeri Saudi: Syaikh Rabi’ menyerang Syaikh Bin Baz…Syaikh Rabi’ menyerang Syaikh Bin Baz…Syaikh Rabi’ menyerang Syaikh Bin Baz…begitu wahai Syaikh, apa pendapat Anda? Apa Anda setuju dengan apa yang saya lakukan?” (DSDB II, hal. 292-294. Disusun oleh Abdullah Al Misri).

Maksudnya begini, suatu saat di sebuah bandara Syaikh Rabi’ mengatakan kepada sejawatnya Syaikh Farid Al Maliki, bahwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah menyerang dakwah Salafiyah dengan sangat keras. Hal itu dikatakan setelah Syaikh Bin Baz di hadapan Syaikh Rabi’ memuji kebaikan Salman Al Audah dan Safar Al Hawali. Syaikh Rabi’ tidak terima dengan pujian itu, lalu mengatakan kalimat: Syaikh Bin Baz telah menyerang Salafiyah dengan serangan yang sangat keras. Itu diucapkan di depan Syaikh Farid Al Maliki, tidak di depan Syaikh Bin Baz. Lalu Syaikh Farid meminta ijin, bagaimana kalau perkataan Syaikh Rabi’ itu beliau sebarkan ke tengah-tengah masyarakat Saudi.

Syaikh Rabi’ mengakui bahwa dia memang mengatakan kalimat itu. tetapi dia meminta supaya Syaikh Farid tidak memberitahukannya kepada siapapun. Meskipun pada akhirnya, manusia sedunia mengetahui juga, bi idznillah. Singkat kata, tentang gerakan dakwah Rabi’iyyah ala Syaikh Rabi’ ini, ada ucapan yang bagus dari mantan teman sejawat Syaikh Rabi’ sendiri. Dia adalah Syaikh Abdurahman Abdul Khaliq, tokoh besar Ihyaut Turats Al Islami. Dalam salah satu bukunya beliau mengatakan, “Syaikh Rabi’ bahkan berpandangan bahwa memerangi jamaah-jamaah dakwah, para dai, dan orang-orang yang berjuang untuk agama ini sebagai suatu keyakinan kepada Allah dan jihad yang lebih besar dibanding semua jihad yang ada. Dia juga menganggap bahwa hal itu merupakan taqarrub kepada Allah yang lebih utama daripada taqarrub melalui shalat, dzikir, membaca Al Qur’an, dll.” (DSDB II, hal. 296-297, dinukil oleh penyusunnya dari Ar Raad Al Wajiz ‘Ala Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhali, oleh Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq).

Andai benar apa yang dikatakan Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, andai benar keadaan tokoh itu sebagaimana yang beliau katakan, maka yang memerangi perjuangan di jalan Allah hanyalah syaitan. Na’udzubillah min dzalik. Mungkin, inilah yang disebut “al hikmah” oleh orang-orang seperti @ orang awam dan kawan-kawan ini. Itukah hikmah, aiyuhan naas?????

Orang awam:

[2] Tidak layak seorang tholibul ilmi mengambil sikap yang jelek seperti ini kepada Ulama seperti Syaikh Muqbil dan Syaikh Robi’, betapapun para Ulama memiliki kesalahan, ini sudah dua kali ana katakan, klu Antum tdk percaya sama ana silahkan tanya kpd Ustadz2 WI, ana kembali ingat seorang teman yang meminjam buku2 ttg Sunnah kepada Pak Yusron, diatara buku tersebut adalah “Makaanatu Ahlil Hadits” karya Syaikh Robi’. Tidakkah Antum tahu bahwa para Ulama adlh pewaris para Nabi ‘alaihimussalam?!

Jawab:

Sebenarnya yang disebut ulama Ahlul Hadits itu seperti apa? Apakah karena banyak tahu seluk-beluk hadits, lalu disebut ulama Ahlul Hadits? Saya yakin, kalau itu ukurannya, Syaikh Rabi’ masih kalah dibandingkan seorang orientalis Belanda yang menyusun Mu’jam Mufahras Alfazhil Hadits. Padahal orientalis itu kafir, meskipun telah susah-payah menyusun indeks hadits.

Terus, kalau seseorang disebut ulama Ahlul Hadits, apakah dia tidak diwajibkan terlebih dulu melaksanakan amanah ilmu-ilmu hadits itu? Apakah ilmunya untuk orang lain, sementara dia tidak terikat oleh ilmu hadits? Saya yakin kalau seorang ulama hadits sejati, dia akan dianugerahi furqan yang sangat kuat, sehingga bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. [Surat Al Anfaal, 29].

Seorang alim di bidang hadits, dia berakhlak tinggi kepada siapapun, sekalipun dalam perbedaan pendapat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Ahlus Sunnah a’lamu bis shawaab wa arhamun lil khalqi” (Ahlus Sunnah itu paling alim dalam perkara kebenaran, dan paling pengasih kepada makhluk). Hal itu dicontohkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah ketika beliau legowo memuji muridnya sendiri, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah karena kealimannya dalam bidang hadits Nabi. Mereka berbeda pendapat dalam masalah-masalah fiqih, tetapi Imam Syafi’i tetap memuji Imam Ahmad. Lihatlah pula Syaikh Al Albani, meskipun beliau berbeda pendapat tajam dengan ulama-ulama lain, beliau tetap bersikap lembut, tidak mengotori penanya dengan celaan-celaan keras.

Bukankah sangat banyak hadits-hadits Nabi yang menjelaskan tentang keutamaan akhlak mulia. Sampai Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau menyusun bab tersendiri di kitab Bulughul Maram tentang keutamaan akhlak mulia. Kitab Riyadhus Shalihin An Nawawi sendiri banyak berisi hadits-hadits tentang akhlak mulia. Begitu juga Imam Bukhari menyusun Adabul Mufrad.

Kalau ada yang menyebut diri ulama Ahlul Hadits, tetapi akhlaknya beringas dan kasar, sangat dipertanyakan, benarkan dia ulama Ahlul Hadits? Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lembut, Dia mencintai kelembutan, dan Dia memberi di atas kelembutan apa yang tidak Dia berikan di atas kekasaran, dan tidak di atas selainnya (selain kelembutan).” (HR. Muslim dari ‘Aisyah Ra.).

Lalu, andai kita menyelisihi Syaikh Rabi’ dan Syaikh Muqbil, apakah lantas kita disebut sebagai anti hadits Nabi, anti Sunnah, anti kebajikan, anti Islam, anti ilmu, dsb? Sejak kapan standar kebenaran dalam Islam tergantung kepada kedua Syaikh itu, atau tergantung kepada manusia lain, selain Allah dan Rasul-Nya?

Andai ada yang membenci kedua Syaikh itu, bukan karena tidak tahu bahwa mereka berdua orang berilmu, tetapi karena sikap-sikap keras mereka terhadap gerakan-gerakan dakwah Islam selama ini dan perkataan-perkataan mereka yang memicu permusuhan dan fitnah di kalangan Ummat Islam.

Orang awam:

[3] Kedua Syaikh tidaklah memusuhi secara membabi buta yaa Akhi, hati2 lidah Antum melecehkan pewaris para Nabi, tak takutkah Engkau dengan adzab Allah Ta’ala?! Coba Antum perhatikan buku2 jarah Syaikh Robi’ terhadap Sayyid Quthub, semuanya didukung bukti dari kitab-kitab Sayyid, kemudian bantahan dari Kitab dan Sunnah serta penjelasan para Ulama Salaf, saya ingat kembali seorang Ustadz WI mengambil kitab Fi zhilalil Qur’an Sayyid Quthub dan menunjukkan kepada ana ttg penyimpangannya dalam kitab tsb.

Jawab:

Ini sudah terjawab dari perkataan Syaikh Abdullah Al Qu’ud rahimahullah di atas. Juga dibantah oleh surat yang ditulis oleh Syaikh Bakr Abu Zaid yang menolak memberi kata pengantar buku Syaikh Rabi’. Juga terbantah oleh perkataan Syaikh Abdurrahman Al Jibrin yang tidak ridha dengan ucapan-ucapan Al Madkhali terhadap tulisan-tulisan Sayyid Quthb. Dan terbantah juga oleh perkataan INSHAF (adil) dari Syaikh Al Albani yang menyebut Sayyid Quthb sebagai penulis, sastrawan, sangat cemburu terhadap Islam, terbunuh sebagai pejuang Islam, dan pembunuhnya adalah musuh Islam.

Bahkan dalam rekaman itu, Syaikh Al Albani ditanya tentang perlunya memperingatkan Ummat dari buku-buku Sayyid Quthb. Maka beliau menjawab dengan tegas: “Perlu diperingatkan dari kitab-kitabnya, yaitu ORANG-ORANG YANG DI SISI MEREKA TIDAK MEMILIKI WAWASAN KEISLAMAN YANG LURUS.”

Di mata orang-orang dungu, kalimat Syaikh Al Albani di atas masih dianggap belum jelas, masih meragukan, masih bimbang, masih multi tafsir. Bukan kalimat Al Albani yang meragukan, tetapi jalan pikiran mereka sudah hancur dimakan fanatisme dan sikap hizbiyyah yang membabi buta. Na’udzubillah min dzalik.

Orang awam:

[4] Yang engkau sangka sbg gerakan2 Islam dan tokoh2 Islam yang komitmen ingin megakkan syari’ah Islam yang dijarah oleh Asy-Syaikhaani sesungguhnya adalah gerakan2 dan tokoh2 bid’ah, seperti HT di atas, silahkan baca juga buku Syaikh Al-Albani dlm menjarah HT. Juga fatwa Syaikh Ibnu Baz dalam menjarah IM, JANGAN SEMBARANG mengatakan para Masyaikh membabi buta sebelum engkau baca bukti2 ilmiahnya, point empat ini akan datang rinciannya insyaAllah Ta’ala.

Jawab:

Antum berani sekali menuduh orang lain sebagai ahli bid’ah. Padahal setahuku bid’ah kalian lebih banyak dan lebih berbahaya ketimbang HT. Suatu saat, mudah-mudahan Allah lempangkan jalan, akan saya tunjukkan sifat-sifat tercela kalian. Jangan mudah menuduh orang lain ahli bid’ah, sebelum kalian menuduh diri sendiri! Pandangan-pandangan kalian itu banyak yang sesat, tetapi semua itu dibungkus dengan cover Salaf, Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits, Firqah Najiyyah, Thaifah Al Manshurah, dan sebagainya. Kalau sekedar mengklaim saja, siapapun bisa!

Sekali lagi, saya tidak dalam posisi membela HT, atau sepakat dengan kesalahan-kesalahan mereka. Saya yakini konsep Al Jamaah, sepakat dengan al haq, meskipun hanya seorang diri. Saya hanya menunjukkan sisi-sisi kebaikan HT yang seharusnya kaum Muslimin sungguh-sungguh berjuang meraihnya. Ahlus Sunnah seharusnya lebih sungguh-sungguh dari mereka. Oleh karena itu dalam tulisan tersebut, kalau kamu membecanya dengan hati dingin, kamu akan saksikan bahwa parameter yang saya gunakan, adalah pandangan Islam.

Tentang Syaikh Bin Baz menjarah IM. Silakan tampilkan lagi fatwa itu. Ia dikeluarkan kapan, dan dalam konteks apa? Terus kamu juga perlu membaca Fatwa Lajnah Daimah terbaru yang memberi ta’dil kepada IM. Kalau tidak tahu fatwa itu, insya Allah nanti saya tunjukkan link-nya di internet. Saya membaca salah satu buku Al Madkhali tentang Sayyid Quthb. Ini diterbitkan Darul Falah Jakarta. Saya membaca juga Jamaah Wahidah dari Al Madkhali. Kesimpulan saya, metode yang dipakai Syaikh ini hanyalah mencacat kejeleken-kejelekan seseorang. Biarpun dia memakai dalil-dalil Syar’i, belum tentu cara menempatkannya benar. Kalau hanya kejelekan saja yang dicacat secara sentimen (tendensius, pokoknya kelihatan yang dikritik itu salah), maka buku-buku Al Madkhali itu sebenarnya tidak layak dibaca lagi. Sebab dari metodenya saja sudah tampak kejelekannya, sehingga isinya diperkirakan juga tidak jauh dari itu.

Sebagai contoh, buku Jamaah Wahidah Laa Jamaat. Jika konsep Jamaah Wahidah itu diterima, maka di muka bumi ini harus ada Khilafah Islamiyyah yang bisa mengikat kaum Muslimin dalam Satu Jamaah. Sementara Al Madkhali dan murid-muridnya sangat alergi dengan isu Khilafah Islamiyyah. Jika dianggap Khilafah Islamiyyah tidak dibutuhkan, berarti Ummat Islam tercerai-berai seperti saat ini. Kemudian dengan membatalkan semua Jamaah-jamaah dakwah yang ada di negeri Muslim, hal itu bisa menjadi malapetaka bagi kaum Muslimin. Mungkin Al Madkhali dan murid-muridnya sanggup untuk menggantikan peranan seluruh jamaah-jamaah Islam di dunia itu. Atau jangan-jangan dia memahami, bahwa tidak boleh ada satu pun Jamaah Islam di dunia, selain jamaah/majlis dia sendiri. Ini contoh sisi berbahaya pandangan Al Madkhali.

Orang awam:

Akhirnya ana katakan: Belajar Akhi, di Mks ada ma’had STIBA namanya, kurikulum Madinah dan LIPIA, ana saran ke situ krn Antum pasti tdk mau klu ana saran belajar ke markaz Syaikh Muqbil di Yaman. Allaahu yahdiik”.

Jawab:

Ya, insya Allah saya akan senantiasa belajar, bi idznillah wa rahmatih. Informasi STIBA Makassar sudah lama saya dengar. Sebagian kenalan ada yang alumni dari sana, dan ada yang masih kuliah. Alhamdulillah. Syukran atas saran dan doa Antum. Semoga Allah menunjuki hamba-Nya jalan yang diridhai-Nya. Amin ya Rahiim.

Wallahu a’lam bisshawaab.

AM. Waskito.

Iklan

12 Responses to Diskusi dengan Seorang Rabi’iyun

  1. baabduh berkata:

    Kunjungi….nashihat.blogspot.com

  2. Daud berkata:

    Ahh masa?
    adakah kesalahan Salafy, manhaj atau kesalahan personelnya?

    Adapun dari IM notabene adalah kesalahan manhajnya. Liat lagi deh lebih jeli.

  3. hamba Allah berkata:

    masa sih?? itu kan cuma anggapanmu, emang mana buktinya?? klo ngomong jgn seenaknya, ntar semua yg kamu tulis harus dipertanggungjawabkan lho !
    jangan sampai kamu di cap sebagai pendusta!!

  4. hudzaifah berkata:

    yang kamu tulis,harus jelas sumbernya dari mana !! buku yang kamu tulis seharusnya bersifat ilmiah, jgn cuma ngambil dari situs !!
    jangan ikuti syahwatmu, tapi ikutilah al HAQ !!
    sungguh jangan sampai kamu jadi PENGEKOR SYAHWAT !!

    “DAN SUNGGUH KAMU BELUM MEMAHAMI & MEMAKNAI DG BENAR APA ITU MANHAJ SALAFY”

    JANGAN TERPENGARUH OLEH FITNAH & JGN JADI PENYEBAR FITNAH, IKUTI HATI NURANIMU DG SEBENAR-BENARNYA!!

    “HANYA ALLAH YG BISA MEMBERI HIDAYAH KPD hamba-NYA”

  5. abisyakir berkata:

    @ hamba Allah.

    Bukti apa yang kamu minta? Lho, yang ngomong seenaknya itu saya atau kelompok kamu ya? Lho, yang dipertanggung-jawabkan itu tulisan saya saja, atau termasuk tulisan kelompok kamu? Lho, yang terbukti pendusta itu saya atau kaum kamu?

    Sungguh, saya tidak takut dicap pendusta oleh orang-orang seperti kamu ini. Memangnya kamu dan kelompokmu itu apa kedudukannya dalam ibadah seorang Muslim? Apakah kami beribadah mencari keridhaan kamu?

    AMW.

  6. abisyakir berkata:

    @ Hudzaifah.

    Justru kamu yang payah. Sudah jelas-jelas disitu di bagian awal disebut menanggapi kritik seorang Salafi macam kamu ini. Baca dulu dong!

    Trus apa tulisan-tulisan fitnahan dari kalian melalui blog dan lainnya itu, itu semua ilmiah? Ilmiah apa? Ilmiah menurut takarannnya Al Madkhali?

    Seorang Muslim itu mengikuti Kitabullah dan Sunnah, bukan mengikuti manusia. Seperti kata Imam Malik, “Setiap perkataan bisa diterima, bisa ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini,” kata beliau sambil menunjuk pusara Sayyidul Mursalin Saw.

    Sementara kalian berhukum dengan hukumnya Al Madkhali. Apa yang benar menurut dia, kalian benarkan; apa yang salah menurut dia, kalian salahkan. Kalian telah menganggap Al Madkhali sebagai “arbabun min dunillah”. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    Itulah yang disebut Salafi? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    AMW.

  7. batasa81 berkata:

    boleh minta rekaman2 ustadz dzulkarnainnya tidak?

  8. abisyakir berkata:

    @ Batasa81…

    Itu ada di komputer saya. Dikirimi kawan asal Samarinda. Tapi komputernya untuk sementara belum bisa dipakai, ada kerusakan pada motherboard-nya. Masih versi lama sih komputernya. Afwan sebelumnya ya.

    AMW.

  9. Hardiono berkata:

    “Kita tahu, Sayyid Quthb pernah melakukan kesalahan. Tapi tidak berarti beliau bermaksud menyesatkan umat. Sebagai manusia, Sayyid Quthb tidaklah lepas dari kesalahan. Sejumlah ulama sudah mengkoreksi kesalahan beliau, dan itu sudah cukup. Jadi, tak perlulah kita membesar besarkan kesalahan Sayyid Quthb dan terus menerus menghujatnya”.

    Inilah yang pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu di sebuah situs Islam. Dan balasan yang saya terima dari beberapa Rabi’iyin benar benar mengejutkan saya. Tapi hal ini juga membuat saya sadar bahwa Rabi’iyin ‘berbeda’.

    Saya sering berdiskusi di internet dengan mereka yang disebut sebagai “Salafi”. Terkadang saya berbeda pendapat, tapi para Salafi selalu menanggapi perbedaan pendapat ini dengan cara yang baik dan menghindari celaan serta caci maki. Sedangkan para Rabi’iyin?. …. artikel di atas sudah menjelaskan hal ini.

    Tapi tak perlulah membalas celaan dengan celaan.

  10. Zaenal Abidin Si'Ardjuna berkata:

    @..abisyakir..

    “Tentang masalah kesalahan dan kebaikan, Syaikh Al Albani pernah ditanya tentang posisi Sayyid Quthb. Beliau mengatakan, beliau orang pertama yang mengkritisi Sayyid Quthb. Beliau pernah dikeluarkan dari Ikhwanul Muslimin karena berpendapat Sayyid Quthb berpaham wihdatul wujud.” {d’kutip dari respon bp atas pernyataan pertama @orangawam}

    respon ::
    maksudnya, dahulu syaikh Al-Albani adalah anggota Ikhwanul Muslimin.?

    ini pa, buat bp..

  11. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Syaikh Rabi’ itu sudah menciptakan banyak bid’ah yang tidak ringan timbangan-nya di sisi Allah Azza wa Jalla. Antara lain…

    a. Dia dan pengikutnya, menyebut dirinya sebagai “Hamil liwa’i jarah wa ta’dil fil ashril hadits” (pemegang bendera jarah wa ta’dil dii zaman ini). Katanya, istilah ini mulanya dari Syaikh Al Albani; tapi istilah itu sangat disukai di kalangan Rabi’iyun. Padahal ulama-ulama hadits membatasi masalah “jarah wa ta’dil” hanya dalam lingkup ilmu hadits; bukan untuk mencacati manusia.

    b. Dia dan pengikutnya merasa kuasa dan berhak untuk memberikan fatwa-fatwa layaknya dewan ulama dunia Islam yang mumpuni. Padahal posisi beliau (Syaikh Rabi’) tidak pernah menjadi anggota Dewan Ulama Saudi.

    c. Beliau mengajarkan murid-muridnya untuk memusuhi gerakan-gerakan Islam yang bertujuan menegakkan Syariat, melakukan perbaikan kehidupan, dan mencapai kedaulatan politik Islami. Perjuangan itu mereka labeli dengan istilah: Ahlul bid’ah, hizbiyah, khawarij, teroris, dsb. Manusia hendak mengadakan perbaikan, malah dilawan dengan labelisasi negatif. Sangat menyedihkan.

    d. Beliau dan murid-muridnya seperti punya dendam pribadi kepada Ikhwanul Muslimin dan para pengikutnya. Padahal dalam urusan Syariat dan Al Haq, dendam pribadi tidak boleh dibawa-bawa.

    e. Beliau begitu enteng dan mudahnya menggelari sebagian manusia dengan sebutan Sururi, Banawi, Quthbi, dan sebagainya (sebutan-sebutan yang disandarkan kepada nama manusia). Padahal ulama-ulama Salaf sangat hati-hati menggelari manusia dengan sebutan nama tokoh perintisnya.

    f. Syaikh Rabi’ telah merusuhi udara dakwah Islam dengan permusuhan, konflik, celaan, perselisihan, dan seterusnya. Sangat berbeda sikap dia dibandingkan Syaikh Bin Baz maupun Syaikh Al Utsaimin rahimahumallah dan para ulama Kibar lainnya.

    Kalau kita menerapkan prinsip “Jarah wa Ta’dil” seperti yang diterapkan Syaikh Rabi’, maka dengan kritikan-kritikan seperti di atas, sudah cukup baginya untuk tidak diambil ilmu dan taujihnya.

    Sebagai perbandingan:

    http://islamgold.com/view.php?gid=2&rid=143

    http://islamgold.com/view.php?gid=2&rid=143

    http://islamgold.com/view.php?gid=7&rid=139

    http://islamgold.com/view.php?gid=7&rid=138

    Syukran jazakumullah khair.

    Admin.

  12. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea berkata:

    @ abisyakir…

    Adapun tentang syaik rabi’ dan pengikutnya, maka Memanglah benar terhadap penomena banyaknya orang yang menyandarkan dirinya kpd syaikh rabi’, lalu menjadikan beliau sebagai parameter dalam bermanhaj dan menerapkan benci dan cinta atas dasar ucapan2 beliau, sehingga dengannya jadilah mereka sebagai orang2 yang menisbatkan diri kepada syaikh rabi’ dengan semangat jahiliah bukan dengan semangat ilmiah. Akan tetapi, sangat mungkin sekali bahwa manhaj syaikh rabi’ sangat jauh dengan orang2 tersebut…

    Kemudian, CARA syaikh rabi’ di’dalam mengkeritik.. terutama terhadap orang-orang yang beliau keritik yang sudah berpulang ke’Rahmatullah dan Maghfirah Allah.. nah, dalam masalah inilah (tentang cara mengkeritik) banyak yang tidak sepakat dengannya. Sebagaimana keritikan yang dilakukan oleh syaikh al-albani terhadap beliau :: “tetapi, saya mengatakan kepadanya -(yaitu kpd syaikh rabi)- lebih dari sekali via telpon antara saya dan dia. Seandainya dia MELEMBUTKAN dalam penggunaan sebagian ungkapan.[menit 4:51 – 5:02 dalam video di’atas]…

    Selanjtnya tentang syaikh rabi’ bahwa beliau MENYEBUT DIRINYA sebagai pemegang bendera al-jarh wat-ta’diil ini, maka apakah benar syaikh rabi’ menyebut dirinya demikian… adapun tentang adanya orang (selain syaikh rabi’) yang mengatakan dan menganggap bahwa syaikh rabi’ adalah pemegang bendera al-jarh wat-ta’diil, maka hal ini benar adanya…

    Dan tentang Ikhwanul Muslimin :: aku pribadi mencintainya, dan aku meras benci terhadap kekeliruan yang ada pada mereka yang aku cintai.

    Terkadang kita di tuntut untuk mengungkapkan aib salah satu saudara kita terhadap saudara yang lainnya manakala aib saudara kita menyebabkan manusia terpitnah dengannya.

    Terimakasih banyak pa kirimannya..^_^..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: