Pemikiran Politik Salafi (Bagian 1)

Pengantar

Saya telah menulis artikel di blog ini tulisan berjudul “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah”. Tujuan penulisan ini ialah untuk mengecam sikap diam negara-negara Arab besar terhadap agressi Israel ke Ghaza Palestina. Mereka memiliki kekuatan besar tetapi tidak dipakai untuk menolong sesama Muslim. Malah mereka menolak sanksi berat terhadap Israel. Apa yang mereka lakukan adalah kezhaliman yang nyata terhadap kehidupan kaum Muslimin. Di sisi lain, tulisan itu dimaksudkan untuk menegakkan kebenaran, tanpa pandang bulu. Jika Mesir dan Saudi bersikap zhalim dengan diamnya, tidak perlu ditutup-tutupi atau berusaha “selalu diselamatkan”. Kebenaran lebih penting dari apapun.

Kemudian muncul tanggapan-tanggapan, alhamdulillah atas segala nikmat Allah. Salah satu tanggapan muncul dari Abu Ammar, seorang Salafi dari Karawang. Tanggapannya masuk blog ini pada 28 Januari 2009. Abu Ammar menulis komentar panjang atas artikel di atas, sekitar 25 halaman HVS. Disini saya muat tulisan original beliau, setelah saya keluarkan tulisan saya darinya. Tulisan dibiarkan seperti semula, kecuali untuk hal-hal tertentu yang perlu diperbaiki. Untuk catatan kaki di bagian tulisan tentang Abu Muhammad Al Maqdisi sengaja ditiadakan, biar tidak semakin membuat ruwet susunan tulisan. Kalau Pembaca mau tahu tulisan aslinya, lengkap, tanpa pemotongan apapun, silakan lihat komentar Abu Ammar pada artikel “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah”.

Tulisan Abu Ammar langsung saya tanggapi. Tetapi karena sangat panjang, maka saya tanggapan ini dalam beberapa seri. Mohon dimaklumi! Hal ini juga sebagai pelajaran untuk selanjutnya. Siapapun yang keberatan dengan isi tulisan dalam blog abisyakir.wordpress.com, boleh mengirimkan tulisan tanggapan. Tetapi sebaiknya tulisannya jangan terlalu panjang biar tidak menyulitkan. Setidaknya seimbang dengan artikel asli yang ditanggapi. Dan tulisan tanggapan itu tidak akan langsung diberi tanggapan balik, kecuali untuk tema-tema seputar Salafiyyah. Dalam kaitan dengan tanggapan Abu Ammar ini, sengaja saya bersabar mengikuti runutan masalahnya, meskipun berpanjang-panjang. Tujuannya, untuk memberikan wawasan penting kepada Pembaca, bi rahmatillah. Maka itu mohon materi diskusi ini dibaca baik-baik, kalau perlu dikopi ke data pribadi. Insya Allah disini ada wawasan yang layak disimak. Walhamdulillah.

Bukan sekali dua kali saya berdiskusi dengan Salafiyun. Kadang dalam suasana santun, kadang tensi tinggi, sampai suasana keras. Secara umum, argumentasi-argumentasi Salafiyun rata-rata sewarna. Dari satu alasan ke alasan lain, cenderung sama. (Tetapi dimaklumi saja, di kalangan Ummat Islam, kelompok apapun, metode “copy paste” itu sudah populer). Poin-poin pemikiran yang disampaikan Abu Ammar hampir-hampir mewakili sikap politik Salafi selama ini. Di dalamnya terhimpun pemikiran-pemikiran khas Salafiyun. Oleh karena itu, disini ia diberi title “Pemikiran Politik Salafi”.

Secara teknis, bantahan Abu Ammar saya letakkan di topik “Masalah” dengan nomer urut tertentu, lalu komentar saya diletakkan di “Catatan AMW”. Hampir seluruh isi tulisan Abu Ammar dibahas disini. Satu hal yang ingin ditekankan disini; Abu Ammar menuduh saya tidak memiliki rasa takut sama sekali kepada Allah. Nah, nanti Pembaca silakan pahami, siapa yang sebenarnya tidak memiliki rasa takut itu? Akhirnya, selamat menyimak, semoga bermanfaat! Amin. Dengan memohon pertolongan Allah, mari kita mulai diskusi ini:…

Masalah 1

Alhamdulillah segala puji hanya milik Alloh azza wa jalla, kepada-Nya kita memuji dan memohon pertolongan. Kepada-Nya kita memohon ampunan dan berlindung dari kejelekan jiwa dan rusaknya amal. Barangsiapa yang dikehendaki Alloh mendapat petunjuk, maka tak seorang pun mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tak seorang pun yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk diibadahi, kecuali Alloh Ta’ala semata, dan Muhammad shallallahu ’alaihi wa salam adalah hamba dan utusan-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasululloh shallallahu ’alaihi wa salam, kepada keluarganya, sahabat serta semua umat beliau yang mengikutinya dengan kebaikan hingga Alloh mendatangkan keputusan-Nya.

Sebelumnya sebagai informasi. Saya mendapat kiriman email dari teman. Yang saya lihat dia hanya mem-forward saja. Ternyata pengirim pertama adalah saudara AM. Waskito. dan dia sebenarnya juga hanya mengambil tulisan tersebut dari tulisan di abisyakir.worpress.com sehingga saya pun berkenginan mengomentari tulisan tersebut. Saya juga telah mengirimkan tulisan saya ini kepada pengirim email pertama. Semoga bermanfaat…

Catatan AMW 1:

Sebenarnya asal tulisan itu ada di blog abisyakir.wordpress.com ini. Saya tidak pernah menyebarkan tulisan berjudul “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah” itu via e-mail. Kalaupun ada, swaramuslim.com mempublikasikan kembali tulisan dari blog abisyakir ini. [Selesai].


Masalah 2

Penindasan yang dilakukan Yahudi La’natulloh terhadap saudara2 muslim kita di Palestina mengundang perhatian seluruh dunia. Bukan hanya dari kalangan muslim saja. Orang2 kafir pun turut andil dalam menyuarakan penentangannya terhadap tindakan Yahudi tersebut. Begitu juga dengan kaum muslimin di negeri kita. Semua lapisan masyarakat dari anak2 hingga orang tua. Semua menyuarakan pendapatnya tentang tindakan apa yang mestinya dilakukan. Bahkan pendapat tadi bukan wacana belaka, kesiapan jiwa dan harta mereka demi menyelamatkan Palestina siap dipertaruhkan.

Fenomena ini sangat menggembirakan, menandakan kecemburuan kaum muslimin terhadap agama dan saudara-saudaranya. Akan tetapi, ketika semua hal tadi tidak dilandasi dg ilmu yang benar, maka membuahkan sikap dan tindakan yang bertentangan dengan Islam. Bagaimana tidak, masing2 orang memiliki tingkat keilmuan yang berbeda. Akhirnya membuahkan bermacam pendapat yang saling kontadiksi antara satu kelompok dgn lainnya. Bahkan hingga mereka memberikan penilaian terhadap kebijakan yang diambil pemimpin2 negeri muslim. Yang kemudian beralih menjadi celaan dan hujatan melalui aksi demonstrasi yang digelar.

Catatan AMW 2:

Sejak lama Salafiyun mengklaim dirinya paling tahu ilmu, paling tahu kebenaran. Semua orang di luar kelompoknya dianggap jahil. Hanya mereka saja yang mengetahui kebenaran. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Semua itu adalah satu bukti kesesatan mereka, yaitu arogansi (kesombongan). Di tangan mereka seolah sudah terhampar kebenaran hakiki, sementara yang menyelisihi mereka dianggap sesat atau ahli bid’ah. Dalam masa yang panjang Salafiyun seolah berdiri di atas maqam Nubuwwah, merasa sudah pasti kebenaran bersamanya. Sekali lagi ini adalah sikap takabbur yang menandakan kesesatan suatu kaum. Na’udzubillah wa na’udzubilah minad dhalal. [Selesai].

Masalah 3

Tak ketinggalan pula, moncong senapan Hizbiyyun, berupa tuduhan dusta dan fitnah yang keji mengarah kepada Salafiyun. Mereka menebar syubhat dan kebatilan untuk memadamkan dakwah yang penuh barokah ini. Tidak aneh… musuh2 dakwah tauhid ini terus akan menghadang. Berikut saya mencoba untuk mengomentari salah satu contohnya. Dan saya sertakan jawaban atas tuduhan dusta yang dilontarkan dengan tanpa rasa takut kepada Alloh ta’ala sedikitpun. Apakah mereka mengira bahwa Alloh azza wa jalla akan lupa terhadapnya. Apakah mereka yang turut menyebarkan tuduhan dusta ini tidak takut kepada-Nya. Mereka ramai2 menelan mentah2 setiap berita tuduhan tadi, apa yang menurut hawa nafsunya cocok. Yang penting bersatu memusuhi Salafiyun yang selama ini bersikap ”keras” kepada kesesatan mereka. Berikut ini salah satu contoh tulisan mereka, “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah”. Oleh Abi Waskito 18 Januari 2009 – 5:37 pm.

Catatan AMW 3:

Benar, bahwa tulisan yang menjadi landasan Abu Ammar ini berasal dari swaramuslim.com. Nama Abi Waskito memang saya buat ketika waktu itu ingin kontribusi di swaramuslim.com. Teman-teman swaramuslim.com sering menyertakan foto-foto. Nah, itu foto-foto dari mereka, lho. Saya rata-rata kontribusi materi tulisan saja, mereka menambahkan foto-foto yang relevan.

Pemikiran semodel Abu Ammar ini sudah sangat khas. Saya tidak merasa heran. Akar manhaj mereka, sekaligus akar kesesatan mereka, adalah klaim bahwa kelompoknya merupakan kalangan paling benar, selainnya bathil. Kalau kita menyelisihi mereka, seketika disebut “hizbiyyun”, “musuh dakwh Tauhid”, mau memadamkan dakwah, tidak takut kepada Allah sama sekali, dll.

Seolah kita ini (minimal saya) seperti orang kafir yang dianggap “musuh dakwah Tauhid”. Ya, terserah Anda! Anda mau menyebut musuh dakwah, musuh Tauhid, musuh Sunnah, dan seterusnya, itu urusan Anda dengan Allah.

Kalau soal takut kepada Allah, siapa yang tidak takut kepada-Nya? Justru saya merasa heran, apa kalian tidak takut kalau nanti ditanya oleh Allah tentang tanggung-jawab kalian terhadap nasib kaum Muslimin? Kalau orang Indonesia tidak bisa membantu bangsa Muslim Palestina, masih dimaklumi. Posisi negara kita jauh dari mereka. Lha, ini Saudi, Mesir, Yordania. Mereka semua tetangga Palestina. Setiap tetes darah Muslim yang terzhalimi Yahudi di Palestina, maka orang-orang zhalim di ketiga negara itu kelak ikut bertanggung-jawab. Dan tentu saja, Salafi yang membenarkan saja kezhaliman penguasa-penguasa Arab, meskipun akibatnya penderitan berat menimpa kaum Muslimin, mereka juga ikut bertanggung-jawab. Wal ‘iyadzubillah. [Selesai].

Masalah 4

Lihatlah wahai saudaraku…. penulis ini bisa mengetahui sikap pemimpin2 negeri tersebut. Dengan mengatakan bahwa mereka ”ridha menjadi sekutu Israel laknatullah ’alaihim”. Bukankah ridha itu perbuatan hati, yang tidak akan mengetahuinya kecuali Alloh ta’ala. Apakah sang penulis ini sadar dengan apa yang telah ditulisnya.???

Saudaraku… Ketika ada orang yang mendapatkan tekanan dan ancaman untuk dibunuh jika tidak mau utk murtad. Kemudian ia mengatakan dengan lisannya bahwa ia bersedia murtad. Tetapi selama hatinya tidak mengatakan demikian Alloh azza wa jalla masih mengampuninya. Perbuatan ridho itu adalah wewenang hati. Dari sanalah Alloh azza wa jalla menilai amalan seseorang. Apakah niatnya ikhlas atau terpaksa… Apakah sang penulis ini sudah menanyakannya… Ataukah ia memiliki ilmu utk melihat apa yang terbersit di hati manusia???

Catatan AMW 4:

Kata “ridha” dalam kalimat yang saya tulis itu sebenarnya konteksnya bahasa jurnalistik. Ia tidak perlu dipahami sebagai bahasa “hakiki”. Kasus yang dibahas aktual, politik luar negeri, ditulis di media; jadi wajar jika memakai pendekatan jurnalistik. Tapi sepertinya jawaban seperti ini susah untuk dipahami kaum Salafi.

Katakanlah, kata “ridha” itu bermakna hakiki. Antara kata dan makna, terdapat kaitan yang kuat, tidak ada unsur kesamaran lagi.

Untuk mengetahui apakah Mesir dan Saudi ridha menjadi sekutu Israel, kita tidak perlu membedahi dada-dada mereka, lalu melihat hatinya. Semua itu tidak perlu, lagi pula tidak mungkin. Cukuplah, lihat apa yang dilakukan Pemerintah Mesir dan Saudi, hal itu menjadi bukti yang tidak membutuhkan pengakuan lisan lagi. Seperti kata ungkapan, “Sikap zhahir itu merupakan alamat batin.” Jadi, kita tidak perlu nebak-nebak hati orang. Cukup lihat saja apa yang mereka perbuat! Itu sudah menjadi bukti. Adapun soal hati mereka apakah ridha, benci, takut, terpaksa, dan lainnya, itu urusan mereka dengan Allah.

Prinsip yang berlaku dalam Islam itu, menghukumi manusia sesuai kenyataan zhahir yang terlihat. Adapun urusan batin, itu diserahkan kepada Allah. Anda tidak pelu susah-payah membaca hati orang. Maka itu Nabi Saw pernah menerima taubat orang-orang munafik yang tidak ikut dalam Perang Tabuk, Nabi memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka, lalu menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah (HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik Ra).

Kalau menghukumi manusia selalu bersandar ke batin seseorang, akan terjadi kerusakan besar di muka bumi. Sebagai contoh, dalam Tragedi Ghaza, bisa saja Ehud Olmert atau Shimon Perez akan berdalih: “Apa Anda tahu hati kami? Siapa tahu hati kami sebenarnya cinta orang Palestina? Bisa saja, kami bunuhi anak-anak Palestina itu dengan tujuan untuk meringankan beban Hamas, agar tidak perlu membiayai hidup mereka. Apakah Anda sudah membedah dada-dada kami? Apakah Anda sudah membaca isi hati kami?” Dan semua ahli kebathilan di muka bumi bisa berdalil dengan cara yang sama. Nas’alullah al ‘afiyah. [Selesai].

Masalah 5


Penulis telah mengatakan dengan jujur dan ia telah menyadarinya, bahwa keadaan kaum muslimin saat ini yang menjadi bulan-bulanan org2 kafir.
Akan tetapi sayangnya ia tidak mencoba menganalisa apa yang menjadi penyebabnya. Penulis rupanya menganggap semua ini disebabkan karena tidak adanya sistem yang kokoh sebagai atap, untuk menjadi pelindung dan pengayomnya. Apakah penulis telah lupa dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Maka ketahuilah wahai saudaraku, sebenar-benarnya perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak berucap berdasarkan hawa nafsunya. Melainkan setiap apa yang beliau ucapkan adalah wahyu dari Alloh. Alloh azza wa jalla berfirman: ”Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm :3-4).


Wahai penulis…. ketahuilah !!! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang : Apakah karena sedikitnya kami waktu itu ? Beliau bersabda : Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, apakah wahn itu ? Beliau bersabda : Mencintai dunia dan takut mati.”
[Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hailah]. Inilah jawaban dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap semua penyebab yang terjadi saat ini.

Padahal pada mulanya Allah azza wa jalla menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya: “Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah, dimana Allah belum pernah menurunkan satu alasanpun tentangnya”. [Ali-Imran: 151]. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku : Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan ; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud; …. dan seterusnya “. [HR. Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu].


Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Kini, rasa takut di hati musuh2 Islam terhadap kaum muslimin telah diangkat Allah Ta’ala sebagai akibat dari rusaknya keyakinan dan buruknya pemahaman terhadap agama ini. Keadaan kaum muslimin yang lalai terhadap akhiratnya, mengakibatkan mereka mendapati malapetaka besar seperti saat ini. Kebodohan terhadap perkara agama ini, menyebabkan merajalela berbagai pelanggaran syari’at. Syirik & khurofat mendarah daging di tubuh umat. Mereka beramal bukan dengan tuntunan Islam, melainkan dengan ajaran dan keyakinan rusak yang telah dianggap sebagai agama. Maka muncullah bid’ah-bid’ah dalam agama ini.


Inilah penyebab utama dari apa yang terjadi. Bukan karena tidak adanya pelindung dan pengayom seperti yang diungkapkan penulis di atas. Karena sistem kokoh sebagai pengayom akan terwujud jika syarat2 untuk menghantarkan kepadanya terpenuhi.

Catatan AMW 5:

Ini adalah satu bukti lain tentang kesesatan firqoh Salafi. Ayat dan hadits yang disampaikan di atas insya Allah kita terima dan imani, hanya cara menempatkannya yang seringkali keliru.

Dari sekian panjang mempelajari masalah ini, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan, bahwa ISLAM TIDAK BISA DIPISAHKAN DARI SISTEM NEGARA. Ini adalah kesimpulan besar setelah melakukan telaah sedemikian panjang.

Lihatlah bagaimana sikap Shahabat Ra ketika Nabi Saw wafat? Adakah musibah yang lebih besar setelah Nabi wafat? Namun para Shahabat tidak segera menyelesaikan urusan jenazah Nabi. Mereka malah berselisih di Saqifah Bani Sa’idah, untuk menentukan siapa pemimpin pengganti Nabi selanjutnya? Sampai akhirnya, mereka memilih Abu Bakar As Shiddiq Ra. Semua itu memberi gambaran, betapa besarnya perhatian Shahabat terhadap kelangsungan urusan negara. Mereka menunda urusan mengurus jenazah Nabi sampai jelas kelangsungan hidup negara Islam Madinah. Tidak heran jika dalam Siyasah Syar’iyyah, Ibnu Taimiyyah menyebut sebuah riwayat yang berbunyi, “60 tahun di bawah pemimpin yang jahat lebih baik daripada semalam tanpa pemimpin.” Itu membuktikan, bahwa masalah negara itu amat sangat penting bagi kelangsungan hidup kaum Muslimin.

Fakta sejarah berbicara, selama ribuan tahun kaum Muslimin hidup dipandu oleh para Khalifah. Islam terlindungi disana. Adapun saat ini, Ummat Islam tidak memiliki pengayom. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk.

Syaikh Al Albani mengemukakan prinsip Tarbiyyah (pembinaan). Ya, tidak disangsikan lagi bahwa Tarbiyyah itu sangat penting. Tetapi jangan karena Tarbiyyah, lalu kita melupakan urusan perlindungan negara terhadap Islam dan kaum Muslimin. Sehebat-hebatnya profesor ahli Tarbiyyah, atau sehebat-hebatnya Ma’had atau Ja’miah Islamiyyah, jika negara tidak melindungi hasil-hasil Tarbiyyah itu, lama-lama ia akan hancur juga. Sebaliknya, sejelek-jeleknya ustadz pengajar, sejelek-jeleknya metode pengajaran, tetapi kalau negara memaksa rakyatnya ikut Tarbiyyah, maka tidak ada satu pun yang bisa menolak.

Seperti disebut oleh Abu Ammar itu sendiri. Dia mengatakan, Ummat Islam saat ini jauh dari pemahaman Islam yang benar, akidahnya hancur, kebodohan, khurafat, syirik, dan lainnya merajalela. Hai Abu Ammar, semua kehancuran itu telah kamu sebutkan, bukankah ia terjadi karena negara diam saja terhadap rakyatnya? Negara tidak memiliki tanggung-jawab untuk memperbaiki keimanan, kesadaran, dan keilmuan rakyatnya. Rakyat disuruh usaha sendiri, membina dirinya sendiri, dengan kekuatan swasta, seadanya yang bisa dilakukan. Andai negara mau memikul tanggung-jawab melakukan Tarbiyyah ini, insya Allah kehancuran yang kamu katakan itu tidak akan terjadi. Cobalah mengaca diri!

Orang-orang berakal pasti memahami, betapa bodohnya seorang petani ketika dia telah memilih bibit tanaman terbaik, menerapkan teknik bertanam terbaik, memberi pupuk terbaik, memberi air terbaik, dan lainnya. Pendek kata, semua teknik “Tarbiyyah” terbaik telah dia tempuh. Tetapi satu kekurangan petani itu, dia tidak melindungi tanamannya dari hama, penyakit, binatang ternak, atau tangan-tangan jahil. Hanya menanam, tanpa melindungi adalah kebodohan besar. Sedangkan sistem negara adalah pelindung kehidupan kaum Muslimin. [Selesai].

Masalah 6


Dan ini adalah janji Alloh Ta’ala. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur : 55).

Saudaraku… ketahuilah!! Alloh azza wa jalla telah berjanji kepada org2 beriman dan beramal sholih utk menjadikan mereka penguasa di bumi dan mengangkat semua bencana ini dengan syarat seperti yang tersebut di muka. Lantas pertanyaannya, apakah jika amalan kaum muslimin itu tidak sesuai dengan tuntunan sang pembawa risalah, yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa disebut amal sholih??? Apakah jika amalan kaum muslimin itu dilakukan tidak dengan ikhlas karena Alloh maka disebut amal yang sholih??? Cam kan semua ini…. Lalu apa yang akan engkau perbuat jika demikian???


Catatan AMW 6:

Ya, alhamdulillah kita beriman kepada Kitabullah dan Sunnah shahihah. Khususnya disini Surat An Nuur ayat 55. Tidak ada keraguan tentang janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang Mukmin dan shalih.

Hanya masalahnya, Salafiyun sering ghuluw ketika menafsirkan ayat tersebut. Mereka tidak memahaminya sebagaimana Nabi dan Shahabat memahaminya. Bukti sederhananya, dalam perjuangan Nabi, sejak di Makkah, yang katanya “periode akidah” itu, Nabi dan para Shahabat telah mengalami dinamika luar biasa. Berkali-kali Nabi hendak dibunuh oleh kafir Makkah; Nabi dicemooh, dihina, dikata-katai dengan perkataan menghina; para Shahabat banyak yang disiksa sampai ada yang wafat sebagai syahid; mereka ada yang hijrah menyelamatkan diri; bahkan pernah Nabi, Shahabat, dan Bani Hasyim 3 tahun diboikot oleh kafir Makkah. Nabi yakin dengan Surat An Nuur 55 itu, bahkan yakin seyakin-yakinnya. Namun, hal itu tidak membuat beliau surut dari perjuangan. Berbagai kegetiran perjuangan mereka alami, sampai disebutkan dalam Surat Al Baqarah 214, bahwa Nabi dan Shahabat mengalami cobaan berat, sampai mereka berkata, “Mata nashrullah” (kapan datangnya pertolongan Allah?). Ini menunjukkan bahwa mereka telah mengalami cobaan perjuangan luar biasa.

Adapun kalau melihat Salafi hari ini. Mereka sepanjang waktu lebih banyak duduk-duduk di majlis taklim, katanya “mengkaji ilmu”. Mereka memisahkan diri dari urusan masyarakat; tidak mau berbicara problema-problema sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Di mata mereka, hari-hari isinya hanya “ngaji kitab”. Kalau ada aktivis-aktivis Islam mengalami cobaan dalam perjuangan, mereka cela dengan perkataan: “Mereka tergesa-gesa. Mereka Khawarij, hizbiyyah, jahil ilmu, jauh dari ulama, dan sebagainya.” Mulut mereka berbisa ketika mengomentari usaha-usaha dakwah kaum Muslimin lainnya.

Salafi meyakini bahwa dengan cara duduk-duduk di majlis taklim itu, nanti Kebangkitan Islam akan muncul dengan sendirinya. Laa ilaha illallah. Nabi saja berjuang luar biasa, sampai diusir dari Kota Thaif, merasakan berbagai cobaan luar biasa. Nah, ini katanya pengikut Nabi, tapi pekerjaan utama hanya duduk-duduk di majlis taklim? Sikap Salafi itu lebih cocok dengan perbuatan orang-orang Jabbariyyah yang bersikap fatalis. Mereka enggan berjuang, lebih banyak pasrah kepada takdir. Bahkan seperti Bani Israil yang rajin mengumpulkan ilmu, tetapi tidak mau menegakkannya dalam kenyataan.

Saya terus terang merasa berat ketika mendengar nasehat Ibnu Taimiyyah, bahwa mengumpulkan ilmu-ilmu itu bisa menjadi kebaikan, tetapi juga bisa menyulitkan hisab kita nanti, jika tidak diamalkan. Ya Rabbi ya Rahmaan, kasihi kami, ampuni kami, jangan Engkau menghukum kami karena kelemahan kami. Amin Allahumma amin. [Selesai].

Masalah 7


Beginikah sikap mu wahai penulis??? Ketika mendapat nasehat yang sangat berharga agar lidahmu tidak terjerumus ke dalam kesalahan, karena menggelari Isroil dengan laknatulloh. Padahal Isroil itu seorang Nabiulloh. Inilah sebuah bentuk kesombongan yang nyata, menolak kebenaran secara membabi buta. Engkau justru menuduh salafi menyebarkan pemahaman sesat yang merusak ummat. Naudzubillah!!


Siapa sebenarnya yang merusak ummat??? Beginikah dakwah kalian??? Bersihkan kebencian di hatimu agar engkau bisa memandang jernih dan memahaminya dengan baik. Penisbatan Yahudi kepada Israil merupakan kekeliruan yang nyata adanya. Tetapi ketika datang penjelasan kepadamu atas ketergelinciran lidahmu, justru engkau berbalik menuduh bahwa dakwah salafi merusak pemahaman ummat.

Catatan AMW 7:

Adapun ini adalah contoh lain tentang kebodohan Salafi. Ini adalah kebodohan serius yang orang-orang kafir saja tidak terjerumus kepadanya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Saat Anda mengatakan, “Israel laknatullah”, pernahkah Anda meniatkan dalam hati untuk melaknat Nabi Ya’qub (Isra’ila) ‘alaihissalam? Atau pernahkah terbetik di hati Anda untuk mengutuk Nabi yang dimuliakan Allah itu? Jika hati Anda meniatkan demikian, jelas Anda telah melakukan perbuatan kekafiran. Itu tidak diragukan lagi.

Kita tidak berdosa mengutuk negara Israel karena kezhaliman-kezhaliman mereka, atau karena kekafiran mereka. Allah Maha Tahu niat kita di hati. Seperti kata Nabi Saw, “Innamal a’malu bin niyat, wa li kulli imri’in maa nawa” (Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan bagi setiap orang akan mendapat sesuai niatnya). (HR. Bukhari Muslim).

Israel di mata kita adalah sebuah negara, bukan nama seorang Nabi. Ia adalah negara definitif yang sangat dikenal oleh manusia sedunia, baik di Timur maupun Barat. Negara itu lahir tahun 1948, merampas wilayah Muslim Palestina, beribukota Tel Aviv, dan dihuni mayoritas Yahudi dari berbagai asal negara. Ia adalah salah satu nama negara dalam daftar negara-negara anggota PBB. Ia bukan nama seorang Nabi sebagaimana sifat-sifatnya dikenal dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Betapa bodohnya manusia ketika seseorang bermaksud mengutuk negara Israel yang sangat zhalim, tetapi dia dipersalahkan karena mengutuk nama Nabi Ya’qub yang nama lainnya adalah Israil. Apa hubungannya Nabi Ya’qub dengan semua kezhaliman Yahudi itu? Apakah Yahudi yang berbuat zhalim, lalu kita melaknati Nabi Ya’qub? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Semua orang tahu tentang negara Israel ini, termasuk bocah-bocah kecil di SD. Baik Muslim maupun non Muslim tahu hakikat itu. Saat kita bicara tentang Israel, maka tidak satu pun yang mengaitkannya dengan Nabi Ya’qub As. Kalaupun kemudian nama Nabi Ya’qub dibawa-bawa oleh Yahudi, itu bukan urusan kita; itu urusan mereka dengan Allah. Apapun yang menyangkut pelanggaran terhadap hak-hak Nabi Ya’qub, itu urusan Yahudi dengan Allah. Kita tidak ikut campur urusan mereka. Andai negara Yahudi yang zhalim itu menamakan dirinya “donat”, “tahu”, atau “rempeyek”, maka kita akan mengutuk nama itu. Tentu maksud kita bukan mengutuk nama makanan (rizki Allah), tetapi mengutuk negara zhalim yang kebetulan memakai nama makanan tersebut.

Kalau ada seseorang bernama Ibrahim, Yusuf, Muhammad, Musa, dll. tetapi perilakunya sangat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga layak dikutuk. Apakah ketika kita mengutuk perbuatan orang itu, lalu kita dianggap mengutuk nama-nama Nabi yang mulia ‘alaihiusssalam itu? Saya kira, orang-orang yang masih waras pikirannya bisa memahami perkara ini.

Contoh, ada orang namanya Muso. Dia tokoh pemberontak PKI Madiun. Kalau Anda mengutuk dia, tentu bukan maksudnya mengutuk Nabi Musa ‘alaihissalam. Atau misalnya ada Mirza Ghulam Ahmad, pendiri sekte Ahmadiyyah. Ketika dia dikutuk, tentu maksudnya bukan mengutuk Nabi Ahmad (Muhammad) Saw. Begitu pula kalau Anda mengutuk Ahmadiyyah, Anda tidak akan dituduh mengutuk Nabi Saw. Sebab orang paham apa yang Anda maksudkan.

Kekacauan pemahaman ini baru terjadi ketika muncul pendapat-pendapat aneh dari kaum “Zhahiri”. Mereka melihat masalah dengan metode hantam kromo. Sekali waktu mereka mencecar kita karena mengutuk negara Israel yang zhalim; di waktu lain mereka menyerang habis-habisan Muhammad bin Surur, padahal nama dia adalah Muhammad, seperti nama Nabi kita.

Kalau ditanya, “Mengapa Salafi masuk sedemikian jauh dalam hal-hal remeh seperti ini, sementara mereka mengabaikan perkara-perkara besar di depan matanya?” Saya menduga, wallahu a’lam bisshawwab, mereka sudah terlalu mendengki gerakan-gerakan Islam, khususnya Ikhwanul Muslimin. Apapun yang diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Islam, mereka berusaha mencela atau membodoh-bodohkannya. Aneh ya, kok ada sekelompok kaum yang sepanjang hidupnya dibaktikan untuk memusuhi sesama Muslim? Nas’alullah al ‘afiyah. [Selesai].

Masalah 8

Berikut ini kami sampaikan penjelasan mengenai perbedaan ini, menurut pandangan Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman. Tersebut di dalam kitab Mu’jam Manahil Lafzhiyah, Darul Ashimah, Cetakan III, Tahun 1413H halaman 93-94.

Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid mengatakan: Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang berjudul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan Nashara Minat Tabdil. Di dalam kitab tersebut terdapat tahqiq yang menyinggung, bahwa Yahudi telah terlepas dari Bani Israil. Yakni sebagaimana terpisahnya Nabi Ibrahim Alaihissalam dari bapaknya, Azar. Kekufuran itu telah memutuskan loyalitas antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, sebagaimana diceritakan dalam kisah antara Nabi Nuh Alaihissalam dengan putranya. Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki Bani Israil pada zaman dahulu, sedikitpun tidak ada yang dimiliki kaum Yahudi. Karenanya, justru penyematan nama Bani Israil untuk menyebut kaum Yahudi, akan menjadikan mereka meraih keutamaan-keutamaan, dan keburukan mereka pun tertutupi. Demikian ini berakibat hilangnya perbedaan antara Bani Israil dengan Yahudi sebagai kaum yang dimurkai Allah Azza wa Jalla dan dihinakan dimanapun mereka berada.

Begitu pula, tidak boleh mengganti nama Nashara menjadi Al-Masihin, yaitu menisbatkan kepada pengikut Nabi Isa Al-Masih. Ini merupakan nama baru yang tidak ada dasarnya dalam sejarah, dan tidak juga dalam perkataan para ulama. Karena orang Nashara telah mengganti dan menyelewengkan kitab Allah Azza wa Jalla, sebagaimana kaum Yahudi telah melakukannya terhada din (agama) Nabi Musa Alaihissalam. Memberi nama kepada mereka dengan Al-Masih, tidak memiliki dasar hujjah. Kepada mereka Allah Azza wa Jalla hanya memberikan nama Nashara, bukan Al-Masihin.

Kemudian, kekufuran kaum Yahudi dan Nashara terhadap syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menjadi musabab penyebutan atas diri mereka sebagai kafir. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” [Al-Bayinnah : 1].

Jadi sesungguhnya, Yahudi adalah nama bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Nabi Musa Alaihissalam. Adapun yang beriman, mereka itulah yang disebut Bani Israil. Karena itu, orang-orang Yahudi (sendiri) merasa tidak senang (jika) disebut dengan nama Yahudi.

Catatan AMW 8:

Kalau mengikuti penjelasan di atas, maka Yahudi bukanlah Bani Israil. Bani Israil mulia, sementara Yahudi durhaka. Tetapi Al Qur’an mengatakan, bahwa tidak semua Bani Israil itu baik. Di antara mereka ada yang dimurkai Allah. Bahkan sejak jaman Musa ‘alaihissalam pun, ada Bani Israil yang dimurkai. Dalam Al Qur’an, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa bin Maryam, yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.” (Al Maa’idah: 78). Jadi yang mengatakan bahwa Bani Israil selalu mulia, ia adalah pendapat salah menurut Kitabullah. Jelas itu! Bahkan dalam kisah Yusuf As., dia harus terlunta-lunta sampai menjadi budak di Mesir, gara-gara perbuatan anak-anak Ya’qub lainnya. Padahal ini keturunan pertama dari Nabi Israil As. Putra-putra Ya’qub itu adalah benar-benar Bani Israil generasi pertama. Lalu lihatlah saat mereka mencela perbuatan Benyamin yang mencuri piala, dan mengatakan bahwa Yusuf pun juga pencuri (Surat Yusuf ayat 77). Ini adalah contoh kekejian Bani Israil generasi pertama. Lalu siapa yang mengatakan, Bani Israil selalu mulia?

Begitu juga dalam tulisan itu dikatakan, bahwa Yahudi adalah nama suatu kaum yang tidak beriman kepada ajaran Musa ‘alaihissalam. Mari kita buktikan menurut Al Qur’an. Disana terdapat ayat yang cukup terkenal, “Sesungguhnya, orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi, dan Nashrani, dan kaum Shabi’in, yang (semua itu) beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan beramal shalih; bagi mereka di sisi Allah ada pahala amal-amal mereka, mereka tidak merasa takut dan bersedih hati.” (Al Baqarah: 62). Jadi, tidak semua Yahudi kafir. Ada di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Salah satu contoh, adalah Abdullah bin Salam Ra, seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam di jaman Nabi di Madinah. Sampai saat ini pun masih ada orang-orang Yahudi yang masuk Islam. [Selesai].

Masalah 9


Adapun Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman menuliskan di catatan kaki kitab beliau, As-Salafiyun wa Qadhiyatu Filasthina, Markaz Baitul Maqdis, Cetakan I, Tahun 1423H, halaman 12-13, sebagai berikut:

Penamaan ini, -yaitu menamakan Yahudi dengan nama Israil- merupakan kemungkaran. Telah meluas di tengah masyarakat di negeri Muslim sebuah perkataan yang berkonotasi celaan “Israil melakukan ini dan itu, dan akan melakukan tindakan ini dan itu”, padahal Israil itu, merupakan salah seorang Rasul Allah (utusan Allah), yaitu Nabi Ya’qub Alaihissalam. Dan beliau Alaihissalam, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan negara yang senang berbuat makar dan keji ini. Antara para nabi dan rasul, sama sekali tidak ada saling waris-mewarisi dengan orang-orang kafir, musuh mereka. Yahudi, sama sekali tidak memiliki hubungan din (agama) dengan Nabi Allah, Israil alaihissalam.

Penamaan seperti ini, memberikan dampak buruk pada pemahaman diri kita. Allah dan para rasul-Nya tidak akan pernah meridhainya, terutama Nabi Israil Alaihissalam. Karena Yahudi adalah kaum kafir dan pembohong. Menyematkan nama ini kepada mereka mengandung pelecehan terhadap Nabi Israil Alaihissalam. Dan yang wajib adalah mencegah penamaan itu.


Dalam Shahih Bukhari no. 3533, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan dan kutukan orang kafir Quraisy dariku. Mereka hanya mencela orang yang tercela, dan mengutuk orang yang tercela. Sedangkan aku, tetap Muhammad (terpuji).”


Dan kewajiban kita –minimal- membuat mereka gusar dengan penyematan nama Yahudi pada mereka, karena mereka membenci nama ini dan senang dengan penisbatan palsu kepada Nabi Ya’qub Alaihissalam. Mereka, sedikitpun tidak mendapatkan keutamaan maupun kemuliaannya.


Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang sudah dicetak di Qathar, tahun 1398H, dengan judul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan Nashara Minat Tabdil. Tentang masalah ini juga, coba lihat Muja’mul Manahil Lafzhiyah (44), karya Syaikh Bakar Abu Zaid, majalah kami Al-Ashalah, Edisi 32, Tahun ke-6, Tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1422H, halaman 54-57, makalah Syaikh Rabi’ bin Hadi, Hukmu Tasmiyati Daulati Yahuda bi Israil. Peringatan dalam masalah ini, juga saya temukan dalam kitab Khurafatu Yahudiyah, karya Ahmad As-Syuqairi, halaman 13-30, dengan judul Lastum Abna-u Ibrahima, Antum Abna-u Iblisa.
[Lihat Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun X/1427H/2006M].

Catatan AMW 9:

Dalam menghukumi sesuatu, kita harus melihat konteks masalahnya. Sebuah kaidah fiqih yang penting, “Al hukmu yadurru ma’a ‘illatihi maujudan au adaman” (penetapan hukum itu tergantung akar masalahnya, ada atau tidak). Contoh pemikiran yang tidak sesuai konteks, dalam Surat Al Maa’un dikatakan, “Fa wailul lil mushallin” (maka celakalah orang-orang yang shalat itu). Lalu ayat ini dipakai untuk melarang manusia menjalankan Shalat. Padahal seharusnya, ayat itu dibaca lebih lengkap, tidak berhenti sampai “mushallin” saja.

Wahai Abu Ammar dan lainnya, apakah ada di hatimu prasangka bahwa ketika kami mengatakan “Israel laknatullah”, maka kamu menyangka bahwa kami sedang mengutuki Nabi Ya’qub As? Coba katakan secara jujur, tidak perlu basa-basi! Adakah prasangka seperti itu? Kalau kamu menyangka kami berbuat seperti itu, berarti kamu telah menyangka kami sebagai orang kafir. Betapa tidak, siapa yang mengutuk seorang Nabi atau Rasul yang mulai, jelas hal itu hanya perbuatan orang kafir saja. Wahai Abu Ammar, apakah kamu menuduh kami sebodoh dan sekafir itu? Ya silakan saja, setiap orang menanggung dosanya masing-masing.

Sungguh, kami tidak pernah mendengki nama Israa’il sebagai Nabi Ya’qub As. Kami hanya marah atas kezhaliman kaum Yahudi yang terus-menerus menzhalimi Ummat Islam dengan segala kedurhakaan mereka. Khususnya kaum Yahudi yang menghuni negara Israel yang beribukota Tel Aviv. (Sungguh, orang-orang kafir pun tertawa melihat perselisihan kita ini. Mereka heran, kok begitu paranoid-nya Ummat Islam, sampai ngurusi masalah penamaan Israel itu?).

Soal kemudian Nabi Ya’qub tidak ridha dengan penamaan negara Israel itu, itu urusan kaum Yahudi dengan Allah. Itu bukan urusan kita. Andai mereka menamai negaranya dengan “donat coklat”, lalu mereka menyebar kerusakan di muka bumi, maka kita akan mengutuki “donat coklat” itu. Meskipun pada saat yang sama, kita masih makan donat coklat. Sebab pangkal masalahnya bukan di nama, tapi perbuatan zhalim orang-orang yang memakai nama itu.

Kemudian ketahuilah wahai Salafiyun, banyak aliran-aliran sesat yang memakai nama-nama bagus, misalnya Ahmadiyyah, Salamullah, Qiyadah Islamiyyah, Al Qur’an Suci, Jamaah Ahlul Bait, dan sebagainya. Nama-namanya mulia, tetapi hakikatnya mereka sesat. Apakah kalian tidak berani mencela mereka karena nama-namanya bagus? Bukankah sesuatu itu tergantung hakikatnya, bukan penamaannya?

Satu lagi Abu Ammar, mohon ini kamu catat dengan tinta setebal-tebalnya. Kalau kurang tebal, datangkan tinta sebanyak yang kamu sanggupi. Nama negara zhalim yang kita kutuk itu adalah: I-S-R-A-E-L. Nama internasional yang diakui dunia adalah ISRAEL. Sementara nama Nabi yang disebutkan dalam Al Qur’an atau Sunnah adalah: I-S-R-O-I-L-A. Kedua nama ini jelas berbeda tulisan dan lafadznya. Bagi kami, alhamdulillah, mudah untuk membedakan Israel dengan Isroil. (Seharusnya, dalam ejaan Arab ditulis nama yang berbeda, misalnya: IS-RO-LA. Ya bisa saja, kalau kita mau. Hanya sayangnya, masyarakat Arab ikut saja penamaan Israel dengan Israila. Kalau ejaan internasional, Israel memang tertulis berbeda dengan Isro-ila).

Mengapa kita tidak akui saja, bahwa ISRAEL itu nama negara; Sementara ISROIL itu nama seorang Nabi? Apa susahnya bagi kita untuk membedakan dua nama itu? Toh, orang Yahudi berbahasa Hebrew, sementara kata Isroil itu istilah yang diterima dalam bahasa Arab. Mungkin Salafi akan mengatakan, “Oh, tidak bisa, tidak bisa. Nama Israel harus disamakan dengan Isroil, meskipun dalam ejaan internasional yang diakui adalah Israel. Pokoknya harus disamakan, biar kami ada bahan untuk nyalah-nyalahkan orang lain. Tahu!” Ya Anda sendiri yang membuat perkara ini menjadi rumit. Sama seperti perilaku kaum durhaka Bani Israil, membuat sesuatu yang mudah menjadi rumit. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Selesai].

(Bersambung ke Bagian 2).

Ardhillah, 31 Januari 2009.

( AM. Waskito ).

Iklan

23 Responses to Pemikiran Politik Salafi (Bagian 1)

  1. abuafzal berkata:

    mantap ustadz, bantahannya sangat gamblang. Hanya orang-orang yg hatinya telah tertutp oleh arogansi sj yg masih ngeyel dengan penjelasan ini.

  2. Abu Rafa berkata:

    Artikel menarik…..
    Kekejaman/kezholiman zionist israel (bukan seluruh bangsa israel) saya pikir itu sudah lumrah, karena memang itulah karakter mereka.
    Cuma yang penting adalah, jangan sampai kita yang muslim mengutuk israel zhalim, tetapi kita menutup mata pada kezhaliman muslimin Indonesia, termasuk para Kyai / Habib – nya.
    Ingat filosofi menunjuk, jika kita……………
    Selengkapnya lihat di :
    http://forum-iqro.blogspot.com
    #Abu Rafa Ibnu Nasuki#

  3. Almanzo P berkata:

    Salafi selama ini merasa paling benar sendiri dalam memahami Islam, mereka memandang diluar kelompok salafi adalah kelompok sesat, ahlul bid’ah, jahil, kelompok tanpa ilmu dan sebutan jelek lainnya.

    Namun kalau melihat fenomena para syuhada di Gaza yang syahid dengan menunggingkan senyum di bibir dan kebahagiaan di aura wajahnya melihat calon rumahnya di surga, padahal mereka-kan bukan dari salafi-wahabi. Maka saya semakin yakin, bahwa klaim salafi yang merasa dirinya paling benar hanyalah angan-angan belaka.

  4. Insan berkata:

    assalamu’alaykum. wr. wb

    sebaiknya dibikin buku saja ustadz. “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak 3, Pemikiran Politik Salafi”, soalnya sangat krusial bagi kaum muslimin yang awam. Dan siapa tau ada manuver politik baru dari komunitas salafi, yang mendapat pencerahan (enlightenment).

  5. abisyakir berkata:

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Wah, saya gak tahu, bisa apa tidak hal itu dilakukan. Wallahu a’lam. Namun kalau memang urgen dan bahannya cukup. Mudah-mudahan bisa direalisasikan. Syukran jazakumullah khair. AMW.

  6. Insan berkata:

    @ abisyakir

    Saya doakan ustadz bisa membuat buku DSDB 3, semoga Allah azza wa jalla senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran. Saya mendukung penuh usaha ustadz.

    Soal ini sangat urgen sekali ustadz, soalnya komunitas salafy selalu mengharamkan demokrasi, politik, parlemen dan demonstrasi menentang kezhaliman dengan melegitimasi perkataan para ulama salafiyin, padahal ini zaman konspirasi, zionis tak akan pernah kehabisan akal untuk menghancurkan umat Islam, salah satunya dengan mempengaruhi para ulama salafiyin, maka keluarlah fatwa2 kontroversial dan memalukan dari para alim ulama yg dibangga2kan komunitas salafy.

    Seperti baru2 ini, fatwa syaikh Shalih Al Luhaidan yang tak lain Ketua Majelis Al Ala li Al Qadha Arab Saudi ini mengatakan, bahwa demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi. Ini sungguh perkataan yang jahat dan memalukan!

    Coba renungkan baik2, dimana letak kerusakan bumi, ketika kita melakukan demontrasi menentang kekejaman Israel atas Gaza? Mengatakan hal itu (pelarangan demonstrasi) sama dengan mengakui penjajahan. Jika demontrasi untuk menghancurkan kemungkaran maka hal itu bukan menciptakan kerusakan di bumi, tapi jusru salah satu upaya yang mendatangkan mashlahat untuk kaum muslimin.(Lihat Swaramuslim)

    Contoh lain manfaat dari demonstrasi ialah, seperti zaman rezim orde baru yang banyak terjadi kasus larangan berjilbab dan diskriminasi terhadap wanita muslimah di setiap institusi pendidikan, perusahaan, dll. Justru para aktivis harakah Islam menentangnya dengan demonstrasi, sampai hari ini efektivitas positifnya luar biasa. Aksi lautan jilbab dari para aktivis akhwat harakah berhasil memberikan kontribusi pengaruh yang signifikan dan fenomenal, bahkan persepsi negatif atas jilbab seperti fanatatisme dan fundamentalisme keagamaan berhasil dikikis habis.

  7. firman hidayat berkata:

    Baca: “Mengenal Al-Imam Al-Mahdi”. Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.

    Di: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=508

    Catatan AMW: Komentarmu ini terlalu panjang Mas. Maaf, hanya saya sebut link-nya saja. Mohon sekali-kali belajar jadi manusia wajar gitu lho. Sudah dibilang kalau membuat komentar jangan terlalu panjang, masih saja terus diulang. Tulisan itu bisa diringkas, sambil disebut sumbernya. Jangan jadi muqallid buta!

  8. firman hidayat berkata:

    Kesesatan Qaradhawi – Kaburkan Salafiyyah dgn Sufiyah
    Penulis: Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini
    Manhaj, 26 April 2004, 04:55:08

    9. Qaradhawi dan As Sufiyah

    Dalam tulisan-tulisan ini aku tidak ingin berbicara tentang pemikiran Sufiyah, baik tentang i’tiqad maupun asal-muasalnya karena persoalan ini telah dibicarakan oleh para ulama Islam yang menjelaskan segala kejelekan As Sufiyah beserta segala musibah, bencana, kesyirikan, bid’ah, khurafat yang ditimbulkannya dari dahulu maupun sekarang.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, Ibnul Qayyim serta ulama-ulama setelah mereka di zaman sekarang ini menulls tentang As Sufiyah dan memperingatkan umat dari kejahatan dan kesesatan mereka. Maka siapa saja yang jahil (bodoh) tentang perihal mereka dan kesyirikan-kesyirikan mereka hendaklah ia membaca tulisan-tulisan para ulama! Siapa saja yang telah membaca dan mengerti kebatilan yang dianut pemikiran As Sufiyah maka ia telah mengetahui kebaikan yang banyak.

    Yang ingin aku jelaskan di sini adalah hubungan Qaradhawi dengan pemikiran sufi semenjak kecil. Harian Syarqul Ausath yang terbit pada 15 Ramadhan 1416 H melontarkan pertanyaan kepada Qaradhawi seputar kehidupan serta awal dari masa belajarnya. Qaradhawi-pun bercerita :
    Setelah aku memasuki ma’had, aku mulai membaca buku-buku sastra dan tasawuf. Allah menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk membaca dua buah kitab karangan Al Ghazali pada saat aku masih di tahun pertama Ibtidaiyah, yaitu Ihyaa’ ‘Uluumuddiin dan Minhaajul ‘Aabidin.
    Lalu dia melanjutkan pembicaraan tentang fase pendidikannya sampai ia berkata :
    Semasa di Tsanawiyah, aku telah mengenal sebagian buku-buku tasawuf yang lain seperti Syarh Ibnu ‘Ujaibah milik Hakam bin ‘Athaillah Al Iskandari (Kitab ini mencakup kasesatan dan penyimpangan yang Allah lebih mengetahuinya walaupun begitu Qaradhawi tidak mengisyaratkan (menunjukkan) ketika ia menyebutkan kitab ini, begitu pula halnya dengan Ihyaa’ Uluumuddiin.) dan sebagian kitab-kitab syaikh Abdul Wahhab As Sya’rani dan sebagainya.
    Qaradhawi terus saja bersama tasawuf hingga ia menjadikannya sebagai sumber ilmu-ilmu Islam yang mendasar. Berkata dia dalam mukadimah Fiqhus Shiyam halaman 5 yang berbunyi :
    Amma ba’du. Lembaran-lembaran yang aku haturkan tentang fikih puasa adalah sebagian dari proyek besar yang aku tekadkan semenjak bertahun-tahun yang aku nyatakan dalam karangan bukuku, Tafsir Al Fiqh atau Fiqh Al Muyassar yang juga salah satu bagian dari proyek penulisan yang lebih besar yaitu Tafsir Ats Tsaqafah Al Islamiyah li’l Muslimin Al Mu’ashir yang mengandung ilmu Al Qur’an, hadits, tafsir, sirah nabi, aqidah, akhlak, tasawuf, dan lain sebagainya yang harus diketahui seorang muslim di zaman ini yang termasuk ilmu-ilmu Islam yang mendasar.
    Karena keterikatan Qaradhawi dengan tasawuf sejak masa kecilnya itulah maka ia tidak mengambil sikap bermusuhan terhadap apa yang dikandung dalam pemikiran tasawuf. Padahal ia mengetahui adanya kesyirikan-kesyirikan serta bid’ah-bid’ah di dalamnya. Dia berkata :
    Tidaklah mengherankan apabila seorang pengamat yang adil dapat merasakan pada banyak sisi-sisi tasawuf kontemporer adanya banyak kesyirikan dalam masalah aqidah serta bid’ah-bid’ah dalam ibadah serta sisi negatif dalam akhlak, bentuk-bentuk zikir, dan cara berpikir yang liar. Walaupun begitu aku tidak mengambil sikap permusuhan terhadap tasawuf secara keseluruhan akan tetapi aku tetap mengambil manfaat dan menukil dari tasawuf tersebut pada ceramah-ceramahku dan khutbah-khutbahku juga karangan dan buku-bukuku. (Harian Asy Syarqul Ausath, 15 Ramadhan 1416 H/4 Februari 1996 M)

    Seandainya Anda benar-benar teliti menilik muatan perkataannya, akan Anda dapatkan bahwa dia hendak memberikan gambaran bahwa kesyirikan belum terjadi dalam tasawuf yang lama akan tetapi baru terdapat dalam sufiyah sekarang ini. Ini tidaklah benar karena kesyirikan itu telah ada pada masa pendahulu mereka seperti Ibnu ‘Arabi, Al Hallaj, dan lain sebagainya.

    Tidak tersamar lagi olehmu wahai pembaca, kesesatan dan penyimpangan yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf yang dipelajari oleh Qaradhawi. Kitab Ihya’, sekelompok ulama seperti Ath Thurtusi dan yang lainnya telah menfatwakan untuk membakar dan menghancurkannya, begitu pula kitab Ibnu ’Ujaibah yang penuh dengan kesesatan dan penyimpangan.

    Berusaha Men-Salaf-kan Sufiyah dan Men-Sufi-kan Salafiyah

    Harian Al Wathan edisi 51 yang terbit pada 23 Oktober 1995 memuat wawancara dengan Qaradhawi. Diantara pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sebagai berikut :
    “Tema apakah yang tengah menjadi keprihatinan Dr. Qaradhawi dan tengah digarap penulisannya saat ini?” Qaradhawi menjawab :
    Aku sekarang mempunyai empat buah kitab yang hampir selesai, tiga di antaranya tentang tasawuf, akhlak, dan fiqh suluk yang merupakan awal dari rangkaian permasalahan yang ingin aku tulis. Aku menimbangnya sesuai dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah dan pendapat para ulama Salafus Shalih. Jauh dari penyimpangan orang-orang yang bathil dan pentakwilan orang-orang yang jahil dan ini adalah manhajku seiring dengan manhaj Al Wasath (pertengahan) yang tidak menolak tasawuf secara mutlak dan tidak menerimanya dengan segala aib dan boroknya. Aku berusaha untuk mensalafkan sufiyah dan mentasawufkan salafiyah. Dalam arti berusaha membaurkan keduanya.
    Ada sebagian Salafiyin yang keras menentang tasawuf secara keseluruhan. Sementara itu ada pula orang-orang sufi yang tidak konsekwen dalam berpikir dan berperilaku dalam melawan arus (dakwah) Salafiyah. Aku ingin untuk memberi masukan pada kedua pemikiran tersebut antara satu dengan yang lainnya. Atas dasar inilah aku menulis ketiga buku ini, yang pertama tentang Ar Rabbaniyah dan ilmu, yang kedua ilmu dan Al Ikhlas, dan yang ketiga tentang tawakal kepada Allah.

    Wahai pembaca, lihatlah orang ini dan pemikiran yang dibawanya, bagaimana dia berusaha untuk menyatukan dua hal yang berlawanan, Sufiyah dan Salafiyah. Salafiyah berdiri di atas tauhid dengan ketiga macamnya (Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ was Shifat) sedangkan Sufiyah adalah suatu keyakinan yang berdiri di atas syirik kepada Allah dalam ke-Uluhiyah-an-Nya. Mereka berkeyakinan bahwa kubur dan orang-orang mati dapat memberikan madharat dan manfaat.

    Manhaj Salafiyah tegak berdasarkan pengagungan terhadap ilmu yang bermanfaat sedangkan Sufiyah mengingkari ilmu dan mengatakan pada orang-orang yang sibuk dengan ilmu :
    “Bagi kalian ilmu dalam kertas dan bagi kami ilmu mukjizat (ghaib). Kalian berkata Abdurrazzaq menceritakan kepada kami sedangkan kami mengambil ilmu dari Sang Pencipta.”

    As Sufiyah mengingkari ilmu dan menjauhinya sedangkan As Salafiyah menuntut ilmu dan mengagungkannya, maka terjadilah perbedaan yang jelas antara kedua kelompok ini, di antaranya :
    1. Bahwa Salafiyah manhajnya ditegakkan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan mengambil agama dari keduanya sesuai pemahaman Salafus Shalih. Sementara Sufiyah manhajnya berdasarkan mimpi, angan-angan, dan ilham (wangsit) yang mereka dakwakan.
    2. Bahwa manhaj Salaf ditegakkan berdasar pengagungan terhadap perkataan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedangkan semua perkataan dan perbuatan dari selain Nabi bukanlah hujjah selama tidak ada sunnah yang menguatkannya. Firman Allah :
    “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit kamu mengambil pelajaran.” (Al A’raaf : 3)
    Sedangkan Sufiyah manhajnya didasarkan pengagungan terhadap pribadi-pribadi dan para syaikh thariqah serta tunduk dan patuh kepada mereka, yakni hendaknya seorang murid d hadapan syaikhnya bagaikan mayat di tangan orang yang memandikannya.
    3. Manhaj Salafiyah dalam bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap zuhud senantiasa berlandaskan Al Kitab dan As Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih. Sedangkan manhaj Sufiyah dalam masalah ini bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah dan pemahaman Salaf sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Talbiisul Ibliis.

    Maka bagaimanakah bisa disatukan antara Al Haq dengan Al Bathil atau bisakah disatukan antara kegelapan dan cahaya? Lalu apakah perbuatan Qaradhawi yang semacam ini telah dilakukan oleh ahli ilmu yang mengikuti manhaj Salaf terlebih dahulu? As Sufiyah bukanlah pemikiran baru yang belum diketahui oleh para ulama Salaf. Pemikiran bid’ah ini telah muncul sejak zaman dahulu (masa-masa awal perkembangan Islam). Kendati demikian, tidak pernah diketahui bahwa para ulama Salaf tersebut berusaha menyatukan antara jalan Salaf dan jalan Sufi padahal mereka sangatlah bersemangat dalam kebaikan. Bahkan sebaliknya, justeru mereka memperingatkan umat terhadap bahaya Sufiyah dan orang-orangnya.
    Hal ini tidaklah mengherankan wahai saudara pembaca, karena Qaradhawi telah menyatakan berloyal kepada firqah Ikhwanul Muslimin yang imamnya adalah Hasan Al Banna, seorang penganut thariqah As Sufiyah Al Hashafiyah yang telah menyatakan bahwa dakwah Ikhwan adalah dakwah Sufiyah! Bahkan ia biasa pergi ke kuburan para syaikh thariqah Sufiyah Hashafiyah, menghabiskan waktu yang lama untuk mengambil berkah sebagaimana telah dia ceritakan sendiri.
    Jika demikian perilaku imam dari firqah ini maka dapat Anda bayangkan bagaimana perilaku para pengikutnya. Adapun Qaradhawi secara khusus telah menyatakan terang-terangan bahwa dia merasa cukup dari thariqah Sufiyah dengan mengikuti thariqah Ikhwaniyah. Ia pun merasa cukup dengan syaikh firqah Al Ikhwan daripada mengikuti masyayikh thariqah-thariqah yang ada. Inilah perkataannya :
    Dan sesungguhnya dahulu tasawuf bagiku adalah pemikiran, ruh dan akhlak, dan bukan membaiat syaikh atau mengikuti satu thariqah dari berbagai thariqah sufiyah yang terkenal karena sesungguhnya telah cukup bagiku dakwah Ikhwan dari thariqah-thariqah ini. Serta cukuplah bagiku imamnya (yakni imam Ikhwanul Muslimin) dan para sahabatnya daripada mencari syaikh yang resmi dari para masyayikh thariqah. (Harian Asy Syarqul Ausath, 15 Ramadhan 1416 H/4 Februari 1996 M)

    Dan adapun buku-buku yang ia umumkan akan ia tulis di atas pemahaman ini maka apabila telah beredar semakin memperjelas kepada kita tentang tasawufnya Qaradhawi dan penyimpangannya.

    (Sumber : Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam, edisi Indonesia Membongkar Kedok Al Qaradhawi, Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf AL Qardhawi dari Syari’at Islam. Penerbit Darul Atsar Yaman. Diambil dari http://www.assunnah.cjb.net).

    Catatan AMW: Ini contoh komentar yang terlalu panjang. Ini dipilih yang terpendek dari 4 komentar yang dikirim. Sengaja dimuat biar pembaca lain tahu “panjangnya”. Mohon maklum!

  9. firman hidayat berkata:

    Baca: Membongkar Kedok Al Qaradhawi – Muqoddimah (II)
    Penulis: Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini

    Sumber: buku Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini, Membongkar Kedok Al Qaradhawi)

    Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=283

  10. firman hidayat berkata:

    Baca: Dialog Bersama Ikhwani – Kondisi pimpinannya (II)
    Penulis: Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi

    Sumber: “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.

    Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=346

  11. Insan berkata:

    @ firman hidayat

    assalamualaykum.

    anda ini ngasih komentar atau lagi bikin karya tulis mas? tapi salut deh, dengan penjelasannya, ilmiah. anda ini pembela harakah Ikhwanul muslimin ya? Salam kenal ya dari saya.

  12. firman hidayat berkata:

    pembela IM?……….innalillahi ana salafy pembela manhaj haq……..

  13. mosok berkata:

    @firman
    ngaku sih boleh saja mas…,siapa salaf anda contoh?

  14. Insan berkata:

    @ firman hidayat

    O begitu, kalo memang anda salafy sejati, saya ingin debat dengan anda. Seputar sikap aneh salafy terhadap realita yang ada di Indonesia. Saya minta no hp anda, alamat rumah, kampus, atau tempat kerja atau e-mail.

  15. Jazakallah khair wa barakallah fik untuk akh firman hidayat

  16. jhoni berkata:

    salafi itu sama dengan yahudi pengrusak peradaban islam dimasa lalu sejak abdulwahab kawin dengan intel yahudi dia agen yahudi maka sampe sekarang hadist bid’ah yang tidak tidak ada dijaman rosul nya di besar2kan untuk merusak umat

  17. abisyakir berkata:

    @ Jhoni.

    Sebenarnya saya berat untuk meloloskan komentar Anda. Tetapi khawatir Anda akan menuduh saya sengaja menyensor komentar-komentar yang kontra pandangan dengan saya, maka akhirnya saya muat juga. Kalau tidak salah, Anda kan “pemain terkenal” di forum MyQuran dengan nama Si Jhon ya? Betul tidak ya?

    Tetapi komentar Anda itu sangat kasar. Sekedar wawasan: praktik pertikaian antar kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah, Afrika, anak benua India, termasuk di Indonesia sendiri kan sudah sering terjadi. Itu lihat, saat Khilafah Abbassiyyah sedang megah-megahnya berdiri, di Spanyol ada Khilafah Andalusia. Apa jawaban Anda terhadap kenyataan ini? Apakah Andalusia dianggap negeri perusak peradaban Islam?

    Mohon jaga tulisan Anda dari berbuat aniaya, sebab Allah Ta’ala Sari’ul Hisab (Maha Cepat hisab-Nya).

    AMW.

  18. abdulloh berkata:

    ALHAMDULILLAH,saya seorang muslim,tetapi saya tidak memahami mengapa begitu pentingnya mengaku-aku salaf atau salafi,haruskah begitu?tidak cukupkah arti muslim,yang saya tahu Alloh memerintahkan kita mati dalam keadaan islam ,muslim…bukan salaf,maaf kebodohan saya….

  19. ABU ABDILLAH berkata:

    ASALAMUALAYKUM,MAS ,TOLONG JUGA DITANGGAPI TENTANG YUSUF QARDAWI YANG MENGINGINKAN PENYATUAN AGAMA HAL ITU KALAU TIDAK SALAH HASIL WAWANCARA DI SEBUAH MAJALAH DI QATAR.SERTA KEINGINAN NEGARA SUDAN MENGEMBANGKAN AJARAN SERUPA DENGAN AJARAN YUSUF QARDAWI TRESEBUT DIATAS(PENGANGKATAN PRESIDEN SUDAN ADALAH MELALUI DUKUNGAN PARA IKWANI), DI IBUKOTA KHARTOUM SAYA PERNAH DENGAR KALO DIBANGUN SALIB YANG BESAR. SERTA MENGAPA SAYID QUTB DALAM FIDZALIL QUR’AN MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM SECARA GENERAL.DAN JUGA PERNYATAAN YUSUF QARDAWI BAHWA PERMUSUHAN ANTARA ISLAM DAN YAHUDI BUKAN PERMUSUHAN AQIDAH AKAN TETAPI, PERMUSUHAN TANAH AIR, MENGAPA ITU SEMUA DISEMBUNYIKAN DALAM TULISAN ANTUM?DAN BANYAK KRITIK DARI ULAMA SALAFI YANG MENGKRITIK SAYID QUTB,HASAN ALBANNA,QARDAWI,SAID HAWWA DAN PEMIMPIN IKHWANI LAINNYA.MOHON DITANGGAPI KRITIK ULAMA – ULAMA KAMI TERSEBUT , YANG TENTUNYA ULAMA KAMI MENGAMBIL REFERENSI TULISAN DARI PARA PEMIMPIN2 IKHWANI..WAASALAMUALAYKUM

  20. abisyakir berkata:

    @ Abu Abdillah….

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Syukran Akhi atas komentar dan masukan dari Antum. Adapun tanggapan saya sebagai berikut:

    [1] Tulisan “Pemikiran Politik Salafi” itu muncul sebagai jawaban atas tulisan panjang seorang Salafi dalam mengomentari tulisan saya sebelumnya tentang sikap negara Muslim tertentu, terkait soal tragedi Ghaza. Kalau tidak keliru, begitu awalnya. Jadi itu merupakan tulisan respon.

    [2] Pandangan Al Qaradhawi tentang “wihdatul adyan” (penyatuan agama), jika pendapat yang demikian ini benar-benar ada, itu adalah pandangan BATHIL. Itu sama dengan Pluralisme, bahkan mungkin bisa disebut Sinkretisme (aliran agama gado-gado). Jika ada seseorang berpandangan perlunya penyatuan agama, antara Islam, Yahudi, dan Nashrani, ini jelas pandangan bathil, harus ditolak, siapapun yang mengatakannya. Tidak peduli dia seorang ulama. ASALKAN itu benar-benar pandangan tokoh tersebut, ada bukti validnya, dan itu bukan pandangan yang sifatnya BAHASA DIPLOMATIK. MUI Indonesia sendiri alhamdulillah sudah mengharamkan Pluralisme dan lainnya.

    [3] Terkait dengan no. 2 di atas, kalau benar negara Sudan ingin mengembangkan paham Pluralisme atau Sinkretisme, maka ummat Islam harus menolak sekuat kemampuannya, khususnya masyarakat Sudan. Kalau benar-benar negara itu bermaksud demikian, lho. Jadi, harus ada bukti validnya, bukan pernyataan-pernyataan minor yang asal dikutip, lalu divonis habis-habisan. Pluralisme adalah bathil, malah ia induknya kekafiran. Adapun soal Salib di ibukota Khartoum, maka bagi para penuduh harus memberikan bukti. Mana bukti Salib itu, misalnya ada fotonya, di daerah mana, dan apa alasannya dibuat? Tetapi sebelum itu, perlu ditanyakan dulu: Sudan itu menganut sistem Islami atau bukan? Kalau menganut sistem Islam, membuat Salib besar seperti itu di pusat-pusat kota, yang menjadi icon suatu daerah, tidak diperbolehkan. Dalam sistem Islam, hanya syiar Islam yang menjadi icon. Tidak boleh ada syiar-syiar tandingan lain. Hal ini sesuai syarat-syarat yang dibuat oleh Khalifah Umar Ra. kepada kaum Nashrani di Palestina, di masa Kekhalifahan dulu.

    [4] Terkait dengan negara Sudan. Ini sebuah nasehat besar bagi para Salafiyun. Anda tahu semua, Sudan itu negara Muslim, meskipun sistemnya belum sepenuhnya Islami. Anda juta tahu, di Sudan banyak warga Ansharus Sunnah Muhammadiyyah, yang konon sering dipuji oleh Syaikh Al Albani, bahkan pernah dipuji pula oleh Lajnah Daimah Saudi. Jika demikian, maka Sudan itu saudara kita, sesama negara Muslim, bahkan mungkin dalam berbagai sisi lebih baik dari negara Muslim lain. Kalau melihat sesuatu yang baik di Sudan, doakan agar kebaikannya lestari dan diberkahi. Kalau melihat sesuatu yang buruk, nasehati, peringati, ikut luruskan. Sebagaimana kita mencintai kebaikan untuk diri sendiri, maka seperti itu pula kita mencintai kebaikan untuk negara Muslim Sudan. Jangan bersikap seperti Syaikh Saudi tertentu yang keterlaluan sikapnya. Dia memfitnah Sudan dengan tuduhan-tuduhan buruk, lalu disebarkan tuduhan itu dalam buku-bukunya, sehingga sampai di tangan para Salafiyun Indonesia. Katanya, Syaikh ini juga memuji Ansharus Sunnah, tapi di sisi lain gemar mencela Pemerintahan Presiden Omar Bashir di Sudan. Kelihatan sekali, dia mendengki segala sesuatu yang berbau Ikhwanul Muslimin, meskipun tidak ada data valid yang menjelaskana bahwa Pemerintah Sudan berafiliasi dengan IM. Ketika berfatwa dengan kedengakian, hasilnya adalah permusuhan. Itu sudah pasti.

    [5] Tentang takfir mutlak Sayyid Quth di Fi Zhilalil Qur’an. Disini saya coba bersikap netral ya, tidak berpihak ke siapapun.

    Pertama, syaikh-syaikh yang mengkritik Sayyid Quthb, terutama sekali Rabi’ Al Madkhali, dia sering bersikap TIDAK JUJUR dalam perdebatan. Sikap ilmiahnya memprihatinkan. Saya membaca sebagian buku-buku bantahan Rabi’ Al Madkhali ini. Gaya menulisnya, kelihatan sekali, INGIN MENJATUHKAN ORANG LAIN. Jadi, dia mencari-cari kalimat tertentu dari kitab seseorang, kalimat itu harusnya mengandung makna-makna yang dia perkirakan menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah. Kalau kalimat seperti itu sudah ketemu, akan segera dia hancurkan dengan catatan-catatan tajam, dan bahasa-bahasa keras, yang TIDAK MENCERMINKAN MORAL SEORANG ALIM. Seorang alim itu, kalau dia berselisih, sekalipun sangat keras, dia tetap tidak emosional. Gaya kritik seperti Rabi’ Al Madkhali ini tentu sudah banyak yang menyesatkan manusia, khususnya kalangan Salafiyun di Indonesia.

    Kedua, saya membaca juga pembelaan dari kalangan Al Ikhwan maupun kalangan lain yang membela posisi Sayyid Quthb. Di antara pembela itu adalah Syaikh Abdullah Quud rahimahullah, mantan anggota Hai’ah Kibaril Ulama Saudi, juga Syaikh Bakr Abu Zayd rahimahullah, sama-sama juga mantan Anggota Hai’ah Kibaril Ulama (MUI-nya Saudi). Dalam pandangan mereka, juga dalam pandangan Syaikh Al Albani rahimahullah, kalimat-kalimat yang dituduhkan mengandung takfir global itu, itu tidak boleh dipahami “asal telan” saja, sebab ia mengandung kata-kata ‘adabi (sastra). Kata Syaikh Bakr Abu Zayd, metodenya, kata-kata yang samar dikembalikan kepada kata-kata yang jelas/sharih di tempat lain di Fi Zhilal itu sendiri. Jadi, yang samar dipulangkan ke yang jelas, lalu kita berbaik sangka kepada penulisnya.

    Ketiga, andaikan kita dapati hal-hal yang salah pada Fi Zhilalil Qur’an, atau kitab-kitab siapapun yang lain, selama kesalahan itu tidak mendominasi isi kitabnya, maka ia tetap dianggap salah, tidak bisa dibenarkan; namun kebaikan-kebaikan sisanya yang masih banyak, tetap dihargai. Contoh, Syaikh Al Albani menurut para peneliti juga memiliki kesalahan-kesalahan dalam fiqih, hadits, tafsir, bahkan ada yang menyebut kesalahan akidah. Tetapi tidak lantas karena itu, lalu semua karya Al Albani harus dimentahkan. Tidak demikian.

    [6] Tentang pernyataan, “Permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan tanah air, bukan permusuhan akidah.” Nah, disini coba kita runutkan masalahnya, dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala.

    Pertama, pernyataan yang berbunyi “Permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan tanah air, bukan permusuhan akidah” atau yang semisal itu. Ini adalah pernyataan manusia (ulama). Kalau pernyataan ini benar, sesuai Kitabullah dan Sunnah, boleh diterima; kalau tidak sesuai, ya tinggal ditolak saja. Mudah kan? Dan setahu saya, dalam Kitabullah atau Sunnah, tidak ada pernyataan seperti itu. Maka ini adalah pernyataan ulama, yang bisa bernilai ijtihad atau hasil pemikiran beliau. Maka ia dihukumi sesuai asal-muasalnya sebagai pernyataan manusia (ulama).

    Kedua, dalam Al Qur’an dan As Sunnah banyak diceritakan tentang keburukan-keburukan sifat orang Yahudi, juga keburukan-keburukan Bani Israil. Tetapi tidak ada ayat-ayat atau Sunnah yang memerintahkan kita memerangi Yahudi secara mutlak, misalnya, dimana saja seorang Muslim menjumpai Yahudi, dia harus menyerang Yahudi tersebut, membunuhnya, melenyapkannya. Perhatikan dengan baik, satu sisi Kitabullah dan Sunnah menjelaskan kebusukan-kebusukan Yahudi, tetapi di saat lain tidak ada perintah untuk memerangi Yahudi seacara mutlak. Maka itu, kaum Yahudi dan Nasrani termasuk kalangan non Muslim yang boleh tetap kafir di dalam negeri Islam, selama mereka membayar jizyah. Mungkin, ini hanya prasangka saya, yang dimaksud ulama-ulama itu adalah hal demikian. Bahwa ada toleransi bagi Yahudi untuk tetap kafir, selama mereka tunduk kepada hukum sosial Islam, dan membayar jizyah.

    Ketiga, kembali kepada kalimat di atas, “permusuhan dengan Yahudi bukan permusuhan agama, tetapi permusuhan tanah air”. Akidah Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap keras kepada Yahudi, bersikap waspada atas tipu-daya mereka, dan juga menindak mereka dengan tegas jika melakukan hal-hal merugikan Ummat. Jelas ini adalah konflik akidah, karena dibentuk oleh nilai-nilai akidah yang diajarkan dalam Kitabullah dan Sunnah. Tetapi tidak berarti, karena kebencian akidah itu, kita lalu bersikap zhalim kepada Yahudi, merampas hak-hak yang seharusnya mereka terima, sesuai ketentuan Syariat Islam. Ayat dalam Surat Al Maa’idah ayat 8 yang artinya, “Janganlah kebencian kalian pada suatu kaum, membuat kalian tidak bersikap adil. Bersikap adillah, sebab adil itu lebih dekat ke taqwa.” Ini kan asbabun nuzulnya terkait dengan orang Yahudi. Sebagian Shahabat, karena bencinya ke Yahudi, ingin menimpakan kesalahan perbuatan kriminal ke mereka, padahal yang melakukan perbuatan kriminal itu Muslim sendiri.

    Keempat, dalam pandangan saya, ada sesuatu yang tidak matching (tidak klop) antara pihak yang mengatakan, “permusuhan dengan Yahudi adalah permusuhan akidah” dengan mereka yang berpandangan bahwa “permusuhan dengan Yahudi adalah karena tanah air”. Kedua pendapat ini tidak berbenturan secara tepat, tetapi meleset. Ibarat tabrakan antara 2 mobil, tidak kena tepat di kepala kedua mobil. Pihak pertama berdiri di atas timbangan akidah murni, sedang pihak kedua lebih melihat masalah operasional. Padahal pihak pertama juga meyakini, bahwa membela tanah air yang direbut musuh, itu wajib; sementara pihak kedua juga meyakini, bahwa Yahudi sangat busuk dengan segala kejahatan-kejahatannya. Jadi hal-hal seperti itu sebenarnya tidak penting diperdebatkan. Sebagai contoh, Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah, yang kerap dikritik dalam masalah di atas, beliau pernah memimpin pasukan Al Ikhwan untuk menyerang negara Israel, sekitar tahun 1948. Jadi ramainya masalah ini hanya sekedar untuk meramaikan pertikaian di antara sesama kita, kaum Muslimin. Ada yang senang tuh, kalau pertikaian seperti itu semakin panas!

    [7] Abu Abdullah: “MENGAPA ITU SEMUA DISEMBUNYIKAN DALAM TULISAN ANTUM? DAN BANYAK KRITIK DARI ULAMA SALAFI YANG MENGKRITIK SAYID QUTB, HASAN ALBANNA, QARDAWI, SAID HAWWA DAN PEMIMPIN IKHWANI LAINNYA.MOHON DITANGGAPI KRITIK ULAMA – ULAMA KAMI TERSEBUT.”

    Tanggapan: Saya baca tulisan-tulisan kritik seperti itu yang biasa dibaca, disebarkan, dijadikan “materi kajian manhaj” di kalangan Salafiyun. Saya enggan mengambil pandangan seperti itu karena metode penulisannya rata-rata berkarakter PERMUSUHAN antar sesama Muslim. Sebenarnya, kalau membaca karya-karya ulama Ahlus Sunnah di masa lalu, atau masa sekarang, mereka komitmen dengan SIKAP ILMIAH, emosinya tidak ikut-ikutan. Mereka tidak suka menghabisi seorang Muslim/ulama Muslim, karena pada hakikatanya sifat keimanan kita mengajarkan “yuhibba di akhihi maa yuhibba li nafsihi” (mencintai untuk sesama Muslim apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri). Apa sih untungnya melihat sesama Muslim hancur? Kan tidak ada untungnya. Kalaupun ada sikap keras, itu untuk memperingatkan adanya penyimpangan serius dalam agama. Sementara kalau membaca tulisan2 kritik itu, rata-rata sangat membenci pihak-pihak yang dikritiknya, padahal mereka masih sesama Muslim, sesama Ahlus Sunnah. Kecuali kalau bersikap keras kepada Syi’ah, Mu’tazilah, Inkar Sunnah, Ahmadiyyah, Liberaliyun, dll yang bukan Ahlus Sunnah, silakan saja.

    Saya ingin bertanya kepada @ Abu Abdullah dan kawana-kawan: “Menurut Anda semua, para anggota Ikhwanul Muslimin itu termasuk Ahlus Sunnah atau bukan? Di mata Anda, metode harakah Islamiyyah yang dianut IM, itu merupakan akidah atau wasilah perjuangan?”

    Tolong dijawab dulu pertanyaan tersebut. Baru nanti akan ditanggapi lebih lanjut. Sebab begini ya, Al Ikhwan itu selama ini diakui sebagai sesama Ahlus Sunnah (Sunni). Mereka memang menerapkan metode harakah Islamiyyah, tetapi metode itu lebih sebagai wasilah, bukan akidah. Di mata mereka ada prinsip, “Al Islami qabla kulli syai’in” (Islam dulu, sebelum apapun yang lain). Jadi, mereka itu Muslim duluan, baru berjuang dengan metode harakah; bukan mereka berakidah harakah dulu, baru masuk Islam. Dan di Saudi itu selama puluhan tahun, banyak ulama/ustadz Al Ikhwan yang menjadi dosen, dai, pengajar, bahkan profesional. Kalau mereka orang Syi’ah atau sejenisnya, mungkin sudah tidak diterima disana.

    ‘Ala kulli haal, wallahu a’lam bisshawaab.

    AMW.

  21. lebah madu berkata:

    To: ABU ABDILLAH
    Monggo dijawab pertanyaannya ! (Saya ingin bertanya kepada @ Abu Abdullah dan kawan-kawan: “Menurut Anda semua, para anggota Ikhwanul Muslimin itu termasuk Ahlus Sunnah atau bukan? Di mata Anda, metode harakah Islamiyyah yang dianut IM, itu merupakan akidah atau wasilah perjuangan?”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: