Catatan Seputar Kita

Alhamdulillah atas segala nikmat dan karunia Allah. Segala kebaikan yang kini kita miliki, apapun bentuknya, adalah nikmat Allah. Jika bukan nikmat, bisa jadi ia akan menjadi mushibah; atau nilainya lebih kecil dari apa yang seharusnya kita terima; atau ia akan terlepas dan menjadi hak orang lain. Kita bersyukur kepada Allah ketika banyak manusia yang lain kondisinya lebih memprihatinkan dari kita. Fa bi aiyi alaa’i Rabbikuma tukadz-dzibaan?

Pembaca Budiman…

Alhamdulillah syukur, LANGIT BIRU masih eksis, dengan segala suka dukanya. Mohon maaf, namanya harus ganti-ganti. Tadinya “inspirations”, lalu menjadi “media”, dan sekarang “articles”. Semula memang ingin di-setting dalam bentuk media publikasi secara periodik. Tetapi masya Allah, ternyata sulit mengelola blog ini dengan disiplin media. Energinya cukup besar, sementara sifat blog ini tetap free charge alias tidak bisa dikomersialkan. Setelah ditimbang-timbang, ya sudahlah cukup sebagai blog seperti sebelumnya saja.

Mohon maaf jika akhir-akhir ini up dating artikel tidak lancar. Selain karena kesibukan tertentu, kondisi fisik saya sering mengalami influenza. Jika sudah lemas dan pilek, menjadi kendala yang merepotkan juga. (Dulu ada seorang saudara memberi nasehat, “Jaga tubuhmu baik-baik. Tubuh yang kamu miliki adalah satu-satunya milikmu. Jagalah dengan baik!” Saya kira ada baiknya juga Pembaca merenungi nasehat tersebut. Iya tidak?).

Sebelum akhir Desember 2008 lalu, sebenarnya saya sedang mempersiapkan tiga artikel penting: Tentang The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), heboh foto pornografi Sarah dan Rahma Azari, dan Ryan Jagal Jombang. Namun setelah meletus agressi Israel ke Palestina, semua artikel itu tertunda. Untuk “The Fed” bisa dimuat saat ini, alhamdulillah. Tetapi untuk Sarah dan Rahma Azari dan Ryan Jagal Jombang, cukup dikupas secara singkat saja.

Foto Perempuan Binal

Sarah dan Rahma Azari, dua wanita yang identik dengan dunia pose pornografi ini, bukan keturunan Arab, tetapi keturunan Pakistan. Mungkin termasuk Pakistan yang jahiliyah. Orang-orang Indonesia secara fisik kecil, kulitnya coklat, hidungnya pendek. Masyarakat kita sering kali terobsesi secara fisik oleh wanita-wanita berpenampilan Bule, Arab, India, Turki, dan lainnya. Entahlah, apakah itu sindrom yang biasa menimpa manusia-manusia berukuran tubuh kecil? Wallahu a’lam.

Mungkin karena sindrom sejenis itu banyak orang mengagumi wanita-wanita semodel Sarah, Rahma, atau Ayu Azari. Sarah Azari pernah berpose genit di koran Rakyat Merdeka, lalu di bawahnya tertulis keterangan, kira-kira: Tubuh seksi Sarah Azari selalu menjadi fantasi bagi laki-laki. Ya tentu maksudnya, laki-laki rusak moral. Kalau laki-laki yang baik, orang-orang semodel “sex bomber” itu akan selalu disambut dengan dzikir: ‘Audzubillah minas syaithanir rajiim. Mereka bisa diserupakan dengan cewek-cewek syaitaniyyah yang selalu mengganggu ketenteraman batin orang-orang beriman.

Konon menurut berita yang beredar, foto-foto itu dibuat sekitar 10 tahun lalu (1998). Ya kita tidak tahu. Paling Roy Suryo yang selalu menjadi bintang untuk hal-hal seperti ini. (Pak Roy ini banyak pengagumnya, tetapi banyak juga kritikusnya. Katanya, kepakaran Roy itu dipertanyakan).

Mungkin menarik kita pikirkan, “Kok ada wanita yang mau difoto atau berpose dalam keadaan tanpa busana seperti itu? Apa keuntungannya, apa manfaatnya?”

Masalahnya tentu tidak sesederhana itu. Apa yang dilakukan Sarah, Rahma, ayau Ayu Azari dengan segala dunia keseksian mereka. Hal itu tidak ujug-ujug muncul. Ia lahir dari proses panjang, sejak mereka kecil dalam lingkungan rumah dan sekolahnya. Lingkungan yang membesarkan mereka sangat berpengaruh.

Biasanya, wanita-wanita yang di kemudian hari mengalami krisis rasa malu, mereka telah melewati ambang rasa malu di saat remaja. Biasanya mereka telah melakukan hubungan seks bebas ketika itu. Sek seperti itu bisa karena keinginan mereka sendiri, atau karena paksaan pihak laki-lakinya. Jika karena paksaan, biasanya akan muncul dendam sejarah kepada semua laki-laki. Kredo yang sering mereka ucapkan, “Aahh, semua laki-laki sama bejatnya!” Mereka tidak lagi menghargai laki-laki, sebab dianggap semuanya bejat. Yang bejat hanya laki-laki tertentu, tetapi yang menjadi korban semua laki-laki sisanya. Di mata wanita-wanita seperti itu, terjun di dunia pornografi tidak masalah. Toh, mereka sudah lebih parah dari sekedar tampil seronok memamerkan tubuh. Perzinahan bagi seorang wanita dianggap sebagai pelenyap rasa malu. Kalau sudah melakukan itu, yang lain terasa ringan.

Hampir semua wanita yang kita lihat di TV sebagai wanita-wanita dengan krisis rasa malu, mereka sebelumnya telah terjerumus seks bebas. Karena seks itu pula, mereka menjadi merasa kebal dari rasa malu. Mau disuruh action yang semalu apapun, mereka akan mau. Apalagi jika bayarannya besar. “Toh, saya sudah melakukan yang lebih memalukan dari semua ini,” kata mereka.

Di dunia film kita pernah mendengar istilah “pendalaman karakter”. Misalnya, ada film romantisme yang berkisah tentang sosok pasangan laki-laki dan wanita tertentu. Konon, agar acting mereka dalam film bisa sangat meyakinkan, mereka diberi kesempatan untuk melakukan “pendalaman karakter”. Mereka diperbolehkan berdua- -duaan, termasuk tidur bersama. Ya, itulah dunia jahiliyyah. Dengan cara seperti itu diharapkan tidak ada lagi “kendala batin” antar pemain. Mereka diharapkan bisa bermain total tanpa hambatan psikologis.

Antara moral dan rasa malu, berkaitan seiring sejalan. Semakin kuat moralnya, semakin kuat rasa malunya; semakin tipis rasa malunya, itu pertanda sangat buruk kualitas moralnya. Kalau seorang wanita sudah diketahui buruk moral, tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Omongan, tingkah, perbuatan, dan kerjanya biasanya penuh masalah.

Ryan “Jagal” Jombang

Beberapa bulan terakhir, kasus Ryan mulai disidangkan di PN Depok. Dia diadili untuk kasus mutilasi yang tubuh korbannya dipotong-potong lalu dimasukkan tas besar itu. Adapun untuk mayat-mayat yang ditemukan di sekitar rumah Ryan di Jombang, belum jelas bagaimana kasusnya.

Awal-awal Ryan mulai disidangkan, dia tampil seperti laki-laki saleh. Dia memakai kopiah Haji warna putih, dan di jidatnya tampak dua titik hitam, seperti bekas shalat. Secara pribadi saya kesal melihat penampilan Ryan seperti itu. Dia pembunuh mutilasi, pembunuh berantai, dan palaku homoseks. Orang sekeji itu tidak boleh memakai simbol-simbol kesalehan, sebab nanti bisa menipu masyarakat dan menyakiti hati kaum Muslimin. Masak ada orang sekeji Ryan memakai pakaian seperti laki-laki saleh? Lho, sejak dulu mengapa dia tidak memakai pakaian kesalehan? Mengapa baru setelah kebejatannya terungkap, dia tampil seperti orang saleh? Saya terus terang kesal dan marah melihat penampilan Ryan itu.

Orang seperti Ryan adalah monster kehidupan. Dia itu syaitan dalam wujudnya berbadan manusia. Dia dikutuk oleh Allah Ta’ala karena perbuatan homoseksnya. Orang seperti ini tidak boleh sama sekali dihubungkan dengan syiar-syiar kesalehan, meskipun sifatnya penampilan zhahir.

Ryan bukanlah orang yang buta ilmu agama. Dia berasal dari Jombang yang terkenal dengan pesantren-pesantren. Dia juga pernah menjadi guru ngaji Al Qur’an, bisa menjalankan shalat dan ibadah-ibadah. Perbuatannya membunuh, memutilasi, dan homoseksual adalah kebejatan komplek. Satu saja perbuatan itu sudah merupakan dosa besar, apalagi ketika bertumpuk-tumpuk?

Bukan tidak boleh melihat Ryan taubat. Kalau dia mau taubat, tentu dia akan mendapati Allah Maha Ghafur Maha Rahiim. Tetapi menyaksikan dia tampil seperti pakaian orang-orang saleh, ini adalah kesalahan besar. Dia seharusnya memakai simbol-simbol kaum Luth, simbol pembunuh besar, atau simbol pelaku mutilasi. Minimal, dia bisa memakai pakaian apapun yang dia sukai, termasuk pakaian bencong. Asal jangan pakaian orang-orang saleh.

Dan lama-lama dibiarkan Ryan semakin besar kepala. Beberapa waktu lalu dia tampil dengan memakai sorban dan baju gamis putih-putih. Ya Ilahi, orang ini semakin parah saja penyakitnya. Menurut data media, saat ulang tahun Novel, pacarnya, Ryan diberi kesempatan polisi “main cinta” dengan Si Novel itu.

Padahal menurut Ibnu Qayyim, pelaku homoseks seharusnya dibunuh keduanya, baik “si penusuk” maupun “si tertusuk”. Andai hewan melakukan homoseks, mereka juga harus dibunuh. Seharusnya, menghadapi begundal-begundal ini, tidak boleh ada rasa belas kasih di hati kita. Hukuman pancung pun –andai ada di negeri ini- tidak perlu disesali. Orang bejat harus menerima ganjarannya agar tidak menjadi contoh kebejatan bagi manusia-manusia lainnya.

Saya menghimbau kepada Pemerintah Kota Depok, mohon tolonglah jangan perbolehkan Ryan tampil di pengadilan dengan baju-baju ala orang saleh itu. Silakan saja deh, memakai kemeja panjang, jas rapi, dasi, atau apapun, asal jangan atribut-atribut fisik orang saleh. Bukan karena apa, tetapi agar tidak mencemari agama ini! Mohon deh aparat Pemkot Depok bisa intervensi dalam urusan penampilan Si Homoseks penjagal bengis itu!

Kita semua khawatir, nanti masyarakat akan member komentar-komentar pahit. Maklum masyarakat kita masih cenderung lugu dan simplisit.

Para Pembaca, sekali lagi mohon maaf kalau ada kesalahan dan kekurangan. Termasuk jika ada luapan-luapan emosi berlebihan. Syukran jazakumullah atas perhatian Antum semua. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

26 Januari 2009.


AM. Waskito.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: