Sebab Kedurhakaan Insan

Pernahkah Anda membayangkan, bahwa salah satu sebab kedurhakaan manusia justru adalah Sifat Kemurahan Allah Ta’ala? Dia sangat Pemurah kepada hamba-hamba-Nya; kemudian Kemurahan-Nya itu justru membuat hamba-hamba-Nya terlena, tidak bersyukur, bahkan menyombongkan diri. Ini kenyataan.

Dalam Surat Al Furqan diceritakan tentang dialog Allah dengan berhala sesembahan manusia, kelak di Hari Kiamat. Allah bertanya, apakah mereka yang menyesatkan manusia atau manusia itu sendiri yang sesat jalannya? Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau (ya Allah), tidaklah patut bagi kami untuk mengambil selain Engkau sebagai Pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kesenangan hidup, sampai mereka lupa mengingati-Mu, dan mereka adalah kaum yang binasa.” (Al Furqan: 18).

Kalau kita melihat kepada kenyataan, kerap kali bertambahnya nikmat Allah pada diri seseorang (atau suatu kaum) menyebabkan komitmen mereka kepada agamanya melemah. Di antara penyakit-penyakit jiwa yang sering muncul setelah tercapai kemakmuran adalah: Kesombongan, membanggakan diri, lalai dari ibadah, hilangnya rasa khusyuk saat ibadah, sifat kikir, boros dalam belanja, berfoya-foya, berbuat maksiyat, melakukan tindak kriminal, dan sebagainya. Bertambah nikmat bukan bertambah kesyukuran, justru semakin durhaka.

Hal itu seperti Bani Israil di masa lalu. Mereka dilebihkan oleh Allah di atas semua manusia di alam; mereka diberi al manna was salwa; mereka ditolong dengan kehancuran Fir’aun di depan mata mereka sendiri; mereka dijanjikan kemenangan dan wilayah (the land promised); mereka dipimpin Nabi yang sabar; mereka diampuni kesalahan-kesalahannya; ditunjukkan kepada mereka keajaiban-keajaiban, dan sebagainya. Tetapi Bani Israil sangat keras hati. Kemegahan nikmat justru membuat mereka sangat durhaka, dan paling durhaka di antara segala etnik manusia di muka bumi. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

***

Ada dua perkara yang sangat menarik kita cermati dari ayat-ayat Al Qur’an, yaitu tentang hisab dan adzab. Hisab artinya perhitungan (kalkulasi dosa-pahala), sedang adzab adalah siksa Allah yang bisa ditimpakan di dunia atau ditimpakan di Akhirat. Dua hal ini sering disikapi secara keliru oleh manusia.

Perhatikan ketika Al Qur’an berbicara tentang al hisab, kalkulasi dosa-pahala dari amal-amal manusia! Disana Allah mensifati perbuatan-Nya dengan amat sangat cepat hisab-Nya atas amal-amal manusia. “Innallaha sari’ul hisab” (sesungguhnya Allah itu amat sangat cepat hisab-Nya). Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat Al Qur’an, antara lain Surat Ali Imran 199, Ar Ra’du 41, Ibrahim 51.

Begitu manusia melakukan suatu amal, bahkan baru berniat melakukan amal saja, Allah sudah memberikan perhitungan. Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang niat melakukan kebaikan, namun kemudian tidak mengamalkannya, maka dicatat baginya satu pahala kebaikan secara sempurna. Dan jika dia berniat melakukan satu keburukan, lalu tidak jadi melakukannya, maka dicatat baginya satu pahala kebaikan secara sempurna.” (HR. Bukhari-Muslim).

Namun ketika Allah berbicara tentang adzab, Dia tidak begitu saja menimpakan adzab kepada orang-orang yang berdosa. Betapa banyak manusia yang dibiarkan terus berbuat durhaka, tidak dijatuhkan adzab atas dirinya. Bahkan sekalipun mereka meminta disegerakan datangnya adzab itu. Berapa kali para Nabi dan Rasul sejak jaman Nuh ‘alaihissalam ditantang ummat-nya agar Allah menyegerakan adzab yang diancamkan itu. Namun adzab itu juga tidak segera diturunkan.

Dalam Al Qur’an, “Seandainya Allah (begitu saja) menyiksa manusia karena kezhalimannya, maka tidak akan Dia sisakan satu pun makhluk melata, akan tetapi Dia mengakhirkan (siksa) mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Jika (disana) sudah tiba ajal itu, tidak akan diakhirkan sedikit pun dan tidak pula dimajukan sedikit pun (ia terjadi secara presisi).” (An Nahl: 61).

Allah Ta’ala dikatakan “Sari’ul hisab” (amat sangat cepat hisab-Nya). Tetapi Dia tidak dikatakan “Sari’ul adzab” (amat sangat cepat adzab-Nya). Dalam perkara hisab, begitu manusia melakukan perbuatan, seketika itu juga telah jelas timbangan amalnya berikut konsekuensi-konsekuensinya. Tetapi dalam soal adzab, Allah menetapkannya sesuai perhitungan ajal. Ia tidak serta-merta dijatuhkan setelah menusia melakukan kezhaliman.

Orang-orang musyrik Quraisy pun pernah meminta kepada Nabi supaya disegerakan adzab atas mereka. Maka Allah menuntun Nabi dengan firman-Nya, “Katakanlah (Muhammad): sekiranya di sisiku ada (adzab) yang kalian meminta disegerakan itu, tentu telah diselesaikan oleh Allah urusan antara aku dan kalian. Sesungguhnya Allah lebih tahu tentang orang-orang zhalim.” (Al An’aam: 58).

Betapa banyak dalam Al Qur’an atau Sunnah gambaran kisah-kisah masa lalu, bahwa pelaku-pelaku kedurhakaan itu kerap kali diberi waktu tangguh sampai saat tertentu. Jika telah sempurna kezhaliman dan reputasi dosa mereka, maka Allah pun segera merealisasikan janji-Nya.

***

Sangat banyak manusia-manusia durhaka yang merasa tidak takut kepada Allah. Semakin mereka durhaka, kerap kali rizkinya malah bertambah-tambah. Semakin cengengesan di hadapan agama Allah, lho hidupnya malah semakin happy. Tentu, mereka semakin hebat saja kedurhakaannya.

Setiap perbuatan manusia tidak dilewatkan oleh Allah. Dia mencatat dengan amat sangat teliti. “Maka siapa yang beramal baik seberat debu, maka kelak dia akan melihatnya; dan siapa yang beramal buruk seberat debu, maka kelak dia akan melihatnya.” (Al Zalzalah: 7-8).

Hingga daun gugur dan biji-biji pun, semua berada dalam pengawasan Allah. “Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan; dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya; dan tidak jatuh sebutir biji dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (Al An’aam: 59).

Tidak ada tempat lari bagi manusia dari pengawasan Allah. Andai mereka bisa menembus bumi atau membentangkan tangga ke langit, tetap saja Allah selalu mengetahuinya. Jadi, amat sangat naif jika ada yang merasa jumawa, merasa kuat, merasa rupawan, merasa sombong dengan kekuatannya. Dia jadikan kekuatan yang ada pada dirinya sebagai alasan mendurhakai Allah. Naif sekali, meskipun pada kenyataannya banyak yang seperti itu.

Inilah dilemanya. Hisab Allah sangatlah cepat, lebih cepat dari prosessor apapun yang pernah dibuat manusia (hatta untuk mesin secanggih Deep Blue sekalipun). Tetapi adzab Allah mengikuti mekanisme ajal. Ajal itu semacam momentum yang Allah sendiri sebagai penentunya. Jika momentumnya telah tiba, ia tidak akan diundurkan lebih lama walau sekedar 0,000000000001 detik (seper 1 triliun detik), atau dimajukan selama itu lebih awal. Tibanya ajal sangat presisi, dengan tidak mengenal nilai koreksi (deviasi) sedikit pun.

Nah, itulah wujud Kemurahan Allah bagi hamba-Nya. Dia menghitung amal manusia secara adil, tidak ada kezhaliman; Dia tidak serta-merta mengadzab manusia karena kezhaliman-kezhalimannya. Hal ini justru membuat banyak manusia durhaka, menyombongkan diri, dan merasa angkuh kepada-Nya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kita berlindung kepada Allah dari durhaka, kesombongan, kekafiran, kemusyrikan, kesesatan, dan kezhaliman. Allahumma amin.

***

Sikap yang paling tepat dalam hal ini ialah menjadi hamba-hamba yang bersyukur kepada Allah. Kita mensyukuri Kemurahan-Nya, tetapi tidak mendurhakai tuntunan agama-Nya. Andai kemudian kita melakukan dosa-dosa, karena sebab apapun, kita berlapang hati menuju ampunan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai bagian dari hamba-hamba yang shalih dan dicintai-Nya. Allahumma amin.

Nasehat Al Qur’an, “Dan bersyukurlah kalian kepada Allah, jika kalian benar-benar hanya kepada-Nya menyembah.” (Al Baqarah: 172). Ternyata, syukur itu merupakan konsekuensi ibadah tauhid seorang hamba kepada Rabb-nya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: