Komitmen Independensi Sebuah Media

Pengantar: Ini sebuah artikel lama yang pernah saya tulis. Dari sisi aktualitas jelas sudah terlalu lewat waktu. Tetapi dari substansinya, masih layak dikaji. Sengaja saya publikasikan disini sebagai wawasan tambahan. Semoga bermanfaat. Amin. 

 

Sebuah pelajaran menarik dari bisnis media di Amerika. Baru-baru ini secara kebetulan saya membaca sebuah berita di Suara Pembaharuan, edisi 19 Juli 2007, tentang rencana penjualan koran The Wall Street Journal (WSJ). Berita itu terdapat dalam artikel berjudul, “Nasib Penjualan WSJ di Tangan Bancroft”.

 

Bagi umumnya pemuda-pemuda Muslim Indonesia, mungkin berita di atas dianggap tidak penting, atau tidak layak dibicarakan. Tetapi saya ingin berbagi ‘sudut pandang’, bahwa ada sesuatu yang ‘menarik’ di balik rencana penjualan WSJ itu.

 

Menurut media, WSJ dikenal memikili reputasi tinggi. Artinya, pengaruh sosial media itu dan prestasi bisnisnya, tidak diragukan lagi. Ketika media ini akan dijual, tentu banyak pihak yang berminat melakukan negosiasi. Salah satunya, perusahaan News Corp berniat membeli dengan harga US$ 5 miliar (setara dengan Rp. 50 triliun, jika kurs rupiah Rp. 10.000,-/dolar). Tawaran News Corp ini merupakan penawaran tertinggi yang diajukan. Tetapi harus dicatat, News Corp, dimiliki oleh ‘raja media’ berdarah Yahudi, Rupert Murdoch.

 

Seharusnya, dengan penawaran senilai Rp. 50 triliun itu, WSJ tidak ada halangan lagi untuk dijual. Lagi pula, ke depan belum tentu ada pembeli yang berani memberi penawaran lebih tinggi. Tetapi ternyata, penjualan itu tersendat. Dow Jones & Co. sebagai perusahaan pemilik WSJ tidak bersedia menjual media itu ke News Corp milik Rupert Murdoch. Mengapa? Sebab pemegang terbesar saham Dow Jones & Co (pemilik WSJ), yaitu keluarga Bancroft, masih keberatan untuk menjual WSJ ke tangan Rupert Murdoch. Alasan mereka, tidak ingin independensi jurnalistik WSJ nantinya akan dikendalikan oleh Rupert Murdoch.

 

Keluarga Bancroft menginginkan agar yang membeli WSJ adalah pihak yang baik. Mereka sangat khawatir jika WSJ jatuh ke tangan Murdoch, independensi media itu akan rusak. Pihak keluarga Bancroft, misalnya Christopher Bancroft dan Leslie Hill, sejak awal menentang penjualan WSJ ke tangan Rupert Murdoch. Seorang direktur WSJ, Dieter Von Holtzbrinck, juga tidak memberi dukungan. Begitu khawatirnya keluarga Bancroft dengan nasib WSJ jika jatuh ke tangan News Corp milik Rupert Murdoch, mereka menuntut dibentuk sebuah tim khusus yang akan menjamin kebebasan redaksi WSJ. 

 

Bagi bisnisman biasa, tawaran pembelian Rp. 50 triliun bukan saja akan membuat ‘ngiler’, tetapi bisa membuat mereka gelap mata. Tetapi orang-orang itu (keluarga Bancroft) sangat menekankan pentingnya nilai independensi. Semua orang sudah tahu, jika media jatuh ke tangan Yahudi, maka nasibkan akan dijadikan ‘budak’ oleh Yahudi untuk merealisasikan misi-misi konspiratif mereka. Sudah banyak media-media yang bernasib tragis, setelah jatuh ke tangan Yahudi.

 

Dulu CNN itu terkenal karena liputannya dalam Perang Teluk I (1990-1991). CNN dipuji-puji sebagai media TV yang independen. Tetapi pada Perang Teluk II tahun 2003 (setelah waktu berlalu 12 atau 13 tahun), CNN berubah 180°. Bahkan, pada 11 September 2001, CNN menjadi aktor terbesar penyebar kebohongan peristiwa runtuhnya WTC oleh ulah Usamah bin Ladin dkk. CNN saat ini termasuk media TV yang sangat dibenci di Dunia Islam (mungkin juga di dunia) karena liputan-liputannya. Ketika pecah Perang Teluk II, peran CNN diganti oleh Aljazeera, dari Qatar.

 

Yahudi selama ini berada di balik dominasi media-media massa, termasuk media yang berkembang di Indonesia. Jika mereka tidak menguasai saham, mereka menjadi penyalur program, atau menjadi rujukan sistem manajemen media. Adapun Rupert Murdoch adalah pengusaha media paling kuat di dunia saat ini.

 

Pelajaran menarik, selain keteguhan sikap keluarga Bancroft untuk menolak intervensi Murdoch dalam hal kemandirian redaksi media, ialah situasi publik Amerika sendiri. Ternyata di Amerika, tidak semua orang pro Yahudi. Banyak juga orang Amerika yang Anti Yahudi, meskipun kekuatan suara mereka saat ini belum significant. Tetapi prospeknya ke depan sangat jelas. Di Amerika tentu tidak semua orang yang mau dibodoh-bodohi terus oleh propaganda Yahudi. Contohnya, setelah peristiwa WTC, 11 September 2001, banyak orang Amerika justru masuk Islam. Itu salah satu indikasi, bahwa propaganda Yahudi, meskipun sangat sistematik dan intensif, ia gagal memprovokasi warga Amerika agar membenci Islam. Meskipun harus diakui, dampak buruk propaganda itu tetap ada.

 

Mel Gibson adalah sebuah contoh. Dia dikenal sebagai aktor dan sutradara terkaya Hollywood. Tetapi semua orang tahu bahwa Gibson sangat Anti Yahudi. Dia memiliki track pembelaan besar terhadap ajaran Kristiani. Gibson termasuk sebagian warga Amerika yang ‘sadar’ dengan konspirasi Yahudi. Dengan berbagai caranya, meskipun melawan arus, Gibson mencoba membuat opini berbeda dari opini-opini yang dikembangkan media Yahudi.

 

Meskipun media seperti Times, New York Times, CNN, dll. dikenal pro Yahudi, tetapi tidak semua media Amerika mengikut jejak mereka. Paling tidak, media seperti The Wall Street Journal (WSJ) tetap memiliki independensi. Dan media-media lain yang serupa itu juga ada. Para pakar di Amerika, jurnalis, penulis, wartawan, dan lainnya, jika mereka tidak menemukan media yang bisa menjamin kebebasan sikapnya, mereka menggunakan internet sebagai saluran publikasi. Kelompok indenpenden yang Anti Yahudi itu tidak sedikit.

 

Betapa berharganya nilai independensi sebuah media, ketika sebagian besar media justru berpihak kepada kepentingan tendensius tertentu. Sebagai contoh, kita akan sangat kesal jika menyimak berita-berita MetroTV, khususnya tentang konflik di Irak. Berkali-kali penyiar MetroTV menyebut para gerilyawan pejuang Islam Irak dengan istilah ‘teroris pemberontak’. Padahal para pejuang itu hanya menuntut pembebasan negeri mereka dari penjajahan kaum kolonialis. Siapapun berhak membela diri, harta, dan negerinya. Tidak berbeda dengan para pejuang Muslim Indonesia di masa lalu ketika menentang penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Jika perlawanan atas penjajahan disebut teroris/pemberontak, berarti para penjajah harus disebut sebagai pahlawan atau “justice keeper”. Sangat menyedihkan.

 

Mungkin, terlalu mewah bagi kita untuk bicara tentang penjualan “The Wall Street Journal” dan analisis penjualan sahamnya. Paling tinggi, kita hanya bisa melihat hal itu sebagai sebuah even bisnis biasa. Tetapi upaya menjaga independensi sikap dari dominasi kepentingan Yahudi adalah perkara yang serius. Kalau mau jujur, banyak aspek-aspek kehidupan kita yang tanpa disadari menguntungkan agenda Yahudi. Bukan hanya media, tetapi juga bisnis, industri, keuangan, pendidikan, pergaulan sosial, hiburan, juga pemikiran. Paham liberal, kalau mau dirunut, nanti akan bermuara ke kepentingan Yahudi juga.

 

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan pengetahuan, kepekaan, serta pemahaman yang bermanfaat. Allahumma amin. Wallahu a’lam bisshawaab.

 

 

 

AMW. 15 Desember 2008.  

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: