Jangan Mendukung Zionis Laknatullah

Liputan 6 SCTV, 17 Januari 2009, pukul 17.00 WIB. Disana disebutkan bahwa Liga Arab setuju untuk membekukan hubungan diplomatik dengan Israel, sebagai bentuk protes atas agressi Israel ke Palestina. Namun dua negara menolak hasil rekomendasi Liga Arab itu, yaitu: MESIR dan SAUDI. Mereka menolak keputusan membekukan hubungan diplomatik dengan Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim.

Ketika negara-negara Amerika Selatan mengutuk Israel. Bolivia menuduh Israel sebagai penjahat perang, Venezuela mengusir duta besar Israel, sebagai bentuk kecaman atas kebrutalan Israel. Ternyata, dua negara yang disebut-sebut sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam, MESIR dan SAUDI, mereka menolak mendukung tekanan keras kepada negara Yahudi laknatullah itu. Ini sangat ironis! Orang kafir masih memiliki nurani, sementara dua negara yang mengklaim sebagai negara “paling Islami” di muka bumi, ridha menjadi sekutu Israel laknatullah ‘alaihim.

Liga Arab juga bermaksud mengadakan KTT di Doha Qatar, untuk menyatukan langkah bangsa-bangsa Arab. Dalam rencana KTT ini 13 negara Arab siap hadir, tetapi lagi-lagi, 3 negara sekutu Amerika, yaitu Mesir, Saudi, dan Yordania memboikot pertemuan itu. Sehingga KTT Doha berubah nama menjadi “KTT Ghaza”. Lihatlah betapa pemimpin-pemimpin Mesir, Saudi, dan Yordania itu tidak ada rasa takut sedikit pun kepada Allah Ta’ala. Mereka lebih takut kepada Amerika dan Yahudi Israel. Sangat mengerikan, sangat mengerikan!

Kita memang tidak boleh menyebut semua warga Arab, atau warga Arab Mesir, Saudi, dan Yordan brengsek semua. Tidak saudaraku! Disana sangat banyak kaum Muslimin yang mendidih darahnya melihat sikap pemerintah masing-masing. Syria sudah menunjukkan sikap berani, dia mengusulkan agar Israel dikeluarkan dari anggota PBB. Tetapi elit-elit politik di ketiga negara tersebut memang telah menampakkan sikap kebrutalan yang sangat mengerikan terhadap nasib saudara-saudara mereka, Muslim Palestina. Setelah agressi Israel, Hidayat Nurwahid bertemu dengan pemimpin-pemimpin Arab. Tetapi anehnya, Husni Mubarak, Presiden Mesir tidak mau menemuinya. Begitu juga Saudi sesumbar telah mengirimkan bantuan kemanusiaan sekian juta dollar. Tetapi apalah artinya bantuan itu? Bukankah yang prioritas adalah menghentikan kebrutalan Yahudi, menyelamatkan jiwa-jiwa kaum Muslimin, rumah-rumah, dan harta benda mereka?

Inilah masa dimana kaum Muslimin tidak memiliki back pemerintahan atau kepemimpinan yang melindungi. Orang-orang kafir begitu mudahnya menjadikan kita bulan-bulanan, seperti sansak tak berdaya. Setiap saat mereka bisa membunuhi anak-anak kita, menodai wanita-wanita kita, meruntuhkan rumah-rumah kita, merampasi harta-harta kita, menghinakan kehormatan kita. Kita tidak memiliki pelindung, pengayom, dan sistem yang kokoh sebagai atap. Akhirnya, kita hanya berlindung dengan keimanan di dada kita, persaudaraan di antara sesama Muslim, dan menggantungkan diri kepada ‘Izzah Allah Ar Rahmaan. Hanya ini pelindung kita, hanya ini sandaran kita. Allahu Akbar!!!

Sementara orang-orang tertentu dari kalangan Salafiyun, tidak henti-hentinya menyebarkan pemikiran aneh untuk merusak pemahaman Ummat. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya mereka melontarkan pandangan aneh, misalnya: “Perjuangan bangsa Palestina bukan jihad; jangan mengutuk Israel nanti bisa kafir, sebab Israel adalah nama lain Nabi Ya’qub ‘alaihissalam; Hamas dituduh memprovokasi Israel sehingga menghancurkan rakyat Ghaza (lihatlah, mereka kok mau membenarkan alasan yang dipakai Yahudi Israel terkutuk itu ketika melakukan agressi ke Ghaza?); jihad tidak disyariatkan, selama Muslim Palestina lemah; lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya (biar Israel tertawa terbahak-bahak sampai muntah-muntah, sementara tidak ada satu pun Salafi mau menerima kedatangan Muslim Palestina di rumahnya); demo menentang Israel tidak boleh, menyebabkan kerusakan di muka bumi (sementara mereka tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan kebrutalan Yahudi Israel saat membunuhi anak-anak Muslim Palestina: dan lain-lain. Aneh, aneh, aneh…

Firqoh Salafi sebelum ini juga tidak kalah gencarnya dalam menyesatkan pemikiran Ummat Islam. Perhatikanlah contoh-contoh pemikiran di bawah ini:

[o] Mereka sangat membenci demokrasi. Setiap menjelang Pemilu, majalah-majalah seperti As Sunnah, Al Furqon, Adz Dzakhirah, dan lain-lain sering mengatakan bahwa demokrasi itu sistem kufur, dengan segala alasannya. Tetapi nanti, kalau sudah terpilih Presiden dan jajaran di bawahnya, seketika semua itu diklaim sebagai Ulil Amri, yang wajib ditaati, setelah Allah dan Rasul-Nya.

[o] Mereka juga anti dengan pakaian yang kita pakai selama ini. Mereka sebut pakaian biasa seperti kemeja, celana, kaos, dan sebagainya itu sebagai pakaian Nashrani, pakaian kafir Barat. Pakaian seperti ini tidak boleh dipakai ketika Shalat. Tetapi mereka tidak risau ketika Saudi memanggil pasukan Amerika untuk mengamankan negerinya. Bukan hanya mengamankan, tetapi dipersilakan membuat pangkalan-pangkalan militer di kota-kota Saudi. Menurut Sabili, ada sekitar 5 atau 6 pangkalan militer Amerika di seluruh negeri Saudi. Bagaimana negara bisa berdaulat kalau seperti itu?

[o] Orang-orang yang masuk Parlemen dikecam, katanya “duduk-duduk dengan orang munafik, kafir, ahli bid’ah”. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika Parlemen menetapkan UU yang merugikan kaum Muslimin, seperti UU Migas, UU Kelistrikan, UU SDA, UU tentang air, UU politik, dll. Mereka juga tidak bisa apa-apa ketika kaum Muslimin susah-payah selama 10 tahunan menggolkan UU Pornografi.

[o] Menurut mereka, Pemerintah itu sama dengan Ulil Amri, selama mereka Muslim. Ketika Hamas menjadi pemegang kekuasaan di Palestina, lain lagi alasan mereka. Mereka giliran mengkritik Hamas dan warga Muslim Palestina. Kata mereka, jilbab wanitanya kecil-kecil, celana masih isbal (di bawah mata kaki), laki-laki mencukur jenggot, ada perpecahan di tubuh bangsa Palestina, dll. Kok tidak sekalian saja mereka salahkah cara wudhu, cara shalat, pakai jins saat shalat, motif jilbab wanita-wanita Palestina, mereka suka fotografi, bernyanyi nasyid, dll. Sementara mereka tidak memiliki sumbangan apa-apa bagi Ummat, tetapi kesalahan-kesalahan kecil terus dicela-cela. Mengerikan!

[o] Mereka sangat mengecam gerakan-gerakan Islam yang mengkritik Pemerintah, demo kepada pemerintah, atau paling kasarnya memberontak kepada Pemerintah yang berkuasa. Katanya bughat, katanya Khawarij, seperti “anjing-anjing neraka”. Begitu juga soal Saudi. Paling standarnya, mereka akan mengatakan, “Menurut catatan administrasi Turki Utsmani, wilayah Najd bukan masuk wilayah Turki Utsmani.” Saya katakan: Kalau bukan wilayah Turki Utsmani, lalu wilayah siapa? Wilayah tak bertuan, tanpa kepemimpinan? Bukankah kalian tahu, “60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada semalam tanpa pemimpin”? Lagi pula, bagaimana dengan wilayah Hejaz, Madinah dan Makkah? Apakah Saudi hanya meliputi Najd saja?

[o] Mereka sangat sensitif dalam menyalah-nyalahkan. Fotografi makhluk bernyawa salah; menabung di bank salah; kredit kendaraan salah; kerja menjadi PNS buruk; sistem koperasi tidak sesuai Syariat; Bank Syariah meragukan; dan lain-lain. Tetapi ketika diingatkan, bahwa untuk menegakkan Islam secara kaaffah kita butuh legalitas Syariat Islam di negara ini. Maka itu kita harus berjuang agar Syariat diterapkan. Tetapi seketika mereka berubah haluan, tiba-tiba menuduh gerakan-gerakan Islam sebagai Hizbiyyah, ahli bid’ah, tergesa-gesa, terjerumus politik, dll. Mereka selalu menemukan dalil untuk membentengi kesesatannya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[o] Betapa seringnya Ummat Islam disalah-salahkan, karena meniru perilaku Yahudi dan Nashrani. Tetapi ketika kaum Muslimin ada yang menyerukan BOIKOT produk pro Yahudi dan Amerika, mereka mencari-cari dalil. Katanya, boikot itu tidak perlu, sebab dulu Nabi juga kerjasama bisnis dengan Yahudi. Begitu pula, kita tidak boleh meniru Nashrani, sementara mereka tidak ada yang terjun untuk menyelamatkan Ummat dari Kristenisasi. Terlalu “suci’ tangan mereka untuk ngurusi masalah Kristenisasi.

[o] Ummat Islam memakai fotografi disalahkan, Ummat mencukur jenggot disalahkan, Ummat memakai celana secara isbal disalahkan, Ummat masih merokok disalahkan, Ummat mendengarkan musik disalahkan, dan sebagainya. Tetapi kalau yang melakukannya warga Saudi, di negeri Saudi, pemimpin-pemimpin Saudi, mereka diam saja.

[o] Ada aktivis-aktivis dakwah tinggal di Inggris, karena menyelamatkan diri dari pemimpin otoriter Arab, disalahkan. Mereka mengutip sebuah riwayat bahwa Nabi berlepas diri dari orang-orang yang mati di negeri musyrikin. Tetapi pemimpin-pemimpin Arab kerjasama dengan Israel, kerjasama bisnis dengan dia, dengan Amerika, China, dan lainnya. Mereka diam saja. Padahal menyelamatkan diri ke negeri yang aman, meskipun mayoritas Nashrani, tidak apa-apa. Seperti dulu saat Ja’far dan kawan-kawan tinggal di Habasyah, negeri Najasyi.

[o] Dan lain-lain.

Intinya, mereka sangat TIDAK KONSISTEN dengan pemikiran-pemikirannya. Tidak ada tolok-ukur yang jelas disana. Sikap bisa berubah seperti apa saja, kalau cocok dengan hawa nafsunya. Menyebut mereka sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang komitmen dengan kebenaran dari arah manapun datangnya, adalah sangat aneh. Ini termasuk firqoh sesat, penyebar pemikiran-pemikiran beracun, mematikan hati dan kesadaran para pemuda Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Puncaknya –untuk sementara ini- adalah TRAGEDI GHAZA. Disini bukan ditunjukkan sikap yang benar, layaknya diri orang-orang beriman saat saudaranya dihujani rudal oleh Yahudi Israel laknatullah, tetapi malah bergumul dengan isu-isu aneh. Orang-orang seperti ini tidak kalah berbahaya dibandingkan dengan jaringan Liberal. Maka selayaknya kita semua berlindung kepada Allah dari segala bentuk kesesatan jalan, baik yang nampak maupun tersembunyi. Allahumma amin.

Kembali ke Mesir dan Saudi. Seperti disebutkan sebelumnya, sebenarnya musuh sejati kaum Muslimin Palestina bukan hanya Zionis Israel, tetapi juga pemimpin-pemimpin Arab munafik yang tidak takut kepada Allah Ta’ala. Demi hidup bermandi dollar, kesenangan, dan kekuasaan, mereka rela melecehkan agamanya sendiri. Na’udzubillah min dzalik.

Akhirnya, hanya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang berimanlah wali-wali kita. Tidak bisa kita berharap banyak, selain hanya kepada-Nya dan kemurahan hati hamba-hamba-Nya yang beriman.

Kaum Muslimin Palestina…maafkan kami atas kedhaifan kami. Ingin kami menolong Anda, namun hanya sebatas keinginan. Kekuatan kami terlalu lemah untuk menolongmu. Yakinlah, jika bukan kami, tentu hamba-hamba Allah yang lain akan menolongmu. Dan tentu saja, Allah Ta’ala akan menolongmu. Amin.

Maafkan kami yaa Akhi…ya Ukhti…

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 17 Januari 2009.

AM. Waskito.

Iklan

36 Responses to Jangan Mendukung Zionis Laknatullah

  1. Moris Priyandono berkata:

    Laporan dr Qatar, kemarin Jum’at memang jalan2 banyak yg dijaga utk mengamankan KTT Arab. Suatu hari nanti, Mesir sang pemilik Al-Azhar dan Saudi sang penjaga 2 kota suci harus membayar mahal atas pengkhianatan mereka. Dikhawatirkan kalau Palestina terlalu banyak dibantu Iran dan Libanon (seperti selama ini), bisa jadi suatu saat Palestina (yg sekarang lebih didominasi Sunni-ikhwan) banyak yg berpindah menjadi Syi’ah.

  2. Muhammad Raflin berkata:

    Mas Waskito,
    Saya melihat hal yang sama thdp kelompok ini, antum tidak sendiri. Selama mereka masih terus hidup dalam mimpi2nya bermesraan dengan penguasa yang munafik dan memusuhi kelompok pergerakan maka akan selamnya mereka mengacaukan umat sehingga ummat menjadi bingung . Karena mereka menggunakan legalitas agama atas nama generasi salafiyah, yang mana keadaan mereka dibandingkan dgn generasi salaf yang sebenarnya, jauh panggang daripada api, alias hanya OMDO (omong doang)..
    Suatu saat Allah SWT akan membuka kedok mereka, dan memperlihatkan kepada ummat siapa mereka sebenarnya.

  3. abuipah berkata:

    ya gimana ya aku kok bingung sama antum, disana bela salafi tapi ditulisan lain mencerca salafi .terus saya cuma mau konfirmasi aja ditulisan antum disebutkan

    “masih isbal (di bawah mata kaki), laki-laki mencukur jenggot, ada perpecahan di tubuh bangsa Palestina, dll. Kok tidak sekalian saja mereka salahkah cara wudhu, cara shalat, pakai jins saat shalat, motif jilbab wanita-wanita Palestina, mereka suka fotografi, bernyanyi nasyid, dll. Sementara mereka tidak memiliki sumbangan apa-apa bagi Ummat, tetapi kesalahan-kesalahan kecil terus dicela-cela. Mengerikan!”

    setahu saya di kitab al kabair imim adz dzahabi dan riyadusholhin, sabda nabi. kira-kira 12 hadist .Isbal itu termasuk dosa besar bukan kesalahan kecil, coba dicek lagi

  4. abdullah berkata:

    yg sudah anda lakukan apa sih buat palestina mas waskito, kok anda juga kerjanya nyalahin dan sesat2 in org doang..

  5. senopatiarthur berkata:

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://berita-politik-dunia.infogue.com/mesir_dan_saudi_dukung_zionis_laknatullah

  6. abu az-zidan berkata:

    Makanya, pegang teguhlah aqidah salafiyyah ini dengan erat. jangan cuma omdo kayak gini. Lha wong firqoh salafiy yang metodenya katanya sesuai dengan jalur salafussholeh aja jadi antek toghut, apalagi yang nggak???!!!

  7. omiyan berkata:

    semoga kita tidak seperti mereka

  8. iwansulis berkata:

    Semua umat Islam sedih atas tragedi di Ghaza dan semua umat Islam wajib membantu saudara seaqidah di Ghaza. Dan semua mengutuk atas kedzaliman Yahudi yang memang sudah jadi karakter dasar orang-orang Yahudi.

    Tapi apakah adanya tragedi ini trus sikap kita menjauhi dari tuntunan Nabi yang kita cintai Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam?

    Kalau Rasulullah melarang demonstrasi, apa karena ada tragedi ini trus demonstrasi jadi halal?
    Apakah larangan Nabi untuk membuat hal-hal baru dalam peribadatan beragama, trus kita bilang Nabi gak mengikuti perkembangan zaman? Ajaran Nabi kuno? Ajaran Nabi belum sempurna karena mesti harus membuat hal-hal baru dalam beribadah?
    Kalau dalam hadits, Nabi melarang kita memakai pakaian yang ketat membentuk lekuk tubuh, apa kita cuekin aja hadits ini?
    Apakah hadits-hadits tentang jenggot, isbal, merupakan hadits-hadits yang tidak berguna dan tidak perlu diikuti, karena tidak sesuai dengan zaman sekarang?
    Kalau dalam sirah Nabi, walau Yahudi terus-menerus memusuhi Nabi, tetapi Nabi tetap saja bikin perjanjian dengan orang-orang Yahudi agar muslim aman, apa trus kita bilang kalau Nabi salah strategi?
    Apa waktu muslim yang waktu itu sedikit dan ditekan terus-menerus oleh Yahudi dan kaum musyrikin, lalu nabi menyuruh pengikutnya hijrah 2 kali ke tempat yang aman ke Habasyah dan kemudian ke Madinah, padahal para sahabat sudah memohon-mohon Nabi untuk menghunus pedang buat melawan, tapi dilarang Nabi. Apakah waktu itu Nabi takut mati?

  9. Indra Hadi berkata:

    haduuuh… mengapa begini mengapa begitu.. semoga selalu diberi petunjuk oleh ALLAH SWT

  10. ummu yusuf berkata:

    Akhi Waskito

    Wahai akhi belajarlah lebih banyak dan lebih dalam insya Allah antum mendapat hidayah Allah untuk mengetahui mana yang shahih dan mana yang bathil. Jangan cuma tahu kulitnya tapi berasa antum sudah tahu semuanya.

  11. ressay nib rma berkata:

    hehehe gimana dgn syiah iran dukung yahudi ga….???? selama ini khan syiah iran cuman bisa OMONG DOANK…berkoar2 punya senjata canggih dll….tapi satu rudal pun gak ada yg mendarat di israel, masih mending saddam yg udah meninggal digantung sama antek2 syiah iran si muqtada alsadr, jamannya saddam hidup masih ada rudal scud yg dikirim dia ke yahudi…sementara si dinejad ini…sumbangannya ke palestinanya aja kalah jauh sama Raja Arab saudi yg “katanya kamu sekutunya zionis” malah nyumbang 1 milliar dollar buat GAZA, klo abi waskito udah nyumbang berapa mas??

  12. nugroho berkata:

    meski sy bukan pengikut pergerakan yang saudara maksudkan, tp sungguh prihatin dengan yang anda tulis, dimana kita sebagai saudara semuslim saling menghujat dan saling menggelari sesat.. Ya Robbi tunjukkanlah kami jalan yang lurus yang Engkau Ridhoi… sedangkan kita yang masih sama2 memegang Al-Quran sebagai pedoman hidup kita & Rosulullah SAW sebagai acuan akhlak bagi kita, mengapa kita harus saling menyesatkan..? apakah Rosululloh mengajarkan yang demikian… ? bukan-kah Agama adalah nasehat… dan bukan-kah kita dianjurkan kepada berpesan kepada kebenaran & kesabaran… sudah sewajibnya kita membantu saudara semuslim kita di Palestina dengan sekuat tenaga kita, adapun adanya sikap Arab Saudi dan Mesir yang belum terbuka hatinya, kita doakan mudah2an Alloh SWT membukan hati2 mereka.. dan banyaknya pergerakan muslim di dunia ini, IM, JT, Salafy, HTI dsb.. seharusnya semakin memperkuat ukhuwah kita, jangan sampai Yahudi laknatulloh’alaihi tertawa dengan keras melihat perpecahan diantara umat muslim itu sendiri.. mari kita teladani akhlak Rosul SAW dengan saling bertabayyun dan saling menasehati, bukannya dengan saling menghujat & memberi gelar sesat.. dan apabila yang kita nasehati belum terbuka hatinya, kita kembalikan pd Alloh SWT, karena Alloh SWT lah yang Maha membukakan hati2 kita dalam menggapai Hidayah-Nya… Wallohua’lam bissowab…

  13. Ana Jiddan berkata:

    Hmmm…
    Kalo dipikir2 salafy yang semacam itu mirip sekali dengan JIL ya… mengerikan…
    hanya saja mereka itu orang-orang JIL yang berjenggot dan tidak isbal plus gamisnya…

  14. privateryan berkata:

    Ati ati kalo bicara

  15. Abu Na'ila berkata:

    Assalaamualaikum,

    Semoga Allah berikan kepada saudara sesama muslim di Palestina kesabaran dan Allah angkat penderitaan yang ada pada mereka.
    Sedih saya membaca komentar antum yang penuh makian, celaan, tuduhan kepada sesama muslim (baca:Salafiyyin).
    Kita muslim adalah bersaudara. Menghujat sesama muslim bukanlah sikap muslim yang baik (krn bukan itu sikap seorang saudara).
    Selayaknya saudara, maka kita menginginkan kebaikan bagi saudara kita sebagaimana kita menginginkan kebaikan pada diri kita.
    Ada hak setiap muslim yang harus ditegakkan atas muslim lainnya, yaitu nasehat. Dan agama ini sendiripun nasihat.
    Dengan komentar antum seperti itu akan terjauh muslim yang lain dari jalan hidayah dan petunjuk.
    Jika antum merasa Salafiyyin salah, apakah antum sudah ajak mereka untuk duduk bersama, antum berikan mereka nasehat dengan
    dalil Quran dan Sunnah yang shahih sebagai pijakan.
    Tundukkan akal, hati dan nafsu kepada ketinggian Kitabulah dan Sunnah Nabi yang shahih dalam berpikir, berkomentar, bersikap.
    Sehingga tercapai ilmu yang yakin dan hidayah yang sempurna.
    Semoga dengan nasehat yang santun dan selalu rujuk pada dua sumber mulia tersebut, hati menjadi lunak dan mudahnya jalan hidayah
    Wassalaamualaikum,

    Abu Na’ila

  16. Abu Na'ila berkata:

    Assalaamualaikum,

    Semoga Allah berikan kepada saudara sesama muslim di Palestina kesabaran dan Allah angkat penderitaan yang ada pada mereka.
    Sedih saya membaca komentar antum yang penuh makian, celaan, tuduhan kepada sesama muslim (baca:Salafiyyin).
    Kita muslim adalah bersaudara. Menghujat sesama muslim bukanlah sikap muslim yang baik (krn bukan itu sikap seorang saudara).
    Selayaknya saudara, maka kita menginginkan kebaikan bagi saudara kita sebagaimana kita menginginkan kebaikan pada diri kita.
    Ada hak setiap muslim yang harus ditegakkan atas muslim lainnya, yaitu nasehat. Dan agama ini sendiripun nasihat.
    Dengan komentar antum seperti itu akan terjauh muslim yang lain dari jalan hidayah dan petunjuk.
    Jika antum merasa Salafiyyin salah, apakah antum sudah ajak mereka untuk duduk bersama, antum berikan mereka nasehat dengan
    dalil Quran dan Sunnah yang shahih sebagai pijakan.
    Tundukkan akal, hati dan nafsu kepada ketinggian Kitabulah dan Sunnah Nabi yang shahih dalam berpikir, berkomentar, bersikap.
    Sehingga tercapai ilmu yang yakin dan hidayah yang sempurna.
    Semoga dengan nasehat yang santun dan selalu rujuk pada dua sumber mulia tersebut, hati menjadi lunak dan mudahnya jalan hidayah
    Wassalaamualaikum,

    Abu Naila

  17. Ibn Abd Muis berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Ustadz, afwan ana mengutip point2 di atas untuk menjawab komentar salah seorang dari ‘Salahpikir’ ini tanpa ijin terlebih dahulu. Dan efeknya dia makin marah2 dan mengeluarkan kata2 andalan mereka. Seperti biasalah. Barakallahu fik.

  18. budi berkata:

    aneh diblog2 syiah indonesia ga ada tuh kampanye nyumbang palestina yg ada cuman propaganda jelek2 in saudi aja

  19. abisyakir berkata:

    @ Abu Ipah

    Masalah Isbal memang termasuk kabair, dengan syarat bil khuyala’ (dengan sombong). Kalau tidak sombong masih diperselisihkan. Menurut sebagian pendapat, Ibnu Hajar Al Asqalani tidak mengharamkan isbal, kecuali yang sombong itu.

    Kalau isbal termasuk kabair sebagaimana zina, khamar, membunuh, mencuri, dan sebagainya, pasti akan ada sanksi had-nya. Misalnya dipukul, diqisas, dipenjara, diisolir, dan sebagainya.

    Isbal itu lingkupnya adab seorang Muslim dalam berpakaian dan tidak sombong dalam sikap. Ia bukan dosa besar seperti dosa-dosa besar kepada Allah atau kepada sesama manusia lainnya.

    Sampai ada yang mengatakan, “Meskipun tidak isbal, kalau dia sombong dengan penampilannya itu, hal tersebut juga haram!”

    Kalau di Palestina saat ini, masalah isbal ini jangan dibawa kesana. Itu terlalu jauh. Bebaskan dulu saudaramu dari kezhaliman Yahudi, baru setelah itu ajarkan kepada mereka agar tidak berpakaian isbal.

    Wallahu a’lam bisshawaab.

    AMW.

  20. abisyakir berkata:

    @ Abdullah

    “Yg sudah anda lakukan apa sih buat palestina mas waskito, kok anda juga kerjanya nyalahin dan sesat2 in org doang..”

    AMW:

    Oh ya, maaf kalau seperti itu yang Anda lihat.

    Secara fisik kita memang tidak bisa berbuat banyak, karena jauhnya jarak Indonesia dengan Palestina. Paling bisa melakukan apa yang bisa dilakukan. Salah satunya, membangun opini seperti ini.

    Secara khusus saya ikut mengecam sikap para Salafiyun yang bukannya merespon penderitaan saudaranya, tetapi malah mengungkit hal-hal sepele yang sebenarnya bisa ditunda pembahasannya. Anda harus memahami kaidah Usul Fiqih, bahwa kita harus mendahulukan yang terpenting di antara pilihan-pilihan penting. Kalau ada dua madharat, dijauhi yang paling berat madharatnya; kalau ada dua maslahat, diraih yang paling besar maslahatnya.

    Sementara ini dulu. Wassalam.

    @ Abu Az Zidan

    “Makanya, pegang teguhlah aqidah salafiyyah ini dengan erat. jangan cuma omdo kayak gini. Lha wong firqoh salafiy yang metodenya katanya sesuai dengan jalur salafussholeh aja jadi antek toghut, apalagi yang nggak???!!!”

    AMW:

    – Siapa yang omdo Mas? Masak melakukan amar makruf nahi munkar disebut omdo? Komunitas Anda dulu kan yang paling terdepan dalam “membantah kesesatan”. Iya kan? Apa itu mau disebut omdo juga?

    – Aqidah salafiyyah yang Anda maksud seperti apa? Menjadi fanatikus yang ikut saja apapun yang dikatakan ustadz/syaikh? Itu akidah taqlid, bukan akidah Salafiyyah.

    – Coba Anda sebutkan, apakah firqah Salafi akidahnya seperti Salafus Shalih? Salah satu bukti, dulu Khalifah Umar mengusir Romawi dari bumi Palestina, padahal penduduknya mayoritas Nashrani. Khalifah Umar itu Salafus Shalih lho. Sementara Salafi hari ini malah nyuruh warga Palestina hijrah ke negeri lain? Kalau itu dilakukan, Palestina akan tidak bertuan. Yahudi dengan lenggang-kangkung bisa memasuki rumah-rumah bangsa Palestina.

    Syukran atas tanggapannya.

    AMW.

  21. abisyakir berkata:

    @ Iwansulis: “Semua umat Islam sedih atas tragedi di Ghaza dan semua umat Islam wajib membantu saudara seaqidah di Ghaza. Dan semua mengutuk atas kedzaliman Yahudi yang memang sudah jadi karakter dasar orang-orang Yahudi. Tapi apakah adanya tragedi ini trus sikap kita menjauhi dari tuntunan Nabi yang kita cintai Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam?”

    ==> Ya dalam kondisi apapun kita harus mengikuti Sunnah Nabi Saw. Sebab itulah konsekuensi hidup seorang Muslim. Antara TAUHID dan SUNNAH, keduanya selalu terikat di leher seorang Muslim, dimanapun dia berada. Tidak ada khilaf lagi.

    @ Iwansulis: “Kalau Rasulullah melarang demonstrasi, apa karena ada tragedi ini trus demonstrasi jadi halal?”

    ==> Ini masalah fikih yang cukup pelik. Apa itu demonstrasi, bagaimana definisinya? Apakah dulu pernah ada demontrasi? Apakah ada ayat atau hadits sharih yang mengharamkannya? Ini masalah cukup pelik. Tidak bisa dikomentari dengan sederhana. Wallahu a’lam bisshawaab.

    @ Iwansulis: “Apakah larangan Nabi untuk membuat hal-hal baru dalam peribadatan beragama, trus kita bilang Nabi gak mengikuti perkembangan zaman? Ajaran Nabi kuno? Ajaran Nabi belum sempurna karena mesti harus membuat hal-hal baru dalam beribadah? Kalau dalam hadits, Nabi melarang kita memakai pakaian yang ketat membentuk lekuk tubuh, apa kita cuekin aja hadits ini?”

    ==> Lho, siapa yang akan membuat hal-hal kemungkaran itu? Apa disini saya mengajarkan agar kita melalaikan ajaran Sunnah Nabi?

    Saya ingin mengatakan, “Tolong ketika saudaramu tertimpa bencana, jangan mencacati kesalahan-kesalahan mereka dulu! Selamatkan jiwa dan hidup mereka dulu, baru nanti setelah kondisi baik kembali, nasehati mereka!”

    Bukan seperti saat ini, Salafiyun begitu sensitif dengan kesalahan-kesalahan warga Muslim Palestina, sementara mereka tidak berbuat apa-apa untuk menolong saudaranya. Itu kesalahan dalam menempatkan sesuatu pada porsinya.

    @ Iwansulis: “Apakah hadits-hadits tentang jenggot, isbal, merupakan hadits-hadits yang tidak berguna dan tidak perlu diikuti, karena tidak sesuai dengan zaman sekarang?”

    ==> Wah, Anda terlalu jauh. Bukan kesana arahnya. Tapi menyelamatkan jiwa kaum Muslimin lebih didahulukan dari masalah-masalah seperti itu. Jangankan kesalahan seperti itu, perkataan kekafiran saja, kalau demi menyelamatkan jiwa seorang Muslim. Itu boleh dilakukan. Seperti dalam kasus Amar bin Yassir Ra.

    @ Iwansulis: “Kalau dalam sirah Nabi, walau Yahudi terus-menerus memusuhi Nabi, tetapi Nabi tetap saja bikin perjanjian dengan orang-orang Yahudi agar muslim aman, apa trus kita bilang kalau Nabi salah strategi?”

    ==> Wah wah wah… Nabi itu membuat perjanjian dengan Yahudi saat baru masuk Madinah. Setelah 10 tahun di Madinah, ternyata Yahudi membuat ulah terus, mereka diusir, ditawan, dan dibunuh laki-lakinya (kasus Bani Quraidhah).

    Kalau kasus Palestina-Israel, Israel kan penjajah, yang merampas tanah kaum Muslimin sejak ia dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Kalau di Madinah, posisi Nabi sejajar dengan Yahudi. Dalam konflik Palestina-Israel, Israel penjajah, Palestina terzhalimi. Masak harus perjanjian damai untuk melanggengkan penjajahan? Aneh kan.

    @ Iwansulis: “Apa waktu muslim yang waktu itu sedikit dan ditekan terus-menerus oleh Yahudi dan kaum musyrikin, lalu nabi menyuruh pengikutnya hijrah 2 kali ke tempat yang aman ke Habasyah dan kemudian ke Madinah, padahal para sahabat sudah memohon-mohon Nabi untuk menghunus pedang buat melawan, tapi dilarang Nabi. Apakah waktu itu Nabi takut mati?”

    ==> Wah gimana ya, Anda tidak berdiskusi sesuai konteksnya.

    Mohon Anda catat dengan baik. Perintah Nabi untuk berperang, berhijrah, diam saja, atau apapun, itu BERDASARKAN WAHYU. Jadi bukan keinginan Nabi sendiri. Itu bukan strategi, tapi bimbingan Wahyu. Itu harus Anda catat baik-baik!

    Wallahu a’lam bisshawaab. AMW.

  22. abisyakir berkata:

    @ Ummu Yusuf

    “Akhi Waskito, Wahai akhi belajarlah lebih banyak dan lebih dalam insya Allah antum mendapat hidayah Allah untuk mengetahui mana yang shahih dan mana yang bathil. Jangan cuma tahu kulitnya tapi berasa antum sudah tahu semuanya.”

    AMW:

    Amin Allahumma amin, semoga Allah menunjuki kita kebenaran dan memberi taufik untuk mengikutinya; semoga Allah menunjukkan kebathilan dan memberi taufik kepada kita untuk menjauhinya. Amin.

    Syukran Ummu Yusuf atas sarannya. Sejujurnya saya berpendapat sesuai yang saya ketahui. Kalau tidak tahu, saya tidak terjun berpendapat disana. Adapun soal “kulit” atau “isi” ya mari kita saling berbagi nasehat. Siapa yang tahu kebenaran, sampaikan; siapa yang tahu ilmu, sampaikan.

    Semoga kita mendapat bimbingan hidayah dan taufik dari Allah selalu. Amin ya Hadi.

    AMW.

  23. abu Ammar berkata:
    Alhamdulillah segala puji hanya milik Alloh azza wa jalla, kepada-Nya kita memuji dan memohon pertolongan. Kepada-Nya kita memohon ampunan dan berlindung dari kejelekan jiwa dan rusaknya amal. Barangsiapa yang dikehendaki Alloh mendapat petunjuk, maka tak seorang pun mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tak seorang pun yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk diibadahi, kecuali Alloh Ta’ala semata, dan Muhammad shallallahu ’alaihi wa salam adalah hamba dan utusan-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasululloh shallallahu ’alaihi wa salam, kepada keluarganya, sahabat serta semua umat beliau yang mengikutinya dengan kebaikan hingga Alloh mendatangkan keputusan-Nya. Sebelumnya sebagai informasi. Saya mendapat kiriman email dari teman. Yang saya lihat dia hanya mem-forward saja. Ternyata pengirim pertama adalah saudara AM. Waskito. dan dia sebenarnya juga hanya mengambil tulisan tersebut dari tulisan di Abisyakir.worpress.com sehingga saya pun berkenginan mengomentari tulisan tersebut. Saya juga telah mengirimkan tulisan saya ini kepada pengirim email pertama. Semoga bermanfaat… Penindasan yang dilakukan Yahudi La’natulloh terhadap saudara2 muslim kita di Palestina mengundang perhatian seluruh dunia. Bukan hanya dari kalangan muslim saja. Orang2 kafir pun turut andil dalam menyuarakan penentangannya terhadap tindakan Yahudi tersebut. Begitu juga dengan kaum muslimin di negeri kita. Semua lapisan masyarakat dari anak2 hingga orang tua. Semua menyuarakan pendapatnya tentang tindakan apa yang mestinya dilakukan. Bahkan pendapat tadi bukan wacana belaka, kesiapan jiwa dan harta mereka demi menyelamatkan Palestina siap dipertaruhkan. Fenomena ini sangat menggembirakan, menandakan kecemburuan kaum muslimin terhadap agama dan saudara-saudaranya. Akan tetapi, ketika semua hal tadi tidak dilandasi dg ilmu yang benar, maka membuahkan sikap dan tindakan yang bertentangan dengan Islam. Bagaimana tidak, masing2 orang memiliki tingkat keilmuan yang berbeda. Akhirnya membuahkan bermacam pendapat yang saling kontadiksi antara satu kelompok dgn lainnya. Bahkan hingga mereka memberikan penilaian terhadap kebijakan yang diambil pemimpin2 negeri muslim. Yang kemudian beralih menjadi celaan dan hujatan melalui aksi demonstrasi yang digelar. Tak ketinggalan pula, moncong senapan Hizbiyyun, berupa tuduhan dusta dan fitnah yang keji mengarah kepada Salafiyun. Mereka menebar syubhat dan kebatilan untuk memadamkan dakwah yang penuh barokah ini. Tidak aneh… musuh2 dakwah tauhid ini terus akan menghadang. Berikut saya mencoba untuk mengomentari salah satu contohnya. Dan saya sertakan jawaban atas tuduhan dusta yang dilontarkan dengan tanpa rasa takut kepada Alloh ta’ala sedikitpun. Apakah mereka mengira bahwa Alloh azza wa jalla akan lupa terhadapnya. Apakah mereka yang turut menyebarkan tuduhan dusta ini tidak takut kepada-Nya. Mereka ramai2 menelan mentah2 setiap berita tuduhan tadi, apa yang menurut hawa nafsunya cocok. Yang penting bersatu memusuhi Salafiyun yang selama ini bersikap ”keras” kepada kesesatan mereka. Berikut ini salah satu contoh tulisan mereka, . Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah Oleh : Abi Waskito 18 Jan 2009 – 5:37 pm 2 boneka pemimpin arab yg enggan melaknat Israel Liputan 6 SCTV, 17 Januari 2009, pukul 17.00 WIB. Disana disebutkan bahwa Liga Arab setuju untuk membekukan hubungan diplomatik dengan Israel, sebagai bentuk protes atas agressi Israel ke Palestina. Namun dua negara menolak hasil rekomendasi Liga Arab itu, yaitu: MESIR dan SAUDI. Mereka menolak keputusan membekukan hubungan diplomatik dengan Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim. Ketika negara-negara Amerika Selatan mengutuk Israel. Bolivia menuduh Israel sebagai penjahat perang, Venezuela mengusir duta besar Israel, sebagai bentuk kecaman atas kebrutalan Israel. Ternyata, dua negara yang disebut-sebut sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam, MESIR dan SAUDI, mereka menolak mendukung tekanan keras kepada negara Yahudi laknatullah itu. Ini sangat ironis! Orang kafir masih memiliki nurani, sementara dua negara yang mengklaim sebagai negara “paling Islami” di muka bumi, ridha menjadi sekutu Israel laknatullah ‘alaihim. Lihatlah wahai saudaraku…. penulis ini bisa mengetahui sikap pemimpin2 negeri tersebut. Dengan mengatakan bahwa mereka ”ridha menjadi sekutu Israel laknatullah ’alaihim”. Bukankah ridha itu perbuatan hati, yang tidak akan mengetahuinya kecuali Alloh ta’ala. Apakah sang penulis ini sadar dengan apa yang telah ditulisnya.??? Saudaraku… Ketika ada orang yang mendapatkan tekanan dan ancaman untuk dibunuh jika tidak mau utk murtad. Kemudian ia mengatakan dengan lisannya bahwa ia bersedia murtad. Tetapi selama hatinya tidak mengatakan demikian Alloh azza wa jalla masih mengampuninya. Perbuatan ridho itu adalah wewenang hati. Dari sanalah Alloh azza wa jalla menilai amalan seseorang. Apakah niatnya ikhlas atau terpaksa… Apakah sang penulis ini sudah menanyakannya… Ataukah ia memiliki ilmu utk melihat apa yang terbersit di hati manusia??? Liga Arab juga bermaksud mengadakan KTT di Doha Qatar, untuk menyatukan langkah bangsa-bangsa Arab. Dalam rencana KTT ini 13 negara Arab siap hadir, tetapi lagi-lagi, 3 negara sekutu Amerika, yaitu Mesir, Saudi, dan Yordania memboikot pertemuan itu. Sehingga KTT Doha berubah nama menjadi “KTT Ghaza”. Lihatlah betapa pemimpin-pemimpin Mesir, Saudi, dan Yordania itu tidak ada rasa takut sedikit pun kepada Allah Ta’ala. Mereka lebih takut kepada Amerika dan Yahudi Israel. Sangat mengerikan, sangat mengerikan! Kita memang tidak boleh menyebut semua warga Arab, atau warga Arab Mesir, Saudi, dan Yordan brengsek semua. Tidak saudaraku! Disana sangat banyak kaum Muslimin yang mendidih darahnya melihat sikap pemerintah masing-masing. Syria sudah menunjukkan sikap berani, dia mengusulkan agar Israel dikeluarkan dari anggota PBB. Tetapi elit-elit politik di ketiga negara tersebut memang telah menampakkan sikap kebrutalan yang sangat mengerikan terhadap nasib saudara-saudara mereka, Muslim Palestina. Setelah agressi Israel, Hidayat Nurwahid bertemu dengan pemimpin-pemimpin Arab. Tetapi anehnya, Husni Mubarak, Presiden Mesir tidak mau menemuinya. Begitu juga Saudi sesumbar telah mengirimkan bantuan kemanusiaan sekian juta dollar. Tetapi apalah artinya bantuan itu? Bukankah yang prioritas adalah menghentikan kebrutalan Yahudi, menyelamatkan jiwa-jiwa kaum Muslimin, rumah-rumah, dan harta benda mereka? Demo di Bahrain Inilah masa dimana kaum Muslimin tidak memiliki back pemerintahan atau kepemimpinan yang melindungi. Orang-orang kafir begitu mudahnya menjadikan kita bulan-bulanan, seperti sansak tak berdaya. Setiap saat mereka bisa membunuhi anak-anak kita, menodai wanita-wanita kita, meruntuhkan rumah-rumah kita, merampasi harta-harta kita, menghinakan kehormatan kita. Kita tidak memiliki pelindung, pengayom, dan sistem yang kokoh sebagai atap. Akhirnya, kita hanya berlindung dengan keimanan di dada kita, persaudaraan di antara sesama Muslim, dan menggantungkan diri kepada ‘Izzah Allah Ar Rahmaan. Hanya ini pelindung kita, hanya ini sandaran kita. Allahu Akbar!!! Penulis telah mengatakan dengan jujur dan ia telah menyadarinya, bahwa keadaan kaum muslimin saat ini yang menjadi bulan-bulanan org2 kafir. Akan tetapi sayangnya ia tidak mencoba menganalisa apa yang menjadi penyebabnya. Penulis rupanya menganggap semua ini disebabkan karena tidak adanya sistem yang kokoh sebagai atap, untuk menjadi pelindung dan pengayomnya. Apakah penulis telah lupa dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ketahuilah wahai saudaraku, sebenar-benarnya perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak berucap berdasarkan hawa nafsunya. Melainkan setiap apa yang beliau ucapkan adalah wahyu dari Alloh. Alloh azza wa jalla berfirman : ”Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm :3-4) Wahai penulis…. ketahuilah !!! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang : Apakah karena sedikitnya kami waktu itu ? Beliau bersabda : Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, apakah wahn itu ? Beliau bersabda : Mencintai dunia dan takut mati”. [Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hailah]. Inilah jawaban dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap semua penyebab yang terjadi saat ini. Padahal pada mulanya Allah azza wa jalla menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya : “Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah, dimana Allah belum pernah menurunkan satu alasanpun tentangnya”. [ Ali-Imran : 151]. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku : Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan ; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; …. dan seterusnya “. [HR. Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu]. Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Kini, rasa takut di hati musuh2 Islam terhadap kaum muslimin telah diangkat Allah Ta’ala sebagai akibat dari rusaknya keyakinan dan buruknya pemahaman terhadap agama ini. Keadaan kaum muslimin yang lalai terhadap akhiratnya, mengakibatkan mereka mendapati malapetaka besar seperti saat ini. Kebodohan terhadap perkara agama ini, menyebabkan merajalela berbagai pelanggaran syari’at. Syirik & khurofat mendarah daging di tubuh umat. Mereka beramal bukan dengan tuntunan Islam, melainkan dengan ajaran dan keyakinan rusak yang telah dianggap sebagai agama. Maka muncullah bid’ah-bid’ah dalam agama ini. Inilah penyebab utama dari apa yang terjadi. Bukan karena tidak adanya pelindung dan pengayom seperti yang diungkapkan penulis di atas. Karena sistem kokoh sebagai pengayom akan terwujud jika syarat2 untuk menghantarkan kepadanya terpenuhi. Dan ini adalah janji Alloh Ta’ala. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur : 55) Saudaraku… ketahuilah!! Alloh azza wa jalla telah berjanji kepada org2 beriman dan beramal sholih utk menjadikan mereka penguasa di bumi dan mengangkat semua bencana ini dengan syarat seperti yang tersebut di muka. Lantas pertanyaannya.. Apakah jika amalan kaum muslimin itu tidak sesuai dengan tuntunan sang pembawa risalah, yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa disebut amal sholih??? Apakah jika amalan kaum muslimin itu dilakukan tidak dengan ikhlas karena Alloh maka disebut amal yang sholih??? Cam kan semua ini…. Lalu apa yang akan engkau perbuat jika demikian.??? Sementara orang-orang sesat dari firqoh Salafiyun, tidak henti-hentinya menyebarkan pemikiran beracun untuk merusak pemahaman Ummat. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya mereka melontarkan pandangan aneh, misalnya: “Perjuangan bangsa Palestina bukan jihad; jangan mengutuk Israel nanti bisa kafir, sebab Israel adalah nama lain Nabi Ya’qub ‘alaihissalam; Beginikah sikap mu wahai penulis??? Ketika mendapat nasehat yang sangat berharga agar lidahmu tidak terjerumus ke dalam kesalahan, karena menggelari Isroil dengan laknatulloh. Padahal Isroil itu seorang Nabiulloh. Inilah sebuah bentuk kesombongan yang nyata, menolak kebenaran secara membabi buta. Engkau justru menuduh salafi menyebarkan pemahaman sesat yang merusak ummat. Naudzubillah!! Siapa sebenarnya yang merusak ummat??? Beginikah dakwah kalian??? Bersihkan kebencian di hatimu agar engkau bisa memandang jernih dan memahaminya dengan baik. Penisbatan Yahudi kepada Israil merupakan kekeliruan yang nyata adanya. Tetapi ketika datang penjelasan kepadamu atas ketergelinciran lidahmu, justru engkau berbalik menuduh bahwa dakwah salafi merusak pemahaman ummat. Berikut ini kami sampaikan penjelasan mengenai perbedaan ini, menurut pandangan Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman. Tersebut di dalam kitab Mu’jam Manahil Lafzhiyah, Darul Ashimah, Cetakan III, Tahun 1413H halaman 93-94, Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid mengatakan : Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang berjudul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan Nashara Minat Tabdil. Di dalam kitab tersebut terdapat tahqiq yang menyinggung, bahwa Yahudi telah terlepas dari Bani Israil. Yakni sebagaimana terpisahnya Nabi Ibrahim Alaihissalam dari bapaknya, Azar. Kekufuran itu telah memutuskan loyalitas antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, sebagaimana diceritakan dalam kisah antara Nabi Nuh Alaihissalam dengan putranya. Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki Bani Israil pada zaman dahulu, sedikitpun tidak ada yang dimiliki kaum Yahudi. Karenanya, justru penyematan nama Bani Israil untuk menyebut kaum Yahudi, akan menjadikan mereka meraih keutamaan-keutamaan, dan keburukan mereka pun tertutupi. Demikian ini berakibat hilangnya perbedaan antara Bani Israil dengan Yahudi sebagai kaum yang dimurkai Allah Azza wa Jalla dan dihinakan dimanapun mereka berada. Begitu pula, tidak boleh mengganti nama Nashara menjadi Al-Masihin, yaitu menisbatkan kepada pengikut Nabi Isa Al-Masih. Ini merupakan nama baru yang tidak ada dasarnya dalam sejarah, dan tidak juga dalam perkataan para ulama. Karena orang Nashara telah mengganti dan menyelewengkan kitab Allah Azza wa Jalla, sebagaimana kaum Yahudi telah melakukannya terhada din (agama) Nabi Musa Alaihissalam. Memberi nama kepada mereka dengan Al-Masih, tidak memiliki dasar hujjah. Kepada mereka Allah Azza wa Jalla hanya memberikan nama Nashara, bukan Al-Masihin. Kemudian, kekufuran kaum Yahudi dan Nashara terhadap syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menjadi musabab penyebutan atas diri mereka sebagai kafir. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” [Al-Bayinnah : 1] Jadi sesungguhnya, Yahudi adalah nama bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Nabi Musa Alaihissalam. Adapun yang beriman, mereka itulah yang disebut Bani Israil. Karena itu, orang-orang Yahudi (sendiri) merasa tidak senang (jika) disebut dengan nama Yahudi. Adapun Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman menuliskan di catatan kaki kitab beliau, As-Salafiyun wa Qadhiyatu Filasthina, Markaz Baitul Maqdis, Cetakan I, Tahun 1423H, halaman 12-13, sebagai berikut : Penamaan ini, -yaitu menamakan Yahudi dengan nama Israil- merupakan kemungkaran. Telah meluas di tengah masyarakat di negeri Muslim sebuah perkataan yang berkonotasi celaan “Israil melakukan ini dan itu, dan akan melakukan tindakan ini dan itu”, padahal Israil itu, merupakan salah seorang Rasul Allah (utusan Allah), yaitu Nabi Ya’qub Alaihissalam. Dan beliau Alaihissalam, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan negara yang senang berbuat makar dan keji ini. Antara para nabi dan rasul, sama sekali tidak ada saling waris-mewarisi dengan orang-orang kafir, musuh mereka. Yahudi, sama sekali tidak memiliki hubungan din (agama) dengan Nabi Allah, Israil alaihissalam. Penamaan seperti ini, memberikan dampak buruk pada pemahaman diri kita. Allah dan para rasul-Nya tidak akan pernah meridhainya, terutama Nabi Israil Alaihissalam. Karena Yahudi adalah kaum kafir dan pembohong. Menyematkan nama ini kepada mereka mengandung pelecehan terhadap Nabi Israil Alaihissalam. Dan yang wajib adalah mencegah penamaan itu. Dalam Shahih Bukhari no. 3533, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan dan kutukan orang kafir Quraisy dariku. Mereka hanya mencela orang yang tercela, dan mengutuk orang yang tercela. Sedangkan aku, tetap Muhammad (terpuji)” Dan kewajiban kita –minimal- membuat mereka gusar dengan penyematan nama Yahudi pada mereka, karena mereka membenci nama ini dan senang dengan penisbatan palsu kepada Nabi Ya’qub Alaihissalam. Mereka, sedikitpun tidak mendapatkan keutamaan maupun kemuliaannya. Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang sudah dicetak di Qathar, tahun 1398H, dengan judul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan Nashara Minat Tabdil. Tentang masalah ini juga, coba lihat Muja’mul Manahil Lafzhiyah (44), karya Syaikh Bakar Abu Zaid, majalah kami Al-Ashalah, Edisi 32, Tahun ke-6, Tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1422H, halaman 54-57, makalah Syaikh Rabi’ bin Hadi, Hukmu Tasmiyati Daulati Yahuda bi Israil. Peringatan dalam masalah ini, juga saya temukan dalam kitab Khurafatu Yahudiyah, karya Ahmad As-Syuqairi, halaman 13-30, dengan judul Lastum Abna-u Ibrahima, Antum Abna-u Iblisa. [Lihat Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun X/1427H/2006M] Hamas dituduh memprovokasi Israel sehingga menghancurkan rakyat Ghaza (lihatlah, mereka kok mau membenarkan alasan yang dipakai Yahudi Israel terkutuk itu ketika melakukan agressi ke Ghaza?); jihad tidak disyariatkan, selama Muslim Palestina lemah; lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya (biar Israel tertawa terbahak-bahak sampai muntah-muntah, sementara tidak ada satu pun Salafi mau menerima kedatangan Muslim Palestina di rumahnya); Saya ingin bertanya kepada penulis ini….. Dari mana engkau mendapat kabar ini, bahwa lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya???? Engkau mendengarnya dari Murobbi mu?? Atau engkau hanya mendengar selintas saja??? Kemudian dengan dasar itu engkau menulis dan menyebarkannya??? Di manakah letak keadilan dan ilmiah mu dalam beragama ini. Sementara begitu mudahnya engkau menuduh tanpa bukti. Saya beri tahu sekarang jika engkau tidak mengetahui duduk permasalahannya. Pernyataan ini adalah Fatwa Syaikh al-Albani rohimahulloh. Tetapi anehnya fatwa tersebut menjadi rusak oleh org2 semisalmu. Karena tidak adil dan amanah dalam menyampaikan isi Fatwa itu. Apakah engkau sudah membaca sendiri fatwa Syaikh Albani dalam masalah ini?? Ataukah engkau hanya mendapat penggalannya saja, yang sengaja disebarkan oleh org2 pendengki dakwah salaf ini??? Sepertinya memang demikian… engkau hanya mendapat sepenggal kalimat ”lebih baik muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya.” Atau mungkin engkau sudah membaca keseluruhan fatwa tersebut, namun kebencian di hatimu menyebabkan engkau tidak bisa memahami fatwa tersebut. Atau memang demikianlah caramu dalam beragama ini… memotong dalil sesuai hawa nafsumu??? Jika cara terakhir ini yang engkau pegang, maka ketahuilah!! Jika engkau rajin sholat, maka engkau akan celaka!!! Saya akan terangkan dalilnya kepadamu tentang ini. Perhatikan firman-Nya berikut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat” (QS.al-Maa’uun : 4) Wahai penulis… rusaklah agama ini jika engkau berdalil dengan cara memotong2nya, tidak memahaminya secara utuh. Maka camkanlah!!! Alloh berfirman dalam lanjutan ayat tersebut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. [QS al-Maa’uun :4-7] Jika demikian caramu beragama, maka seperti ungkapan penyair berikut: Jika engkau mengetahuinya, maka musibah. Jika engkau tidak mengetahuinya, maka musibahnya lebih besar Mudah2an engkau sadar akan kekeliruanmu dalam masalah penyampaian dalil. Ketahuilah… bahwa fatwa Syaikh al-Albani dalam masalah hijrah palestina, tidak seperti apa yang engkau tulis. Perhatikan, duduk permasalahan fatwa beliau yang sebenarnya dalam bebeapa point berikut: 1. Hijrah dan Jihad terus berlanjut hingga hari kiamat. 2. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu. 3. Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, Makkah. 4. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu utk menampakkan hukum2 syar’i yang dibebankan Alloh kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya shg menjadikannya murtad dari agama. Inilah inti fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!! 5. Apabila seorang muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnnya utk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut tanpa harus ke luar negerinya, karena hal itu lebih mudah baginya utk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai. 6. Hijrah sebagaimana disyari’atkan dari negara ke negara lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri. Hal ini juga banyak dilalaikan oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran2 bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palestina utk keluar darinya! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!! 7. Tujuan hijrah adalah utk mempersiapkan kekuatan utk melawan musuh2 Islam dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumhya. 8. Semua ini apabila ada kemampuan. Apabila seorang muslim tidak mendapati tanah utk menjaga diri dan agamanya kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan2 yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaanya di tempatnya lebih aman utk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali negeri kafir juga, atau keberadaannya utk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat utk umat atau maslahat utk mendakwahi musuh dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya, semoga dia mendapatkan pahala hijrah. Demikian juga dalam kasus Palestina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan : ”Apakah di Palestina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaklah mereka hijrah ke sana dan tidak keluar dari Palestina, karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan.” Demikianlah perincian Syaikh al-Albani, lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palestina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendengki, sesungguhnya kami berlindung kepada Alloh dari kejahilan dan kedholiman kalian! 9. Hendaknya seorang muslim meyakini bahwa menjaga agama dan aqidah lebih utama daripada Menjaga jiwa dan tanah. Terakhir, Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam majalah al-Furqon edisi 115, hal 19. Bahwa ”Syaikh al-Albani telah bersiap-siap utk melawan Yahudi, hampir saja beliau sampai ke Palestina, tetapi ada larangan pemerintah utk para Mujahidin.” [lihat majalah al-Furqon edisi 11 Th VII, Jumada Tsani 1429 H hal.18-19, tulisan asli ada 10 point, sengaja tdk saya tulis krn tdk masuk dlm pembahasan] demo menentang Israel tidak boleh, menyebabkan kerusakan di muka bumi (sementara mereka tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan kebrutalan Yahudi Israel saat membunuhi anak-anak Muslim Palestina: dan lain-lain. Aneh, aneh, aneh… Ini dia manhaj –metode- sang penulis dalam beragama ini… Ia menginginkan untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dengan jalan demonstrasi, dia menyangka bahwa demonstrasi itu adalah sesuatu yang halal untuk dilakukan meskipun dia berhadapan dengan penguasa muslim sekalipun. Dan sang penulis ini menyangka bahwa Yahudi akan mereda kebiadabannya dengan jalan demonstrasi. Maka tak perlu saya perpanjang masalah ini. Cukuplah sebagaimana penjelasan hadits di atas. Bahwa rasa takut di hati org2 kafir itu telah dilenyapkan Alloh, sehingga kaum muslimin menjadi bulan-bulanan. Apalagi ketika mereka tahu, bahwa kaum muslimin tidak berjalan di atas ajaran agamanya. Sesungguhnya rasa takut mereka kepada kaum muslimin akan terjadi ketika ummat Islam ini kembali kepada jalan agamanya. Rasa takut itu akan Alloh tanamkan di hati org2 kafir, dengan kembalinya umat Islam kepada ajarannya. Dengan kata lain, semakin ummat Islam jauh dari agamanya, maka orang2 kafir itu pun semakin meremehkan umat Islam, dan mereka akan semakin menindas umat Islam. Maka yang terjadi adalah kerusakan dimuka bumi!!! .. Camkanlah ini….! Apakah engkau masih mengganggap demonstrasi itu jalan Islam??? Jika engkau menjawab ‘Iya’ maka benarlah, bahwa demonstrasi itu menyebabkan kerusakan dimuka bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat dari keyakinanmu bahwa demonstrasi adalah halal. Engkau mungkin akan berdalil dgn beberapa kisah sahabat yang engkau menyangka itu adalah demonstrasi. Maka dimanakah cara beragamamu, jika penafsiran hadits2 itu engkau bawa utk melegalkan aksimu. Engkau akan berdalil dengan kisah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha yang keluar saat terjadinya perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, atau engkau akan berdalil dengan kisah tidak shahih ttg masuk Islamnya Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang berkeliling di ka’bah??? Ataukah engkau akan berdalil dengan kisah ketika terjadinya pembunuhan terhadap Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu oleh para demonstran yang dilakukan org2 Khawarij saat itu??? Ataukah engkau akan berdalil dengan hadits berikut di bawah ini, yang saya nukil dari penjelasan Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja saat menulis “Koreksi singkat terhadap dua Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? & Mereka Adalah Teroris!” “Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang jahat.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Hakim & Al Albany) Hadits ini menjelaskan bahwa jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa diktator yang kejam. Hal ini dikarenakan kemungkinan untuk selamat dari pembunuhan amat kecil, beda halnya dengan berjihad melawan orang-orang kafir, kemungkinan untuk selamat amat besar. Ditambah lagi manfaat dari perbuatannya ini amat besar, yaitu bila penguasa tersebut mau menerima nasehatnya, maka kemanfaatannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat, dan bukan hanya oleh orang tertentu. Dan pada hadits ini, tidak ada sama sekali dalil yang menyebutkan bahwa penyampaian nasehat ini disampaikan di hadapan khalayak ramai, atau dari atas podium, atau yang serupa. Bahkan terdapat satu isyarat bahwa nasehat ini disampaikan secara langsung dihadapannya, oleh karena itu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “di sisi/di hadapan seorang penguasa yang jahat“. Dengan demikian hadits ini amat menyelisihi perbuatan banyak orang yang sok berpegangan dengan hadits ini, kemudian berorasi di mana-mana dengan menyebutkan berbagai kritikannya kepada pemerintah, atau dengan berdemonstrasi, atau yang serupa. Sebab ia menyampaikan nasehat bukan di hadapan penguasa, akan tetapi di hadapan masyarakat, sehingga yang terjadi hanyalah kekacauan, keresahan dan jatuhnya kewibawaan pemerintah di hadapan masyarakat. Dan bila kewibawaan pemerintah telah jatuh, maka para penjahat, pencuri, perampok, dan orang jahat lainnya akan semakin berani melancarkan kejahatannya. Hal ini sudah sama-sama kita rasakan pada masa-masa yang dijuluki oleh banyak orang dengan masa reformasi, padahal yang terjadi sebenarnya ialah masa-masa repot nasi. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari masa-masa kelam nan suram yang pernah kita lalui bersama?! Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya adalah orang yang semangat dalam menjalankan metode-metode yang diajarkan Nabi yang tidak berbicara kecuali dengan wahyu dari Allah. Maka sungguh sangat menyedihkan jika kita mendapati seorang yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah” kemudian malah mencari metode-metode lain yang tidak diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih-lebih lagi jika ternyata metode yang mereka gunakan adalah metode hasil import dari orang-orang kafir, Allahul Musta’aan…!!! Oleh karena itu sikap menghujat pemerintah baik di mimbar-mimbar atau di ceramah-ceramah atau melalui demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan di jalan-jalan sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan metode yang digariskan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits di atas. Diantara cara yang tidak baik dan tidak bijak dalam menjalankan kewajiban menasehati penguasa atau orang lain ialah menyampaikan teguran atau kritikan di hadapan khalayak ramai. Imam As Syafi’i rahimahullah berkata: “Barang siapa menegur saudaranya dengan cara tersembunyi, maka ia telah menasehati dan menghiasinya, dan barang siapa yang menegur saudaranya dengan cara terus terang di hadapan khalayak, maka ia telah membeberkan aibnya dan menjelek-jelekkannya.” Pada suatu saat dinyatakan kepada Mis’ar bin Qidaam rahimahullah: “Sukakah engkau kepada orang yang memberitahukanmu tentang aib/kekuranganmu? Beliau menjawab: “Bila ia menyampaikan nasehat kepadaku di tempat sunyi, maka saya akan menyukainya, dan bila ia menegurku di hadapan khalayak ramai, niscaya aku tidak akan menyukainya.” Al Ghazali, mengomentari perkataan Mis’ar bin Qidaam dengan berkata: “Sungguh ia telah benar, karena sesungguhnya nasehat yang disampaikan di hadapan khalayak ramai adalah penghinaan.” (Ihya’ ‘Ulumuddin 2/182). Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara. Dan diantara metode yang tidak islami ialah menyebarkan kejelekan atau kesalahan atau perbuatan dosa orang lain disaat ia tidak ada dihadapannya. Perbuatan ini dinyatakan sebagai perbuatan ghibah (menggunjing) dan ghibah diharamkan dalam syari’at, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12) Bila hal ini diharamkan untuk kita lakukan kepada sesama rakyat, maka diharamkan juga untuk kita lakukan terhadap para penguasa. Dan syari’at ingkar mungkar kepada penguasa yang digariskan pada ayat di atas lebih ditegaskan lagi oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada sabdanya berikut ini: “Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan-pen), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Riwayat Ahmad, At-Thobrooni, dan Ibnu Abi ‘Ashim, dan Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah) Pada hadits ini sangatlah jelas bagaimana metode yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menasehati penguasa. Oleh karena itu hadits ini dibawakan oleh Al-Hafizh Abu Bakr ‘Amr bin Abi ‘Ashim Ad-Dhohhak dalam kitabnya yang masyhur “As-Sunnah” dalam bab Bagaimana Cara Rakyat Menasehati Para Penguasa ? Dan kisah berikut semakin menguatkan makna yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas: Abu Wa’il mengisahkan: “Dikatakan kepada Usaamah (bin Zaid bin Haritsah), “Kalau seandainya engkau mendatangi si fulan (pada riwayat Muslim, dijelaskan siapa si fulan, yaitu: Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu) lalu engkau menasehatinya?” Usamah berkata, “Sesungguhnya kalian benar-benar beranggapan bahwasanya aku tidak menegurnya kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menasehatinya secara diam-diam (pada riwayat Muslim: “antara aku dan dia (empat mata) tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih) Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Usamah: “tanpa aku membuka sebuah pintu“, dengan berkata: “aku tidaklah menasehatinya kecuali dengan memperhatikan kemaslahatan, dengan nasehat yang tidak mengobarkan api fitnah.” (Fathul Bari 13/51). Beliau juga menjelaskan perkataan Usamah “tanpa aku membuka sebuah pintu” dengan berkata, “Yaitu pintu mengingkari para penguasa dengan cara terang-terangan (di hadapan khalayak), karena aku mengawatirkan persatuan kaum muslimin akan tercerai-berai.” (Fathul Bari 13/52). Al-‘Aini –mengomentari perkataan Usamah-, “Sesungguhnya aku telah menegurnya secara diam-diam“: Maksudnya menyampaikan nasehat di saat sendirian, tanpa aku membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya: aku (Usamah) menegur Utsman guna mencari kemaslahatan bukan untuk memprovokasi timbulnya fitnah karena pada sikap mengingkari para penguasa dengan terang-terangan (secara terbuka di hadapan rakyat -pen) terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Pada sikap tersebut terdapat pencemaran nama baik mereka yang mengantarkan kepada terpecahnya tekad kaum muslimin dan tercerai berainya persatuan mereka.” (Umdatul Qari 15/166). Syaikh Utsaimin pernah ditanya, “Kenapa anda tidak menegur pemerintah dan menjelaskan hal itu kepada masyarakat?” Maka beliau menjawab, “…Akan tetapi nasehat telah disampaikan… sungguh demi Allah!!! Aku beritahukan kepada engkau (wahai fulan), dan aku beritahukan kepada saudara-saudaraku bahwa sikap: “Mempublikasikan sikap anda yang telah menyampaikan nasehat kepada pemerintah mengandung dua mafsadat/marabahaya: Mafsadat pertama: Hendaknya setiap orang senantiasa mengkhawatirkan dirinya akan tertimpa riya’, sehingga gugurlah amalannya. Mafsadat kedua: Bila pemerintah tidak menerima nasehat tersebut, maka teguran ini menjadi hujjah (alasan) bagi masyarakat awam untuk (menyudutkan) pemerintah. Akhirnya mereka akan bergejolak (terprovokasi) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” (Dari kaset as’ilah haula lajnah al-huquq as-syar’iyah. Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Ramadani dalam Madarik an-Nazhor hal 211). Diantara metode berdakwah kepada para penguasa ialah dengan cara mendoakannya agar mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, bukan malah mendoakan kejelekan untuknya. Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya seorang penguasa berarti baiknya negeri dan rakyat. (Siyar A’alam An Nubala’ oleh Az Dzahaby 8/434). Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya bergembira tatkala mengetahui bahwa metode dalam menasehati pemerintah ternyata telah dijelaskan dengan gamblang oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Baginya tidak ada bedanya, apakah nasehat tersebut akhirnya diterima oleh sang penguasa atau tidak. Sampai di sini …. belumkah jelas bagimu wahai penuduh??? Firqoh sesat Salafi sebelum ini juga tidak kalah gencarnya dalam menyesatkan pemikiran Ummat Islam. Perhatikanlah contoh-contoh pemikiran di bawah ini: [o] Mereka sangat membenci demokrasi. Setiap menjelang Pemilu, majalah-majalah seperti As Sunnah, Al Furqon, Adz Dzakhirah, dan lain-lain sering mengatakan bahwa demokrasi itu sistem kufur, dengan segala alasannya. Tetapi nanti, kalau sudah terpilih Presiden dan jajaran di bawahnya, seketika semua itu diklaim sebagai Ulil Amri, yang wajib ditaati, setelah Allah dan Rasul-Nya. Saya kembali ingin bertanya, apakah engkau berlangganan ketiga majalah di atas??? Jika masih berlangganan hingga saat ini, maka saya memohon kepada Alloh Ta’ala utk menghilangkan penyakit yang menimpa hatimu. Sehingga engkau bisa menelaah setiap pembahasan di dalamnya dengan baik. Dan saya memohon kepada Alloh ta’ala utk meneguhkan hatimu kepada jalan petunjuk yang engkau akan berdakwah dengannya. Saudaraku… kiranya saya tak usah membahas masalah demokrasi panjang lebar. Cukuplah bahwa hukum ini milik Alloh, maka Demi Alloh… produk hasil olahan manusia utk mengatur kemaslhatan dunia ini tidak akan pernah mencapai tujuannya. Demokrasi bukan dari ajaran Islam, maka ia tidak akan membawa manfaat kepada umat Islam. Adapun pemimpin yang telah tercapai melalui sistem demokrasi, maka kewajiban umat Islam utk taat kepadanya. Jangankan demikian, seandainya pemimpin tersebut memperoleh kekuasaannya dengan cara pedang utk menggulingkan penguasa sebelumnya pun. Kewajiban umat Islam adalah tetap mentaatinya dalam perkara yang baik. Dan ia tidak berkewajiban dalam perkara yang maksiat. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma ketika berbai’at kepada Abdul Malik bin Marwan. Perhatikan riwayat berikut ini: Abdulllah bin Dinar meriwayatkan bahwa ketika manusia berkumpul kepada Abdul Malik, dia melihat Ibnu Umar dan ia (Ibnu Umar) berkata: ”Sesungguhnya aku mengikrarkan bahwa aku mendengar dan taat kepada Abdullah yaitu Abdul malik Amirul Mukminin di atas Sunnatullah dan Sunnah rasul-Nya semampuku, dan sesungguhnya anak-anakku juga telah mengikrarkan seperti aku.” [Diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya juz 13 hal 193 penerbit Maktabatur Riyadh al-haditsiyyah] Berkata asy-Syathibi: ”Telah dikatakan kepada Yahya bin Yahya, ’Apakah bai’at (sumpah setia kepada penguasa) adalah makruhah (dibenci)?” Beliau menjawab, ”Tidak.” Beliau ditanya lagi, ”Walaupun mereka adalah penguasa jahat?” beliau menjawab, ”Sungguh telah berbai’at Ibnu Umar kepada Abdul Malik bin Marwan padahal Abdul Malik mengambil kekuasaan dengan pedang. Disampaikan kepadaku hal ini oleh Malik dari Ibnu Umar bahwa dia menulis surat kepada Marwan dan memerintahkan org utk mendengar dan taat di atas Kitab dan Sunnah Nabi-Nya.” Yahya bin Yahya juga berkata: ”Baiat adalah lebih baik daripada perpecahan.” (al-I’thisham juz 2, hal 626, penerbit Daar Ibnu Affan, Al Khabar, Cet kedua.) [Lihat dibuku ”Meredam Amarah terhadap Pemerintah, menyikapi kejahatan penguasa menurut al-Qur’an dan Sunnah” penerbit Pustaka Sumayyah 2006 hal 62-63] Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menghadapi pemerintah muslim adalah patuh dan taat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [QS.an-Nisa : 59] Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Artinya : “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu : ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan ke-pada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan me-lihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perka-ra yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’” [HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, dan Syaikh al-Albany menshahihkan juga hadits ini] Perhatikanlah hadits mulia ini. Sekalipun seorang budak yang menjadi pemimpin. Maka ketaatan itu tidak boleh dicabut. Tahukah engkau wahai penulis??? Jika salah satu syarat menjadi pemimpin itu adalah seorang yang merdeka. Lantas bagaimana seorang budak bisa menjadi penguasa??? Dengan cara apa dia menjadi penguasa.??? Tidakkah terpikir olehmu??? Engkau kemanakan petunjuk yang mulia dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini??? Apakah yang dibicarakan dalam halaqoh2 yang engkau hadiri??? Tidakkah perkara ini dibahas, dimana banyak kaum muslimin tergelincir di dalamnya. Apakah hanya sibuk demonstrasi saja sehingga belum sempat membuka hadits2 dalam masalah ketaatan kepada penguasa muslim yang demikian banyaknya??? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar umat Islam ini menggigitnya dengan gigi geraham. Bukan dengan gigi seri atau taringnya. Karena gigi geraham ini adalah gigi yang paling kuat. Maka maknanya, pegang kuat2 petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Padahal masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menganjurkan kita supaya patuh dan taat. Sekalipun penguasa tersebut korupsi dan mendzalimi umat. Sekalipun ia berjalan bukan di atas jalan petunjuk dan dalam keadaan banyak perselisihan. Maka kewajiban umat Islam adalah mentaati penguasa, selama penguasa itu muslim dan tidak tampak kekafiran yang nyata yang bisa dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Alloh. Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: “Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (di atas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaqun ‘alaih] Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja” [Muttafaqun ‘alaih Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain. “Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq”[HR Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir] [o] Mereka juga anti dengan pakaian yang kita pakai selama ini. Mereka sebut pakaian biasa seperti kemeja, celana, kaos, dan sebagainya itu sebagai pakaian Nashrani, pakaian kafir Barat. Pakaian seperti ini tidak boleh dipakai ketika Shalat. Tetapi mereka tidak risau ketika Saudi memanggil pasukan Amerika untuk mengamankan negerinya. Bukan hanya mengamankan, tetapi dipersilakan membuat pangkalan-pangkalan militer di kota-kota Saudi. Menurut Sabili, ada sekitar 5 atau 6 pangkalan militer Amerika di seluruh negeri Saudi. Bagaimana negara bisa berdaulat kalau seperti itu? Saya rasanya mau muntah kalau ingat alasan-alasan orang itu dalam masalah ini. Untuk menjawab masalah ini, berikut saya nukilkan tulisan Ustadz Abu Ahmad As-Salafi. Ketika beliau membantah buku Kawasyif Jaliyyah fi Kufri Daulah Su’udiyyah yang ditulis oleh Abu Muhammad al-Maqdisi dan dalam edisi Indonesia ”Saudi di Mata Seorang al-Qaidah” Karena banyaknya tuduhan yang diarahkan kepada Saudi adalah diantaranya merujuk kepada tulisan di dalam buku ini. MUQADDIMAH Daulah Su’udiyyah atau negeri Saudi Arabia adalah salah satu daulah di jazirah Arabiyyah yang dikenal sebagai pembela dakwah Salafiyyah yang gigih sejak berdirinya hingga saat ini. Usaha yang agung dari dauluah Su’udiyyah di dalam mendakwahkan Islam yang haq menyejukkan mata dan membesarkan hati setiap muslim yang cinta kepada Islam yang haq, tetapi sebaliknya membuat geram dan panas orang-orang yang hatinya diselubungi oleh kebatilan dan kebid’ahan! Di antara orang-orang yang sangat dengki kepada perjuangan daulah Su’udiyyah adalah seseorang yang menyebut dirinya Abu Muhammad Al-Maqdisi di dalam bukunya yang berjudul Kawasyif Jaliyyah fi Kufri Daulah Su’udiyyah – Edisi Indonesia : Saudi di Mata Seorang al-Qaidah. Dengan izin Allah telah sampai kepada kami kitab bantahan terhadap kitab Kawasyif di atas yang berjudul Tabdid Kawasyifil Anid fi Takfirihi Lidaulati Tauhid oleh Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris dengan kata pengantar Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin Al-Ubaikan dan Syaikh Abdullah Al-Ubailan. Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq maka dengan permohonan pertolongan kepada Allah akan kami paparkan kesalahan-kesalahan kitab Kawasyif Jaliyyah di atas dengan mengacu kepada kitab Tabdid Kawasyif dengan harapan bisa memberikan rambu-rambu syar’i terhadap para pembaca kitab ini secara khusus dan kaum muslimin secara umum. PENULIS DAN PENERBIT Buku ini ditulis oleh Abu Muhammad Al-Maqdisi, nama lengkapnya adalah Isham [1] bin Muhammad bin Thohir Al-Burqowi, Lahir pada tahun 1378H/1959M di desa Burqoh daerah Nablus Palestina. Dia tumbuh di Kuwait, dia berguru pada awalnya kepada Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin [2] tokoh utama kelompok Sururiyyah [3] hingga dia dikeluarkan dari kelompok Muhammad Surur karena fatwanya yang menyelisihi kelompok tersebut, kemudian dia berguru kepada para pemuda sisa-sisa kelompok Juhaiman yang tinggal di Kuwait, dan mengarang beberapa kitab seperti Kawasyif Jaliyah, Millata Ibrahim, Murji’atu Ashr, dan yang lainnya, kemudian dia dikeluarkan dari kelompok tersebut karena ketergesaannya dalam takfir, maka dia menyerang balik kelompok tersebut dengan menulis sebuah risalah kecil yang mensifati mereka sebagai “thaghut-thaghut kecil’. Sesudah itu dia bergabung dengan beberapa perorangan yang ghuluw dalam takfir yang mereka tidak sholat di masjid-masjid kaum muslimin dan sholat Jum’at di padang pasir! [Lihat Tabdid Kawasyif hal. 24-45] Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abu Sulaiman dan diterbitkan oleh Penerbit Jazera Solo, cetakan pertama September 2005 MELECEHKAN DAN MENGKAFIRKAN PARA ULAMA Buku Kawasyif Jaliyah ini penuh dengan pelecehan dan takfir terhadap para ulama Sunnah, penulis berkata dalam hal. 303 dari bukunya ini :”Perhatikanlah bagaimana para syaikh ada di setiap tempat. Inilah Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, pegawai negara, dan mereka yang membela-bela dan melindungi negara ini . Kemudin apa yang kalian inginkan, sesungguhnya itu adalah Islam dan tauhid (!)… mereka telah menyesatkan umat ini, mereka telah mentalbis dihadapan mereka agamanya dan mereka memfitnahnya atas nama ilmu, tauhid dan Islam (?!)”. Di dalam hal. 312 dari bukunya ini dia mengatakan bahwa para ulama seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin sesat dan menyesatkan (!) Tidak hanya berhenti disitu bahkan dia kafirkan para ulama Sunnah dan dia katakan mereka telah keluar dari Islam secara keseluruhan di dalam kitabnya uang berjudul Zalla Himarul Ilmi Fi Thin sebagaimana dalam situs sesatnya Minbaru Tauhid wal Jihad. Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris berkata :”Jika ini sikapnya terhadap para ulama sunnah di zamannya maka dia adalah mubtadi yang sesat tidak ada kemuliaan sama sekali baginya” [Tabdid Kawasyif hal. 14] Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuni berkata :”Tanda yang palling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah. [Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 14] MEMBELA AHLI BID’AH Penulis membela mati-matian kelompok Juhaiman yang mengadakan pemberontakan di Masjidil Haram tahun 1400H [4], dia berkata dalam hal. 265 :”Tidak diragukan lagi bahwa bukanlah tergolong bughat. Baik secara bahasa atau syar’i atau istilah, mereka tidak termasuk bughat” Penulis juga membela Abdurrohim Ath-Thohan dan Aidh Al-Qorni di dalam footnote hal. 291 dari bukunya. KEDUSTAAN-KEDUSTAANNYA [1]. Di dalam hal. 116 dan 158 Al-Maqdisi menuduh Raja Abdul Aziz sebagai boneka dan antek Inggris, hal ini adalah kedustaan yang nyata, karena ini adalah klaim tanpa bukti dan dalil dan didustakan juga oleh kitab-kitab tarikh (sejarah). [2]. Al-Maqdisi berkata dalam footnote hal.161 dari bukunya ini : “Buku-buku pelajaran SD. Sebagian kurikulum telah selesai disatukan dan mereka sekarang sedang bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan sisanya dengan bertahap sejalan dengan siasat kamuflasenya. Dan orang yang mau merujuk kepada kurikulum-kurikulum yang telah disatukan pasti dia mendapatkan sekulerisme dan zionisme tampak di segala sisinya” Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris berkata :”Aku telah mempelajari kebanyakan matapelajaran-matapelajaran syar’i di seluruh jenjang pendidikan SD, SMP dan SMU tatkala aku menjadi pelajar, di dalamnya terdapat pelajaran Al-Qur’an secara hafalan dan tilawah, pelajaran Tauhid sejak awal tahun pelajaran hingga kelas 3 SMU dengan spesialisasinya, tidaklah keluar murid melainkan telah mengenal tiga macam tauhid dan hal-hal yang menyelisihinya, demikian juga terdapat pelajaran fiqih dan hadits, di dalamnya juga terdapat peringatan dari pemikiran-pemikiran yang merusak seperti sekulerisme dan zionisme. Aku memohon kepada Allah agar melanggengkan nikmat ini dan menambahnya, dan agar membalas pemerintah kami dan para ulama kami dengan kebaikan” [Tabdid Kawasyif hal. 191-192] SYUBHAT-SYUBHAT TAKFIR AL-MAQDISI DAN JAWABAN-JAWABANNYA [1]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena bergabung dengan PBB sebagaimana dia paparkan secara panjang lebar di dalam hal. 85-115. Jawaban: Pertama : Saudi Arabia menyetujui aturan-aturan PBB yang sesuai dengan syari’at Islam dan menolak aturan-aturan PBB yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Saudi Arabia menolak persamaan gender laki-laki dan wanita, menolak point ke-16 dari piagam HAM tentang bolehnya perkawinan antar agama, menolak point ke-10 piagam HAM yang memberikan kebebasan berpindah agama [Lihat Hasyiyah Kitabatil Mamlakah Arabiyyah Su’udiyyah wal Munadhdhamat Duwaliyyah hal. 181. Mauqiful Mamlakah Arabiyyah Su’udiyyah Minal Qadhaya Aalamiyyah Fi Haiatil Umam Muttahidah hal. 98 dengan perantaraan Tabdid Kawasyif hal. 95-96] Kedua : Saudi bergabung dengan PBB untuk suatu kemaslahatan yaitu menjaga dirinya dari rongrongan orang-orang kafir, sebagaimana Rasulullah mengadakan perjanjian Hudaibiyyah dengan orang-orang kafir Quraisy untuk kemaslahatan kaum muslimin. [2] Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena membuat peraturan-peraturan tentang percetakan, penerbitan, pengawasan perbankan, kepabeanan, dan yang lainnya sebagaimana dia paparkan di dalam hal. 28-32 dari bukunya ini. Jawabannya: Semua peraturan-peraturan ini tunduk kepada undang-undang dasar Saudi, yaitu berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Kalau ada kekeliruan maka itu adalah kekurangan dan kesalahan pembuatnya dan pelaksananya yang bisa diperbaiki dan diluruskan. [3]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena tuduhan wala (loyal) kepada Amerika, karena Saudi telah melakukan kerjasama perdagangan dan militer dengan Amerika serta mendatangkan tentara-tentara Amerika ke Saudi sebagaimana dia paparkan dalam hal. 115-138 dari bukunya ini. Jawabannya: Tentang kerjasama perdagangan dengan orang-orang kafir tidak ada satupun dalil syar’i yang melarang bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berjual beli dengan orang-orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal baju besi beliau masih tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan keluarganya [Shahih Bukhari 3/1068] Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : “Hadits ini menunjukkan bolehnya mu’amalah dengan orang kafir pada sesuatu yang belum terbukti keharamannya” [Fathul Bari 5/141] Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berkata ; “Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya mu’amalah dan jual beli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah (loyalitas) kepada mereka” [Taudhihul Ahkam 4/75 Demikian juga kerjasama militer dengan orang-orang kafir bukankah bentuk wala’ kepada mereka bahkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau mengupah seorang kafir dari bani Dil sebagai penunjuk jalan, dan mengantar keduanya sampai ke Madinah. [Shahih Bukhari 2/790] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bekerjasama dengan kabilah Khuza’ah yang musyrik dalam Fathu Makkah. [Lihat Musnad Ahmad 1/179] Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :”Sesungguhnya meminta bantuan orang musyrik yang bisa dipercaya dalam jihad adalah dibolehkan jika diperlukan, karena mata-mata beliau di Al-Khuza’i waktu itu masih kafir” [Zadul Ma’ad 3/301] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah meminta bantuan Shofwan bin Umayyah pada waktu perang Hunaian dalam keadaan Shofwan waktu itu masih kafir. [Diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Irwaul Ghalil 5/344, lihat Shaddu Udwanil Mulhidin hal. 49] Tentang masuknya tentara Amerika ke Saudi pada waktu perang Teluk kemarin maka dikatakan oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad : “Para ulama Saudi Arabia ketika membolehkan datangnya kekuatan asing ke Saudi Arabia karena darurat, hal ini seperti kasus seorang muslim yang meminta pertolongan kepada non muslim untuk membebaskan dirinya dari para perampok yang hendak masuk kerumahnya untuk melakukan tindakan kriminal di rumahnya dan pada keluarganya, apakah kita katakan kepada orang yang terancam dengan para perampok ini : Kamu tidak boleh meminta pertolongan kepada orang-orang kafir untuk menyelamatkan diri dari perampokan?!” [Madariku Nazhar fi Siyasah hal. 12] Sebagai tambahan keterangan bahwa pasukan Amerika yang datang ke Saudi pada waktu perang Teluk tahun 1411H telah keluar dari Saudi pada tahun 1424H yaitu setelah jatuhnya rezim Saddam Husein di Iraq. Hal ini menunjukkan bahwa maksud pemerintah Saudi dalam mendatangkan pasukan Amerika ini adalah untuk suatu keperluan dan jika sudah tidak diperlukan maka ditarik lagi ke Amerika. [4]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi karena Saudi mengizinkan bank-bank ribawi beroperasi di Saudi dan melindungi bank-bank yang melakukan praktek-praktek riba tersebut sebagaimana dia paparkan di dalam hal.213-222 dari bukunya ini. Jawabannya: Tidak diragukan lagi bahwa riba dalah haram dan termasuk dosa besar, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Allah, orang yang kembali (mengammbil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka ; mereka kekal di dalamnya” [Al-Baqarah : 275] Akan tetapi sekedar melakukan riba tidaklah menjadikan pelakunya kafir keluar dari Islam dengan kesepakatan ulama ahli Sunnah, tidak seperti pendapat Al-Maqdisi yang mengatakan bahwa memberi izin praktek ribawi adalah kekafiran terhadap Allah. Demikian juga keberadaan riba di suatu negeri tidaklah menjadikan dalih tentang bolehnya memberontak kepada waliyatul amr, telah datang suatu pertanyaan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang berbunyi : “Apakah adanya sebagian kemaksiatan dari dosa besar di negeri ini seperti bank-bank ribawi menjadikan bolehnya memberontak kepada waliyyul amr dan melepas ketaatan dari mereka?” Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata : “Adanya kemaksiatan-kemaksiatan tidaklah membolehkan pemberontakan, adanya kemaksiatan dari rakyat dan pemerintah tidaklah membolehkan pemberontakan kepada waliyatul amr, akan tetapi wajib memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Wajib atas waliyyul amr agar berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menghilangkan kemungkaran, hendaknya bertakwa kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan kemungkaran dengan cara-cara yang syar’i, dan wajib atas para ulama agar memberikan nasehat, dan wajib atas setiap warga negara agar bertakwa kepada Allah, istiqomah, menjauhi kemungkaran, dan saling berwasiat dalam meninggalkan kemungkaran, dan wasiat adalah dengan memerintahkan kepada yang ma’ruf sebagaimana firman Allah Jalla Jalaa Luhu: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang mungkar” [At-Taubah : 71] Adapun mencabut ketaatan atau memberontak kepada waliyyul amr dengan sebab-sebab kemaksiatan, riba dan yang lainnya, maka ini termasuk agama Khowarij dari perbuatan orang-orang Khowarij..”[Dari Kaset Ahdaf Hamalat I’lamiyyah dengan perantara Tabdid Kawasyif hal. 159] [5]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi karena –katanya Saudi memerangi dan memenjarakan para pemuda yang pulang dari jihad di Afghanistan dengan sebab mereka mengatakan “Rabb kamu adalah Allah”, dan karena mereka berjihad sebagaimana dia paparkan dalam halaman 282 dari bukunya. Jawabannya: Sesungguhnya mayoritas para pemuda Saudi yang pergi berjihad ke Afghanistan dan pulang ke Saudi tidaklah di penjara dan tidak diapa-apakan. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata ; “Sesungguhnya yang dipenjara adalah yang berusaha merusak dan melakukan peledakan, atau mendoktrin para pemuda dengan pemikiran-pemikiran yang menyeleweng” [Ta’liq atas Tabdid Kawsyif hal. 160] Demikian juga para ulama Sunnah seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Utsaimin selalu menyeru dan menghasung jihad di Afghanistan pada periode pertama (ketika masih bersih dari hizbiyyah), seandainya benar pemerintah Saudi memenjarakan para pemuda dengan sebab mereka berjihad tentu yang paling pertama masuk penjara adalah Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin, dan murid-murid keduanya. Pemerintah Saudi begitu gigih mendukung jihad Afghanistan periode pertama sebagaimana dinyatakan oleh Amir Sulthan bin Abdul Aziz di hadapan para duta negara anggota PBB tanggal 17/1/1406H sebagaimana dalam Majalah Al-Faishol edisi 106 Robi’ul Akhir 1406H hal. 20 [Dengan perantara Tabdid Kawasyif hal. 161-162] KONTRADIKSINYA Al-Maqdisi mengkafirkan pemerintah Saudi karena bergabung dengan PBB (lihat hal. 85-115 dari bukunya ini) tetapi dia tidak mengkafirkan pemerintah Thaliban yang ingin bergabung dengan PBB, dia berkata di dalam tulisannya yang berjudul Hijrah Li Afghanistan dalam situsnya di internet. [Lihat Tabdid Kawasyif hal. 91] PENUTUP Inilah sedikit yang bisa kami paparkan dari kesalahan-kesalahan kitab Kawasyif Jaliyyah oleh Al-Maqdisi, untuk mengetahui studi kritis yang lebih detail tentang kitab ini bisa merujuk kepada kitab Tabdid Kawasyifil Anid fi Takfirihi Lidaulati Tauhid oleh Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris setebal 269 halaman. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang yang mendengarkan nasehat dan mengambil yang baik darinya. Amin [Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 1, Th. Ke-7 1428/2008. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim] _________ FooteNote [1]. Dalam edisi terjemah tertulis Ashim ini adalah kekeliruan penerjemah [2]. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “Orang ini –Muhammad Surur- hendak menyesatkan para pemuda Islam dengan perkataannya ini, memalingkan mereka dari kitab-kitab aqidah yang shahihah dan dari kitab-kitab salaf, dan dia arahkan para pemuda Islam kepada pemikiran-pemikiran baru, dan kitab-kitab baru yang mengandung syubhat-syubhat” [Ajwibah Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidag hal. 55-56] [3]. Lihat Fitnah Sururiyah di majalah Al-Furqon edisi tahun 4 rubrik manhaj [4]. Pemberontak kelompok Juhaiman ini mengakibatkan korban yang banyak sekali dari jama’ah haji. [o] Orang-orang yang masuk Parlemen dikecam, katanya “duduk-duduk dengan orang munafik, kafir, ahli bid’ah”. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika Parlemen menetapkan UU yang merugikan kaum Muslimin, seperti UU Migas, UU Kelistrikan, UU SDA, UU tentang air, UU politik, dll. Mereka juga tidak bisa apa-apa ketika kaum Muslimin susah-payah selama 10 tahunan menggolkan UU Pornografi. [o] Menurut mereka, Pemerintah itu sama dengan Ulil Amri, selama mereka Muslim. Ketika Hamas menjadi pemegang kekuasaan di Palestina, lain lagi alasan mereka. Mereka giliran mengkritik Hamas dan warga Muslim Palestina. Kata mereka, jilbab wanitanya kecil-kecil, celana masih isbal (di bawah mata kaki), laki-laki mencukur jenggot, ada perpecahan di tubuh bangsa Palestina, dll. Kok tidak sekalian saja mereka salahkah cara wudhu, cara shalat, pakai jins saat shalat, motif jilbab wanita-wanita Palestina, mereka suka fotografi, bernyanyi nasyid, dll. Sementara mereka tidak memiliki sumbangan apa-apa bagi Ummat, tetapi kesalahan-kesalahan kecil terus dicela-cela. Mengerikan! Aneh sekali ungkapan penulis ini… sepertinya ia memang belum pernah belajar mengenai tafsir Ulil Amri itu siapa. Bukankah ini menunjukkan kebodohannya yang sangat. Ia berbicara masalah2 politik, tapi ia tidak memahami makna Ulil Amri, sehingga ia beranggapan bahwa pemerintah muslim itu bukan Ulil Amri. Atau mungkin ia beranggapan bahwa pemerintahan yang tidak menerepkan hukum Islam itu tidak disebut Ulil Amri. Saya mohon kepada penulis untuk menengok kitab2 tulisan para Ulama dalam masalah ini. Seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat an-Nisa ayat 58: ”Tampaknya- wallahu’a’lam- ayat ini umum mencakup seluruh ulil amri apakah dari kalangan para penguasa ataupun para ulama.” [Tafsir Qur’anil Adzim juz 1, hal 530, penerbit Darul Ma’rifah, Beirut, Cet . Pertama] Berkata Ibnu Taimiyyah: ”Ulil amri ada dua golongan: Para ulama dan para penguasa.” (Majmu Fatwa juz 28, hal 170, Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir) Kemudian persoalan2 yang nyata-nyata kemaksiatan semisal perpecahan, meninggalkan sholat, mencukur jenggot dan seterusnya yang salafiyin berusaha mendakwahkannya engkau anggap sebagai sebuah kesalahan, padahal nyata bertentangan dengan petunjuk Rasulullah, Sedangkan semua itu akan membawa kepada semakin jauhnya umat Islam dari pertolongan Alloh. Apakah penulis ini menyangka… bahwa dengan semakin menjauhi petunjuk maka pertolongan Alloh akan turun??? Nadzubillah… Sesungguhnya mengembalikan umat Islam kepada ajarannya adalah sebuah langkah tepat sesuai dengan bimbingan Rasulullah. Maka kejayaan umat Islam hanya bisa diraih dengan kembalinya umat kepada ajarannya yang lurus. Kembali kepada Islam sebagaimana Islam yang dipahami pendahulu umat ini. Bukan kembali kepada ajaran lainnya. Karena, jika umat ini dibawa kepada ajaran2 yang bukan bersumber dari mereka –sahabat dan generasi terbaik yg mendapat jaminan dari Rasulullah- maka selamanya pertolongan Alloh tidak akan didapat. [o] Mereka sangat mengecam gerakan-gerakan Islam yang mengkritik Pemerintah, demo kepada pemerintah, atau paling kasarnya memberontak kepada Pemerintah yang berkuasa. Katanya bughat, katanya Khawarij, seperti “anjing-anjing neraka”. Tetapi saat Saudi berdiri dengan cara memberontak kepada Daulah Islamiyyah Turki Utsmani, mereka lain lagi alasannya. Paling standarnya, mereka akan mengatakan,
  24. abu Ammar berkata:

    [o] Mereka sangat mengecam gerakan-gerakan Islam yang mengkritik Pemerintah, demo kepada pemerintah, atau paling kasarnya memberontak kepada Pemerintah yang berkuasa. Katanya bughat, katanya Khawarij, seperti “anjing-anjing neraka”. Tetapi saat Saudi berdiri dengan cara memberontak kepada Daulah Islamiyyah Turki Utsmani, mereka lain lagi alasannya. Paling standarnya, mereka akan mengatakan, “Menurut catatan administrasi Turki Utsmani, wilayah Najd bukan masuk wilayah Turki Utsmani.” Saya katakan: Kalau bukan wilayah Turki Utsmani, lalu wilayah siapa? Wilayah tak bertuan, tanpa kepemimpinan? Bukankah kalian tahu, “60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada semalam tanpa pemimpin”? Lagi pula, bagaimana dengan wilayah Hejaz, Madinah dan Makkah? Apkah Saudi hanya meliputi Najd saja?
    Ini tuduhan dusta yang nyata. Tunjukkan buktimu jika engkau org2 yg benar, bahwa berdirinya saudi karena memberontak Kekhalifahan Turki Utsmani.
    Saya kembali beranggapan seperti di atas. Bahwa penulis ini hanya ikut2an saja…. tidak punya hujjah dalam memvonis. Sangat tidak ilmiah. Telah beredar tulisan Masun Said Alwy dalam majalah ’Cahaya Nabawi” edisi 33 yang memuat berita dusta ini. Padahal rujukan yang dijadikan dalam menulis masalah ini sangat tidak ilmiah. Dan ia mengklaim rujukan tersebut dapat dipertanggung jawabkan
    Saya sampaikan kepadamu wahai penulis… Bahwa buku rujukan dalam masalah ini, mereka tulis bersumber dari penuturan mata-mata Inggris yang bernama Mr. Hempher seorang kafir gemar minum khamr seperti yang ia tulis sendiri. Lantas di mana al-wala’ wal baro’-mu wahai penulis??? Jika engkau menghukumi orang muslim melalui penuturan org kafir. Sungguh tdk masuk akal. Engkau turut menghujat dakwah yang penuh barokah ini karena termakan hasutan musuh2 Alloh yang memang itu kerjaan mereka. Sedangkan jika ada seorang muslim yang fasiq kita diperintah utk mengecek kabar yang ia bawa. Tetapi ketika org kafir membawa kabar sekonyong2 engkau mengambilnya utk menjatuhkan kehormatan saudara muslimmu. Apakah asalkan kabar itu sesuai hawa nafsumu lantas engkau halalkan segalanya??? Inikah cara beragamamu??? Alloh berfirman:
    ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS.al-Hujurat : 6)
    Saya tidak perlu panjang lebar membahas tuduhan ini. Cukup bukti ini saja, bahwa Mr. Hempher yang kafir itu yang menjadi mata-mata Inggris, kemudian dari mulutnya disebar kebohongan utk meruntuhkan dakwah yang saat itu mangancam keberadaan Inggris dan Perancis. Bahkan ada satu bukti bahwa Raja Su’ud mengirim surat kepada Khalifah utk meminta perlindungan dan keadilan. Dan terlihat dalam muqoddimah surat tersebut, penghormatan dan pemuliaan terhadap keberadaan khalifah. Sedangkan penyebab runtuhnya khilafah engkau tidak mau tahu. Jika engkau ingin mengetahui pembahasan masalah ini, silakan engkau membaca majalah Adz-Dzakhirah edisi 16 ramadhan 1426 H dan edisi 17 Dzulqa’dah 1426 H. Dan satu hal yang harus dicamkan… hilangkan kebencian di hatimu agar bisa menelaah dengan benar!!!
    Cobalah penulis membaca kitab2 karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri… niscaya engkau akan terbungkam dengan sendirinya. Tunjukkan bukti tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menyimpang jika engkau org yang jujur. Jgn hanya membeo saja kepada para pengekor hawa nafsu dari kalangan ahli bid’ah dan org2 bodoh. Kalo terus begini cara beragamamu… lantas seperti apakah buahnya???

    [o] Mereka sangat sensitif dalam menyalah-nyalahkan. Fotografi makhluk bernyawa salah; menabung di bank salah; kredit kendaraan salah; kerja menjadi PNS buruk; sistem koperasi tidak sesuai Syariat; Bank Syariah meragukan; dan lain-lain. Tetapi ketika diingatkan, bahwa untuk menegakkan Islam secara kaaffah kita butuh legalitas Syariat Islam di negara ini. Maka itu kita harus berjuang agar Syariat diterapkan. Tetapi seketika mereka berubah haluan, tiba-tiba menuduh gerakan-gerakan Islam sebagai Hizbiyyah, ahli bid’ah, tergesa-gesa, terjerumus politik, dll. Mereka selalu menemukan dalil untuk membentengi kesesatannya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    [o] Betapa seringnya Ummat Islam disalah-salahkan, karena meniru perilaku Yahudi dan Nashrani. Tetapi ketika kaum Muslimin ada yang menyerukan BOIKOT produk pro Yahudi dan Amerika, mereka mencari-cari dalil. Katanya, boikot itu tidak perlu, sebab dulu Nabi juga kerjasama bisnis dengan Yahudi. Begitu pula, kita tidak boleh meniru Nashrani, sementara mereka tidak ada yang terjun untuk menyelamatkan Ummat dari Kristenisasi. Terlalu “suci’ tangan mereka untuk ngurusi masalah Kristenisasi.
    Aneh ….. saya heran dengan penulis ini.?! Perilaku Yahudi dan Nashara memang tdk boleh dicontoh, bahkan Allah telah menjelaskan perkara ini di dalam firman-Nya:
    ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS.al-Baqarah :120]
    Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam pun telah mengisyaratkan demikian di dalam haditsnya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Artinya : Sungguh kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta sehingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pasti akan memasukinya (juga). Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara-kah?”. Beliau menjawab : “Siapa lagi ?” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]
    Jika demikian perkaranya…. engkau selalu menyalahkan salafiyin karena berpegang dengan petunjuk Nabi. Maka dimana letak al-wala wal baro’ mu selama ini??? Engkau berkoar memusuhi Yahudi dan Nashara, berkoar bentengi umat dari kristenisasi. Tetapi di satu sisi malah membela umat yang meniru2 org Yahudi dan Nashara. Heran ..heran!!!
    Dan sepertinya setiap dakwah harus melapor kepada sang penulis ini. Dan mempublikasikan agar mendapat simpati masyarakat. Sehingga mendapat pengikut yang banyak… Seolah memang penulis ini yang telah membentengi umat dari pemurtadan dan salafiyin cuci tangan dari masalah ini?!!
    Saya tak habis pikir… kalo memang demikian, apa yang engkau dakwahkan wahai penuduh???
    Adapun berkaitan masalah pemboikotan produk Yahudi. Ini bukan semata kebijakan perorangan atau kelompok. Kita tahu jumlah penduduk negeri ini lebih dari 210jt jiwa. Apalah artinya jika yang memboikot hanya 1 jt org saja. Maka pemboikotan adalah wewenang Ulil Amri, yang mereka menimbang manfaat untung ruginya. Dan jika Ulil Amri yang memboikot, maka tidak akan mendatangkan produk org kafir masuk ke negeri muslim ini. Bagaimana akan memboikot produk org kafir jika brg2 tsb masih terus di import?? Kontradiksi jika menyeru memboikot produk org kafir sementara produk tersebut memang dibutuhkan. Apakah saat engkau menulis tuduhanmu ini tidak menggunakan komputer produk mereka???
    Berikut saya nukilkan jawaban dari Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary ketika beliau ditanya : Bagaimana tentang pemboikotan ekonomi atas negeri-negeri kafir ?
    Jawaban:
    Mengenai muqatha’ah (boikot) terhadap (produk) orang kafir, adalah masalah politik bukan masalah syar’i. Jika ia masalah syar’i, maka tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memboikot orang-orang Yahudi. Padahal ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, baju besi beliau masih tergadaikan pada orang Yahudi. Jadi masalah ini bisa bermanfaat bisa tidak.
    Lalu siapa yang menentukan ada tidaknya pemboikotan? mereka adalah para ulama dan para politisi muslim dan para negarawan muslim yang memiliki ilmu syar’i dan memahami realitas, mengetahui sebab akibat. Jika tidak, maka boikot justru tidak merugikan orang kafir, (tetapi) dapat berbalik merugikan umat Islam sendiri. Jadi ada tidaknya muqatha’ah, (itu) tergantung maslahah syar’iyyah rajihah. [lihat majalah as-Sunnah edisi 11 th VIII/1425 H/2005 M, rubrik soal jawab]
    [o] Ummat Islam memakai fotografi disalahkan, Ummat mencukur jenggot disalahkan, Ummat memakai celana secara isbal disalahkan, Ummat masih merokok disalahkan, Ummat mendengarkan musik disalahkan, dan sebagainya. Tetapi kalau yang melakukannya warga Saudi, di negeri Saudi, pemimpin-pemimpin Saudi, mereka diam saja.
    Ini sikap keras kepala penulis… hingga ia membela setiap kesalahan yang di tunjukkan salafiyin kepada Ummat. Saya tidak tahu kalo demikian apa yang engkau dakwahkan??? Bukankah ummat ini perlu mendapatkan petunjuk utk bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Mana jalan petunjuk mana jalan kesesatan??? Bukankah yang haq dijelaskan kepada umat dan yang bathil juga dijelaskan kepada umat???
    [o] Ada aktivis-aktivis dakwah tinggal di Inggris, karena menyelamatkan diri dari pemimpin otoriter Arab, disalahkan. Mereka mengutip sebuah riwayat bahwa Nabi berlepas diri dari orang-orang yang mati di negeri musyrikin. Tetapi pemimpin-pemimpin Arab kerjasama dengan Israel, kerjasama bisnis dengan dia, dengan Amerika, China, dan lainnya. Mereka diam saja. Padahal menyelamatkan diri ke negeri yang aman, meskipun mayoritas Nashrani, tidak apa-apa. Seperti dulu saat Ja’far dan kawan-kawan tinggal di Habasyah, negeri Najasyi.
    Mungkin yang dimaksud penulis adalah Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin. Dia pernah menjadi guru di Arab Saudi dalam waktu yang cukup lama, sehingga memungkinkan menjalankan rencananya dan menyebarkan racunnya di tengah-tengah para pemuda. Tetapi setelah nampak keburukan niatnya, dia pergi, lalu bermukim di kota London, Inggris, sebuah negara kafir. Dia juga menerbitkan majalah di sana, Muhammad Surur ini juga menggelari para Ulama dengan gelar yang buruk.
    Oh…kiranya penulis ini tidak mengetahui duduk permasalahan yang sebernarnya. Atau mungkin tahu, tetapi sengaja ia membela Muhammad Surur ini, karena sepaham dengannya.?!
    [Lihat majalah as-Sunnah edisi 4 Th VI/1423 H hal 4-7]
    [o] Dan lain-lain.
    Intinya, mereka sangat TIDAK KONSISTEN dengan pemikiran-pemikirannya. Tidak ada tolok-ukur yang jelas disana. Sikap bisa berubah seperti apa saja, kalau cocok dengan hawa nafsunya. Menyebut mereka sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang komitmen dengan kebenaran dari arah manapun datangnya, adalah sangat aneh. Ini termasuk firqoh sesat, penyebar pemikiran-pemikiran beracun, mematikan hati dan kesadaran para pemuda Islam. Na’udzubillah min dzalik.
    Kami salafiyin mengajak berpegang teguh di atas jalan petunjuk Kitabullah dan Sunnah dgn pemahaman sesuai para sahabat dan generasi terbaik pendahulu ummat ini dikatakan tidak konsisten… lalu dakwah yang mengajak kepada selainnya dinamakan apa??? Sikap apa yang demikian ini???
    Para ulama ahlus Sunnah sejak dahulu pun demikian. Mereka mendapat gelar yang buruk lantaran berpegang dengan hadits Nabi. Dan memang demikianlah keadaan para ahli bid’ah, mereka akan terus berusaha menghalangi ahlu Sunnah hingga hari kiamat tiba.
    Puncaknya –untuk sementara ini- adalah TRAGEDI GHAZA. Disini bukan ditunjukkan sikap yang benar, layaknya diri orang-orang beriman saat saudaranya dihujani rudal oleh Yahudi Israel laknatullah, tetapi malah bergumul dengan isu-isu aneh. Orang-orang seperti ini tidak kalah berbahaya dibandingkan dengan jaringan Liberal. Maka selayaknya kita semua berlindung kepada Allah dari segala bentuk kesesatan jalan, baik yang nampak maupun tersembunyi. Allahumma amin.
    Wahai penulis… org yang berilmu tentu akan bersikap sesuai kadar keilmuannya. Kalian akan menjadi pengamat terhadap setiap apa yang dilakukan salafiyin??? Sementara engkau tidak mencoba belajar menambah keilmuanmu supaya benar dalam setiap langkahmu???
    Alangkah bagusnya do’amu??! Mari kita berlindung dari setiap jalan yang membinasakan.
    Kembali ke Mesir dan Saudi. Seperti disebutkan sebelumnya, sebenarnya musuh sejati kaum Muslimin Palestina bukan hanya Zionis Israel, tetapi juga pemimpin-pemimpin Arab munafik yang tidak takut kepada Allah Ta’ala. Demi hidup bermandi dollar, kesenangan, dan kekuasaan, mereka rela melecehkan agamanya sendiri. Na’udzubillah min dzalik.
    Akhirnya, hanya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang berimanlah wali-wali kita. Tidak bisa kita berharap banyak, selain hanya kepada-Nya dan kemurahan hati hamba-hamba-Nya yang beriman.
    Kaum Muslimin Palestina…maafkan kami atas kedhaifan kami. Ingin kami menolong Anda, namun hanya sebatas keinginan. Kekuatan kami terlalu lemah untuk menolongmu. Yakinlah, jika bukan kami, tentu hamba-hamba Allah yang lain akan menolongmu. Dan tentu saja, Allah Ta’ala akan menolongmu. Amin.
    Maafkan kami yaa Akhi…ya Ukhti…
    Wallahu a’lam bisshawaab.

    Bandung, 17 Januari 2009.

    Kiranya saya cukupkan sampai disini. Banyak yang ingin saya tulis…. namun cukuplah tersebut di atas utk menunjukkan kebencian sang penulis kepada dakwah salaf ini.

    Akhirnya saya mengajak kepada penulis dan org2 yang semisalnya yg tdk sedikit jumlahnya, untuk kembali kepada ajaran agama Islam ini, sebagaimana para pendahulu umat ini memahaminya. Dan marilah kita memohon kepada Alloh utk memberikan petunjuk kepada pemimpin2 kita, memperbaiki keadaan kaum muslimin dan meneguhkan mereka dengan hidayah-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa salam

    Karawang, 27 Jan 09

    Ttd.

    Abu Ammar

  25. abisyakir berkata:

    @ Abu Ammar Karawang

    Syukran jazakumullah atas tanggapan Antum. Tulisan Antum untuk sementara saya salin dulu, nanti akan diberikan komentar.

    Kalau Anda seorang Ahlus Sunnah sejati, bukan muqallid yang mengikuti saja apa kata ustadz/syaikh, Anda pasti bisa memahami, bahwa:

    – Bangsa palestina, khususnya di Ghaza itu Muslim. Kalau mengikuti kriteria kelompok Anda tentang Daulah Islamiyyah, mereka itu daulah Islamiyyah. Sebab disana ditegakkan shalat jamaah, adzan kumandang setiap waktu, syiar-syiar Islam hidup.

    – Kejahatan Yahudi Israel terhadap Muslim di Ghaza sudah amat sangat telanjang. Jangankan kita, orang-orang Amerika Selatan saja tahu. Orang kafir pun tahu. Menurut wala’ wal baro’ Anda bagaimana keadaan itu? Dulu Nabi mengusir satu kabilah Yahudi dari Madinah hanya karena mereka melecehkan seorang Muslimah dan membunuh seorang Muslim. Nah ini, ribuan Muslim dibantai, ribuan luka-luka, rumah-rumah hancur.

    – Saudi itu punya kekuatan besar, setidaknya kekuatan uang/minyak. Saudi bisa mendatangkan pasukan Amerika, bisa membuat pangkalan-pangkalan militer Amerika di kota-kota Saudi. Mereka punya uang dan mampu membentuk kekuatan militer, meskipun dengan cara menyewa/membiayai Amerika. Sementara Palestina/Ghaza itu dekat dengan wilayah Saudi, dekat sekali.

    – Anda dan kawan-kawan selalu mencela orang-orang yang kritis kepada Saudi, dan disamakan dengan pelaku takfir. Sementara Anda tidak sadar bahwa salah satu penyebab kekafiran menurut Syaikh Ibnu Abdul Wahhab, yang menjadi madzhab resmi Saudi, adalah menolong orang kafir dalam mencelakakan kaum Muslimin. Buktinya apa? Saudi tidak mau bersikap tegas terhadap Israel, mereka tekun kerjasama dengan Amerika, padahal seluruh dunia tahu bahwa Amerika pelindung Israel. Mengapa raja-raja Saudi tidak seberani almarhum Raja Faishal dulu yang berani memboikot Amerika? Tanyakan ke hati Anda sendiri: “Apakah Saudi itu adalah al haq? Apakah negara itu representasi dari Salafus Shalih?” Jika Anda mengatakan, “Ya!” berarti selesai sudah urusan di antara kita, “Lakum a’malukum wa lana a’malana”.

    Terakhir, mohon kalau memberi komentar jangan terlalu panjang. Boleh juga tulisan disusun rapi, nanti kirim ke langitbiru1000@gmail.com. Insya Allah tanggapan akan dimuat. Ini fair, untuk diskusi ilmiah.

    Sekali lagi jazakumullah khair.

    AMW.

  26. Justice4All berkata:

    Ustadz Abisyakir,

    Saudi memang tidak bisa mengulangi keberanian Asy-Syahid Raja Faisal, yang gagah berani memboikot Amerika pada Perang Oktober 1973.

    Ada beberapa sebab:

    1. Saudi terlanjur bersahabat mesra dengan Amerika. Buktinya bejibun, termasuk berita terakhir, pejabat Amerika diberi hadiah yang sangat mahal.

    2. Investasi dari hartawan/bangsawan Saudi di Amerika, mencapai ratusan milliar dollar (informasi ini bisa mudah dicrosschek di Internet). Kalau boikot, bisa-bisa asset mereka disana dibekukan.
    (Aneh ya, kok bisa naruh uang segitu gedhe di negara musuh)

    3. Bahkan ada pangeran, yang memiliki rumah termahal di Amerika (Google: Hala Ranch), dan beliau adalah anak dari putra mahkota Saudi. Bagaimana mungkin mau memboikot rumah sendiri?

    4. Saudi menggantungkan senjata, dari Amerika dan Inggris. Kalau memboikot, maka kalau diboikot balik, maka bisa jadi seluruh armada pesawat, kapal, tank, Saudi tidak bisa beroperasi.
    (Itulah strategi Amerika, mengunci Saudi, dengan menjual senjata, sehingga politik luar negeri Saudi menjadi tergantung Amerika)

    5. Saudi mungkin merasa hutang budi terhadap Amerika, setelah Amerika “membantu” Saudi dalam perang Iraq 1990. (Padahal sebenarnya Saudi dikompasin hingga puluhan milyar dollar, karena Amerika tidak membayari Perang Teluk pertama, semua ditanggung Saudi dan Kuwait, plus negara “jajahan” Amerika: Jerman dan Jepang).

    Wallahua’lam.

  27. Abu Zalfa berkata:

    Saya sependapat kalo mencukur jenggot dan isbak itu dosa. Makanya alangkah baiknya para pemimpin kaum muslimin, khususnya penguasa negeri SALAFY memberi contoh teladan dengan memanjangkan jenggot dan tidak isbal… tapi kenyataannya…? Raja dan para pangeran Saudi adalah orang pertama yang melanggar hukum agama ini….(?)

  28. Abu "Abu" berkata:

    Salafi…? nggak banget deh … !!

    Penyimpangannya bererot … bin bejibun …

    Ngaku ahlus sunnah .. padahal ahlul fitnah wal mufarraqah ..

    Standar gandanya kebanyakan …

    – nyerang Al Qaradhwi, karena tidak mewajibkan cadar ..tapi ketika Al Albani juga blng cadar gak wajib .., bungkam …!

    – nyerang Al Qaradhwi dan ulama lain yang menyerukan pemboikotan produk Yahudi .. , tapi ternyata itu juga pendapat Al Albani dan NAshir As Sa’di, bahkan Syekh As Sa’di bilang itu adalah jihad besar …
    tapi lihat … apa mereka juga nyerang dua syekh ini ..?

  29. Muhammad Raflin berkata:

    Salafy???…….cape deh ane..benar2 ngerusak imej firqah yang satu ini.

  30. Ana Jiddan berkata:

    Oya, saya mau tanya sama orang2 yang ngaku sebagi salafy seperti Abu Ammar. Antum sudah pernah menggandeng pak SBY, atau Gubernur setempat, walikota, atau paling tidak setingkat kelurahan atau kecamatan untuk berbicara 4 mata dan menasehati baik-baik tentang kemungkaran yang terjadi di Indonesia? Kan kita masih melihat banyaknya maksiat yang merajelala, mereka kan yang punya kuasa di negeri ini?

    Terus,ana heran sama kasus perang teluk 1990 dimana Amerika diminta bantuan untuk mengusir Iraq yang menginvasi kuwait yang berbatasan juga dengan Saudi. Memang dalam kitabnya Zaadul Ma’ad karangan Ibnul Qayyim dikisahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyewa orang kafir untuk berjihad. Tapi kasusnya tidak sesederhana itu bila ingin mengusir serigala di kandang ternak dengan mengundang singa, yang ada ketika serigala terusir yang ada singa ini malah membuat kekakcauan di kandang ternak itu. Ini sebenarnya bukan konteks “menyewa orang kafir untuk berjihad/berperang” tapi masalah yang sangat fundamental, yaitu Al-Walaa’ wal Baraa’!! antum bisa bayangkan ketika AS membuat pangkalan2 militer di SAudi dengan mudahnya musuh Islam ini (AS) memperkuat hegemoninya di Timur Tengah, dan dengan mudahnya merongrong negeri2 kaum Muslimin, contohnya perang Iraq tahun 2003, dengan mudah AS mendapat akses untuk mengirim pasukannya ke Iraq. yang disebutkan dalam kitab Zaadul Ma’ad tersebut itupun orang kafir yang tidak punya kekuatan untuk memusuhi Islam dan di bawah kontrol kaum Muslimin pada saat itu. Lha, AS ini sekarang apa bisa dikontrol? dan jelas kekuatannya besar!! dan AS itu jelas2 musuh Islam pada saat ini, minta bantuan kok ke mereka?kenapa dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ngga sekalian minta bantuan kafir quraisy waktu perang khaibar? untuk lebih jelas maslah perang teluk 1990 ini coba baca tulisannya DR. Safar Al-Hawali yang judulnya Wa’du Kisinger judul terjemahannya “Belitan Amerika di Tanah Suci” terbitan Jazeera. Itupun kalo antum ngga keburu punya sentimen negatif sama pennulis buku tersebut (SAfar Al-Hawali) lalu dengan sigap mencapnya sebagai salah satu khawarij. Cobalah bersikap objektif terhadap ulama satu ini yang juga insyaAllah seorang da’i yang ikhlash dan meniti jalan salafushalih juga.

    Ana sudah baca buku karangan Abu MUhammad Al-Maqdisy tersebut sampai tamat. Klo boleh ana sarankan untuk membantah buku tersbut sepertinya tidak cukup kalo hanya dengan satu artikel saja, karena masih banyak poin2 lainnya yang belum terbantah, klo memang mau serius membantah coba buat satu buku lagi, jangan hanya sekedar artikel. Dan ana heran dengan artikel tersebut, apa iya Al-Maqdisy membela mati-matian Juhaiman Al-Utaibi? karena yang saya baca di buku itu judul babnya “Kritik Terhadap Juhaiman”. Ada kata “kritik” di judul babnya, dari judul babnya saja sepertinya sudah jelas bahwa Al-Maqdisy tidak setuju bahkan mengkriitik gerakan Juhaiman itu dan memang isi babnya menyatakan tidak setuju terhadap gerakan itu Juhaimandan disertai dengan mengkritik Juhaiman itu, kok bisa dibilang membela mati-matian? yang bikin artikel itu udah baca bukunya belum ya?

    Wallahua’lam bishawwab

  31. Insan berkata:

    Assalamualaykum. wr. wb

    Arab Saudi itu antek Amerika Serikat, Amerika Serikat itu boneka Israel. Saya sangat menyayangkan komunitas salafi yang seringkali melalukan pembelaan terhadap pemerintah Saudi.

    Harusnya salafi mencari tau dan memahami realita, ini zamannya konspirasi, skenario, dan infiltrasi. Zionis laknatullah bisa menjadikan banyak antek – anteknya dari berbagai kalangan, dari (maaf) PSK, saintis, politisi, pejabat, musisi, cendekiawan, guru, dan termasuk para ulama abad ini, dari berbagai ras, suku, bangsa, dan agama.

    Dan Salafi seharusnya mau memahami gerak – gerik Yahudi sekarang yang jelas berbeda dengan Yahudi pada masa Rasulullah saw. Saya yakin komunitas salafi belum tau realita, soal2 gerakan rahasia freemasonry, illuminati, bohemian grove, skull and bones, dan gerakan – gerakan rahasia yang terorganisir rapi, yang berafiliasi pada satu ideologi yaitu zionisme dan berorientasi pada pembentukan the new world order alias tata dunia baru. Saya yakin sedikit dari komunitas salafi yang tau hal ini.

    Kritik saya untuk salafi, menuntut ilmu syar’i wajib tapi jangan sampai mengabaikan dan mengingkari realita yang telah berubah. Kalau sudah berilmu jangan merasa benar sendiri, dan hebat, ingat banyak orientalis dari Yahudi, dan Nasrani atau Atheis jauh lebih memahami Islam, mereka pandai dan fasih berbagai bahasa. Mereka intensif melakukan kajian2 kritis-destruktif terhadap ilmu – ilmu yang telah lama dibangun para ulama salaf.

    Benarlah ucapan seorang orientalis kepada kaum muslimin di dunia, “apa yang kalian tau, saya tau. Tapi yang kalian gak tau, saya tau”

  32. Insan berkata:

    Assalamualaykum. wr. wb

    Arab Saudi itu antek Amerika Serikat, Amerika Serikat itu boneka Israel. Saya sangat menyayangkan komunitas salafi yang seringkali melalukan pembelaan terhadap pemerintah Saudi.

    Harusnya salafi mencari tau dan memahami realita, ini zamannya konspirasi, skenario, dan infiltrasi. Zionis laknatullah bisa menjadikan banyak antek – anteknya dari berbagai kalangan, dari (maaf) PSK, saintis, politisi, pejabat, musisi, cendekiawan, guru, dan termasuk para ulama abad ini, dari berbagai ras, suku, bangsa, dan agama.

    Dan Salafi seharusnya mau memahami gerak – gerik Yahudi sekarang yang jelas berbeda dengan Yahudi pada masa Rasulullah saw. Saya yakin komunitas salafi belum tau realita, soal2 gerakan rahasia freemasonry, illuminati, bohemian grove, skull and bones, dan gerakan – gerakan rahasia yang terorganisir rapi, yang berafiliasi pada satu ideologi yaitu zionisme dan berorientasi pada pembentukan the new world order alias tata dunia baru. Saya yakin sedikit dari komunitas salafi yang tau hal ini. Yang terpenting salafy harus tau intel zionis ada dimana2, di penjuru pelosok mana, mereka pandai melakukan spionase, bahkan mungkin bisa jadi di negara kita.

    Kritik saya untuk salafi, menuntut ilmu syar’i wajib tapi jangan sampai mengabaikan dan mengingkari realita yang telah berubah. Kalau sudah berilmu jangan merasa benar sendiri, dan hebat, ingat banyak orientalis dari Yahudi, dan Nasrani atau Atheis jauh lebih memahami Islam, mereka pandai dan fasih berbagai bahasa. Mereka intensif melakukan kajian2 kritis-destruktif terhadap ilmu – ilmu yang telah lama dibangun para ulama salaf.

    Benarlah ucapan seorang orientalis kepada kaum muslimin di dunia, “apa yang kalian tau, saya tau. Tapi yang kalian gak tau, saya tau”

  33. ikhwan berkata:

    Abu “abu”

    membaca tulisan anda,sepertinya anda harus lebih banyak belajar.
    Seperti kata Imam Bukhari. “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan”.
    Kalo Syaikh Yusuf Qordhowi setahu saya mendapat kritikan karena memiliki penyimpangan aqidah.
    Jadi tidak bisa disamakan kasusnya dengan Syaikh Al-Albani dan Syaikh AS-Sa’di
    perbedaan dalam masalah fiqh itu sangat mungkin terjadi. Juga dalam masalah ijtihad,tentu banyak celah utk berbeda.
    Sekali lg kalo yg beda dalam masalah aqidah. ini perlu diluruskan.Kalo dibiarkan akan merusak ummat.
    Itu pun bukan org awam yg berkecimpung

    Seperti halnya masalah tentara As yg bikin pangkalan di teluk. Itu hasil ijtihad para ulama. Jika salah mereka mendapat satu pahala, jika benar mendapat 2 pahala. Lalu bukan kok trus main caci maki semaunya.

    Yach maslah bagaimana harus taat kepada ulil amri memang satu masalah yg byk org tergelincir.

    Yuk giat lagi belajarnya!!!

  34. admin berkata:

    Semoga Allah memberi hidayah Sunnah kepada Antum dan kita semua, hidayah di atas manhaj para shahabat Nabi, Salafus shalih…

  35. Wahai Para Da’i Islam!
    Carilah kematian niscaya anda akan dikaruniai kehidupan. Janganlah anda sampai tertipu oleh angan-angan kalian. Janganlah anda sampai tertipu oleh buku-buku yang anda baca dan amalan-amalan sunnah yang anda lakukan sehingga anda melupakan kewajiban besar.
    Wahai Para Ulama Islam!
    Majulah kalian untuk memimpin generasi yang ingin kembali kepada Rabb-nya ini. Janganlah kalian cenderung kepada kehidupan dunia.
    Wahai Kaum Muslimin!
    Telah lama kalian tidur nyenyak, sehingga kerusakan merajalela di negeri kalian.
    Wahai Kaum Wanita!
    Jauhilah kehidupan mewah dan megah karena kemewahan itu musuh disamping akan merusak jiwa manusia. Hindarilah barang-barang yang tidak terlalu penting dan cukupkanlah dengan kebutuhan-kebutuhan primer.
    Binalah anak-anak kalian untuk menjadi orang yang berani dan siap berjihad.

    Tanamkanlah pada jiwa anak-anak kalian cinta Jihad dan perjuangan. Hiduplah dengan penuh perhatian terhadap problematika kaum Muslimin. Biasakanlah paling tidak sehari dalam sepekan hidup menyerupai kehidupan kaum Muhajirin dan Mujahidin yang hanya memakan sekerat roti kering dan beberapa teguk air.
    Wahai Anak-Anak!
    Jauhkanlah diri kalian dari bualan lagu-lagu dan musik-musik orang-orang pengumbar nafsu. Jauhkanlah punggung kalian dari kasur orang-orang yang hidup bemewah-mewahan.
    Wahai Ummu Muhammad! (Istri Abdullah Azzam)
    Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebanyak-banyaknya atas apa yang telah engkau lakukan kepadaku dan kepada kaum Muslimin.
    Engkau telah bersabar hidup bersamaku setelah sekian lama merasakan manis pahitnya kehidupan. Engkau telah memberikan dukungan yang sangat berarti bagiku untuk berjalan di atas perjalanan yang penuh berkah ini dalam berjuang di medan Jihad.

    Ke atas pundakmulah aku serahkan tanggung jawab keluarga pada tahun 1969, ketika kita baru mempunyai dua anak dan seorang bayi. Engkau hidup dalam sebuah kamar kecil yang terbuat dari tanah liat, tanpa dapur dan alat pemanas (untuk menghadapi musim dingin).
    Kemudian aku serahkan ke atas pundakmu segala urusan rumah tangga ketika beban semakin berat, keluarga semakin bertambah, anak-anak bertambah besar dan tamu-tamu bertambah banyak, tetapi engkau tetap tabah menghadapi semuanya.
    Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebanyak-banyaknya atas apa yang telah engkau lakukan untukku.

    Sesungguhnya kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat. Kesabaran menghadapi kesulitan lebih manis daripada hidup bergemilang kemewahan dan kemegahan.
    Pertahankanlah hidup zuhud niscaya Allah mencintaimu, dan janganlah engkau menginginkan apa yang ada di tangan orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu.

    Al-Quran adalah kenikmatan dan teman hidup. Bangun malam, shiam sunnah dan istighfar di waktu pagi akan membuat hati menjadi bersih dan menjadikan engkau merasakan manisnya ibadah.
    Bertemanlah dengan wanita-wanita shalihah, tidak berambisi kepada kehidupan dunia dan menjauhi kemewahan dan cinta dunia, akan memberikan ketenangan hati.

    Semoga Allah mempertemukan dan menghimpun kita di Surga Firdaus, sebagaimana Allah menghimpun kita di dunia.
    Wahai Kalian Anak-Anakku!
    Sesungguhnya kalian tidak mendapatkan perhatianku kecuali sedikit. Kalian tidak memperoleh pembinaan dariku kecuali sedikit. Ya, aku tidak memberikan perhatian kepada kalian.

    Tetapi apa yang dapat aku lakukan sementara malapetaka terhadap kaum Muslimin membuat orang hamil melahirkan kandungannya dan musibah yang menimpa Umat Islam membuat rambut bayi-bayi beruban.
    Demi Allah, aku tidak kuasa hidup tenang sementara api malapetaka membakar hati kaum Muslimin.
    Aku tidak rela hidup di tengah-tengah kalian menikmati hidangan lezat. Demi Allah, sejak dulu aku membenci kemewahan, baik dalam pakaian, makanan ataupun tempat tinggal. Aku berusaha mengangkat kalian ke tingkat orang-orang zuhud dan aku jauhkan kalian dari lumpur kemewahan.

    Aku wasiatkan kepada kalian agar berpegang teguh kepada Aqidah Salaf (Ahlussunnah wal-Jama’ah) .
    Jauhkanlah diri kalian dari sikap berlebih-lebihan. Baca dan hafalkanlah Al-Quran.
    Jagalah lisan, bangunlah malam, lakukanlah puasa sunnah, bergaul-lah dengan orang-orang baik, aktiflah bersama gerakan Islam.

    Aku wasiatkan kepada kalian wahai anak-anakku agar kalian ta’at pada ibu kalian dan menghormati saudara-saudara perempuan kalian (Ummul Hasan dan Ummul Yahya). Carilah ilmu syar’i yang bermanfaat. Ta’atilah saudara kalian yang terbesar (Muhammad) dan hormatilah dia.
    Aku wasiatkan kalian agar saling mencintai sesama kalian. Berbuat baiklah kepada nenek dan kakek kalian (Ummu Faiz dan Ummu Muhammad), karena keduanya-lah, setelah Allah, banyak berjasa baik kepadaku. Sambunglah hubungan keluarga kita dan berbuat baiklah kepada keluarga kita. Penuhilah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat demi kita.
    Maha Suci Engkau Ya Allah, dan Maha Terpuji Engkau. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
    Senin waktu Ashar, 22 Sya’ban 1406H (20 April 1986) ,Abdullah Yusuf Azzam
    (Wasiat ini ditulis oleh Sheikh Abdullah Azzam semasa jihad Afghanistan melawan Uni Soviet masih berlangsung)

  36. Ada yang lebih penting yaitu saudara kita di bantai di belahan lain…jangan sampai kita tertipu dengan talbis iblis,sungguh dunia ini adalah main2 dan senda gurau…barang siapa yg dalam hatinya tidak ada keinginan untuk berjihad sedikitpun maka dia adalah munafiq…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: