Golput Haram atau Wajib…?

Sejak kecil saya selalu bercita-cita menjadi golput (Golongan Putih). Ketika itu dalam benak saya yang namanya golongan putih itu adalah orang-orang baik. Lawannya golongan hitam, yaitu orang-orang jahat, para dukun, pemuja setan dan lain-lain yang mewakili “dunia gelap”. Maklum, saat saya kecil sering mendengarkan sandiwara radio seperti “Nogo Sosro – Sabuk Intan” (Wih wih, Bapak ini masih ingat dengan “Teh Sosro”, eh maksudnya “Nogo Sosro”. Hebat rek… –edt.). Atau yang ada hubungannya dengan ilmu hitam dan ilmu putih, adalah sandiwara Nini Pelet dan yang sejenisnya. Pokoknya menurut saya, golongan hitam itu penjahat dan golongan putih itu orang baik.

Di tahun 2009 ini, saat MUI menfatwakan golongan putih (golput) itu haram, maka imej golongan putih jadi berbalik 180 derajat. MUI menyatakan ‘golongan putih’ jadi haram. Lantas, apa maksudnya golongan hitam itu wajib ya? Tapi sampai saat ini saya belum pernah mendengar orang menyebut lawannya golput (dalam urusan pemilu) sebagai golongan hitam… entah mengapa?

SOAL PEMILU

Golongan putih yang diributkan disini tentu bukan golongan putih dalam artian orang-orang baik, tapi yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak ikut nyoblos (sekarang mencontreng?) dalam pemilihan umum. Dan golput disini juga tidak memiliki lawan kata “golongan hitam”.


MUI sudah menfatwakan golput haram. Yang namanya haram berarti berdosa kalau dilakukan. Lawan haram adalah wajib. Artinya sesuatu yang diharamkan memiliki konsekuensi wajib bagi kebalikan perbuatan tersebut. Kesimpulannya, memilih dalam pemilu adalah wajib, kira-kira itu yang dimaksudkan MUI.

Saya mungkin bukanlah orang yang berkompeten buat memvonis apakah fatwa ini benar atau salah. Namun sebagai manusia merdeka yang tidak ingin menjadi muqallid/fanatikus, tentu saya punya hak untuk berpendapat atau mengikut salah satu pendapat yang mendekati kebenaran menurut saya.

Apalagi persoalan pemilu merupakan perkara yang tidak dikenal jaman Nabi, sehingga tidak ada (?) pula dalil yang tegas menyuruh, membolehkan, atau melarangnya.

PENDAPAT

Paling tidak kita menemukan 5 golongan dengan pendapat masing-maisng berkaitan dengan Pemilu:

Golongan pertama, yang berpendapat bahwa pemilu haram, karena merupakan sistem kufur. Dalam pemilu, ujar mereka kekuasaan tertinggi di tangan rakyat, padahal semestinya menurut aqidah, kekuasaan tertinggi di tangan Allah. Jelas sistem Demokrasi yang merupakan sumber pelaksanaan pemilu adalah sistem musyrik karena menjadi tandingan bagi Allah SWT. Namun demikian, kelompok ini mewajibkan untuk tetap tunduk taat kepada penguasa, meski penguasa tersebut dihasilkan dari sistem demokrasi yang bathil tersebut. Ada kesan tidak konsisten dalam pendirian kelompok ini. Kelompok yang satu ini diwakili oleh kaum “salafy”.

Ada sinyalemen bahwa pendapat ini dilatar belakangi oleh situasi politik di Arab Saudi yang disebut-sebut sebagai negeri salafy. Di sana, pemilu merupakan hal yang mustahil. Kekuasaan berada di tangan kerajaan, dimana kepemimpinan merupakan warisan turun temurun dinasti Saud. Jadi, meski mengaku pengkut salafusshalih, sistem pemerintahan negeri yang terdapat Haramain ini tidaklah seperti yang dilakukan pada jaman Nabi dan Khulafaurrasyidin.

Golongan kedua, yang juga mengharamkan pemilu. Namun kalangan ini tidak hanya mengharamkan pemilu sebagai ‘anak kandung’ dari sistem demokrasi, mereka juga tak mengakui keabsahan kepemimpinan hasil demokrasi tersebut. Prinsip mereka, sesuatu yang dicapai dengan jalan haram alias bathil, maka produknyapun adalah produk bathil.

Lebih-lebih bila pemerintah tersebut tidak menerapkan syari’at Islam sebagai aturan tertinggi dari Allah SWT. Maka pemerintahan seperti ini merupakan thogut, karena menerapkan sistem kufur. Mereka selalu berjuang menegakkan kekhalifahan sebagaimana ‘manhaj nubuwah” (metode kenabian).

Kalaupun dalam prakteknya menerima aturan negara, itu semata karena keterpaksaan, karena kita belum mampu menegakkan Khilafah. Pokoknya pemerintah demokrasi adalah thaghut. Kelompok ini kebanyakan juga ‘mengkafirkan’ pemerintah yang tak menegakkan syari’at sehingga mereka dicap KHAWARIJ oleh golongan pertama di atas.

Golongan ketiga, adalah yang menganggap demokrasi dan pemilunya hanyalah perkara waqi’ (kekinian) dan bukan masuk dalam konteks aqidah, sehingga cara apapun tidak masalah asalkan terpilih pemimpin yang memenuhi kriteria kesalehan dan keadian. Maka nggak ada masalah dengan demokrasi. Argumen mereka, mau demokrasi, kerajaan, atau lainnya, toh tetap juga tidak sesuai dengan kekhilafahan ala manhaj Nabi.

Golongan inilah yang dikuti oleh kebanyakan (?) umat Islam Indonesia, dan mungkin termasuk MUI. Golput bagi kelompok ini adalah bentuk ketidak-pedulian umat pada kepentingan bangsa karena sama saja tidak berpartisipasi memilih pemimpin yang terbaik. Menurut kelompok ini, memilih pemimpin, apapun caranya adalah kewajiban dan umat Islam wajib berperan serta. Kalau tidak mau, berarti tidak peduli dengan nasib umat ini.

“Karena hanya sebagai alat, demokrasi harap dipandang sebagai sesuatu yang mubah namun diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas.” Demikian pendapat mereka.

Golongan keempat, adalah mereka yang berpaham tidak Islami. Mereka sejatinya pendukung demokrasi namun menyerukan Golput. Bukan karena menganggap ikut pemilu wajib, tapi karena menganggap pemilu belum mampu menyalurkan aspirasi dan kepentingan mereka. “Semua calon yang ada tidak bagus, nggak berkompeten menjadi pemimpin.” Ujar mereka. Namun kelompok ini akan segera berubah 180 derajat bila tokoh pujaannya masuk dalam bursa pencalonan.

Golongan terakhir, adalah golongan yang masa bodoh. Ini golongan yang tak punya pendirian apa-apa soal pemilu. Pokoknya yang penting bisa hidup damai, tidak ada kerusuhan, bisa bekerja dengan tenang. Kalo sempat ya ‘nyoblos’, kalo nggak sempat atau lagi ada keperluan lain, ya nggak usah dipaksakan pergi ke TPS.

Meski punya pendapat pribadi, saya tidak hendak menggiring, apalagi memaksa pembaca sekalian untuk mengikuti pendapat yang mana. Saya juga tak punya kapasitas buat memvonis pendapat siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang penting, bagaimana kita mengikut pendapat dengan benar-benar mengkaji dan memahaminya, tidak karena kefanatikan terhadap syaikh, ustadz atau siapapun. Kefanatikan, dan mengikut tanpa pembahasan hanya berlaku saat kita mengikut Allah dan Rasul-Nya. Saat kita dihadapkan kepada Al-Qur’an dan Assunnah secara gamblang. Ketika permasalahan tersebut memerlukan interpretasi dan penafsiran, disinilah kita harus menggunakan akal dan perangkat ilmu-ilmu agama dalam menentukan pilihan. Mau berpendapat sendiri? Silahkan, jika modal dan sarana untuk menjadi mujtahid ada pada diri kita. Jika belum punya? Tidak ada salahnya mengikut pendapat yang kita anggap paling mendekati kebenaran.

Jika ini sudah terjadi? Sampailah kita pada kalimat: LANA A’MALUNA WA LAKUM A’MALUKUM. Yang penting jangan katakan… LAKUM DIINUKUM WA LIYADIIN pada saudara sesama Muslim.

Bumi Kalimantan, 30 Januari 2009

Abu Muhammad Al Burniu (AMB).

Catatan editor:

Hih, penulis ini mau nyama-nyamain aja. Disini ditulis AMB lagi! Jadi ingat jaman Orde Baru dulu ada AMB (ABRI Masuk Besa). Eh, yang betul AMB apa AMD ya? Coba kita tanyakan ke Al Burniu. Mana yang valid ustadz?

Iklan

4 Responses to Golput Haram atau Wajib…?

  1. Sarjono berkata:

    Assalamungalaikum WW.

    Ulasannya Bagus sekali, Tapi tetep menggiring saya untuk membenci sesuatu yaitu membenci Golongan keempat. Maaf, terpaksa banget sih.

  2. mokhammad dody erlangga berkata:

    mas saya minta izin ngambil sumber ini sebagai tugas sekolah saya , rencana akan dipresentasikan di sekolah
    trima kasih

  3. abisyakir berkata:

    Iya silakan, moga bermanfaat. Amin. AMW.

  4. dir88gun berkata:

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: