Bersama Seorang Vokalis Band

Sebuah wawancara IMAJINATIF dengan seorang vokalis band…

Siapa tidak kenal Arul, vokalis band ngetop Pertapaan? Siang kemarin wartawan Cok & Recok menjumpai Arul di lokasi syuting sinetron, Si Kumbang Pemangsa Kembang. Vokalis yang nama aslinya Arya Lesmana ini lagi dikontrak untuk mengisi soundtrack sinetron. Akhir-akhir ini nama Arul mencuat setelah tersiar gossip affair antara dia dengan seorang model iklan, Marlena.

Berikut isi wawancara kami:

Wartawan: Selamat ya, album terbaru kamu sudah keluar.

Arul: Makasih makasih, itu juga atas dukungan para wartawan.

Wartawan: Kamu pasti seneng ya?

Arul: Tentu saja, Mbak. Gue seneng sekali. Waktu sebelum peluncuran album kemarin, 20 kali Asep bolak-balik ke WC, karena deg degan banget.

Wartawan: Siapa tuh Asep?

Arul: Oh, maaf. Gue masih suka terbawa kebiasaan kampung. Kadang bilang gue, kadang bilang Asep. Maklum, gue tadinya orang desa.

Wartawan: Arul enak dong jadi orang terkenal?

Arul: Tentu, Mbak. Asep, eh maksudnya gue, tadinya cuma anak kampung. Sehari-hari disuruh Emak beli kopi ke warung, suka diledekin teman, 6 kali naik kelas dikatrol terus. Guru-guru kasihan melihat gue. Gue tadinya tidak dilihat. Tapi sekarang, semua mata tertuju ke gue. Tabloid, majalah, TV tidak akan rame kalau tidak memuat gue. Gue ini ada aura hoki, kata ahli spiritual.

Wartawan: Gimana hubungan kamu dengan Marlena?

Arul: Ho ho ho…(tampak malu-malu). Itu biasa saja, dia teman kok. Tidak ada apa-apa. Kita teman baik, sama-sama terjun di dunia entertainment.

Wartawan: Tapi katanya rumah-tangga kamu kisruh gara-gara hubungan kamu dengan Marlena?

Arul: Ya, itu sih kata wartawan. Rumah-tangga gue baik-baik, kok. Tidak ada masalah apa-apa. Ini cuma dibesar-besarkan media.

Wartawan: Katanya kamu mau digugat oleh keluarga isteri kamu?

Arul: Ha ha ha… Dari mana tuh beritanya? Mbak ini bisa-bisa aja. Suwer deh, rumah-tangga Asep tidak ada apa-apa. Baik-baik aja. Asep sama isteri baik-baik saja, sakinah mawaddah wa rahmah. Soal ada konflik itu kan biasa, namanya bumbu kehidupan rumah-tangga.

Wartawan: Ya sudah, sekarang kita bicara soal band. Kenapa kamu tertarik jadi vokalis band seperti sekarang?

Arul: Hmm… Seperti tadi gue katakan, dulunya gue ini bukan apa-apa. Gue ini nothing. Sementara kalau gue lihat kehidupan vokalis-vokalis band, mereka enak banget. Mereka dipuja-puja, khususnya ama cewek-cewek. Gue mau seperti itu. Gue mau dipuja ama cewek-cewek.

Wartawan: Emangnya enak setelah jadi vokalis band?

Arul: Ya enak banget. Gue banyak uang, tawaran manggung dimana-mana. Sekali manggung, minimal kita dapet 50 juta. Lumayan kan? Kalau gue narik bejak, sampek pinggang copot pun gak bakal dapat uang segitu. Tawaran iklan terus mengalir. Kemarin aja ada tawaran baru jadi bintang iklan untuk obat cacing, obat panas dalem, dan obat disentri.

Wartawan: Lainnya lagi?

Arul: Yang paling heboh tuh, gue dipuja ama cewek-cewek. Kita punya fans dari Sabang sampai Merauke. Mereka bela-belain tidak lulus sekolah, tidak jadi menikah, bisnisnya bangkrut, hanya karena mau ketemu gue. Foto-foto gue dipajang dimana-mana, tanda-tangan gue terasa keramat, ringtone lagu-lagu gue laku keras. Pokoknya puas banget deh. Tidak rugi Emak melahirkan Asep, eh maksudnya gue.

Wartawan: Kamu sendiri memang hobi musik?

Arul: Tolong ini off the record ya. Sebenarnya gue ini kepaksa jadi vokalis. Gue cari kerja kesana kemari susah, kuliah gak lulus-lulus, mau jadi caleg gak punya duit, mau jadi ustadz gue belum bisa ngaji. Apes deh. Waktu itu gue dipaksa-paksa nyanyi di pesta kawinan. Gue maunya menolak, gue malu. Tapi karena dipaksa-paksa, ya udah gue jalanin aja. Pas lagi nyanyi, gue lupa lagunya. Gue ditertawain semua orang. Suwer, gue nangis waktu itu. Malu banget rasanya. Muka gue hancur-lebur deh. Kebetulan, di pesta kawinan itu ada seorang bos rekaman musik. Dia kasihan banget melihat nasib gue. Dia lalu janji akan orbitkan gue jadi vokalis band. Apa boleh buat? Itu rejeki gue, ya gue ambil aja.

Wartawan: Wah, enak dong. Saya juga mau begitu.

Arul: Ya, rejeki orang laen-laen, Mbak. Sudah aja Mbak jadi wartawan kayak gini. Gak usah masuk bidang musik. Sekarang aja yang main band udah terlalu banyak. Setiap minggu muncul band baru. Namanya aneh-aneh. Kalau band-band itu terus muncul, ntar rejeki gue gimana? Ntar gue gak dapet jatah, dong.

Wartawan: Ngomong-ngomong, banyak orang suka sama gaya kamu.

Arul: Siapa dulu, dong? Gue nih dari dulu hobi meniru gaya nyanyi vokalis-vokalis top dunia. Gue seneng beli VCD/DVD musik. Gue sering niruin gaya mereka di depan cermin. Kalau tidak niru begitu, gue gak punya gaya apa-apa.

Wartawan: Kenapa sih pemain-pemain band kalau lagi main gayanya kayak orang kesurupan? Kepala digoyang-goyang, rambut dikibas-kibaskan, badan digetar-getarkan, kakinya jingkrak-jingkrak, matanya merem-merem?

Arul: Oho, itu bagian paling nikmat dari permainan band. Kami sangat menikmati saat bergaya dengan gitar, stick drum, keyboard. Sebenarnya, musik kami tidak bagus-bagus amat, tapi gaya kami OK banget. Kata teman-teman, gak apa-apa musik jelek, asal gayanya dapet. Itu rahasianya.

Wartawan: Tapi kan dari dulu gaya pemain band gitu-gitu aja? Tidak ada perubahan. Lama-lama yang nonton bosan juga.

Arul: Aduh, tolong jangan bosan! Paksa-paksain deh suka. Sebab kami gak tahu lagi, harus bergaya gimana lagi? Oh, saat mata kami merem-merem gitu, rasanya sensional banget. Itu tuh yang bikin kami dipuja-puja ama cewek.

Wartawan: Kamu seneng banget dipuja-puja cewek. Kenapa sih?

Arul: Ini off the record ya, tolong nanti jangan dimuat. Gue nih selama SD sudah 12 kali putus cinta. Gue dendam sama cewek. Gue ingin buktikan, cewek-cewek tuh akan berebut salaman sama gue. Eee, sekarang terbukti.

Wartawan: Hiih, narsis amat. Emang kamu siapa sih?

Arul: He he he, sejujurnya gue nih naif banget. Orang-orang aja yang gak tahu. Kalau tahu, mereka belum tentu mau terima foto-foto gue.

Wartawan: Emang sehari-hari kamu gimana?

Arul: Gue paling kedul di rumah. Gue suka begadang main gapleh sampe jam 2 malam. Habis itu gue tidur. Bangun-bangun jam 11 siang. Gue takut air, jarang mandi. Kesibukan gue di rumah kalau tidak ada acara manggung, ya nonton TV, ngadu jangkrik, dan main gapleh. Soal isteri, asal dia sudah dikasih duit bulanan ama biaya salon, dia akan diem.

Wartawan: Kembali ke soal gaya di panggung. Kenapa kamu suka main-mainin pegangan mikrofon? Itu kan gaya lama, bosan melihatnya.

Arul: Iya sih, itu masih gaya lama. Kayak band-band luar negeri. Kita disini cuma fotokopi aja. Kalau bikin gaya sendiri, repot. Takut tidak laku.

Wartawan: OK, lalu gimana dengan cara memegang mikrofon? Kenapa mikrofon selalu ditempelkan di bibir? Kenapa tidak dijauhkan dikit dari bibir? Apa tidak takut ilernya netes ke mic? Mic-nya kan jadi bau?

Arul: Aduh, gimana ya. Udah dari sononya begitu. Pokoknya vokalis yang keren itu seperti menjilati permen loli.

Wartawan: Kamu kelihatan sangat suka manggung main konser?

Arul: Jujur saja, iya. Aku suka konser.

Wartawan: Kenapa? Karena dipuja oleh ribuan penonton.

Arul: Itu pasti. Tapi ada alasan lain, duitnya besar dan main konser itu gampang.

Wartawan: Yang bener aja? Masak gampang sih?

Arul: Suwer, ini gampang banget. Gue cuma perlu hafal awal-awal lagu saja. Kesananya gue minta bantuan penonton untuk nerusin nyanyi.

Wartawan: Maksud kamu gimana?

Arul: Iya, gue nyanyi sebentar dua kalimat tiga kalimat. Habis itu gue angkat mikrofon, gue arahin ke penonton, biar mereka terusin sendiri. Cuma gitu doang, kok. Mudah banget. Habis itu, gue dapet duit setidaknya buat gue sendiri 20 juta sekali main. Enak kan.

Wartawan: Emang kamu hafal semua lagu-lagu itu?

Arul: Tidak juga. Gue gak pernah ngafalin lagu. Yang hafal penggemar-penggemar gue. Kalau lagi rekaman, ada teksnya, gue tinggal baca. Kalau lagi konser, ada earphone, gue didengerin lagu dari jauh. Gitu aja kok.

Wartawan: Baik Arul. Pertanyaan terakhir. Gimana cara kamu meningkatkan popularitas, kalau nanti bintang kamu mulai redup.

Arul: Gampang aja. Gue tinggal bikin acara selingkuh ama siapa gitu. Habis itu kasih bocoran ke wartawan infotainment. Ya nanti kita sandiwaraan. Ada yang bagian marah-marah, bagian nangis, bagian konferensi pers, dan macem-macem deh. Kalau sekali masuk infotainment, dijamin gue akan terkenal lagi. Ntar dari situ tawaran-tawaran bakal rame lagi.

Wartawan: Oh, begitu ya. Kamu licik juga.

Arul: He he he…

Wartawan: Ada syair lagu yang paling berkesan menurut kamu? Kalau ada tolong sekalian nyanyiin!

Arul: (Setelah diam sejenak) “Dunia ini panggung sandiwara… Ceritanya mudah berubah…”

Wartawan: Dasar, kamu suka sandiwara ya!

Arul: Ha ha ha…siapa dulu, dong?

=============================================================

WARNING: Wawancara ini hanya fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama tokoh, kejadian, dan tempat. Itu cuma kebetulan. Maafin ye!

=============================================================

Sebuah upaya kecil untuk menertawakan kenaifan diri, ke-ndeso-an budaya, serta kelumpuhan kreativitas. Seharusnya, kita hidup sebagai manusia besar, meskipun tubuh kecil, ekonomi lemah, dan diabaikan manusia. Jangan terlena oleh gebyar semu yang tampak heboh, padahal kosong arti! Kembali kepada Rabb-mu itulah jalannya.

AM. Waskito.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: