Tim Weiner dan Nasib CIA

Saat berkunjung ke rumah teman kemarin, saya merasa surprised saat melihat di lemarinya, sebuah buku tebal bercover merah, tertulis judul Kegagalan CIA, oleh Tim Weiner. Wah, ini dia buku yang sedang hangat dibicarakan. Jiwa dagang saya segera muncul, “Berapa nih Anta beli buku ini?” (He he he, masak tanya harga buku saja diklaim “jiwa dagang”? Terlalu sensitif ya). Kata teman, harga dia beli 120 ribu, kalau saat ini ada discount 30 % (sekitar 85 ribuan lah). Kalau beli di Gunung Agung, discount 20 %. (Nah, kalau yang beginian diteruskan, baru cocok disebut “jiwa dagang”. He he he…ulang).

OK-lah, mari kita mulai saja. Si Tim Weiner ini…(sambil berlagak mau memvonis ‘gak jelas’), ternyata dia itu seorang penulis ya…(garing, garing…seluruh dunia juga sudah tahu kalau dia penulis, garing ring…). Baiklah, ehhem, sekarang mulai serius beneran, ehhem…

Buku ini berjudul Kegagalan CIA. Judul kecilnya, Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya. Namun dalam cover, judulnya Membongkar Kegagalan CIA. Judul aslinya, Legacy of Ashes The History of CIA (Warisan puing-puing, sebuah sejarah CIA). Tentu penulisnya Tim Weinner, seorang wartawan The New York Times. Pernah memenangkan hadiah Pulitzer, 20 tahunan menulis di bidang intelijen, bukunya Legacy of Ashes tersebut menjadi international best seller. Buku ini dalam versi Indonesia diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Alih bahasa Akmal Syamsuddin, kata pengantar oleh Budiarto Shambazy, kolomnis Kompas. Jumlah total halaman lebih dari 830 halaman. Bagian isi dari halaman 1 sampai 661, sedang halaman catatan kaki dari 662 sampai 832.

Sisi unik buku ini, bagian tengah cover ada logo CIA sebesar bulatan stempel yang dicetak sangat eksklusif. Mengkilat dan tebal. Ia memberi kesan “buku mahal”. Kerta yang dipakai pun bukan HVS biasa, tetapi kertas khusus, seperti yang banyak dipakai pada buku-buku terbitan asing.

(Hei, bercanda lagi, dong! Jangan serius melulu!…sudah, sudah bercanda sudah selesai. Sekarang waktunya serius. Sudah, jangan bercanda terus. Kita lagi dilihat banyak orang, tahu. He he he…)

Heboh Adam Malik

Ketika lagi heboh diskusi di TV tentang keterlibatan Adam Malik sebagai orang rekrutan CIA, saya teringat sebuah foto besar di rumah mertua. Di ruang tamunya ada foto besar, Adam Malik. Ukurannya mungkin 60 x 100 cm2. Besar untuk ukuran ruang tamu yang tak terlalu luas. Saya bertanya ke isteri, mengapa di rumahnya ada foto Adam Malik sebesar itu? “Iya, dia kan dulunya Menteri Dalam Negeri.” Oh, begitu ya. Saya tidak membayangkan, bagaimana perasaan mertua ketika menyaksikan pemberitaan dan diskusi seputar isu keterlibatan orang yang dikaguminya sebagai orang rekrutan CIA?

Menurut Suara Islam, bagian yang memuat keterlibatan Adam Malik dalam buku Tim Weiner hanyalah 6 halaman. Itu lebih tipis dari seper seratus bagian total isi buku (660-an halaman). Tetapi perhatian masyarakat seperti overdosis. Mereka melupakan fakta kegagalan operasi CIA, lalu perhatian terfokus ke soal Adam Malik yang sebenarnya tidak terlalu penting. Andai beliau seorang agen CIA tulen, misalnya demikian, toh dirinya sudah meninggal, tidak bisa dituntut apapun. Lagi pula, yang menjadi “agen asing” di Indonesia sebenarnya banyak, termasuk tokoh-tokoh yang diklaim sebagai pahlawan nasional. Sejak era kolonial, era Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, termasuk era Reformasi, banyak yang menjadi “kaki tangan” asing. Jendral Ryamizard Ryachudu pernah mengatakan, bahwa di Indonesia ini setidaknya ada 50 ribu kaki-tangan asing. Itu bukan jumlah yang sedikit. Mereka dibiayai asing untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data-data milik bangsanya. Sampai ada yang mengatakan, “Tidak ada satu pun lembaga Islam yang steril dari penyusupan.”

Seharusnya, perhatian kita tetap tertuju ke tema sentral yang dibawa oleh Tim Weiner, yaitu fakta kegagalan CIA. Kita jangan menjadi bangsa bodoh yang senang berbicara tentang rumor, lalu melupakan esensi masalah. Misalnya, ada seorang profesor sedang memberikan kuliah umum, dihadiri oleh para undangan penting. Topik yang disampaikan profesor itu sangat menarik dan urgen. Dia pun bisa menyampaikan presentasinya dengan memuaskan. Tetapi ada kejanggalan, di dekat bibir profesor masih menempel sebutir nasi. Mungkin saat makan dia terburu-buru dan belum sempat berbenah diri sebelum tampil. Tetapi para hadirin malah sibuk membicarakan “sebutir nasi” itu, melupakan isi utama ceramah sang profesor. Saya kira, kasus buku Tim Weiner tersebut tidak jauh dari analogi ini.

Dalam konteks perang intelijen, sebuah dinas rahasia merekrut orang-orang tertentu adalah hal biasa. Targetnya sebagai mata-mata, informan, atau mitra kerjasama. Kalau untuk agen murni, jelas Adam Malik tidak mungkin menjadi agen CIA. Agen murni dan orang rekrutan itu berbeda cara membangunnya. Agen murni jelas di-tarbiyah oleh dinas yang bersangkutan; untuk mata-mata, bisa siapa saja, asalkan dapat dipercaya dan bisa bekerja sesuai instruksi.

Isu Adam Malik ini tidak penting dibahas, sebab nilai pengaruhnya bagi kebaikan masyarakat ke depan sangat kecil. Baik dia terbukti sebagai rekrutan CIA atau tidak, kurang esensial untuk dibahas. Kalau terbukti, kita tidak bisa apa-apa; kalau tidak terbukti, juga tidak ada manfaatnya.

Kata orang, “Ini kan soal harga diri bangsa!” Ho ho ho, sejak kapan bangsa ini kenal istilah harga diri? Sejak kapan, Mas? Kok terdengarnya aneh ya?

Soekarno takluk dengan pemikiran Marxisme, sejak era kolonial. Sampai di jaman Orde Lama dia memunculkan konsep NASAKOM. Soekarno itu menyebut PKI sebagai avant garde (ujung tombak revolusi). Soeharto dan Orde Baru, terkenal dengan “Mafia Berkeley”, IMF, dan Bank Dunia-nya. Orde Reformasi terkenal dengan kasus vaksin Flu Burung dan Namru yang dibongkar oleh Ibu Siti Fadilah Supari. Orde Reformasi juga terkenal dengan Sri Mulyani Indrawati (mantan orang IMF), Dino Pati Djalal, Densus 88, dll.

Seperti lagu lama yang sangat tidak merdu, “Harga diri bangsa!” Aneh! Dengan segala sistem liberal yang dipakai oleh bangsa ini sekarang, harga diri apa yang masih tersisa? Masih punyakah kita harga diri?

Amerika Tambah Suram

Krisis finansial global sebenarnya sudah menghancurkan reputasi Amerika di dunia internasional. Keluarnya buku Tim Weiner itu semakin menambah daftar panjang kesuraman wajah Amerika. Kali ini fakta kehancuran dibahas dari sisi kinerja agen rahasia paling populer di dunia, CIA (Central of Intelligence Agency).

Dalam tubuh bangsa Amerika yang katanya demokratis itu justru terdapat satuan inlijen berlapis-lapis. [Jadi, seperti negara Komunis, dimana-mana terdapat banyak mata-mata]. Intelijen paling populer di dalam negeri adalah FBI. Ini intelijen Pemerintah Pusat (Federal) Amerika yang sering diolok-olok film Hollywood. FBI itu dinas rahasia pusat, membawahi urusan dalam negeri secara umum. Di wilayah Amerika manapun ketika muncul kasus yang membahayakan national security, FBI pasti turun tangan. Kalau untuk kasus-kasus narkoba, yang turun DEA. Untuk masalah-masalah kriminal biasa, detektif kepolisian Amerika yang turun tangan. Di antaranya yang paling terkenal ialah LAPD (Los Angeles Police Department). Namun untuk urusan luar negeri, CIA jagoannya. Jadi wilayah operasinya CIA justru di luar negeri, bukan dalam negeri. Untuk dalam negeri, FBI atau detektif kepolisian.

Di luar itu masih ada polisi militer (provost) untuk penyelidikan kasus-kasus pelanggaran di lingkungan militer. Ada Marinir yang terkenal sebagai satuan militer paling tangguh di Amerika. Marinir, meskipun basisnya laut, tenaga mereka sering dipakai untuk operasi-operasi khusus. Kemudian ada SWAT, satuan khusus seperti Densus 88 itu. Ada unit pengawal presiden, semacam Paspampres. Belum termasuk pasukan militer, detektif, dan pengawal swasta. Pendek kata, Amerika meriah dengan satuan-satuan militer yang banyak.

Tanda sebuah bangsa sedang “sakit dalam”, satuan militernya banyak. Mereka merasa memiliki banyak musuh di dalam dan luar negeri. Amerika kelihatan sebagai negara demokrasi-liberal, padahal lebih mirip negara Komunis. Semakin tidak aman sebuah negara, semakin rumit sistem keamanannya. Apalagi, istilah national security (keamanan nasional) itu menjadi momok bagi warga Amerika. UU Amerika mengatakan, siapapun boleh dibunuh, demi national security. Jerry D. Gray menyebut Amerika sebagai negara yang sangat banyak melanggar HAM, hatta terhadap rakyatnya sendiri.

CIA sendiri sebenarnya lebih tepat disebut COB (Central of Others Business –Pusat Urusan Orang Lain). Dinas rahasia ini paling “ngurusi” negara lain. Merasa paling congkak dan layak menjadi dinas rahasia global. Urusan dimanapun, sejak dari Ambon sampai Timbuktu di Afrika, sejak dari Warsawa sampai Bogota Columbia, mereka ikut “ngurusi”. Apa gak ada kerjaan ya? Justru, itulah kerjaan utama mereka. They have not a job, unless monitoring other countries.

Hari-hari ini Direktur CIA sangat pusing. Mungkin dia perlu makan aspirin 7 kali sehari, sekali makan 10 butir. Jelas dia lagi pusing tujuh keliling, ngelu tujuh putaran, lieur tujuh rate. Betapa tidak, dengan kondisi keuangan nasional lagi kacau, bagaimana mungkin akan membiayai operasi-operasi CIA? Darimana duitnya, Mas? Padahal kalau soal anggaran ini tidak jelas, nanti bisa terjadi pembelotan loyalitas besar-besaran. Bisa-bisa agen CIA akan disewa operator lain untuk memata-matai Amerika sendiri? Seperti KGB dulu. Saat Soviet gulung tikar, tenaga-tenaga handal KGB banyak dipakai orang-orang swasta.

Rasanya sangat gembira menyaksikan kehancuran Amerika saat ini. Mereka telah memicu terjadinya Krisis Ekonomi 1997 melalui IMF dan Bank Dunia. Mereka menjadi pemicu Reformasi yang membawa sistem liberal ke negeri ini, dan mereka pula yang memerangi Ummat Islam pasca WTC 11 September. Tahun 1997 lalu mereka mengejek kondisi Indonesia, dan saat ini biarlah mereka nikmati masa-masa suram negerinya. Silakan Uncle Sam, silakan, nikmati, nikmati…sing sabar nggih! (“Nggiihh,” kata orang-orang serentak).

CIA dan Perang Irak

Salah satu yang dikritik Tim Weiner tentang CIA adalah masalah serangan Amerika ke Irak. Katanya, serangan itu palsu, sebab Irak terbukti tidak punya senjata pemusnah massal. Laporan CIA yang menyebutkan Irak punya senjata itu sama sekali salah. Disini CIA dianggap telah melakukan kebohongan.

Sejujurnya, CIA tidak salah dalam soal serangan ke Irak itu. Perang itu sudah dipersiapkan sebelumnya. Bahkan sebelum Amerika menyerang Thaliban Afghanistan, sudah ada agenda menyerang Irak. Paul Wolfowitz dalam satu kesempatan “keseleo” mengutarakan niat negaranya menyerang Irak. Kalau dalam Perang Teluk I (1990-1991), alasannya Irak telah menyerang Kuwait dan mengancam Saudi, maka dalam perang Teluk 2003 itu Amerika tidak punya alasan. Mereka memutar otak mencari alasan yang “Oke punya”. Akhirnya, soal senjata pemusnah massal sebagai alasan. CIA pun dikerahkan untuk segera membuat laporan “SKS” (Sistem Kebut Semalam). “Pokoknya dari CIA ada laporan. Soal mcem-macem, itu dipikirkan nanti,” begitu logikanya.

Dalam kasus di atas, CIA hanya kebetulan “ketiban sampur”. Mereka itu “orang ketempatan” saja. Namanya negerinya sudah nafsu mau perang, otomatis yang dibuatkan alasan pembenar untuk peperangan itu. Sama seperti Samuel Huntington, ketika merilis tesis besarnya, Clash Civilization. Dia itu hanya profesor yang lagi “ketiban sampur” saja. Semua orang tahu, Islam sejak lama menjadi musuh kapitalisme-liberalistik Barat. Sejak jaman penjajahan juga sudah terbukti. Huntington hanya “ketempatan” saja untuk menyampaikan persoalan itu.

Dalam soal serangan WTC 11 September 2001, CIA juga bukan tidak tahu. CIA disebut-sebut sebagai agen rahasia paling kacau karena tidak bisa mengantisipasi serangan itu. Itu katanya. Bagaimana kalau agen-agen CIA justru ikut bermain di dalamnya? Darimana Amerika bisa mendapatkan orang-orang Saudi terlibat dalam teror itu, termasuk data-data pribadinya, kalau CIA tidak bermain? Kan CIA agen rahasia untuk urusan luar negeri. Lucunya lagi, sebagian orang yang dituduh tewas dalam serangan 11 September, ada yang masih hidup di Saudi dan ada yang sudah meninggal sebelum 11 September. Lho, kok bisa ya?

Saya setuju dengan komentar Budiarto Shambazy yang dikutip di cover belakang buku. “…Tim Weiner benar, CIA saat ini tak lebih dari puing-puing keruntuhan yang sebentar lagi mungkin berubah menjadi debu,” kata Shambazy.

Hancurnya konstruksi dinas rahasia CIA merupakan ibrah berharga. Bahwa di dunia ini, setiap kesombongan dan angkara murka pasti akan terkalahkan, lambat atau cepat. Sebagaimana Allah tidak ridha ada kesombongan iblis di depan Singgasana Kemuliaan-Nya, maka kesombongan di muka bumi juga akan dihancurkan. Orang-orang sombong pada dasarnya hanya mempercepat kehancurannya sendiri. Andai mereka diberi jeda waktu, hal itu sekedar untuk membuktikan, bahwa Allah Maha Penyanyang kepada siapapun, termasuk kepada orang-orang sombong. Pada akhirnya berlakulah yang terjadi, kesombongan akan dikalahkan.

Dalam hadits qudsi Allah bersabda, “Kehormatan itu adalah pakaian-Ku, dan kesombongan itu adalah selendang-Ku. Siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, sungguh Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim).

Tidak ada yang berhak sombong, selain Allah saja. Dia memang pantas sombong, sangat berbeda dengan makhluk-Nya yang lemah. Allah itu Maha Sempurna, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Agung, Maha Kaya, Maha Terpuji. Dia pantas sombong, sebab Dia memiliki segala yang membuat-Nya layak menyandang kesombongan. Sifat sombong terpuji di sisi Allah, dan tercela di sisi makhluk-Nya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

AMW. 15 Desember 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: