Rahasia Besar Kekalahan THE FED

Akhir tahun 2008 lalu Bank Sentral Amerika, The Federal Reserve, menurunkan suku bunga sampai level mendekati nol. Tepatnya di patokan 0,25 %. Biasanya The Fed (singkatan The Federal Reserve) memakai patokan 1,0 %. Saya tidak tahu, apakah nilai 0,25 % itu angka yang bersifat mutlak atau suatu nilai kisaran, tetapi demikianlah yang beredar di media. Keputusan The Fed menerapkan kebijakan “banting harga” itu disambut luas oleh masyarakat bisnis dunia. Seolah muncul kegairahan baru, setelah beberapa lama “pusing tujuh putaran” akibat Krisis Finansial Amerika. Alasan The Fed cukup logis, untuk menggairahkan sektor riil di Amerika. Barack Obama yang waktu itu belum dilantik menjadi US President, mendukung penuh kebijakan The Fed. Ya, bisa jadi ia adalah kebijakan kebijakan manis di sisa-sisa kepemimpinan George “The Shoe” Bush. (Saya masih suka terpingkal-pingkal kalau ingat Bush di-balang sepatu. Ho ho ho…).

Bagi sebagian besar kita, mungkin penurunan suku bunga The Fed tidak ngaruh. Bukan karena apa, tetapi tidak mengerti apa artinya? Padahal memahami hal seperti ini sangat penting agar kita tahu perkembangan bisnis global. Tujuannya bukan semata untuk urusan bisnis, tetapi mencermati segala dinamika yang bisa mempengaruhi kehidupan Ummat Islam. Disini saya ingin berbagi pengetahuan, mudah-mudahan bermanfaat menambah wawasan kita. Amin ya Karim. Setidaknya, biar nanti Anda tidak terlalu awam saat mendengar orang berbicara tentang “suku bunga The Fed” atau “BI rate”. Lagi pula, semua ini ditinjau menurut perspektif Islam, sesuai guidance hidup kita. Selamat membaca!

Memahami Sistem Perbankan

[o] The Federal Reserve adalah Bank Sentral Amerika. Disebut “The Federal” sebab lembaga ini dikelola oleh “Pemeritah Pusat” Amerika. Ingat lho, Amerika itu bentuknya “United” alias Federasi. The Fed serupa dengan Bank Indonesia (BI). Hanya pengaruh The Fed bersifat global, karena pengaruh ekonomi Amerika sendiri memang berpengaruh secara global. Hal itu muncul karena penggunaan mata uang dollar Amerika secara luas di dunia. Andai dollar hanya dipakai di Amerika, pasti negara itu tidak akan dominan secara ekonomi. [Sebab semua negara harus menyesuaikan transaksi perdagangan, keuangan, dan investasinya dengan mata uang dollar. Dengan sendirinya, dollar selalu dicari-cari. Seperi hukum ekonomi, makin banyak dicari, makin mahal harganya].

[o] Peranan The Fed menjadi sangat kuat ketika Amerika dilanda “gelombang Tsunami” Krisis Finansial yang sangat akut. Sama seperti di Indonesia dulu, ketika Krisis Ekonomi 1997. Waktu itu peranan BI sangat dominan. Salah satunya, waktu itu BI mengeluarkan kebijakan dana talangan hutang konglomerat, yang dikenal dengan nama BLBI. Istilahnya sangat lembut: Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Padahal makna sebenarnya: Negara harus tekor dana ratusan triliun rupiah untuk nomboki hutang para konglomerat terkutuk! [Itu arti sebenarnya! Karena orang Indonesia terkenal “santun bahasa”, perlu melembut-lembutkan istilah untuk kejahatan yang sangat keji]. Setelah Krisis Finansial, George Bush meminta Konggres Amerika meluluskan proposal untuk menalangi bank-bank Amerika yang bangkrut dengan suntikan dana sekitar US$ 700 miliar. Menurut prinsip Kapitalisme, campur tangan negara seperti usulan Bush itu HARAM AKBAR. Pejabat-pejabat IMF dan World Bank bisa “mati berdiri” hanya karena mendengar usulan “campur tangan” itu. Tapi karena terdesak, ya apa boleh buat? Mereka tidak malu menjilati ludahnya sendiri –yang kebetulan sudah terkumpul dua ember penuh-. Uni Eropa sendiri menyadari bahwa Krisis Finansial itu terjadi karena praktik Kapitalisme ekstrem. [Menurut agama Kapitalisme, negara tidak boleh ikut campur soal urusan ekonomi. Semakin liberal, semakin OK. Tetapi anehnya, pusat-puat Kapitalis seperti IMF, Bank Dunia, ADB, IGGI, CGI, dll. mereka 100 % mencampuri ekonomi bangsa-bangsa di dunia. IMF sendiri punya tim khusus, The Ecomic Hit Man (para tukang pukul ekonomi), yang kerjanya merusak ekonomi orang lain. Indonesia sendiri saat ini hancur karena disikat IMF tahun 1997 lalu].

[o] Dalam sistem Kapitalisme, Bank Sentral berperan menjaga stabilitas ekonomi negara dengan sebuah cara: mengatur nilai suku bunga (interest rate). Kalau versi Bank Indonesia, sering disebut suku bunga BI (atau BI rate). Suku bunga ya prosentase nilai bunga itu sendiri. Bisa juga dianggap indeks nilai bunga. Misalnya perusahaan KPR menetapkan bunga sebesar 10 %. Ia bisa disebut suku bunga KPR 10 %. Istilah “suku” disini tidak perlu dianggap serius. Ia lebih untuk memperindah kata saat terdengar di telinga. Istilah “suku” mirip dengan indeks, yaitu suatu nilai yang berubah-ubah harganya.

[o] Bank Sentral bebas menentukan nilai suku bunga dengan cara menaikkan atau menurunkan. Sama seperti bank-bank umum yang bebas menentukan suku bunga di bank masing-masing. Tetapi ada bedanya, yaitu: (1) Bank Sentral menaikkan atau menurunkan suku bunga dengan tujuan menjaga kestabilan ekonomi suatu negara (kondisi makro ekonomi). Kalau bank biasa, menaikkan atau menurunkan bunga karena memang untuk mencari untung (profit taking); (2) Penurunan atau kenaikan suku bunga Bank Sentral berpengaruh bagi seluruh elemen-elemen ekonomi dan pelaku bisnis di suatu negara. [Untuk kasus The Fed, ia malah berpengaruh secara global ke seluruh dunia]. Sementara bank biasa, pengaruhnya terbatas kepada bank itu sendiri, rekan bisnisnya, dan nasabah-nasabahnya.

[o] Dalam dunia bank berlaku hubungan ribawi berbasis bunga (interest). Para nasabah dari masyarakat umum berhubungan dengan bank-bank umum, lalu bank-bank itu berhubungan dengan Bank Sentral (misalnya BI atau The Fed). Sifat hubungan itu komersial murni. Bank Sentral sendiri tidak melayani transaksi para nasabah masyarakat umum. Klien Bank Sentral ya bank-bank umum itu, bukan nasabah masyarakat biasa. [Kecuali untuk kasus, misalnya penukarkan uang jelek atau rusak diganti uang gress, menjelang saat Idul Fithri. He he he]. Para nasabah menabung di bank-bank umum sehingga terkumpul banyak dana di bank-bank itu. Lalu bank-bank tersebut “menabung” di Bank Sentral untuk mendapatkan bunga juga. Misalnya, suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral kepada bank-bank umum 5 %, maka bank-bank tersebut memberikan suku bunga ke para nasabahnya lebih rendah dari 5 % (misalnya 4 % atau 3 %). Nah, selisih bunga dari Bank Sentral dikurangi bunga yang diberikan kepada nasabah masyarakat umum, inilah yang merupakan keuntungan bisnis bank itu.

[o] Bank Sentral tidak keberatan memberi bunga untuk setiap dana yang “ditabung” oleh bank-bank umum. Berapapun dana yang disetor ke Bank Sentral, tetap akan diberi bunga. Tapi tentu, bank-bank yang “nabung” itu tidak boleh menyetor semua dana yang masuk ke kas mereka. Kalau disetor semua, nanti mereka kehabisan dana operasional dan tidak bisa melayani permintaan nasabah bank. Ada aturan tertentu yang diterapkan Bank Sentral, agar bank umum tetap lancar beroperasi, tetapi juga tetap dapat bunga.

[o] Selain mekanisme bunga, juga ada mekanisme pinjaman (hutang). Bank-bank umum memberikan pinjaman hutang kepada nasabah. Sementara itu Bank Sentral bisa memberi pinjaman kepada bank-bank umum. Kalau Bank Sentral misalnya memberi suku bunga pinjaman ke bank-bank umum senilai 5 %, maka bank-bank itu akan memberi suku bunga kepada nasabah yang meminjam uang kepada dia lebih tinggi dari 5 % (misalnya 6 % atau 7 %). Lihatlah, bank-bank umum itu tidak mau rugi. Mereka selalu dapat untung. Ketika memberi bunga ke nasabah yang menabung, selalu lebih rendah dari bunga “menabung” di Bank Sentral; namun ketika memberi bunga pinjaman ke nasabah selalu lebih tinggi dari bunga pinjaman dari Bank Sentral. Disini nanti akan terlihat, betapa “keramat” nilai pengumuman kenaikan atau penurunan suku bunga Bank Sentral. Pengumuman itu bisa berpengaruh luas ke masyarakat, sebab ia mula-mula sangat mempengaruhi perilaku bank-bank.

[o] Kalau Bank Sentral mengumumkan kenaikan suku bunga dalam nilai tinggi, misalnya sampai 10 %. Bank-bank akan mengumumkan kenaikan bunga untuk tabungan nasabah, misalnya 8 % atau 9 % (lebih rendah dari 10 %). Dengan demikian, para nasabah akan berduyun-duyun menabung di bank umum, karena tergiur oleh nilai bunga tinggi. Bank-bank umum juga berlomba-lomba menyetor dana ke Bank Sentral. “Mumpung, lagi gedhe bunganya?” kata mereka. Akhirnya, di Bank Sentral terkumpul sangat banyak uang. Dalam kondisi seperti itu posisi keuangan negara dianggap stabil, sebab cadangan dana yang terkumpul di Bank Sentral sangat banyak. Pengaruhnya, nilai kurs mata uang negara itu bisa menguat. Tetapi sebaliknya, dunia bisnis riil (seperti dagang, industri, manufaktur, dll) justru sangat terpukul, sebab di tengah masyarakat sulit didapatkan modal usaha. Modal banyak disimpan di bank-bank dalam rangka memburu bunga. Kondisi keuangan stabil, tetapi kondisi bisnis riil bisa “mati suri” gara-gara masyarakat kesulitan dapat pinjaman untuk modal usaha.

[o] Misalnya Bank Sentral menurunkan suku bunga ke level 2 %. Maka bank-bank umum akan malas setor dana, sebab nilai bunganya rendah. Begitu pula masyarakat jadi malas menabung, sebab bunga yang diberikan oleh bank terlalu kecil (di bawah 2 %). Tetapi para bisnisman akan bersorak gembira, sebab kalau mereka pinjam ke bank, akan dikenai bunga kecil, misalnya 3 % atau 4 % (di atas 2 %). Dalam situasi ini, dunia bank lesu, tetapi dunia bisnis riil justru bergairah. Dengan kata lain, dunia “duit di atas kertas” menjadi lemah, sementara dunia “duit di tangan” justru sangat bergairah.

Singkat kata, kenaikan atau penurunan suku bunga Bank Sentral, hal itu sangat mempengaruhi perilaku nasabah bank dan industri perbankan. Namun ia juga sangat mempengaruhi perkembangan dunia bisnis riil (sektor riil). Kalau suku bunga Bank Sentral tinggi, sektor riil akan lesu; kalau rendah, mereka akan bergairah. Dengan demikian, ketika The Fed menurunkan suku bunganya, Anda tentu sudah memahami bagaimana akibat dan konsekuensinya.

Hakikat Sistem Kapitalisme

Kalau kita perhatikan secara teliti ada dua kesimpulan besar dari sistem keuangan dunia yang telah dibahas di atas. Pertama, posisi Bank Sentral sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia, khususnya di dunia perbankan dan bisnis riil. Bank Sentral seperti The Fed malah berpengaruh secara global. Kedua, pengaruh Bank Sentral itu dimainkan dengan cara menaikkan atau menurunkan suku bunga. Padahal kita tahu posisi bunga (interest) bank itu ribawi murni. Ia tidak berbeda dengan bunga para rentenir. Hukumnya HARAM!!!

[Sebagian ulama-ulama sesat menyebut bunga bank tidak haram. Kata mereka, praktik bank modern berbeda dengan praktik ribawi di masa lalu. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hanya karena sedikit perbedaan praktik dianggap BERBEDA. Padahal esensinya sama, hanya tampilan tampak lain].

Nah, inilah sistem Kapitalisme. Dalam sistem ini, kehidupan manusia di muka bumi tergantung nilai suku bunga yang ditetapkan Bank Sentral (misal The Fed). Padahal bunga bank itu sendiri sangat haram. Sangat mengerikan ya, nasib manusia diserahkan kepada kaum rentenir (Bank Sentral). Sangat wajar, kalau kehidupan manusia di muka bumi ini tidak pernah tenang, tidak pernah damai, selalu diliputi gelisah, stress, dan depressi. Bagaimana tidak, wong nasib mereka tergantung kebijakan suku bunga The Fed. Apa pernah Anda mendengar ada rentenir yang baik hati? Embel, tidak ada sama sekali. Kalau baik hati, tidak akan jadi rentenir.

Secara psikologis, sistem Kapitalisme ini sangat merusak mental manusia. Ratusan juta nasabah bank di dunia diajari cara-cara malas untuk mendapat kekayaan. Cukup nabung atau deposito di bank, nanti keuntungan datang sendiri. Itu mengajari orang hidup malas, mengandalkan bunga bank. [Seperti Robert T. Kyosaki atau Tung Desem Waringin, mereka sangat mendukung gaya hidup kaya dengan “makan bunga” itu. Tung Desem menyebutnya “cara halal”. Halal apane?]. Setelah malas, mereka akan menjadi maniak hiburan, sangat doyan senang-senang. Maka itu, dimana bisnis bank berkembang pesat, biasanya bisnis entertainment ikut pesat juga.

Tetapi sistem Kapitalisme ini juga bisa menjadi PEMBUNUH NOMER SATU. Ia “membunuhi” para nasabah yang meminjam uang ke bank-bank. Ada ratusan juta manusia yang meminjam uang ke bank untuk berbagai tujuan. Sejak itu mereka terus dikejar-kejar oleh “hantu bunga bank”. Sebelum mendapat uang dari bank, hati mereka berbunga-bunga, sebab akan mendapat dana tertentu. Tetapi setelah seminggu menerima uang, sejak saat itu mesin stress pun mulai menyala. Sebagian mereka selamat dari “penjara bank”, namun memiliki dendam kuat kepada para rentenir itu. Tetapi banyak juga yang akhirnya gelimpangan menjadi korban rentenir. Ya, kaum rentenir tidak peduli dengan penderitaan masyarakat. “Masa bodoh, lu mau mati atau kelaparan. Itu urusan lu sendiri. Lu lu, gue gue. Lu mampus silakan, tapi jangan bawa-bawa gue. Kita beda, man! Ini sudah takdir. Lu ditakdirkan mampus, gue ditakdirkan hidup seneng. Hua ha ha hua ha ha…” begitu logika rentenir itu.

Pengaruh Secara Ekonomi

Sistem Kapitalisme berbasis transaksi ribawi. Intinya, ia masih sama dengan sistem rentenir klasik. Hanya berbeda penampilan dan teori-teorinya. Secara hakiki masih sama, tidak banyak berubah. Di jaman Nabi Saw., Yahudi sudah menerapkan sistem bunga berbunga. Saat ini, penguasa dunia ribawi itu Yahudi lagi. Tetapi mereka sharing dengan rentenir China, Jepang, dan Arab ‘dugem’.

Selama sistem seperti ini masih berlaku, ekonomi manusia tidak pernah tenang. Sejak tahun 1930 ekonomi dunia sudah mengenal istilah RESESI DUNIA. Sampai saat ini, masih terus resesi, tidak ada perkembangan positif. Aneh sekali kan? Katanya pembangunan ekonomi, kok tidak pernah mencapai kemakmuran? Seperti sebuah perjalanan tanpa ujung, tanpa akhir. Laa ilaha illallah.

Seharusnya, pertukaran nilai ekonomi antar manusia terjadi dalam hubungan timbal balik. Misalnya, seseorang menjual barang, lalu mendapat uang; atau orang lain bekerja keluar tenaga, lalu mendapat upah. Jadi semua terjadi secara alami, sesuai realitas di alam, ada aksi ada reaksi. Lebih bagus lagi kalau semangatnya sinergi, saling menguntungkan satu sama lain.

Tetapi dalam sistem Kapitalisme ribawi, segolongan orang mendapat untung bukan karena bekerja, tetapi karena menyimpan uang atau meminjamkan hutang. Hanya bekerja secara pasif, lalu keuntungan datang menghampiri. [Tidak heran jika Robert T. Kyosaki dan pengagum-pengagumnya di Indonesia menyebut istilah Passive Income]. Cara demikian jelas merupakan hakikat eksploitasi. Kalau rentenir klasik mengeksploitasi para peminjam uang mereka, maka rentenir modern, mengekploitasi para nasabah pemimjam uangnya. Dalam konteks menabung, para nasabah mengeksploitasi bank umum pemberi bunga; sementara bank umum mengeksploitasi Bank Sentral. Intinya, mendapat keuntung berbasis eksploitasi.

Pada suatu titik, ketika mayoritas masyarakat sudah sesat karena mimpi bunga berbunga. Mereka malas bekerja dan hanya pintar menyimpan uang untuk mengail bunga-berbunga. Ketika itu sistem perbankan dipaksa untuk selalu membayar semua bunga uang-uang tersebut. Bank-bank umum kelabakan, apalagi Bank Sentral. Mereka harus terus membayar bunga, sementara mayoritas rakyat sudah terlanjur pemalas, tidak mau melakukan produksi. Sehari-hari kerja mereka hanya memelototi indeks suku bunga The Fed, indeks Dow Jones, NYSE, Nasdaq, Nikkei, Hanseng, dll. Tidak ada kerjaan lain, selain menanti bunga berbunga. Ya, kalau begitu kondisinya, bank-bank itu lama-lama akan jebol. Itu sudah pasti! Darimana akan bisa memberi bunga, kalau tidak ada yang mau bekerja secara riil?

Disini ada hikmah besar. Sistem bank konvensional selama ini diklaim sebagai sistem utama bisnis modern yang tangguh, progressif, dan produktif. [Perlu diketahui, di Indonesia sendiri 95 % pasar keuangan bank, masih dikuasai bank konvensional]. Tetapi ketika masyarakat luas secara kolektif terjun semua menjadi rentenir, maka ambruklah sistem itu, sebab tidak ada lagi yang bisa memberi bunga. Siapa yang akan memberi bunga, wong semuanya sudah jadi rentenir kok, tidak ada yang terjun melakukan produksi. Tetapi masyarakat tidak boleh disalahkan, sebab mereka menjadi rentenir karena terpikat oleh promosi jor-joran industri perbankan. Bank yang memprovokasi mereka agar menabung, dan bank juga yang akhirnya tidak mampu membayarkan bunganya. Nah, inilah penyebab utama Krisis Finansial Amerika saat ini. Selain peledakan WTC yang menjadi bumerang dan perang Irak-Afghanistan yang sangat menguras cadangan keuangan.

Andai masyarakat tidak terjun semua menjadi rentenir, sistem bank konvensional tetap menimbulkan ancaman menyakitkan. Misalnya, hanya sebagian masyarakat saja yang mau mencari untung dengan menjadi nasabah bank. Dalam kondisi seperti itu, industri bank akan bermegah-megah dengan uang berlimpah di tangan mereka. Sementara masyarakat pelaku bisnis riil, mereka menjadi sapi perahan. Lha, siapa yang akan membayar bunga-bunga itu, kalau bukan keringat-keringat masyarakat? Pada titik tertentu, bank-bank itu bisa kolaps, lalu negara nomboki untuk menyelamatkan bank-bank tersebut. Dari mana negara akan nomboki kalau tidak memotong hak-hak masyarakat? Betapa enaknya komunitas bank itu. Mereka hidup di atas keringat orang lain; kalau usahanya bangkrut, tinggal minta tolong negara agar memotong hak masyarakat untuk nomboki kerugian mereka. Itulah yang terjadi pada Krisis Ekonomi 1997 lalu. Skandal BLBI senilai 500 triliun rupiah adalah bukti kezhaliman negara terhadap rakyatnya sendiri. Maka laknat Allah bagi para konglomerat hitam dan siapapun yang menolong kejahatan mereka!

Pandangan Al Qur’an

Al Qur’an menyebutkan rahasia bisnis Islami. “Wahai orang-orang beriman janganlah kalian memakan harta sebagian kalian yang lain dengan cara bathil. Kecuali, melalui jalan perniagaan yang kalian saling ridha-meridhai (sinergi). Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang kepada kalian.” (An Nisaa’: 29).

Dalam konteks bisnis modern, ayat ini sangat menakjubkan. Pertama, Allah melarang kita mencari income dengan cara bathil, apapun bentuknya. Hal itu bukan hanya karena cara bathil itu bisa menzhalimi orang lain, tetapi buah dari harta yang diperoleh tersebut akan dicabut berkahnya. Mungkin nilai nominal harta itu besar, tetapi ia menjadi kehilangan makna.

Kedua, bisnis yang ditekankan dalam Islam ialah saling ridha-meridhai (sinergi atau mutualisme). Misalnya dalam jual-beli, penjual menetapkan harga yang pantas, sementara pembeli merasa puas dengan barang yang diperolehnya. Hal ini bukan hanya karena pentingnya menjaga etika dan moralitas. Tetapi hanya bisnis seperti itu yang akan berkembang sangat pesat, tanpa kezhaliman.

Ketiga, dalam akhir ayat di atas, kita dilarang melakukan tindakan “bunuh diri” dan diyakinkan bahwa Allah itu Rahima (Maha Belas Kasih kepada kita). Lho, kok jadi “bunuh diri” ya? Apa hubungannya? Apa Al Qur’an tidak salah tulis ya? Subhanallah, Maha Suci Allah dari kesalahan, cacat, dan kezhaliman.

Akibat tekanan ekonomi, manusia kerap melakukan tindakan bathil untuk mendapatkan rizki. Tetapi bagi yang tidak mampu berbuat jahat, mereka ada kalanya melakukan bunuh diri. “Duh Gusti, kami sudah tak mampu menahan derita ini. Kami tak sanggup lagi. Kami tak kuasa menahan perihnya kemiskinan dan kesengsaraan ini. Takdir-Mu terlalu kejam untuk kami tanggung. Ijinkan kami mengakhiri hidup ini!” begitu bait-bait ratapan kaum putus-asa. Na’udzubillah min dzalik. Maka Allah menjawab ratapan mereka, “Wa laa taqtulu anfusakum, innallah kana bikum rahima” (janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, karena sesungguhnya Allah itu Maha Belas Kasih kepada kalian). Jangan ikuti bisikan-bisikan syaitan, sebab ia selalu memprovokasi agar manusia binasa dengan bunuh diri. Ingat saudaraku, semakin penderitaanmu mendekati puncak, itu pertanda ia akan segera berakhir dan berubah menjadi kemudahan besar. Yakinlah!

Kemudian ketika manusia terdesak secara ekonomi, mereka juga kerap kali gelap mata, lalu mendekati kaum rentenir. [Rentenir itu namanya bisa Bang Maman, Bang Rudy, Bang Joni, dll. Tetapi ia juga bisa namanya Bank Asia Raya, Bank Republik Ini, Bank Berdiri Sendiri, Bank Guedhe Banget, Bank Antar Negara, dll. Jadi sama-sama memakai lafadz “Bang”]. Setelah terperangkap sistem rentenir, mereka mulai hidup stress, depressi, dikejar-kejar tagihan terus. Pada suatu titik, mereka menderita stroke, penyakit jantung, diabetes mellitus, gagal ginjal, dll. karena gaya hidupnya rusak setelah “dibimbing” oleh rentenir. Andai mereka tidak mati setelah itu, hidup mereka mati, yaitu kehilangan potensi untuk berkreasi. Kreasi mati gara-gara diburu tagihan rentenir sepanjang waktu. Betapa lembutnya nasehat Al Qur’an: “Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, karena sesungguhnya Allah itu Maha Belas Kasih kepada kalian.

Wal ‘Izzatu Lillahi wa Rasulih wal Islam. Laisa ‘alan naasi Sa’adah, illa ‘a sabilil Islam. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 21 Desember 2008.

AM. Waskito.

Iklan

2 Responses to Rahasia Besar Kekalahan THE FED

  1. uta berkata:

    pak. saya ingin bapak kalo ada waktu menulis tentang :
    1.fenomena sepak bola yg sangat “menyibukkan” muslimin
    2.yang membuat kurangnya jiwa entreperenur muslim di indonesia
    3.SWOT indonesia, baik SDM maupun SDA nya.

    kalo ada waktu sempetin ya pak…
    JazakAllah…

  2. abisyakir berkata:

    Insya Allah Ukhti, saya akan usahakan hal itu. Mudah-mudahan kita bisa membuat halaman khusus yang bertema tentang inspirasi SDM Muslim. Jazakillah khair. AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: