Pemikiran Politik Salafi (Bagian 4)

Masalah 31

Aneh sekali ungkapan penulis ini… sepertinya ia memang belum pernah belajar mengenai tafsir Ulil Amri itu siapa. Bukankah ini menunjukkan kebodohannya yang sangat. Ia berbicara masalah2 politik, tapi ia tidak memahami makna Ulil Amri, sehingga ia beranggapan bahwa pemerintah muslim itu bukan Ulil Amri. Atau mungkin ia beranggapan bahwa pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam itu tidak disebut Ulil Amri. Saya mohon kepada penulis untuk menengok kitab2 tulisan para Ulama dalam masalah ini. Seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya.


Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat an-Nisa ayat 58: “Tampaknya- wallahu’a’lam- ayat ini umum mencakup seluruh ulil amri apakah dari kalangan para penguasa ataupun para ulama.” [Tafsir Qur’anil Adzim juz 1, hal 530, penerbit Darul Ma’rifah, Beirut, Cet . Pertama]. Berkata Ibnu Taimiyyah: ”Ulil amri ada dua golongan: Para ulama dan para penguasa.” (Majmu Fatwa juz 28, hal 170, Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir).

Catatan AMW:

Saya dibodohkan oleh Abu Ammar karena tidak menganggap setiap Penguasa Muslim sebagai Ulil Amri. Kemudian dia berdalil dengan pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah tentang Ulil Amri. Menurut kedua ulama itu, Ulil Amri ada dua, yaitu: Golongan ulama dan penguasa!

Abu Ammar ingin mengatakan, bahwa semua jenis penguasa yang beragama Islam, meskipun tidak melaksanakan hukum Islam, dia adalah Ulil Amri. Tetapi lucunya, dia berdalil dengan pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah. Padahal dalam pandangan kedua ulama itu tidak disebutkan bahwa semua jenis penguasa yang beragama Islam, otomatis adalah Ulil Amri. Kedua ulama tersebut hanya mengatakan, Ulil Amri itu bisa ulama bisa juga penguasa.

Kalau kita mengkaji asal dari istilah Ulil Amri ini dalam Surat An Nisaa’ ayat 59. Disana dijelaskan dengan tegas, bahwa kedudukan Ulil Amri itu tidak bisa lepasa dari ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana mungkin kita akan mentaati Ulil Amri, ketika dia tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Lalu apa artinya kalimat: ‘Athiullah wa ‘athiur Rasula wa ulil amri minkum’? Apakah ayat ini bisa dimaknai: “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan kepada para penguasa Muslim, siapapun dirinya, baik dia taat kepada Allah dan Rasul atau tidak?”

Ketaatan kita kepada Ulil Amri masih satu koridor dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak bisa dipisahkan hal ini, kecuali oleh orang-orang sesat. Kalau ketaatan kepada Ulil Amri bersifat mutlak, sekalipun dia durhaka kepada Allah dan Rasul, berarti keberadaan ayat itu menjadi tidak berguna. Begitu pula, kalau kita lepaskan posisi Ulil Amri dari ketaatan kepada Allah dan Rasul, kita diperintahkan taat semata-mata karena Ulil Amri itu sendiri. Jika demikian, lalu apa gunanya kita taat kepada Ulil Amri? Apakah ketaatan kita itu hanya bernilai politik? Padahal seorang Muslim hidupnya untuk ibadah kepada Allah. Kalau mentaati Ulil Amri karena dirinya sendiri, itu berarti syirik. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Secara mutlak ketaatan kita kepada Ulil Amri terikat oleh ketaatan dia kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat kepada siapapun, apakah orangtua, pemimpin, guru, ulama, atasan, dan lainnya, adalah bentuk ibadah kepada Allah. Dalam ibadah itu tidak mungkin Allah memerintahkan kita taat kepada manusia yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Aneh sekali, ibadah untuk Allah Ta’ala; tetapi dalam ibadah itu, kita boleh mentaati seseorang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. [Selesai].

Masalah 32

Kemudian persoalan2 yang nyata-nyata kemaksiatan semisal perpecahan, meninggalkan sholat, mencukur jenggot dan seterusnya yang salafiyin berusaha mendakwahkannya engkau anggap sebagai sebuah kesalahan, padahal nyata bertentangan dengan petunjuk Rasulullah, Sedangkan semua itu akan membawa kepada semakin jauhnya umat Islam dari pertolongan Alloh. Apakah penulis ini menyangka… bahwa dengan semakin menjauhi petunjuk maka pertolongan Alloh akan turun??? Nadzubillah…

Sesungguhnya mengembalikan umat Islam kepada ajarannya adalah sebuah langkah tepat sesuai dengan bimbingan Rasulullah. Maka kejayaan umat Islam hanya bisa diraih dengan kembalinya umat kepada ajarannya yang lurus. Kembali kepada Islam sebagaimana Islam yang dipahami pendahulu umat ini. Bukan kembali kepada ajaran lainnya. Karena, jika umat ini dibawa kepada ajaran2 yang bukan bersumber dari mereka –sahabat dan generasi terbaik yg mendapat jaminan dari Rasulullah- maka selamanya pertolongan Alloh tidak akan didapat.

Catatan AMW 32:

Bukan begitu maksudnya, syaikh! Masak seorang Muslim memerintahkan saudaranya meninggalkan agamanya, lalu durhaka dalam maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya? Ini adalah fitnah bodoh yang tidak layak dipikirkan! Tetapi di mata Salafi, ia bisa diplintir-plintir tidak karuan, lalu dihiasi kebiasaan mereka mencela manusia sesuka hati. (Mungkin mereka kelak akan mendapat “hasil besar” dari kebiasaan cela-mencela itu. Na’udzubillah min dzalik).

Maksudnya begini, dalam meluruskan manusia dari kesalahan, harus melihat situasi dan kondisinya. Mencukur jenggot dan memelihara kumis itu perbuatan keliru, tidak sesuai Sunnah Nabi. Tetapi kalau kamu mengejek para polisi atau tentara yang melakukan perbuatan itu, kamu bisa digebuki mereka. Begitu pula, menghiasi tubuh dengan tato adalah perbuatan munkar. Tetapi kalau kamu menjelek-jelekkan seorang preman terminal karena tato di tubuhnya, kamu bisa pulang dengan wajah bengep-bengep. Kamu juga boleh berpendapat bahwa demokrasi itu haram, tetapi kalau kamu teriak-teriak hal itu di depan ribuan simpatisan PDIP, kamu bisa dihujani batu. Intinya, kebenaran itu bukan hanya soal dzatnya saja, tetapi juga cara menempatkan kebenaran itu sendiri.

Saat ada orang kecelakaan berat, kebetulan dia memakai celana menutup mata kaki. Apakah seorang Salafi akan enggan menolong orang itu karena celananya turun sampai di bawah mata kaki? Atau misalnya, ada seseorang sedang tenggelam di sungai, sedangkan orang itu dikenal tidak mau diajak ke majlis taklim. Apakah kita akan menolong orang itu, atau bertanya ke dia, apakah dia sudah mau pergi ke majlis taklim atau belum? Harusnya, mereka selamatkan dulu jiwanya, baru nanti ditanya. Inilah yang disebut Fiqih Aulawiyyah (Fiqih Prioritas).

Bukan kita harus mengabaikan kesalahan-kesalahan warga Muslim Palestina dalam amal-amal mereka. Tetapi ada prioritas lain yang lebih penting didahulukan, seperti menyelamatkan jiwa, menyelamatkan agama dan moral, harta benda, keluarga, kehidupan, dan lainnya. Bagaimana mereka hidup lebih baik dan Islami, kalau sepanjang waktu terus mendapatkan teror dari orang-orang kafir? Selamatkan mereka dulu dari teror, baru luruskan kesalahannya. Toh, kalau mau jujur, jangan jauh-jauh ke Palestina. Di sekitar kita pun banyak Muslim yang terjerumus dalam kesalahan-kesalahan. Apakah Anda tidak malu, mengkritik Muslim Palestina, sementara di sekitar Anda juga banyak orang-orang yang salah seperti itu? [Selesai].

Masalah 33


Ini tuduhan dusta yang nyata. Tunjukkan buktimu jika engkau org2 yg benar, bahwa berdirinya saudi karena memberontak Kekhalifahan Turki Utsmani.
Saya kembali beranggapan seperti di atas. Bahwa penulis ini hanya ikut2an saja…. tidak punya hujjah dalam memvonis. Sangat tidak ilmiah. Telah beredar tulisan Masun Said Alwy dalam majalah ’Cahaya Nabawi” edisi 33 yang memuat berita dusta ini. Padahal rujukan yang dijadikan dalam menulis masalah ini sangat tidak ilmiah. Dan ia mengklaim rujukan tersebut dapat dipertanggung jawabkan.


Saya sampaikan kepadamu wahai penulis… Bahwa buku rujukan dalam masalah ini, mereka tulis bersumber dari penuturan mata-mata Inggris yang bernama Mr. Hempher seorang kafir gemar minum khamr seperti yang ia tulis sendiri.
Lantas di mana al-wala’ wal baro’-mu wahai penulis??? Jika engkau menghukumi orang muslim melalui penuturan org kafir. Sungguh tdk masuk akal. Engkau turut menghujat dakwah yang penuh barokah ini karena termakan hasutan musuh2 Alloh yang memang itu kerjaan mereka. Sedangkan jika ada seorang muslim yang fasiq kita diperintah utk mengecek kabar yang ia bawa. Tetapi ketika org kafir membawa kabar sekonyong2 engkau mengambilnya utk menjatuhkan kehormatan saudara muslimmu. Apakah asalkan kabar itu sesuai hawa nafsumu lantas engkau halalkan segalanya??? Inikah cara beragamamu??? Alloh berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS.al-Hujurat : 6).


Saya tidak perlu panjang lebar membahas tuduhan ini. Cukup bukti ini saja, bahwa Mr. Hempher yang kafir itu yang menjadi mata-mata Inggris, kemudian dari mulutnya disebar kebohongan utk meruntuhkan dakwah yang saat itu mangancam keberadaan Inggris dan Perancis. Bahkan ada satu bukti bahwa Raja Su’ud mengirim surat kepada Khalifah utk meminta perlindungan dan keadilan. Dan terlihat dalam muqoddimah surat tersebut, penghormatan dan pemuliaan terhadap keberadaan khalifah. Sedangkan penyebab runtuhnya khilafah engkau tidak mau tahu. Jika engkau ingin mengetahui pembahasan masalah ini, silakan engkau membaca majalah Adz-Dzakhirah edisi 16 ramadhan 1426 H dan edisi 17 Dzulqa’dah 1426 H. Dan satu hal yang harus dicamkan… hilangkan kebencian di hatimu agar bisa menelaah dengan benar!!!


Cobalah penulis membaca kitab2 karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri… niscaya engkau akan terbungkam dengan sendirinya. Tunjukkan bukti tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menyimpang jika engkau org yang jujur. Jgn hanya membeo saja kepada para pengekor hawa nafsu dari kalangan ahli bid’ah dan org2 bodoh.
Kalo terus begini cara beragamamu… lantas seperti apakah buahnya???

Catatan AMW 33:

Wah, sebenarnya saya hampir tidak mampu menahan diri menghadapi kesesatan Abu Ammar ini. Dia itu celaannya sangat hebat, perih mendengarnya. Tetapi sudahlah, semoga semua ini bisa menggugur dosa-dosa saya. Allahumma amin.

Demi Allah, saya bukan termasuk Muslim yang menuduh Syaikh Ibnu Abdul Wahhab sebagai antek-antek Inggris. Saya tidak berani masuk ke persoalan itu. Saya tetap yakin, beliau adalah mujahid, mujaddid, dan imam dakwah Salafiyyah.

Ketahuilah saudaraku, untuk mengetahui apakah Syaikh Ibnu Abdul Wahhab itu antek Inggris atau bukan, caranya sederhana saja. Pertama, apakah Inggris suka dengan dakwah beliau atau tidak? Kenyataannya, mereka justru membenci, sebab dakwah tersebut sangat bertentangan dengan tujuan kolonialisme. Kedua, apakah dalam karya-karya tulisnya Anda dapati pandangan Syaikh Ibnu Abdul Wahhab yang melegakan hati orang-orang kafir? Jelas disana tidak ada hal itu, bahkan kata beliau hukumnya kafir berwala’ kepada orang-orang kafir. Ketiga, apakah seruan dakwah Syaikh Ibnu Abdul Wahhab bisa menyentuh hati kaum Muslimin, atau tidak? Jika dia seorang pengkhianat, dakwahnya pasti akan mental dari hati-hati manusia. Contoh, dakwah Ahmadiyyah diingkari oleh mayoritas Muslim, karena penyerunya adalah antek Inggris. Sampai disini, adalah suatu kejahatan besar siapa yang menuduh Syaikh Ibnu Abdul Wahhab sebagai antek Inggris. Ingat, Anda harus hati-hati saat berbicara seperti itu.

Adapun Muhammad bin Saud memberontak kepada Penguasa Khilafah Turki Utsmani, ia adalah fakta yang tidak bisa diingkari lagi. Waktu itu terjadi peperangan antara Ibnu Saud dengan pasukan Turki Utsmani yang dikerahkan dari Mesir. Peperangan ini adalah resmi atas mandat Khilafah Utsmaniyyah Turki. Kalau bukan pemberontakan, tentu Turki Utsmani akan membiarkannnya saja. Bahkan akibat pemberontakan itu, Raja Abdullah, pengganti Muhammad Saud, suatu saat ditangkap, lalu dibawa ke Turki, kemudian dihukum mati disana. Tidak mungkin akan terjadi hukuman itu, kalau masalahnya sepele saja. Akui saja Saudi memberontak ke Penguasa Turki Utsmani, wong memang kenyataannya seperti itu.

Para Salafi berdalih bahwa Najd waktu itu bukan wilayah Turki. Andai bukan masuk wilayah Turki, lalu masuk wilayah mana? Mungkin saja di Najd ada kerajaan mandiri yang terpisah dari Turki. Pertanyaannya, apakah kerajaan itu kerajaan Islam atau kafir? Kalau kerajaan Islam, tidak boleh ada dua orang imam (di Turki dan Najd). Salah satu dari imam itu harus ditumpas agar tidak menimbulkan onar. Lagi pula kerajaan dari Najd ini juga menguasai Makkah dan Madinah di Hejaz. Padahal semua orang tahu, siapa yang mengendalikan Makkah Madinah, dia memimpin Dunia Islam.

Apa yang dilakukan pendiri-pendiri Saudi sebenarnya adalah pemberontakan kepada kepemimpinan Turki Utsmani yang sah. Tetapi dalam sejarah Islam, hal seperti itu sudah sering terjadi, jadi tidak aneh. Soal dosa ini dan itu, sepenuhnya ditanggung oleh tokoh-tokoh politik yang berkuasa. [Selesai].

Masalah 34

Aneh ….. saya heran dengan penulis ini.?! Perilaku Yahudi dan Nashara memang tdk boleh dicontoh, bahkan Allah telah menjelaskan perkara ini di dalam firman-Nya:
”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS.al-Baqarah :120].

Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam pun telah mengisyaratkan demikian di dalam haditsnya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Sungguh kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta sehingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pasti akan memasukinya (juga). Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara-kah?”. Beliau menjawab : “Siapa lagi ?” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim].

Jika demikian perkaranya…. engkau selalu menyalahkan salafiyin karena berpegang dengan petunjuk Nabi. Maka dimana letak al-wala wal baro’ mu selama ini??? Engkau berkoar memusuhi Yahudi dan Nashara, berkoar bentengi umat dari kristenisasi. Tetapi di satu sisi malah membela umat yang meniru2 org Yahudi dan Nashara. Heran ..heran!!!
Dan sepertinya setiap dakwah harus melapor kepada sang penulis ini. Dan mempublikasikan agar mendapat simpati masyarakat. Sehingga mendapat pengikut yang banyak… Seolah memang penulis ini yang telah membentengi umat dari pemurtadan dan salafiyin cuci tangan dari masalah ini?!! Saya tak habis pikir… kalo memang demikian, apa yang engkau dakwahkan wahai penuduh???

Catatan AMW 34:

Tidak ada salahnya kita mengikuti Sunnah, menghidupkan Sunnah. Itulah yang utama. Tetapi memakai pakaian seperti kaum Muslimin di Indonesia pada umumnya, seperti celana, baju, kaos, sarung, dll. juga bukan kesalahan. Tetapi di mata Salafi pendengki, kita akan disebut memakai pakaian Barat atau pakaian Nashrani. Saya baca sendiri di salah satu bagian buku Madarikun Nazhar karya Abdul Malik Ramadhani. Betapa kerasnya dia dalam mencela orang-orang di luar kelompoknya.

Tetapi sangat ironis, ketika pakaian umum seperti yang banyak dipakai Ummat Islam di Indonesia itu dicela, sementara negara tertentu gandeng-renteng dengan Amerika dalam soal minyak, perdagangan umum, dan militer, tidak ada satu pun yang mencelanya dengan “setapak demi setapak sampai masuk lubang biawak”. Kita tidak meniru orang-orang kafir itu, tetapi kita ingin menyesuaikan diri dengan situasi orang Indonesia. Kalau di negeri ini populer baju gamis, apa susahnya memakai gamis? Sementara memberi manfaat ekonomi kepada orang kafir, lalu manfaatnya mereka pakai untuk menyerang Ummat Islam. Hal itu bisa menjadi kekafiran.

Kemudian pakaian yang ada di sekitar kita ini, meskipun celana dan baju yang rapi dan semurna menutupi aurat disebut pakaian Yahudi dan Nashrani. Kalau kita memakainya, mungkin akan disebut bergelimang dosa kali ya? Sungguh, di Saudi itu banyak masyarakat yang memakai pakaian seperti itu. Bahkan di rumah-rumahnya mereka rata-rata memiliki pakaian “Yahudi Nashrani” itu. Bukan sekali dua kali saya melihat dosen-dosen dari Saudi saat mengisi daurah di Indonesia, mereka memakai pakaian casual seperti umumnya masyarakat. Di LIPIA juga banyak dosen-dosen Saudi yang memakai pakaian biasa. Kaum wanita Saudi sendiri, di rumah-rumahnya, banyak yang memakai pakaian seksi (di dalam rumah). Kalau warga Saudi bepergian ke luar negeri, rata-rata akan mengenakan pakaian umum, seperti kita selama ini.

Dalam soal menangani Kristenisasi dan lainnya, Anda tidak perlu lapor saya. Dan tidak perlu pula amal-amal kita dilaporkan ke sesama manusia untuk mendapat pujian. Tetapi seberapa peduli Salafiyun dalam kasus seperti itu? Bukankah Salafiyun terkenal dengan pemikiran-pemikiran dakwahnya yang khas itu? Lalu adakah disana suatu penghargaan yang layak terhadap gerakan anti Kristenisasi? Maksud saya, kalau memang anti sekali dengan Nashara, ya buktikanlah penghargaan Anda kepada sesama Muslim yang telah terjun dengan dunia itu. Atau, kalau mau bagus, cobalah Anda terjun disana, menunjukkan karya berharga. Jangan cuma ngomong “pakaian Nashrani”, sementara karya dalam membendung dakwah kaum Nashrani tidak tampak. [Selesai].

Masalah 35

Adapun berkaitan masalah pemboikotan produk Yahudi. Ini bukan semata kebijakan perorangan atau kelompok. Kita tahu jumlah penduduk negeri ini lebih dari 210jt jiwa. Apalah artinya jika yang memboikot hanya 1 jt org saja. Maka pemboikotan adalah wewenang Ulil Amri, yang mereka menimbang manfaat untung ruginya. Dan jika Ulil Amri yang memboikot, maka tidak akan mendatangkan produk org kafir masuk ke negeri Muslim ini. Bagaimana akan memboikot produk org kafir jika brg2 tsb masih terus di import?? Kontradiksi jika menyeru memboikot produk org kafir sementara produk tersebut memang dibutuhkan. Apakah saat engkau menulis tuduhanmu ini tidak menggunakan komputer produk mereka???

Catatan AMW 35:

Apa yang dikatakan oleh Abu Ammar, bahwa boikot itu tidak efektif, karena yang mendukung hanya sedikit. Ini adalah argumentasi khas orang-orang fasiq. Seorang Muslim yang Islami, tidak akan memakai logika fasiq seperti itu. Dalam beragama ini, kita menjadi pengikut petunjuk Allah dan Rasul-Nya, sekalipun yang ikut bersama petunjuk ini hanya golongan yang kecil.

Betapa ironinya pandangan seorang Salafiyun yang katanya pengikut dalil Kitabullah, Sunnah, dan manhaj Salaf. Tetapi menghukum sesuatu berdasarkan “efektif tidaknya suatu amalan”. Lagi pula dari mana Anda tahu bahwa hal itu tidak efektif? Pernahkah Anda melakukan survei yang terperinci? Andai kita hanya memboikot produk orang kafir sendirian, demi menolong saudara Muslim, tidak mengapa dilakukan hal itu. Allah Maha Perkasa lagi Maha Mulia, Dia tidak memandang besar-kecilnya amal manusia.

Sungguh betapa munafiknya sikap Salafi model Abu Ammar ini! Lihatlah betapa kerasnya saat dia mengingkari demokrasi; tetapi pernahkah dia bertanya, “Menolak Pemilu tidak efektif, sebab paling hanya diikuti oleh lima atau enam juta orang, sementara sisanya masih ikut Pemilu.”

Kemudian pemboikotan itu harus atas dukungan Ulil Amri. Ya, benar adanya. Justru seharusnya Ulil Amri itu yang cepat tanggap dan berani memboikot negara-negara kafir yang zhalim. Sebagai contoh, ketika koran Denmark Jayland Posten menerbitkan kartun Nabi yang bernada melecehkan dan menghina, negara-negara Arab menyerukan boikot produk asal Denmark. Dan ternyata, para produsen barang asal Denmark itu ketakutan juga dan ikut mengecam media mereka sendiri. Seruan boikot itu seharusnya didukung oleh Ulil Amri (baca: Pemerintah). Tetapi jika mereka tidak mau memboikot, kaum Muslimin secara mandiri boleh memboikotnya, sesuai kemampuan.

Pertanyaannya, apa boleh memboikot orang kafir zhalim?

Jawabnya sederhana, yaitu kisah pengepungan benteng Khaibar oleh Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Waktu itu benteng Khaibar dikepung untuk beberapa lama, karena ia menjadi tempat pelarian Yahudi setelah kasus Bani Quraidhah. Setelah dikepung beberapa lama, ternyata Yahudi mampu bertahan, sebab mereka memiliki persediaan makanan di dalam benteng. Akhirnya, Nabi memerintahkan para Shahabat untuk menebangi pohon-pohon korma di sekitar benteng, yaitu untuk menghancurkan persediaan logistik Yahudi di dalam benteng. Ternyata, cara demikian efektif melemahkan kekuatan Yahudi dan membuat mereka ketakutan.

Padahal dalam adab peperangan, kita tidak boleh merusak tanaman, membunuhi hewan ternak, menyerang anak-anak, kaum wanita, orang tua, rumah-rumah ibadah, dan tidak boleh mengejar musuh yang telah lari dari medan perang. Namun ketika kondisi memaksa, Nabi memperbolehkan merusak tanaman, sebagai langkah melemahkan musuh.

Saya masih ingat pandangan Al Qaradhawi dalam hal ini. Kita memboikot produk-produk orang kafir karena kezhaliman mereka. Sementara untuk produk-produk yang kita butuhkan, dan belum ada gantinya, tidak mengapa tetap memakai produk mereka. Bisa jadi, mungkin Salafi tidak akan pernah ikut memboikot orang kafir, dengan pertimbangan mereka masih membutuhkan barang dan melihat efektif tidaknya. Ya, itu terserah masing-masing orang. Setiap kita beramal sesuai pendirian masing-masing. Kecil kemungkinan Salafi akan memboikot Amerika seperti Raja Faishal dulu pernah beberapa lama memboikot pasokan minyak ke Amerika. [Selesai].

Masalah 36


Berikut saya nukilkan jawaban dari Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary ketika beliau ditanya: Bagaimana tentang pemboikotan ekonomi atas negeri-negeri kafir?
Jawaban: Mengenai muqatha’ah (boikot) terhadap (produk) orang kafir, adalah masalah politik bukan masalah syar’i. Jika ia masalah syar’i, maka tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memboikot orang-orang Yahudi. Padahal ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, baju besi beliau masih tergadaikan pada orang Yahudi. Jadi masalah ini bisa bermanfaat bisa tidak.


Lalu siapa yang menentukan ada tidaknya pemboikotan? Mereka adalah para ulama dan para politisi muslim dan para negarawan muslim yang memiliki ilmu Syar’i dan memahami realitas, mengetahui sebab akibat. Jika tidak, maka boikot justru tidak merugikan orang kafir, (tetapi) dapat berbalik merugikan umat Islam sendiri. Jadi ada tidaknya muqatha’ah, (itu) tergantung maslahah syar’iyyah rajihah. [lihat majalah as-Sunnah edisi 11 th VIII/1425 H/2005 M, rubrik soal jawab].

Catatan AMW 36:

Secara umum, muamalah dengan orang kafir (Ahli Kitab) tidaklah dilarang. Buktinya adalah perbuatan Nabi Saw semasa hidupnya. Adapun hukum boikot atau muqatha’ah itu sifatnya khusus, karena alasan-alasan tertentu. Misalnya, sebuah kampung dikenal sebagai penghasil roti. Suatu ketika kita harus memboikot roti produksi kampung tersebut karena alasan-alasan tertentu. Maka meskipun boikot itu berlaku, tidak berarti semua produksi roti dari orang lain yang sejenis dengan penghuni kampung itu harus diboikot juga. Boikot sifatnya spesifik, karena suatu alasan tertentu.

Kemudian Salafi mengatakan, “Mengenai muqatha’ah (boikot) terhadap (produk) orang kafir, adalah masalah politik bukan masalah syar’i. Jika ia masalah syar’i, maka tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memboikot orang-orang Yahudi.”

Lho, buktinya sampai 3 kali Nabi mengusir kabilah-kabilah Yahudi dari Madinah. Mula-mula Bani Qainuqa, lalu Bani Nadzir, lalu Bani Quraidhah, dan akhirnya merebut benteng terakhir Yahudi di Khaibar. Bukankah pengusiran suatu kaum dari tempat tinggalnya itu lebih berat daripada boikot? Masih lebih enak diboikot, sebab masih memiliki tempat tinggal, aset, wilayah, dan sebagainya. Sedangkan diusir dari suatu wilayah secara tidak terhormat, selain kehilangan berbagai fasilitas hidup, juga menanggung rasa malu sepanjang sejarah.

Di sisi lain, kita tidak bisa membuat dikotomi antara masalah Syar’i dan masalah politik. Sebab, andai ia benar-benar masalah politik, hal itu diputuskan juga atas landasan-landasan Syar’i. Lho, kalau Anda misalnya memboikot Yahudi atau Amerika, apakah karena Anda berambisi politik di negara-negara itu? Jelas kita putuskan hal ini karena kita ingin melakukan pembelaan (munasharah) kepada sesama Muslim, dan hal itu adalah perbuatan yang dilandasi pertimbangan Syar’i. [Selesai].

Masalah 37

Ini sikap keras kepala penulis… hingga ia membela setiap kesalahan yang di tunjukkan salafiyin kepada Ummat. Saya tidak tahu kalo demikian apa yang engkau dakwahkan??? Bukankah ummat ini perlu mendapatkan petunjuk utk bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Mana jalan petunjuk mana jalan kesesatan??? Bukankah yang haq dijelaskan kepada umat dan yang bathil juga dijelaskan kepada umat???

Catatan AMW 37:

Hai manusia, dimana kamu mendapati alasan bahwa saya membela setiap kesalahan yang telah kalian buktikan? Apakah dalam tulisan itu saya bermaksud membela kebathilan seperti perkataanmu itu? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Manusia, kalau sudah diliputi rasa marah dan kesal, kerap kali tidak bisa menahan dirinya.

Wahai syaikh, apa yang saya tulis itu bukan untuk membenarkan kebathilan. Tidak ada maksud kesana. Saya hanya ingin menunjukkan, bahwa sikap kelompok Anda selama ini TIDAK KONSISTEN, alias sering memakai STANDAR GANDA. Termasuk dalam kasus Tragedi Ghaza. Semua manusia di muka bumi mengetahui hal itu sebagai sebuah kebiadaban yang tidak termaafkan. Hingga banyak kalangan menyebut Israel telah melakukan kejahatan perang. Tetapi di saat seperti ini, Salafi malah menyuarakan pemikiran-pemikiran aneh, seperti: Tidak boleh demo, sekalipun ditujukan untuk menentang agressi Israel; tidak boleh mengutuk Israel, sebab nama itu adalah nama lain Nabi Ya’qub ‘alaihissalam (padahal nama Ya’qub adalah ISROILA, sementara nama negara itu ISRAEL); menuduh kelompok perlawanan Islam di Palestina sebagai pemicu serangan Israel (persis seperti logika pejabat-pejabat Israel); dan lain-lain. Dengan semua sikap Salafi, jangankan kita akan sanggup menuntut balas atas korban besar yang menimpa Muslim Palestina; kita malah saling berpecah-belah.

Alhamdulillah, kalau kelompok Anda bisa menyebutkan kesalahan-kesalahan Ummat, sehingga bisa diperbaiki dan diluruskan kembali. Tetapi alangkah naif, jika dengan standar yang Anda gunakan untuk menemukan kesalahan Ummat itu, kita juga bisa menemukan kesalahan yang sama pada kelompok Anda sendiri. Suatu saat kebenaran akan tampak, bahwa Salafi sebenarnya bukan Thaifah Dinniyyah, tetapi ia adalah Firqah Siyasah, yang membela kepentingan politik tertentu. [Selesai].

Masalah 38


Mungkin yang dimaksud penulis adalah Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin. Dia pernah menjadi guru di Arab Saudi dalam waktu yang cukup lama, sehingga memungkinkan menjalankan rencananya dan menyebarkan racunnya di tengah-tengah para pemuda. Tetapi setelah nampak keburukan niatnya, dia pergi, lalu bermukim di kota London, Inggris, sebuah negara kafir.
Dia juga menerbitkan majalah di sana, Muhammad Surur ini juga menggelari para Ulama dengan gelar yang buruk.

Oh…kiranya penulis ini tidak mengetahui duduk permasalahan yang sebernarnya. Atau mungkin tahu, tetapi sengaja ia membela Muhammad Surur ini, karena sepaham dengannya.?! [Lihat majalah as-Sunnah edisi 4 Th VI/1423 H hal 4-7].

Catatan AMW 38:

Saya bukan pembela Muhammad Surur, bukan pula orang yang fanatik kepada dia. Muhammad Surur manusia biasa, ada kelebihan dan kekurangannya. Hanya Nabi Saw yang dijaga dari kesalahan dan khilaf.

Andai saja, ketika di tahun 1990-1991 lalu, suara-suara kritis seperti Muhammad Surur itu dihargai, tentu Kerajaan Saudi dan lainnya tidak akan terperosok dalam 1001 satu masalah seperti saat ini, lalu mereka mengorbankan kepentingan negaranya (dan Ummat Islam sedunia) demi menuruti ambisi Amerika. Tetapi segalanya telah berjalan sesuai takdir Allah. Para penguasa Arab lebih mencintai kekuasaan dan dunianya daripada menolak kezhaliman Amerika. Muhammad Surur dicela habis-habisan oleh Salafi karena sikap kerasnya kepada Pemerintah Arab dan ulama-ulamanya. Tetapi adakah Salafi yang berani mengecam berbagai kehancuran yang menimpa Ummat Islam di dunia, setelah Saudi dan Kuwait dijarah kekayaannya oleh Amerika; lalu negeri Irak dihancurkan oleh invasi Amerika sampai saat ini? Bahkan kezhaliman Amerika itu menghancurkan Pemerintahan Islam Thaliban di Afghanistan. Muhammad Surur menanggung deritanya sendiri karena mendapat celaan-celaan dahsyat dari kalangan Salafiyun. Tetapi penderitaan kaum Muslimin di dunia, pasca Perang Teluk 1990-1991, pasca serangan Amerika ke Afghanistan tahun 2001, pasca Perang Teluk II tahun 2003, termasuk dalam Tragedi Ghaza saat ini, tidak ada yang menangisinya. Siapakah yang bertanggung-jawab atas berbagai kehancuran yang menimpa negeri-negeri Islam akibat agressi Amerika, Israel, dan kawan-kawan itu? Apakah Muhammad Surur, Pemerintah Arab, atau kaum Salafiyun? Siapa yang bertanggung jawab Saudaraku?

Bisa jadi, sikap tidak sopan Muhammad Surur kepada ulama-ulama senior adalah hal yang sangat disayangkan. Tetapi pembelaan beliau atas kepentingan kaum Muslimin adalah sesuatu yang benar. Waktu membuktikan, bahwa pilihan Kerajaan Saudi untuk menyewa pasukan Amerika tahun 1990-1991 adalah kesalahan besar. Ia adalah sebuah pintu yang membuka berbagai pintu-pintu kerusakan di kemudian hari. Tidak berlebihan jika Syaikh Hamud Al Uqla dan Syaikh Al Tuwaijiri cenderung membela suara-suara para pemuda itu. [Selesai].

Masalah 39


Kami salafiyin mengajak berpegang teguh di atas jalan petunjuk Kitabullah dan Sunnah dgn pemahaman sesuai para sahabat dan generasi terbaik pendahulu ummat ini dikatakan tidak konsisten… lalu dakwah yang mengajak kepada selainnya dinamakan apa??? Sikap apa yang demikian ini??? Para ulama ahlus Sunnah sejak dahulu pun demikian. Mereka mendapat gelar yang buruk lantaran berpegang dengan hadits Nabi. Dan memang demikianlah keadaan para ahli bid’ah, mereka akan terus berusaha menghalangi ahlu Sunnah hingga hari kiamat tiba.

Catatan AMW 39:

Anda ini termasuk orang yang suka mengklaim macam-macam, tetapi bukti di lapangan tidak menunjukkan kebenaran klaim itu. Wahai Abu Ammar dan selainnya, apakah Anda tidak bisa tegak di muka bumi dengan tidak mengklaim sebagai kaum yang “paling Salafi”? Apakah hidup kalian menjadi menderita jika sehari saja tidak mengklaim hal itu, lalu menuduh orang lain tidak mengikuti Salafus Shalih? Apakah di dunia ini yang mengerti tentang ajaran Salafus Shalih hanya kalangan kalian? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Betapa sombongnya orang-orang itu!

Saya tidak bisa mengerti, orang-orang seperti Abu Ammar ini mengklaim diri sebagai pengikut Salafus Shalih sejati, tetapi keyakinan, pemikiran, dan amaliah mereka menyelisihi hal itu. Sekurangnya tulisan berseri “Pemikiran Politik Salafi (Bagian 1-4)” ini bisa menjadi bukti kecil, selain bukti-bukti lain. Sudah begitu, mereka menuduh kita sebagai ahli bid’ah yang menyelisihi Sunnah.

Sebuah permisalan yang mudah. Menegakkan Syariat Islam adalah Sunnah besar dalam kehidupan Salafus Shalih. Tidak ada satu pun Salaf yang mengingkari kewajiban itu. Karena penegakan Syariat itu akan menjadi pelindung bagi penerapan ajaran Islam secara sempurna dalam sebuah Daulah Islamiyyah. Tetapi lihatlah sikap para Salafiyun itu; mereka lontarkan semua sampah-sampah celaan kepada gerakan-gerakan dakwah Islam yang komitmen ingin menegakkan Syariat Islam. Jangankan menolong, memuji, atau mendoakan; berbagai celaan mereka lontarkan, tanpa ampun. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Lihatlah, betapa sangat anehnya! Katanya mengikuti jalan Salaf, tetapi sangat tidak mendukung usaha-usaha penegakan Syariat Islam. Ini hanya satu contoh saja di antara sekian sikap dan pemikiran aneh Salafiyun.

Perhatikan kata-kata Abu Ammar ini, “Dan memang demikianlah keadaan para ahli bid’ah, mereka akan terus berusaha menghalangi ahlu Sunnah hingga hari kiamat tiba.”

Ya Allah ya Karim, betapa pahitnya celaan manusia satu ini. Orang ini sudah sesat dan menyesatkan, lalu menuduh pihak lain terus menghalangi Ahlus Sunnah sampai Hari Kiamat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sekarang pertanyaannya, siapakah yang ahli bid’ah? Anda atau saya? Kalau dimudahkan secara teknis, ingin rasanya saya mengajak orang-orang sesat ini untuk berdiskusi terbuka di hadapan Ummat. Biarlah nanti mereka melihat, mana yang sesat dan mana yang istiqamah? [Selesai].

Masalah 40


Wahai penulis… org yang berilmu tentu akan bersikap sesuai kadar keilmuannya. Kalian akan menjadi pengamat terhadap setiap apa yang dilakukan salafiyin???
Sementara engkau tidak mencoba belajar menambah keilmuanmu supaya benar dalam setiap langkahmu??? Alangkah bagusnya do’amu??! Mari kita berlindung dari setiap jalan yang membinasakan.

Kiranya saya cukupkan sampai disini. Banyak yang ingin saya tulis…. namun cukuplah tersebut di atas utk menunjukkan kebencian sang penulis kepada dakwah salaf ini.

Akhirnya saya mengajak kepada penulis dan org2 yang semisalnya yg tdk sedikit jumlahnya, untuk kembali kepada ajaran agama Islam ini, sebagaimana para pendahulu umat ini memahaminya. Dan marilah kita memohon kepada Alloh utk memberikan petunjuk kepada pemimpin2 kita, memperbaiki keadaan kaum muslimin dan meneguhkan mereka dengan hidayah-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa salam. Karawang, 27 Januari 2009. Ttd. Abu Ammar.

Catatan AMW 40:

Wahai Abu Ammar, di mata saya, orang seperti Anda itu termasuk sesat dan menyesatkan. Saya berlindung kepada Allah dari terjerumus pemikiran-pemikiran sesat seperti yang Anda anut itu. Allahumma amin.

Adapun tentang doa Anda, “Dan marilah kita memohon kepada Alloh utk memberikan petunjuk kepada pemimpin2 kita, memperbaiki keadaan kaum muslimin dan meneguhkan mereka dengan hidayah-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa salam.Atas doa ini, saya hanya bisa mengatakan: Amin Allahumma amin. Jazakallah khair atas doa kebaikan bagi kaum Muslimin.

‘Ala kulli hal, wallahu a’lam bisshawaab, wasstaghfirullaha li wa lakum ajma’in, walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

=== TAMMAT ===

Selesai 3 Januari 2009.

AM. Waskito.

Iklan

10 Responses to Pemikiran Politik Salafi (Bagian 4)

  1. salafy berkata:

    Khalifah Al-Manshur Al-‘Abbasi pernah berkeinginan mewajibkan seluruh rakyatnya mempelajari kitab hadits Al-Muwatha’. Tapi apa yang terjadi? Imam Malik bin Anas rahimahullah selaku pengarang kitab tersebut justru menolaknya. Beliau tidak setuju. Alasannya, seratus ribu lebih para sahabat radiyallahu ‘anhum telah berpencar ke seluruh penjuru negeri Islam, menyebarkan ilmu yang mereka terima langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Tiap negeri sudah memiliki ulama besar dari kalangan shahabat. Imam Malik meyakini bahwa ilmu beliau belumlah mewakili seluruh sahabat yang terpencar tersebut. Inilah teladan seorang Imam besar Ahlussunnah yang begitu tawadhu’ dan tak merasa paling alim. Padahal beliau merupakan guru beberapa ulama besar yang kapasitas keilmuannya tak lagi diperselisihkan oleh kaum Muslimin. Coba bandingkan dengan sebagian ulama, bahkan da’i yang belum mencapai tingkat ulama di jaman sekarang, yang dengan sadar atau tidak telah memaksakan pemikirannya untuk diikuti oleh seluruh umat Islam. Kalau ada yang tak sependapat dengannya, langsung gelar, mubtadi’ hizby, dan lainnya disematkan kepada orang-orang tersebut. Ironisnya lagi terkadang pengikut para ulama (syaikh?) tersebut menjadikan pendapat syaikhnya sebagai ukuran ke’mubtadi’an seseorang atau golongan. Padahal si Syaikh sendiri mungkin belum menetapkan fatwa tersebut. Inilah realita yang terjadi di dunia dakwah Islam saat ini. Vonis, ahlul bid’ah, hizbiyah, sesat, menyimpang dan segudang gekar lainnya dengan mudahnya berhamburan di kalangan umat Islam. Seolah tak ada lagi manusia yang beragama dengan baik di dunia ini selain kelompok tertentu itu. Seakan merekalah pemegang kunci syurga yang luasnya seluas langit dan bumi ini. Bagi orang-orang awam, atau yang baru mengenal Islam, mungkin tingkah dan gaya kelompok ini cukup memukau pandangan. Keberanian memvonis seseorang atau golongan, bahkan menghinakan para ulama besar, memnbawa efek luar biasa. Bahkan kehebatan memutar balik ayat qur’an dan hadits Nabi, hingga mengena-ngenakan perkataan shahabat dengan vonis yang mereka inginkan membuat kalangan Juhala (orang-orang bodoh) beranggapan apa yang mereka katakana sangat Ilmiyah. Padahal… Bagi kalangan berilmu, atau minimal pernah mengkaji ilmu-ilmu basic ke-Islaman, apa yang mereka katakana banyak yang aneh dan lucu, alias tidak nyambung. Kelompok ini juga gemar mengeluarkan orang dari Ahlussunnah, sepertinya merekalah yang memegang stempel buat melegalisasi seseroang maupun suatu lembaga itu Ahlussunnah atau bukan. Celakanya ukuran yang mereka gunakan buat menentukan sesuatu itu Ahlussunnah atau bukan adalah kesesuaian dengan kelomok mereka, bukan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kalaupun mereka katakan berdasar Al-Qur’an dan Sunnah, maka semuanya adalah yang sesuai dengan tafsiran dan hawa nafsunya sendiri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : ” Barang siapa berpendapat berdasar Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’, ia adalah seorang ahlu sunah wal jama’ah.” Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata : ” Barang siapa mengambil suri tauladan, hendaklah ia mengambilnya dari orang-orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup tidak ada jaminan selamat dari fitnah (kesesatan, ketergelinciran, kesalahan). Merek adalah para sahabat Muhammad radiyallahu ‘anhum ; generasi paling utama umat ini, paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, dan paling sedikit takaluf (membuat-buat, memaksakan diri, bersikap wajar dan apa adanya). Mereka telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan dien-Nya. Kenalilah keutamaan mereka ! Ikutilah jejak-jejak mereka ! Berpegang teguhlah dengan akhlak dan sejarah kehidupan mereka sesuai kemampuan kalian ! Karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berpesan : ” Kebenaran tidak dikenal dari orang-orangnya. Tetapi kenalilah kebenaran, maka engkau akan tahu siapa orang-orang yang berada di atas kebenaran !” Para ulama salaf memberi nasehat : ” Ikutilah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian dengan sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu oleh banyaknya orang-orang yang binasa (pengikut jalan kebatilan).” Kenyataan menyedihkan pada sebagian umat Islam saat ini adalah ketergantungan mereka dengan sosok tertentu. Para syaikh dan asatidz mereka seperti menggantikan peran Rasulullah SAW dan para shahabat beliau. Bayangkan, saat syaikh mereka mengatakan A mereka akan berkata A, meski mungkin saja lembaga fatwa atau majelis ulama yang diakui kapasitasnya oleh dunia Islam berkata lain. Bahkan tak jarang saat syaikh mereka berfatwa yang ganjil dan aneh atau bertentangan dengan banyak zahir ayat, mereka akan mencarikan pembenaran meski harus dengan ‘memperkosa’ ayat dan hadits. Semua ini terjadi, tentu tak lain dan tak bukan karna masih tinginya jiwa fanatis (taqlid) ditambah dengan kebodohan dan kekurangan wawasan. Kekurangan wawasan keilmuan ini bukan tanpa disengaja, sebab banyak ustadz atau syaikh yang dengan keras melarang pengikutnya mengambil ilmu dari orang lain. Bahkan buan saja mengambil ilmu, sekedar mencari informasipun dilarang mati-matian dengan alasan agar tak terkena syubhat. Soal syubhat inipun lain lagi keanehannya. Pasalnya, apapun yang didapat dari sumber selain syaikh atau ustadz mereka mereka dengan pasti menyatakan itu adalah syubhat. Sekalipun kita bacakan Ayat Al-Qur’an, Hadits Nabi dan perkataan shahabat yang shahih, tetap dianggap syubhat. Sedangkan manakala syaikh mereka mengatakan sesuatu, meski tanpa dasar Al-Qr’an, Hadits, atau perkataan ulama salaf, akan dianggap kebenaran mutlak yang tak boleh dibantah. Membantah? Bakalan dikeluarkan dari Ahlussunnah Wal Jama’ah versi mereka. Ada sebagian ahli mensinyalir bahwa kondisi ini merupakan buah operasi intelejen kuffar yang melakukan infiltrasi ke dalam gerakan Islam. Nah terlepas benar atau tidak isu ini, yang pasti kebodohan adalah penyebab dasar sebagian saudara kita jatuh dalam kesesatan berpikir. Kebodohan di sini bukan terbatas pada kurangnya ilmu, tapi juga tingkat kecerdasan yang rendah. Ini terbukti dari kenyataan bahwa ternyata kebanyakan pengikut (bahkan ustadz mereka) sangat lemah dalam logika berpikir, sehingga piranti ilmu yang mereka miliki tidak bisa diintegrasikan secara baik. Alhasil produk pikiran merekapun banyak yang nyeleneh dan bertentangan dengan dalil yang sharih. Wallahu a’lam

  2. salafy berkata:

    Afwan.. mohon komentar di atas jangan di publis…
    Nanti ana kirim dalam format yang lebih rapi dan telah direvisi

  3. abisyakir berkata:

    @ Salafy.

    Alhamdulillah, komentar Antum telak mengenai inti masalah terbesar Salafi saat ini, yaitu: TAQLID. Dulu saya mendapati orang-orang NU melarang murid-muridnya mendekati orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman “mencurigakan”. Kerap mereka juga melakukan “hajr” (boikot), meskipun tidak sekentara Salafi. Intinya sama, yaitu TAQLID dan TAQLID. Para Salafiyun dalam memposisikan ustadz/syaikh seperti nasehat para Shufi: “Jadikan dirimu di depan gurumu seperti mayat.” Jadi, tidak bisa berbuat apa-apa, selain terima beres perkataan ustadz/syaikh-nya.

    Seharusnya ustadz/syaikh itu mengajarkan manhaj/metode, bukan ikut campur sampai urusan-urusan yang sangat detail. Kalau mereka berpendapat sifatnya wacana, sebagai referensi, bukan diikuti secara buta. Kalau hujjah-nya kuat diikuti, kalau tidak mengambil pendapat lain yang lebih baik. Seperti diceritakan, banyak murid-murid As Syafi’i yang tidak berpendapat sebagaimana gurunya, biarpun mereka mengikuti madzhab fiqih Syafi’iyyah.

    Untuk @ Ana Jiddan, syukran atas komentar Antum. Semoga data yang Antum sampaikan, bisa menjadi perbandingan bagi Salafiyun. Yaitu kalau mereka benar-benar muttabi’iyun Salafas Shalih radhiyallahu ‘anhum. Untuk semua jazakumullah khairan jaza’. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah.

    AMW.

  4. J4All berkata:

    Assalaamu’alaikum ustadz, mohon ijin untuk mengkopi tulisan tentang seri 1-4 ini ke myquran.

    Jazakallah khayran.

  5. abisyakir berkata:

    Wa’alaikumsalam warahmatullah. Ya silakan Akhi, kalau bermanfaat! Jazakallah khair aidhan. AMW.

  6. J4All berkata:

    Alhamdulillah, sudah saya copas tulisan serial ini di:
    http://myquran.org/forum/index.php/topic,50079.0.html

    Oh ya, tentang masalah boikot, tampaknya akh Abu Ammar ini termasuk yang belum mengetahui fatwa Syaikh Albani dan Syaikh Nashir As-Sa’di yang berfatwa boikot untuk musuh Islam. Bahkan Syaikh Nashir As-Sa’di menyatakan boikot adalah jihad akbar!

    Ada tulisannya dari islamgold.com, dan sebagian terjemahnya ada di link berikut ini:

    http://myquran.org/forum/index.php/topic,46310.0.html

  7. Abu Hanif berkata:

    Dahsyat,demikian panjang pembelaan abu ammar hanya karena kerajaan saudi dikritik,kenapa salafi begitu sensitif ya kalo kerajaan saudi dikritik..?
    Hmm..Tinggal diINDONESIA tapi berloyal pada kerajaan saudi,sikap yg aneh.

  8. Bin Adnan berkata:

    Keheranan saudara Abu Hanif juga merupakan keheranan saya.

    Tapi dari pengalaman saya berdiskusi di forum-forum Muslim internasional di internet, tak semua Salafi begitu loyal pada kerajaan Saudi. Salafi seperti abu ammar yang sangat loyal pada kerajaan Saudi biasanya adalah Salafi Hadadi, atau juga dikenal sebagai Salafi Madkhali karena tunduk kepada Shaykh Rabee bin Hadi Al Madkhali.

  9. Anonim berkata:

    Can read this article my pleasure, I have paid attention to your article, hope blogger continuously update.You can also communicate with my website.That is my web site :mlb jersey

  10. Anonim berkata:

    痔疮治疗专科医院

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: