Pemikiran Politik Salafi (Bagian 3)

Masalah 21


Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menghadapi pemerintah muslim adalah patuh dan taat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [QS.an-Nisa : 59].

Catatan AMW 21:

Ya sepakat, kita harus taat kepada Pemerintah Muslim, yaitu Pemerintahan yang taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, bukan yang takluk kepada hukum Belanda, Perancis, Inggris, dan lainnya. Sama seperti ketika Anda (Abu Ammar) ketika mengatakan tentang kebathilan demokrasi: “Cukuplah bahwa hukum ini milik Alloh, maka Demi Alloh… produk hasil olahan manusia utk mengatur kemaslhatan dunia ini tidak akan pernah mencapai tujuannya.”

Kalau ada Pemerintahan yang tidak taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, kita tidak wajib taat kepadanya. Buat apa taat kepada mereka, sementara mereka sendiri tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Alasan apa yang membuat orang-orang durhaka itu harus ditaati, jika mereka tidak menjalankan Syariat Islam? Apakah Allah mewajibkan orang-orang beriman taat kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya dan Rasul-Nya? Ya, Anda tahu jawabannya.

Termasuk salah satu kesesatan Salafi, yaitu mengklaim setiap Pemerintah yang pimpinan tertingginya ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri. Meskipun mereka berakidah demokrasi, Nasionalisme, Sekularisme, Pluralisme, Sosialisme, kerjasama dengan Zionisme, dan lain-lain. Padahal cara-cara seperti inilah yang menyebabkan syiar keimanan semakin meredup, sementara syiar-syiar kekafiran terus berkibar-kibar. Mengklaim setiap pemimpin ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri, meskipun dalam praktiknya dia anti Islam (seperti Husni Mubarak di Mesir), akibatnya tersebarlah kekafiran seluas-luasnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Selesai].

Masalah 22


Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Artinya : “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu : ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan ke-pada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perka-ra yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’” [HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, dan Syaikh al-Albany menshahihkan juga hadits ini].


Perhatikanlah hadits mulia ini. Sekalipun seorang budak yang menjadi pemimpin. Maka ketaatan itu tidak boleh dicabut. Tahukah engkau wahai penulis??? Jika salah satu syarat menjadi pemimpin itu adalah seorang yang merdeka.
Lantas bagaimana seorang budak bisa menjadi penguasa??? Dengan cara apa dia menjadi penguasa??? Tidakkah terpikir olehmu??? Engkau kemanakan petunjuk yang mulia dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini???

Catatan AMW 22:

Dalam sejarah Islam pernah terjadi, kalangan budak menjadi Khalifah kaum Muslimin. Itulah yang dikenal sebagai era Dinasti Mamluk (atau Mameluk). Kalau membaca sejarah, sebenarnya mereka bukan budak, tetapi proses sosial yang terjadi ketika itu membuat mereka “terbudakkan”. Ketika itu muncul seorang ulama yang menggugat posisi “kebudakan” Khalifah itu. Beliau adalah Al ‘Izz bin Abdus Salam rahimahullah. Beliau menuntut agar Khalifah memerdekakan dirinya terlebih dulu, sebab tidak sah seorang pemimpin negara Islam berstatus budak. Maka dengan terpaksa, Khalifah di masa itu menuruti tuntutan tersebut. Sehingga disana muncul kalimat bernada humor, “Al malik yuba’” (dijual seorang raja). Padahal seharusnya dikatakan, “Al mamluk yuba’” (dijual seorang budak).

Ya, beginilah sederhananya. Kalau pemimpin itu Muslim dan menegakkan Syariat Islam, apakah dia merdeka atau budak, apakah kulit hitam atau putih, apakah dia zhalim atau adil, maka kita wajib mentaatinya. Dia mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka kita pun rela mentaatinya. Sebaliknya, andai ada seorang pemimpin yang sifat-sifatnya nyaris sempurna, tetapi dia meletakkan hukum Allah dan Rasul-Nya di telapak kakinya, maka pemimpin seperti itu tidak layak ditaati. Atas dasar apa meletakkan ketaatan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?

Kalau Salafi rela mentaati siapapun yang ber-KTP Islam, meskipun ideologinya Sekuler, Nasionalis, Sosialis, dan lainnya, maka itu terserah mereka. Jelas kita berlepas diri dari sikap wala’ kepada orang-orang berideologi non Islam. Mendaulat pemimpin ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri, meskipun dia berideologi non Islam, hal itu sama saja dengan memberikan pakaian Islam kepada sesuatu di luar Islam. Jelas ini kemungkaran besar. Na’udzubillah min dzalik. Dan hal-hal seperti inilah yang selama ini terus melemahkan kaum Muslimin dan membuat mereka hina. Jika menyebut seorang kafir sebagai Muslim, hal itu bisa menyebabkan kerusakan; apalagi jika mengislamisasikan kepemimpinan negara yang sebenarnya tidak Islami? Pasti kerusakan yang terjadi jauh lebih dahsyat lagi. Seharusnya Salafi mengingkari para pemimpin berideologi Sekuler, Nasionalis, Sosialis, Kapitalis, Kesukuan, dll. sebagaimana mereka bisa dengan sangat keras mengingkari demokrasi. [Selesai].

Masalah 23

Apakah yang dibicarakan dalam halaqoh2 yang engkau hadiri??? Tidakkah perkara ini dibahas, dimana banyak kaum muslimin tergelincir di dalamnya. Apakah hanya sibuk demonstrasi saja sehingga belum sempat membuka hadits2 dalam masalah ketaatan kepada penguasa muslim yang demikian banyaknya??? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar umat Islam ini menggigitnya dengan gigi geraham. Bukan dengan gigi seri atau taringnya. Karena gigi geraham ini adalah gigi yang paling kuat. Maka maknanya, pegang kuat2 petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Padahal masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menganjurkan kita supaya patuh dan taat. Sekalipun penguasa tersebut korupsi dan mendzalimi umat. Sekalipun ia berjalan bukan di atas jalan petunjuk dan dalam keadaan banyak perselisihan. Maka kewajiban umat Islam adalah mentaati penguasa, selama penguasa itu muslim dan tidak tampak kekafiran yang nyata yang bisa dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Alloh.

Catatan AMW 23:

Nabi mengatakan, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf saja). Para ulama menyebut sebuah kaidah, “Laa tha’ata lil makhluqin li ma’shiyatil Khaliq” (tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiyat kepada Allah). Kaidah-kaidah ini sangat jelas. Malah diperkuat oleh ayat Al Qur’an, “Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah).” (An Nisaa’: 59). Artinya, rujukan kita dalam segala macam perselisihan adalah Kitabullah dan Sunnah, termasuk ketika menghukumi para penguasa.

Ada satu pemahaman berlebihan di kalangan Salafiyun. Saat mendapati hadits-hadits yang memerintahkan kita taat kepada Penguasa Muslim, meskipun dia seorang budak dari Habsyi yang rambutnya meringkel-meringkel seperti kismis. Semua itu adalah ajaran Kenabian yang tidak diragukan lagi. Tetapi ajaran Kenabian lain juga mengatakan, “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, dan hal itu (menolak dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Siapapun yang berbuat mungkar, lalu kita mendapati kemungkarannya, kita boleh mencegahnya, sekalipun hal itu adalah penguasa. Sebab hadits Nabi itu sifatnya umum, beliau tidak memberi pengecualian. Kemudian ada hadits riwayat Ahmad dan At Thabraani yang diriwayatkan dari Ibnu Abi Ashim Ra, bahwa Nabi memerintahkan kita untuk menasehati penguasa secara diam-diam, tidak di depan umum. Katanya, hadits itu dishahihkan oleh Al Albani.

Saya tidak tahu, apakah yang dituju oleh hadits tersebut berupa pelanggaran para penguasa yang sifatnya ringan (masih bisa ditolelir), atau apakah dalam segala bentuk kedurhakaan mereka? Tetapi yang jelas, Musa ‘alaihissalam pernah berhadapan dengan Fir’aun, lalu menasehatinya secara terbuka. Padahal kita tahu, betapa hebatnya kekuatan Fir’aun ketika itu. Begitu pula, seorang pemuda (al ghulam) dalam kisah Ashabul Ukhdud, juga terang-terangan mengingkari kekafiran raja itu. Dalam sejarah Islam, Asma’ binti Abu Bakar Ra. pernah secara terbuka mengingkari kezhaliman Hajjaj As Tsaqafi. Bukan satu dua ulama menasehati para penguasa Muslim di hadapan pengawal-pengawalnya. Contoh Abu Muslim Al Khaulani Ra. pernah menasehati Muawiyyah bin Abi Sufyan Ra. Dengan menyebutnya sebagai Al Ajir (orang uphan). Hasan Al Basri, Said bin Musayyab, Sufyan As Tsauri dan lain-lain juga dikenal nasehat-nasehatnya kepada para penguasa Muslim di masanya. Hingga disana disebutkan bahwa Said bin Musayyab sangat membenci mendatangi pintu-pintu penguasa. Termasuk Imam Bukhari, beliau tidak mau mendatangi pintu penguasa, sekalipun untuk mengajarkan kitab hadits beliau. Akibatnya beliau dibenci penguasa Bukhara dan mendapat fitnah demi fitnah. Apa yang dialami Imam Bukhari bukan lagi soal “nasehat empat mata”, tetapi seluruh negeri telah tahu konflik beliau dengan penguasa. Begitu juga keteguhan Imam Ahmad saat mengingkari paham “Al Qur’an adalah makhluk”, sehingga beliau ditangkap, dipenjara, dan disiksa. Saat itu seluruh negeri telah tahu perselisihan beliau dengan penguasa. Bahkan saat pelantikan Khalifah Umar bin Khattab Ra, ada seseorang yang berkata lantang, dia siap menasehati Khalifah dengan pedang, jika tidak bersikap lurus. Al Ghazali juga dikenal sebagai ulama yang berani meluruskan para umara dengan nasehat-nasehat kritisnya. Banyak bukti bisa disebutkan, bahwa mengingkari penguasa atau menasehatinya tidak harus selalu dengan “empat mata”.

Disini dapat diambil kesimpulan: (1) Jika menyangkut pemimpin yang kafir, kita boleh mengingkari kekafirannya secara terang-terangan, lalu mendakwahinya ke jalan Allah. Hal itu seperti pemuda dalam kisah Ashabul Ukhdud; (2) Jika menyangkut kemungkaran atau kezhaliman besar para penguasa Muslim, yang dikhawatirkan kezhalimannya bisa merusak agama dan kehidupan Ummat, boleh mengingkarinya secara terang-terangan. Seperti perbuatan Imam Ahmad. Tetapi tidak berarti kita mengangkat senjata untuk melawan mereka; (3) Jika menyangkut sikap keadilan penguasa Muslim, maka menasehatinya secara diam-diam, tidak di depan umum, itu lebih utama.

Tetapi di mata Salafi, mereka memutlakkan cara diam-diam dalam menasehati para penguasa Muslim. Mereka menentang keras sikap terbuka dalam mengingkari kemungkaran atau kezhaliman penguasa Muslim, termasuk dalam perkara-perkara kekafiran. Padahal kita mengenal dengan baik bagaimana sikap Imam Ahmad, Imam Bukhari, bahkan Ibnu Taimiyyah terhadap penguasa Muslim di era masing-masing. Begitu pula sikap keras Said bin Musayyab yang tidak mau mendatangi pintu-pintu penguasa, juga mereka abaikan.

Di balik sikap “pro kekuasaan” yang selalu diperlihatkan Salafi, biarpun ideologi penguasa itu bukan Islam, menyebabkan kerusakan luas di muka bumi. Disana tersebar kekafiran dan kemungkaran, karena para penguasa bersikap durhaka, sementara para Salafiyun selalu melindungi mereka. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari paham sesat dan menyesatkan. Amin ya Rahiim. [Selesai].

Masalah 24

Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
“Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (di atas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaqun ‘alaih].


Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja” [Muttafaqun ‘alaih].
Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain. “Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq”[HR Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir].

Catatan AMW 24:

Perhatikan kalimat: “Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.” Ini sebuah kaidah penting. Tetapi sayangnya, di mata Salafiyun tidak tampak ada penguasa Muslim yang kafir karena kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Salafiyun rata-rata menerima pemimpin, selama ber-KTP Islam, meskipun ideologi mereka demokrasi, Sekuler, Nasionalis, Pluralis, atau Sosialis. Pemimpin di Indonesia, Yordania, Aljazair, Mesir, Malaysia, Pakistan, dan lainnya mereka semua disebut Ulil Amri, selama KTP-nya Islam dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Di mata Salafi tidak ada istilah pemimpin munafik, semuanya Islam dan bisa diterima sebagai Ulil Amri. Padahal kemunafikan itu ada dan telah dikenal sejak jaman Nabi Saw dan para Shahabat.

Kalau mau jujur, “kekufuran yang jelas” itu bisa dilihat dengan mudah. Misalnya tindakan menghancurkan gerakan-gerakan dakwah yang ingin menegakkan Syariat Islam; mempertuhankan Nasionalisme; mempertahankan hukum selain Syariat Islam; membunuhi ribuan aktivis Islam seperti terjadi di Aljazair, Syria, Afghanistan, Asia Tengah, dll. Juga termasuk kekafiran yang nyata, ialah kerjasama dengan musuh-musuh Allah, berwala’ kepada mereka, tidak mau memboikot agressor, lebih mencintai jabatan dan uang ketimbang keselamatan Islam dan kaum Muslimin, dan lainnya. Semua ini adalah kekafiran yang nyata. Tetapi meskipun begitu, sangatlah sulit mengharap kaum Salafiyun akan menunaikan amanah hadits di atas, meskipun mereka telah melihat “kekufuran yang jelas”. [Selesai].

Masalah 25


Untuk menjawab masalah ini, berikut saya nukilkan tulisan Ustadz Abu Ahmad As-Salafi. Ketika beliau membantah buku Kawasyif Jaliyyah fi Kufri Daulah Su’udiyyah yang ditulis oleh Abu Muhammad al-Maqdisi dan dalam edisi Indonesia ”Saudi di Mata Seorang al-Qaidah”. Karena banyaknya tuduhan yang diarahkan kepada Saudi adalah diantaranya merujuk kepada tulisan di dalam buku ini.

Catatan AMW 25:

Jujur saya belum pernah membaca buku itu. Pernah melihat covernya, tetapi belum pernah membaca isinya. Saya sempat membaca beberapa risalah karya Abu Muhammad Al Maqdisi. Tetapi kurang memahami dengan jelas, siapa dirinya, bagaimana corak pemikirannya. Banyak informasi beredar bahwa Al Maqdisi ini salah satu ulamanya Al Qa’idah dan sangat anti Kerajaan Saudi. Saya pernah menanyakan Al Maqdisi ke seorang ustadz, tetapi tidak mendapat jawaban yang jelas.

Kalau membaca judul bukunya, tentang menyingkap bukti-bukti kekafiran negara Saudi. Wah, ini urusan yang amat berat. Negara Saudi terdiri dari penguasa politik, ulama, syaikh, ustadz, pegawai negara, rakyat biasa, dan sebagainya. Kalau menyebut mereka semua kafir, jelas ia tuduhan yang sangat mengerikan. Bagaimana sebuah negara bisa divonis kafir seluruhnya? Masak tidak ada satu pun yang Islam disana? Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Selesai].

Masalah 26

MUQADDIMAH

Daulah Su’udiyyah atau negeri Saudi Arabia adalah salah satu daulah di jazirah Arabiyyah yang dikenal sebagai pembela dakwah Salafiyyah yang gigih sejak berdirinya hingga saat ini. Usaha yang agung dari dauluah Su’udiyyah di dalam mendakwahkan Islam yang haq menyejukkan mata dan membesarkan hati setiap muslim yang cinta kepada Islam yang haq, tetapi sebaliknya membuat geram dan panas orang-orang yang hatinya diselubungi oleh kebatilan dan kebid’ahan!


Di antara orang-orang yang sangat dengki kepada perjuangan daulah Su’udiyyah adalah seseorang yang menyebut dirinya Abu Muhammad Al-Maqdisi di dalam bukunya yang berjudul Kawasyif Jaliyyah fi Kufri Daulah Su’udiyyah – Edisi Indonesia : “Saudi di Mata Seorang al-Qaidah.”

Dengan izin Allah telah sampai kepada kami kitab bantahan terhadap kitab Kawasyif di atas yang berjudul Tabdid Kawasyifil Anid fi Takfirihi Lidaulati Tauhid oleh Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris dengan kata pengantar Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin Al-Ubaikan dan Syaikh Abdullah Al-Ubailan.

Catatan AMW 26:

Sepertinya ada sebuah bid’ah besar di kalangan Ummat Islam ini, yaitu menganggap Saudi itu segala-galanya. Setiap yang berbau Saudi selalu benar, tidak ada salah, tidak ada cacat. Setiap yang menentang Saudi otomatis bathil, otomatis sesat, ahli bid’ah, pendengki, dan seterusnya. Pemikiran seperti ini jelas merupakan kesesatan yang nyata. OK, kita akui bahwa Saudi itu banyak jasa-jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin di dunia, alhamdulillah. Tetapi menyebut mereka selalu benar, lurus, dan adil, itu jelas berlebihan. Klaim seperti ini pasti tidak diridhai di sisi Allah. [Selesai].

Masalah 27

Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq maka dengan permohonan pertolongan kepada Allah akan kami paparkan kesalahan-kesalahan kitab Kawasyif Jaliyyah di atas dengan mengacu kepada kitab Tabdid Kawasyif dengan harapan bisa memberikan rambu-rambu syar’i terhadap para pembaca kitab ini secara khusus dan kaum muslimin secara umum.

PENULIS DAN PENERBIT

Buku ini ditulis oleh Abu Muhammad Al-Maqdisi, nama lengkapnya adalah Isham bin Muhammad bin Thohir Al-Burqowi, Lahir pada tahun 1378H/1959M di desa Burqoh daerah Nablus Palestina. Dia tumbuh di Kuwait, dia berguru pada awalnya kepada Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin tokoh utama kelompok Sururiyyah hingga dia dikeluarkan dari kelompok Muhammad Surur karena fatwanya yang menyelisihi kelompok tersebut, kemudian dia berguru kepada para pemuda sisa-sisa kelompok Juhaiman yang tinggal di Kuwait, dan mengarang beberapa kitab seperti Kawasyif Jaliyah, Millata Ibrahim, Murji’atu Ashr, dan yang lainnya, kemudian dia dikeluarkan dari kelompok tersebut karena ketergesaannya dalam takfir, maka dia menyerang balik kelompok tersebut dengan menulis sebuah risalah kecil yang mensifati mereka sebagai “thaghut-thaghut kecil’. Sesudah itu dia bergabung dengan beberapa perorangan yang ghuluw dalam takfir yang mereka tidak sholat di masjid-masjid kaum muslimin dan sholat Jum’at di padang pasir! [Lihat Tabdid Kawasyif hal. 24-45]. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abu Sulaiman dan diterbitkan oleh Penerbit Jazera Solo, cetakan pertama September 2005.


MELECEHKAN DAN MENGKAFIRKAN PARA ULAMA

Buku Kawasyif Jaliyah ini penuh dengan pelecehan dan takfir terhadap para ulama Sunnah, penulis berkata dalam hal. 303 dari bukunya ini :”Perhatikanlah bagaimana para syaikh ada di setiap tempat. Inilah Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, pegawai negara, dan mereka yang membela-bela dan melindungi negara ini . Kemudin apa yang kalian inginkan, sesungguhnya itu adalah Islam dan tauhid (!)… mereka telah menyesatkan umat ini, mereka telah mentalbis di hadapan mereka agamanya dan mereka memfitnahnya atas nama ilmu, tauhid dan Islam (?!)”.


Di dalam hal. 312 dari bukunya ini dia mengatakan bahwa para ulama seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin sesat dan menyesatkan (!) Tidak hanya berhenti disitu bahkan dia kafirkan para ulama Sunnah dan dia katakan mereka telah keluar dari Islam secara keseluruhan di dalam kitabnya uang berjudul Zalla Himarul Ilmi Fi Thin sebagaimana dalam situs sesatnya Minbaru Tauhid wal Jihad. Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris berkata :”Jika ini sikapnya terhadap para ulama sunnah di zamannya maka dia adalah mubtadi yang sesat tidak ada kemuliaan sama sekali baginya” [Tabdid Kawasyif hal. 14]
Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuni berkata :”Tanda yang palling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah. [Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 14].


MEMBELA AHLI BID’AH

Penulis membela mati-matian kelompok Juhaiman yang mengadakan pemberontakan di Masjidil Haram tahun 1400 H, dia berkata dalam hal. 265 :”Tidak diragukan lagi bahwa bukanlah tergolong bughat. Baik secara bahasa atau syar’i atau istilah, mereka tidak termasuk bughat.” Penulis juga membela Abdurrohim Ath-Thohan dan Aidh Al-Qorni di dalam footnote hal. 291 dari bukunya.


KEDUSTAAN-KEDUSTAANNYA

[1]. Di dalam hal. 116 dan 158 Al-Maqdisi menuduh Raja Abdul Aziz sebagai boneka dan antek Inggris, hal ini adalah kedustaan yang nyata, karena ini adalah klaim tanpa bukti dan dalil dan didustakan juga oleh kitab-kitab tarikh (sejarah).


[2]. Al-Maqdisi berkata dalam footnote hal.161 dari bukunya ini : “Buku-buku pelajaran SD. Sebagian kurikulum telah selesai disatukan dan mereka sekarang sedang bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan sisanya dengan bertahap sejalan dengan siasat kamuflasenya. Dan orang yang mau merujuk kepada kurikulum-kurikulum yang telah disatukan pasti dia mendapatkan sekulerisme dan zionisme tampak di segala sisinya”
Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris berkata :”Aku telah mempelajari kebanyakan mata pelajaran-mata pelajaran syar’i di seluruh jenjang pendidikan SD, SMP dan SMU tatkala aku menjadi pelajar, di dalamnya terdapat pelajaran Al-Qur’an secara hafalan dan tilawah, pelajaran Tauhid sejak awal tahun pelajaran hingga kelas 3 SMU dengan spesialisasinya, tidaklah keluar murid melainkan telah mengenal tiga macam tauhid dan hal-hal yang menyelisihinya, demikian juga terdapat pelajaran fiqih dan hadits, di dalamnya juga terdapat peringatan dari pemikiran-pemikiran yang merusak seperti sekulerisme dan zionisme. Aku memohon kepada Allah agar melanggengkan nikmat ini dan menambahnya, dan agar membalas pemerintah kami dan para ulama kami dengan kebaikan” [Tabdid Kawasyif hal. 191-192].


SYUBHAT-SYUBHAT TAKFIR AL-MAQDISI DAN JAWABAN-JAWABANNYA

[1]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena bergabung dengan PBB sebagaimana dia paparkan secara panjang lebar di dalam hal. 85-115.


Jawaban: Pertama: Saudi Arabia menyetujui aturan-aturan PBB yang sesuai dengan syari’at Islam dan menolak aturan-aturan PBB yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Saudi Arabia menolak persamaan gender laki-laki dan wanita, menolak Masalah ke-16 dari piagam HAM tentang bolehnya perkawinan antar agama, menolak Masalah ke-10 piagam HAM yang memberikan kebebasan berpindah agama [Lihat Hasyiyah Kitabatil Mamlakah Arabiyyah Su’udiyyah wal Munadhdhamat Duwaliyyah hal. 181. Mauqiful Mamlakah Arabiyyah Su’udiyyah Minal Qadhaya Aalamiyyah Fi Haiatil Umam Muttahidah hal. 98 dengan perantaraan Tabdid Kawasyif hal. 95-96].


Kedua: Saudi bergabung dengan PBB untuk suatu kemaslahatan yaitu menjaga dirinya dari rongrongan orang-orang kafir, sebagaimana Rasulullah mengadakan perjanjian Hudaibiyyah dengan orang-orang kafir Quraisy untuk kemaslahatan kaum muslimin.

[2] Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena membuat peraturan-peraturan tentang percetakan, penerbitan, pengawasan perbankan, kepabeanan, dan yang lainnya sebagaimana dia paparkan di dalam hal. 28-32 dari bukunya ini.


Jawabannya: Semua peraturan-peraturan ini tunduk kepada undang-undang dasar Saudi, yaitu berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Kalau ada kekeliruan maka itu adalah kekurangan dan kesalahan pembuatnya dan pelaksanaannya yang bisa diperbaiki dan diluruskan.

Catatan AMW 27:

Karena saya kurang paham tentang masalah Abu Muhammad Al Maqdisi ini, dan sementara waktu belum membutuhkan kajian ke arah sana, jadi tidak bisa berkomentar lebih jauh. Tidak begitu saja setuju, tetapi juga tidak langsung menolak. Dibutuhkan banyak informasi dan perspektif, sebelum membuat kesimpulan. Sementara waktu “pass dulu”. Mohon dimaklumi! [Selesai].

Masalah 28


[3]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena tuduhan wala (loyal) kepada Amerika, karena Saudi telah melakukan kerjasama perdagangan dan militer dengan Amerika serta mendatangkan tentara-tentara Amerika ke Saudi sebagaimana dia paparkan dalam hal. 115-138 dari bukunya ini.


Jawabannya: Tentang kerjasama perdagangan dengan orang-orang kafir tidak ada satupun dalil syar’i yang melarang bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berjual beli dengan orang-orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal baju besi beliau masih tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan keluarganya [Shahih Bukhari 3/1068]. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : “Hadits ini menunjukkan bolehnya mu’amalah dengan orang kafir pada sesuatu yang belum terbukti keharamannya” [Fathul Bari 5/141]. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berkata ; “Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya mu’amalah dan jual beli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah (loyalitas) kepada mereka” [Taudhihul Ahkam 4/75].

Catatan AMW 28:

Dalam masalah jual-beli dengan non Muslim, hutang-piutang, atau penitipan barang, harus dibedakan antara kasis pribadi dengan kasus sebuah negara. Pengaruh kerjasama dagang secara pribadi tidaklah terlalu besar. Tetapi jika sudah menyangkut negara, dengan nilai perdagangan sangat besar, menjangkau banyak barang, sehingga hal itu bisa mempengaruhi kehidupan kaum Muslimin atau orang kafir; maka urusannya tidak sesederhana itu. Contoh, di jaman Nabi di Madinah, kaum Muslimin membuat pasar sendiri, menyaingi pasar Yahudi; Utsman bin ‘Affan Ra. Membeli sumur orang Yahudi dan memberikannya kepada Ummat; begitu pula Nabi mengusir Bani Nadzir, Bani Qainuqa, dan Bani Quraidhah, padahal mereka memiliki kekuatan ekonomi besar di Madinah. Begitu pula, Nabi memerintahkan kaum Muslimin menebangi korma-korma di sekitar Benteng Khaibar, untuk menaklukkan Yahudi yang bertahan dalam benteng. Jika pihak yang dihadapi merupakan musuh Islam dan membahayakan kaum Muslimin, memerangi ekonomi mereka dicontohkan oleh Nabi dan Shahabat.

Lalu negara apa yang bisa menjadi contoh yang memusuhi Islam dan menyengsarakan kaum Muslimin di jaman modern ini? Tidak diragukan lagi, Amerika adalah negara yang sangat layak dimusuhi secara ekonomi. Kejahatan mereka di Dunia Islam tidak bisa dimaafkan lagi, dengan cara apapun. Bahkan di Indonesia sendiri, Amerika berada di balik Krisis Ekonomi 1997 yang menghancurkan ekonomi Indonesia. Bekerjasama bisnis dengan Amerika sama saja dengan membantu mereka untuk menyiksa kaum Muslimin di seluruh dunia. Na’udzubillah min dzalik. [Selesai].

Masalah 28

Demikian juga kerjasama militer dengan orang-orang kafir bukankah bentuk wala’ kepada mereka bahkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau mengupah seorang kafir dari Bani Dil sebagai penunjuk jalan, dan mengantar keduanya sampai ke Madinah. [Shahih Bukhari 2/790].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bekerjasama dengan kabilah Khuza’ah yang musyrik dalam Fathu Makkah. [Lihat Musnad Ahmad 1/179]
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :”Sesungguhnya meminta bantuan orang musyrik yang bisa dipercaya dalam jihad adalah dibolehkan jika diperlukan, karena mata-mata beliau di Al-Khuza’i waktu itu masih kafir” [Zadul Ma’ad 3/301]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah meminta bantuan Shofwan bin Umayyah pada waktu perang Hunaian dalam keadaan Shofwan waktu itu masih kafir. [Diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Irwaul Ghalil 5/344, lihat Shaddu Udwanil Mulhidin hal. 49].


Tentang masuknya tentara Amerika ke Saudi pada waktu perang Teluk kemarin maka dikatakan oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad : “Para ulama Saudi Arabia ketika membolehkan datangnya kekuatan asing ke Saudi Arabia karena darurat, hal ini seperti kasus seorang muslim yang meminta pertolongan kepada non muslim untuk membebaskan dirinya dari para perampok yang hendak masuk kerumahnya untuk melakukan tindakan kriminal di rumahnya dan pada keluarganya, apakah kita katakan kepada orang yang terancam dengan para perampok ini: Kamu tidak boleh meminta pertolongan kepada orang-orang kafir untuk menyelamatkan diri dari perampokan?!” [Madarikun Nazhar fi Siyasah hal. 12].


Sebagai tambahan keterangan bahwa pasukan Amerika yang datang ke Saudi pada waktu perang Teluk tahun 1411H telah keluar dari Saudi pada tahun 1424H yaitu setelah jatuhnya rezim Saddam Husein di Iraq. Hal ini menunjukkan bahwa maksud pemerintah Saudi dalam mendatangkan pasukan Amerika ini adalah untuk suatu keperluan dan jika sudah tidak diperlukan maka ditarik lagi ke Amerika.

Catatan AMW 28:

Meminta bantuan pemandu untuk memimpin perjalanan, selama pemandu itu bisa dipercaya, jelas sangat berbeda dengan meminta bantuan pasukan suatu negara besar, seperti Amerika. Orang yang sedikit berakal saja bisa membedakan perbedaan antara bantuan individu dengan bantuan pasukan sebuah negara.

Kalau meminta bantuan itu sifatnya darurat, mengapa harus dibangunkan markas-markasnya sekalian? Kalau hanya sementara, pasukan yang dimintai bantuan itu bisa ditampung dalam fasilitas-fasilitas militer yang ada. Lagi pula, mengapa tidak meminta bantuan pasukan Mesir, Pakistan, Turki, dan Indonesia yang sama-sama Muslim? Mengapa harus orang kafir yang jelas-jelas pasti memiliki kedengkian kepada kaum Muslimin? Lalu orang Saudi-nya sendiri pada kemana? Apa karena badannya sudah gemuk-gemuk karena kebanyakan “makan minyak”, jadi tidak sanggup lagi mengangkat senjata? Sungguh memalukan, katanya negara “Tauhid”, negara “Syariat”, negara “Salafus Shalih”, tetapi tidak sanggup membela negaranya sendiri dari serangan negara tetangga. Dalam sejarah Islam, sulit mendapati kaum Muslimin meminta bantuan orang kafir dalam peperangan, kecuali di negeri “Salafus Shalih” ini.

Terus ada yang mengatakan, “Apakah kita katakan kepada orang yang terancam dengan para perampok ini: ‘Kamu tidak boleh meminta pertolongan kepada orang-orang kafir untuk menyelamatkan diri dari perampokan?!’”

Lha, pertanyaannya, apakah ketika itu Saudi dirampok oleh Irak dan Saddam Husein? Bagian mana dari Saudi yang dirampok oleh Saddam? Apakah pihak yang mengatakan kalimat di atas menyebut bangsa Irak, bangsa mayoritas Muslim Sunni, sebagai bangsa perampok? Andai Irak dianggap perampok, lalu apa yang akan kita katakan tentang Amerika yang menguras puluhan sampai ratusan miliar dolar uang Kerajaan Saudi itu? Apakah untuk melawan perampok, kita harus menyewa perampok lain yang lebih kejam dan rakus? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kemudian Abu Ammar mengatakan, bahwa pasukan Amerika yang didatangkan ke Saudi tahun 1411 H telah pulang ke negerinya pada 1424 H. Lihatlah kenyataan ini dengan akal yang sederhana saja. Dari 1411 H ke 1424 H itu lamanya sekitar 13 tahun. Masa 13 tahun mendekam di Saudi, tentu Amerika sudah bisa melakukan apa saja, selain menguras kekayaan kaum Muslimin dari kas negara Saudi. Padahal konflik Perang Teluk sendiri berlangsung dari tahun 1990 sampai 1991, hanya satu atau dua tahun saja. Konfliknya sebentar, tetapi menyewa “perampok” sampai 13 tahunan. [Selesai].

Masalah 29

[4]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi karena Saudi mengizinkan bank-bank ribawi beroperasi di Saudi dan melindungi bank-bank yang melakukan praktek-praktek riba tersebut sebagaimana dia paparkan di dalam hal.213-222 dari bukunya ini.


Jawabannya: Tidak diragukan lagi bahwa riba dalah haram dan termasuk dosa besar, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Allah, orang yang kembali (mengammbil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka ; mereka kekal di dalamnya” [Al-Baqarah : 275].


Akan tetapi sekedar melakukan riba tidaklah menjadikan pelakunya kafir keluar dari Islam dengan kesepakatan ulama ahli Sunnah, tidak seperti pendapat Al-Maqdisi yang mengatakan bahwa memberi izin praktek ribawi adalah kekafiran terhadap Allah.
Demikian juga keberadaan riba di suatu negeri tidaklah menjadikan dalih tentang bolehnya memberontak kepada waliyatul amr, telah datang suatu pertanyaan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang berbunyi : “Apakah adanya sebagian kemaksiatan dari dosa besar di negeri ini seperti bank-bank ribawi menjadikan bolehnya memberontak kepada waliyyul amr dan melepas ketaatan dari mereka?”


Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Adanya kemaksiatan-kemaksiatan tidaklah membolehkan pemberontakan, adanya kemaksiatan dari rakyat dan pemerintah tidaklah membolehkan pemberontakan kepada waliyatul amr, akan tetapi wajib memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Wajib atas waliyyul amr agar berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menghilangkan kemungkaran, hendaknya bertakwa kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan kemungkaran dengan cara-cara yang syar’i, dan wajib atas para ulama agar memberikan nasehat, dan wajib atas setiap warga negara agar bertakwa kepada Allah, istiqomah, menjauhi kemungkaran, dan saling berwasiat dalam meninggalkan kemungkaran, dan wasiat adalah dengan memerintahkan kepada yang ma’ruf sebagaimana firman Allah Jalla Jalaa Luhu: ‘Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang mungkar.’” [At-Taubah : 71].


Adapun mencabut ketaatan atau memberontak kepada waliyyul amr dengan sebab-sebab kemaksiatan, riba dan yang lainnya, maka ini termasuk agama Khowarij dari perbuatan orang-orang Khowarij.” [Dari Kaset Ahdaf Hamalat I’lamiyyah dengan perantara Tabdid Kawasyif hal. 159].


[5]. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi karena –katanya Saudi memerangi dan memenjarakan para pemuda yang pulang dari jihad di Afghanistan dengan sebab mereka mengatakan “Rabb kamu adalah Allah”, dan karena mereka berjihad sebagaimana dia paparkan dalam halaman 282 dari bukunya.

Jawabannya: Sesungguhnya mayoritas para pemuda Saudi yang pergi berjihad ke Afghanistan dan pulang ke Saudi tidaklah di penjara dan tidak diapa-apakan. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata ; “Sesungguhnya yang dipenjara adalah yang berusaha merusak dan melakukan peledakan, atau mendoktrin para pemuda dengan pemikiran-pemikiran yang menyeleweng” [Ta’liq atas Tabdid Kawsyif hal. 160]

Demikian juga para ulama Sunnah seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Utsaimin selalu menyeru dan menghasung jihad di Afghanistan pada periode pertama (ketika masih bersih dari hizbiyyah), seandainya benar pemerintah Saudi memenjarakan para pemuda dengan sebab mereka berjihad tentu yang paling pertama masuk penjara adalah Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin, dan murid-murid keduanya.

Pemerintah Saudi begitu gigih mendukung jihad Afghanistan periode pertama sebagaimana dinyatakan oleh Amir Sulthan bin Abdul Aziz di hadapan para duta negara anggota PBB tanggal 17/1/1406H sebagaimana dalam Majalah Al-Faishol edisi 106 Robi’ul Akhir 1406H hal. 20 [Dengan perantara Tabdid Kawasyif hal. 161-162]

Catatan AMW 29:

Sungguh bagus nasehat Syaikh Bin Baz rahimahullah: “Wajib atas waliyyul amr agar berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menghilangkan kemungkaran, hendaknya bertakwa kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan kemungkaran dengan cara-cara yang syar’i, dan wajib atas para ulama agar memberikan nasehat, dan wajib atas setiap warga negara agar bertakwa kepada Allah, istiqomah, menjauhi kemungkaran, dan saling berwasiat dalam meninggalkan kemungkaran, dan wasiat dengan memerintahkan kepada yang ma’ruf.”

Salah satu kemungkaran yang harus dengan sungguh-sungguh diatasi oleh Waliyul Amri adalah keberadaan bank-bank ribawi. Syaikh Bin Baz tidak menyebut secara eksplesit, tetapi maksud nasehat beliau kesana. Meskipun hal ini tidak otomatis menyebabkan pelaku ribawi menjadi kafir, tetapi nasehat Bin Baz itu perlu direspon dengan sungguh-sungguh. [Selesai].

Masalah 30

KONTRADIKSINYA

Al-Maqdisi mengkafirkan pemerintah Saudi karena bergabung dengan PBB (lihat hal. 85-115 dari bukunya ini) tetapi dia tidak mengkafirkan pemerintah Thaliban yang ingin bergabung dengan PBB, dia berkata di dalam tulisannya yang berjudul Hijrah Li Afghanistan dalam situsnya di internet. [Lihat Tabdid Kawasyif hal. 91]

PENUTUP

Inilah sedikit yang bisa kami paparkan dari kesalahan-kesalahan kitab Kawasyif Jaliyyah oleh Al-Maqdisi, untuk mengetahui studi kritis yang lebih detail tentang kitab ini bisa merujuk kepada kitab Tabdid Kawasyifil Anid fi Takfirihi Lidaulati Tauhid oleh Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris setebal 269 halaman. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang yang mendengarkan nasehat dan mengambil yang baik darinya. Amin.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 1, Th. Ke-7 1428/2008. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim].

Catatan AMW 30:

Bergabung dengan PBB itu memang merupakan kesalahan berat, sama dengan wala’ kepada orang-orang kafir. Sebab dalam PBB itu selain kita harus tunduk kepada Undang Undang PBB, disana hak veto hanya dimiliki oleh 5 negara kafir (Amerika, Rusia, Inggris, Perancis, dan China). Tidak satu pun negara Islam mendapat hak veto. Setiap ada resolusi yang merugikan Israel, Amerika selalu memboikot. Sementara tidak ada satu pun veto yang melindungi kaum Muslimin. Jika ikut PBB karena alasan darurat, untuk menghindari madharat yang lebih besar, hal itu boleh. Tetapi kalau memutlakkan keikut-sertaan di PBB, itu bisa menjadikan pelakunya kafir dari jalan Islam.

Perlu dicatat, bahwa saat Necmetin Erbakan, Ketua Partai Refah di Turki, menjadi PM Turki. Beliau sempat mengajak negara-negara Muslim keluar dari PBB. Alasannya, karena PBB memang tidak berpihak kepada kaum Muslimin. PBB hanyalah sebuah lembaga dunia yang dibentuk untuk melayani hawa nafsu negara-negara Barat imperialis. Bahkan Soekarno di jaman Orde Lama pernah membawa Indonesia keluar dari PBB dan membentuk konsep-konsep tandingan. Jadi, menjadi anggota PBB bukanlah sesuatu yang mutlak. Bahkan dengan konsep hak veto yang tidak adil dan meletakkan wala’ kepada negara-negara kafir besar, hal ini adalah kemungkaran besar. Hanya saja, dengan kondisi Ummat Islam seperti saat ini, sulit berharap mereka akan mampu mandiri, lepas dari ketergantungan kepada PBB. [Selesai].

(Bersambung ke Bagian 4).

Iklan

2 Responses to Pemikiran Politik Salafi (Bagian 3)

  1. Syaifuddin berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Berkunjung ke blog saudara ^_^

  2. anti murjiah berkata:

    mana buktinya tholiban mengikuti PBB?
    anta bisanya koar2 lihat tuh mujahidin sampai saat ini menyerang kaum kafir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: