Inti Kesesatan Paham Liberal

Beberapa hari kemarin TVOne menayangkan debat seputar kontroversi film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo yang sebelumnya juga menjadi sutradara film “Ayat Ayat Cinta” (AAC). Dalam debat yang juga melibatkan pakar Zionisme Ustadz Ridwan Saidi dan tokol Liberal Musdah Mulia itu, mengemuka banyak informasi penting. Salah satu yang sangat penting dikaji adalah KONSEP BERAGAMA para penganut ajaran Liberalisme. Konsep itu sangat tampak dalam pemikiran Musdah Mulia dan pemikiran-pemikiran Hanung Bramantyo sendiri.

Tetapi pemikiran seperti itu bukan monopoli Musdah Mulia, tetapi juga sering diucapkan oleh Ulil Abshar Abdala, Luthfi Syaukani, Nong Darol, Abdul Moqsith Ghazali, Gunawan Mohamad, dan lainnya. Karena begitu seringnya diulang-ulang di berbagai kesempatan, akhirnya kita memahami bahwa hal itu merupakan salah satu misi inti gerakan kaum mosionaris Liberal itu.

Inti pemikiran kaum Liberal, termasuk yang berulang kali disampaikan Musdah Mulia dalam debat di atas, antara lain sebagai berikut: “Kita harus memahami Islam secara rasional, sesuai dengan semangat jaman. Kita membutuhkan Islam yang membebaskan, Islam yang menjunjung tinggi martabat wanita, Islam yang menghargai kesetaraan gender, Islam yang ramah, Islam yang anti kekerasan, Islam yang anti KDRT, Islam yang humanis, Islam yang bijak, Islam yang toleran, Islam yang pluralis, dan lainnya.

Percayakah Anda semua, bahwa disini kita dapati INTI KESESATAN para penganut ajaran Liberal itu? Sungguh, disini kita mendapati inti kesesatan seluruh ajaran agama Liberalisme. Walhamdulillah, dengan pertolongan Allah.

Sebagaimana namanya Liberalisme, membebaskan manusia untuk menafsikan teks-teks ajaran Islam sesuka hatinya, dengan cara apapun, bahkan sekasar apapun. Tidak heran jika disana ada orang-orang terkutuk yang meghujat Islam, seperti penulis buku “Lubang Hitam Agama”, menggugat keotentikan Al Qur’an, ambisi mengedit Al Qur’an, melecehkan Sunnah Nabi, merusak sejarah Islam, mengatakan Al Qur’am sebagai kitab suci paling o, dan sebagainya.

Lalu apakah inti kesesatan ajaran Liberal itu?

Keimanan Seorang Muslim

Sebagai seorang Muslim, kita ini melakukan TASLIM, yaitu berserah diri untuk mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Kita ini bukan pembuat Islam, bukan penemu Islam, bukan pembangun konsep Islam. Kita ini hanya mengikuti ajaran yang telah jadi secara lengkap, sempurna, dan diridhai (Al Maa’idah ayat 3). Seorang Muslim bukanlah penemu ajaran Islam, bukan pengkritik ajaran Allah, bukan editor Al Qur’an, bukan juri yang menilai baik-buruknya Wahyu. Kita ini hanya para FOLLOWERS (pengikut) saja. Di depan kita sudah ada ajaran Islam yang sempurna, lengkap, penuh barakah; kita tinggal mengikuti, menghidupkan, mensyukuri, dan mempertahankannya sekuat kemampuan. Inilah hakikat jalan Islam.

Lho, apa ada dalilnya? Iya jelas, banyak dalilnya dalam Kitabullah dan Sunnah. Sebagiannya kita sebutkan disini, bi idznillah.

Dalam Al Qur’an disebutkan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kepada anak-anaknya, ketika beliau mengalami sakaratul maut. Beliau bertanya kepada putra-putranya, “Apa yang akan kalian sembah, setelah aku (wafat nanti)?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Ilah-mu, dan Ilah ayahmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu (Allah). Dan kepada-Nya kami berserah diri (Muslimun).” (Al Baqarah: 133).

Dalam ayat lain disebutkan perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, “Dan ketika Dia (Allah) berkata kepadanya (Ibrahim ‘alaihissalam): ‘Berserah dirilah (wahai Ibrahim)!’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Aku berserah diri kepada Rabb alam semesta (Allah).” (Al Baqarah: 131).

Dan lebih tegas lagi dikatakan, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan (ajaran berserah diri kepada Allah) kepada anak-anaknya, dan begitu juga Ya’qub, (Ibrahim berkata) ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan bagi kalian agama ini (berserah diri kepada Allah), maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim (sebagai orang yang berserah diri kepada Allah).” (Al Baqarah: 132).

Kenyataan yang sangat menakjubkan, ketiga ayat di atas berurutan, menggambarkan komitmen keluarga Ibrahim As. kepada agama Allah, dan semuanya memakai kata Muslim atau Muslimun. Hal ini semakin menandaskan, bahwa agama yang kita peluk selama ini adalah sama dengan ajaran Nabi-nabi di masa lalu, hanya saja aturan Syariatnya berbeda. Kita juga disebut sebagai pengikut Millah Ibrahim yang lurus (hanif). Tidak ada keraguan lagi, walhamdulillah.

Seorang Muslim bukan hanya diajak untuk berserah diri kepada Allah, tetapi juga diberi tahu cara menghadapi para pembangkang. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Jika mereka mendebatmu (wahai Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam tentang kebenaran Islam) maka katakanlah: ‘Aku pasrah diri kepada Allah dan begitu pula orang-orang yang mengikutiku.’ Dan katakan kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab (Yahudi dan Nashrani), ‘Apakah kalian mau masuk Islam? Jika kalian masuk Islam, maka kalian akan mendapat petunjuk.’ Namun jika mereka menolak (masuk Islam), maka kewajibanmu (wahai Muhammad) hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 20).

Dan hebatnya, ayat di atas disebutkan setelah ayat berikut: “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Al Islam.” (Ali Imran: 119). Tentu bukan kebetulan jika ayat-ayat tersebut kita terima dalam keadaan berurutan. Mungkin salah satu hikmahnya adalah untuk membentengi Islam dari penafsiran manusia-manusia keblinger seperti kaum Liberaliyun itu. Seperti disebutkan di atas, Allah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya.

Jika belum jelas, maka kita perhatikan ayat lain. Allah Ta’ala pernah berpesan kepada Adam ‘alaihissalam dan isterinya, sebelum mereka diturunkan ke dunia. “Maka jika nanti datang kepada kalian petunjuk dari sisi-Ku, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al Baqarah: 38).

Dalam ayat ini, mengikuti petunjuk Allah memiliki akibat yang sangat besar, yaitu pembebasan dari khauf (rasa takut) dan hazn (kesedihan hati). Padahal hakikat kebahagiaan manusia akan diperoleh ketika seseorang dibebaskan dari segala macam kegelisahan (anxiety) dan ketakutan (fear). Jadi sumber kebahagiaan bukanlah membebaskan diri dari tuntunan agama (Islam), seperti yang dilakukan kaum Liberaliyun; tetapi justru secara baik mengikuti petunjuk agama tersebut.

Logikanya, kalau Anda memiliki sebuah piranti elektronik (misalnya kulkas), maka cara terbaik merawat piranti itu adalah dengan mengikuti DIRECTION yang dikeluarkan oleh produsennya. Kalau ngarang sendiri, atau memperlakukan peralatan seenaknya sendiri, hasilnya jelas kerusakan.

Menariknya, ayat di atas (Al Baqarah ayat 38) itu dikunci dengan ayat selanjutnya yang sangat gamblang, “Dan bagi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 39). Bayangkan, Al Qur’an menjelaskan masalah ini dengan amat jelas; tidak ada keraguan apapun, kecuali di mata orang-orang zhalim.

Inilah manhaj Islam, yaitu: Mengikuti tuntunan agama Allah secara ikhlas dengan kepasrahan hati tunduk mengikuti bimbingan ayat-ayat-Nya. Hal ini pula yang mengikatkan dengan para pengikut agama Allah di jaman Nabi-nabi dan Rasul di masa lalu ‘alaihimus shalatu wassalam.

‘Berserah Diri’ Ala Nurcholis

Islam mengajarkan Ummatnya berserah diri kepada Allah, begitu pula para Nabi dan Rasul di masa lalu. Namun kemudian muncul pandangan aneh dari seorang Nurcholis Madjid. Ketika menafsirkan ayat, “Innad dina ‘indallahil Islam,” Nurcholis menjelaskan bahwa agama apa saja yang mengajarkan konsep berserah diri kepada Tuhan, semuanya diridhai oleh Allah. Agama Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, Shinto, Tao, Konghuchu, dan sebagainya, kalau mengajarkan sikap menyerahkan diri kepada Tuhan, semua diridhai oleh Allah.

Dengan pemahaman seperti Nurcholis itu otomatis ajaran TASLIM seperti yang diajarkan Islam kepada para Ummatnya menjadi tidak istimewa. Sebab bisa jadi, semua agama juga mengajarkan pasrah diri. Dan pemikiran seperti ini juga yang melandasi ideologi pluralisme, bahwa: “Semua agama baik dan benar!

Di bawah ini 10 KRITIK terhadap pemikiran sesat yang dilansir oleh pendeta kaum Liberaliyun, Nurcholis Madjid:

[1] Mengapa Nurcholis Madjid melegitimasi ajaran agama lain dengan ayat-ayat Al Qur’an? Ayat yang berbunyi “Innad dina ‘indallahil Islam” jelas merupakan ayat Al Qur’an. Ia tidak ditemukan di kitab-kitab agama lain. Sangat aneh, ayat Al Qur’an diperkosa sedemikian rupa untuk membenarkan agama-agama lain. Mengapa Nurcholis tidak mencari dalil dari kitab-kitab agama lain saja? Mengapa harus dari Al Qur’an? Sejak kapan Al Qur’an dibebani tugas untuk melayani kesesatan agama lain? Jelas ini aneh sekali. Sebagai perbandingan, kalau melihat ayat-ayat tertentu dalam Bible, jelas kaum Nashrani mengklaim diri sebagai agama yang paling benar, dengan tidak menyisakan “juru selamat” bagi orang di luar agamanya. Tetapi lihatlah manusia aneh seperti Nurcholis itu, dia ingin membenarkan semua agama-agama dengan ayat Al Qur’an. Luar biasa! Yahudi saja merasa najis untuk mengakui Islam, tetapi Nurcholis memaksa Al Qur’an membenarkan semua agama-agama yang ada. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[2] Tidak ada seorang pun ulama Islam yang masyhur dan istiqamah memiliki penafsiran seperti Nurcholis Madjid itu. Bahkan tidak ada generasi Salafus Shalih yang berpaham seperti Nurcholis Madjid itu. Ia adalah pemahaman dia sendiri yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran orientalisme, dipengaruhi oleh sikap inferior kepada Barat, dan didukung oleh misi destruktif untuk melestarikan kolonialisme. Kita tidak perlu memandang berharga penafsiran Nurcholis, sebab ia termasuk tafsir yang gharib (tidak dikenal dalam Islam). Ibnu Jarir At Thabari, Al Qurthubi, Ibnu Katsir, dan ulama-ulama ahli tafsir lainnya, tidak ada yang mencocoki penafsiran Nurcholis itu. Jangan jauh-jauh, penafsiran Hamka saja tidak seperti itu. Salah satu bukti komitmen Hamka, beliau mengharamkan ucapan “Selamat Natal” dan merelakan meninggalkan posisi Ketua MUI karena pendapatnya itu.

[3] Nurcholis Madjid memiliki penafsiran aneh terhadap makna taslim (berserah diri). Tetapi pertanyaannya, “Bagaimana bentuk sikap taslim itu?” Apakah ia asal berserah diri, pasrah, menyerah, atau bagaimana? Apakah ia sebuah sebutan tanpa makna, atau terikat kaidah-kaidah tertentu? Seandainya di agama lain juga diajarkan konsep taslim, belum tentu bentuknya sama seperti ajaran Islam. Salah satu contoh terkenal, dalam Bible diajarkan, “Kalau kamu ditampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu!” Sementara dalam Islam, kalau kita ditampar pipi kanan, kita boleh membalas (qishash) menampar pipi kanan orang yang menampar kita. Dalam agama Budha lain lagi. Mereka mengajarkan konsep “damai”, tidak melawan kalau dizhalimi orang lain. Dalam agama Yahudi, berserah diri itu bisa ditafsirkan dengan cara menindas orang-orang ghaiyim (non Yahudi).

[4] Sikap taslim dalam Al Qur’an seharusnya ditafsirkan dengan nilai-nilai Islam juga, bukan dengan ajaran agama lain atau penafsiran yang bersifat umum (pemahaman bahasa Indonesia). Adalah sangat bodoh, seseorang berdalil dengan Al Qur’an, lalu memperkosa dalil itu untuk membenarkan perkara-perkara yang diingkari oleh Al Qur’an itu sendiri. Sejak kapan Al Qur’an membenarkan kekafiran, kemusyrikan, Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, dan lainnya?

[5] Hakikat berserah diri yang disebutkan oleh Nurcholis bukanlah berserah diri seperti yang dikehendaki oleh Islam. Ia hanyalah berserah diri “di mulut saja”. Seseorang dianggap cukup sebagai orang beragama dan diridhai oleh Allah, kalau dia telah mengatakan, “Aku berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Hanya dengan ucapan seperti ini, orang beragama apapun bisa diridhai oleh Allah. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Seperti para penganut kepercayaan, kalau mereka sudah mengatakan, “Yang penting eling kepada Tuhan.” Hal itu sudah dianggap cukup sebagai iman dan amal shalih, lalu berhak mendapat syurga. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Jelas semua ini hanyalah berserah diri “omong doang”. Berserah diri dalam Islam itu konsepnya jelas, yaitu: melaksanakan Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan. Ini adalah pengertian dasar sikap TASLIM.

[6] Sebuah hakikat pengkhianatan ilmiah yang sulit dimaafkan, ketika Nurcholis mencomot ayat-ayat tertentu yang diinginkannya, lalu mengeluarkan ayat itu dari kondisi-kondisi di sekitarnya. Seperti contoh, ayat ““Innad dina ‘indallahil Islam”. Nurcholis hanya mengambil potongan ayat ini, lalu mengabaikan kelanjutannya. Padahal disana masih ada kelanjutan ayat yang tidak boleh diabaikan, yaitu: “Dan tidaklah berselisih orang-orang Ahli Kitab, melainkan setelah datang ilmu kepada mereka (tentang kebenaran Islam), karena kedengkian di antara mereka. Dan siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran: 119). Orang seperti Nurcholis tidak memiliki nyali untuk membaca penjelasan Al Qur’an tentang sifat khianat para Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani), dan tentang peringatan keras Allah kepada orang-orang kafir itu. Nurcholis mengambil sepotong ayat, lalu dikunyah-kunyah sesuka hatinya, sampai dirinya muntah-muntah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[7] Sebuah kedunguan berpikir yang sulit dicerna akal sehat, yaitu ketika Nurcholis Madjid sangat menekankan pentingnya sikap berserah diri. Tetapi masalahnya, benarkah Nurcholis serius ingin berserah diri? Jangan-jangan dia hanya bermain kata-kata saja, tidak ada komitmen. Buktinya, pemahaman dia tentang berserah diri (taslim) menunjukkan bahwa dia tidak mau berserah diri. Cara memahaminya mudah saja, walhamdulillah. Kalau dia benar-benar berserah diri kepada Allah, maka dia akan menyerahkan penafsiran berserah diri itu kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan dengan memaksakan penafsiran dia sendiri. Ketika dia ngeyel dengan pemikirannya, meskipun tidak merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah, itu menjadi bukti bahwa Nurcholis tidak pernah serius berserah diri. Dia mengklaim sikap berserah diri, tetapi dia sendiri tidak berserah diri. Inilah keajaiban pemikiran seorang Nurcholis Madjid (dan sejenisnya).

[8] Penafsiran Nurcholis Madjid bukan hanya asing (gharib), tetapi juga sangat ekstrem. Mungkin ia termasuk puncak keekstreman penafsiran manusia terhadap Al Qur’an. Mengapa disebut sangat ekstrem? Sebab dengan penafsiran terhadap ayat “Innad dina ‘indallahil Islam” itu, Nurcholis hendak membuang ribuan ayat-ayat Al Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan tentang kebathilan kekafiran, kemusyrikan, kezhaliman, kesesatan, dan sebagainya. Manusia sebejat apapun, kalau dia mengatakan, “Saya berserah diri kepada Tuhan,” tidak peduli sebejat apapun dirinya, dia akan segera diridhai oleh Allah. Allahu Akbar! Jelas semua ini menafikan begitu banyak penjelasan-penjelasan Al Qur’an dan Sunnah. Sebagai contoh, Juz Amma, juz 29, dan juz 28 Al Qur’an, disana sangat banyak berisi ayat-ayat tentang syurga dan neraka. Namun semua itu dianggap tidak ada artinya, dianggap tidak ada; semuanya kalah oleh penafsiran Nurcholis Madjid. (Jadi sebenarnya, yang sesat itu siapa ya? Al Qur’an atau Nurcholis Madjid?).

[9] Pemikiran Nurcholis Madjid memiliki konsekuensi besar, yaitu pembenaran atas ideologi pluralisme. Dalam ideologi ini, semua agama dianggap sejajar, sederajat, semuanya baik dan benar. Perkataan yang sering diucap disini ialah, “Semua agama baik dan mengajarkan kebaikan.” MUI telah bersikap benar ketika mengharamkan pluralisme. Pluralisme sepintas lalu tampak bijaksana, pro perdamaian. Padahal sejatinya ia adalah musuh semua agama-agama di dunia. Dengan pluralisme, maka tidak ada lagi komitmen kuat kepada agama. “Percuma komitmen, wong semua agama sudah benar, kok?” begitu logikanya. Bahkan orang tidak beragama pun, kalau etikanya baik, ia dianggap orang baik juga. Maka tidak heran jika yang sangat gembira dengan pluralisme ini adalah Freemasonry yang anti agama. (Para pendukung pluralisme sama terkutuknya dengan kaum Freemasonry).

[10] Bukti lain yang sangat jelas tentang kebathilan pemikiran Nurcholis Madid ialah kisah para Nabi dan Rasul. Kalau mengikuti pandangan Nurcholis, semua agama yang berserah diri diridhai oleh Allah. Artinya, disini tidak ada konflik antara keimanan dan kekafiran, antara Tauhid dan syirik. Semuanya damai, sebab semuanya diterima dan diridhai. Tetapi lihatlah bagaimana kisah para Nabi dan Rasul! Apakah disana terjadi benturan ideologi atau selalu damai? Jelas jawabannya, perseteruan antara al haq dan al bathil itu selalu terjadi di sepanjang masa. Nah, kenyataan seperti ini yang hendak diingkari oleh para penganut Liberalisme. Mereka menawarkan konsep keagamaan baru yang tidak ada contohnya dalam tradisi ajaran Kenabian. Mengikuti pemikiran orang-orang seperti Nurcholis Madjid itu seperti mengikuti pemikiran iblis yang selalu menentang para Nabi dan Rasul.

Dengan demikian, sama sekali tidak benar jika Nurcholis Madjid menafsirkan ayat “Innad dina ‘indallahil Islam” sebagai pengakuan atas segala agama yang mengajarkan sikap berserah diri. Berserah diri yang dikatakan oleh Nurcholis bukanlah berserah diri yang dikehendaki oleh Islam. Ia adalah berserah diri “omong doang”; asal terdengar enak, tanpa bukti komitmen apapun.

Kesesatan Ajaran Liberal

Seperti telah disebutkan bahwa posisi seorang Muslim bukanlah pembuat, penyusun, pengkritik, juri, atau komentator wahyu. Seorang Muslim hanya semata mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Mereka running on the direction, berjalan mengikuti petunjuk tertentu. Ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan hal itu. Adapun pemikiran “berserah diri” Nurcholis Madjid adalah kesesatan yang terlalu jauh. Sungguh malu melansir pemikiran-pemikiran seperti itu.

Lalu sisi mana yang menunjukkan kesalahan paham Liberal?

Seorang Muslim pada hakikatnya menerima Islam sebagai agama yang telah lengkap, sempurna, dan diridhai seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah ayat 3. Begitu hebatnya ayat ini sampai orang Yahudi di jaman Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu merasa sangat iri kepada Ummat Islam. Mereka mengatakan, andai ayat itu diturunkan kepada kaum Yahudi, hari turunnya akan mereka peringati sebagai hari raya. Luar biasa! Yahudi mengerti keagungan Surat Al Maa’idah ayart 3 itu, padahal mereka masih berstatus kafir.

Tetapi entahlah, di negeri kita ini tiba-tiba mendapati gerombolan anak-anak iblis yang berani melecehkan kelengkapan, kesempurnaan, dan keridhaan Allah atas Islam. Alih-alih mereka akan sadar tentang sikap kagum orang-orang Yahudi itu, dengan sangat arogan mereka mengatakan: “Kita butuh Islam yang dinamis, yang terus bergerak dan berkembang. Bukan Islam finished (sudah selesai), Islam terima beres, atau Islam tinggal pakai. Kita butuh Islam yang sesuai modernitas, membebaskan, menghargai akal, tidak memasung wanita, dan sebagainya.”

Ya Rabbi ya Karim, sudah baik-baik diberi Syariat yang sempurna, lengkap, tidak ada kekurangan dari kanan dan kirinya, tetapi malah mencari-cari perkara lain yang tidak dibutuhkan. Persis seperti kelakuan Bani Israil, ketika mereka diberi Manna dan Salwa, kualitas makanan terbaik; mereka malah meminta bawang, mentimun, kacang adas, dan sebagainya. Seperti kata pepatah, “Diberi hati meminta ampela.”

Kaum Liberal memandang Islam sebagai obyek, sebagai klien, sebagai materi observasi, sebagai pasien. Mereka memandang ke arah Islam dengan penuh prasangka, dengan penuh kecurigaan, motif menyelidiki, serta berbagai pertanyaan investigatif. Mereka menetapkan syarat-syarat yang banyak ketika hendak menerima Islam. Seharusnya, seperti yang dijelaskan oleh Al Qur’an, terimalah Islam ini apa adanya, secara ikhlas dan rendah hati. Jangan arogan, jangan merasa sok pintar, jangan menjadi juri bagi agama ini.

Karakter keimanan seorang Muslim digambarkan dengan sangat jelas dalam Al Qur’an, “Telah beriman Rasul itu kepada apa yang diturunkan kepadanya, dan begitu pula orang-orang Mukmin (juga mengimaninya). Masing-masing mereka mengimani Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, dan mereka tidak membeda-bedakan di antara Rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata, ‘Sami’na wa atha’na’ (kami mendengar dan kami taat), ampunilah kami wahai Rabb kami, dan kepada-Mu kami kembali.” (Al Baqarah: 285).

Tidak benar seseorang mengaku Muslim, tetapi menetapkan kepada Allah syarat-syarat keimanan. Misalnya, “Ya Allah, kami mau beriman kepada-Mu kalau kami mendapat untung. Kalau kami merugi, tidak ada keimanan bagi-Mu.” Sikap memberi syarat seperti ini adalah kebathilan yang nyata. Bahkan pada posisi itu, seseorang belum bisa dikatakan sebagai Muslim, sebab hatinya belum tunduk merendahkan diri kepada Allah Ta’ala.

Orang-orang seperti Musdah Mulia, Ulil Abshar, Luthfi Syaikani, dan sejenisnya itu, mereka tidak bisa disebut sebagai Muslim. Mereka adalah “juri agama”, yaitu orang-orang super arogan, yang merasa sok pintar, dan kerjanya menilai agama-agama. Mereka itu seperti komentator agama, pintar memutar-mutar lidah bicara tentang agama, tetapi diri mereka sendiri bukan orang beragama. Agama mereka adalah FREE THINKING (kebebasan berpikir). Semua ini adalah hakikat kekafiran yang nyata. Tidak ada beda antara mereka dengan Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan sebagainya. Mereka adalah manusia-manusia arogan yang tidak mau merendahkan diri di hadapan Kalamullah, dan mereka menyembah hawa nafsunya sendiri.

Seperti disebut dalam Al Qur’an, “Tahukah kamu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya? Apakah kamu menjadi pemelihara atas dirinya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan dari mereka itu bisa mendengar dan berakal? Keadaan mereka tak lebih seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat dari itu.” (Al Furqan: 44).

Orang-orang yang menetapkan sekian syarat-syarat sebelum menerima ajaran Islam, pada dasarnya mereka adalah para pembangkang. Karakter seorang Muslim adalah “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat). Ini karakter paten sejak seseorang memahami dirinya sebagai Muslim, sampai saat dia berpulang kembali kepada Allah Ta’ala. Kalau sudah Muslim, tidak ada hak untuk membangkang sedikit pun. Seperti disebutkan dalam Al Qur’an, “Maka demi Rabbmu, pada hakikatnya mereka tidak beriman sampaikan menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim atas perselisihan di antara mereka, kemudian kamu tidak mendapati keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’: 65).

Agama Orang Liberal

Sebenarnya, upaya mencari kebenaran tidaklah dihalang-halangi. Siapapun yang ingin melakukan perbandingan konsep ideologi antara Islam dengan agama-agama lain, silakan saja. Toh, orang-orang yang telah melakukan hal itu, lalu kemudian mereka masuk Islam secara ikhalas tidak sedikit.

Tetapi dalam hal ini, harus diingat 2 hal:

Pertama, saat seseorang ingin menguji ajaran Islam, atau menjadikan Islam sebagai obyek observasi (pengamatan), pada saat itu sebenarnya dia sedang berada ‘di luar pagar’ Islam. Artinya, suatu saat dia bisa ‘masuk ke halaman’ Islam, atau memilih ‘mencari halaman rumah’ yang lain. Kedua, kalau seseorang telah menemukan Islam sebagai kebenaran, dia harus menjalani jalan hidup seorang Muslim, yaitu tunduk kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Tidak mengapa pada awalnya mereka bersikap menguji, tetapi setelah mantap hatinya, dia istiqamah menjadi seorang Muslim. Tidak dibenarkan sikap menguji itu berlaku terus-menerus sampai dirinya mati.

Adapun orang-orang Liberal itu, seluruh hidupnya hanya berisi menggugat, mengkritik, menguji, mengomentari, dan menyelidiki Islam. Jelas mereka tidak bisa disebut Muslim, tetapi leboh tepat disebut “komentator Islam”. Menyebut mereka sebagai cendekiawan Muslim adalah pelecehan berat terhadap Islam.

Agama dimanapun pasti membutuhkan komitmen pemeluknya. Bukan hanya Islam, bahkan seluruh agama-agama membutuhkan komitmen pemeluknya. Kalau Anda menjumpai seorang Kristen yang sepanjang hidupnya selalu bolak-balik keyakinannya; mula-mula Kristen, lalu jadi Muslim, lalu pindah Budha, lalu jadi Hindu, lalu Agnostik, lalu Ateis, lalu Kristen lagi; sungguh, orang seperti itu akan sangat dibenci oleh semua pemeluk agama, sebab tidak memiliki komitmen. Dalam perkara apapun, sampai urusan bekerja di perusahaan, mereka akan sangat menghargai komitmen dan loyalitas.

Adapun orang-orang sejenis Ulil Abshar, Luthfi Syaukani, Musdah Mulia, dan lainnya, mereka tidak jelas status agamanya. Disebut Muslim, tetapi kerjaannya selalu menguji Islam; disebut Kristen tidak pernah datang ke gereja; disebut Yahudi, mereka bukan beretnis Yahudi; disebut Hindu, Budha, dan sebagainya, mereka tidak pernah melakukan ritual di kuil. Sungguh, para pemeluk agama apapun akan mual kalau memiliki pemeluk seperti mereka. (Saya sarankan, mereka mengubah KTP-nya dan mengganti keterangan Islam dalam KTP itu dengan agama lain. Kalau perlu, carilah agama yang membolehkan mereka menjadi “komentator agama” seumur hidup. Itu lebih gentle, wise, dan rasional. Iya kan?).

Menghadapi Kaum Liberal

Orang-orang Liberal memiliki ciri khas tidak ada duanya, terutama dalam kedengkian mereka kepada Islam dan Muslim yang komitmen. Mereka selalu mengatakan: “Kita harus menafsirkan Islam dengan cara baru, bukan Islam menurut cara pandang jaman batu, bukan Islam hasil produk budaya Arab, bukan Islam yang ‘sudah selesai’. Islam harus ditafsirkan pikiran terbuka, rasional, sesuai semangat jaman, membebaskan manusia, menghargai martabat wanita, menghargai pluralitas, dan tidak ekstrem dan berbau kekerasan.” Intinya adalah pembangkangan, hanya diucapkan dengan kalimat-kalimat intelektualis menipu.

Jika Anda menghadapi orang-orang seperti ini, perlu memahami cara-cara mematahkan pemikiran mereka. Antara lain sebagai berikut:

[1] Ketika mereka mengharuskan kita menafsirkan Islam dengan cara-cara tertentu, kita perlu bertanya kepada mereka, “Siapa yang menyuruh kita menafsirkan Islam seperti itu? Adakah perintahnya dalam Al Qur’an atau Sunnah? Atau adakah contohnya dari ulama-ulama yang shalih dari masa lalu?” Kalau mereka tidak bisa mendatangkan bukti-bukti perintah atau teladan, berarti pemikiran mereka itu produk baru, bukan bagian dari pemahaman Islam.

[2] Manusia yang beragama pasti bisa membedakan antara Wahyu Allah dan akal pikiran. Wahyu itu sempurna, tidak memiliki kecacatan, sebab ia bersumber dari Rabb Yang Maha Sempurna. Sedangkan akal pikiran sangat lemah, sering berubah-ubah, penuh kelemahan. Tanyakan kepada orang-orang Liberal itu, “Apakah Anda percaya dengan adanya Wahyu Tuhan?” Kalau mereka mengatakan, “Ya percaya!” Lalu tanyakan lagi, “Bagaimana cara Anda menempatkan Wahyu? Apakah ia lebih rendah dari akal Anda, atau sejajar posisinya?” Kalau mereka memandang akalnya lebih baik dari Wahyu, itu tandanya mereka bukan orang beriman. Mereka adalah para pembangkang. Tidak ada bedanya dengan Fir’aun, Abu Jahal, dan Abu Lahab.

[3] Orang-orang Liberal sering berdalil dengan pemikiran-pemikiran ekstrem dari tokoh-tokoh seperti Nurcholis Madjid, Nashr Abu Zayd, Thaha Husein, Sir Ahmad Khan, dan sebagainya. Termasuk juga mereka bangga dengan pemikiran para orientalis Barat. Dalam Islam, ilmu itu bukan teori semata, tetapi juga ditunjang oleh kebaikan personal para pemikul ilmu itu sendiri. Para ulama yang shalih tidak hanya menunjukkan ketinggian ilmu, tetapi juga kemuliaan akhlak. Dengan pandangan ini, coba tanyakan kepada orang-orang Liberal itu, “Apa kelebihan tokoh-tokoh yang mereka banggakan dari sisi akhlak, amal kebajikan, ibadah, serta perjuangan Islam?” Mereka pasti kesulitan menjawab, sebab di mata mereka ilmu ya hanya teori semata. Bukan mustahil, orang Liberalis yang berani menghujat Al Qur’an, sehari-harinya dia pemabuk, tukang zina, atau pemukul wanita. Na’udzubillah wa na’udzubillah. Sebagai contoh, Musdah Mulia. Betapa bejatnya orang ini ketika melegitimasi praktik lesbian. Jangan-jangan dia sering terjerumus di dalamnya? Na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

[4] Konsep Islam yang merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah disebut Islam yang sudah finished (selesai). Tetapi jujur saja, Islam finished itu telah melahirkan peradaban, prestasi, dan mengukir sejarah luar biasa. Sedangkan Islam “membebaskan” ala Ulil Abshar Cs., ia tidak bisa menghasilkan apa-apa selain kehinaan bagi pemeluknya. Perlu dicatat, pemikiran Liberal itu bukan produk masa kini. Tahun 70-an Nurcholis sudah memulai di Indonesia, awal abad 20 Ahmad Khan, Thaha Husein, Faragh Faudah, dan lainnya sudah memulai. Bahkan di jaman kolonialisme, Snouck Hurgronje dan tokoh-tokoh orientalis Barat telah memulai pemikiran seperti itu. Lalu apa hasilnya? Apakah paham Liberal mampu menghasilkan prestasi yang berharga? Jawabnya: “NOL BESAR!!!”

[5] Pada titik tertentu ketika perbedaan sudah tidak bisa dicarikan jalan keluarnya; mereka tidak mau bertaubat dan kita tidak hendak bergeser dari komitmen kepada ajaran-ajaran fundamental Islam, walau sejengkal saja, maka perkataan terakhir yang paling layak diucapkan adalah: “Lakum dinukum wa liya din” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Inilah kalimat putus dan berlepas diri terhadap pembangkangan manusia-manusia itu kepada agama Allah.

[6] Biarkanlah orang-orang Liberal itu menempuh jalan agamanya, dan kita menempuh jalan kita. Namun jika mereka berkeras hati hendak memaksakan agamanya dengan tujuan memurtadkan kita dari agama kita, ya seorang Muslim jangan berdiam diri. Sekali-kali kita harus menunjukkan Izzah Islam di hadapan manusia-manusia zhalim itu. Dan Allah pasti akan menolong orang-orang yang memuliakan agama-Nya.

Penutup

Inti pemikiran Liberal ialah menjadikan ajaran Islam sebagai pesakitan yang bebas dikritik, dihujat, dinilai, diuji, dan sebagainya. Sedangkan konsep Islam mengajarkan sikap “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat). Sikap menguji ajaran Islam tidaklah dilarang, tetapi hal itu hanya berlaku pada saat-saat awal untuk meneguhkan hati seseorang kepada Islam. Kalau sudah teguh hatinya, sempurna imannya, tidak boleh lagi ada pembangkangan dalam bentuk apapun. Islam bukanlah agama transaksional, boleh tawar-menawar. Agama ini mengajarkan sikap konsistensi dan istiqamah. Seperti disebutkan, “Maka ibadahilah Rabb-mu sampai saat datangnya keyakinan (kematian).” (Al Hijr: 99).

Dimanapun Anda menemui orang Liberal, cirinya sangat mudah dikenali. Saat mereka bicara tentang agama (Islam), rata-rata titik tolaknya adalah akal mereka sendiri. Akal mereka dianggap sebagai “kitab suci” yang boleh mengadili teks-teks agama sesuka hati. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Pada dasarnya, sikap mereka itu adalah KEKAFIRAN atau PEMBANGKANGAN terhadap agama Allah. Hanya saja mereka berpura-pura sebagai Muslim (bahkan cendekiawan Muslim). Pembangkangan mereka serupa dengan Fir’aun, Abu Jahal, dan Abu Lahab. Hanya saja, mereka memakai bahasa-bahasa intelektualis, untuk menipu masyarakat awam dan menyembunyikan kekafiran di hatinya.

Seorang Muslim tidak layak bersikap lunak, atau lemah-lembut di hadapan para “Fir’aun modern” ini. Biarpun kita tidak memiliki argumentasi yang kuat, jangan sekali-kali menunjukkan sikap lemah di hadapan kaum “komentator agama” itu. Seburuk-buruknya sesuatu yang keluar dari tubuh kita, masih lebih hina para pembangkan yang sombong di hadapan ayat-ayat Allah itu.

Semoga Allah menetapkan kita dalam istiqamah sampai akhir hayat; semoga kita dimuliakan di atas jalan Islam, dijayakan bersama Islam, dan kembali kepada Allah sebagai seorang Muslim yang ikhlas. Allahumma amin. Persis seperti wasiat Ibrahim ‘alaihissalam kepada anak keturunannya, “Maka janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan Islam.” (Al Baqarah: 132).

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 14 Februari 2009.

[ AM. Waskito ].

Iklan

One Response to Inti Kesesatan Paham Liberal

  1. Insan berkata:

    Assalamualaykum.

    Iblis saja beriman kepada Allah, Iblis tidak atheis, tidak skeptis, tidak relativis, tidak agnostis. Tetapi karena sikap membangkangnya iblis divonis kafir oleh Allah. Sikap meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan, lalu mencari pembenaran, begitulah penganut agama perenial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: