Tsunami 3: Bumi Para Syuhada

Provinsi Aceh sejak lama dikenal dengan sebutan Daerah Istimewa Aceh (DI Aceh). Setelah era otonomi, masyarakat Aceh memilih sebutan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebutan Daerah Istimewa adalah penghargaan tinggi terhadap masyarakat Aceh yang memiliki sejarah berbeda dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Perbedaan itu terkait dengan kegigihan bangsa Aceh dalam perjuangan melawan kolonial Belanda. Dibandingkan daerah manapun di Indonesia, Aceh termasuh daerah yang paling sebentar dikuasai oleh Belanda.

Perjuangan masyarakat Aceh menentang penjajah Belanda berlangsung sejak tahun 1873 sampai 1913 (secara riil perang terus berlangsung sampai Indonesia merdeka tahun 1945). Sebelum itu, para sultan Aceh, salah satu diantaranya Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, telah berjuang mengusir Portugis dari wilayah Aceh, Semenanjung Malaka dan sekitarnya. Di antara para ksatria Aceh yang terkenal selama perang kolonial melawan Belanda, yaitu Tengku Cik Ditiro, Panglima Polem, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dhien.

Belanda benar-benar sulit menundukkan masyarakat Aceh, kecuali setelah mendapat saran-saran dari Snouck Hourgronje. Snouck adalah sosok orientalis, sarjana yang membaktikan diri dengan menekuni ilmu-ilmu keislaman demi melayani ambisi kaum imperialis. Melalui saran-saran Snouck itulah Belanda menemukan titik-titik kelemahan masyarakat Aceh. Selain itu Belanda juga menerapkan strategi klasik, devide et impera, yaitu membenturkan kaum adat dengan ulama. Tentu saja, di luar itu semua, Belanda menerapkan strategi kekerasan tanpa ampun.

Dari sebuah sumber disebutkan:

Dalam operasi militernya, pasukan elite Belanda, Marsose, mempraktikkan apa yang disebut kekerasan tanpa batas. Mereka membakar rumah-rumah penduduk, menyiksa, dan melakukan eksekusi disaksikan penduduk yang dikumpulkan. Jejak darah yang ditinggalkan di setiap dusun yang dilalui pasukan Marsose masih ditambah lagi dengan menghancurkan tanaman di kebun.

Selain itu, pemerasan melalui hukuman denda kolektif maupun individu terhadap mereka yang diketahui berhubungan dengan pejuang menyebabkan warga sengsara seumur hidup. Denda ini jumlahnya di luar batas kemampuan penduduk desa. Bahkan, denda ini belum lunas kendati ternak dan harta lainnya diserahkan kepada serdadu haus darah tersebut. Semua bentuk “hukuman” ini dimaksudkan agar penduduk sekarat dan jera.” (Situs Kompas, 4 Mei 2004).

Di balik perjuangan panjang ini sudah tentu jatuh beribu-ribu korban jiwa dari kalangan masyarakat Muslim Aceh. Mereka berperang melawan penjajah dengan semangat jihad fi sabilillah.

Warisan Syariat Islam

Menyadari semangat yang tinggi dalam komitmen keislaman ini, wajar jika Tengku Daud Beureuh, setelah RI merdeka, menuntut pemberlakuan Syariat Islam di bumi Aceh Darussalam. Hal itu adalah permintaan yang logis. Jaman perjuangan Teuku Umar, Tengku Cik Di Tiro, atau Cut Nyak Dhien, mereka mengibarkan panji-panji perjuangan Islam. Terlebih di masa sultan Iskandar Muda dan lainnya, telah diterapkan sistem kesultanan Islam.

Hanya saja, pemerintah Jakarta tidak berkenan menerima aspirasi itu. Bahkan pada tanggal 8 Agustus 1950 Dewan Menteri RIS di Jakarta memutuskan untuk melebur Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara. Hal itu dirasakan sebagai tindakan merendahkan martabat bangsa Aceh yang sejak ratusan tahun hidup sebagai bangsa bebas dan memiliki akar budaya khas. Tanggal 23 Januari 1951 Perdana Menteri M. Natsir (dari Masyumi) membacakan surat peleburan Provinsi Aceh dengan Sumatera Utara melalui siaran RRI di Banda Aceh.

Dua tahun kemudian, tepatnya 21 September 1953, Daud Beureuh mendeklarasikan dukungan Aceh terhadap Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin Kartosoewiryo. Dua hari kemudian Daud Beureuh diangkat sebagai Wali Negara Aceh, menjadi bagian dari NII Kartosoewiryo. Inilah awal mula hubungan buruk antara Jakarta dengan Banda Aceh.

Tokoh-tokoh Aceh menghendaki pemberlakuan Syariat Islam, sedang para pemimpin di Jakarta bersikeras menolak. Jika dua kekuatan politik berbenturan, maka kita tahu siapa yang kemudian akan jadi korban. Di balik konflik Aceh-Jakarta, jatuh ribuan korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil Aceh dan TNI.

Seharusnya, para pemimpin di Jakarta lebih menghargai panggilan nurani masyarakat luas di Aceh. Jika mereka menghendaki Syariat Islam, hargai keinginan itu, lindungilah, bahkan bela aspirasi itu dengan sepenuh ketulusan. Toh, ia merupakan aspirasi rakyat sendiri, bukan aspirasi orang lain. Bukankah hal ini merupakan realitas demokrasi yang –katanya- harus dihormati?

Jika Pemerintah Pusat menutup-mata terhadap aspirasi itu, terlebih kemudian giat melancarkan operasi-operasi militer, maka Jakarta akan dipandang bersikap sewenang-wenang. Masyarakat Aceh menentang Belanda karena alasan Syariat Islam, haruskah mereka juga menentang Jakarta untuk alasan yang sama? Semestinya, ada perbedaan significant antara kolonial dan bangsa sendiri. Seandainya akal sehat dan kejujuran menjadi pemandu kebijakan politik, sudah tentu malapetaka kemanusiaan di Bumi Aceh Darussalam tidak perlu terjadi.

Malapetaka DOM

Konflik politik antara Aceh-Jakarta belum menjadi malapetaka mengerikan sebelum diberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) tahun 1989-1999. DOM diberlakukan di masa pemerintahan Soeharto dengan sandi Operasi Jaring Merah. Satuan militer yang dikirim ke Aceh adalah Kopassus. Kebijakan itu justru atas rekomendasi putra Aceh sendiri, Gubernur DI Aceh waktu itu, Prof. Ibrahim Hasan. Kebijakan itu katanya ditempuh untuk meredam gerakan separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di bawah pimpinan Hasan Tiro.

DOM adalah kebijakan malapetaka besar yang dikeluarkan Pemerintah Orde Baru. DOM membuat dendam masyarakat Aceh semakin dalam, berurat-berakar, menyusup ke setiap sel darah putra-putri Aceh yang merasa terhina oleh perlakuan buruk bangsa sendiri. Ibarat luka, ia bukan lagi luka biasa, namun luka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masya Allah, laa ilaha illa Huwal ‘Azizul Hakim. DOM adalah malapetaka sejarah yang membuat persoalan-persoalan di Aceh menjadi jauh lebih kusut. Ia tidak membawa kebaikan apapun, justru mengundang mata rantai bencana yang sangat luas.

Di balik kebijakan DOM ini lahir kematian-kematian yang sangat memilukan, kekejaman-kekejaman yang sulit dibayangkan, penderitaan dan ratap tangis luar biasa. Itulah harga yang harus dibayar oleh provinsi yang memiliki sejarah harum, paling gigih dalam melawan kolonial, paling cinta kebebasan, merindukan keshalihan, meskipun harus bertaruh kehidupan yang dimiliki. Seandainya Cut Nyak Dhien masih hidup, tentu dia akan memimpin rakyatnya mengusir pelaksana DOM, sebagaimana dulu dia memimpin rakyat Aceh mengusir Belanda.

Pedih di hati, luka dalam di dada. Betapa tidak, anak-anak bangsa, para putra sejarah, putra perjuangan, mereka harus menanggung penderitaan besar karena tangan-tangan saudaranya sendiri. Padahal Rasulullah saw. telah mewasiatkan: “Jadilalah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Dia tidak boleh menzhalimi saudaranya, membiarkannya dizhalimi, dan menghinanya. Taqwa itu disini (Rasulullah sambil menunjuk ke arah dada tiga kali). Cukuplah dikatakan sebagai kejahatan ketika seseorang menghina saudara Muslimnya. Setiap Muslim atas Muslim yang lain haram darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).

DOM berlangsung selama 10 tahun sejak 1989-1999. Tahun 1999, di masa pemerintahan Presiden Habibie, DOM dicabut. Jenderal Wiranto, mewakili institusi ABRI menyampaikan permohonan maaf kepada rakyat Aceh.

Ketika DOM dicabut, persoalan tidak otomatis berakhir. Pemerintah Jakarta telah membuat kesalahan luar biasa di Bumi Serambi Mekah Aceh Darussalam. Dengan berbagai tindakan militer (cara kekerasan), Jakarta bermaksud menghancurkan GAM sampai ke akar-akarnya, agar tetap terpelihara persatuan dan kesatuan nasional. Namun kebijakan seperti itu justru membuat peta konflik semakin meluas, berurat-berakar, meliputi seluruh kawasan Aceh Darussalam.

Jangan kira kekerasan secara sepihak akan membuat persatuan nasional tetap terpelihara. Justru cara seperti itu membuat keutuhan persaudaraan antar bangsa-bangsa di Tanah Air semakin tercabik. Selama ini kita hanya mampu mengikat tangan-tangan manusia dengan tali, bukan mengikat hati-hati mereka dengan kasih-sayang dan simpati. Sungguh benar kata almarhum Munir, SH, mantan ketua Kontras: “Kami sudah lelah dengan kekerasan.”

Solusi” Bencana

Sangat sulit memikirkan solusi konflik di Aceh. Kita telah menyia-nyiakan waktu, tenaga, biaya dan kehidupan. Semakin lama konflik di Aceh tidak malah mereda, justru semakin meluas dan rumit. Kekuatan GAM yang dulu dianggap hanya sekuat gerakan Pramuka, kini menjadi populer. Paling tidak, sebagian masyarakat Aceh menemukan GAM sebagai wadah untuk menyalurkan semua kekesalan, kecewa, dan dendam mereka terhadap Pemerintah Pusat.

Persoalan Aceh serumit persoalan krisis multi dimensi yang sejak tahun 1997 lalu menimpa bangsa ini. Hampir-hampir mustahil menemukan titik solusi yang bisa melegakan semua pihak. Sampai kemudian datanglah “solusi” yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, yaitu “solusi” gempa bumi dan gelombang Tsunami. Mungkin, inilah momentum yang akan menyudahi segala luka-derita yang mendera masyarakat Muslim Aceh selama ini. Hanya saja, “solusi” ini harus ditebus dengan harga yang sangat-sangat mahal, yaitu kepahitan bencana.

[Sekedar catatan: Seluruh isi naskah, termasuk bagian ini, ditulis sejak Januari 2005, sebelum tercapai perjanjian perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM di Helsinki, Finlandia. Semoga kedamaian bagi masyarakat Muslim Aceh Darussalam senantiasa lestari. Amin].

Di balik bencana alam pada 26 Desember 2004 itu ratusan ribu jiwa manusia meninggal, kota-kota hancur, harta-benda lenyap, ratap-tangis dan penderitaan menyelimuti, ratusan jiwa korban selamat tinggal di barak-barak pengungsian. Duh Rabbi, apakah ini harga yang harus ditebus untuk konflik berkepanjangan itu?

Ratusan ribu manusia telah meninggal, menjadi korban perjuangan, konflik antar saudara, dan menjadi korban bencana alam. Jika dilihat dari berbagai sisi, bangsa Aceh selalu berada dalam posisi yang baik. Mereka berperang melawan penjajah, mereka menjadi korban kebijakan politik yang keliru, dan mereka menjadi korban bencana alam yang tidak mereka kehendaki.

Semua ini semakin menguatkan sebutan bahwa Bumi Aceh adalah Al Ardhul Syuhada’ (bumi para syuhada). Bangsa Aceh dipilih menjadi bangsa yang paling banyak mengirimkan kafilah syuhada’ dibandingkan daerah-daerah lain di Tanah Air. Itu adalah kemuliaan yang besar, kemuliaan yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba yang pantas menerimanya.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Akan tetapi mereka hidup di sisi Rabb-nya dengan tetap mendapat rizki. Mereka bergembira atas karunia yang Allah berikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang (beriman) yang ada di belakang mereka yang belum menyusul, bahwasanya tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Surat At Taubah: 169-170).

Dalam pandangan umumnya manusia, kehidupan Muslim Aceh penuh dengan segala derita dan sengsara. Namun kita tidak tahu, bagaimana kehidupan itu di sisi Allah Azza Wa Jalla. Yang jelas Allah itu Syakirun ‘Alim, Maha Mensyukuri lagi Maha Tahu. Dia tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-hamba-Nya.

Semoga Allah melapangkan kubur para syuhada’, membentangkan ampunan, rahmat, dan rizki yang tidak putus-putus. Semoga pula Dia memperbaiki keluarga dan anak keturunan mereka, menguatkan mereka, meneguhkan kedudukannya di muka bumi, memberi rizki atas mereka dari segala penjuru. Semoga Allah mengobati luka-luka di hati mereka, menyembuhkan dendam yang membara, menyuburkan persaudaraan setelah berpecah-belah, mengadakan rasa aman setelah hidup penuh tekanan, mengangkat martabat mereka ke titik yang tinggi. Allahumma amin.

Wallahu a’lam.

_____________________________________________________________________

Peringatan 4 Tahun Bencana Tsunami

di Aceh Darussalam

_____________________________________________________________________

Bandung, 2 Muharram 1430 H

AM. Waskito.

Catatan: Naskah ini diambil dari naskah buku penulis, Hikmah Tragedi Tsunami di Bumi Aceh Darussalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: