Profil Negara “Serba Salah”

Beberapa waktu lalu ada pengumuman di TV tentang kemungkinan kenaikan komponen biaya Haji tahun depan. Karena nilai rupiah terus merosot mengikuti kemerosotan dolar, biaya Haji diperkirakan akan naik. Para pedagang oleh-oleh Haji di Tanah Abang juga merasa kewalahan. Nilai rupiah menjadi semakin lemah terhadap real Saudi. Saat ini saja, nilai kurs rupiah ke dolar sekitar Rp. 13.000,- per dolar. Padahal selama beberapa tahun terakhir berada di kisaran Rp. 9.000 sampai Rp. 10.000,- per dolar.

Negara kita ini memang negara “serba salah”, negara “maju kena mundur kena”. Ini negara selalu malang di berbagai kondisi. Saat harga minyak dunia naik, kita tidak kebagian nikmatnya, padahal kita juga masih memproduksi dan menjual minyak. Justru harga BBM dalam negeri malah dinaikkan. Sebaliknya, saat harga minyak dunia turun drastis ke level US$ 50 per barrel, kita juga tidak kebagian nikmatnya. Harga BBM susah turun, harga-harga barang lebih susah lagi turunnya. Malah saat ini dimana-mana terjadi demo menolak “SKB 4 Menteri” tentang upah buruh. Katanya, akibat krisis global saat ini sekitar 10 juta buruh akan di-PHK.

Begitu juga dengan nilai kurs rupiah. Saat harga minyak dunia naik tinggi, sampai mendekati level US$ 150 per barrel, kurs rupiah merosot terhadap dolar Amerika. Saat harga minyak merosot tajam, rupiah merosot lagi. Jadi enaknya bagaimana? Ya, tidak ada enaknya, wong memang ini negara “serba salah”. Seperti sebuah analogi, “Kalau berjalan diterkam buaya, kalau berlari dikejar harimau, kalau diam saja diseruduk gajah.” Di semua sisi serba salah, serba sial, malang terus.

Saat ekonomi Amerika berjaya, kita terus diobok-obok mereka; saat Amerika terpuruk, kita malah ikut terpuruk. Negara apa ini? Segalanya serba aneh, meskipun disini ada ribuan profesor, doktor, ilmuwan, intelektual, politisi, jendral, perwira tinggi, teknisi, advokat, dan lain-lain. Semua itu seakan tidak bisa menolong rakyat Indonesia lepas dari berbagai himpitan kesulitan. Bahkan mereka sendiri ikut menanggung kesulitan itu.

Pertanyaannya, mengapa bangsa ini menjadi sangat hina seperti ini?

Jawabannya mudah, sebab kita selama ini tidak berusaha menjadi diri sendiri, tetapi selalu ingin seperti orang lain. Jaman Orde Lama, bangsa ini ingin menjadi pelayan Komunisme, dengan kesengajaan membuat poros Jakarta-Peking-Pyongyang. Di jaman Orde Baru kita berkiblat ke Amerika. Mafia Berkeley menjadi poros pembangunan ekonomi. IMF dan World Bank menjadi sohib setia. Jaman Refaormasi malah semakin ugal-ugalan. Kita benar-benar ingin mengkopi prinsip-prinsip liberalisme. Liberalisme dilaksanakan dengan dukungan UU di sektor politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, media massa, dll. Bahkan keyakinan beragama pun ingin dileberalisasikan. Sangat menjijikkan!

Jusuf Kalla dengan gagah mengatakan, “Kita berani memutuskan hubungan dengan IMF.” Yah, baru sekarang hubungan itu diputuskan, setelah IMF puas meremukkan sendi-sendi ekonomi nasional. Bahkan, para menteri ekonomi yang diangkat masih “berdarah” IMF. Bayangkan, Sri Mulyani Indrawati itu dulu benar-benar menjadi supervisor IMF. Dia juga ekonom UI yang terkenal dengan Mafia Berkeley-nya itu. Mungkin secara de jure tidak ada hubungan dengan IMF, tetapi secara de facto pemikiran IMF masih laku keras. Tidak heran kalau tabloid Suara Islam menyebut Indonesia saat ini sebagai: Negara bagian Amerika ke-54.

Ya, harus diakui juga bahwa dalam tubuh bangsa ini, terutama kalangan elit politik, banyak yang menjadi komprador (jongos) orang asing. Ini kenyataan sebenarnya, bukan diada-adakan. Mereka itu sudah ada sejak awal Kemerdekaan RI, bukan hanya saat ini. Para jongos man ini, mereka memang mengabdi untuk kejayaan bangsa asing. Mereka sangat suka mendapat kemegahan, status sosial, kekayaan bertumpuk, puji-pujian, dan sebagainya. Semua itu diperoleh dengan menjerumuskan nasib rakyat ke tangan kolonialis asing. “Masa bodo rakyat sengsara, yang penting gue bisa seneng-seneng. Gue bisa makan enak, rumah megah, rekening bank tebal, bisa pelesir ke luar negeri, bisa berzina setiap hari dengan siapapun yang gue mau.” Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dulu di masa penjajahan memang ada gen para komprador ini. Mereka rela menjadi ambtenar, ketika rakyatnya sengsara. Nah, anak-anak ambtenar itulah yang kemudian menjadi elit-elit politik nasional. Giliran bertempur, mereka sembunyi; giliran bagi-bagi jabatan, merasa paling pejuang. Sangat menjijikkan memang.

Di mata orang-orang itu tidak ada bedanya hidup di alam penjajahan dan alam merdeka. Mereka tetap menjadi jongos, melayani ambisi kolonial. Mereka tidak peduli dengan kehinaan macam apapun, selagi bisa makan enak, punya isteri cantik, rumah megah, uang setumpuk, dan status sosial tinggi.

Ya, bangsa Indonesia harus menyadari kenyataan ini, bahwa dalam tubuh bangsa ini memang ada sejenis bakat untuk menjadi pengkhianat, jongos, agen-agen asing. Bakat itu ada dan diwariskan dari generasi ke generasi, sejak sebelum Indonesia merdeka sampai saat ini. Coba perhatikan, bagaimana kondisi Boedi Oetomo (BO) ketika itu! Siapakah mereka? Bukankah mereka adalah cikal-bakal pabrik jongos Indonesia? Mereka itu orang-orang elit Jawa Madura, anak keturunan para ambtenar, dididik dengan sistem pendidikan sekuler Belanda, sehari-hari berbahasa Belanda. Nah, orang-orang sejenis ini yang kemudian menjadi elit-elit Indonesia. Tragisnya, hari lahir BO lalu didaulat menjadi Hari Kebangkitan Nasional. Mengapa tidak sekalian saja mengambil hari lahir Snouck Hurgronje?

Kemudian perlu dipahami juga. Ketika para jongos itu telah menguasai posisi-posisi mapan, telah bermegah-megah dengan dunia yang dikuasainya, tidak berarti mereka diam saja dengan posisinya. Justru mereka terus berjuang mati-matian mempertahankan posisinya itu. Jangan dikira mereka akan mau berbagi fasilitas, selembar kertas atau sebutir permen pun, tidak akan mereka berikan kepada kaum santri yang sejak jaman dahulu memusuhi mereka. Kaum santri dengan perhimpunan jongos itu ibarat air dan api, keduanya tidak bisa disatukan. Air bisa memadamkan api, dan api bisa membuat air menguap sampai habis.

Para dai, ustadz, dan aktivis Islam perlu sering-sering meminta maaf kepada Ummat. Katakan kepada mereka, bukan karena kita tidak peduli dengan penderitaan yang mereka alami; tetapi para jongos itulah trouble maker-nya. Mereka itulah inti masalah penderitaan bangsa Indonesia. Mintalah maaf kepada Ummat dengan menjelaskan bahwa kekuatan kita terlalu lemah di hadapan JJN (Jaringan Jongos Nasional) ini. Kekuatan mereka besar, akses dananya kuat, jaringannya sistematik. Hebatnya lagi, mereka bergerak bagai angin, tidak tampak wujudnya, tetapi sangat terasa akibatnya. Tahu-tahu, kita telah menderita kekalahan. Itulah bedanya dengan Ummat Islam. Kita justru senang ribut-ribut, sedangkan amal nyata di lapangan minus. Persis ungkapan pepatah, “Tong kosong nyaring bunyinya.”

Negara ini akan selalu menjadi negara “serba salah”, “serba malang”, “maju kena mundur kena”, selama kita tidak mampu melepaskan diri dari jeratan sistem yang dibuat orang asing. Dan langkah melepaskan diri itu pasti akan dihalang-halangi oleh aliansi para jongos itu. Bagaimana tidak, wong ongkos bensin, ongkos rokok, dan biaya perzinahan mereka dibiayai asing kok? Mereka sudah dibuat senang, pasti akan mengabdi tulus murni kepada majikannya. Na’udzubillah min dzalik.

Hanya Allah yang Maha Perkasa yang mampu mengalahkan mereka, sebagaimana Dia telah mengalahkan Uni Soviet waktu itu dan kini meremukkan Amerika. Fanshurna ya Allah, innaka Antal Azizul Hakim. Wa najjina min qaumiz zhalimin, wa Anta Maulana Nikmal Maula. Allahumma amin.

[AMW].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: