Menggugat Hanung Bramantyo

Baru-baru ini muncul film kontroversial, Perempuan Berkalung Sorban. Hasil garapan sutradara Hanung Bramantyo. Hanung adalah sutradara muda yang berperan di balik film, Ayat Ayat Cinta. Nama dia melambung setelah fil AAC sukses di pasaran. Hanung sendiri adalah alumni sekolah Islam terkenal di Yogya, lalu masuk IKJ. Dia tadinya terobsesi oleh pesan ibunya untuk membuat film bertema Islam.

Namun munculnya film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) mengundang kontroversi luas. Banyak kalangan Islam menuduh film itu melecehkan pesantren, melecehkan Syariat Islam, dan menuduh ajaran Islam menindas kaum wanita. Salah satunya, Ustadz Ridwan Saidi; beliau menyimpulkan bahwa film PBS sepenuhnya adalah propaganda untuk memperburuk citra Islam.

Hanung Bramantyo membela diri dengan mengatakan, bahwa film PBS adalah produk seni, bukan ajaran agama; dia tidak memiliki tendensi melecehkan Islam, pesantren, kyai, dan lainnya; dia mengaku Muslim, dan tidak ada niatan menistakan Islam; dia hanya mengangkat fakta tertentu di pesantren, agar menjadi pelajaran bagi masyarakat luas; dia hanya ingin menyuarakan tuntutan, agar Ummat Islam lebih menghargai martabat wanita; dan lain-lain.

Disini ada 10 pertanyaan untuk Hanung Bramantyo. Pertanyaan-pertanyaan ini untuk membuktikan apakah dia berkata benar, atau hanya berdusta saja dengan ucapan-ucapannya. Sekaligus pertanyaan ini untuk membantah para sineas yang berlagak idealis, tetapi mendengki kepada ajaran Islam.

[1] Apakah Hanung telah memikirkan tentang resiko kontroversi jauh-jauh hari sebelum beredarnya film PBS itu, atau ia tidak memikirkannya sama sekali?

(Sebagai seorang seniman film, adalah sangat bodoh kalau Hanung tidak memikirkan resiko kontroversi itu, sebab sebelumnya telah muncul kontroversi-kontroversi dengan hadirnya film tercela, seperti Fitna, Buruan Cium Gue, ML, dan sebagainya. Hanung pasti sudah menyadari resiko, dan dia memang sengaja ingin memicu kontroversi luas di tengah-tengah Ummat Islam. Ada baiknya sebagian aktivis Islam memperkarakan film Hanung ini ke pegadilan).

[2] Apakah film yang dibuat Hanung itu merupakan produk seni belaka, yang tidak boleh dikait-kaitkan dengan agama (Islam) sama sekali?

(Lalu bagaimana dengan film Ayat Ayat Cinta yang pernah dia sutradarai? Bukankah film itu sarat dengan muatan-muatan agama, bahkan konsumen terbesarnya pun adalah kaum Muslimin. Dalam film itu, adegan pelukan antara Fahri dengan Aisyah dibuat dengan teknik tidak bersentuhan, sebab keduanya bukan mahram. Begitu juga apa artinya “film Islami” yang dipesankan ibu Hanung kepada dirinya? Apakah itu juga hanya seni belaka? Jika demikian, duhai betapa hambarnya jiwa seorang Hanung Bramantyo. Jiwanya telah menyatu dengan seni, dan kering dari nilai-nilai agama. Na’udzubillah min dzalik).

[3] Apa sebenarnya tujuan hakiki dari pembuatan film PBS itu?

(Apakah Hanung gila hormat sehinggar harus membuat kontroversi-kontroversi? Bukankah dia sudah terkenal ketika membuat film AAC atau Get Married? Atau apakah Hanung ingin memuliakan Islam lewat film? Jika demikian, mengapa filmnya justru menyakiti banyak kalangan Ummat Islam? Atau apakah Hanung sangat concern dengan pembelaan terhadap nasib kaum wanita yang katanya ditindas oleh tradisi kaum Muslimin? Jika seperti itu, mengapa Hanung tidak terjun ke tengah-tengah dengan memperbaiki keadaan, bukan malah menyebarkan badai fitnah ke tengah-tengah Ummat? Atau apakah Hanung ingin mencari uang lebih dengan jualan kontroversi? Jika benar, ia adalah ide orang sangat bodoh. Kontroversi jika sudah berurusan dengan agama sangat besar resikonya; bisa menimbulkan gelombang antipati yang sulit dihapus. Atau apakah Hanung sengaja mensukseskan proyek-proyek Liberalisme? Kalau benar, dia telah menggali masalah yang sangat berat, beresiko, dan panjang urusannya. Atau apakah Hanung ingin melecehkan agamanya sendiri (kalau dia masih Muslim)? Tak tahulah, maybe yes maybe no!).

[4] Apakah Hanung merasa bahwa ajaran Islam atau Ummat Islam telah menindas kaum wanita, sehingga perlu dibuat film propaganda untuk membebaskan wanita dari cengkeraman ajaran Islam yang kolot?

(Tampaknya, pemikiran Hanung tidak jauh beda dengan Musdah Mulia. Keduanya sangat sinis dalam memandang ajaran Islam atau Ummat Islam yang tidak menghargai kesetaraan gender. Jika Hanung mendapati ada ajaran dalam Islam yang menindas kaum wanita, cobalah sebutkan ajaran itu, beberkan fakta-faktanya? Bukan mustahil kaum Muslimin akan mengambil manfaat dari penemuan dia. Siapapun tidak akan menerima praktik penindasan, sebab ia adalah zhalim. Maka beberkan secara ilmiah dan resmi, bukan dengan membuat propaganda kontroversial. Atau jangan-jangan, Hanung saja yang bodoh dalam memahami, sehingga sesuatu yang baik ditafsirkan menindas kaum wanita. Begitu pula, kalau ada suatu perilaku buruk di tengah kaum Muslimin terhadap kaum wanita, jangan bersikap ‘sok mengadili’. Pertama, lihat juga bagian-bagian lain dari Ummat yang memuliakan harkat wanita; Kedua, bagaimana sikap Hanung sendiri kepada kaum wanita? Apakah dia sudah bersikap ideal? Jika ada fakta, sampaikan secara resmi, lalu berikan nasehat-nasehat. Hal itu kalau dia jujur ingin memperbaiki kondisi. Dengan membuat film penuh kontroversi itu, kepedulian Hanung kepada nasib kaum wanita bukan mendapat solusi, tetapi semakin memperparah kondisi).

[5] Apakah Hanung benar-benar mengerti ajaran Islam sebelum membuat film PBS itu? Atau dia awam ilmu agama, tetapi memaksakan diri?

(Kalau Hanung bodoh dari ajaran Islam, karena sehari-harinya memang bergelut dengan ajaran seni, ya tidak usah membuat film yang berkaitan dengan ajaran Islam atau tradisi Ummat Islam. Buat saja film yang Anda memang mengerti betul seluk-beluk masalahnya. Kalau dia mengaku mengerti ajaran Islam, bagaimana dengan praktik rajam di film PBS itu? Apakah praktik tersebut bisa dibenarkan? Sepasang laki-laki dan wanita, boleh dirajam kalau terbukti telah berzina, sedangkan mereka sudah menikah atau pernah menikah. Kalau belum, keduanya hanya dipukul 80 kali dan diasingkan selama setahun. Itu pun dengan syarat, hukum yang berlaku di negara kita adalah hukum Islam. Jadi, masalah ini tidak sesederhana pikiran Hanung Cs. Dari kasus rajam itu sangat tampak, bahwa Hanung sangat mendengki ajaran Islam, sampai melontarkan fitnah-fitnah keji. Kalau memang bodoh ajaran Islam, sudahlah buat film sesuai bidangmu saja! Jangan pura-pura sok mengerti, padahal bodoh!).

[6] Sebelum Hanung mengangkat fil dengan latar-belakang pesantren, apakah dia telah berkeliling Indonesia dan mengamati secara jujur kondisi mayoritas pesantren-pesantren yang ada?

(Konon, Hanung mengambil suatu fakta tahun 80-an di sebuah pesantren di Jawa Timur. Dengan dasar ini, dia lalu membuat film yang menyerang tradisi pesantren di Indonesia, sebab filmnya dipasarkan ke seluruh Indonesia. Bagi orang yang mengerti metode ilmiah, cara yang dipakai Hanung itu sungguh-sungguh mengerikan. Dia seperti orang yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Memang, pesantren di Indonesia bukanlah komunitas suci yang bebas dari kesalahan. Mereka manusia juga, kerap terjatuh dalam kesalahan; bahkan kesalahan prinsipil. Tetapi bersikap tidak adil kepada pesantren dengan melakukan gebyah uyah (pukul rata) hanya bermodal sepotong fakta, sungguh sangat memalukan).

[7] Jika Hanung berani mengkritik Ummat Islam karena suatu kasus kekerasan tertentu pada sebagian wanita Islam, lalu bagaimana keadaan wanita-wanita di sekitar rumah Hanung? Apakah mereka juga mengalami penindasan seperti film yang dia buat tersebut?

(Jika wanita-wanita di sekitar Hanung memang mengalami kasus-kasus kekerasan, bisa jadi dia ingin mengungkapkan dendam pribadi melalui film. Dia ingin menunjukkan, bahwa wanita tidak boleh diperlakukan semena-mena. Tetapi mengangkat persoalan keluarga dalam ruang publik, meskipun secara simbolik, adalah sangat tidak layak. Sebegitu rapuhnya komitmen keluarga disana. Jika wanita-wanita di sekitar Hanung mendapat perlakuan baik, tidak mengalami penindasan lahir maupun batin, berarti Hanung telah melakukan kesalahan besar. Sebab film itu juga bisa menghina keluarga dan wanita-wanita di sekitarnya sendiri. Bahkan tidak adil, mengangkat kasus-kasus perlakuan buruk kepada kaum wanita lain, sementara perlakuan baik terhadap wanita di sekitarnya disembunyikan. Kalau mau jujur, Hanung sebenarnya adalah “hasil produk” dari wanita-wanita “belum terbebaskan” seperti yang sering dia kritik itu).

[8] Dari sisi penggarapan film, sebenarnya film PBS itu masuk kategori film apa? Genre-nya apa?

(Pertanyaan ini bisa menguji, apakah Hanung jujur atau tidak? Kalau film PBS dianggap film horor, jelas tidak mungkin. Disana tidak ada hantu-hantuan, atau misteri bunuh-bunuhan. Kalau disebut film thriller (menegangkan), juga tidak mungkin, sebab setting ceritanya adalah kasus sosial. Kalau ia disebut film romantis, juga tidak mungkin. Ceritanya berbeda jauh dengan Ayat Ayat Cinta. Kalau dia dianggap sebagai film realitas sosial, mengapa isinya menghujat ajaran agama (Islam). Kalau ia disebut film sejarah, fakta sejarah apa yang disodorkan disana? Tidak ada sama sekali. Kalau ia disebut film religi, mengapa Hanung nekad membuat film tanpa konsultasi dengan para pakar Islam yang kredibel? Bahkan mengapa hasil dari film itu justru menyakitkan kaum Muslimin? Dengan demikian, tepat kesimpulan Ustadz Ridwan Saidi dalam diskusi di TV, bahwa film PBS sepenuhnya adalah film propaganda. Ia adalah film yang dibuat dengan niatan kotor di hati).

[9] Secara jujur, apakah Hanung adalah seorang Muslim?

(Pertanyaan ini bukan mengada-ada dan tidak sarkastik. Seperti sering dikatakan oleh Zainuddin MZ, sejelek-jeleknya orang Muslim, meskipun tidak pernah melakukan Shalat karena maksiyat, mereka akan marah kalau agamanya dihina. Sedangkan ini terbalik; seseorang mengaku Muslim, tetapi berani menghujat agamanya sendiri. Betapa tidak, dalam film itu sampai muncul perkataan keji dari seorang wanita Muslimah, “Zinahi aku!” Hal seperti ini sangat keji dan tidak realistik. Kalau Hanung benar-benar seorang Muslim, dalam standar minimal orang Indonesia, dia pasti tidak akan membuat film propaganda seperti itu).

[10] Terakhir, apakah film Perempuan Berkalung Sorban dibuat dengan tendensi politik, untuk merusak citra partai-partai Islam menjelang Pemilu April 2009?

(Saya menduga kuat, film PBS ini dibuat untuk merusak citra partai-partai Islam dalam Pemilu April 2009 nanti. Modusnya persis seperti beredarnya video Usamah bin Ladin beberapa tahun silam, sekitar seminggu sebelum Pemilu di Amerika. Setelah beradar luas video Usamah itu, seketika masyarakat Amerika memilih kembali George Bush sebagai Presiden Amerika. Mereka berpikir, ancaman Usamah dalam video liar tersebut harus dihadapi dengan pemimpin semodel George Bush. Terbukti Bush terpilih kembali sebagai Presiden Amerika. Hanya saja, konteksnya di Indonesia terbalik. Dengan munculnya PBS, jika ia tersebar merata di seluruh Indonesia, ia bisa merusak citra partai-partai Islam. Meskipun partai Islam bukanlah pesantren, tetapi dengan keluguannya masyarakat bisa mengaitkan pesantren dengan partai-partai Islam. Saya yakin, skenarionya adalah seperti itu. Alasannya sederhana, mengapa film itu dirilis hanya beberapa bulan sebelum Pemilu April 2009? Mengapa tidak tahun 2009, atau sekalian tahun 2010?).

Demikian 10 pertanyaan kritis seputar film PBS yang dibuat dengan arahan Hanung Bramantyo. Kesimpulan besar yang bisa ditarik: Film PBS tak lebih dari film propaganda, dengan perspektif yang sangat tidak adil, dengan tujuan untuk merusak citra partai-partai Islam dalam Pemilu April 2009. Film PBS bermaksud mengkritik praktik kekerasan pada kaum wanita; namun pada saat yang sama ia melakukan teror pemikiran kepada Ummat Islam. Sangat ironis!

Namun bagi Ummat Islam, masih ada lagi film lain yang lebih jahat dan berbahaya dari film PBS. Ia adalah film SLANK yang berjudul GENERASI BIRU yang mulai dirilis bulan Februari 2009 ini. Film garapan sutradara Garin Nugroho ini tidak kalah bahayanya ketimbang film Perempuan Berkalung Sorban. Dalam film ini, Slank menyerukan ajaran-ajaran PEMBANGKANGAN terhadap aturan-aturan, termasuk aturan agama. Para pemuja Slank diseru oleh pemimpin spiritual mereka (Ian Slank) untuk hidup memberontak terhadap aturan-aturan. Maka tidak aneh, jika mereka bukan komunitas yang menghargai nilai-nilai agama. Agama di mata mereka adalah musik, konser, jingkrak-jingkrak, memakai kaos dan celana belel, memakai kalung, gelang, tindik, tato, dan sebagainya.

Sejujurnya, kita memang tidak boleh asal menghujat begitu saja. Kita perlu memahami latar-belakang sikap pemberontakan anak-anak muda ini. Tetapi masalahnya, Slank sudah mengotori kehidupan bangsa Indonesia sejak akhir tahun 80-an, sejak saya masih sekolah SMA. Jika setahun dua tahun mereka tampak memberontak, itu bisa dimaklumi. Namun ini sudah hampir 20 tahunan. Apakah akan didiamkan saja pemberontakan ala Slankers ini? Jangan-jangan ajaran-ajaran Slank telah mengkristal menjadi ideologi yang diyakini di dasar hati paling dalam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Film Generasi Biru harus sangat diwaspadai, sebab ia mengangkat budaya PEMBANGKANGAN di kalangan anak-anak muda. Kita perlu menelisik lebih dalam, siapa itu Garin Nugroho? Dan apa misi ideologisnya? Perlu dicatat juga, grup musik Slank ini sangat diterima ramah oleh Pemerintahan Amerika. Beberapa waktu lalu mereka melakukan lawatan di kota-kota di Amerika, kemudian mereka datang di Tanah Air disambut bak pahlawan. Slank juga didaulat untuk bermain musik di Kedubes Amerika, beberapa bulan lalu. Apakah suatu kebetulan Slank diterima dengan ramah oleh Pemerintah Amerika?

Dan satu catatan lagi, sebenarnya budaya pemberontakan terhadap nilai-nilai atau aturan itu, telah berkembang di Amerika sekitar tahun 50 atau 60-an. Waktu itu muncul generasi hippies, flower children, dan sebagainya. Mereka memberontak terhadap kemunafikan sosial bangsa Amerika, khususnya pasca Perang Dunia II. Kini, Garin Nugroho menangkap inspirasi itu untuk dihidupkan secara meluas di Indonesia melalui film. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ya Allah ya Rabbi, tolonglah kami atas semua kenyataan ini. Teguhkan hati kami di atas komitmen terhadap agama-Mu. Jangan palingkan hati kami kepada kesesatan, biarpun kekacauan sosial melanda begitu peliknya. Jadikan diri-diri kami sebagai bagian dari hizbullah, yang membela dan mempertahankan agama-Mu, sekuat kesanggupan yang Engkau anugerahkan kepada kami. Ampuni dosa-dosa kami, maafkan kaum Muslimin, serta tolonglah kami atas kaum kafir.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 15 Februari 2009.

AM. Waskito.


Iklan

7 Responses to Menggugat Hanung Bramantyo

  1. Insan berkata:

    Assalamualaykum.

    Satu lagi agenda liberalisasi Islam atas nama seni. Saya lebih setuju dengan Islamisasi liberalisme yaitu mengislamkan produk2 peradaban barat untuk kemashlahatan islam, bukan sebaliknya.

  2. Yenni berkata:

    Untuk kalangan ilmuwan, agamawan, pemikir, akademisi, maupun masyarakat dengan latar belakang “well educated”, film itu tak akan memberikan pengaruh apapun atau tak lebih dari sekedar sebuah hiburan. Tapi bagi untuk masyarakat Indonesia dengan tingkat pengetahuan yang pas-pas an dan kebiasanaan nonton sinetron yang sudah mendarah daging, PBS adalah tontonan yang sangat menyesatkan.

  3. Dewanto berkata:

    @ Yenni,
    Kalo menurut saya, seseorang yang ngerti agama nggak akan terhibur dengan melihat film seperti itu. Yang ada hanyalah geram dan marah. Marah karena tahu bahwa film ini akan menyesatkan banyak anggota masyarakat yang awam dalam beragama dan kewajiban para ulama adalah untuk memberikan peringatan terhadap bahaya2 seperti ini kepada ummat. Masyarakat yang “well educated”, ilmuwan, pemikir ataupun akademisi muslim pun tidak terlepas dari bahayanya kalo mereka ini juga awam terhadap agama mereka sendiri.

  4. Pon berkata:

    Setelah membaca artikel ini, saya jadi ingin tau, ayat-ayat mana saja (dan hadis mana saja) yg disitir oleh film ini?

    Saya kira perlu sosialisasi lebih luas mengenai ayat & hadis yg disitir dalam film ini.

    Jika tidak dilakukan, ayat-ayat tersebut akan digunakan sebagai pembenaran oleh musuh islam untuk menunjukkan bahwa islam membuka celah & membenarkan bagi lelaki Muslim untuk berlaku keji/tidak adil pada Muslimah dengan alasan agama.

    mengapa penting sosialisasi ini?
    ingat kasus kartun nabi yg juga menyitir ayat-ayat Qur’an & Hadis, dimana dengan ayat-ayat tersebut diatur sedemikan rupa, hingga sepertinya ayat-ayat tersebut hanya turun demi kepentingan nafsu seksual Nabi Muhammad S.A.W semata ??

    jangan sampai terulang, kali ini akan lebih berat untuk mencari ‘kambing hitam’, karena film ini pembuatnya diketahui dan dikenal sebagai Muslim.

  5. Muslim berkata:

    Btw, antum sudah melihat film PBS belum? Kalau sudah lebih baik antum juga me-review film tersebut supaya orang lain dapat lebih mengetahui sisi positif (kalau ada) dan sisi negatif dari film tersebut. Syukran.

  6. Mukmin berkata:

    Begitu perih, begitu sedih, Ada orang yang dengan percaya diri, dipuja, diberi sarana tapi malah menghancurkan brand islam secara sistematis.

    kapan orang muslim mampu menggunakan alat2 digital?

    Ingat…

    Islam akan semakin memiliki brand jelek dengan hadirnya orang seperti Bang Hanung Bramantyo.

  7. Mukmin berkata:

    Begitu perih, begitu sedih, Ada orang yang dengan percaya diri, dipuja, diberi sarana tapi malah menghancurkan brand islam secara sistematis.

    kapan orang muslim mampu berdakwah menggunakan alat2 digital?

    Ingat…

    Islam akan semakin memiliki brand jelek dengan hadirnya orang seperti Bang Hanung Bramantyo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: