Qurban dan Kontroversi Daging Kornet

Kadang terasa aneh kalau melihat sikap Ummat Islam di Indonesia. Saat-saat tertentu, mereka begitu tidak kreatif, sehingga karya-karya yang dihasilkannya sangat memilukan. Contoh, setelah novel Ayat Ayat Cinta (AAC) meledak hebat, melebihi “ledakan” di Sari Cub Bali (he he he…bercanda). Mendadak banyak orang membuat novel-novel serupa. Mereka memakai judul “cinta” juga, menuturkan kisah romantisme santri, bahkan mencari foto-foto wanita bercadar untuk dipasang di cover. Saya rasanya “mau muntah” saat melihat novel-novel seperti itu. “Ini orang akalnya ditaruh dimana? Kok mau-maunya mencari duit dengan cara seperti itu?” Terus terang saya merasa kesal sekali melihat perilaku kampungan itu.

Tetapi kadang, kita justru over acting dalam kreativitas. Apa saja ingin dibuat kreatif, tampil beda, termasuk hal-hal yang sudah disepakati secara mapan dalam tradisi peribadahan Islam selama ribuan tahun. Termasuk disini dalam soal, pengelolaan daging hewan qurban. Sebagian orang mengklaim ingin memanfaatkan daging qurban itu untuk pemberdayaan Ummat. Lalu membuat sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, bahkan kemudian menjadi penyimpangan.

Perlu diketahui, daging qurban yang disembelih ketika Idul Adha, ia benar-benar diadakan untuk menyemarakkan suasana gembira hari raya Id. Daging qurban itu sama dengan Zakat Fithrah, dibagikan untuk membantu Ummat Islam agar merasa gembira saat hari raya. Dalam qurban dan Zakat Fithrah, keduanya ditujukan untuk kegembiraan Ummat di hari Id. Jadi misinya bukan untuk pemberdayaan. Untuk pemberdayaan sudah ada instrumen lain, yaitu Zakat Maal, Baitul Maal, infaq, shadaqah, bantuan negara, dan lainnya.

Bukan tidak boleh memberdayakan, tetapi lihat konteksnya! Adalah lucu, untuk kegembiraan hari raya Id malah punya niat memberdayakan; tetapi dana Zakat Maal malah dipakai memperindah bangunan masjid atau mendirikan gedung-gedung yang tidak produktif bagi Ummat.

Baik daging qurban atau beras (Zakat Fithrah) nilainya tidak seberapa, sifatnya konsumtif. Hal ini dimanfaatkan untuk meenggembirakan kaum Muslimin di hari raya yang agung (Idul Adha atau Idul Fithri), agar ketika itu mereka mengagungkan Allah bersama kalimat-kalimat takbir yang digemakan. Hal ini benar-benar untuk kebutuhan konsumtif saat hari raya Id, agar kaum Muslimin bisa tersenyum gembira, merasakan Keagungan Allah dan Kemurahan rizki-Nya.

Contoh Komitmen Terpuji

Saya sangat apresiatif ketika YPM Salman dalam Shalat Id 1429 H komitmen untuk membagikan daging titipan para pequrban (muqarrib) ke warga fakir-miskin di Bandung dan sekitarnya. Selain itu mereka juga tidak melupakan warga fakir-miskin di sekitar kampus ITB. Ini adalah cara berpikir yang benar, insya Allah. Sasaran pembagian itu tetap diprioritaskan kepada fakir-miskin, tetapi tidak melupakan hak kaum Muslimin yang paling dekat. Mereka itu adalah tetangga terdekat kita, adalah jamaah masjid kita, sudah selayaknya diberi perhatian lebih, dibandingkan orang-orang yang jauh. Bukankah Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan jaarah (tetangganya).” Tetangga itu adalah orang lain yang jarak rumahnya paling dekat dengan pintu rumah kita.

Pesantren Daarut Tauhiid Gegerkalong Bandung tadinya selalu menyelenggarakan pemotongan hewan qurban sendiri, lalu membagikan kepada masyarakat sekitar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pembagian itu dilakukan dengan menyerahkan hewan-hewan hidup kepada masyarakat, agar mereka menyembelih sendiri. Mungkin pertimbangannya, biar tidak repot mengelola penyembelihan hewan ternak. Menurut saya, kita tidak perlu merasa repot. Semua ini adalah amanah Syiar Islam yang mesti dijalankan secara sabar dari waktu ke waktu, selama masih ada kaum Muslimin di suatu tempat. Jangan merasa rikuh dan repot dengan mengelola hewan-hewan ternak itu, mulai dari perilakunya, suaranya, kotorannya, bulunya, dagingnya, dan segala macam urusan berkaitan dengannya. Jangan merasa rikuh, sebab semua ini adalah demi mengagungkan Syiar Agama Allah. “Demikianlah (perintah Allah), dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar agama Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj: 32).

Justru kita tidak boleh karena merasa repot lalu meninggalkan Sunnah penyembelihan hewan qurban di lingkungan kita. Kalau pemikiran itu diterima, maka betapa banyak amanah-amanah Syariat Islam yang harus ditinggalkan karena merasa repot. Suatu saat, mungkin orang tak mau lagi melaksanakan Haji, tinggal membayar para “joki” untuk menunaikan ibadah tersebut. “Ya, gampang! Tinggal bayar orang lewat transfer rekening dan koneksi internet. Mudah bukan?” Kalau begini caranya, agama ini akan lebih cepat bubar sebelum waktunya. Na’udzubillah min dzalik.

Seandainya benar-benar merepotkan, sehingga timbul madharat yang besar akibat proses penyembelihan qurban, maka lakukanlah prosesi penyembelihan secara simbolik. Misalnya, di kawasan itu disembelih 5 sampai 10 ekor hewan ternak. Hewan-hewan lainnya, boleh disebar sebagai hewan hidup ke tengah masyarakat. Satu sisi, kita merasa lebih ringan sebab hanya menangani sedikit hewan, di sisi lain, Sunnah penyembelihan qurban tetap dilaksanakan. Ketika membagi hewan-hewan hidup pun, sasaran utama adalah fakir-miskin terdekat. Kalau di kawasan itu sudah overload (padat), boleh dibagi ke berbagai tempat yang jauh. Pendek kata, mulai urusan ini dari sasaran terdekat!

Cara menarik ditempuh oleh Dompet Dhuafa Republika. DD melakukan tebar hewan qurban ke berbagai wilayah di Tanah Air. Mereka mengerahkan para petugas dan relawannya untuk menyerahkan hewan-hewan qurban hidup ke masyarakat agar dikelola sendiri oleh mereka untuk menyemarakkan Idul Adha. Cara seperti ini bisa dimaklumi, sebab DD memang lembaga sosial yang mobile, tidak memiliki jamaah sendiri seperti masjid atau pesantren-pesantren.

Cara Aneh Distribusi Daging Qurban

Selama bertahun-tahun saya mengikuti Shalat Idul Adha di sebuah masjid kampus, di kawasan Gegerkalong Bandung. Disana saya saksikan suatu kenyataan yang aneh. Setiap menjelang Shalat Id, disana terdapat puluhan hewan qurban, sapi, kambing, dan domba. Hewan-hewan itu diikat di dekat lokasi shalat, sehingga seluruh jamaah bisa menyaksikan, kecuali jamaah tuna netra. Sebelum shalat, MC mengumumkan jumlah hewan qurban dan jumlah pequrbannya. Tidak lama setelah shalat selesai, penyembelihan segera dimulai. Hampir setiap penyembelihan, ada puluhan orang datang untuk menyaksikan. Masjid terasa ramai, karena dikunjungi orang-orang yang ingin menonton atau mau mencari daging. Laki-laki, wanita, anak-anak, dewasa, banyak berdatangan ingin mendapat daging. Tetapi sayangnya, ratusan bungkus daging itu rata-rata diangkut ke tempat-tempat yang jauh. Katanya dibagikan di desa-desa binaan yang terpencil. Saya saksikan sendiri, betapa banyak orang yang datang, sudah menanti lama, tetapi pulang dengan tangan hampa. Kasihan sekali mereka. Itu pun para panitia tampak bersikap arogan, seakan mereka adalah pihak yang paling berhak. Cara-cara seperti ini sungguh aneh.

Itu dulu yang saya saksikan. Tetapi saat ini tidak tahu bagaimana kondisinya, apakah lebih baik atau justru lebih buruk?

Sekali lagi, daging qurban itu benar-benar untuk tujuan konsumtif di saat hari raya, agar Ummat Islam bergembira di hari yang mulia. Namanya juga daging, jumlahnya pun tidak banyak bagi setiap penerima. Tidak mungkin dengan daging senilai itu kita bicara tentang pemberdayaan. Pemberdayaan apa? Paling 2-3 hari daging itu akan habis dikonsumsi. Andai untuk pemberdayaan, jangan berikan daging bungkusan, tetapi berikan hewan hidupnya plus sejumlah uang, agar mereka mulai beternak. Itu kalau jujur kita mau memberdayakan. Jangan berpikir naif, ingin memberdayakan Ummat dengan sebungkus daging.

Sasaran utama pembagian qurban adalah fakir-miskin di sekitar lokasi pemotongan hewan qurban. Orang-orang sekitar itu yang seharusnya didahulukan. Kalau masih ada sisa bagikan ke orang-orang yang mampu di tempat itu, karena mereka boleh juga ikut merasakan barakah daging qurban. Kalau masih ada sisa juga, bagikan ke tempat-tempat yang jauh, sesuai kemampuan. Amanah utama yang harus ditolong oleh setiap panitia pembagian qurban adalah fakir-miskin di sekitarnya. Fakir-miskin yang jauh, itu tanggung-jawab kaum Muslimin yang dekat lokasi mereka. Kecuali, dalam situasi darurat tertentu, misalnya ada wabah kelaparan, wabah penyakit, bencana alam, kekeringan lama, atau hal-hal yang sangat mendesak (dharuri), boleh kita bagikan hewan qurban tersebut sebagai bentuk pertolongan darurat bagi kaum Muslimin yang membutuhkan. Dalam kondisi darurat, Islam memberikan toleransi-toleransi. Dalam kaidah fiqih dikatakan, “Al masyaqah tajibut taisir” (kesulitan itu membawa ke arah kemudahan).

Ciri paling mudah mengenali seseorang itu fakir-miskin, dia sangat membutuhkan daging qurban. Mereka datang ke lokasi pemotongan hewan qurban, bukan untuk menyaksikan acara pemotongan, tetapi untuk mencari daging. Bagi panitia yang jeli, mereka bisa membedakan wajah seorang Muslimin yang datang untuk sekedar menonton dan mereka yang benar-benar ingin mencari daging. Itu bisa dikenali dengan mudah. Kalau masih ragu, tanya mereka: “Apa Bapak, Mas, Mbak, Adek, ingin daging qurban?” Kalau mereka mengangguk, itu jawaban yang pasti. Beri mereka yang datang itu daging secukupnya. Disini panitia tidak usah mencari data fakir-miskin, sebab mereka sudah datang sendiri.

Kalau panitia sudah menyebar kupon ke masyarakat, ya kupon itu perlu diprioritaskan. Kalau masih ada sisanya, silakan berikan kepada para jamaah yang hadir disana. Biar pembagian tidak double, bisa dilakukan pengaturan yang rapi. Kalua memang akhirnya double juga, tidak apa-apa. Allah Ta’ala Maha Pemurah bagi hamba-hamba-Nya. Dia tidak akan menghukum panitia gara-gara dua kali memberi bungkusan daging ke orang yang sama. Buatlah semua ini terasa ringan, mudah, jangan bersikap pelit seperti pedagang daging di pasar-pasar! Toh, semua itu nikmat dari Allah, Dia bagikan bagi hamba-hamba-Nya di hari yang mulia.

Mungkin ada yang beralasan, “Tapi itu lihat sikap mereka! Mereka tertawa-tawa karena mendapat daging dua bungkus. Mereka seperti menertawakan panitia yang dengan mudah dikelabui. Mereka telah menipu panitia!”

Ya Ilahi, jangan berpikir seperti itu. Justru kalau mereka melakukan kelicikan untuk memperoleh daging lebih, itu tandanya mereka memang benar-benar miskin. Kalau tidak miskin, mustahil akan melakukan kelicikan seperti itu. Daging di mata mereka masih sesuatu yang sangat istimewa. Jangan marah, jangan kesal, justru seharusnya kita menangis dalam hati. “Ya Allah, inilah kenyataan Ummat Nabi-Mu! Mereka miskin-miskin, hidupnya susah. Demi sekerat daging saja, mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Ya Allah, maafkan kami karena tudak mampu membantu mereka, kecuali dengan daging sedikit ini. Itu pun bukan daging dari kami sendiri, tetapi titipan dari para muqarrib!”

Saya sangat kesal kalau melihat arogansi panitia-panitia pembagi daging qurban itu. Mereka itu sebenarnya butuh daging juga, mereka belum tentu ikut berqurban, tetapi sikapnya memuakkan. Mereka tidak berlaku lembut kepada saudara-saudaranya sesama Muslim. Mereka berlaku seperti kapitalis-kapitalis yang sok arogan. Masih miskin saja sudah arogan, apalagi kalau kelak diberi kekayaan besar. Mungkin sikapnya akan seperti Qarun? Na’udzubillah min dzalik.

Bagaimana Ummat Islam akan bersimpati kepada agama ini, kalau dimanapun mereka selalu dipersulit dengan mekanisme-mekanisme birokrasi? Di RT/RW dipersulit, di Kelurahan dipersulit, di KUA dipersulit, di BUMN dipersulit, di bank-bank dipersulit, di toko-toko dipersulit, di sekolah dipersulit, bahkan di masjid-masjid pun mereka dipersulit. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Seharusnya kita selalu ingat pesan Nabi Saw.: “Basy-syiru wa laa tunaf-firuu, yas-siruu wa laa tu’as-siruu” (berikan kabar gembira, jangan membuat orang lari; permudahlah urusan, jangan dipersulit). Jangan menjadi kapitalis-kapitalis menyebalkan kepada saudara sendiri!!!

Kontroversi Daging Kornet

Apa yang disampaikan di atas masih lumayan, seputar pembagian daging qurban yang kadang overlapping dan sikap arogansi panitia distribusi daging qurban. Tetapi ini ada sebuah kemungkaran yang sangat serius, yaitu: pengolahan daging qurban menjadi kornet dalam kaleng. Sejak program ini muncul beberapa tahun lalu, saya sudah merasa ada yang aneh. Pencetusnya adalah Rumah Zakat Indonesia (RZI) dari Bandung. Setahu saya, hanya lembaga ini yang mengkonversi daging qurban menjadi kornet dalam kaleng. Wallahu a’lam kalau ada lembaga lain.

Tadinya RZI (waktu itu masih DSUQ) bekerjasama dengan pabrik kornet di Australia. Mereka mengirim sejumlah uang tertentu kepada pabrik tersebut untuk membeli domba-domba disana. Lalu dombanya langsung diolah menjadi daging kornet dalam kaleng. Kemudian daging itu dikirim balik ke alamat pemesan, RZI di Bandung. Jarak waktu sampai kornet itu sampai di Bandung bisa berbulan-bulan, sehingga lewat jauh dari momentum Idul Adha. Otomatis, para penerima daging tidak bisa menikmatinya saat hari raya. Mereka harus menanti sampai berbulan-bulan. Kini, pengolahan kornet tersebut dilakukan sebuah pabrik di Mojokerto. Tetapi tetap saja, daging kornet itu tidak bisa sampai cepat di tangan masyarakat. Setelah lewat waktu hari raya, daging baru didistribusikan. Artinya, kornet itu sendiri bukan untuk hari raya Idul Adha, tetapi untuk konsumsi daging biasa saja.

Dan yang sangat mengesalkan, tahun lalu RZI membuat spanduk dimana-mana (setidaknya di Bandung). Dalam spanduk itu mereka gencar mengkampanyekan program daging qurban berbentuk kornet itu. Mereka membuat publikasi yang sangat provokatif dengan membandingkan praktik qurban biasa dengan qurban dalam bentuk daging kornet. Antara lain mereka menulis: “Daging qurban biasa hanya tahan selama 3 hari. Daging qurban kornet tahan sampai 3 tahun.” Orang-orang yang memahami esensi hari raya Id, tentu akan sangat kesal dengan isi spanduk itu. Hingga di SPBU-SPBU dipasang spanduk seperti itu. Itu sama saja dengan gerakan ingin menghapus Sunnah al Udhiyah (penyembelihan hewan qurban) dari tengah-tengah Ummat. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Semua orang juga tahu kalau daging kornet dalam kaleng jauh lebih tahan lama dengan daging konsumsi langsung. Kornet kalengan itu kan memang salah satu teknologi pengawetan makanan. Tetapi masalahnya disini bukan soal awet-mengawetkan, tetapi Syiar Islam, yaitu mengagungkan Allah di saat hari raya Idul Adha. Salah satu bentuk pengagungan-Nya dengan berqurban, menyembelih hewan qurban, dan membagikannya kepada Ummat.

Ada beberapa pelanggaran Syariat serius dalam praktik konversi hewan qurban menjadi daging kornet dalam kaleng ini, antara lain:

[o] Pihak pengelola menciderai amanah dari para muqarrib yang menitipkan hewan qurban kepadanya. Sebab bagian daging qurban yang harus dibagikan itu adalah seluruhnya, sampai tulang-belulang, kulit, bahkan tanduknya sekalian. Hingga kulit hewan untuk dijual pun, tidak boleh. (HR. Bukhari-Muslim dari Ali Ra.). Sedangkan kornet itu jelas hanya dagingnya saja. Itu pun daging sudah diolah sedemikian rupa, sehingga rasanya berubah dari rasa daging asli. [Anda pernah makan kornet? Nah, itulah buktinya!]. Lalu tulang, kulit, jeroan, dll. dikemanakan oleh pabrik kornet? Dibuang atau dipakai sendiri? Jika sampai dibuang, itu sama dengan membuang-buang kenikmatan; jika dipakai sendiri, itu sama dengan memberi qurban kepada pihak yang tidak berhak (pabrik kornet). Ini menciderai amanah.

[o] Melenyapkan hak kegembiraan kaum fakir-miskin di hari raya Idul Adha. Ini perkara sangat serius. Hari raya itu momen sakral bagi kaum Muslimin. Lihatlah, meskipun Idul Adha, banyak orang sengaja pulang kampung untuk merayakannya dengan keluarga. Lalu apa jadinya ketika hari raya tiba, fakir-miskin tidak mendapat jatah daging, sebab hewan qurbannya masih diproses di pabrik? Jelas hal itu akan membuat mereka sakit hati. Lagi pula kalau membagikan daging kornet setelah lewat jauh dari hari raya, masyarakat akan merasa seperti mendapat bantuan daging biasa. Apa istimewanya daging seperti itu? Saya sarankan kepada para pequrban (muqarrib), sebelum Anda mempercayakan hewan qurban kepada suatu kepanitiaan, Anda harus mendapat jaminan bahwa daging hewan itu dibagikan saat Idul Adha atau hari Tasyriq. Jangan mau ditunda!

[o] Merusak tradisi Sunnah al Udhiyah (penyembelihan hewan qurban). Sisi merusaknya, pihak pequrban tidak bisa melihat hewan yang mau dia qurbankan; kaum Muslimin tidak bisa melihat prosesi penyembelihan; daging qurban tidak bisa dinikmati saat hari raya Idul Adha atau hari Tasyriq; tidak semua bagian dari hewan qurban itu seperti tulang, kulit, dan jeroan dibagikan kepada Ummat; dan rasa daging yang diterima pun mengalami kemerosotan, tidak seperti daging segar yang baru disembelih. Semua ini merusak tradisi Sunnah al Udhiyah.

[o] Mengkapitalisasi tradisi ibadah. Ini perkara lain yang tidak kalah seriusnya. Namanya qurban, menyemarakkan hari raya, semua ini adalah ibadah untuk mencari Keridhaan Allah. Penyembelihan hewan, pengolahan, distribusi, sampai konsumsi, semua itu bagian dari ibadah kaum Muslimin. Tapi ini lain, different. Ada sebagian orang yang berpikirnya bisnis melulu. Daripada capek-capek mengurusi hewan korban, serahkan saja semuanya kepada pabrik (industri); kita tinggal kirim uang, nanti mereka kirim barang; sudah, beres kan. Ini namanya kapitalisasi ibadah. Amanah ibadah dianggap rumit, repot, bau anyir dimana-mana, bercak darah hewan, kotoran, dll. Mereka tidak kuasa menahan semua kerepotan itu, lalu membuat kerjasama dengan industri untuk memudahkan urusan. Dimanapun juga, kalau kapitalisme muncul, ibadah pasti menjadi komersial. Nilai ibadah akhirnya dikonversi dalam angka-angka nominal. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dengan 4 pelanggaran ini, bisa disimpulkan bahwa praktik konversi hewan qurban menjadi kornet dalam kaleng adalah bid’ah besar. Bukan hanya bid’ah, ia bisa menghapus Sunnah al Udhiyyah itu sendiri. Semoga pengelola program seperti itu segera menghentikan program anehnya tersebut.

Dalam suatu waktu, program kornet ini bisa diterima. Misalnya, di Saudi setiap tahun terdapat sangat banyak hewan qurban, terutama yang disembelih saat musim Haji. Kadang daging itu sampai membusuk dan terlantar, tidak dimanfaatkan dengan baik. Nah, dalam situasi seperti itu boleh daging-daging tersebut dikelola menjadi daging dalam kaleng, untuk diawetkan. Hasilnya bisa dibagikan kepada masyarakat di Tanah Suci, di Saudi sendiri, atau disebar ke Afrika, India, Indonesia, dll. Itu sebagai tindakan darurat untuk menyelamatkan daging dari kesia-siaan. Tetapi dalam kondisi seperti di Indonesia ini, jumlah yang membutuhkan daging jauh lebih banyak daripada hewan yang dijadikan qurban.

Ya alhamdulillah, tahun ini RZI tidak mengeluarkan spanduk-spanduk provokatif itu. Saya lihat di beberapa tempat di Bandung tidak ada lagi perbandingan “3 hari dengan 3 tahun” itu. Namun beberapa hari lalu, sebelum Idul Adha 1429 H, Direktur RZI diundang berbicara di MetroTV. Dia mengulang-ulang retorika lembaganya, “Daging kornet ini untuk memberdayakan fakir-miskin, untuk menanggulangi kasus rawan pangan, rawan gizi.” Kurang-lebih begitu.

Kalau mau jujur, andai kornet dalam kaleng itu sudah di tangan Anda. Berapa banyak kornet yang akan Anda bagikan kepada masyarakat? Apakah setiap kepala orang miskin akan mendapat 10 kaleng daging kornet? Apakah setiap keluarga dijatah 50 kaleng daging kornet? Paling-paling, setiap keluarga akan diberi maksimal 5 kaleng daging kornet. Itu pun mungkin masih diceramahi dulu, dipotret-potret, disuruh menempel sticker, atau bisa jadi disuruh menusuk gambar partai tertentu. Apakah ini yang disebut pemberdayaan? Sekali lagi, kalau mau membedayakan, beri mereka hewan hidupnya sepasang dan sejumlah uang tertentu, suruh mereka mulai beternak. Itu namanya pemberdayaan sebenarnya.

Teringat Abu Syauqi

Ketika membahas masalah seperti ini, saya jadi teringat Abu Syauqi. Dia seorang ustadz terkenal di Bandung yang mengelola lembaga sosial tertentu. Dalam sebuah ceramahnya dulu, dia pernah mengutarakan keprihatinannya melihat aktivis-aktivis Islam sibuk dengan BMT. Dia mengatakan, kurang lebih, “Untungnya tidak seberapa, tetapi kalau terjerumus dalam praktik ribawi, dosanya sangat besar.” Saya terus teringat pesan Abu Syauqi itu. Mungkin karena itu juga, saya agak kurang akur kalau diajak bicara tentang program BMT. Wallahu a’lam. Seharusnya, Abu Syauqi ini ingat dengan nasehatnya sendiri. Itu nasehat yang baik, mengajak kita berhati-hati dalam perkara keuangan.

Abu Syauqi ini contoh bagus seorang dai atau ustadz yang kurang tahan dengan serbuan pemikiran-pemikiran Barat. Dalam berbagai ceramah dia selalu ingin menyebut data-data dari Amerika, pandangan-pandangan pakar Amerika, dan sejenisnya. Dulu dia sangat terobsesi dengan konsep berpikir “otak kanan-otak kiri”; dia sangat sering mengungkapkan tentang keajaiban sel-sel otak manusia. Yah, begitulah. Setelah muncul demam Robert T. Kyosaki, Abu Syauqi mendadak seperti Tung Desem Waringin, menjadi “juru bicara” Kyosaki. Sampai seorang teman meledek, “Dia sih, Kyosaki banget.”

Sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya kita merasa bangga dengan agama kita, dengan warisan agung Wahyu Allah, berupa Kitabullah dan Sunnah. Ibnu Mas’ud Ra. menganjurkan agar kita banyak-banyak mempelajari Al Qur’an, sebab di dalamnya terdapat ilmu dari orang-orang di masa lalu dan ilmu dari orang-orang di masa depan. Jangan merasa rendah di hadapan orang-orang kafir Barat. Wong, mereka itu tidak pernah shalat, tidak bersuci, makan makanan haram, berzina sesuka hati, melazimkan perbuatan-perbuatan dosa. Mereka itu lemah, kalau kita tidak sangat kebangetan lemahnya. Hanya karena kita ini terlalu buruk moral dan mental, akhirnya tampak tertinggal jauh dari mereka.

Ada seorang mantan calon walikota di sebuah kota di Jawa Barat. Beberapa waktu lalu dia menjadi calon walikota, tetapi gagal. Calon yang akhirnya berhasil menjadi walikota, namanya Dada-Ayi. Calon yang gagal itu beberapa bulan lalu diwawancarai koran PR. Dalam wawancara itu dia mengaku sangat berbahagia, karena gagal tidak menjadi wakil walikota. Kata dia, menjadi walikota itu sangat berat. Tanggung-jawabnya di sisi Allah berat. Maka itu, dia sangat bergembira gagal menjadi walikota. Saya hanya tertawa membaca retorika apologis seperti ini. Ya Ilahi, mengapa retorika seperti itu tidak muncul saat dia bertarung menjadi wakil walikota? Mengapa setelah kalah justru berkata seperti itu? Kalau para pembaca tahu, bagaimana cara orang ini saat berjuang menjadi wakil walikota. Poster-psoternya dimana-mana, mulai poster dalam penampilan resmi, poster dalam penampilan jas keren, sampai poster seperti anak-anak muda kiri ala “Che Guevara”.

Nah, itulah ironinya. Ketika sedang berebut jabatan, tidak ingat bahwa setiap jabatan kelak akan ditanyakan oleh Allah. Namun setelah kalah dari perebutan jabatan, “menyerang” orang lain dengan retorika “jabatan itu amanah yang berat”. Cobalah menjadi manusia jujur, apa adanya, tidak usah dibuat-buat. Kalau kurang katakan kurang, kalau lebih katakan lebih. Insya Allah hal itu lebih nyaman.

Khatimah

Daging qurban itu memang ditujukan untuk konsumsi di hari raya Idul Adha. Ia tidak ditujukan untuk pemberdayaan. Program pemberdayaan ada instrumen lain lagi. Ummat Islam mempunyai dua hari raya, Idul Fihtri dan Idul Adha. Idul Adha kadang disebut “Hari Raya Haji”, sebab momentumnya bersamaan dengan pelaksanaan Haji di Tanah Suci. Namanya hari raya, goal yang dituju adalah kegembiraan atau suka cita. Inilah hari dimana kaum Muslimin sepenuhnya dihalalkan oleh Allah untuk bersuka-cita [tentu suka cita dalam batas-batas yang halal, bukan masuk ke area haram]. Tidak mungkin sepanjang tahun kita serius terus, cemberut terus, atau menangis terus; pasti ada waktunya kita bergembira bersama. Itulah hari raya, Yaumul Id. Namun tidak berarti juga kita sepanjang tahun berhari raya terus, bergembira terus. Semua itu ada ukuran dan batasannya.

Dalam konteks kegembiraan ini, sifatnya jelas konsumtif. Dan itu tidak dilarang, bahkan didukung oleh Syariat Islam. Maka disini kita jangan berbicara soal misi pemberdayaan. Bukan tidak perlu pemberdayaan, tapi letakkan segala sesuatu sesuai porsinya. Saat berhari raya bergembiralah, syukuri nikmat Allah; saat berjuang, ya sungguh-sungguhlah, jangan meremehkan amanah perjuangan. Jangan dibalik, ketika hari raya bicara perjuangan; saat di medan perjuangan, justru bicara acara pesta kegembiraan. Tempatkan segala sesuatu pada posisinya. Wisdom istilahnya, atau al hikmah menurut istilah Al Qur’an. Disana disebutkan, “Siapa yang diberi al hikmah (kebijaksanaan), maka sungguh dia telah diberi kebaikan yang amat banyak.” (Al Baqarah: 269). Semoga Allah Ar Rahmaan menganugerahkan al hikmah untuk kita semua, Ummat Islam. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

[AMW].

Iklan

8 Responses to Qurban dan Kontroversi Daging Kornet

  1. roes berkata:

    Assalamu’alikum ww

    Saya sangat terkesan sekali dengan tulisan anda.
    Anda sangat menjadi inspirasi bagi saya.

    Terima kasih. Tulisan anda ini sangat berguna, khususnya bagi saya.

    Wassalam,
    Roes

  2. Grandong berkata:

    Yang saya tunggu adalah cerita bagaimana Anda pernah mengelola ibadah qurban. Bagaimana pusingnya menghadapi ‘peminat’ daging yang bejibun dan susah diatur, preman utusan sekelompok warga yang minta didahulukan disertai ancaman, dsb. Itu akan lebih inspiratif daripada tulisan yang kaya dengan frasa, ‘Saya melihat’, ‘saya saksikan’ dan frasa-frasa yang sejenis.

  3. abisyakir berkata:

    @ Grandong…

    Anda salah saudaraku… Alhamdulillah, saya pernah menjadi panitia ibadah qurban. Insya Allah lebih dari sekali. Jadi setidaknya saya tahu hal-hal semacam itu. Toh di Indonesia ini yang menyembelih qurban ada ratusan ribu tempat. Dan mana dari mereka yang membuat “kornet”? Dan selama ini proses ibadah qurban berjalan baik-baik saja. Alhamdulillah.

    AMW.

  4. Grandong atawa Mr. Kentheng berkata:

    Saya salah ? Salah saya di mana ? Apakah berharap dan menunggu Anda menulis tentang pengalaman Anda menjadi panitia ibadah Qurban itu salah ?

  5. Grandong berkata:

    Saya salah ? Salah saya apa Saudaraku ? Apakah berharap dan menunggu Anda menulis tentang pengalaman Anda menjadi panitia ibadah korban itu sebuah kesalahan ?

  6. abisyakir berkata:

    @ Grandong…

    Kan semula, Anda menuduh saya hanya “berprosa” dengan mengatakan, “menurut saya”, “setahu saya”,… Ya kurang lebih begitu. Anda menganggap saya tidak tahu apa-apa soal proses qurban itu kan. Anda anggap, hanya kalangan Anda yang mengerti soal kerepotan ibadah qurban.

    Nah, jawaban saya mengarah ke prasangka Anda itu. Apa Anda tidak merasa bersalah dengan berprasangka macam2?

    AMW.

  7. Grandong berkata:

    Anda berprasangka bahwa saya berprasangka seperti itu kepada Anda. Prasangka Anda salah Saudaraku.

    Dari awal saya yakin berpikir Anda pernah menjadi panitia ibadah Qurban sekaligus pernah menjadi ‘pengamat’ ibadah qurban.

    Di tulisan ini Anda baru sharing yang kedua. Nah, saya berpikir alangkah lebih eloknya jika Anda sharing pengalaman yang pertama.

  8. hati2bicara agama berkata:

    Hendaknya ketika bicara ttg fiqih, apalg menyimpulkan itu bidah, tentu berdasarkan dalil. Bukan opini pribadi. Yg disampaikan diatas kebanyakan opini pribadi. Sebaiknya berdasarkan dalil para ulama2 besar.. Bukan berdasar pemikiran pribadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: