Pemikiran Politik Salafi (Bagian 2)

Masalah 10


Saya ingin bertanya kepada penulis ini….. Dari mana engkau mendapat kabar ini, bahwa lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya????
Engkau mendengarnya dari Murobbi mu?? Atau engkau hanya mendengar selintas saja??? Kemudian dengan dasar itu engkau menulis dan menyebarkannya??? Di manakah letak keadilan dan ilmiah-mu dalam beragama ini? Sementara begitu mudahnya engkau menuduh tanpa bukti.
Saya beri tahu sekarang jika engkau tidak mengetahui duduk permasalahannya.

Pernyataan ini adalah Fatwa Syaikh al-Albani rohimahulloh. Tetapi anehnya fatwa tersebut menjadi rusak oleh org2 semisalmu. Karena tidak adil dan amanah dalam menyampaikan isi Fatwa itu. Apakah engkau sudah membaca sendiri fatwa Syaikh Albani dalam masalah ini?? Ataukah engkau hanya mendapat penggalannya saja, yang sengaja disebarkan oleh org2 pendengki dakwah salaf ini??? Sepertinya memang demikian… engkau hanya mendapat sepenggal kalimat “lebih baik muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya.” Atau mungkin engkau sudah membaca keseluruhan fatwa tersebut, namun kebencian di hatimu menyebabkan engkau tidak bisa memahami fatwa tersebut. Atau memang demikianlah caramu dalam beragama ini… memotong dalil sesuai hawa nafsumu???

Jika cara terakhir ini yang engkau pegang, maka ketahuilah!! Jika engkau rajin sholat, maka engkau akan celaka!!! Saya akan terangkan dalilnya kepadamu tentang ini. Perhatikan firman-Nya berikut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” (QS.al-Maa’uun : 4). Wahai penulis… rusaklah agama ini jika engkau berdalil dengan cara memotong2nya, tidak memahaminya secara utuh. Maka camkanlah!!!
Alloh berfirman dalam lanjutan ayat tersebut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. [QS al-Maa’uun :4-7].

Jika demikian caramu beragama, maka seperti ungkapan penyair berikut: “Jika engkau mengetahuinya, maka musibah. Jika engkau tidak mengetahuinya, maka musibahnya lebih besar.” Mudah2an engkau sadar akan kekeliruanmu dalam masalah penyampaian dalil.

Catatan AMW 10:

Sejujurnya, saya belum pernah membaca fatwa itu secara lengkap. Saya hanya mendengar kesimpulan umumnya, bahwa sebagian ulama menyarankan agar Muslim Palestina hijrah dari negerinya, demi untuk menyusun kekuatan. Jika nanti telah terbina kekuatan, mereka akan melancarkan Jihad Fi Sabilillah melawan Israel. Begitulah kira-kira pandangan yang saya terima. Di kalangan Salafi sendiri, mereka meyakini tentang pentingnya hijrah dari Palestina itu. Di forum MyQuran saya dapati sebuah bukti tentang pendapat seorang Salafi yang membenarkan fatwa hijrah dari Palestina tersebut. Dan Anda jangan mencela saya karena menyinggung soal fatwa itu, sebab ia telah dianggap masalah serius oleh kaum Muslimin di Palestina. Lagi pula, kalau Anda jujur, sampaikan kepada kami isi fatwa tersebut secara lengkap, berikut sumbernya. Siapa tahu kita akan lebih bijak jika telah membacanya secara lengkap. Sayangnya, Anda begitu keras dalam mencela saya, tetapi tidak menyebutkan sumber fatwa itu.

Abu Ammar menuduh saya suka memotong dalil-dalil, ada kebencian di hati saya dan sebagainya. Ya terserah deh, Anda akan mengatakan apa saja; semua itu urusan Anda kepada Allah Ta’ala. Saya ini hanya hamba yang lemah, hanya mampu beramal sekuat kesanggupan, seraya memohon rahmat dan taufik-Nya. Amin. [Selesai].

Masalah 11

Ketahuilah… bahwa fatwa Syaikh al-Albani dalam masalah hijrah palestina, tidak seperti apa yang engkau tulis. Perhatikan, duduk permasalahan fatwa beliau yang sebenarnya dalam beberapa Masalah berikut:

[1]. Hijrah dan Jihad terus berlanjut hingga hari kiamat. [2]. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu. [3]. Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, Makkah. [4]. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu utk menampakkan hukum2 syar’i yang dibebankan Alloh kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya shg menjadikannya murtad dari agama. Inilah inti fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!

Catatan AMW 11:

Contoh hijrah untuk menyelamatkan agama adalah apa yang ditempuh Haji Nuh, ayah Syaikh Al Albani sendiri dan keluarganya. Beliau sekeluarga hijrah dari Albania di Balkan ke Syiria, karena Albani menjadi negara Komunis yang kafir. Demi menyelamatkan agama, mereka pergi dari Albania ke Syria. Cara demikian diperbolehkan, meskipun bagi yang memilih tetap bertahan demi mempertahankan Islam di negerinya, hal itu juga tidak dilarang. Segala sesuatu tergantung kepada niat dan kemampuan masing-masing. Saat kita memuji Syaikh Al Albani dan keluarga yang hijrah ke Syria, pada saat yang sama kita tidak boleh mencela kaum Muslimin Albania yang tetap bertahan di negerinya. Siapa tahu mereka disana berjuang mempertahankan Islam agar tidak hancur ditindas Komunis. Alhamdulillah, setelah Komunis runtuh di Eropa Timur (termasuk Albania), kaum Muslimin bisa menampakkan diri dan menjalankan amal-amal agamanya.

Sebenarnya, jika tegak suatu Daulah Islamiyyah, atau Khilafah Islamiyyah yang kokoh, maka negeri itu harus membuka diri bagi hijrahnya kaum Muslimin dari negeri-negeri tertindas, demi menyelamatkan agama dan kehidupan mereka. Namun di jaman sekarang, adakah negeri Islami yang ramah? Bukankah setiap negara merasa egois dengan nasionalisme masing-masing? Bahkan negara seperti Kerajaan Saudi, mereka sangat ketat dengan ke-Saudi-annya. Sangat sulit mendapat hak kewarganegaraan Saudi, meskipun bagi orang Arab. Begitu juga sulit menikahi wanita Saudi.

Tidak sedikit warga Muslim Palestina yang hijrah ke Yordania, Syria, Mesir, Irak dan lain-lain negara Arab. Bahkan ada yang “hijrah” ke Amerika dan Eropa. Kalau dulu, bangsa Yahudi dikenal dengan DIASPORA, menyebar kemana-mana. Ternyata kenyataan yang sama kini dialami oleh Muslim Palestina. Mereka “diaspora” ke berbagai tempat di dunia. Meskipun telah bertahun-tahun tinggal di negara Arab tertentu, mereka tetap dianggap orang asing, atau pengungsi. Itulah salah satu beda nyata antara nasionalisme Arab dengan Khilafah Islamiyyah. Di tangan Khilafah Islamiyyah, setiap Muslim di dunia, adalah warga negaranya. [Selesai].

Masalah 12

[5]. Apabila seorang muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnya utk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut tanpa harus ke luar negerinya, karena hal itu lebih mudah baginya utk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai. [6]. Hijrah sebagaimana disyari’atkan dari negara ke negara lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri. Hal ini juga banyak dilalaikan oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran2 bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palestina utk keluar darinya! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!! [7]. Tujuan hijrah adalah utk mempersiapkan kekuatan utk melawan musuh2 Islam dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumnya.

[8]. Semua ini apabila ada kemampuan. Apabila seorang muslim tidak mendapati tanah utk menjaga diri dan agamanya kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan2 yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaanya di tempatnya lebih aman utk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali negeri kafir juga, atau keberadaannya utk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat utk umat atau maslahat utk mendakwahi musuh dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya, semoga dia mendapatkan pahala hijrah.

Demikian juga dalam kasus Palestina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan : ”Apakah di Palestina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaklah mereka hijrah ke sana dan tidak keluar dari Palestina, karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan.” Demikianlah perincian Syaikh al-Albani, lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palestina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendengki, sesungguhnya kami berlindung kepada Alloh dari kejahilan dan kedholiman kalian! [9]. Hendaknya seorang muslim meyakini bahwa menjaga agama dan aqidah lebih utama daripada menjaga jiwa dan tanah.

Catatan AMW 12:

Secara umum, hijrah dari Palestina ke negeri lain untuk menghindari penindasan Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim adalah KESALAHAN BESAR. Sekali lagi saya tegaskan, dengan tidak ada keraguan sedikit pun, ia adalah KESALAHAN BESAR. Meskipun pengetahuan saya tentang Islam sangat jauh dibandingkan Syaikh Al Albani, tetapi saya berani mengatakan, bahwa fatwa hijrah dari Palestina ke negeri lain itu adalah salah besar dan merupakan AIB KAUM MUSLIMIN. Saya mengatakan hal ini bukan tanpa alasan. Alasannya adalah sebagai berikut, bi nashrillahil ‘Azhim:

PERTAMA, wajib bagi setiap Muslim untuk mempertahankan harta, wilayah, kehidupan, dan negerinya dari rampasan orang-orang kafir. Jika mereka terbunuh dalam perjuangan itu, mereka insya Allah syahid. Setiap Muslim jangan merelakan harta-benda, wilayah, dan kehidupannya dirampas orang kafir. Atas alasan ini pula negeri-negeri Muslim selama ratusan tahun berjuang menolak penjajahan. Andai semua negeri Muslim yang dulu dijajah, ketika mereka tertindas solusinya selalu hijrah, maka mereka tidak akan pernah mendapati kemerdekaan.

KEDUA, jika kaum Muslimin Palestina memilih hijrah dari negerinya, sudah pasti mereka akan menempati negeri-negeri lain. Hal itu jelas akan merepotkan orang lain dan membuat hidup mereka tidak menentu. Mereka terlunta-lunta sebagai pengungsi, tidak diakui sebagai warga setempat, tidak jelas masa depannya. Lebih baik mereka tetap di negerinya dengan menyandang kehormatan, meskipun harus menghadapi penjajahan.

KETIGA, memperjuangkan kemerdekaan dari negeri sendiri lebih efektif daripada memperjuangkan kemerdekaan dari negeri orang. Contoh, Yasser Arafat selama puluhan tahun memperjuangkan Palestina dari pengasingan melalui lobi-lobi diplomatik. Tetapi akhirnya dia sadar, bahwa tidak mungkin Palestina akan merdeka, jika dia tidak tinggal di dalamnya. Maka Yasser Arafat pun memilih tinggal di Palestina sampai meninggalnya. Perjuangan dari luar negeri itu sangat sulit, sebab kita tidak memijak tanah tempat dimana kita melancarkan perjuangan.

KEEMPAT, penderitaan kaum Muslimin Palestina bukan yang terburuk dalam sejarah kaum Muslimin. Katakanlah, Palestina telah dijajah selama 60 tahun (sejak 1948). Bandingkan dengan Indonesia (Nusantara) yang telah dijajah selama 350 tahunan oleh VOC, Belanda, dan Jepang. Jika selama itu bangsa Indonesia tidak mengungsi ke negeri lain, seharusnya bangsa Palestina bisa lebih tabah di negerinya.

KELIMA, mempertahankan negeri-negeri Islam dari penjajahan orang kafir adalah wajib, dan lebih utama lagi bagi bangsa Palestina. Di Palestina ada Al Quds dan Masjidil Aqsha yang merupakan kota suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Nabi mensunnahkan kita berziarah ke Masjidil Aqsha, setelah ziarah ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjidil Aqsha disebutkan namanya dalam Al Qur’an, ia adalah tempat Nabi mengalami Isra’, dan merupakan Kiblat pertama kaum Muslimin. Ia adalah negeri tempat para Nabi-nabi tauhid dari kalangan Bani Israil di masa lalu. Ia adalah tanah yang telah dibebaskan oleh Khalifah Umar Ra. dari tangan Romawi. Kaum Muslimin seharusnya lebih bersemangat lagi dalam mempertahankan wilayah Palestina, khususnya Al Quds dari penindasan Yahudi laknatullah. Seorang pengikut Salafus Shalih sejati, seharusnya ingat dengan peristiwa ketika kunci Kota Yerusalem diserahkan kepada Khalifah Umar oleh pimpinan Nashrani di negeri itu.

KEENAM, tidak ada alasan bagi penduduk Palestina untuk hijrah dari negerinya ke luar negeri, sebab jumlah Muslim Palestina lebih besar dari warga Zionis Israel. Menurut pemimpin Hamas, Abu Fahmi Zuhair (?), penduduk Israel ada 6 juta, sementara penduduk Palestina, baik yang di dalam negeri maupun di luar Palestina, sekitar 15 juta. Bahkan Allah memperlihatkan pertolongannya kepada Muslim Palestina dengan banyaknya lahir bayi-bayi mereka. Rata-rata lahir bayi kembar. Seorang Muslimah Palestina memiliki 14 atau 15 anak, itu hal biasa. Kenyataan ini menjadi saksi, bahwa bertahan di Palestina adalah lebih baik.

KETUJUH, negara Israel penjajah di bumi Palestina, mereka bukanlah bangsa yang besar. Israel wilayahnya kecil, mentalitas rakyatnya sangat “takut mati”. Dalam sejarah Yahudi sejak jaman Musa, mereka tidak memiliki reputasi hebat dalam peperangan. Bangsa Yahudi itu sangat tamak kepada dunia, sampai mereka ingin andai bisa hidup selama 1000 tahun (Al Baqarah 96). Yahudi diaspora ke berbagai negara, karena mereka tidak tahan berlama-lama dalam konflik fisik. Sebaliknya, bangsa Indonesia sanggup bertahan lama dalam konflik, sehingga selama ratusan tahun terus berjuang, dengan tidak mengungsi ke negeri lain. (Kecuali sebagian masyarakat Jawa yang mengungsi ke Suriname. Itu pun karena terpaksa). Sangat menyedihkan jika menghadapi bangsa Yahudi itu, kaum Muslimin Palestina harus hijrah.

KEDELAPAN, negara Israel adalah bangsa yang terkucil di tengah-tengah Dunia Arab. Mereka kecil dan beragama Yahudi, sementara di sekitarnya bangsa Arab yang mayoritas Muslim. Ibarat musuh, Yahudi itu seperti bocah kecil yang berada di tengah-tengah tentara berbadan besar. Alangkah sangat aneh jika bangsa Palestina harus hijrah ke luar negeri. Seharusnya negara-negara Arab di sekitarnya itu memiliki rasa malu melihat saudaranya menjadi bulan-bulanan Yahudi. Jika bangsa Palestina tidak sanggup menghadapi Yahudi, maka negara-negara Arab di sekitarnya wajib membantunya. Tidak ada alasan mereka bisa melepaskan diri dari tanggung-jawab.

KESEMBILAN, jika kaum Muslimin Palestina hijrah ke luar negaranya, lalu Israel semakin leluasa menguasai wilayah Palestina, lama-lama dia akan mengancam negara lain, seperti Syria, Yordania, Libanon, bahkan Saudi. Harus dicatat, jarak antara Tel Aviv ke Madinah dan Makkah, itu lebih dekat daripada jarak Libya, Aljazair, Maroko, atau Somalia ke Makkah-Madinah. Wilayah Saudi sendiri sangat dekat dengan wilayah Israel. Mungkin dengan tembakan sebuah mortir, sudah bisa mencapai wilayah Saudi. Kalau Muslim Palestina tidak didukung untuk bertahan di negerinya, sangat mungkin Israel suatu saat akan menyerang Makkah dan Madinah.

KESEPULUH, andai hijrah keluar dari Palestina benar-benar dilakukan, lalu kaum Yahudi dengan leluasa memasuki kampung-kampung Ummat Islam, siapa yang bisa menjamin bahwa Ummat Islam akan mampu lagi merebut tanah mereka? Siapa yang berani memberi jaminan bahwa Muslim Palestina akan mampu menyusun kekuatan kembali di luar negeri? Apakah kita menyangka, Yahudi Israel sedemikian bodoh, sehingga mereka akan memberi kesempatan kepada Ummat Islam untuk merebut wilayah yang telah mereka duduki? Kondisi yang terjadi selama ini memberi banyak pelajaran, bahwa Israel benar-benar sangat licik.

Hijrah dari bumi Palestina karena penindasan Yahudi adalah tindakan keliru. Kaum Muslimin di Palestina harus didukung agar tetap bertahan disana. Kalau perlu Muslim dari negeri lain hijrah kesana untuk mempertahankan bumi kaum Muslimin, warisan dari jaman keemasan Khalifah Umar bin Khattab Ra. Jika pun ada hijrah yang dibenarkan, ia adalah hijrah untuk melanjutkan perjuangan melawan Zionis Israel. Sungguh tidak pantas bangsa Palestina menyebar ke berbagai negara, ketika di sekitar mereka terdapat banyak negara-negara Arab.

Kemudian Abu Ammar mencela saya: “Diamlah wahai para pencela dan pendengki, sesungguhnya kami berlindung kepada Alloh dari kejahilan dan kedholiman kalian!” Waduh, bagaimana ya? Apalagi yang harus dikatakan? Entahlah, biarlah Abu Ammar memuas-muaskan celaannya. Sungguh, hanya karena Kemurahan Allah belaka jawaban seperti ini bisa dikemukakan. [Selesai].

Masalah 13

Terakhir, Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam majalah al-Furqon edisi 115, hal 19. Bahwa ”Syaikh al-Albani telah bersiap-siap utk melawan Yahudi, hampir saja beliau sampai ke Palestina, tetapi ada larangan pemerintah utk para Mujahidin.” [Lihat majalah al-Furqon edisi 11 Th VII, Jumada Tsani 1429 H hal.18-19, tulisan asli ada 10 Masalaht, sengaja tdk saya tulis krn tdk masuk dlm pembahasan].

Catatan AMW 13:

Zuhair Syawisy itu temannya Syaikh Al Albani. Beliau adalah pemilik penerbitan Maktab Al Islami di Beirut. Penerbit ini tadinya memegang hak cetak khusus untuk karya-karya Syaikh Al Albani. Namun seiring perjalanan Syaikh Al Albani berpisah jalan dengan Zuhair Syawisy. Beliau utarakan keberatan-keberatannya kepada pemilik Maktab Al Islami itu. Selanjutnya Al Albani menyerahkan urusan penerbitan buku-buku beliau ke kerabatnya sendiri, yang mendirikan penerbit baru dengan nama Maktabah Al Islamiyyah. Salah satu keberatan Al Albani ialah sikap kurang amanah Zuhair Syawisy dalam penerbitan dan urusan ilmiah.

Katakanlah, kita tidak mempertanyakan kredibilitas Zuhair Syawisy. Maka ketika kita mendengar ada seorang Muslim yang ingin berjihad membela saudaranya, apalagi ia seorang ulama besar seperti Al Albani, maka jawaban kita tidak lain dari: Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Semoga beliau mendapat amal Jihad Fi Sabilillah, meskipun tidak jadi berangkat. Allahumma amin. Seperti kenyataan yang pernah dialami Abdullah bin Mubarak rahimahullah dan jamaah Haji yang ikut bersamanya. Ketika mereka di tengah perjalanan ke Makkah, mereka mendapati sebuah kampung kaum Muslimin yang penduduknya mengalami paceklik. Begitu sengsaranya mereka sampai ada yang mau makan bangkai hewan. Abdullah bin Mubarak dan jamaah Haji itu akhirnya tidak jadi berangkat ke Makkah, karena harta mereka dibelanjakan untuk menyelamatkan kampung itu dari kelaparan. Niat ibadah mereka insya Allah telah sampai ke sisi Allah, meskipun secara zhahir mereka belum menjalani Haji. [Selesai].

Masalah 14


Ini dia manhaj –metode- sang penulis dalam beragama ini… Ia menginginkan untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dengan jalan demonstrasi, dia menyangka bahwa demonstrasi itu adalah sesuatu yang halal untuk dilakukan meskipun dia berhadapan dengan penguasa Muslim sekalipun. Dan sang penulis ini menyangka bahwa Yahudi akan mereda kebiadabannya dengan jalan demonstrasi. Maka tak perlu saya perpanjang masalah ini. Cukuplah sebagaimana penjelasan hadits di atas. Bahwa rasa takut di hati org2 kafir itu telah dilenyapkan Alloh, sehingga kaum muslimin menjadi bulan-bulanan. Apalagi ketika mereka tahu, bahwa kaum muslimin tidak berjalan di atas ajaran agamanya. Sesungguhnya rasa takut mereka kepada kaum muslimin akan terjadi ketika ummat Islam ini kembali kepada jalan agamanya. Rasa takut itu akan Alloh tanamkan di hati org2 kafir, dengan kembalinya umat Islam kepada ajarannya. Dengan kata lain, semakin ummat Islam jauh dari agamanya, maka orang2 kafir itu pun semakin meremehkan umat Islam, dan mereka akan semakin menindas umat Islam. Maka yang terjadi adalah kerusakan dimuka bumi!!! .. Camkanlah ini….!

Catatan AMW 14:

Disini Abu Ammar menuduh saya dengan sekian banyak tuduhan. Katanya: (1) Demonstasi merupakan manhaj saya dalam beragama; (2) Saya ingin memperbaiki keadaan dengan demonstasi; (3) Saya menyangka demonstrasi kepada penguasa Muslim itu halal; (4) Saya menyangka bahwa Yahudi akan berhenti berbuat zhalim karena demonstrasi.

Allahu Akbar, bagaimana seseorang disebut Muslim kalau manhaj beragamanya adalah demontrasi? Adakah satu saja contohnya di dunia ini, seorang Muslim yang landasan hidupnya adalah demonstrasi? Saya yakin tidak ada itu. Bahkan Ikhwanul Muslimin yang kerap dituduh menghalalkan demonstrasi, mereka tidak menjadikan demonstrasi sebagai manhaj. Kalau tidak percaya, carilah dalam literatur-literatur Al Ikhwan, adakah mereka menjadikan demonstrasi sebagai manhaj beragama?

Demonstrasi (muzha-harah) itu bukan manhaj beragama, bukan akidah, bukan juga tujuan amal. Ia semata-mata alat belaka (wasilah). Tidak ada seorang Muslim pun yang manhaj agamanya demonstrasi, hingga kelompok yang paling sesat sekalipun. Abu Ammar semata-mata hanya menuduh saya dengan fitnah yang kelak akan dia pertanggung-jawabkan di hadapan Allah.

Wahai Abu Ammar, saya ingin menantang Anda, kalau Anda sanggup menempuh tantangan ini. Coba Anda buat kajian terperinci tentang demonstrasi (muzha-harah), lalu simpulkan hukumnya! Sebab untuk menghukumi apapun, harus jelas duduk-perkaranya. Persis seperti Anda ketika mencela saya dalam soal fatwa “hijrah dari Palestina” oleh Syaikh Albani. Bukankah Anda disana membutuhkan perincian?

Perlu diketahui, demonstasi itu situasinya komplek. Mula-mula, harus jelas dulu definisi demonstrasi dan batasan-batasannya? Kemudian terhadap siapa ia ditujukan, bagaimana caranya, dan apa dampaknya, hal itu juga harus jelas. Misalnya Anda menolak demonstasi anti Israel yang dilakukan di negeri-negeri Muslim. Bagaimana kalau Pemerintah negeri Muslim justru memfasilitasi demo-demo tersebut, karena dianggap sesuai dengan kebijakan luar negerinya? Apakah demo yang didukung negara itu lalu dianggap bathil? Begitu juga, misalnya Anda menolak demonstrasi yang menyebabkan kerusakan fasilitas sosial karena anrkhisme. Lalu bagaimana dengan kekacauan supporter sepak bola yang terjadi di negeri-negeri Arab? Apakah kalau mendukung Palestina dilarang, sementara kalau mendukung tim sepakbola boleh?

Demonstrasi itu sungguh komplek. Ada demo damai, demo anarkhis, demo dengan arak-arakan, demo dengan orasi, demo dengan atraksi, pemogokan, seruan biokot, dan lain-lain. Sebagian demo liar yang berakhir anarkhis, tetapi ada juga demo yang kita butuhkan untuk menolak kezhaliman terhadap kaum Muslimin, dimana tidak ada lagi cara lain yang bisa ditempuh untuk menolak kezhaliman itu. Contoh, demo menentang kezhaliman Yahudi di Israel; demo menentang penjajahan Amerika di Irak dan Afghanistan; demo menentang penjara-penjara penuh siksaan seperti Guantanamo, Beghram, Abu Ghraib, Kandahar, dll. Begitu pula demo mengecam kartun Nabi, pelecehan Islam oleh Geertz Wilders, larangan jilbab di Perancis, termasuk demo di Indonesia menentang pornografi-pornoaksi. Jika kita tidak demo, orang lain akan menyangka kita setuju atas kemungkaran atau kezhaliman tertentu. Jadi, demo sifatnya sangat kondisional sesuai kebutuhan yang ada.

Andai suatu saat terjadi kemungkaran dan kezhaliman besar, lalu tidak ada cara lain yang bisa dipakai untuk mencegahnya, maka demonstrasi untuk memprotes kezhaliman tersebut, adalah perkara yang diperbolehkan. Hal ini termasuk nahyul munkar atau menentang kezhaliman. Soal apakah ia efektif bisa menghentikan kezhaliman atau tidak, itu lain perkara. Seperti kata Nabi, “Unshur akhaka zhaliman au mazhluman!” (tolonglah saudaramu yang zhalim dan dizhalimi).

Dalam Tragedi Ghaza, korban berjatuhan dari kaum Muslimin, kehancuran hidup sudah terpampang jelas di depan mata. Semua orang mengakuinya, sampai warga Israel sendiri memprotes negaranya. Sementara pemerintah-pemerintah Muslim tidak ada yang berani menggunakan tangan (senjata) untuk menghentikan kejahatan Yahudi. Korban sudah berjatuhan, pemerintah Muslim pada diam saja. Lalu apa yang bisa dilakukan? Kalau kita tidak bisa menghentikan kezhaliman itu, selain hanya dengan demonstrasi, maka lakukan saja ia! Tidak perlu ragu-ragu! Soal ia efektif atau tidak, itu lain perkara. Yang penting, suarakan bahwa kita menolak, mengecam, dan mengutuk keras kezhaliman Yahudi atas warga Muslim di Ghaza.

“Lho, bukankah demo itu cara yang dilakukan orang kafir?” kata Salafi.

Sekarang masalahnya, apakah setiap cara dari orang kafir itu haram? Jika urusannya adalah masalah teknik (operasional), bukan urusan ritual, simbol komunitas, prinsip keagamaan atau akidah, tidak ada larangan melakukannya. Anda perlu ingat, dulu Nabi Saw pernah mengadopsi tata cara perang bangsa Persia dalam Waqi’atul Khandaq; Nabi juga membuat stempel untuk meneguhkan isi surat yang beliau kirim ke pemimpin-pemimpin non Muslim; Khalifah Umar bin Khattab Ra menerapkan prinsip-prinsip administrasi bangsa Persia; dan lain-lain.

Jika setiap perkara yang bersumber dari orang kafir tidak boleh diambil, maka betapa banyak perkara yang harus disingkirkan dari kehidupan kita saat ini. Sistem media TV, media radio, koran dan majalah, semua itu harus dibuang, karena yang memulai media seperti itu adalah orang kafir. Sistem pendidikan berjenjang, mulai TK, SD, SMP, SMU, D3. S1, S2, S3, dan lainnya juga harus dibuang, karena yang memulainya orang kafir. Sistem penanganan medis modern, militer, birokrasi, manajemen, sistem bisnis, dan lain-lain juga harus dibuang. Termasuk pemilu, voting, pooling, surve dan lainnya juga harus dibuang. Jika semua ini dilakukan, maka yang paling keras teriak-teriak menentangnya adalah orang-orang Arab sekuler itu.

Lalu Salafi membantah lagi, “Tetapi bukankah demo itu merupakan fasadun fil ardhi (kerusakan di muka bumi)?”

Kalau demo Anda anggap sebagai fasadun fil ardhi, lalu bagaimana dengan Israel yang benar-benar telah merajalela menyebarkan kehancuran di Ghaza atau di bumi Palestina lainnya sejak tahun 1948 lalu? Apakah Anda hanya melihat fasad di pelaku demo, lalu tidak melihat beribu-ribu fasad yang telah dilakukan oleh Israel? Lalu lebih berdosa mana, orang yang berdemo demi membela saudaranya yang dizhalimi Yahudi, dengan orang yang tidak berbuat apa-apa untuk melindungi saudaranya? Bahkan sejujurnya, andai negara-negara Arab memiliki “sedikit kejantanan” seperti era sejarah Islam di masa lalu, tentu mereka tidak akan menunggu sampai rakyat demo, baru bergerak menghentikan kezhaliman Yahudi.

Demo itu wasilah saja, bukan manhaj, atau ideologi. Jadi, tergantung tujuan dan caranya. Kalau demo dimaksudkan untuk menolak kemungkaran (nahyul munkar), ia boleh dilakukan, selama tidak dilakukan dengan cara-cara mungkar. Begitu juga, demo dengan tujuan menghentikan kezhaliman (nahyuz zhulmi) adalah boleh, selama tidak dilakukan dengan cara-cara zhalim atau menimbulkan kezhaliman baru. Itu pun ia ditempuh sebagai cara terakhir, ketika sudah tidak ada lagi cara lain untuk menghentikan kemungkaran atau kezhaliman besar. Wallahu a’lam bisshawaab. [Selesai].

Masalah 15

Apakah engkau masih mengganggap demonstrasi itu jalan Islam??? Jika engkau menjawab ‘Iya’ maka benarlah, bahwa demonstrasi itu menyebabkan kerusakan di muka bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat dari keyakinanmu bahwa demonstrasi adalah halal. Engkau mungkin akan berdalil dgn beberapa kisah sahabat yang engkau menyangka itu adalah demonstrasi. Maka dimanakah cara beragamamu, jika penafsiran hadits2 itu engkau bawa utk melegalkan aksimu? Engkau akan berdalil dengan kisah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha yang keluar saat terjadinya perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, atau engkau akan berdalil dengan kisah tidak shahih ttg masuk Islamnya Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang berkeliling di Ka’bah??? Ataukah engkau akan berdalil dengan kisah ketika terjadinya pembunuhan terhadap Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu oleh para demonstran yang dilakukan org2 Khawarij saat itu???

Catatan AMW 15:

Hai Abu Ammar, kamu begitu kuat sangkaanmu bahwa saya adalah seorang penganut paham demonstrasi. Padahal sejak lama saya tidak memberi perhatian terhadap masalah ini. Saya hanya merasa marah ketika Ummat Islam berusaha menolong saudaranya yang terzhalimi, dengan kemampuan minimal yang ada, yaitu demonstasi. Lalu hal itu dilarang dengan alasan fasadun fil ardhi. Sementara pihak yang melarang tidak mampu menghentikan kezhaliman Yahudi Israel di Ghaza, sehingga jatuh korban meninggal 1300 orang, luka-luka 5000 orang lebih, kerugian material mencapai US$ 2 miliar (sekitar 20 triliun rupiah). Bahkan akhirnya Israel menghentikan agressinya sendiri, bukan karena dihentikan oleh kehebatan pasukan negara-negara Arab. Sejak Perang Arab-Israel tahun 70-an, sepertinya negara-negara Arab sudah tidak mampu berperang lagi. “Kejantanan” mereka sepertinya sudah lenyap. Mereka baru “jantan” ketika menghancurkan pemuda-pemuda dakwah Islam. Wallahul Must’an wa ilaihi mustaka.

Bagaimana demo menentang kebiadaban Yahudi disebut fasadun fil ardhi, sementara kebengisan Israel yang sudah nyata-nyata di depan mata, tidak segera dihentikan? Andai pemerintah-pemerintah negeri Arab tanggap dan memiliki izzah, tidak perlu jatuh korban hingga 1300 orang lebih, korban luka lebih dari 5000 orang, korban kehancuran hingga US$ 2 miliar. Bahkan seharusnya, ketika Israel telah menghentikan serangan, negara-negara Arab harus menuntut balas atas kezhaliman mereka. Masalah tidak lantas berakhir ketika Israel berhenti menyerang; hukum qishash seharusnya ditegakkan.

Ummat Islam yang telah melakukan usaha apapun, untuk menolong saudaranya di Palestina, meskipun dengan demonstrasi, mereka insya Allah telah bebas dari tanggung-jawab atas jatuhnya korban 1300 orang, luka 5000 orang, dan kehancuran US$ 2 miliar itu. Allahumma amin. Adapun mereka yang selalu menyalah-nyalahkan kaum Muslimin, sementara mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Ummat, mereka kelak akan ditanya oleh Allah sikap anehnya itu. [Selesai].

Masalah 16

Ataukah engkau akan berdalil dengan hadits berikut di bawah ini, yang saya nukil dari penjelasan Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja saat menulis Koreksi singkat terhadap dua Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? & Mereka Adalah Teroris! Hadits: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang jahat.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Hakim & Al Albany).


Hadits ini menjelaskan bahwa jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa diktator yang kejam. Hal ini dikarenakan kemungkinan untuk selamat dari pembunuhan amat kecil, beda halnya dengan berjihad melawan orang-orang kafir, kemungkinan untuk selamat amat besar. Ditambah lagi manfaat dari perbuatannya ini amat besar, yaitu bila penguasa tersebut mau menerima nasehatnya, maka kemanfaatannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat, dan bukan hanya oleh orang tertentu. Dan pada hadits ini, tidak ada sama sekali dalil yang menyebutkan bahwa penyampaian nasehat ini disampaikan di hadapan khalayak ramai, atau dari atas podium, atau yang serupa. Bahkan terdapat satu isyarat bahwa nasehat ini disampaikan secara langsung di hadapannya, oleh karena itu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “di sisi/di hadapan seorang penguasa yang jahat“.


Dengan demikian hadits ini amat menyelisihi perbuatan banyak orang yang sok berpegangan dengan hadits ini, kemudian berorasi di mana-mana dengan menyebutkan berbagai kritikannya kepada pemerintah, atau dengan berdemonstrasi, atau yang serupa. Sebab ia menyampaikan nasehat bukan di hadapan penguasa, akan tetapi di hadapan masyarakat, sehingga yang terjadi hanyalah kekacauan, keresahan dan jatuhnya kewibawaan pemerintah di hadapan masyarakat. Dan bila kewibawaan pemerintah telah jatuh, maka para penjahat, pencuri, perampok, dan orang jahat lainnya akan semakin berani melancarkan kejahatannya. Hal ini sudah sama-sama kita rasakan pada masa-masa yang dijuluki oleh banyak orang dengan masa reformasi, padahal yang terjadi sebenarnya ialah masa-masa repot nasi.
Tidakkah kita mengambil pelajaran dari masa-masa kelam nan suram yang pernah kita lalui bersama?!

Catatan AMW 16:

Menasehati penguasa ini bisa dibagi tiga: Pertama, nasehat kepada penguasa kafir. Kita bisa menasehati mereka secara terang-terangan di hadapan mereka, atau di hadapan aparat-aparatnya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Rib’i bin Amri Ra ketika beliau berbicara secara tegas tentang keutamaan risalah Islam di hadapan Kisra Persia, Rustum. Kedua, nasehat kepada penguasa Muslim yang zhalim dan sangat mungkar. Boleh kita menasehati mereka secara terang-terangan, baik di depan orang banyak maupun di saat sepi. Karena mencegah kemungkaran dan menghentikan kezhaliman berlaku secara umum, tidak ada kekhususan tertentu. Namun tidak berarti juga kita harus mengangkat senjata melawan mereka. Asma’ binti Abu Bakar Ra. pernah mengecam keras Hajjaj As Tsaqafi; Imam Ahmad pernah menentang sikap penguasa yang meyakini “Al Qur’an adalah makhluk”; Imam Bukhari, Ibnu Taimiyyah dan lainnya pernah terlibat perselisihan dengan penguasa di masanya. Meskipun mereka tidak memberontak kepada penguasa itu. Ketiga, dalam urusan cacat sifat keadilan penguasa Muslim, sebaiknya nasehat disampaikan secara baik-baik, santun, dan lembut. Sehingga penguasa itu mau berubah tanpa merasa dipermalukan.

Sikap Salafi yang memutlakkan cara diam-diam, kerap kali membuat para penguasa semakin girang. Mereka merasa mendapat kesempatan untuk berbuat apa saja, tanpa khawatir dicemarkan namanya di depan masyarakat umum. Di sisi lain, Sakafi juga tidak melakukan apapun, untuk menasehati para penguasa. Mereka tidak ada yang menasehati penguasa secara diam-diam, empat mata, sangat tersembunyi. Jika diingatkan tentang hal itu, mereka berdalil dengan kenyataan di Saudi, “Ya Akhi, sungguh kami sudah mengingatkan penguasa. Hanya saja, kami tidak bilang-bilang pada siapapun, biar amal kami ikhlas, tidak tercampuri unsur riya’.” Sungguh ajaib!

Jika menasehati pnguasa secara diam-diam itu bisa dilakukan dengan mudah dan hasilnya efektif, tentu banyak pihak telah melakukannya. Seperti ketika dulu, saat MUI dekat dengan Pemerintah Ode Baru. Tetapi nyatanya, seorang pemimpin dikelilingi oleh aturan protokoler yang sangat ketat, sulit sekali mendekatinya. Jika nasehat-nasehat sudah ditunaikan, belum tentu isinya dipedulikan. Betapa tidak, seseorang ketika menasehati menggunakan kata-kata semisal ini, “Mohon Bapak Pemimpin yang mulia, yang selalu mendapat petunjuk, mohon kiranya apabila hati Bapak berkenan, sekiranya hal ini tidak membuat Bapak kecewa dan menyesal, mohon dengan amat sangat agar bisa meningkatkan anggaran di bidang pendidikan, agar diperoleh manfaat, faidah, dan kemajuan yang menggembirakan. Bilamana Bapak tidak berkenan, karena memandang ada urusan-urusan lain yang dianggap lebih maslahat untuk dilaksanakan terlebih dulu, atau memandang berbagai pemikiran lain yang telah dipikirkan secara matang, tentu kami akan tetap bersyukur dan mendoakan kebaikan Bapak Pemimpin yang mulia. Semoga salam, sentosa, dan rahmat selalu tercurah pada Anda, keluarga Anda, dan seluruh Pemerintahan.” Seharusnya, nasehat itu lugas dan tegas, sehingga ada atsar-nya di hati seorang pemimpin. Seperti perkataan Abu Muslim Al Khaulani Ra. di hadapan Muawiyah bin Abu Sufyan Ra., beliau berani memanggil Muawiyah dengan kata-kata “Ya aiyuhal ajir” (wahai buruh atau orang upahan).

Soal kegagalan Reformasi di Indonesia, hal itu terjadi karena kita berubah dari sistem Orde Baru ke sistem Liberalisme yang lebih buruk. Bukan semata-mata karena kebiasaan masyarakat menyalah-nyalahkan Penguasa di podium atau di depan umum.Itu hanya analisa yang terlalu simplisit. Bisa jadi ada kebenarannya, tetapi tidak bisa dijadikan sebagai alasan utama kegagalan Reformasi. [Selesai].

Masalah 17


Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya adalah orang yang semangat dalam menjalankan metode-metode yang diajarkan Nabi yang tidak berbicara kecuali dengan wahyu dari Allah. Maka sungguh sangat menyedihkan jika kita mendapati seorang yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah” kemudian malah mencari metode-metode lain yang tidak diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih-lebih lagi jika ternyata metode yang mereka gunakan adalah metode hasil import dari orang-orang kafir, Allahul Musta’aan…!!!

Catatan AMW 17:

Ya Allah ya Rabbi, begitu mudahnya seseorang menuduh orang lain meninggalkan metode Nabi, mengambil metode orang kafir. Seakan-akan dia sepenuhnya berada di atas manhaj Nabi, tidak bergeser sedikit pun meskipun hanya sehelai rambut.

Seperti saya katakan sebelumnya, esensi masalahnya bukan demontrasinya, wahai Sayyid Ammar. Tetapi upaya menyelamatkan saudaramu dari kezhaliman orang kafir. Kalau dengan “ngaji kitab” seperti yang biasa kalian lakukan, Israel bisa menghentikan segera kezhalimannya, tentu kita akan konsentrasi penuh untuk “ngaji kitab”. Perlu kalian catat, pemberitaan intensif seputar kezhaliman Yahudi di TV-TV Indonesia, hal itu telah membuat marah Pemerintah Israel. Begitu juga sikap tegas Recep Tayyib Erdogan di Davos Swiss terhadap kebrutalan Yahudi, telah membuat Presiden Isreal Shimon Perez merasa sangat tertekan. Hal ini memberi bukti, bahwa tekanan-tekanan terhadap Israel itu ada manfaatnya. Bahkan aksi intifadhah di Palestina yang sebenarnya adalah bentuk lain dari demonstrasi, itu juga diakui manfaatnya.

Kalau kita menempuh cara Nabi dalam kasus seperti di Ghaza, jelas bentuknya adalah Jihad Fi Sabilillah. Seharusnya negara-negara Muslim, khususnya Saudi, Mesir, Yordan, dan Syria, segera menyerbu Israel untuk menghentikan kezhalimannya. Itu kalau kita mau memakai cara Nabi. Di jaman Nabi, ketika tersiar khabar bahwa utusan Nabi kepda kaum musyrikin Makkah, yaitu Utsman bin ‘Affan Ra, beliau diberitakan dibunuh orang musyrik Makkah. Seketika itu Nabi melakukan Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon. Inilah bai’at untuk menuntut kehormatan dan darah seorang Muslim, meskipun kemudian diketahui bahwa Utsman tidak terbunuh. Allah memuji orang-orang yang bersumpah setia dalam Bai’atur Ridhwan ini. Hanya karena satu atau dua pembunuhan, Nabi melakukan kebulatan tekad untuk menuntut balas. Sementara sudah berapa jiwa Muslim Palestina dibunuh Yahudi sejak dulu, namun negara-negara Arab yang memiliki kekuatan tidak menuntut balas sebagaimana mestinya.

Cara Nabi dalam kasus kezhaliman besar ini ya Jihad Fi Sabilillah. Adapun demo itu kan dilakukan, ketika tidak ada satu pun negara Muslim yang berani menabuh genderang Jihad melawan Yahudi Israel. Demo itu cara minimal yang bisa dilakukan untuk menolong kaum Muslimin yang terzhalimi.

Abu Ammar menuduh saya mengimpor metode orang kafir, meninggalkan metode Nabi. Lalu saya ingin bertanya, “Apakah pembelaan kepada sesama Muslim yang terzhalimi itu bukan metode Nabi? Apakah mencegah kemungkaran itu bukan metode Nabi? Apakah menegakkan Izzah Islam itu bukan metode Nabi?” Jangan-jangan mereka ini hanya tukang klaim metode Nabi, padahal bisa jadi mereka biasa meninggalkan metode Nabi dan memilih cara-cara kaum Shufi.

Demonstrasi itu persoalan teknik, bukan perkara akidah atau ciri perbuatan orang kafir. Banyak orang di dunia memakai cara itu, tidak membedakan apapun agamanya. Namun di negara-negara Komunis demonstrasi dilarang. Demo biasanya dilakukan ketika melalui cara-cara resmi tidak ditemukan solusi. Cara seperti ini sebenarnya tidak ideal. Tetapi kita bisa memanfaatkannya untuk menolak kemungkaran dan kezhaliman, jika tidak ada cara lain yang bisa ditempuh untuk menunaikan hal itu. Idealnya, Pemerintah negara yang Islami cepat tanggap terhadap berbagai persoalan yang menimpa rakyatnya atau kaum Muslimin, sehingga tidak perlu menunggu sampai rakyatnya melakukan demonstrasi. Tapi dimanakah saat ini negara Islami yang sanggup menegakkan Izzah Islam dan Muslimin itu? [Selesai].

Masalah 18


Oleh karena itu sikap menghujat pemerintah baik di mimbar-mimbar atau di ceramah-ceramah atau melalui demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan di jalan-jalan sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan metode yang digariskan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits di atas. Diantara cara yang tidak baik dan tidak bijak dalam menjalankan kewajiban menasehati penguasa atau orang lain ialah menyampaikan teguran atau kritikan di hadapan khalayak ramai.

Imam As Syafi’i rahimahullah berkata: “Barang siapa menegur saudaranya dengan cara tersembunyi, maka ia telah menasehati dan menghiasinya, dan barang siapa yang menegur saudaranya dengan cara terus terang di hadapan khalayak, maka ia telah membeberkan aibnya dan menjelek-jelekkannya.”


Pada suatu saat dinyatakan kepada Mis’ar bin Qidaam rahimahullah: “Sukakah engkau kepada orang yang memberitahukanmu tentang aib/kekuranganmu? Beliau menjawab: “Bila ia menyampaikan nasehat kepadaku di tempat sunyi, maka saya akan menyukainya, dan bila ia menegurku di hadapan khalayak ramai, niscaya aku tidak akan menyukainya.”
Al Ghazali, mengomentari perkataan Mis’ar bin Qidaam dengan berkata: “Sungguh ia telah benar, karena sesungguhnya nasehat yang disampaikan di hadapan khalayak ramai adalah penghinaan.” (Ihya’ ‘Ulumuddin 2/182).


Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara. Dan diantara metode yang tidak islami ialah menyebarkan kejelekan atau kesalahan atau perbuatan dosa orang lain disaat ia tidak ada dihadapannya. Perbuatan ini dinyatakan sebagai perbuatan ghibah (menggunjing) dan ghibah diharamkan dalam syari’at, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12).


Bila hal ini diharamkan untuk kita lakukan kepada sesama rakyat, maka diharamkan juga untuk kita lakukan terhadap para penguasa. Dan syari’at ingkar mungkar kepada penguasa yang digariskan pada ayat di atas lebih ditegaskan lagi oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada sabdanya berikut ini: “Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan-pen), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Riwayat Ahmad, At-Thobrooni, dan Ibnu Abi ‘Ashim, dan Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah).


Pada hadits ini sangatlah jelas bagaimana metode yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menasehati penguasa. Oleh karena itu hadits ini dibawakan oleh Al-Hafizh Abu Bakr ‘Amr bin Abi ‘Ashim Ad-Dhohhak dalam kitabnya yang masyhur “As-Sunnah” dalam bab Bagaimana Cara Rakyat Menasehati Para Penguasa? Dan kisah berikut semakin menguatkan makna yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas:
Abu Wa’il mengisahkan: “Dikatakan kepada Usaamah (bin Zaid bin Haritsah), “Kalau seandainya engkau mendatangi si fulan (pada riwayat Muslim, dijelaskan siapa si fulan, yaitu: Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu) lalu engkau menasehatinya?” Usamah berkata, “Sesungguhnya kalian benar-benar beranggapan bahwasanya aku tidak menegurnya kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menasehatinya secara diam-diam (pada riwayat Muslim: “antara aku dan dia (empat mata) tanpa aku membuka sebuah pintu, yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih).


Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Usamah: “tanpa aku membuka sebuah pintu“, dengan berkata: “aku tidaklah menasehatinya kecuali dengan memperhatikan kemaslahatan, dengan nasehat yang tidak mengobarkan api fitnah.” (Fathul Bari 13/51). Beliau juga menjelaskan perkataan Usamah “tanpa aku membuka sebuah pintu” dengan berkata, “Yaitu pintu mengingkari para penguasa dengan cara terang-terangan (di hadapan khalayak), karena aku mengawatirkan persatuan kaum muslimin akan tercerai-berai.” (Fathul Bari 13/52).


Al ‘Aini –mengomentari perkataan Usamah-, “Sesungguhnya aku telah menegurnya secara diam-diam“: Maksudnya menyampaikan nasehat di saat sendirian, tanpa aku membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya: aku (Usamah) menegur Utsman guna mencari kemaslahatan bukan untuk memprovokasi timbulnya fitnah karena pada sikap mengingkari para penguasa dengan terang-terangan (secara terbuka di hadapan rakyat -pen) terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Pada sikap tersebut terdapat pencemaran nama baik mereka yang mengantarkan kepada terpecahnya tekad kaum muslimin dan tercerai berainya persatuan mereka.” (Umdatul Qari 15/166).

Syaikh Utsaimin pernah ditanya, “Kenapa anda tidak menegur pemerintah dan menjelaskan hal itu kepada masyarakat?” Maka beliau menjawab, “…Akan tetapi nasehat telah disampaikan… sungguh demi Allah!!! Aku beritahukan kepada engkau (wahai fulan), dan aku beritahukan kepada saudara-saudaraku bahwa sikap: “Mempublikasikan sikap anda yang telah menyampaikan nasehat kepada pemerintah mengandung dua mafsadat/marabahaya: Mafsadat pertama: Hendaknya setiap orang senantiasa mengkhawatirkan dirinya akan tertimpa riya’, sehingga gugurlah amalannya.
Mafsadat kedua: Bila pemerintah tidak menerima nasehat tersebut, maka teguran ini menjadi hujjah (alasan) bagi masyarakat awam untuk (menyudutkan) pemerintah. Akhirnya mereka akan bergejolak (terprovokasi) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” (Dari kaset as’ilah haula lajnah al-huquq as-syar’iyah. Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Ramadani dalam Madarik an-Nazhor hal 211).


Diantara metode berdakwah kepada para penguasa ialah dengan cara mendoakannya agar mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, bukan malah mendoakan kejelekan untuknya.
Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya seorang penguasa berarti baiknya negeri dan rakyat. (Siyar A’alam An Nubala’ oleh Az Dzahaby 8/434).


Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya bergembira tatkala mengetahui bahwa metode dalam menasehati pemerintah ternyata telah dijelaskan dengan gamblang oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Baginya tidak ada bedanya, apakah nasehat tersebut akhirnya diterima oleh sang penguasa atau tidak.
Sampai di sini …. belumkah jelas bagimu wahai penuduh???

Catatan AMW 18:

Menasehati penguasa secara diam-diam tidak dilakukan secara mutlak, dalam segala kondisi. Bahkan penguasa Muslim pun boleh dinsehati secara terbuka, jika kemungkarannya sudah mengkhawatirkan kehidupan Ummat. Lihatlah bagaimana Imam Ahmad berselisih dengan penguasa di masanya, Imam Bukhari dengan penguasa Bukhara, Ibnu Taimiyyah dijebloskan ke penjara oleh penguasa. Asma’ binti Abu Bakar Ra., Abu Muslim Al Khaulani Ra., Hasan Al Basri, Said bin Musayyab, Al Ghazali, Al ‘Izz bin Abdus Salam, dan lainnya menasehati penguasa secara tegas, sedangkan Ummat Islam mengetahui nasehat-nasehat mereka. Andai nasehat itu selalu “empat mata”, maka kita tidak akan pernah mendengar kisah-kisah nasehat mereka. Bahkan perlu ditegaskan lagi, meskipun harus diulang-ulang, Khalifah Umar bin Khattab Ra. saat dilantik menjadi Khalifah, beliau sudah dinasehati dengan pedang oleh salah satu rakyatnya.

Sungguh Salafi akan menjadi kumpulan manusia-manusia pendosa, jika dalam pendapatnya selalu menyelamatkan posisi penguasa, lalu mendapatkan “upah” dari jasanya itu. Para ulama Salafus Shalih selalu tegas kepada para umara, hatta itu kepada Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah. Di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa: “Siapa yang mendatangi pintu penguasa, dia adalah pencuri!” Begitu kerasnya mereka mengingkari kedekatan para ahli-ahli agama dengan para umara. Adapun hari ini, muncul sekelompok orang yang selalu menjadi pembela umara. Ironisnya, tidak pernah terdengar keberanian mereka dalam menasehati penguasa, sekalipun secara diam-diam, dengan “empat mata”.

Dalam kasus Tragedi Ghaza, ia menjadi contoh tentang kemungkaran para penguasa (Arab) yang sudah melampaui batas. Kenyataan itu tidak bisa dibiarkan dengan dalih nasehat “empat mata”. Sebab membiarkan kemungkaran itu akan menyebabkan kerusakan yang luas dalam agama maupun kehidupan. Tragedi Ghaza bukan persoalan kemungkaran kecil, tetapi ia bisa menyebabkan kekafiran bagi orang-orang zhalim yang terlibat di di dalamnya. Lihatlah dengan jelas kenyataan-kenyataan ini:

(1) Agressi Israel sangat biadab, telah menghancurkan jiwa, harta, dan kehidupan warga Muslim Ghaza Palestina; (2) Sejak awal Hamas berkuasa di Palestina tahun 2006, Israel telah memblokade Palestina dari darat, laut, dan udara; (3) Mesir ikut membantu rencana Israel untuk membunuh pelan-pelan jutaan warga Ghaza, dengan cara menutup perbatasan di Rafah; (4) Tragedi demi tragedi telah terjadi di Palestina, sejak tahun 1948 dulu; (5) Mesir, Yordan, Syria, Libanon, dan Saudi adalah tetangga terdekat Muslim Palestina; (6) Saudi memiliki dana dan minyak sangat besar yang bisa digunakan untuk menolong Muslim Palestina dari kezhaliman Israel.

Dengan semua kenyataan di atas, seharusnya tidak alasan untuk menunda pembelaan terhadap Muslim Palestina dan menghentikan kezhaliman Yahudi Israel. Namun setelah itu, justru terjadi Tragedi Ghaza yang sangat mengerikan; ribuan manusia meninggal dan terluka, rumah-rumah hancur, jalanan dan gedung-gedung rusak, masjid-masjid roboh, rumah sakit, pasar, sekolah, dan lainnya hancur. Sampai bayi-bayi yang lahir premature di RS terancam jiwanya, karena Israel mematikan pasokan listrik ke wilayah Ghaza. Sedangkan bayi-bayi itu masih diraway di inkubator.

Tragedi ini jelas terjadi bukan karena Pemerintah Saudi, Mesir, atau Yordan, belum pernah menerima nasehat. Terlalu banyak nasehat yang sampai kepada mereka, baik nasehat terbuka, nasehat diam-diam, maupun nasehat sindiran. Maka cukuplah konflik antara Saudi dengan Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah menjadi sebuah bukti bahwa Saudi telah lama mendapatkan peringatan dari rakyatnya. Hingga karena tidak sabar, Usamah dan kawan-kawan memilih perlawanan fisik. Kita tidak membenarkan perlawanan itu, tetapi ia adalah bukti “nasehat” tersebut.

Andai kesalahannya hanya masalah maksiyat atau hal-hal yang tidak prinsip, mungkin banyak pihak tidak akan menyuarakan kritik sangat keras. Tetapi lihatlah betapa Saudi, Mesir, Yordan, mereka tidak setuju jika Liga Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Padahal cara seperti itu bisa menghentikan kebiadaban Zionis Israel. Malah mereka bertiga membuat konferensi tandingan terhadap KTT Ghaza di Doha Qatar. Semua orang tahu, Saudi dan Mesir tidak menyukai Hamas. Entahlah, apa karena Hamas bagian dari Al Ikhwan atau lainnya? Wallahu a’lam.

Seharusnya Salafi bersikap adil. Menasehati penguasa secara diam-diam, tidak mencela mereka di muka umum, tidak mempermalukan mereka, dll. Semua itu adalah hak para penguasa Muslim. Namun sebelum mereka mendapat haknya, tunaikan dulu kewajibannya. Jangan biarkan kaum Muslimin menderita, dibunuh, diteror, dihancurkan; tetapi tolonglah mereka dengan sepenuh dayamu. Jika para penguasa telah menunaikan kewajibannya dengan baik, pasti rakyat akan menunaikan hak mereka dengan baik. Contoh, sikap tegas Recep Tayyib Erdogan kepada Presiden Israel, Shimon Perez. Beliau tidak akan dikecam oleh rakyatnya, bahkan dielu-elukan karena sikap tegasnya. Jadi, jika penguasa telah menunaikan kewajibannya, rakyat pun akan memenuhi hak mereka. Dalam kasus Tragedi Ghaza ini, hak-hak Ummat Islam tidak dilindungi sehingga jatuh korban besar, sementara para penguasa Arab menuntut agar hak-haknya dipenuhi secara sempurna. Semua ini adalah khianat besar dalam Islam. [Selesai].

Masalah 19

Saya kembali ingin bertanya, apakah engkau berlangganan ketiga majalah di atas??? Jika masih berlangganan hingga saat ini, maka saya memohon kepada Alloh Ta’ala utk menghilangkan penyakit yang menimpa hatimu. Sehingga engkau bisa menelaah setiap pembahasan di dalamnya dengan baik. Dan saya memohon kepada Alloh ta’ala utk meneguhkan hatimu kepada jalan petunjuk yang engkau akan berdakwah dengannya.
Saudaraku… kiranya saya tak usah membahas masalah demokrasi panjang lebar. Cukuplah bahwa hukum ini milik Alloh, maka Demi Alloh… produk hasil olahan manusia utk mengatur kemaslhatan dunia ini tidak akan pernah mencapai tujuannya. Demokrasi bukan dari ajaran Islam, maka ia tidak akan membawa manfaat kepada umat Islam. Adapun pemimpin yang telah tercapai melalui sistem demokrasi, maka kewajiban umat Islam utk taat kepadanya. Jangankan demikian, seandainya pemimpin tersebut memperoleh kekuasaannya dengan cara pedang utk menggulingkan penguasa sebelumnya pun. Kewajiban umat Islam adalah tetap mentaatinya dalam perkara yang baik.
Dan ia tidak berkewajiban dalam perkara yang maksiat.

Catatan AMW 19:

Ya, itu hanya satu contoh sikap kontradiksi Anda dan kaum Salafiyun. Kalian haramkan demokrasi, kalian sebut sistem kafir, sistem Yunani, dan sebagainya. Tetapi hasil dari sistem itu sendiri, berupa pemimpin, kalian sebut sebagai Ulil Amri. Kontradiksi seperti ini sangat membingungkan Ummat. Seperti contoh, misalnya Anda haramkan rokok karena alasan kemadharatan dan lainnya. Tetapi ketika pabrik rokok memberi dana sumbangan ke tempat Anda, sumbangan itu Anda terima juga. Ini hanya sekedar analogi.

Kalau seseorang mengharamkan demokrasi secara mutlak, tanpa ada toleransi sedikit pun, maka hasil-hasil yang diperoleh dari sistem demokrasi seharusnya juga diharamkan. Seperti pasangan laki-laki perempuan yang melakukan zina, lalu lahir anak dari perzinahan itu. Maka posisi anak itu dianggap sebagai “anak haram”, sampai kedua orangtuanya melangsungkan pernikahan secara sah. Meskipun anak itu tetap diakui sebagai manusia sewajarnya. Begitu pula, misalnya ada bisnis yang dimodali dari hasil judi. Maka penghasilan yang diperoleh dari bisnis itu menjadi tidak berkah, karena sumber awalnya dana haram.

Lihatlah betapa kerasnya sikap Salafi dalam mengingkari demokrasi. Padahal sistem seperti itu sudah diakui (bahkan diyakini) oleh setiap “Ulil Amri” yang dihasilkan dari sistem tersebut. Pengingkaran Salafi terhadap demokrasi ini bisa dianggap sebagai “menghujat Ulil Amri” secara terbuka di majlis-majlis taklim, majalah, situs internet, dan lainnya. Sebab yang menyelenggarakan sistem demokrasi itu adalah “Ulil Amri” juga. Seharusnya saat Salafi mengecam demokrasi, mereka juga mengatakan secara tegas: “Demokrasi adalah haram, sistem kafir, musyrik, dan lainnya. Tetapi hasil dari demokrasi halal 100 %.” Seharusnya Salafi mengatakan seperti itu.

Saya ingin bertanya ke para Salafiyun, andai ada seorang pemimpin yang dihasilkan melalui proses ritual yang penuh kemusyrikan, misalnya setelah dilakukan Larung di Pantai Selatan. Apakah pemimpin seperti itu bisa diterima sebagai pemimpin Islam? Apakah dia biasa dibaiat sebagai Ulil Amri? Jika cara kekafiran dibenarkan, maka pemimpin seperti itu seharusnya bisa diterima sebagai Ulil Amri. Jika kita melakukan perbuatan seperti itu (menerima penguasa, sekalipun prosesnya penuh kemusyrikan), maka ia akan menjadi legitimasi bagi cara kemusyrikan itu.

Abu Ammar sampai bersumpah, “Cukuplah bahwa hukum ini milik Alloh, maka Demi Alloh… produk hasil olahan manusia utk mengatur kemaslhatan dunia ini tidak akan pernah mencapai tujuannya. Demokrasi bukan dari ajaran Islam, maka ia tidak akan membawa manfaat kepada umat Islam.”

Jika demikian, saya ingin bertanya sederhana saja, “Kalau begitu pemimpin yang dihasilkan dengan cara demokrasi ini harus segera diruntuhkan, sebab percuma. Ia tidak akan bisa mencapai kemashlahatan, bahkan tidak membawa manfaat bagi Ummat.” Begitu kan Abu Ammar? Jujur sajalah, jangan malu-malu dengan segala kesesatanmu. Semoga Allah menunji kita semua dengan kebenaran. Allahumma amin. [Selesai].

Masalah 20

Sebagaimana telah dicontohkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma ketika berbai’at kepada Abdul Malik bin Marwan. Perhatikan riwayat berikut ini: Abdulllah bin Dinar meriwayatkan bahwa ketika manusia berkumpul kepada Abdul Malik, dia melihat Ibnu Umar dan ia (Ibnu Umar) berkata: ”Sesungguhnya aku mengikrarkan bahwa aku mendengar dan taat kepada Abdullah yaitu Abdul malik Amirul Mukminin di atas Sunnatullah dan Sunnah rasul-Nya semampuku, dan sesungguhnya anak-anakku juga telah mengikrarkan seperti aku.” [Diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya juz 13 hal 193 penerbit Maktabatur Riyadh al-haditsiyyah].


Berkata asy-Syathibi: ”Telah dikatakan kepada Yahya bin Yahya, ’Apakah bai’at (sumpah setia kepada penguasa) adalah makruhah (dibenci)?” Beliau menjawab, ”Tidak.” Beliau ditanya lagi, ”Walaupun mereka adalah penguasa jahat?” beliau menjawab, ”Sungguh telah berbai’at Ibnu Umar kepada Abdul Malik bin Marwan padahal Abdul Malik mengambil kekuasaan dengan pedang. Disampaikan kepadaku hal ini oleh Malik dari Ibnu Umar bahwa dia menulis surat kepada Marwan dan memerintahkan org utk mendengar dan taat di atas Kitab dan Sunnah Nabi-Nya.” Yahya bin Yahya juga berkata: ”Baiat adalah lebih baik daripada perpecahan.”
(al-I’thisham juz 2, hal 626, penerbit Daar Ibnu Affan, Al Khabar, Cet kedua.). [Lihat dibuku ”Meredam Amarah terhadap Pemerintah, menyikapi kejahatan penguasa menurut al-Qur’an dan Sunnah” penerbit Pustaka Sumayyah 2006 hal 62-63].

Catatan AMW 20:

Iya paham, mengerti insya Allah. Tetapi sekali lagi, Anda sangat ironis disini. Satu sisi mengharamkan demokrasi, di sisi lain menghalalkan hasilnya. Bahkan hasil demokrasi menghasilkan Ulil Amri yang ditaati, setelah Allah dan Rasul-Nya. Seharusnya, kalau menolak demokrasi, tolak juga hasilnya. Atau kalau menerima hasilnya, maka terima juga prosesnya. Lha, ibadah kan seperti itu, harus benar niat dan caranya. Niat ikhlas dan cara sesuai Sunnah.

Sikap ambigu seperti itu bukan tanpa akibat. Ketika anda haramkan demokrasi dan Anda sebarkan pandangan itu seluas-luasnya, maka tindakan Anda telah menyulitkan program “Ulil Amri”. Kalau mereka marah, Anda bisa dijatuhi sanksi. Kemudian, setelah terpilih pemimpin, Anda sebut dia sebagai Ulil Amri. Hal ini tentu akan melupakan Anda terhadap proses haram (demokrasi) yang tadinya melahirkan pemimpin itu. Anda tidak akan berani menegur Ulil Amri itu dalam soal haramnya demokrasi. Kalau Ahlus Sunnah, insya Allah tidak akan seruwet itu situasinya. [Selesai].

(Bersambung ke Bagian 3).

Ardhillah, 31 Januari 2009.

( AM. Waskito ).

Iklan

2 Responses to Pemikiran Politik Salafi (Bagian 2)

  1. reza moza berkata:

    syukron akhi……..muataaappp!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: