Amerika, Israel, dan Wahhabi

Baru saja saya ikut Shalat Jum’at di sebuah masjid NU, yang sering disinggahi. Lama tidak pernah Shalat Jum’at disini, saya coba sempatkan. Alhamdulillah sampai di masjid sebelum adzan dikumandangkan.

Pertama masuk pelataran masjid, terdengar pengurus masjid meminta doa para jamaah bagi saudara-saudaranya di Palestina. Alhamdulillah, ini adalah simpati yang layak diperbuat oleh kaum Muslim dalam situasi seperti sekarang. Bapak pengurus itu serius meminta kesungguhan jamaah untuk mendoakan kaum Muslimin di Filistin. Seperti biasa, beliau memimpin membacakan Al Fatihah beberapa kali. Ala hadiniah wa niyatin sholihah….ya begitulah.

Khutbah Jum’at disampaikan seorang khatib, kelihatannya setingkat ustadz. Dia membahas perilaku Bani Israil di Surat Al Baqarah. Khutbahnya ringkas, sehingga cepat selesai. Memang dalam khutbah itu seharusnya ringkas, dalam, dan berkesan. Jangan bertele-tele, lalu membiarkan pra jamaah pada -maaf- ngiler karena tertidur.

Sebelum khutbah ditutup, beliau membaca doa. Di dalamnya dimasukkan doa seperti Qunut Nazilah, meminta pertolongan bagi Muslim, dan meminta kehancuran bagi kafir zhalim. Saya sangat apresiatif dengan doa seperti itu, alhamdulillah.

Sampai dalam doa itu dimintakan kehancuran bagi: AMERIKA, ISRAEL, dan…ini sungguh tidak disangka, WAHHABI. Amerika, Israel, dan Wahhabi dibaca satu baris, berurutan, hanya dijeda oleh koma saja.

Saya kaget bukan main. Yang tadinya membaca “amin”, seketika saya berhenti. Saya khawatir ikut mendoakan sesuatu yang salah. Sampai saat menulis artikel ini, rasa kelu di hati saya masih terasa.

Bagaimana mungkin, Wahhabi disejajarkan dengan Amerika dan Israel? Apa hubungannya Wahhabi dengan Krisis Ghaza saat ini? Apakah memang Wahhabi itu sudah sampai ke tingkat kufur? Zhalim? Seperti Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim?

Saya tidak mengerti, dan harus bagaimana menjawabnya? Entahlah.

Sebagai seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Jawa Timur, di Kota Nahdhiyin Malang. Sejak remaja saya sudah tahu tentang kebencian kaum Nahdhiyin kepada Wahhabi. KH. Sirodjuddin Abbas adalah magnum opus-nya kalangan Nahdhiyin dalam kebenciannya kepada Wahhabi dan Ibnu Taimiyyah. Banyak fakta yang tidak perlu dibahas disini. Begitu takutnya dengan isu Wahhabi ini sampai DPP PKS pernah membuat klaririfikasi bahwa mereka “bersih” dari unsur Wahhabi.

Sungguh, saya sangat sedih melihat kebencian yang amat sangat itu. Bertahun-tahun saya masuk masjid NU, ikut shalat bersama mereka. Ikut makmum di belakang mereka. Saya tidak pernah menyebut mereka kafir, murtad, atau setara dengan Israel yang zhalim. Saya hargai keadaan diri mereka, meskipun saya tidak terjun dalam amal-amal mereka.

Namun, adilkah menyebut Wahhabi sebagai musuh Islam, setara dengan Amerika dan Israel yang zhalim?

Ya…silakan jawab dengan nurani Anda sendiri.

Wahhabi, jika boleh disebut demikian, padahal ini masih sangat debatable, tidak semuanya buruk, beringas, main hakim sendiri, menjilat penguasa, dan lain-lain. Saya memahami, Wahhabi itu hanyalah cara untuk mengembalikan kita kepada KOMITMEN terhadap DUA KALIMAT SYAHADAT. Setiap Muslim jelas membutuhkan komitmen kepada Syahadatnya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 15 Januari 2009.

AM. Waskito.

Iklan

21 Responses to Amerika, Israel, dan Wahhabi

  1. Insan berkata:

    Assalamualaikum. wr. wb

    Sepertinya orang nahdliyin belum tau, atau mungkin tidak mau tau dengan sosok mujadid Al – ImamMuhammad bin Abdul Wahab at Tamimi rahimahullah yang membawa panji tauhid, pemberantas kesyirikan dan pembasmi kebid’ahan.

    Apa orang NU tidak tau kalau ormas Islam Muhammadiyah, Persis, dan Al – Irsyad, banyak dipengaruhi gerakan pembaharuan keagamaan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Bahkan karya – karya beliau seperti Kitabut Tauhid, Utsuluts Tsalasah, Kasyfusy Syubhat, Al – Qaulul Mufid fi Adilati at – Tauhid, banyak dijadikan rujukan oleh Al – Irsyad, PERSIS, dan Muhammadiyah.

    Kalau orang NU memposisikan Wahhabi dengan Amerika dan Israel, berarti sama dengan mensejajarkan orang PERSIS, Al Irsyad, dan umat Islam lain yang menjadikan buku syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai rujukan, dengan Amerika dan Israel alias musuh Islam. Wal’ iyadzubillah

    Untuk kalangan nahdliyin (NU) sepertinya harus banyak baca buku putihnya syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, dalam Kitab ad-Durar as-Saniyyah dan Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Dalamkitab tersebut ada banyak nasehat syaikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk seluruh kaum muslimin. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau, amien.

  2. Muhammad Raflin berkata:

    Assalaamu ‘alaikum wr.wb.
    Membaca tulisan antum tentang sikap seorang ulama NU yang mendoakan kehancuran bagi “Amerika, Israel, dan Wahhabi”, tidak 100 % salah.

    Sebaiknya antum coba kembali membuka sejarah kaum muslimin, nggak usah jauh2, 300 tahun kebelakang, yang berhubungan dengan sejarah

    masa kekuasaan Khilafah Islam Utsmany, munculnya Wahabi, dan intrik-intrik British serta Yahudi dalam menghancurkan kekhalifaan Islam dan

    memanfaatkan kelompok pembangkang.
    Sebenarnya salah satu penyebab kejumudan dan keterpurukan umat Islam hingga saat ini tidak bisa lepas dari peran kelompok Dynasti Ibnu

    Saud yang didukung oleh kelompok Wahabi. Mereka memang dimanfaatkan secara tidak sadar/sadar oleh Yahudi & Nasrani utk menggembosi

    perjuangan Umat Islam dan di sisi lain membantu tujuan besar kaum kafir.

    Di zaman kekuasaan Khilafah Utsmany, Islam merupakan salah satu negara Super Power terutama di zaman kekuasaan Sultan Abdul Hamid II

    di mana dilakukan pengembangan teknologi perang. Kapal selam adalah salah satu buktinya. Yang pertama kali menemukan dan menciptakan kapal

    selam adalalah umat Islam atas instruksi Sultan Abdul Hamid II. Di zaman beliau pula, pertama kali dibentuk agen rahasia (Secret Service)

    yang bekerja untuk khalifah Islam. Mereka bekerja mengumpulkan informasi dan memonitor manuver2 orang kafir dan musuh Khilafah Islam di

    dalam dan di luar negri, dan mereka memberikan laporan langsung ke khalifah.

    Kelompok wahabi muncul dari wilayah yg terisolir dari peradaban. Karena pada zaman Khilafah Utsmany pusat kekuasaan di Istanbul turki.
    Tercatat pada saat itu mereka sangat anti dengan peradaban yang banyak mereka tuduh sebagai bid’ah dan bertentangan dengan sunnah.
    Pergerakan kaum wahabi ini seperti tidak peduli dengan masa depan eksistensi Khilafah Islam Utsmany, mereka terus maju meringsek semua

    yang menentang mereka. Pada awalnya Mohd. Bin Abd.Wahhab bergerak dengan dakwah, namun karena merasa ditolak dengan kasar maka ia

    menggandeng klan Ibnu Saud untuk melakukan campaign nya dengan kekuatan senjata. Padahal kalau mereka memang mengikuti sunnah tentu

    saja mereka tidak akan melakukan keonaran seperti ini karena pada saat itu masih ada Khalifah Islam yang sah. Kekacauan yang mereka lakukan

    dilirik oleh musuh Islam Inggris, yang kemudian mereka dimanfaatkan untuk menjadi pendukung revolusi arab atau paling tidak menahan laju

    pasukan mujahidin Khilafah Utsmany. Wilayah jazirah Arab pada saat itu tidak sepenuhnya dalam kekuasaan Khilafah Islam Utsmany, karena

    kebanyakan wilayahnya adalah padang pasir, oleh karenanya kaum badui yang mendukung gerakan wahabi atau klan Ibnu Saud, bisa merajai

    arena peperangan. Dalam beberapa catatan sejarah dikatakan bahwa kaum wahabi ketika melakukan agresinya, mereka melakukan kekerasan

    dan kekejaman yg bertentangan dengan syariat Islam dan jiwa peradaban. Banyak di antara mereka yg menyiksa imam mesjid atau ulama

    setempat, lalu membunuhnya karena dianggap musyrik dan ahli bid’ah. Bahkan melakukan multilasi terhadap lawannya. Terutama ketika mereka

    menaklukan Karbala suatu saat.

    Saat itu kebanyakan kaum muslimin tidak menyukai kelompok wahabi karena sifat mereka yg kaku dan primitif. Hingga saat ini kita bisa

    menyaksikan bagaimana kaku-nya fatwa2 mereka yang diwakili oleh kelompok salafi saudi. Dan hingga saat ini silahkan cari tahu apa yang sudah

    mereka sumbangkan untuk peradaban ummat manusia? dan bandingkan dengan nilai2 apa yang Kekhalifaan Islam Utsmany sumbangkan terhadap

    peradaban manusia selama +/- 700 tahun berkuasa.

    Memang sangat membingungkan sikap Dinasty Ibnu Saud dan kelompok Wahabi dalam dua hal:
    a. Ketika terjadi pembangkangan besar2 an thdp Khilafah Islam Utsmany yg diprovokasi oleh Inggris & Yahudi, kelompok Ibnu Saud&Wahabi

    membatalkan bai’atnya kesetiannya thdp khalifah Islam dan bergabung dengan kelompok pembangkang.
    b. Ketika terjadi pembunuhan besar2an di Gaza, mereka tidak apa2 yang significant untuk menyelamatkan bangsa muslim palestine dari

    kekejaman Yahudi Israel, bahkan memboikot pertemuan di Qatar untuk memberikan satu suara bersama umat Islam dan Arab.

  3. abisyakir berkata:

    @ Akhi Muhammad Raflin.

    Jazakallah khair atas tanggapan Antum. Antum menyampaikan pandangan yang layak dicermati. Namun sebelum itu, saya ingin mengingatkan sesuatu:

    Pertama, pandangan Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah sebenarnya bukan original dari beliau sendiri. Hal itu hanyalah menyambung tajdid yang telah dirintis oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan murid-murid beliau lainnya. Dari sisi teologis disini berpijaknya. Hanya secara situasional, saat itu dakwah Syaikh Abdul Wahhab menghadapi masyarakat yang sudah kadung terjerumus jauh dalam tradisi syirik-bid’ah yang sudah berurat berakar.

    Kedua, seburuk-buruknya pengikut Syaikh Abdul Wahhab, jika boleh disebut demikian, Anda tentu akan masih mengakui bahwa mereka adalah masih MUSLIM. Iya kan? Apakah sudah layak disejajarkan dengan Israel dan Amerika? Wah, itu tidak kalah ekstremnya dengan apa yang Anda tuduhkan terhadap mereka.

    Ketiga, dakwah Syaikh Abdul Wahhab itu benar ketika berbicara dalam konteks TAUHID dan SUNNAH. Ini benar semata, sebab Tauhid itu tidak syirik, hal ini sesuai laa ilaha illa Allah; Sunnah itu tidak bid’ah, hal ini sesuai dengan Muhammad Rasulullah. Terserah siapa saja yang membawa dakwah yang tujuannya menyelamatkan SYAHADAT ini, dia layak diikuti. Wong memang, inti ajaran Islam ada disana, kok.

    Nah, dua hal itu perlu disadari dari apa yang saya tulis.

    Kemudian tentang Wahhabi dan Turki Utsmani. Saya setuju dengan Anda, ya saya sebenarnya tidak setuju dengan pemberontakan seperti itu. Apalagi ia kemudian menghasilkan SAUDI yang bersifat ashabiyyah ke-su’udiyyah-an, dan dampaknya melenyapkan Khilafah Islam (antara lain ada pengaruh kesana). Ya Khilafah Islam tentu lebih baik daripada ashabiyyah su’udiyyah. Maka itu Raja Faishal dulu juga ingin membentuk Khilafah lagi dengan Saudi sebagai pusatnya. Tetapi beliau keburu di bunuh oleh antek-antek kafir.

    OK, bahwa berdirinya Saudi sebenarnya prosesnya tidak benar, sebab konfrontasi dengan Khilafah Turki Utsmani. Tetapi jangan juga disebut bahwa Saudi adalah sumber hancurnya Khilafah Islam itu. Ya tidak, banyak faktornya. Misalnya kondisi rakyat Turki sendiri yang semakin lemah, hubbud dunya, terpengaruh gerakan Sekularisme at Taturk dan lainnya.

    Ini adalah kesalahan, memberontak Khilafah Islam. Tetapi di masa-masa lalu ya sering terjadi pemberontakan, untuk perebutan kekuasaan seperti itu. Hanya sayang, setelah Saudi berdiri, ia cenderung nasionalis, cenderung fanatik dengan ke-Su’udiyyah-annya, bukan seperti Khilafah Islam yang sifatnya global untuk seluruh kaum Muslimin. Dari sisi kacamata politik, memang ada kesalahan disana. Tidak bisa dipungkiri.

    Tetapi sebagai gerakan dakwah yang bersifat tajdid, jangan dianggap bahwa Wahhabi sesat, apalagi kafir. Tunjukkan bukti-bukti Anda, jika pernyataan seperti itu benar! Saya mendukung sepenuhnya mengembalikan komitmen SYAHADAT kepada Ummat. Jika tidak demikian, kita semua pasti hancur. Na’udzubillah min dzalik.

    Adapun dengan kalangan ekstrem, anti peradaban, anti kritik, fanatik kelompok, terlibat kezhaliman, dll. ya kita semua setuju, semua itu bathil. Tidak diragukan lagi. Siapapun yang bersikap ghuluw, tidak peduli apapun madzhab dan alirannya, dia adalah bathil. Dari sisi kekerasan itu, jelas ia harus diingkari.

    Sekali lagi syukran jazakallah. Wallahu a’lam bisshawaab.

    AMW.

  4. Muhammad Raflin berkata:

    Saya hanya mencoba menjelaskan mengapa di antara ulama NU dan juga banyak kelompok Islam lainnya yang tidak setuju bahkan sampai tingkat ekstreem berseteru dengan kelompok wahabi.

    Saya akui sebenarnya pada awalnya saya adalah pengagum dan pendukung kelompok
    Wahabi, namun setelah banyak belajar tentang fiqh dan wawasan peradaban Islam,
    interaksi dgn teman2 salafy yang sangat kaku, dan realitas yang saya temukan ketika
    berkunjung ke Saudi dan kenyataan beragama di Qatar (yg juga bermahzab wahabi)
    tempat di mana saya bekerja, maka sekarang saya mencoba mengkaji ulang tentang
    gerakan wahabi antara teologi mereka dan kenyataan sepak terjang mereka.

    Saya setuju dengan doktrin Tauhid mereka yang keras dan tegas, namun ini saja tidak cukup, mereka harus tahu bagaimana mengelola peradaban Islam dengan cerdas. Saya tidak melihat kebijaksanaan ajaran Islam dalam tingkah laku dan fatwa2 mereka dalam hal muamalah dan ibadah yang mana mereka cenderung kaku dan sempit.

    Kita saksikan di sejarah Umat Islam, Allah SWT selalu memberikan kemenangan ketika umat Islam bisa berlaku bijaksana, adil, dan lembut terhadap umat manusia. Lihatlah Futuh Makkah, apakah terjadi pertumpahan darah? Saksikan bagaimana Rasul SAW dan para sahabat memperlakukan musuh2 mereka dengan sangat bijaksana sehingga setelah itu mereka berduyun2 masuk Islam. Lihatlah Futuh Jerussalem dari pasukan Salib di bawah pimpinan Salahuddin Al Ayyubi. Beliau orang yang sangat bijak, adil dan berlaku lembut kepada manusia. Setelah berhasil mengalahkan dan menguasai Jerussalem dari tangan Salibis, tidak terjadi pembantaian dan pertumpahan darah yang ganas, bahkan ia membebaskan mereka dan memperlihatkan keagungan Islam menyikapi tawanan perang. Lihatlah Futuh Konstantinople di bawah komando Sultan Muhammad Al Fatih. Pada saat itu Turki Utsmany terkenal dengan keadilannya dan perlakuan yang baik terhadap warga negaranya, sebaliknya dgn dynasti Byzantyn yang zhalim terhadap rakyat. Juga ketika Muhammad Al Fatih menaklukan Konstantinople, dia berlaku sangat simpatik dan penuh hikmah kepada rakyat konstantinople. Bangunan2 di kota ini dijaga dan malah dipugar untuk melestarikan peradaban. Dengan orang2 seperti inilah Allah SWT memberikan kemenangan, bukan melalui tangan2 primitif yang suka berlaku keras dan kasar terhadap umat manusia dan peradaban.

    Saya melihat kemiripan gerakan ini dengan pengikut khawarij di zaman sahabat Ali R.A yang mana aqidah mereka terlihat sangat mantap dan tegas dengan semboyan mereka “Tiada Hukum Kecuali dengan Hukum Allah “. Semboyan ini mereka (khawarij) gunakan dalam menentang keputusan Sahabat Ali R.A dalam sengketanya dengan Sahabat Muawiyyah R.A, sehingga akhirnya Khawarij menghukumi kedua Sahabat ini telah keluar dari jalan Islam sehingga boleh diperangi. Bukankah seorang arab digelari oleh Rasul SAW sebagai biangnya kelompok Khawarij, disebut demikian karena dia memandang pembagian harta yang dilakukan Rasul SAW kepada sahabatnya TIDAK ADIL, sehingga dia menghardik Rasul SAW dgn kata2nya yang mahsyur : ” Berlaku adil lah yaa Rasulullah!”

    Saya tidak mengatakan mereka kafir atau keluar dari Islam, tapi dgn attitude mereka yg demikian menjerumuskan telah umat Islam kepada kelumpuhan. Lihat apa yang sekarang mereka fatwakan dalam menyikapi kasus Gaza!…tidak habis pikir mengapa mereka tidak menyeru raja saudi untuk menyelamatkan muslim Gaza dari kebengisan Israel? Kenapa yang terjadi sebaliknya sepertinya mereka not bothered with their king silence.

    Kalau mereka tahu bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi umat Islam, lalu mengapa mereka dulu ikut terlibat meruntuhkan Khilafah Islam Utsmaniy?
    Saya memahami bahwa keruntuhan Khilafah Islam Utsmany bukan semata2 disebabkan konfrontasi dgn kelompok Ibn Saud dan gerakan Wahabi, namun tidak bisa dipungkiri ada sahamnya mereka dalam menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniy.
    Dengan pemahaman Islam yg lebih baik seharusnya kelompok ini berjuang memperbaiki dan memperkuat Kekhalifahan Islam Utsmaniy bukan kontraproduktif seperti apa yang terjadi.

    Mereka (Saudi dan Wahabi/Salafi) saat ini memiliki kesempatan emas untuk menunjukkan kepada umat Islam bahwa mereka adalah Pahlawan pembela Agama dan umat Islam, namun mengapa mereka berlaku pasif dan seolah berlepas tangan dengan umat Islam?

  5. andri berkata:

    sebagai ummat islam kita tidak boleh saling menjelekkan dan lempar tuduhan. tetapi bagi kaum wahabbi alangkah baiknya mereka menegur kerajaan saudi. Bukankah itu termasuk da’wah juga?
    tiap jama’ah harus merapatkan barisan dan tiadk boleh ada pertengkaran denagnsesama. Ingat musuh kita Zionis bukan sesama ummat ISlam.

  6. Ibnu Abdul Muis berkata:

    Assalamu’alaikum stadz. Afwan, baru koment lagi.

    Tragis benar nasib salafiyyun. Tapi itu juga karena ketidakkonsistenan mereka dalam bersikap. Gembar-gembornya malah harus dijilat lagi karena menyaksikan realita yg terjadi.

    Untung saya berada pada posisi pertengahan tetapi punya pijakan. Dibilang wahabi oleh orang nu monggo dibilang kuburiyun oleh wahabi monggo. Yg penting tidak syirik dan bid’ah sekaligus tidak ekstrim, radikal dan jumud.

    Udah ah lier kalo mikir pola pikir salafy dan juga NU. 😆 barakallahu fik.

  7. Azhari berkata:

    pemahaman yang keliru saat ini pada ajaran syekh Abdul Wahab…,bagi mereka yg saat ini menganggap mengikuti ajarannya. barangkali…,
    sebatas pengetahuan saya..,setelah membaca ajaran yang diajarkan oleh Syekh Abdul Wahab. saya ajarannya bagus, dan mengingatkan kita untuk kembali pada AlQuran dan Sunnah Nabi….

  8. Ana Jiddan berkata:

    @ Akhi Muhammad Raflin.

    kalo yang saya tahu, dari akar pergerakan wahhabi itulah muculnya pergerakan2 islam berikutnya (IM, Al-Qaidah, SAlafy, muhammadiyah, dll). termasuk salafy itu sendiri, tapi masih ada kok salafy yang konsisten dengan penerapan syariat Islam dan bercita-cita menegakkan kembali khilafah, ada juga salafy yang memang kaku dan anti peradaban. Jadi Wahhabi tidak bisa serta merta langusng dikaitkan dengan salafy ekstrim yang kaku tersebut.

  9. Muhammad Raflin berkata:

    Akhi,

    Tidak semua pergerakan Islam berakar dari Wahabi, karena karakter wahabi yang bertolak belakang cenderung anti inovasi dan stagnant. Sedangkan rata2 pergerakan Islam cenderung melakukan banyak inovasi manuvernya agar harakah itu menjadi dinamis, dan bisa menghadapi tantangan zaman. Sebagai contoh Ikhwanul Muslimin, gerakan ini sangat bijak dalam setiap sikapnya, selalu mencari jalan tengah, terbuka dengan segara bentuk pembaharuan dan perubahan selama masih dalam lingkup yang diijinkan Syariah, namun tetap teguh dalam tujuannya mengembalikan kepemimpinan umat melalui pembinaan Islam yang dimulai dari dalam diri sendiri dan keluarga. Mereka ini contoh kelompok yang mewarisi attitude para pendahulu Islam yang adil. Ikhwanul muslimin dibentuk salah satunya sebagai respon thdp diruntuhkannya kekhalifaan Islam turki utsmany. Bahwa Imam Hasan Al Banna memandang sangat urgent mengembalikan kepemimpinan (khalifah) Umat Islam. Sedangkan wahabi terlibat dalam meruntuhkan ke-khalifaan Islam walaupun mereka tidak sendiri.

    Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa di awal munculnya gerakan Mohd. Bin Abdul Wahhab terjadi penolakan dari para sejumlah ulama Islam senior dari mahzab yang sudah baku, bahkan saudara beliau telah mengingatkan akan bahaya pemikirannya yang terlalu radikal dan terlalu mudah menyalahkan/mentakfir kaum muslimin. Banyak terjadi pertumpahan darah, pembunuhan kaum muslimin dan penghancuran peradaban (buku2, masjid, bangunan bersejarah, dsb) selama invasi gerakan wahabi di jazirah arab. Sehingga bila kita ke Makkah & Madinah hari ini amat sulit menemukan tanda/sisa peradaban Islam. Memang kemusyrikan hal yang harus dibasmi, namun jangan membuat asumsi bahwa semua peninggalan Islam terutama peninggalan Rasul SAW dan Sahabatnya adalah bibit kemusyrikan. Berikan respek kepada peradaban manusia, karena banyak hal yang bisa menjadi pelajaran melalui peninggalan sejarah tsb. Juga mereka harus berfikir dewasa dalam menyikapi saudara sesama muslim, jangan semua muslim disamakan ratakan dianggap seperti orang primitif yang menyembah dan mengkultuskan segala sesuatu. Hingga saat inipun regim Saudi masih tidak segan2 menghancurkan situs Islam bersejarah dgn alasan pembangunan. Dengan tindakan pengikut wahabi yang seperti ini sehingga ada kalangan yang mencurigai bahwa sebenarnya Mohd bin Abd. Wahhab yg juga disebut Mohd of Nejd telah bekerjasama dengan (intel) inggris dalam memuluskan penyebaran ideologinya dan invasin militernya. (Silahkan baca buku dalam bhs Inggris : Confession of A British Spy : http://books.hakikatkitabevi.com/cgi-bin/cgi.exe/bksnfo31/query=%5Bjump!3A!27!2814!29!27%5D/doc/{@13900}? )

    Bandingkan dengan Turki, bagaimana mereka memelihara hampir semua peninggalan sejarah yang ada di sana mulai dari jaman Romawi, Kristen, Islam hingga peninggalan modern turki. Memang sempat terjadi pengrusakan/pembengkalaian oleh kaum sekuler militant yang dihasut oleh yahudi di jaman Kamal Ataturk. Bila kita berkunjung ke Turki hari ini kita menjadi mengerti bagaimana hebatnya peradaban Islam saat itu dan bagaimana gagahnya kekhalifaan Islam Utsmany yang memimpin dunia selama 700 tahun. Namun sayang sekulerisme merajalela di Turki.

    Bagaimana umat Islam mau memimpin dunia saat ini bila kita telah terputus dari sejarah? Bukankah kebesaran umat Islam di masa lalu harus kita warisi untuk bisa mengembalikan kepemimpinan umat? Banyak hal yang harus kita pelajari dari peninggalan peradaban kaum muslimin masa lalu untuk menyambung estafet kebesaran Umat ini. We are not supposed to start from scratch.

    Saya melihat beberapa ahli sejarah Islam seakan menutupi kegemilangan masa lalu umat Islam dengan tuduhan bahwa pada saat itu umat hidup dalam kemewahan yang berlebihan, musik, wanita, khamr, dsb, sehingga tidak patut dijadikan contoh. Namun bukan berarti semua peninggalan mereka berarti sampah yang tidak perlu dipelajari atau tidak penting untuk dikaji dengan seksama. Kemewahan dan para wanita telah membuat mereka lemah dan serakah, namun mereka runtuh akibat ketidak adilan yang mereka lakukan (Bani Umayyah), kezaliman yang mereka lakukan (Bani Abassiyah) , dan juga konspirasi kaum kuffar (Turki Utsmani) .

    Ini unek2 pribadi bukan bermaksud menghantam sana dan sini, antum bisa memberi pencerahan….

  10. Ana Jiddan berkata:

    Memang, bukan semuanya dari Wahhabi. Maksudnya Wahhabi sendiri telah menjadi inspirasi banyak pergerakan Islam, IM salah satunya, Hasan Al-Banna sendiri pun mengakui bahwa pergerakannya terinsprasi dari gerakan revolsi Wahhabi itu sendiri.

    Ideologi Wahhabi sebenarnya telah menjadi boomerang untuk menjatuhkan bagi pemerintahan SAudi sendiri, Contohnya salah satu tokoh Al-Qaidah (gerakan yang notabene mengakui sebagai Wahhabi tulen), ABu MUhammad Al-Maqdisy sering sekali mengutip kitab2 dari Syaikkh MUhammad ibn Abdul Wahhab untuk mengkritik pemerintahan Saudi, bahkan sampai mengkafirkan pemerintahan Saudi.

  11. Muhammad Raflin berkata:

    Akhi, bisa antum kutipkan dari buku/kitab apa yang menyebutkan bahwa Syaikh Hasan Al Banna (Rahimahullah) terinspirasi oleh gerakan revolusi Wahabi?

  12. Ana Jiddan berkata:

    Hmmm…
    Aduh, ini nih penyakit saya. Suka lupa referensi, Afwan. Tapi ada kok, saya pernah baca. Kalo saya ingat insya Allah saya berikan referensinya…

  13. Ibnu Abdul Muis berkata:

    Kalo gak inget2 berarti nggak akan pernah ngasih dunk? Dan itu berarti hutang terus dunk? Coba minta bantuan om google aja? 🙄 Kasiankan kita2 penasaran.

  14. abisyakir berkata:

    @ Akhi Muhammad Raflin

    Syaikh Hasan Al Banna pernah mengatakan tentang hakikat gerakan Ikhwanul Muslimin. Beliau menggambarkan, Al Ikhwan ialah: “Dakwah Salafiyyah, Thariqah Sunniyyah, dan Hakikat Sufiyyah.” Istilah Dakwah Salafiyyah itu identik dengan gerakan Syaikh Ibnu Abdul Wahhab.

    Dalam prinsip Ushulul Isyrin (prinsip 20) ada beberapa prinsip yang menjelaskan tentang kaidah TAUHID dan penolakan terhadap BID’AH. Dalam salah satu bukunya, kalau tidak salah, Mudzakkirat Da’i Wa Da’iyyah, Syaikh Hasan Al Banna, tadinya ditawari akan mengajar di Saudi. Dan beliau sudah setuju. Beliau diminta mengajarkan manhaj Islam: “Sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, sesuai pemahaman Salaf.” Beliau setuju juga dengan slogan tersebut. Hanya atas takdir Allah, beliau tidak jadi mengajar di Saudi, karena satu dan lain hal.

    Kalau tidak percaya, coba tanyakan ustadz-ustadz Al Ikhwan. Jazakumullah khair.

    AMW.

    Ini cuma bantu “Ana Jiddan” saja. Barakallah fikum jami’an ya aiyuhal ikhwah rahikumullah.

  15. Muhammad Raflin berkata:

    Afwan Syaikhuna AbiSyakir,
    Ingin sedikit meluruskan atau menjelaskan bahwa istilah Salafyyah yang biasa digunakan oleh para ulama’ tidak identik dengan pemikiran Mohd. Bin Abdul Wahhab atau kelompok Wahhabi. Istilah Salafiyyah yang biasa disebut mengacu kepada pemikiran dan ajaran generasi salaf, yaitu generasi terdahulu dari ummat Islam, yang mana pemikiran dan ajarannya masih murni dan kebanyakan mereka hidup di masa yg belum terlalu jauh dengan masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
    Kelompok salafy nama lain dari kelompok wahabi MENGKLAIM bahwa mereka pelanjut ajaran Salafiyyah, sehingga menamakan diri mereka SALAFY. Namun ini merupakan klaim SEPIHAK, dan tidak bisa dipertanggung jawabkan karena terlihat dari tindak tanduk mereka yang tidak toleran terhadap perbedaan pendapat. Sedangkan para Sahabat R.A dan para Ulama’ Islam terdahulu sangat terbiasa dengan perbedaan pendapat dan mereka saling menghormati antara satu dengan yang lain dengan tidak memaksakan kehendak atau mencaci maki yang berbeda pendapat dgn mereka.
    Para ulama’ terutama ulama Mahzab yang empat sangat mengerti bagaimana mensikapi perbedaan pendapat, dan bagaimana menimbang suatu kasus dgn timbangan syariah yang adil dan moderat.

    Jadi saya belum bisa menerima argument ini, karena bagaimana Imam Hassan Al Banna bisa menyatukan antara Salafiyyah dan Sufiyah, bila yang dimaksud Salafiyyah di sini adalah gerakan wahabi yang menentang dan membunuhi kelompok sufiyyah (Daulah Utsmany beraliran sufy ).

    Afwan jiddan kalau ada yang salah…

  16. Ardisyam berkata:

    Sedekar informasi tambahan dari saya. Terserah pembaca untuk melihat apakah negara Arab Saudi dibangun atas pemberontakannya terhadap Uthmaniyah atau malah menyebabkan kejatuhannya.

    Menurut dokumen kerajaan Turki Uthmaniyyah yang direkam oleh Yamen Ali Effendi (1018H/1609M) berjudul “Qawaniyyin Aali Uthman Mudomin Daftar al-Diwan”, ternyata kerajaan Uthmaniyyah terbagi kepada 32 buah wilayah. 14 diantaranya adalah wilayah-wilayah tanah Arab. Namun negeri Najd tidak termasuk didalamnya. Negeri Najd berada dalam kekuasaan kabilah-kabilah seperti Bani Jabr ataupun Bani Khalid, dan tidak pernah disatukan dalam satu pemerintahan dalam waktu yang lama. Negeri Najd serta wilayah sekitarnya tidak membawa kepentingan serta keuntungan material kepada kerajaan Uthmaniyyah. Walaupun buminya luas, para pemimpinnya sering berperang satu sama lain. Semua syeikh atau pemimpin di negeri Najd memiliki kekeuasaan sepenuhnya untuk mengurus wilayah masing-masing. Mereka tidak mengakui pengaruh Turki, juga pada saat yang sama Turki tidak mengakui pengaruh mereka.

  17. abu naura berkata:

    @ Muhammad Raflin.
    assalamu”alaikum

    Ana sungguh terkesan membaca kalimat -kalimat antum . sejarah kekhalifahan Islam terutama di zaman daulah utsmany di Turki beberapa abad silam telah banyak antum kupas begitu detil, inilah yang ana cari selama ini. Dari tulisan antum semoga memenuhi wawasan keilmuan dan meng-inspirasi sebagian kaum muslimin mengenai sejarah keindahan dan keelokan kehidupan para penghulu pembawa bendera syariah kekhalifahan Islam yang pernah sukses dibangun, ana serasa masuk ke dunia mereka, begitu indah…

    Semoga bermanfaat bagi para pembaca blog ini,paparan koment antum , it’s remembering a nice “Islamic” khalifath , just go a head ….

  18. bee berkata:

    bukankah wahabbi tu pendukuung utama abdul azis mendiikan arab saudi dan memberontak khilafah???

  19. nizar berkata:

    afwan ustadz muhammad raflin, ana cuma menduga aja sih, mungkin. ana pernah membaca risalahnya imam hasan al banna. memang ada kontradiksi antara 1 dengan lainnya,tentang istilah shuffiyah ini jika dikaitkan dengan uraian imam hasan al banna yang lain mungkin artinya bukan sufi yang sering melakukan bid’ah, tapi suffi disini artinya adalah berdakwah dengan kesucian dan kebersihan hati yang hanya mengharap ridho allah swt.

  20. priagood berkata:

    Whai saudara-saudara kaum mulimin rohimakumullah,tak perlulah kalian berdebat dan saling mencurigai,mebenci menyerang dan sebagainya,tetapi marilah umat islam kembali pada makomnya sebagai umat akhir zaman,umat baginda Nabi Muhammad Rosulullah SAW,penerus kerja Rosulullah SAW.Rosulullah Telah wafat dan beliau telah menyampaikan Agama Dari Allah SWT,tapi siapa yang meneruskan kerja beliau hingga hari kiamat tidak lain adalah kalian umat Islam,maka sibukkanlah kalian dalam dak,wah mengajak manusia untuk taat kepada Allah dan Rosul-Nya,bukan kepada firqoh,partai,golongan,suku dan kebendaaan yang hina dimata Allah Swt.Jika kalian hidupkan Da,wah maka Allah akan bukakan pintu-pintu hidayah keseluruh penjuru Alam,Orang -orang amerika akan mendapat hidayah,orang2 eropa akan mendapat hidayah,orang2 cina akan mendapat hidayah,orang rusia akan mendapat hidayah,dan mereka yang membenci Allah dan Rosul-Nya akan berbalik arah menjadi pembela-pembela Agama Allah yang Ikhlas seperti Umar Bin Khotob,sepeerti Khalid bin Walid.SebalikNya jika kalian berdebat,bermusuhan,saling mencaci dan meninggalkan Da,wah maka Allah akan menghancurkan kalian,menghinakan kalian ,sehingga kalian masing-masing merasa bangga menjadi yang paling benar,paling masuk surga paling diridhoi Allah,pada hal kalian telah terperosok dalam jurang fitnah yang menyengsarakan umat.Sadarlah wahai Saudaraku Umat Islam tanggung jawab Da,wah ada pada pundak kalian ,jangan hanya mengaku-ngaku sebagai umat Nabi Muhammad Saw tetapi kalian telah meninggalkan Induk dari segala induk Ibadah yaitu Da,wah Ilallah.Semoga Kalian sadar ,semoga kalian Insyaf,semoga kalian paham.Sibukkanlah kalian Da’wah ,da”wah terus sampai mati dan mati dalam Da’wah.Saking sibuknya kalian Da’wah tau-tau malaikat Izroil datang menjemput kita ,maka kita bagaikan menemukan hari Raya.Semoga Allah SWt mengampuni kalian,dan jadikan kalian semua Umat Da,wah ini sebagai asbab HIdayah bagfi Umat diseluruh Alam .Amiin

  21. hikmat berkata:

    Banyak fakta yang tidak perlu dibahas disini. Begitu takutnya dengan isu Wahhabi ini sampai DPP PKS pernah membuat klaririfikasi bahwa mereka “bersih” dari unsur Wahhabi.
    dari tulisan ustadz ini, emang ada buktinya ustadz?
    koq demi suara teman2 pks juga terkesan”membenci” disebut wahabi? padahal dakwah beliau syaikh abd wahab mulia sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: