Ponari Jombang dan Kegilaan Perdukunan

Kota Jombang seolah tidak berhenti mengeluarkan kontroversi-kontroversi. Abdurrahman Wahid muncul dari kota ini, begitu juga Nurcholis Madjid. Keduanya terkenal sebagai penguji kesabaran dan keimanan Ummat. Alhamdulillah, Allah menolong Ummat ini menghadapi keduanya. Meskipun tidak sedikit juga yang tersesat karena pikiran-pikiran dua orang aneh itu. Budayawan Emha Ainun Nadjib yang dijuluki “kyai mbeling” juga berasal dari Jombang. Meskipun tentu Emha tidak bisa disamakan dengan kedua tokoh sebelumnya.

Belum lama lalu kita digemparkan oleh penemuan mayat-mayat di sekitar rumah Ryan “Jagal” Jombang. Sampai saat ini kasus hukum Ryan sedang berjalan. Namun kini sudah muncul lagi hal-hal aneh dari Jombang. Apalagi kalau bukan ulah Si Dukun Cilik, Ponari. Bocah kecil yang masih duduk di kelas III SD itu menggemparkan masyarakat, karena konon memiliki kesaktian untuk dalam mengobati berbagai macam penyakit. Kesaktian itu dia peroleh setelah disambar petir, lalu dia kejatuhan “batu ajaib”. Batu itulah andalan Ponari dalam praktik pengobatannya. (Kalau batu itu dilelang secara terbuka, saya yakin akan ada yang berani membelinya sampai 1 miliar rupiah. Maklum, tradisi mistik di Indonesia masih sangat kuat; seperti mendarah daging).

Setiap hari ribuan orang datang ke rumah Ponari untuk mencari kesembuhan. Bukan hanya masyarakat kecil yang lugu, polos, dan berekonomi lemah. Tidak sedikit orang-orang kaya dan terpandang juga memburu “kesaktian” Ponari. Sudah puluhan ribu manusia mengadu untung, mencari solusi penyakit ke Ponari. Mereka rela antre berjam-jam, membeli tiket seharga Rp. 50 ribu, dan berdesak-desakan sampai ada yang mati. Menurut data, 4 orang mati akibat desak-desakan.

Cara Ponari dalam memberi pengobatan tidak kalah menakjubkan. Dia cuma mencelupkan tangannya ke air yang dibawa para pasien. Jika sudah dicelupkan, dianggap air itu sudah mengandung obat dari batu sakti Ponari. Banyak yang tidak bisa datang langsung berimpuh di bawah telapak kaki Ponari. Maka mereka cukup membawa KTP, dicelupkan ke dalam air, lalu air itu dijamah oleh Ponari. Luar biasa! Semua ini adalah kehancuran akal sehat yang amat memilukan.

Ketika polisi dan aparat setempat menghentikan praktik perdukunan bocah kecil ini, masyarakat tidak lantas bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Mereka tetap setia bertahan, bergerombol di pelataran di sekitar rumah Ponari. Mereka menuntut agar praktik dukun cilik ini dibuka kembali. Ketika mereka dihalau oleh kakek Ponari agar pergi, mereka tidak bergeming. Bahkan mereka memaksa mencari air di sumur di sekitar rumah Ponari, karena dipercayai mengandung kesaktian juga.

Laa ilaha illa Allah. Kehancuran akidah Ummat Islam (khususnya di sekitar Jombang) telah sedemikian mengerikan. Tidak ada lagi akal sehat, yang ada adalah kepasrahan, ketundukan, dan keyakinan kepada kekuatan jin-jin.

Tragedi Akidah

Kenyataan yang terjadi di rumah Ponari merupakan TRAGEDI AKIDAH yang sangat memilukan. Bagaimana mungkin ribuan orang yang katanya Muslim menerjuni perbuatan syirik yang sebenarnya sangat diharamkan? Apakah mereka tidak tahu bahaya kemusyrikan? Apakah mereka tidak pernah mendengar ada ustadz atau alim mengingatkan bahaya kemusyrikan? Apakah mereka telah mengetahuinya tetapi tidak mematuhi? Atau apakah hati mereka telah berubah memuja makhluk-makhluk selain Allah? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kenyataan yang terjadi di Jombang itu menjadi cerminan kondisi keyakinan kaum Muslimin saat ini. Betapa banyak wanita-wanita berkerudung, bapak-bapak bersongkok hitam atau putih, orang-orang berbusana Muslim, tetapi mereka terlibat praktik perdukunan. Padahal kayta Nabi, seseorang yang mendatangi dukun, lalu mempercayai ucapannya, tidak diterima shalatnya selama 40 hari. (HR. Muslim dan Ahmad). Dalam riwayat lain dikatakan, orang yang datang ke dukun, lalu mempercayai ucapannya sama saja dengan mengingkari ajaran Nabi Muhammad Saw. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dia dianggap tidak mempercayai lagi ajaran Nabi Muhammad Saw. Na’udzubillah minal kufri.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang sebelummu, jika kamu mensekutukan Allah dengan sesuatu, maka akan terhapus amalanmu dan sungguh jadilah engkau orang yang merugi.” (Az Zumar: 65). Perbuatan syirik itu bisa menghapuskan amal-amal, atau membuat manusia keluar dari jalan agama Allah. Ini merupakan perkara serius, sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman Al Hakim. “Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang besar.” (Luqman: 13).

Hanya satu alasan yang bisa meringankan orang-orang yang terlibat praktik kemusyrikan di rumah Ponari itu, yaitu KETIDAK-TAHUAN. Mereka dimaafkan jika memang tidak tahu ajaran Islam yang melarang praktik perdukunan itu. Hanya alasan ini saja yang bisa meringankan mereka. Namun tetap saja, akibat dari perdukunan itu adalah kehinaan, penderitaan, dan memudahkan manusia terjerumus dalam kesesatan yang jauh.

Kenyataan Mengerikan

Kalau merenunginya, kita akan merasa ngeri memikirkan perbuatan ribuan orang di Jombang itu. Anda masih ingat kejadian desak-desakan di Pasuruan di rumah H. Syaichon untuk mendapatkan zakat? Kasus desak-desakannya sama, tetapi substansi masalahnya sangat berbeda. H. Syaichon membagikan zakat untuk fakir-miskin, sementara Ponari membagikan dosa kemusyrikan kepada masyarakat luas. Itu pun, dosa “dijual” seharga Rp. 50 ribu per orang. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kenyataan ini menjelaskan banyak makna. Pertama, kondisi hidup masyarakat sangat menderita. Mereka terkungkung oleh kemiskinan akut. Harus dipahami, praktik perdukunan rata-rata ditempuh oleh masyarakat miskin. Orang-orang di rumah Ponari itu juga mengaku, bahwa mereka tidak kuat untuk “membeli” pengobatan medis. Kedua, masyarakat sudah sedemikian menderita dengan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, khususnya karena penyakit. Mereka ingin penyakit melelahkan itu segera lenyap. Cara apapun rela mereka tempuh untuk mengusir penyakit itu, meskipun ia sangat-sangat tidak berakal. Ketiga, masyarakat tidak mempercayai lagi sistem medis modern, bahkan cara-cara pengobatan melalui doa-doa (ruqyah syar’iyyah). Banyak di antara mereka mengaku telah lelah berobat dengan cara-cara medis modern, tetapi hasilnya nihil.

Semua ini terjadi karena kesalahan negara yang tidak mampu mendidik rakyatnya dengan baik, lalu memberikan hak-haknya secara layak. Negara hanya dikangkangi oleh elit-elit politik dan penguasa, dengan tidak ada tanggung-jawab yang benar terhadap penderitaan masyarakat. Kemiskinan, kebodohan, dan hilangnya akal sehat merata di berbagai tempat, khususnya di Jombang.

Berikutnya adalah kesalahan sistem medis modern yang tidak berdaya menghadapi aneka rupa keluhan penyakit masyarakat. Belum lagi sikap arogan, jual mahal, dan berbagai mala praktik yang sering terjadi di dunia medis. Dan satu lagi, yaitu kelalaian ahli-ahli agama. Mereka memiliki ilmu banyak, memiliki fasilitas dan kesempatan, tetapi tidak memanfaatkannya untuk mendidik masyarakat sebaik-baiknya. Mereka lebih fokus berburu jabatan lewat politik praktis, lalu melupakan tanggung-jawab menjaga akidah Ummat. Bayangkan, semua ini terjadi di Jombang sebuah kota yang terkenal sebagai basis pesantren NU.

Jika menyadari kenyataan ini, kita merasa seperti orang-orang Muslim bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa. Lihatlah, ribuan saudara-saudara kita meyakini bahwa Ponari dengan “batu ajaib” di tangannya bisa memberikan kesembuhan atas penyakit. Laa ilaha illa Allah. Bagaimana keyakinan seperti itu bisa dibenarkan? Bukankah mempercayai bahwa kesembuhan bersumber dari selain Allah adalah keyakinan yang rusak? Seperti disebutkan dalam doa yang diajarkan Nabi: “Isyfi Anta Syafi, laa syifa’a illa syifa’uka” (Ya Allah, sembuhkan aku, sebab Engkau itu Pemberi kesembuhan; tidak ada kesembuhan, selain kesembuhan dari-Mu).

Ketika menjelaskan Sifat-sifat Allah, dengan sangat mengharukan Ibrahim ‘alaihissalam mengatakan: “Dialah (Allah) yang menciptakanku, lalu memberiku petunjuk. Dan Dialah yang memberiku makan dan minum, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku.” (Asy Syu’ara: 78-80).

Kesembuhan pada hakikatnya memang dari Allah. Obat itu hanyalah wasilah (sarana), bukan pemberi kesembuhan. Apa buktinya? Di dunia ini telah diproduksi obat yang sangat banyak sejak jaman dahulu sampai saat ini. Tetapi apakah setiap obat itu bermanfaat memberi kesembuhan, tidak ada satu pun yang gagal dalam pengobatan? Jelas tidak ada kenyataan seperti itu. Betapa amat sangat banyak obat-obat yang gagal atau tidak cocok dalam pengobatan berbagai penyakit. Di antara ribuan item obat, ada yang dianggap mujarab (biasanya harganya amat mahal). Tetapi itu pun tidak semua orang cocok dengannya. Meskipun sama-sama obat flu, seseorang kadang cocok dengan satu obat, dan tidak cocok dengan obat lain.

Disini letak kesedihan kita ketika melihat jiwa-jiwa manusia (Muslim) tidak mempercayai bahwa Allah memiliki Sifat As Syafi (Pemberi kesembuhan). Ini masalah besar, bisa mengeluarkan manusia dari Islam. Tidak selayaknya kita mendiamkan masalah ini, lalu membiarkan masyarakat tenggelam dalam kebodohannya.

Ya Allah ya Rabbi, ampunilah kami atas segala kelalaian kami kepada saudara-saudara kami. Tolonglah mereka atas penderitaannya, adakan jalan keluar yang baik, serta keluarkan mereka dari cengkeraman kemuyrikan. Allahumma amin.

Sugesti Masyarakat

Sebenarnya, tidak ada “benda ajaib” apapun yang bisa menyembuhkan. Tidak ada pusaka, cincin, kalung, gigi, bola kristal, jimat, atau apa saja yang bisa menyembuhkan. Alat penyembuhan manusiawi adalah: obat, terapi, pembedahan, dan pola hidup sehat. Itu pun sifatnya tidak mutlak, hanya sebatas ikhtiar. Kesembuhan mutlak hanya dari Allah saja.

Benda-benda tertentu, misalnya batu milik Ponari, dipercaya memiliki kekuatan magis; bisa menyambuhkan segala penyakit. Kesimpulan seperti ini salah. Mungkin, dalam benda itu (atau bersama benda itu) ada jin yang selalu menyertainya. Jin seperti itu bisa mengusir jin-jin lain yang bersarang dalam tubuh manusia, yang menimbulkan penyakit kepada tubuh yang ditempatinya. (Kasus penyakit yang timbul karena gangguan jin tidak sedikit. Bahkan bentuknya tidak seperti orang kesurupan, tetapi seperti orang sakit biasa). Bisa jadi, jin-jin yang menimbulkan penyakit di tubuh manusia itu diusir oleh jin yang berada atau bersama “batu ajaib” Ponari. Sehingga masyarakat merasa dirinya telah bebas dari penyakit. Padahal mereka hanya dibebaskan dari jin-jin yang selama ini terus menyiksa tubuhnya. Dan resiko cara penyembuhan seperti ini berat, karena jiwa-jiwa orang yang telah disembuhkan itu semakin terbelenggu oleh kemusyrikan. Demikianlah salah satu cara syaitan (jin kafir) dalam menjerumuskan manusia.

Namun biasanya, jin-jin itu memiliki banyak kelemahan. Bisa jadi mereka bisa mengobati beberapa puluh manusia. Tetapi selebihnya mereka gagal, atau tidak mampu. Bagaimana berharap jin-jin itu menjadi penyembuh, wong diri mereka saja tidak bisa menghindar dari penyakit yang Allah timpakan kepadanya? Jin-jin itu tidak bisa menolak siksa yang datang kepadanya, bagaimana bisa dia memberi kesembuhan? Maka ribuan manusia yang datang berduyun-duyun ke rumah Ponari pada dasarnya hanya terpengaruh oleh sugesti berlebihan.

Sugesti itu merupakan perasaan berharap yang amat kuat. Misalnya, seseorang sangat yakin bahwa hanya dengan makan sebutir kentang, dia bisa tahan tidak makan sampai malam. Tidak ada penelitian yang membenarkan keyakinan itu. Tetapi ketika sugesti di hati seseorang sangat kuat, bisa jadi sampai malam dia tahan tidak makan, selain hanya sebutir kentang saja. Begitu pula tentang perasaan sembuh setelah berobat ke paranormal (dukun). Bisa jadi, sang dukunnya tidak memberi apa-apa, selain hanya meludahi muka pasiennya (padahal sang dukun berbulan-bulan tidak pernah sikat gigi). Nah, ludah dukun yang baunya bisa membuat orang sekecamatan muntah-muntah itu, bisa dianggap sebagai “obat mujarab”. Bukan karena ludahnya berkhasiat, tetapi perasaan sugesti itu yang mendorong seseorang sembuh.

Gila Keajaiban

Harus diakui, masyarakat kita masih banyak yang jahil (bodoh). Maka itu mereka mudah ditipu oleh cerita-cerita yang berbau supranatural. Keluarga Ponari menceritakan, bahwa batu yang jatuh ke kepala Ponari itu memiliki keajaiban. Tadinya dia disuruh dibuang ke kebun, tetapi ia kembali ke meja lagi, malah keluar asap. Batu itu lalu dipakai Ponari untuk menyembuhkan adiknya yang sakit muntaber, dan langsung sembuh (katanya). Orang-orang sekitar itu mempercayai bahwa batu itu datang dari Mbah Selo, yang dianggap tokoh suci orang Jawa. Ada yang menyebut ia datang dari “dewa petir”; ada yang bilang ia dari gunung Bromo; dan ada juga yang bilang ia benda bertegangan listrik tinggi.

Semua ini adalah kegilaan belaka, dan hancurnya jiwa-jiwa manusia akibat terkungkung oleh pemikiran-pemikiran syirik. Andai batu Ponari itu saat ini dihadirkan di depan saya, demi Allah saya akan membantingnya, melaknatinya, dan menggempurnya dengan palu besi agar hancur berkeping-keping. Batu semacam itu hanya bisa menakut-nakuti orang bodoh yang tidak mengabdikan hidupnya untuk mencari Keridhaan Allah. Adapun di mata hamba-hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya, ia tidak berarti sama sekali.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa para syaitan ikut bermain di balik “keajaiban” batu Ponari. Syaitan-syaitan itu memikirkan cara cerdik untuk menjerumuskan manusia dalam kemusyrikan. Mereka membuat berbagai makar yang sangat menyilaukan mata orang-orang bodoh. Sekali lagi, andai batu itu dihadirkan di hadapan kita, tentu kita akan menghancurkannya sampai berkeping-keping. Agar masyarakat tahu dan memahami bahwa keajaiban yang mereka yakini hanyalah dusta semata.

Jika negara ini diatur di bawah naungan Syariat Islam, tentu hal-hal terkutuk seperti perdukunan Ponari itu akan dilarang dengan sangat tegas. Tetapi karena memang bangsa ini belum bisa lepas dari cengkeraman ajaran Hindu, meskipun sudah puluhan abad jaman Hindu berlalu, ya beginilah jadinya. Bahkan tradisi syirik itu juga dilakukan para pemimpin negara untuk mencapai dan mempertahan kekuasaannya. Saya masih ingat, Abdurrahman Wahid ketika digoyang oleh aksi-aksi demo, dia menerima pusaka Kolo Munyeng dari seorang kyai. Pusaka itu diberikan kepada Wahid agar kekuasaannya tetap langgeng. Lha, orang seperti Wahid yang katanya “kyai-haji” dan keluarga pesantren saja bergantung ke pusaka, apalagi masyarakat kecil di bawah yang sangat awam agama?

Seharusnya, semangat kita itu seperti Ibrahim remaja yang berani menghancurkan patung-patung karena telah menyesatkan manusia dari jalan Allah. Pada hakikatnya, para pemuja kemusyrikan itu sadar, bahwa para pengikut Millah Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan mampu mereka kalahkan, sampai kapan pun juga. Sebab sandaran para Muwahhid adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Astaghfirullaha liy wa lakum.

Bandung, 15 Februari 2009.

Abu Muhammad Waskito.

Iklan

13 Responses to Ponari Jombang dan Kegilaan Perdukunan

  1. Moris Priyandono berkata:

    saya hanya bisa mengucapkan doa musibah utk akidah masyarakat kita.. Innalillahi wa innailaihi rojiun..
    inilah kenyataan yg kita hadapi sekarang, masih ada jutaan lagi orang2 yg seperti mereka di negara ini.

  2. Endro Triwahyono berkata:

    Analisa di atas panjang lebar, tetapi lebih banyak bersifat menghakimi dengan opini subyektif tanpa didukung penelitian lapangan obyektif.

    Sebagaimana obat medis, batu Ponari-pun adalah wasilah kesembuhan bila Allah yang Maha ROhman Rohim menghendaki. Di mana bedanya ?

    Yang satunya telah dan bisa dibuktikan dengan uji empirik, sedangkan batu Ponari siapa sudi mengujinya ?

    Padahal, kalau mau sains-pun menyediakan tool untuk itu (fisika kuantum). Coba baca buku “a secret message from water”. Di situ dipaparkan betapa air yang disandingkan dengan tulisan bermakna “bagus” membentuk molekul kristal air yang sangat indah. Tulisan bermakna “buruk” akan berdampak sebaliknya. Dan, percaya atau tidak- air yang didoakan (apapun agamanya), atau diambil dari tempat ibadah mempunyai bentuk kristal yang sangat indah (baca sdr bukunya : seeing is believing ! Kalau tak percaya juga lakukan riset sdr, wahai kaum mukminin rohiimahumullah)

    Lebih kurang teknik sama dengan teknik Kirlian yang sudah dikenal puluhan tahun silam oleh ilmuan Rusia (sayang ya bukan orang Islam, ktp-nya maksudnya). Dengan teknik ini bisa diketahui, benda-benda yang mengandung ‘tuah’/energi positip memancarkan aura cemerlang. Semakin intens enerjinya, semakin cemerlang pula auranya. ‘Tuah’/energi positif itu bisa telah ada dengan sendirinya pada suatu benda (minimal kita tak tahu proses ‘pengisiannya’), atau meng-ada-kannya dengan proses ‘pengisian’ (dengan doa/wirid, atau ruqyah menurut analis di atas. saya rasa ini soal terminologi saja dengan substansi yg sama !).

    Tinggal niatnya, pengisian itu dimaksudkan untuk apa : pengobatan atau yang lain ? Atau, hanya murni dzikullah semata.

    (note : tanpa diniati apapun, benda atau seseorang yang berdoa/dzikrullah/wirid….atau bahkan ritual yang sering dipersepsi ‘sesat’ pun akan ‘menampakkan’ aura. Yg dalam sains dikenal sbg cahaya dengan spektrum sangat rendah atau sangat tinggi, sehingga tak dapat ditangkap panca indera. Di sini gamblang sekali : Ketidaktampakannya bukan berarti tidak ada, bukan ?)

    Kembali pada batu Ponari :
    SUBSTANSI (pertanyaan) masalah ini adalah : Benarkah batu Ponari itu berisi ? (bertuah, atas izin Allah hu rohman wa rohiim tentunya)

    Sehingga, kita tak terjerumus 2 hal :
    1. kebodohan yang diperagakan para pencari tuah tanpa merujuk syariat dan sains (musti kita maklumi donk, masyarakat kita kyk apa intelektualitasnya !)

    2. Sinisme subyektif yang diikat dalih syariat kaku yang mendorong seseorang bersikap kaca mata kuda, yang mendorong penyempitan cakrawala kebenaran dan hikmah yang sebenarnya digelar Allah sang Al ‘Ilm di segenap alam semesta. Di dalam dan di luar diri manusia. Dhohir dan BATHIN.

    Dan, bukankah Rasululloh berpesan : Hikmah adalah barang hilangnya para mukmin. Punguti, di manapun ia ditemukan.

    Semoga Allah yang maha rohman rohiim memberi kita hidayah dan inayah. Menyelamatkan kita dari kesesatan maupun kesombongan. Terlebih kesombongan yang ‘tersamar’, karena kaca mata kuda syariat -pembenaran pendapat sendiri dan menutup pintu kemungkinan datangnya kebenaran dari arah lain. (bukankah ini juga sebentuk kesesatan ?)

    Juga, tak mudah menuduh/ghibbah yang cenderung hasut (bukankah ini perbuatan laknat ?) dengan tuduhan yang tidak-tidak pada saudara-saudara kita yang mungkin tak sepaham dengan kita.
    (Terlalu gampang menuduh, bukankah itu yang mendorong ummat/bangsa terjerumus pada TRAGEDI pertikaian ?

    Mari merenungkannya dengan menepis semua dorongan klaim perseptif dan keakuan, dan membiarkan fakta empirik bicara jujur apa adanya (sunatullah, bukankah materi ‘unseen’ dengan semua mekanisme kerjanya -entah kita pahami atau tidak, krn ketidaktampakannya – adalah berjalan menurut kehendak Allah juga ?: sunatullah)

    Fafirru ilallah………

  3. Didik berkata:

    Inilah bukti bahwa masyarakat Indonesia itu masih banyak yang sakit.

    Trus bagaimana reaksi Pemerintah dengan keadaan ini

    Wah sungguh mengerikan ternyata Pemerintah Menaikkan TARIF RUMAH SAKIT.

    Coba kalo RUMAH SAKIT GARTIS DENGAN TIDAK BERSYARAT seperti yang dilakukan PONARI

    Alangkah sehatnya akal masyarakat kita, pasti akan memilih berobat ke RUMAH SAKIT

  4. Khairuddin Subroto berkata:

    Maaf,tapi menurut saya jika kita ingin pemperkarakan suatu hal terhadap syirik, saya
    kira perlu hati-hati. Berobat ke dokter dan ke ponari adalah sama, menyakini
    jika minum obat dari dokter membuat dia sembuh adalah keliru, sebagaimana
    menyakini minum air yang dicelupi batunya ponari. Kecuali jika mereka tetap
    yakin yang menyembuhkan adalah Allah, lewat air itu, atau obat dari dokter.

    Jika menyimak sejarah nabi Musa ketika sakit gigi, ketika dia memohon
    kesembuhan pada Allah dia disuruh mengambil sebuah rerumputan, disaat yang lain
    dia sakit lagi, dan langsung mengambil rerumputan dan melupakan Allah, akhirnya
    sakitnya malah parah, setelah itu baru sadar dan mendapat teguran dari Allah.

    Terlebih selama ini kita hanya melihat dari kejauhan melalui media, bukan melalui pendalaman fikih sehingga ditakutkan kita malah akan terjebak manjadi fitnah ketika men”syirik”kan perkara tersebut.

    Wallahu ‘alam bishohab…..

  5. abisyakir berkata:

    @ Endro Triwahyono.

    Terimakasih atas tanggapannya. Berikut respon dari saya:

    Analisa di atas panjang lebar, tetapi lebih banyak bersifat menghakimi dengan opini subyektif tanpa didukung penelitian lapangan obyektif.

    Jawab: Apa soal batu Ponari itu suda ada penelitiannya ya? Kalau ada, silakan sampaikan. Mungkin saya yang belum tahu.

    ====

    Sebagaimana obat medis, batu Ponari-pun adalah wasilah kesembuhan bila Allah yang Maha ROhman Rohim menghendaki. Di mana bedanya ?

    Jawab: Lho, apa Allah dan Rasul pernah mengatakan bahwa batu itu bisa menjadi obat atau wasilah kesembuhan? Kalau ada sebutkan dalilnya yang mana? Maaf, jangan melegitimasi sesuatu yang salah dengan alasan “seolah ilmiah”. Ini tidak benar dan lebih menjerumuskan manusia yang berakal terbatas.

    ====

    Yang satunya telah dan bisa dibuktikan dengan uji empirik, sedangkan batu Ponari siapa sudi mengujinya ?

    Jawab: Nah, itu dia masalahnya. Batu dimanapun tidak ada yang berdaya menyembuhkan. Kecuali mineral-mineral yang ada dalam batu. Itu pun biasanya sifatnya asupan, bukan penyembuh. Anda mengatakan, saya berbicara tanpa penelitian, sementara Anda akui, batu Ponari tidak ada yang menelitinya. Jadi?

    ====

    Padahal, kalau mau sains-pun menyediakan tool untuk itu (fisika kuantum). Coba baca buku “a secret message from water”. Di situ dipaparkan betapa air yang disandingkan dengan tulisan bermakna “bagus” membentuk molekul kristal air yang sangat indah. Tulisan bermakna “buruk” akan berdampak sebaliknya. Dan, percaya atau tidak- air yang didoakan (apapun agamanya), atau diambil dari tempat ibadah mempunyai bentuk kristal yang sangat indah (baca sdr bukunya : seeing is believing ! Kalau tak percaya juga lakukan riset sdr, wahai kaum mukminin rohiimahumullah).

    Jawab: saya tahu soal keajaiban kristal-kristal dari senyawa air itu. Pernah membacanya, meskipun tidak mendalam dari sebuah buku karangan orang Jepang. Dalam Al Qur’an sendiri disebutkan banyak ayat tentang kedudukan air yang sangat penting dalam kehidupan ini. Soal air ini, banyak dalilnya dari Al Qur’an.

    Tetapi soal batu, apalagi “batu ajaib”, pernahkah Anda mendengarnya? Adakah dalilnya dalam Kitabullah maupun Sunnah, bahkan dalam sains modern?

    ====

    Lebih kurang teknik sama dengan teknik Kirlian yang sudah dikenal puluhan tahun silam oleh ilmuan Rusia (sayang ya bukan orang Islam, ktp-nya maksudnya). Dengan teknik ini bisa diketahui, benda-benda yang mengandung ‘tuah’/energi positip memancarkan aura cemerlang. Semakin intens enerjinya, semakin cemerlang pula auranya. ‘Tuah’/energi positif itu bisa telah ada dengan sendirinya pada suatu benda (minimal kita tak tahu proses ‘pengisiannya’), atau meng-ada-kannya dengan proses ‘pengisian’ (dengan doa/wirid, atau ruqyah menurut analis di atas. saya rasa ini soal terminologi saja dengan substansi yg sama !).

    Jawab: Anda sepertinya sudah komitmen ingin memasukkan diri ke dalam pusaran masalah-masalah seperti itu. Ia adalah masalah sensasional, relatif, tetapi penuh kegelapan. Saya lihat banyak pengikut aliran-aliran tenaga dalam berdalil dengan “energi”, padahal yang mereka sebut “energi” adalah jin yang masuk ke tubuh seseorang. Sementara jin masuk ke jasad manusia, benda, atau makhluk lain, sudah dikenal sejak jaman Fir’aun melalui praktik sihir.

    Nah, disinilah kita memahami mengapa para dukun memiliki batu, tulang, cincin, jimat, botol, pusaka, atau apa saja. Semua benda-benda itu adalah tempat berdiamnya jin-jin durhaka yang sering menyesatkan manusia. Katanya “batu berenergi”, padahal batu yang ditempati jin durhaka.

    Soal penelitian di Rusia dan lain-lain, silakan saja lah. Kalau perlu Anda buat pabrik untuk menghasilkan “batu ajaib” seperti Ponari itu, biar masyarakat bisa beli. Jadi tidak perlu desak-desakan di rumah Ponari. (Kalimat ini sifatnya sindiran, bukan perintah atau dukungan. Ini hanya sindiran ironisme!).

    ====

    Tinggal niatnya, pengisian itu dimaksudkan untuk apa : pengobatan atau yang lain ? Atau, hanya murni dzikullah semata.
    (note : tanpa diniati apapun, benda atau seseorang yang berdoa/dzikrullah/wirid….atau bahkan ritual yang sering dipersepsi ’sesat’ pun akan ‘menampakkan’ aura. Yg dalam sains dikenal sbg cahaya dengan spektrum sangat rendah atau sangat tinggi, sehingga tak dapat ditangkap panca indera. Di sini gamblang sekali : Ketidaktampakannya bukan berarti tidak ada, bukan ?)

    Jawab: Nah, itu dia. Dalam soal ilmu sihir, ada sihir hitam, sihir putih. Sebenarnya sama-sama sihirnya, tetapi sihir putih untuk tujuan-tujuan yang kelihatannya bermanfaat. Semuanya sama-sama sihirnya, sama-sama berbahaya. Bahkan sihir putih lebih bahaya, karena yang melakukannya selalu merasa benar dan berbuat baik.

    ====

    Kembali pada batu Ponari : SUBSTANSI (pertanyaan) masalah ini adalah : Benarkah batu Ponari itu berisi ? (bertuah, atas izin Allah hu rohman wa rohiim tentunya).

    Jawab: Ya Mas Endro, biar itu batu Ponari, pusaka Gendeng Pamungkas, air mineral, air comberan, air hujan, atau apapun. Semua itu terjadi dan terlaksana juga karena ijin Allah. Sekalipun sihir para tukang sihir di jaman Fir’aun, itu bisa terjadi juga karena ijin Allah. Anda bisa mendalami ilmu aneh-aneh, ilmu aura, “energi”, dan lainnya, itu juga karena ijin Allah. Kalau tidak diijinkan oleh Allah, Anda tidak akan seperti sekarang.

    Masalahnya kan, ada yang diijinkan untuk menjadi baik, ada yang diijinkan untuk terlepas dari kemungkaran; ada yang diijinkan menjadi jahat, ada yang diijinkan terjerumus dalam kemusyrikan. Ya tinggal bagaimana hati manusianya? Dia condong kemana? Allah akan memudahkan sesuai kecondongan hatinya.

    ====

    Sehingga, kita tak terjerumus 2 hal :
    1. kebodohan yang diperagakan para pencari tuah tanpa merujuk syariat dan sains (musti kita maklumi donk, masyarakat kita kyk apa intelektualitasnya !)

    Jawab: Sama saja Mas. Anda bilang sains ini itu, padahal sejatinya jin-jin juga. Cuma istilahnya lebih keren, pakai istilah energi, aura, dst. Padahal hakikatnya, praktik sihir juga.

    ====

    2. Sinisme subyektif yang diikat dalih syariat kaku yang mendorong seseorang bersikap kaca mata kuda, yang mendorong penyempitan cakrawala kebenaran dan hikmah yang sebenarnya digelar Allah sang Al ‘Ilm di segenap alam semesta. Di dalam dan di luar diri manusia. Dhohir dan BATHIN.

    Jawab: Ya, saya terima perkataan Anda. Tetapi kalau mau jujur, ketimbang masyarakat terjerumus ke dalam syirik yang mengerikan, lebih baik kita berkata keras sekalian.

    Maaf, orang seperti Anda ini telah terlalu jauh masuk dalam “pusaran dunia kegaiban”. Kalimat-kalimat yang baik Anda gunakan untuk membentengi kekeliruan pandangan Anda. Saya ingatkan, tinggalkan dunia mistik, supranatural, tenaga dalam, dll itu. Ini sangat berbahaya Mas. Keuntungan yang Anda peroleh tidak sepadan dengan kerugian yang akan Anda terima di masa nanti. Nas’alullah al ‘afiyah.

    ====

    Dan, bukankah Rasululloh berpesan : Hikmah adalah barang hilangnya para mukmin. Punguti, di manapun ia ditemukan.

    Jawab: Ya, hikmah yang mana dulu? Masak ilmu sihir dibilang hikmah? Itu kedustaan namanya. Anda mendalili perbuatan mungkar dengan alasan-alasan yang Islami. Ini termasuk kedustaan dalam agama.

    ====

    Semoga Allah yang maha rohman rohiim memberi kita hidayah dan inayah. Menyelamatkan kita dari kesesatan maupun kesombongan. Terlebih kesombongan yang ‘tersamar’, karena kaca mata kuda syariat -pembenaran pendapat sendiri dan menutup pintu kemungkinan datangnya kebenaran dari arah lain. (bukankah ini juga sebentuk kesesatan ?).

    Jawab: Ya, semoga Allah selamatkan kita dari sihir, perdukunan, ilmu kebal, tenaga dalam yang menipu, dll. Amin. Saya tidak sombong, tapi sangat sedih dengan tragedi akidah di Jombang dan semisalnya itu. Tulisan itu kan dalam rangka memberi peringatan kepada Ummat agar tidak terjerumus praktik serupa.

    ====

    Juga, tak mudah menuduh/ghibbah yang cenderung hasut (bukankah ini perbuatan laknat ?) dengan tuduhan yang tidak-tidak pada saudara-saudara kita yang mungkin tak sepaham dengan kita. (Terlalu gampang menuduh, bukankah itu yang mendorong ummat/bangsa terjerumus pada TRAGEDI pertikaian ?

    Jawab: Coba deh, Anda susun tinjauan tentang batu Ponari itu secara saintis, seperti yang Anda inginkan. Tolong lakukan itu. Kalau Anda sudah melakukannya secara saintis, sampaikan kepada saya. Insya Allah akan saya muat hasil penelitian Anda disini. Ya, daripada saya dituduh menghasul/ghibah dan lainnya.

    Silakan Mas Endro, tak enteni hasil penelitian Njenengan! Monggo sumanggaaken!

    ====

    Mari merenungkannya dengan menepis semua dorongan klaim perseptif dan keakuan, dan membiarkan fakta empirik bicara jujur apa adanya (sunatullah, bukankah materi ‘unseen’ dengan semua mekanisme kerjanya -entah kita pahami atau tidak, krn ketidaktampakannya – adalah berjalan menurut kehendak Allah juga ?: sunatullah). Fafirru ilallah………

    Jawab: Yo wis, kita tidak perlu berbicara bahasa Syariat dulu. Mari bicara bahasa sains murni, bahasa fakta empirik. Hayo silakan Anda sebutkan bagaimana hasil kajian empirik Anda tentang batu Ponari itu. Saya beri waktu sampai tanggal 17 Maret (satu bulanan). Kalau sudah ada hasilnya, silakan kirim ke e-mail saya. Tetapi kalau Anda tidak menepati janji, Anda hanya bermain-main kata-kata saja, untuk membentengi praktik sihir dengan kata-kata manis. Maka saya berdoa kepada Allah: “Yaa Rabbi, tunjukilah Mas Endro ini. Selamatkan jiwa dan hatinya. Pimpinlah dirinya kembali ke jalan yang lurus, terlepas dari semua perkara-perkara menyesatkan itu. Allahumma amin.”

    Fafirru ilallahi ya Ulil Abshar…

    AMW.

  6. abisyakir berkata:

    @ Khairuddin Subroto.

    Lha Pak, semua ini kan sangat jelas ya. Apa lagi yang samar?

    Kalau orang mau sembuh, ya berobat. Berobat itu suatu tindakan yang dibenarkan. Seperti kata Nabi, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit, melainkan dia menurunkan penawarnya (obat).” Jadi berobat itu tidak syirik. Sama seperti Anda lapar, lalu Anda butuh makan untuk mengisi perut. Apakah nasi yang Anda makan itu syirik? Wah, parah kalau begini memahaminya.

    Berobat itu boleh, bahkan dianjurkan. Tetapi kalau seseorang tawakkal, tidak mau berobat, meskipun menderita sakit. Itu ya silakan saja. Resikonya dia menderita untuk beberapa lama, bisa sembuh, bisa semakin parah. Hanya saja, mempercayai bahwa obat itu memberi kesembuhan mutlak, itu jelas salah. Tidak. Bahkan semua dokter di dunia juga mengakui, bahwa pengobatan itu hanya usaha saja, bukan kemutlakan.

    Sekarang, orang duyun-duyun ke Jombang. Sakitnya macam-macam, lalu diobati dengan air yang dicelupi batu Ponari. Lho, logika medisnya dimana? Dimana letak hukum sebab-akibat dalam soal usaha pengobatan kalau caranya begitu? Saking gilanya, sampai air comberan bekas mandi Ponari dipakai baluran. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Begitu juga bagi yang tidak bisa hadir, dapat menitipkan KTP-nya untuk diobati. Lho, itu logikanya dimana Mas?

    Ini jelas praktik perdukunan. Ini syirik. Maka itu Ponari disebut Dukun Cilik. Keluarganya sendiri mengakui hal itu, lha kok Anda mau membela-bela. Ironis ya.

    Kalau mau selain medis, bisa memakai ruqyah. Cara ruqyah kira-kira begini:

    – Kita ambil segelas air putih.
    – Diri kita sendiri, atau orang shalih, membacakan ayat-ayat ruqyah di depan air itu. Atau juga bisa berdoa di depan air itu.
    – Kemudian air diminumkan kepada yang sakit, atau dipakai baluran, atau dipakai mandi. (Tetapi airnya tetap air yang sehat, jernih, bukan air kotor, atau air comberan).
    – Hal ini dilakukan berulang-ulang, sampai Allah beri kesembuhan.
    – Di sisi lain tetap perlu dilakukan terapi pengotaban medis, sebagai penunjang.

    Lalu lihatlah apakah Ponari melakukan semua itu? Apakah disana air masyarakat dibaca-bacakan ayat ruqyah atau doa-doa yang benar? Apakah Ponari mencerminkan orang shalih? Dan sebagainya. Anda bisa menjawab sendiri. Terimakasih.

    AMW.

  7. haidar adam berkata:

    kepada kalian yang berdebat, silahkan membuktikan sendiri ke-Jombang, kalau anda semua datang sendiri kesana InsyaAlloh apa yang kalian perdebatkan bisa terjawab. karena hal yang kalian perdebatkan itu ada wujudnya dan bisa diverifikasi. silahkan kalian pakai metode apa saja, hasilnya, kalian yang akan menyimpulkan sendiri. lebih fair khan ????

    wallohul muwaffiq ilaa aqwamitthorieq.

    arek njombang

  8. Endro Triwahyono berkata:

    Terima kasih atas doanya, Allohumma amin yaa mujibas sailin. Semoga yang mendoakannya pun mendapat balasan samudera kasih sayang Allah yang tak bertepi.

    Berharap pula kita bisa memunguti hikmah dari ‘percakapan’ ini berkat hidayah dan inayah Allah SWT. Sebuah upaya bidayah hidayah.

    Pertama, saya setuju dengan pendapat Bp. Khairuddin Subroto bahwa kita harus berhati-hati dalam menghukumi perkara yang memiliki kemungkinan untuk dihukumi syirik. Karena, jawabannya bisa “ya” bisa pula “bukan”. Dan, siapa yang (memberi) berwenang atau punya hak untuk menghukumi ?

    Yang terang adalah tidak seharusnya kita meletakkan apriori sebagai kemutlakan dalam men-justifikasi kebenaran.

    Sebagaimana pesan Rasululloh : sebaik-baik perkara adalah yang di tengah-tengah. Bukan di tengah dalam arti keraguan/ambiguitas, tetapi sebagaimana puncak dari bangunan piramida.

    Berikut respon saya terhadap Bp. Abu Muhammad Waskito :
    (saya sesuaikan berdasarkan urutan-“penggalan” yg tlh dibuat sdr yg bersangkutan) :

    1. Batu-air-pengguna belum pernah diteliti (Insya Allah). Utk itu jangan mengeluarkan pernyataan yg bersifat menghukumi terlebih dulu.

    (saya sebut batu-air-pengguna, bkn salah satu dari ketiganya, karena sains sdr bukanlah kekuatan tak terbatas yg bisa menjelaskan semua pertanyaan yg kita ajukan. Bukan semata soal kemampuan sains itu sendiri, tp karena perbedaan domain yang dianalisa. Contoh : apa yg bisa dikatakan sains ttg jiwa, atau jin yang sering anda sebut ? selain hanya bisa menjelaskan sebagian sifat-sifatnya dan tak tahu sama sekali tentang zatnya (zat jiwa manusia, zat jin,dsb). Dlm hal ini bisa saja sains hanya mencatat seseorang sembuh setelah minum air yg dicelupi batu Ponari. Tapi tak mampu mendeteksi apapun dari air dan batunya. Intinya, kita dihadapkan pada kemungkinan sains hanya bisa memberi informasi/penjelasan sebagian dari 3 faktor utama fenomena Ponari. Adanya “Ruang terbuka” blm/tak terjelaskan inilah yang bisa membawa seseorang pada peningkatan kesadaran lebih tinggi yg bukan lagi aqliyah tapi lebih ke transendental (pelampauan fil aql ke fil qolbi). Juga berkemungkinan membanting seseorang pada kesadaran akalnya yg terendah, krn keterbatasan ilmu atau volume otaknya.

    Ada domain dhohir yang bisa dijelaskan sains (sebagian, entah 1 atau 99,999999 %). Apa daya sains menghadapi perkara (domain) bathin ? (kalau sekedar sifat-sifatnya mungkin).

    2. – Apakah ada dalil yang secara khusus menyebut pil/kapsul/jamu/daun/rumput/akar sebagai obat ?
    – Jauh dari maksud meligitimasi suatu perkara yang sains sdr mungkin menghadapi banyak pembatas yg tak mampu dilampauinya. Yang saya tekankan adl prinsip kehati-hatiannya.

    3. Jadi ? teliti dulu !
    oleh mereka yg berkemampuan dan kredibilitasnya diakui

    4. Periksa poin 1 di atas.
    Dan, apa pendapat anda mengenai keindahan molekul “kristal” air yang diambil dari sebuah kuil di Jepang yang “kafir” itu ? (jk anda pernah baca bukunya)

    5. Saya org biasa yang mengalokasikan wkt mencari nafkah, dan mengisi waktu dengan upaya taqorrub ilallah, serta mencari ilmu manfaat dan beramal soleh semampunya.
    Penjelasan tentang ‘penangkapan’ spektrum cahaya tak nampak (yang biasa disebut aura/energi, entah positif atau negatif) itu kan bisa diakses dan didapat dari banyak sumber tanpa harus menjadi pelaku tenaga dalam dan yg sejenisnya. Apalagi berpraktik sihir.
    Saya kira gegabah kalo kita apriori bahwa yg tak kasat mata selalu disebut jin.
    Bikin pabrik “batu Ponari” itu mungkin bila sains bisa menjelaskan domain zat bathiniah. Jelas tak mungkin menyuruh ahli menjahit memproduksi soto, bukan ?

    6. Setahu saya sihir ya sihir. Saya tak tahu sihir hitam sihir putih. Setahu saya pula dari teknik Kirlian, kebaikan punya pancaran cahaya mengarah ke cerah menuju putih/silver/keemasan
    (coba baca buku “Dzikir Tauhid” karangan Sdr Agus Mustofa)

    Berdasar keterangan anda, mungkin sihir hitam pancaran cahayanya mengarah ke gelap. Sihir putih ke arah cerah, tetapi tatkala sifat takaburnya (merasa benar/hebat) muncul, cahaya berbalik ke gelap (krn esensinya kegelapan)

    7. Saya tdk mendalami ilmu aneh-aneh. Pertemuan saya dengan keterangan ttg aura/energi terjadi karena saya
    berikhtiar tolabul ilmi taqorrub ilallah, di mana salah satu bhn rujukan saya adl buku “Dzikir Tauhid” karangan Agus Mustofa sbgmn saya sebut.

    Jadi jelas fokus/kecondongan hati saya : taqorrubb ilallah (semoga Allah menambahkan kekuatan kpd saya)

    8. Adl gegabah menyebut/menghukumi yg tak kasat mata dengan jin (selalu) atau sihir, meskipun itu mungkin.

    9. Sekali lagi saya tidak mendalami ilmu aneh-aneh yang anda sebut. Namun demikian saya menghargai sekali peringatan anda. Terima kasih.

    Saya teringat sbh cerita dari majalah bulanan “Al Falah” Surabaya. Di situ diceritakan seorang yg ragu utk terus menjadi Kristen, atau Muslimah memohon kpd Tuhan diberi petunjuk memasuki agama yg diridhoi Tuhan. Akhirnya ia menjadi muslimah atas ajakan suami (kalau tak salah).

    Ketika ia melaksanakan ibadah haji ia menjumpai benda/bangunan dlm kompleks masjidil Haram yang pernah dijumpainyai dalam mimpi setelah berdoa minta petunjuk kpd Tuhan (ia blm biasa menyebut “Allah”). Spontan dia memohon ampun kpd Allah atas ketidaktahuannya dan pengabaian thd karunia Allah berupa petunjuk yg diberikan melalui mimpi sebelum memutuskan menjadi muslimah. Dalam mimpinya itu ia melihat menara Masjidil Haram, sbgmn ia lihat “sekarang”, dan butir2 gandum berserakan di sekitar
    Masjidil Haram. (silakan baca sdr utk recek)

    Inti dari cerita ini adl : ilmu qolbi itu haq adanya (kita saja yg gegabah menyebutnya klenik) utk memahami perkara2 batin/tersembunyi/tdk nampak. Tapi, saya akui sayapun awam soal ini. Fokus saya tetap tazkiyatun nafs/qolbi sbg upaya taqorrub ilallah.

    10. Saya tetap tidak akan menghukumi perkara yang saya tidak punya dasar “de facto” utk mengatakan sesuatu itu salah/syirik. Saya tak akan menggunakan pengetahuan konsepsi syirik bila saya tak tahu scr “d facto” dalam hati seseorang mmg menyekutukan Allah. Tapi saya akan mendukung mereka yang memberi peringatan (keras) agar setiap orang waspada thd perkara2 yang memiliki kemungkinan syririk !

    11. Saya punya pengalaman ditebas pedang di jalan aspal sempit sepulang dari pengajian malam hari. Saya baru tahu setelah teman yg saya bonceng teriak2 ketakutan dan menyuruh saya tancap gas. Seingat saya mmg ada org di tepi jalan menyabetkan sesuatu berwarna putih (saya kira kertas karton).

    Alhamdulillah, saya selamat tak tergores sedikitpun. Secara logika di jln sempit yg hanya 3 meteran saya tak mungkin lolos dari tebasan pedang panjang. Kebingungan saya berlanjut pula pada ketidakpernahan saya belajar sihir/ilmu kebal, atau semacam itu. Saya hanya ingat setiap hari berdoa meminta diselamatkan dari marabahaya, baik dari sesuatu yg nampak maupun tak nampak.

    Jadi saya harus meninggalkan apa ?

    12. Yang sudah melontarkan tuduhan mengenai batu Ponari, dan semua fenomena seputar itu siapa ?
    Jd knp saya yg disuruh repot-repot meneliti ?
    Kenapa bukan mereka yg telah menuduh (membuat tesis/dugaan) untuk menguji dugaannya ?

    13. Saya yang menunggu anda untuk menguji dugaan/tesis(lontaran tuduhan) anda !!

    14. Kula rantos, monggo sumangga’aken

    15. Billahi taufik wal hidayah wa ridhlo wal inayah,
    wassalam……

    Hasbunalloh wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashiir…….

  9. abisyakir berkata:

    @ Endro Triwahyono.

    Pertama, saya setuju dengan pendapat Bp. Khairuddin Subroto bahwa kita harus berhati-hati dalam menghukumi perkara yang memiliki kemungkinan untuk dihukumi syirik. Karena, jawabannya bisa “ya” bisa pula “bukan”. Dan, siapa yang (memberi) berwenang atau punya hak untuk menghukumi ? Yang terang adalah tidak seharusnya kita meletakkan apriori sebagai kemutlakan dalam men-justifikasi kebenaran. Sebagaimana pesan Rasululloh : sebaik-baik perkara adalah yang di tengah-tengah. Bukan di tengah dalam arti keraguan/ambiguitas, tetapi sebagaimana puncak dari bangunan piramida.

    Jawab: Itu perbuatan syirik Mas. Kalau medis, mungkin dalam batu Ponari ada mineral-mineral tertentu yang bermanfaat. Lalu mineral itu bisa didapat dengan mereduksi batu Ponari dengan air panas, dengan digosok, atau dibuat ekstrak. Lalu hasil mineralnya dipakai pengobatan. Kalau itu ruqyah Islami, Ponari harusnya seorang dewasa yang taat dalam Islam (shalih), dikenal menjaga tauhid dan menjaga diri dari dosa, lalu membaca doa/dzikir yang diajarkan Nabi. Tapi apakah cara-cara seperti itu dipakai disana. Sebagai catatan MUI Jatim sudah memperingatkan Ummat tentang bahaya syirik dalam soal batu Ponari.

    Berikut respon saya terhadap Bp. Abu Muhammad Waskito : (saya sesuaikan berdasarkan urutan-”penggalan” yg tlh dibuat sdr yg bersangkutan) :

    1. Batu-air-pengguna belum pernah diteliti (Insya Allah). Utk itu jangan mengeluarkan pernyataan yg bersifat menghukumi terlebih dulu.

    (saya sebut batu-air-pengguna, bkn salah satu dari ketiganya, karena sains sdr bukanlah kekuatan tak terbatas yg bisa menjelaskan semua pertanyaan yg kita ajukan. Bukan semata soal kemampuan sains itu sendiri, tp karena perbedaan domain yang dianalisa. Contoh : apa yg bisa dikatakan sains ttg jiwa, atau jin yang sering anda sebut ? selain hanya bisa menjelaskan sebagian sifat-sifatnya dan tak tahu sama sekali tentang zatnya (zat jiwa manusia, zat jin,dsb). Dlm hal ini bisa saja sains hanya mencatat seseorang sembuh setelah minum air yg dicelupi batu Ponari. Tapi tak mampu mendeteksi apapun dari air dan batunya. Intinya, kita dihadapkan pada kemungkinan sains hanya bisa memberi informasi/penjelasan sebagian dari 3 faktor utama fenomena Ponari. Adanya “Ruang terbuka” blm/tak terjelaskan inilah yang bisa membawa seseorang pada peningkatan kesadaran lebih tinggi yg bukan lagi aqliyah tapi lebih ke transendental (pelampauan fil aql ke fil qolbi). Juga berkemungkinan membanting seseorang pada kesadaran akalnya yg terendah, krn keterbatasan ilmu atau volume otaknya.

    Ada domain dhohir yang bisa dijelaskan sains (sebagian, entah 1 atau 99,999999 %). Apa daya sains menghadapi perkara (domain) bathin ? (kalau sekedar sifat-sifatnya mungkin).

    Jawab: Apa Ponari pernah membawa batunya pergi ke lab uji, untuk diuji kandungan mineral di dalamnya? Apa ada peneliti yang merilis data soal kandungan materi batu itu? Belum ada penelitiannya. Itu fakta lho. Jadi tidak usah ragu dengan mengatakan “insya Allah”.

    Saya bicara soal sains itu kan karena Anda ingin agar saya melihat soal Ponari dengan kacamata sains, jangan menghakimi, seperti kata-kata Anda dalam komentar pertama itu. Nah, saya sudah singgung sains, lalu Anda berkelit, “Sains ada batasnya.” Yang minta bicara sains Anda juga kok, tapi kemudian malah diingkari sendiri. Coba ingat lagi komentar anda pertama!

    2. – Apakah ada dalil yang secara khusus menyebut pil/kapsul/jamu/daun/rumput/akar sebagai obat ?
    – Jauh dari maksud meligitimasi suatu perkara yang sains sdr mungkin menghadapi banyak pembatas yg tak mampu dilampauinya. Yang saya tekankan adl prinsip kehati-hatiannya.

    Jawab: Dalil Al Qur’an dan Sunnah yang khusus bicara soal itu memang tidak ada. Yang disebutkan adalah kata “Syifa'” (penyembuh) atau “dawa'” (obat). Kalau seperti madu, habbatus sauda’, makan sop, dll. memang itu ada dalilnya dalam hadits-hadits Nabi.

    Jadi begini, dalam Islam itu kita dianjurkan berobat. Soal cara berobat, ya cari cara-cara yang rasional. Misalnya dalam farmasi, zat-zat tertentu bisa mengobati keluhan ini dan itu. Itu secara medis memang teruji di laboratorium. Dalilnya umumnya, disuruh mencari obat; dalil khususnya ya uji dalam lab itu.

    3. Jadi ? teliti dulu ! oleh mereka yg berkemampuan dan kredibilitasnya diakui.

    4. Periksa poin 1 di atas. Dan, apa pendapat anda mengenai keindahan molekul “kristal” air yang diambil dari sebuah kuil di Jepang yang “kafir” itu ? (jk anda pernah baca bukunya).

    Jawab: air di manapun bagus ya. Ia memiliki keindahan kristalik yang menakjubkan. Air di rumah anda juga bagus. Hanya saja kan yang mau meneliti dan punya alatnya orang Jepang. Kalau kita punya alatnya, air di rumah-rumah kita (warga Muslim) bisa juga dilihat. Secara umum air memang begitu, tidak di Jepang atau Indonesia. Kalau ada misalnya air hebat di sebuah kuil, ya jangan disebut kuilnya kalau begitu benar dong! Jangan begitu, biar pun mereka memiliki air menakjubkan bagaimanapun, tetap kekafiran itu buruk dan tercela.

    5. Saya org biasa yang mengalokasikan wkt mencari nafkah, dan mengisi waktu dengan upaya taqorrub ilallah, serta mencari ilmu manfaat dan beramal soleh semampunya. Penjelasan tentang ‘penangkapan’ spektrum cahaya tak nampak (yang biasa disebut aura/energi, entah positif atau negatif) itu kan bisa diakses dan didapat dari banyak sumber tanpa harus menjadi pelaku tenaga dalam dan yg sejenisnya. Apalagi berpraktik sihir.
    Saya kira gegabah kalo kita apriori bahwa yg tak kasat mata selalu disebut jin. Bikin pabrik “batu Ponari” itu mungkin bila sains bisa menjelaskan domain zat bathiniah. Jelas tak mungkin menyuruh ahli menjahit memproduksi soto, bukan ?

    Jawab: Soal aura ini tidak penting ya. Misal orang itu beraura kuat, misalnya begitu, tapi dia beragama Hindu. Tidak lantas dia dianggap orang mulia, lalu harus diikuti. Aura itu tidak penting, tidak usah susah-payah melihat aura. Seperti Nabi saja, bersikap wajar, manusiawi.

    Anda tidak mau bilang itu jin, tapi anda menyebutnya zat batiniah. Lalu apa itu zat bathiniyah? Apa bentuknya? Bagaimana model dan kelakuannya? Bagaimana sifat-sifatnya? Nanti, hasil jawaban anda pasti akan mirip dengan sifat-sifat jin. Lha wong materinya itu itu juga, tapi istilahnya dibuat bagus-bagus.

    6. Setahu saya sihir ya sihir. Saya tak tahu sihir hitam sihir putih. Setahu saya pula dari teknik Kirlian, kebaikan punya pancaran cahaya mengarah ke cerah menuju putih/silver/keemasan (coba baca buku “Dzikir Tauhid” karangan Sdr Agus Mustofa). Berdasar keterangan anda, mungkin sihir hitam pancaran cahayanya mengarah ke gelap. Sihir putih ke arah cerah, tetapi tatkala sifat takaburnya (merasa benar/hebat) muncul, cahaya berbalik ke gelap (krn esensinya kegelapan).

    Jawab: Sihir itu istilah lama, sejak jaman Fir’aun. Di jaman modern disebut Maqic. Kebanyakan hanya berbeda istilah saja. Kalau dalam kalangan orang Muslim, mereka memakai nama “ilmu hikmah”, atau “nur hikmah”, dan sebagainya. Kalau orang mendalami “hikmah” seperti itu, biasanya dia akan jadi malas melakukan ibadah kepada Allah.

    7. Saya tdk mendalami ilmu aneh-aneh. Pertemuan saya dengan keterangan ttg aura/energi terjadi karena saya
    berikhtiar tolabul ilmi taqorrub ilallah, di mana salah satu bhn rujukan saya adl buku “Dzikir Tauhid” karangan Agus Mustofa sbgmn saya sebut. Jadi jelas fokus/kecondongan hati saya : taqorrubb ilallah (semoga Allah menambahkan kekuatan kpd saya).

    Jawab: Mohon maaf kalau saya salah dalam menilai.

    8. Adl gegabah menyebut/menghukumi yg tak kasat mata dengan jin (selalu) atau sihir, meskipun itu mungkin.

    9. Sekali lagi saya tidak mendalami ilmu aneh-aneh yang anda sebut. Namun demikian saya menghargai sekali peringatan anda. Terima kasih.

    Saya teringat sbh cerita dari majalah bulanan “Al Falah” Surabaya. Di situ diceritakan seorang yg ragu utk terus menjadi Kristen, atau Muslimah memohon kpd Tuhan diberi petunjuk memasuki agama yg diridhoi Tuhan. Akhirnya ia menjadi muslimah atas ajakan suami (kalau tak salah).

    Ketika ia melaksanakan ibadah haji ia menjumpai benda/bangunan dlm kompleks masjidil Haram yang pernah dijumpainyai dalam mimpi setelah berdoa minta petunjuk kpd Tuhan (ia blm biasa menyebut “Allah”). Spontan dia memohon ampun kpd Allah atas ketidaktahuannya dan pengabaian thd karunia Allah berupa petunjuk yg diberikan melalui mimpi sebelum memutuskan menjadi muslimah. Dalam mimpinya itu ia melihat menara Masjidil Haram, sbgmn ia lihat “sekarang”, dan butir2 gandum berserakan di sekitar Masjidil Haram. (silakan baca sdr utk recek)

    Inti dari cerita ini adl : ilmu qolbi itu haq adanya (kita saja yg gegabah menyebutnya klenik) utk memahami perkara2 batin/tersembunyi/tdk nampak. Tapi, saya akui sayapun awam soal ini. Fokus saya tetap tazkiyatun nafs/qolbi sbg upaya taqorrub ilallah.

    Jawab: Nah, itu namanya ilham, atau ru’yah shadiqah (mimpi yang benar). Itu bukan “ilmu ghaib” seperti yang Anda bahas. Ini berbeda domainnya.

    10. Saya tetap tidak akan menghukumi perkara yang saya tidak punya dasar “de facto” utk mengatakan sesuatu itu salah/syirik. Saya tak akan menggunakan pengetahuan konsepsi syirik bila saya tak tahu scr “d facto” dalam hati seseorang mmg menyekutukan Allah. Tapi saya akan mendukung mereka yang memberi peringatan (keras) agar setiap orang waspada thd perkara2 yang memiliki kemungkinan syririk !

    Jawab: Lalu fakta “de facto” nya bentuknya bagaimana dong? Harus masuk ke hati Ponari, dipiyak-piyak, dilihat-lihat isinya, apa begitu? Cara ngetesnya mudah: Beranikah Ponari membanting batu itu, menginjak-injaknya seperti batu biasa, atau membakarnya seperti batu biasa? Kalau dia telah mengagungkan batu itu, pasti tidak akan berani melakukan. Nah, mengagungkan benda melebihi kedudukannya itu syirik.

    11. Saya punya pengalaman ditebas pedang di jalan aspal sempit sepulang dari pengajian malam hari. Saya baru tahu setelah teman yg saya bonceng teriak2 ketakutan dan menyuruh saya tancap gas. Seingat saya mmg ada org di tepi jalan menyabetkan sesuatu berwarna putih (saya kira kertas karton).

    Alhamdulillah, saya selamat tak tergores sedikitpun. Secara logika di jln sempit yg hanya 3 meteran saya tak mungkin lolos dari tebasan pedang panjang. Kebingungan saya berlanjut pula pada ketidakpernahan saya belajar sihir/ilmu kebal, atau semacam itu. Saya hanya ingat setiap hari berdoa meminta diselamatkan dari marabahaya, baik dari sesuatu yg nampak maupun tak nampak. Jadi saya harus meninggalkan apa ?

    Jawab: Ini saja deh, saya sarankan setiap hari Anda membaca ayat Kursi dengan penuh keyakinan, misalnya sehari membaca 10 kali. Bacalah terus, kalau perlu berbulan-bulan. Nah, nanti Anda lihat sendiri hasilnya!

    12. Yang sudah melontarkan tuduhan mengenai batu Ponari, dan semua fenomena seputar itu siapa ?
    Jd knp saya yg disuruh repot-repot meneliti ? Kenapa bukan mereka yg telah menuduh (membuat tesis/dugaan) untuk menguji dugaannya ?

    Jawab: Ya karena anda bicara sok sains, ya silakan buktikan pada batu Ponari. Saya yakin itu syirik, jadi tidak prlu dibuktikan lagi.

    13. Saya yang menunggu anda untuk menguji dugaan/tesis(lontaran tuduhan) anda !! 14. Kula rantos, monggo sumangga’aken
    15. Billahi taufik wal hidayah wa ridhlo wal inayah, wassalam…… Hasbunalloh wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashiir…….

    Jawab: Lho, kok jadi saling menunggu ya. He he he… Ya sudah, terimakasih atas komentar, mohon dimaafkan kalau ada salah-salah kata. Hadainallah wa iyyaka ilal haqqi wal istiqamah alaihi. Amin ya Karim.

    AMW.

  10. brahim berkata:

    Ternyata bukan hanya ponari yang parah, karena tak laku, ikatan dokter Jombang kabarnya menantang Dukun Petir Ponari

    Pesona dukun cilik bernama Ponari begitu menggemaskan dunia medis indonesia. Rumah sakit dan ruang praktik dokter pun kekurangan pasien, tersedot oleh ‘kesaktian’ Ponari, dukun petir asal Jombang itu. Ikatan dokter jombang menantang ponari untuk adu kesaktian. wah..wah.. ternyata ponari juga bisa bikin pusing pakar ilmiah dan dunia kedokteran indonesia …. huakakakakak…

  11. RoNz berkata:

    Intinya, jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup 🙂

  12. riwayat berkata:

    syirik enggaknya itu tergantung orangnya, apapun obatnya kalau dalam hatinya terbetik bahwa obat itu yang menyembuhkan maka hal itu juga ke syirikan. jadi sebenarnya gak ada yang perlu di takutkan. kalau kita pergi ke dokter, dan ternyata kita sembuh, lalu dalam hati yakin bahwa dokter itu yang menyembuhkan maka apa hal ini gak syirik?. atau kalo orang minum parasetamol, lalau panasnya hilang, kemudian dalam hatinya yakin bahwa yang menyembuhkan atau menghilangkan panas adalah parasetamol, apakah ini bukan syirik???????????. bahkan yang lebih ekstreeem kalau ada yang yakin Al-Quran membawa ketenangan, maka orang tersebut telah terjebak kepada syirik, sebab yang memberi ketenangan hanya Allah bukan yang lain,bukann juga Al-Quran, al-Quran hanya sarana dan perantara.

  13. abisyakir berkata:

    @ Mas Riwayat.

    Mohon Anda jangan mencampur-adukkan masalah. Orang percaya bahwa obat itu berkhasiat menyembuhkan, itu tidak bisa disebut syirik. Itu adalah masalah IKHTIAR (usaha). Manusia kan diberi akal untuk belajar bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, dari jaman ke jaman. Dari belajar itu diketahui ada obat-obat tertentu yang manjur. Maka muncullah studi farmasi dan kedokteran. Ini dalam rangka usaha, bukan SYIRIK. Sebab, nilai kesembuhan yang dipercayai dalam obat itu TIDAK BERSIFAT MUTLAK. Para dokter sering mengatakan, “Ya kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan hasilnya.” Ini bukan syirik, ini usaha manusia.

    Tolong dong, jangan dicampur-adukkan. Bedakan dengan Ponari. Apa dalihnya, batu itu bisa mengobati manusia? Apa logikanya? Kalau ilmu farmasi/kedokteran kan melalui eksperimen yang sangat panjang, lalu bagaimana dengan Ponari? Apa ada eksperimennya? Kalau misal, setelah melalui mekanisme uji selama bertahun-tahun dan terbukti secara ilmiah batu itu mengandung zat-zat yang bermanfaat secara medik, itu baru bisa diterima.

    Kalau orang sakit perut, lalu dia meminum ramuan daun jambu biji, lalu setelah itu sakitnya sembuh. Itu bukan berarti yang memberi kesembuhan adalah daun tersebut. Tetapi ia dikatakan, “Alhamdulillah, dengan meminum ramuan daun ini saya pun sembuh.” Artinya, Allah memberi sembuh melalui IKHTIAR itu. Sebab banyak orang melakukan hal yang sama (minum ramuan daun jambu biji) tetapi tidak sembuh. Tetapi dengan cara lain, misalnya minum Promag, dia ternyata sembuh. Ini bukan syirik! Ini usaha!

    Coba tanya jujur ke hati kamu sendiri! Kalau kamu minum parasetamol, lalu sakit pusing-pusing sembuh, apa kamu meyakini bahwa obat itu yang menyembuhkan? Coba kamu tanya diri kamu sendiri deh. Para dokter di dunia ini tidak ada yang berani sesumbar bahwa obatnya memberi kesembuhan 100 % (mutlak). Semua itu dinilai sekedar usaha saja, bukan diyakini 100 %.

    Kemudian soal Al Qur’an memberi ketenangan. Ini kacau juga pemikiran @ Riwayat ini. Dia berusaha mengkritisi sesuatu tetapi tidak bersikap jujur. Kalau ayat-ayat Al Qur’an disebutkan memberi ketenangan ke dalam jiwa, itu banyak disebut dalam Al Qur’an. Ia disebut sebagai Syifa’un li maa fis shuduur (obat penawar bagi hati yang ada di dada). Hal demikian ini nyata. Maka kalau orang ingin mencari ketenangan jiwa dengan membaca Al Qur’an, 100 % benar dan silakan teruskan, bi rahmatillah.

    Tetapi Al Qur’an bagaimana yang memberi dampak ketenangan itu? Apakah bukunya, kertasnya, tulisannya, atau materinya?

    Jelas bukan seperti itu. Tetapi ayat-ayat di dalamnya yang dibaca secara tajwid dan pelan-pelan (tidak tergesa), diimani isinya, diyakini kebenarannya, dan diamalkan ajarannya. Nah, yang seperti itu yang memberi dampak keimanan, bukan bendanya Mushaf Al Qur’an. Dan tentu yang menurunkan ketenangan itu adalah Allah, sebab Dia-lah pemilik Kalamullah Al Qur’an. Jadi Al Qur’an itu Kalamullah, namun bendanya dalam bentuk buku atau kitab, ia serupa dengan benda-benda sejenis. Hanya saja, memperlakukan benda Al Qur’an harus dengan ta’zhim (hormat), bukan disamakan seperti benda-benda biasa. Sebab benda Al Qur’an itu adalah bagian dari Syi’ar Allah di muka bumi.

    Ini orang aneh sekali cara berpikirnya. Maunya mendukung Ponari, tetapi sok menyerang amal-amal ibadah kaum Muslimin selama ini.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: