Ada Apa Sih MUI…

Januari 31, 2009

Bismillah walhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Amma ba’du.

Masih terngiang tentang fatwa golput MUI. Saya benar-benar tidak mengira fatwa ini akan keluar juga. Dikiranya saat Hidayat Nur Wahid mengemukakan ide fatwa golput haram, itu hanya main-main. Tetapi nyatanya benar-benar muncul. Allahu Akbar! Berarti saya kecele deh…kacian deh…(jangan lanjutin).

Saat saya perhatikan rincian fatwa MUI dari situs eramuslim.com (download-nya), disana MUI mendasarkan fatwanya dengan sekian banyak alasan yang kuat dan kokoh. Kalau membaca alasan-alasan MUI, kita akan berkomentar, “Wah, ini sih fatwa ulama Salafi beneran!” Betapa tidak, dalil-dalil Syar’inya sungguh meyakinkan. (Maksudnya begini, yang bisa berdalil dengan dalil-dalil Syar’i itu sebenarnya bukan hanya kelompok tertentu saja. Alhamdulillah, ulama-ulama lokal Indonesia juga mampu melakukannya, bi nashrillah).

Hanya menurut saya (ini sekedar pendapat pribadi ya, bisa salah, bisa juga mendekati kebenaran), cara penempatan obyek yang dibahas dalam fatwa itu tidak tepat dengan realitas politik yang ada di Indonesia saat ini. Fatwanya sudah benar, argumentasinya bagus, tetapi menempatkan konteksnya yang keliru. Dalam fatwa itu MUI menegaskan tentang pentingnya Ummat Islam memiliki pemimpin, tidak terjadi kekosongan kepemimpinan, dan sebagainya. Semua ini benar dan sudah semestinya demikian. Tetapi ketika obyek “pentingnya pemimpin” itu ditarik ke sistem demokrasi atau praktik Pemilu, nah disitu terjadi “MISSING LINK”. Obyek yang dibahas kemana, realitas yang dibicarakan dimana?

Seperti contoh, misalnya sebuah dewan ulama mengeluarkan fatwa tentang haramnya nonton VCD porno. Disana dijelaskan tentang keburukan-keburukan pornografi, dampak buruknya, pandangan pakar, ulama, dan lainnya. Pokoknya segala yang menyangkut keburukan pronografi telah dibahas dengan tuntas. Tetapi produk akhir dari fatwa itu keluar keputusan: “Jadi, menjual VCD dilarang, sebab khawatir akan dipakai membuat VCD porno oleh tangan-tangan tak bertanggung-jawab.”

Nah, itulah. Dimana premis-premisnya dibangun, dimana konklusinya berujung? Antara pangkal dan ujung tidak nyambung. Pangkal dimana, ujungnya dimana?

Sekarang kita jujur saja:

[o] Anda percaya bahwa pemimpin itu penting? Anda percaya bahwa dalam sebuah negara tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan? Anda percaya bahwa rakyat harus peduli dengan kebaikan negaranya? Ya saya yakin, kita semua meyakini hal itu.

[o] Tetapi apakah Anda yakin juga bahwa demokrasi itu bersifat mutlak, tidak ada pilihan lain selainnya? Apakah Anda yakin bahwa Pemilu itu satu-satunya jalan untuk mendapat pemimpin? Apakah Anda yakin, sebuah negara yang tidak menjalankan demokrasi, disana rakyatnya hancur berkeping-keping? Apakah Anda yakin bahwa kalau 100 % rakyat golput semua, maka Indonesia akan bubar, kehidupan rakyat akan hancur? Bahkan apakah Anda yakin bahwa di suatu negara demokrasi bisa terjadi golput 100 % ? Saya rasa, kita semua tidak meyakini hal ini. Secara teori maupun fakta lapangan, tidak ada buktinya. Iya kan.

Mengapa saya katakan demikian? Sebab bobot fatwa MUI itu sangat berat. Ia menghukumi golput sebagai HARAM. Konsekuensinya, ikut Pemilu adalah WAJIB. Kalau ada kaum Muslimin yang saat Pemilu tidak mendatangi TPS-TPS, mereka dianggap telah BERDOSA. Jadi, kita dianggap MAKSIYAT karena tidak ikut Pemilu.

Ini adalah PELANGGARAN BESAR terhadap Syariat Islam. Sejak kapan Pemilu menjadi kewajiban, demokrasi menjadi keharusan, dan kegiatan-kegiatan pemilihan suara menjadi bagian dari ajaran Islam? MUI bisa dianggap telah memulai bid’ah besar yang bisa mengacaukan agama, dengan fatwa yang mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan dalam Islam, atau mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan dalam Islam.

Secara faktual, golput telah terjadi sangat lama di Amerika. Di Indonesia pun sejak Orde Baru suara golput sudah ada. Tetapi apakah karena golput itu, lalu di Amerika atau Indonesia kita kehilangan pemimpin? Bahkan di jaman-jaman Kerajaan Islam di masa lalu, disana tidak ada demokrasi, Pemilu, dll. tetap kepemimpinan tetap ada.

Bahkan dalam sistem demokrasi yang hendak diagamakan oleh MUI itu -maaf jika komentarnya sekeras ini- disana diakui adanya SUARA ABSTAIN, yaitu tidak menentukan pilihan kepada siapapun. Sungguh mengerikan, hendak mewajibkan Pemilu tetapi tidak mengerti sistem Pemilu itu sendiri. Golput itu identik dengan abstain (tidak memilih siapapun). Tanyakan ke siapapun yang menerapkan sistem voting (election), apakah mereka mengharamkan abstain? Tidak ada, kecuali MUI hari ini.

Saya sepakat dengan pandangan Pak Tohir Bawazir, bahwa kita harus peduli dengan politik, harus peduli dengan Pemilu, agar Ummat tidak mengalami kekalahan dalam politik. Tetapi masalahnya, haruskah kita hukumi ikut Pemilu ke level WAJIB, sementara golput dihukumi HARAM? Ingat, dalam Islam itu, hukum WAJIB dan HARAM bukan main konsekuensinya. Mewajibkan Pemilu, mengharamkan sikap abstain, inilah adalah ghuluw (melampaui batas).

Sebagai perbandingan, Imam Ahmad rahimahullah, beliau ketika menyusun kitab Musnad, beliau sangat ketat dalam meriwayatkan hadits-hadits, kalau menyangkut perkara halal-haram. Adapun kalau menyangkut keutamaan amal, akhlak, adab dan lainnya beliau agak longgar.

Kita harus merasa sangat takjub ketika muncul fatwa yang berhukum HARAM bagi golput. Kok seekstrem itu? Apakah Ummat Islam ini sudah sedemikian otoriter dan sangat maniak demokrasi, sehingga harus menerbitkan fatwa berstatus HARAM itu? Aneh bin ajaib. Katanya pro demokrasi, tetapi tidak menghargai pendirian politik setiap orang. Ini sangat rancu. Satu sisi mewajibkan demokrasi, di sisi lain mengharamkan ekspresi politik setiap orang. Namanya demokrasi ya memberi kebebasan berekspresi bagi setiap orang, termasuk kalau ada yang memilih golput.

Pertanyaan terakhir, apakah kita anti terhadap sistem demokrasi atau Pemilu di Indonesia ini?

Sejujurnya, sulit bagi kita mengubah sistem yang telah dibangun selama puluhan tahun, telah diatur dalam Dasar Negara, telah dtulis dalam ratusan atau ribuan buku-buku, telah dilembagakan dengan berbagai UU dan institusi, telah diajarkan secara massif di sekolah-sekolah, telah didoktrinkan secara intensif melalui media-media. Amat sangat sulit mengubah sistem politik yang telah melembaga, mendarah daging seperti ini.

Sebodoh-bodohnya pendukung golput, mereka tidak akan berpikir untuk melenyapkan sistem demokrasi di negeri ini. Sebab mereka tahu, bahwa Pemilu didukung negara, jelas akan tetap eksis selama dipelihara oleh negara. Apalagi di jaman Reformasi, Pemilu dianggap sebagai ruhnya kehidupan politik. Sulit dan teramat sulit untuk memisahkan kehidupan rakyat Indonesia dari tradisi politik demokrasi ini. Jangan mengada-ada, membayangkan jika ada Muslim yang golput, lalu kehidupan perpolitikan di Indonesia akan seketika macet. Ya, darimana teori dan argumentasinya?

Golput itu sejatinya adalah suara politik juga. Ia menjadi suara koreksi kepada para politisi yang banyak melalaikan amanah. Apa buktinya? Tahun 1999 lalu, ketika Pemilu demokratis dimulai lagi, angka golput sangatlah kecil. Namun ketika tahun 2004, angka golput mulai menguat. Apalagi dalam Pilkada-pilkada terakhir. Itu tandanya, masyarakat merasa kecewa dengan perilaku para politisi itu. Ini sebuah bukti nyata, bahwa golput sifatnya REAKSI, bukan kesadaran original (kecuali kalangan tertentu yang memang sudah anti Pemilu sejak awal).

Saya yakin, kalau pelaku golput ditanya, “Apakah Anda setuju jika demokrasi dihapuskan, Pemilu ditiadakan saja?” Saya yakin, mereka tidak akan setuju, sebab masih merasa membutuhkan kegiatan itu. Artinya, sikap golput itu adalah ekspresi politik mereka. Bukan Pemilu-nya yang tidak mereka setujui, tetapi mental dan perilaku politisi yang banyak busuknya itu. Itulah cara berpolitik orang-orang yang merasa tidak mendapat wadah ekspressi dalam sistem perpolitikan yang ada saat ini.

Secara pribadi, saya berharap MUI menganulir fatwa haram golput itu. Setidaknya mengubah muatannya, dari status HARAM golput ke status MUSTAHAB (dianjurkan) ikut Pemilu. Adapun jika kemudian MUI tetap berpegang dengan fatwanya, ya silakan saja. Di mata saya, ikut Pemilu atau tidak, itu hak politik setiap orang. Ia bersifat optional (pilihan), terserah apakah akan dipakai atau tidak.

Dulu di jaman Khalifah Ali Ra., banyak Shahabat tidak ikut Khalifah Ali dalam Perang Jamal maupun Shiffin. Khalifah tidak marah atau menyerang mereka, padahal taat kepada seorang Khalifah Islam seharusnya merupakan kewajiban setiap Muslim. Sikap politik itu pilihan, hatta di negara berdasarkan Syariat Islam, dipimpin seorang Khalifah Islami. Jangan membawa masalah ini ke arah status WAJIB atau HARAM. Ia keluar dari koridor yang semestinya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas semua salah dan kekurangan. Jazakumullah khair atas perhatiannya. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 31 Januari 2009.

AM. Waskito.

Iklan

Mendukung Fatwa Golput MUI

Januari 29, 2009

“Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada namun tidak dipilih, menjadi haram”. Demikian bunyi Fatwa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Ali Mustafa Ya’qub menjelaskan hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di kabupaten Padang Panjang Sumatra Barat, ahad 25 Januari 2009.



Alhamdulillah baru-baru ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan banyak fatwa diantaranya soal rokok dan soal Golput (golongan putih, alias tidak mencoblos di Pemilu). Banyak yang tidak setuju dengan Fatwa MUI ini, ada yang mengatakan fatwa bancilah, prinsipnya sih tidak setuju. Kalau saya sih setuju dengan Fatwa larangan golput ini, walaupun begitu kita harus menghargai pendapat yang tidak setuju dengan fatwa ini. Bagaimana pun juga fatwa adalah pandangan hukum menurut kacamata para ulama yang duduk di MUI, bagi yang tidak mematuhinya tidak akan dipaksa karena tidak ada Undang-undang yang memaksa masyarakat harus mengikuti seruan MUI. Namun demikian menurut KH Ali Mustafa Ya’qub, ada kewajiban moral untuk mengikuti seruan fatwa ini, “Orang yang tidak ikut Pemilu itu berdosa menurut hukum Islam”.


“Tidak berpartisipasi dalam proses Pemilu alias golput bagi saya merupakan sikap tidak bertanggungjawab dalam bidang politik. Walaupun itu juga merupakan hak politik warga negara. Namun untuk orang-orang golput alias masa bodoh ini harus konsisten untuk tidak teriak-teriak kalau penyelenggara negara maupun wakil rakyatnya bekerja tidak sebagaimana yang diharapkannya. Toh dia tidak merasa ikut memilih, sehingga otomatis tidak bertanggungjawab terhadap output maupun produk hukum yang dihasilkan oleh Lembaga Legislatif (DPR/DPRD) maupun Eksekutif (Presiden, Gubernur maupun Bupati/Walikota).


Yang sering dikemukakan oleh orang yang golput diantaranya Pemilu adalah bid’ah dan demokrasi merupakan sistem yang haram/batil, jadi produknya pun ikut batil. Buat saya, demokrasi adalah alat untuk memilih pemimpin. Namanya juga alat, selain sistem demokrasi, ada juga sistem kerajaan, dimana rakyat tidak berhak memilih pemimpinnya, namun itu merupakan warisan raja kepada anaknya/keluarganya. Ada pula yang melalui musyawarah terbatas (hanya melalui kalangan elite negara, rakyat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan memilih pimpinannya), atau adapula yang nampaknya demokratis padahal itu sesungguhnya lebih mirip sistem monarki/otoriter sebagaimana banyak dialami negara-negara dengan sistim diktator. Bagi saya, demokrasi adalah sistem/alat yang terbaik untuk memilih pemimpin. Bagi yang mengatakan bahwa demokrasi adalah haram harap membawa hujjah yang mantap sekaligus mohon memberi alternatif yang lebih baik.

Karena hanya sebagai alat, demokrasi harap dipandang sebagai sesuatu yang mubah namun diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Output yang dihasilkan dari sistim demokrasi adalah terpilihnya pemimpin yang disukai rakyatnya (walaupun rakyat juga macam-macam, ada yang bodoh, kriminal, musyrik, pelaku maksiat, anti syariat Islam namun adapula yang soleh, cerdas, akidahnya lurus, bersih dari perbuatan tercela dan pro syariat Islam). Untuk menghasilkan pemimpin yang baik, sholeh, cerdas, mengemban amanat rakyat dan ummat, anti terhadap tekanan asing memang bukan perkara mudah. Kalau rakyatnya sudah baik, pasti akan menghasilkan pemimpin yang baik, rakyat yang bodoh dan rusak akhlaknya memang akan menghasilkan pemimpin yang tidak jauh berbeda dengan kualitas rakyatnya. Namun apa jadinya kalau rakyat yang sholeh-sholeh, yang mendambakan pemimpin yang baik malah tidak ikut mencoblos/golput, maka yang tersisa adalah bagian masyarakat yang tidak sholeh, maka akan muncul pemimpin yang buruk akhlaknya, besar nafsu kekuasaannya, tidak peduli dengan halal dan haram, dsb. Kalau ini yang terjadi, harap jangan menangisi keadaan, toh dia telah bersikap masa bodoh terhadap mekanisme politik yang ada..”

Tidak berpartisipasi dalam proses Pemilu alias golput bagi saya merupakan sikap tidak bertanggungjawab dalam bidang politik. Walaupun itu juga merupakan hak politik warga negara. Namun untuk orang-orang golput alias masa bodoh ini harus konsisten untuk tidak teriak-teriak kalau penyelenggara negara maupun wakil rakyatnya bekerja tidak sebagaimana yang diharapkannya. Toh dia tidak merasa ikut memilih, sehingga otomatis tidak bertanggungjawab terhadap output maupun produk hukum yang dihasilkan oleh Lembaga Legislatif (DPR & DPRD) maupun Eksekutif (Presiden, Gubernur maupun Bupati/Walikota).

Yang sering dikemukakan oleh orang yang golput diantaranya Pemilu adalah bid’ah dan demokrasi merupakan sistem yang haram/batil, jadi produknya pun ikut batil. Buat saya, demokrasi adalah alat untuk memilih pemimpin. Namanya juga alat, selain sistem demokrasi, ada juga sistem kerajaan, dimana rakyat tidak berhak memilih pemimpinnya, namun itu merupakan warisan raja kepada anaknya/keluarganya. Ada pula yang melalui musyawarah terbatas (hanya melalui kalangan elite negara, rakyat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan memilih pimpinannya), atau adapula yang nampaknya demokratis padahal itu sesungguhnya lebih mirip sistem monarki/otoriter sebagaimana banyak dialami negara-negara dengan sistim diktator. Bagi saya, demokrasi adalah sistem/alat yang terbaik untuk memilih pemimpin. Bagi yang mengatakan bahwa demokrasi adalah haram harap membawa hujjah yang mantap sekaligus mohon memberi alternatif yang lebih baik.



Karena hanya sebagai alat, demokrasi harap dipandang sebagai sesuatu yang mubah namun diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Output yang dihasilkan dari sistim demokrasi adalah terpilihnya pemimpin yang disukai rakyatnya (walaupun rakyat juga macam-macam, ada yang bodoh, kriminal, musyrik, pelaku maksiat, anti syariat Islam namun adapula yang soleh, cerdas, akidahnya lurus, bersih dari perbuatan tercela dan pro syariat Islam). Untuk menghasilkan pemimpin yang baik, sholeh, cerdas, mengemban amanat rakyat dan ummat, anti terhadap tekanan asing memang bukan perkara mudah. Kalau rakyatnya sudah baik, pasti akan menghasilkan pemimpin yang baik, rakyat yang bodoh dan rusak akhlaknya memang akan menghasilkan pemimpin yang tidak jauh berbeda dengan kualitas rakyatnya. Namun apa jadinya kalau rakyat yang sholeh-sholeh, yang mendambakan pemimpin yang baik malah tidak ikut mencoblos/golput, maka yang tersisa adalah bagian masyarakat yang tidak sholeh, maka akan muncul pemimpin yang buruk akhlaknya, besar nafsu kekuasaannya, tidak peduli dengan halal dan haram, dsb. Kalau ini yang terjadi, harap jangan menangisi keadaan, toh dia telah bersikap masa bodoh terhadap mekanisme politik yang ada.


Perkara kalau demokrasi di Indonesia amat ribet, bertele-tele, memboroskan banyak dana, banyak money politics dsb. itu memang tidak bisa dipungkiri. Sistem demokrasi kita amat melelahkan, sebentar-bentar Pemilu dan Pilkada, spanduk-spanduk dan pamlet merajalela, caleg pada obral janji dsb. Itu memang iya. Namanya juga alat politik, kadang berlebihan dan melelahkan, namun jangan karena adanya kekurangan dari sistem demokrasi maka dipukul rata lebih baik golput saja daripada pusing-pusing mikir politik. Mudah-mudahan ke depannya sistem demokrasi kita bisa lebih baik, lebih jujur, lebih simple, tanpa adanya politik bagi-bagi uang, kesadaran masyarakat untuk memilih pemimpinnya semakin meningkat dsb. sehingga demokrasi kita jadi lebih berkualitas dibanding saat ini. Tapi jangan ngambek alias golput.


Bagaimanapun dengan demokrasi yang kita anut sekarang, ada beberapa kemajuan yang diperoleh ummat Islam sekarang, diantaranya banyak pejabat baik di Eksekutif maupun Legislatif yang berasal dari tokoh-tokoh Islam maupun Partai-partai Islam, adanya Undang-undang yang dihasilkan yang membela kepentingan ummat Islam seperti UU Pendidikan, UU Pornografi dll. Kalau pemimpinnya baik-baik insya Allah akan menghasilkan kebijakan yang menolong rakyat dan ummat.


Jadi untuk menghasilkan pemimpin yang baik, kita harus hati-hati untuk memilih pemimpin, semakin banyak rakyat yang sadar politik, insya Allah juga dihasilkan pemipin yang lebih baik. Ada peringatan dari Allah terkait dengan Pemilu.”

Perkara kalau demokrasi di Indonesia amat ribet, bertele-tele, memboroskan banyak dana, banyak money politics dsb. itu memang tidak bisa dipungkiri. Sistem demokrasi kita amat melelahkan, sebentar-bentar Pemilu dan Pilkada, spanduk-spanduk dan pamlet merajalela, caleg pada obral janji dsb. Itu memang iya. Namanya juga alat politik, kadang berlebihan dan melelahkan, namun jangan karena adanya kekurangan dari sistem demokrasi maka dipukul rata lebih baik golput saja daripada pusing-pusing mikir politik. Mudah-mudahan ke depannya sistem demokrasi kita bisa lebih baik, lebih jujur, lebih simple, tanpa adanya politik bagi-bagi uang, kesadaran masyarakat untuk memilih pemimpinnya semakin meningkat dsb. sehingga demokrasi kita jadi lebih berkualitas dibanding saat ini. Tapi jangan ngambek alias golput.



Bagaimanapun dengan demokrasi yang kita anut sekarang, ada beberapa kemajuan yang diperoleh ummat Islam sekarang, diantaranya banyak pejabat baik di Eksekutif maupun Legislatif yang berasal dari tokoh-tokoh Islam maupun Partai-partai Islam, adanya Undang-undang yang dihasilkan yang membela kepentingan ummat Islam seperti UU Pendidikan, UU Pornografi dll. Kalau pemimpinnya baik-baik insya Allah akan menghasilkan kebijakan yang menolong rakyat dan ummat.


Jadi untuk menghasilkan pemimpin yang baik, kita harus hati-hati untuk memilih pemimpin, semakin banyak rakyat yang sadar politik, insya Allah juga dihasilkan pemipin yang lebih baik. Ada peringatan dari Allah terkait dengan Pemilu. “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.” (QS Al-Baqarah 282). Jadilah kita hamba-hamba Allah yang mau memberi kesaksian ketika dipanggil untuk memberi kesaksian, diantaranya dengan mencoblos pemimpin yang terbaik dari yang ada (minimal yang paling kecil mudharatnya buat ummat Islam), dibanding kita hanya berpangku tangan saja, sehingga terhindar munculnya pemimpin yang buruk. Bahkan dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksiannya, dan barangsiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (Al-Baqarah 283).

Untuk itu kita sangat memahami keluarnya Fatwa MUI tentang haramnya golput ini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba yang mau memberi kesaksian jika diminta. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.” (QS Al-Baqarah 282). Jadilah kita hamba-hamba Allah yang mau memberi kesaksian ketika dipanggil untuk memberi kesaksian, diantaranya dengan mencoblos pemimpin yang terbaik dari yang ada (minimal yang paling kecil mudharatnya buat ummat Islam), dibanding kita hanya berpangku tangan saja, sehingga terhindar munculnya pemimpin yang buruk. Bahkan dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksiannya, dan barangsiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (Al-Baqarah 283)

Untuk itu kita sangat memahami keluarnya Fatwa MUI tentang haramnya golput ini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba yang mau memberi kesaksian jika diminta.


(Tohir Bawazir).


Catatan: Penulis adalah pemerhati Dakwah Islam, tinggal di Jakarta. Tulisan ini dimuat sebagai bentuk perimbangan opini dalam blog ini. Terimakasih.


Golput dalam Ranah Fatwa MUI

Januari 27, 2009

Pengantar

Sore kemarin, 26 Januari 2007, TVOne memberitakan keluarnya fatwa haram MUI tentang MEROKOK dan GOLPUT. Fatwa ini dirumuskan setelah MUI melakukan sidang ijtima’ (kolektif) di Padang Panjang, Sumatera Barat. Tampil sebagai juru bicara MUI dengan TVOne adalah Prof.Dr. Ali Musthfa Ya’qub. Selain sebagai Ketua MUI, beliau dikenal sebagai salah satu ahli hadits di Indonesia. Profesor Ali menjelaskan, bahwa sidang MUI kali ini diikuti oleh 700 ahli-ahli Islam, ia dianggap representasi pandangan alim-ulama Indonesia saat ini.

Secara umum, kita sangat mensyukuri keberadaan MUI di Indonesia. Dengan segala plus-minusnya, MUI telah menunjukkan karya dan perjuangan besar dalam mengawal kehidupan religius Ummat Islam di Indonesia. Kita sangat mendukung MUI saat menetapkan fatwa sesat ajaran SEPILIS, fatwa sesat bagi Ahmadiyyah, fatwa caleg non Muslim, fatwa haram bunga bank, dan lain-lain. Semua itu kita syukuri, alhamdulillah. Adapun soal keluarnya fatwa HARAM GOLPUT, hal itu tidak mempengaruhi sikap hormat dan dukungan kita kepada MUI.

Andai disini saya sebut istilah “menggugat”, ia bukan untuk melecehkan posisi MUI. Namun sekedar “strategi komunikasi” saja, untuk menarik perhatian. Sekeras-kerasnya kata “menggugat” dalam tulisan ini, ia hanya sekedar wacana. Tidak memiliki kekuatan memaksa, apalagi menjadi fatwa tandingan. Ini hanyalah tulidsn yang bersifat diskusi ilmiah saja; boleh diterima, boleh juga ditolak.

Semata kepada Allah jua kita memohonkan pertolongan, penerangan, ilmu, dan petunjuk. Tolonglah kami ya Rabbi, innaka Anta Maula ni’mal Maula wa ni’man Nashir. Amin.

Akhirnya, selamat membaca!!!

Konteks Fatwa MUI

Dalam sidangnya di Padang Panjang, MUI mengeluarkan beberapa fatwa. Dua yang terpenting ialah tentang haramnya merokok dan haramnya golput. Fatwa haram merokok dikeluarkan dengan catatan tertentu, sementara fatwa haram golput tanpa catatan apapun, bersifat bulat, tanpa catatan.

Salah satu pertimbangan fatwa haram merokok ialah data yang disampaikan oleh Dr. Farid Ankasa Moeloek, mantan Menteri Kesehatan di jaman Habibie. Menurut beliau, ada sekitar 70.000 paper/tulisan yang mengupas tentang bahaya rokok/tembakau bagi kesehatan manusia. Dengan dasar itu, sebenarnya MUI bisa dengan mudah mengeluarkan fatwa haramnya merokok. Namun MUI tidak otomatis mengharamkan merokok secara mutlak, karena ia telah menjadi budaya yang kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Jadi perlu graduasi bagi pemberlakuan fatwa haram merokok ini. MUI mengambil pelajaran dari graduasi pengharaman khamr (minuman keras) di jaman Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Khamr diharamkan secara bertahap, tidak sekaligus, sehingga mudah diterima oleh Ummat Islam waktu itu.

Adapun bagi perbuatan golput, yaitu tidak mengikuti Pemilu, MUI menetapkan haram secara mutlak, tanpa perincian apapun. Kecuali kalau ada udzur-udzur (halangan) tertentu, seperti sakit, kesibukan, tugas, dan lainnya. Seperti dikatakan oleh Profesor Ali, untuk menetapkan aturan-aturan teknis soal orang-orang yang memiliki halangan tertentu, KPU lebih berwenang menentukannya.

Alasan MUI menetapkan haramnya golput ialah: “Seburuk apapun pemimpin yang dihasilkan dari Pemilu, itu lebih baik daripada tidak ada pemimpin sama sekali.” Sikap golput jika dibiarkan akan menjadi bahaya besar, yaitu kepemimpinan menjadi kehilangan legitimasi. Paling parahnya, rakyat bisa kehilangan kepemimpinan itu sendiri. Lebih baik tetap memilih pemimpin yang buruk daripada tidak memilih sama sekali. Andai ada calon-calon pemimpin yang buruk-buruk, maka masyarakat harus memilih calon yang keburukannya lebih ringan. Bukan dengan sikap golput alias tidak memilih sama sekali.

Ketika ditanya, apakah fatwa ini bersifat permanen atau ada kemungkinan berubah? Profesor Ali Musthafa Ya’qub mengatakan, ia bersifat permanen. Kecuali nanti kalau ada kejadian-kejadian tertentu, fatwa bisa ditinjau kembali. Tetapi ia bersifat permanen, sesuai kondisi saat ini. Demikian pandangan MUI yang diwakili oleh Profesor Ali Musthafa Ya’qub dari Komisi Fatwa MUI.

MUI Tergesa-gesa

Dari sekian banyak fatwa MUI yang bermanfaat, alhamdulillah. Mungkin fatwa haram golput inilah yang paling kontroversial. MUI begitu cepat menetapkan fatwa ini tanpa melakukan perhitungan yang komprehensif. Profesor Ali Musthafa Ya’qub mengklaim bahwa sidang ijtima’ MUI kali ini diikuti oleh 700 ahli-ahli Islam dari seluruh Indonesia. Suatu yang terlalu terburu-buru menyebut sikap golput dalam Pemilu adalah haram. Ia benar-benar mengherankan.

Tampak disana, bahwa fatwa MUI kali ini lebih bermuatan politik, daripada bermuatan nilai-nilai Syar’i itu sendiri. Bagi siapapun yang melihatnya secara luas, dengan perspektif terbuka, pasti akan mendapati kesalahan-kesalahan serius di balik fatwa haram golput ini. Alasan-alasan yang dipakai MUI tidak mencerminkan suatu pengetahuan yang baik tentang realitas politik berikut konsekuensi-konsekuensinya. Sekali lagi, MUI terlalu gegabah dalam fatwa haram golput ini.

Disini kita akan memberikan koreksi atas fatwa MUI tentang haramnya golput. Adapun tentang haramnya merokok, alhamdulillah saya mendukung. Begitu juga tentang haramnya senam Yoga, saya mendukung MUI. “Ya, haramkan saja Yoga itu! Baik memakai mantra atau tidak, haramkan saja! Yoga ini produk ritual orang non Muslim, tidak boleh diterima. Tanpa Yoga pun kita bisa sehat. Apalagi kalau Yoga dilakukan dengan pakaian super ketat, di tempat umum lagi.”

Baca entri selengkapnya »


Ada Apa Setelah TRAGEDI GHAZA…

Januari 26, 2009

Setelah 3 pekan melakukan agressi sangat brutal, akhirnya Israel laknatullah kecapekan juga. Mereka khawatir tidak akan mampu berperang lebih lama, maka buru-buru menyatakan “genjatan senjata sepihak”. Tanpa diminta berhenti oleh para pejuang Palestina, mereka sudah berhenti sendiri.

Enak betul menjadi bangsa Israel. Dia boleh menyerang Palestina atau negara-negara tetangganya kapan saja. Boleh juga memakai cara-cara paling brutal sekalipun, seperti mengguyurkan bom fosfor membakar. Ibarat seorang petinju, Yahudi boleh menyerang musuhnya secara brutal, tanpa ampun; bukan hanya memukul, tetapi juga menendang, menggebuk dengan kursi, menyemprot serbuk merica, memukul dengan sabuk bermata logam, sampai menusuk musuhnya dengan pisau. Tetapi, giliran musuh Yahudi mau menyerang, wasit seketika menghentikan pertarungan. “Stop, stop, pertarungan dihentikan! Mari kita sama-sama istirahat!”

Sebagai perbandingan, ketika terjadi kerusuhan di Timor Timur pasca jejak-pendapat yang memenangkan kubu pro kemerdekaan, perwira-perwira TNI dituduh ikut terlibat dalam kerusuhan itu. Kasus ini selalu menghantui TNI sampai saat ini. Padahal korban yang jatuh sedikit atau skala kerusuhannya tidak besar-besar amat. Bandingkan dengan Yahudi laknatullah itu! Puluhan kali mereka melakukan kebrutalan-kebrutalan, seluruh dunia teriak-teriak mengecamnya, tetapi sampai saat ini dia tetap anteng-anteng saja. Pasca Tragedi Ghaza ini, besar kemungkinan Yahudi Israel akan lolos untuk kesekian kalinya.

Damai Sementara Saja

Sekitar 22 hari sejak 27 Desember 2008 lalu, kita setiap hari disuguhi berita-berita horor seputar kajahatan Yahudi laknatullah ‘alaihim. Kini situasi tenang kembali. Jatuh korban jiwa di kalangan masyarakat Palestina sekitar 1300 jiwa, korban luka lebih dari 5000 orang. Kerusakan fisik diperkirakan mencapai US$ 2 miliar (sekitar 20 triliun rupiah). Israel sudah menyatakan berhenti menyerang secara sepihak.

Tapi apalah artinya genjatan senjata, perdamaian, perundingan ini? Apa artinya semua itu? Toh, nanti seluruh dunia akan melihat seri kebrutalan Yahudi untuk kesekian kalinya. Sekarang saja mereka berhenti, tetapi sebentar lagi penyakit brutalnya akan kambuh lagi. Betapa tidak, kebrutalan demi kebrutalan Yahudi sudah terjadi sejak lama dan terus terulang sampai saat ini.

Andai Hamas memiliki kekuatan yang tangguh, lebih baik bgi mereka untuk meneruskan perlawanan. Sebab Israel tidak memiliki mentalitas untuk berperang dalam durasi lama. Mereka adalah spesialis teror terhadap warga sipil, tidak memiliki kemampuan untuk berperang secara berkesinambungan.

Namun karena kekuatan Hamas memang minim, tidak mengapa menyambut genjatan senjata sepihak bangsa laknatullah itu. Apa boleh buat? Itulah kesempatan terbaik yang saat ini ada.

Baca entri selengkapnya »


Catatan Seputar Kita

Januari 26, 2009

Alhamdulillah atas segala nikmat dan karunia Allah. Segala kebaikan yang kini kita miliki, apapun bentuknya, adalah nikmat Allah. Jika bukan nikmat, bisa jadi ia akan menjadi mushibah; atau nilainya lebih kecil dari apa yang seharusnya kita terima; atau ia akan terlepas dan menjadi hak orang lain. Kita bersyukur kepada Allah ketika banyak manusia yang lain kondisinya lebih memprihatinkan dari kita. Fa bi aiyi alaa’i Rabbikuma tukadz-dzibaan?

Pembaca Budiman…

Alhamdulillah syukur, LANGIT BIRU masih eksis, dengan segala suka dukanya. Mohon maaf, namanya harus ganti-ganti. Tadinya “inspirations”, lalu menjadi “media”, dan sekarang “articles”. Semula memang ingin di-setting dalam bentuk media publikasi secara periodik. Tetapi masya Allah, ternyata sulit mengelola blog ini dengan disiplin media. Energinya cukup besar, sementara sifat blog ini tetap free charge alias tidak bisa dikomersialkan. Setelah ditimbang-timbang, ya sudahlah cukup sebagai blog seperti sebelumnya saja.

Mohon maaf jika akhir-akhir ini up dating artikel tidak lancar. Selain karena kesibukan tertentu, kondisi fisik saya sering mengalami influenza. Jika sudah lemas dan pilek, menjadi kendala yang merepotkan juga. (Dulu ada seorang saudara memberi nasehat, “Jaga tubuhmu baik-baik. Tubuh yang kamu miliki adalah satu-satunya milikmu. Jagalah dengan baik!” Saya kira ada baiknya juga Pembaca merenungi nasehat tersebut. Iya tidak?).

Sebelum akhir Desember 2008 lalu, sebenarnya saya sedang mempersiapkan tiga artikel penting: Tentang The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), heboh foto pornografi Sarah dan Rahma Azari, dan Ryan Jagal Jombang. Namun setelah meletus agressi Israel ke Palestina, semua artikel itu tertunda. Untuk “The Fed” bisa dimuat saat ini, alhamdulillah. Tetapi untuk Sarah dan Rahma Azari dan Ryan Jagal Jombang, cukup dikupas secara singkat saja.

Foto Perempuan Binal

Sarah dan Rahma Azari, dua wanita yang identik dengan dunia pose pornografi ini, bukan keturunan Arab, tetapi keturunan Pakistan. Mungkin termasuk Pakistan yang jahiliyah. Orang-orang Indonesia secara fisik kecil, kulitnya coklat, hidungnya pendek. Masyarakat kita sering kali terobsesi secara fisik oleh wanita-wanita berpenampilan Bule, Arab, India, Turki, dan lainnya. Entahlah, apakah itu sindrom yang biasa menimpa manusia-manusia berukuran tubuh kecil? Wallahu a’lam.

Mungkin karena sindrom sejenis itu banyak orang mengagumi wanita-wanita semodel Sarah, Rahma, atau Ayu Azari. Sarah Azari pernah berpose genit di koran Rakyat Merdeka, lalu di bawahnya tertulis keterangan, kira-kira: Tubuh seksi Sarah Azari selalu menjadi fantasi bagi laki-laki. Ya tentu maksudnya, laki-laki rusak moral. Kalau laki-laki yang baik, orang-orang semodel “sex bomber” itu akan selalu disambut dengan dzikir: ‘Audzubillah minas syaithanir rajiim. Mereka bisa diserupakan dengan cewek-cewek syaitaniyyah yang selalu mengganggu ketenteraman batin orang-orang beriman.

Konon menurut berita yang beredar, foto-foto itu dibuat sekitar 10 tahun lalu (1998). Ya kita tidak tahu. Paling Roy Suryo yang selalu menjadi bintang untuk hal-hal seperti ini. (Pak Roy ini banyak pengagumnya, tetapi banyak juga kritikusnya. Katanya, kepakaran Roy itu dipertanyakan).

Mungkin menarik kita pikirkan, “Kok ada wanita yang mau difoto atau berpose dalam keadaan tanpa busana seperti itu? Apa keuntungannya, apa manfaatnya?”

Masalahnya tentu tidak sesederhana itu. Apa yang dilakukan Sarah, Rahma, ayau Ayu Azari dengan segala dunia keseksian mereka. Hal itu tidak ujug-ujug muncul. Ia lahir dari proses panjang, sejak mereka kecil dalam lingkungan rumah dan sekolahnya. Lingkungan yang membesarkan mereka sangat berpengaruh.

Biasanya, wanita-wanita yang di kemudian hari mengalami krisis rasa malu, mereka telah melewati ambang rasa malu di saat remaja. Biasanya mereka telah melakukan hubungan seks bebas ketika itu. Sek seperti itu bisa karena keinginan mereka sendiri, atau karena paksaan pihak laki-lakinya. Jika karena paksaan, biasanya akan muncul dendam sejarah kepada semua laki-laki. Kredo yang sering mereka ucapkan, “Aahh, semua laki-laki sama bejatnya!” Mereka tidak lagi menghargai laki-laki, sebab dianggap semuanya bejat. Yang bejat hanya laki-laki tertentu, tetapi yang menjadi korban semua laki-laki sisanya. Di mata wanita-wanita seperti itu, terjun di dunia pornografi tidak masalah. Toh, mereka sudah lebih parah dari sekedar tampil seronok memamerkan tubuh. Perzinahan bagi seorang wanita dianggap sebagai pelenyap rasa malu. Kalau sudah melakukan itu, yang lain terasa ringan.

Hampir semua wanita yang kita lihat di TV sebagai wanita-wanita dengan krisis rasa malu, mereka sebelumnya telah terjerumus seks bebas. Karena seks itu pula, mereka menjadi merasa kebal dari rasa malu. Mau disuruh action yang semalu apapun, mereka akan mau. Apalagi jika bayarannya besar. “Toh, saya sudah melakukan yang lebih memalukan dari semua ini,” kata mereka.

Di dunia film kita pernah mendengar istilah “pendalaman karakter”. Misalnya, ada film romantisme yang berkisah tentang sosok pasangan laki-laki dan wanita tertentu. Konon, agar acting mereka dalam film bisa sangat meyakinkan, mereka diberi kesempatan untuk melakukan “pendalaman karakter”. Mereka diperbolehkan berdua- -duaan, termasuk tidur bersama. Ya, itulah dunia jahiliyyah. Dengan cara seperti itu diharapkan tidak ada lagi “kendala batin” antar pemain. Mereka diharapkan bisa bermain total tanpa hambatan psikologis.

Antara moral dan rasa malu, berkaitan seiring sejalan. Semakin kuat moralnya, semakin kuat rasa malunya; semakin tipis rasa malunya, itu pertanda sangat buruk kualitas moralnya. Kalau seorang wanita sudah diketahui buruk moral, tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Omongan, tingkah, perbuatan, dan kerjanya biasanya penuh masalah.

Ryan “Jagal” Jombang

Beberapa bulan terakhir, kasus Ryan mulai disidangkan di PN Depok. Dia diadili untuk kasus mutilasi yang tubuh korbannya dipotong-potong lalu dimasukkan tas besar itu. Adapun untuk mayat-mayat yang ditemukan di sekitar rumah Ryan di Jombang, belum jelas bagaimana kasusnya.

Awal-awal Ryan mulai disidangkan, dia tampil seperti laki-laki saleh. Dia memakai kopiah Haji warna putih, dan di jidatnya tampak dua titik hitam, seperti bekas shalat. Secara pribadi saya kesal melihat penampilan Ryan seperti itu. Dia pembunuh mutilasi, pembunuh berantai, dan palaku homoseks. Orang sekeji itu tidak boleh memakai simbol-simbol kesalehan, sebab nanti bisa menipu masyarakat dan menyakiti hati kaum Muslimin. Masak ada orang sekeji Ryan memakai pakaian seperti laki-laki saleh? Lho, sejak dulu mengapa dia tidak memakai pakaian kesalehan? Mengapa baru setelah kebejatannya terungkap, dia tampil seperti orang saleh? Saya terus terang kesal dan marah melihat penampilan Ryan itu.

Orang seperti Ryan adalah monster kehidupan. Dia itu syaitan dalam wujudnya berbadan manusia. Dia dikutuk oleh Allah Ta’ala karena perbuatan homoseksnya. Orang seperti ini tidak boleh sama sekali dihubungkan dengan syiar-syiar kesalehan, meskipun sifatnya penampilan zhahir.

Ryan bukanlah orang yang buta ilmu agama. Dia berasal dari Jombang yang terkenal dengan pesantren-pesantren. Dia juga pernah menjadi guru ngaji Al Qur’an, bisa menjalankan shalat dan ibadah-ibadah. Perbuatannya membunuh, memutilasi, dan homoseksual adalah kebejatan komplek. Satu saja perbuatan itu sudah merupakan dosa besar, apalagi ketika bertumpuk-tumpuk?

Bukan tidak boleh melihat Ryan taubat. Kalau dia mau taubat, tentu dia akan mendapati Allah Maha Ghafur Maha Rahiim. Tetapi menyaksikan dia tampil seperti pakaian orang-orang saleh, ini adalah kesalahan besar. Dia seharusnya memakai simbol-simbol kaum Luth, simbol pembunuh besar, atau simbol pelaku mutilasi. Minimal, dia bisa memakai pakaian apapun yang dia sukai, termasuk pakaian bencong. Asal jangan pakaian orang-orang saleh.

Dan lama-lama dibiarkan Ryan semakin besar kepala. Beberapa waktu lalu dia tampil dengan memakai sorban dan baju gamis putih-putih. Ya Ilahi, orang ini semakin parah saja penyakitnya. Menurut data media, saat ulang tahun Novel, pacarnya, Ryan diberi kesempatan polisi “main cinta” dengan Si Novel itu.

Padahal menurut Ibnu Qayyim, pelaku homoseks seharusnya dibunuh keduanya, baik “si penusuk” maupun “si tertusuk”. Andai hewan melakukan homoseks, mereka juga harus dibunuh. Seharusnya, menghadapi begundal-begundal ini, tidak boleh ada rasa belas kasih di hati kita. Hukuman pancung pun –andai ada di negeri ini- tidak perlu disesali. Orang bejat harus menerima ganjarannya agar tidak menjadi contoh kebejatan bagi manusia-manusia lainnya.

Saya menghimbau kepada Pemerintah Kota Depok, mohon tolonglah jangan perbolehkan Ryan tampil di pengadilan dengan baju-baju ala orang saleh itu. Silakan saja deh, memakai kemeja panjang, jas rapi, dasi, atau apapun, asal jangan atribut-atribut fisik orang saleh. Bukan karena apa, tetapi agar tidak mencemari agama ini! Mohon deh aparat Pemkot Depok bisa intervensi dalam urusan penampilan Si Homoseks penjagal bengis itu!

Kita semua khawatir, nanti masyarakat akan member komentar-komentar pahit. Maklum masyarakat kita masih cenderung lugu dan simplisit.

Para Pembaca, sekali lagi mohon maaf kalau ada kesalahan dan kekurangan. Termasuk jika ada luapan-luapan emosi berlebihan. Syukran jazakumullah atas perhatian Antum semua. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

26 Januari 2009.


AM. Waskito.


Kemana Lelaki Arab? Dimana Pengikut Salafus Shalih?

Januari 26, 2009

Pengantar:

Pembaca budiman, berikut ini adalah salah satu sumbangan tulisan dari seorang Al Akh di Kalimantan. Tulisannya tajam, heroik, dan menampakkan kepedulian besar kepada Islam dan Muslimin. Alhamdulillah. Anda pun boleh mengirim tulisan. Kalau menarik, nanti dimuat, insya Allah. Tetapi maaf, tidak pakai honor ya…he he he. Maaf. Kalau saya beruang tebal, mungkin kontribusi Anda akan dihargai. Maafkan saudaramu ini!

Selamat membaca! Oh ya, akhir-akhir ini saya agak sakit, jadi up dating datanya kurang lancar. Jazakumullah khair, spesial untuk Abu Muhammad Al Burniu. (AMW).

Kemana Laki-laki Arab? Dimana Pengikut Salafus Shalih?

Umat Islam seperti buih di atas lautan, banyak tapi terombang-ambing dan tak bisa berbuat apa-apa. Umat Islam juga sepertti hidangan di atas meja makan, dimana musuh-musuh berlomba untuk melahapnya. Ini merupakan dua diantara banyak khabar dari Rasulullah tentang kondisi umat Islam di akhir jaman. Padahal berita-berita ini diucapkan oleh beliau sekitar 14 abad silam.

Kini kita membuktikan dengan mata kepala sendiri, kenyataan dari ‘berita’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam tersebut. Meski di tengah mayoritas umat Islam di tanah Arab, bangsa Palestina yang juga mayoritas Muslim di ngerinya itu, tengah menjadi bulan-bulanan serangan Israel yang membabi buta. Masyarakat Arab yang notabene Muslim hanya terbengong-bengong tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa? Apa mereka mendukung Israel? Apa mereka merestui kekejian kaum Zionis dengan membantai hampir 1000 manusia Palestina?

Bukan!!! Mereka berontak, mereka mengutuk Israel, bangsa Arab bergolak dan menentang pembantaian yang dilakukan para Zionis tersebut. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena para pemimpin mereka telah bertekuk lutut di kaki Israel dan Amerika. Hampir tak ada pemimpin dunia Islam yang berani menyuarakan kemarahan. Bahkan tak satu negara Arab yang berani mengirimkan tentaranya, untuk bersama pejuang HAMAS membalas perbuatan bangsa penjajah tersebut. Bahkan Mesir yang selama ini dikenal sebagai negeri Muslim yang telah mencetak banyak ulama besar melalui Al Azhar nya, seolah berpihak kepada Israel. Ambil contoh, bagaimana susahnya bantuan dari luar (termasuk dari Indonesia) ke jalur Gaza buat melewati negeri Fir’aun ini.

Kita sedih melihat pembantaian di jalur Gaza, namun kita masih punya secercah harapan bahwa para korban tersebut menghadap Rabb-nya sebagai Syahid. Tapi kita akan lebih sedih lagi setelah melihat realita bahwa di Tanah Arab nyaris tak memiliki lagi Laki-laki, selain lelaki Palestina. Kebanyakan lelaki Arab telah dikebiri oleh kaum Zionis, sehingga kehilangan kejantananya. Ini adalah fakta menyedihkan yang membuat pilu hati siapa saja yang beriman dan merasa sebagai saudara seiman dengan Muslim Palestina. Entahlah, jika ada yang menganggap Palestina dengan HAMAS-nya adalah orang-orang KHAWARIJ. Bagi orang-orang ini, tentu kematian bangsa Palestina tidak lebih berharga dari bangkai seekor ikan, sebab sejelek-jelek mayat di kolong langit adalah mayat kaum Khawarij.

Tapi insya Allah saya bukan termasuk yang beranggap demikian. Bagi saya dan jutaan muslim lainnya (?) mereka adalah saudara se-iman yang kini tengah teraniaya. Kami laksana satu jasad, sehingga meski kami tak bisa membantu secara fisik, kami turut merasa sakit saat mereka disakiti, terlebih pedih lagi hati kami ketika di tengah penderitaan mereka yang sedemikian menumpuk, masih ada saja yang tega menggolongkan mereka ke dalam kelompok yang “mayat mereka adalah sejelek-jelek mayat di kolong langit”?

Kekejaman Israel sudah keterlaluan. Selain menyikat pejuang HAMAS, mereka juga membantai wanita dan anak-anak. Sebuah perbuatan yang teramat keji dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah melihat seorang perempuan terbunuh dalam satu peperangannya, lalu beliau menyalahkan pembunuhan para wanita dan anak-anak. (HR. Muttafaq Alaihi).

Itulah kekejian kaum penentang Allah. Berbeda dengan kaum Muslim yang meski kepada musuh yang kafir sekalipun, kita dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya untuk melakukan pembantaian sadis terhadap anak-anak.

Dari Samurah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bunuhlah orang-orang musyrik yang tua dan biarkanlah anak-anak muda di antara mereka.” (Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi).

Jangankan kepada orang Muslim. Kepada kaum kafir sekalipun Islam masih menerapkan etika yang baik meski itu dalam peperangan, dimana saat itu perkara membunuh atau terbunuh adalah hal wajar.

Kembali ke soal pembantaian yang terjadi di Gaza saat ini. Reaksi ‘hebat’ justeru ditunjukkan oleh Venezuela. Tanpa ragu, presiden negeri ‘Non-Muslim’ ini mengusir duta besar Israel sebagai bentuk kemarahan atas kekejian yang dilakukan oleh bangsa Zionis tersebut terhadap bangsa (Muslim) Palestina. Sementara negara-negara Arab? Para pemimpin mereka seperti banci. Bahkan mungkin lebih banci dari seorang banci. Seorang banci masih memiliki keberanian besar saat membela teman-temannya yang terjaring Kamtib. Tapi mereka… para raja dan pemimpin Arab hanya ‘bergumam’ tak jelas menyikapi pembunuhan massal atas saudara mereka di Gaza.

Bahkan negeri Saudi Arabia yang selama ini di klaim oleh sebagian kelompok sebagai “Negeri Pembela Manhaj Salaf”, belum kelihatan aksi nyatanya melindungi saudara seaqidah yang kini tengah meregang nyawa di ‘depan’ Baitul Maqdis. Tak salah jika sebagian orang balik bertanya kepada para pengaku ‘salafi’ ini, sebagaimana pertanyaan yang biasa pula mereka lontarkan saat mengkritisi sikap orang lain: “Man laka salaf?” (Siapa pendahulumu?).

Apa benar pendahulu mereka dari kalangan Salafush Shalih? Padahal setahu kita Salafus Shalih yang paling utama, yakni Rasulullah SAW tak perlu menunggu ribuan wanita dan anak-anak dibantai baru memerintahkan pasukan Muslim untuk balas membantai Yahudi. Hanya dengan melecehkan seorang Muslimah dan membunuh seorang sahabat yang melindungi Muslimah tersebut, orang-orang Yahudi sudah menerima serangan hebat dari kaum Muslimin. Para lelaki mereka dibantai sebagai pembalasan atas kekejian mereka melecehkan kehormatan seorang Muslimah dan kehormatan Dien yang agung ini. [Mungkin maksudnya, mereka diusir satu kabilah dari Madinah].

Perhatikan apa yang dilakukan orang-orang Yahudi saat ini? Sudah hampir seribu kaum muslimin, lebih sepertiganya adalah anak-anak dan wanita terbunuh. Para pemimpin Negara “Salafy” tersebut tak berani berbuat apa-apa. Boro-boro menyerang Israel, menggelar pasukan untuk menakut-nakuti bangsa Zionis saja tak berani. Sungguh ketakutan telah tercabut dari hati musuh-musuh Allah dan sebaliknya terhujam dalam dalam hati kaum Muslimin, dan kaum Muslim yang mengaku Salafiyun pula.

Allahu Musta’an. (***)

14 Januari 2009

Abu Muhammad Al Burniu.


Jangan Mendukung Zionis Laknatullah

Januari 17, 2009

Liputan 6 SCTV, 17 Januari 2009, pukul 17.00 WIB. Disana disebutkan bahwa Liga Arab setuju untuk membekukan hubungan diplomatik dengan Israel, sebagai bentuk protes atas agressi Israel ke Palestina. Namun dua negara menolak hasil rekomendasi Liga Arab itu, yaitu: MESIR dan SAUDI. Mereka menolak keputusan membekukan hubungan diplomatik dengan Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim.

Ketika negara-negara Amerika Selatan mengutuk Israel. Bolivia menuduh Israel sebagai penjahat perang, Venezuela mengusir duta besar Israel, sebagai bentuk kecaman atas kebrutalan Israel. Ternyata, dua negara yang disebut-sebut sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam, MESIR dan SAUDI, mereka menolak mendukung tekanan keras kepada negara Yahudi laknatullah itu. Ini sangat ironis! Orang kafir masih memiliki nurani, sementara dua negara yang mengklaim sebagai negara “paling Islami” di muka bumi, ridha menjadi sekutu Israel laknatullah ‘alaihim.

Liga Arab juga bermaksud mengadakan KTT di Doha Qatar, untuk menyatukan langkah bangsa-bangsa Arab. Dalam rencana KTT ini 13 negara Arab siap hadir, tetapi lagi-lagi, 3 negara sekutu Amerika, yaitu Mesir, Saudi, dan Yordania memboikot pertemuan itu. Sehingga KTT Doha berubah nama menjadi “KTT Ghaza”. Lihatlah betapa pemimpin-pemimpin Mesir, Saudi, dan Yordania itu tidak ada rasa takut sedikit pun kepada Allah Ta’ala. Mereka lebih takut kepada Amerika dan Yahudi Israel. Sangat mengerikan, sangat mengerikan!

Kita memang tidak boleh menyebut semua warga Arab, atau warga Arab Mesir, Saudi, dan Yordan brengsek semua. Tidak saudaraku! Disana sangat banyak kaum Muslimin yang mendidih darahnya melihat sikap pemerintah masing-masing. Syria sudah menunjukkan sikap berani, dia mengusulkan agar Israel dikeluarkan dari anggota PBB. Tetapi elit-elit politik di ketiga negara tersebut memang telah menampakkan sikap kebrutalan yang sangat mengerikan terhadap nasib saudara-saudara mereka, Muslim Palestina. Setelah agressi Israel, Hidayat Nurwahid bertemu dengan pemimpin-pemimpin Arab. Tetapi anehnya, Husni Mubarak, Presiden Mesir tidak mau menemuinya. Begitu juga Saudi sesumbar telah mengirimkan bantuan kemanusiaan sekian juta dollar. Tetapi apalah artinya bantuan itu? Bukankah yang prioritas adalah menghentikan kebrutalan Yahudi, menyelamatkan jiwa-jiwa kaum Muslimin, rumah-rumah, dan harta benda mereka?

Inilah masa dimana kaum Muslimin tidak memiliki back pemerintahan atau kepemimpinan yang melindungi. Orang-orang kafir begitu mudahnya menjadikan kita bulan-bulanan, seperti sansak tak berdaya. Setiap saat mereka bisa membunuhi anak-anak kita, menodai wanita-wanita kita, meruntuhkan rumah-rumah kita, merampasi harta-harta kita, menghinakan kehormatan kita. Kita tidak memiliki pelindung, pengayom, dan sistem yang kokoh sebagai atap. Akhirnya, kita hanya berlindung dengan keimanan di dada kita, persaudaraan di antara sesama Muslim, dan menggantungkan diri kepada ‘Izzah Allah Ar Rahmaan. Hanya ini pelindung kita, hanya ini sandaran kita. Allahu Akbar!!!

Sementara orang-orang tertentu dari kalangan Salafiyun, tidak henti-hentinya menyebarkan pemikiran aneh untuk merusak pemahaman Ummat. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya mereka melontarkan pandangan aneh, misalnya: “Perjuangan bangsa Palestina bukan jihad; jangan mengutuk Israel nanti bisa kafir, sebab Israel adalah nama lain Nabi Ya’qub ‘alaihissalam; Hamas dituduh memprovokasi Israel sehingga menghancurkan rakyat Ghaza (lihatlah, mereka kok mau membenarkan alasan yang dipakai Yahudi Israel terkutuk itu ketika melakukan agressi ke Ghaza?); jihad tidak disyariatkan, selama Muslim Palestina lemah; lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya (biar Israel tertawa terbahak-bahak sampai muntah-muntah, sementara tidak ada satu pun Salafi mau menerima kedatangan Muslim Palestina di rumahnya); demo menentang Israel tidak boleh, menyebabkan kerusakan di muka bumi (sementara mereka tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan kebrutalan Yahudi Israel saat membunuhi anak-anak Muslim Palestina: dan lain-lain. Aneh, aneh, aneh…

Baca entri selengkapnya »