Komunikasi MUI dan “Fatwa Golput”

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada sebuah ungkapan menarik yang selalu saya ingat dari seseorang yang pernah menulis di majalah Tarbawi beberapa tahun silam. Disana dikatakan, “Seseorang kadang bukan tidak mau menerima kebenaran yang Anda sampaikan, tetapi mereka menolak karena cara Anda yang salah dalam menyampaikan kebenaran itu.

Ungkapan ini memiliki makna yang luhur dan mendalam, bahwa sensitifitas perasaan manusia kerap kali berperan dalam penerimaan atau penolakannya terhadap dakwah yang kita sampaikan. Ia juga sangat relevan kita ungkap disini ketika menyaksikan “bola liar” yang melaju kesana kemari, tak terkendali, setelah MUI mengeluarkan “fatwa golput haram” dalam sidang di Padang Panjang beberapa waktu lalu.

Ternyata, inti masalahnya bukanlah MUI mengharamkan golput, tetapi MUI mengharamkan sikap tidak memilih seorang pemimpin, jika memang disana ada kandidat yang memenuhi syarat Islami untuk dipilih. Kalau kita baca fatwa MUI secara runut, memang disana tidak ada kalimat “Golput Haram!!!” itu.

Lalu dimana letak kesalahannya?

Ya, pada komunikasi yang disampaikan salah seorang anggota dewan fatwa MUI. Beliau dalam wawancara dengan TVOne memang benar-benar mengatakan “golput haram mutlak”. Itu ungkapan beliau. Padahal dalam isi fatwa MUI sendiri tidak seperti itu.

Saya merasa tertegun ketika malam hari, menyaksikan dialog di Topik Malam ANTV yang menghadirkan KH. Ma’ruf Amin (MUI), Azyumardi Azra, dan Musdah Mulia beberapa waktu lalu. Ketika KH. Ma’ruf Amin ditanya soal “fatwa golput haram”, beliau mengatakan bahwa MUI tidak mengatakan golput haram, tetapi haram tidak memakai hak pilih, kalau memang ada kandidat pemimpin yang memenuhi kriteria Islami.

Ya, sekali lagi faktor komunikasi. Kalau membaca fatwa MUI itu memang tidak ada yang keliru disana. Hanya isu yang berkembang di media bergeser dari isi utama fatwa MUI itu sendiri. Seolah MUI benar-benar mengharamkan golput. Apalagi ulama MUI yang berdialog di TVOne waktu benar-benar mengatakan, haram mutlak.

Nah, “bola liar” isu yang tidak terkendali ini tentu saja menimbulkan kesesatan persepsi. Salah satunya, Fajroel Rahman, seorang aktivis gerakan pemuda yang mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari kalangan independen. Dia mengatakan, kurang lebih, “Jadi, kalau mengikuti fatwa MUI, saya ada di neraka (karena golput dalam pemilihan presiden) dan di syurga (karena ikut pemilu legislatif April nanti).” Untuk orang seperti Fajroel (atau saya sendiri) bisa salah persepsi, apalagi masyarakat yang hanya main telan informasi media.

Di blog ini saya mengkritik keras fatwa MUI yang mengharamkan golput, padahal substansi fatwa MUI tidak mengatakan hal itu. Bahkan sejujurnya, saya setuju dengan fatwa MUI itu sebab sudah sesuai dengan kaidah Syariat Islami. Tetapi dengan syarat, bahwa kandidat pemimpin yang memenuhi kriteria itu memang benar-benar ada. Kalau tidak ada atau meragukan, ya kita tidak dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu memikulnya.

Inilah, betapa pentingnya kemampuan komunikasi (PR skill). Sesuatu yang benar bisa dipahami salah ketika cara menyampaikannya keliru. Tetapi sesuatu yang salah bisa diterima sebagai kebaikan, ketika didukung oleh metode komunikasi yang handal.

Ke depan, tampaknya MUI perlu berhati-hati dalam mengkomunikasikan fatwa-fatwanya, agar tidak disalah-pahami oleh masyarakat.

Berikut pandangan positif dari Muhammad Al Khatthath yang dimuat di suara-islam.com tentang fatwa MUI di atas. Silakan disimak!

SOSIALISASI FATWA GOLPUT

Sebagaimana kita ikuti dalam berbagai berita dan talkshow di media massa, telah terjadi wacana dan perdebatan atas fatwa MUI tentang tidak memilih di dalam Pemilu alias Golput. Satu hal yang perlu kita cermati dalam berbagai wacana dan perdebatan tersebut adalah adanya pembiasan informasi atau mungkin kesalahan komunikasi sehingga umumnya publik menangkap bahwa seolah-olah MUI mengeluarkan fatwa Golput Haram secara mutlak.

Padahal, isi fatwa tersebut tidaklah demikian. Oleh karena itu, perlu sosialisasi fatwa MUI tersebut secara langsung oleh para ulama dan para muballigh dan siapa saja yang masih ingin berpegang teguh kepada agama Allah dalam menjalani kehidupannya.

Pertama, poin empat dari fatwa tersebut berbunyi: Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib.

Poin ini justru tidak terekspos dengan baik di media massa sehingga tidak menjadi opini umum yang ditangkap oleh publik. Padahal poin inilah yang justru diperlukan umat sebagai petunjuk untuk memilih calon presiden (calon Imam/kepala negara) dan calon wakil rakyat.

Artinya, menurut fatwa MUI tersebut, umat Islam dalam pemilu nanti wajib memilih calon Imam dan wakil rakyat yang memiliki karakteristik: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Dalam pandangan syariat Islam, melaksanakan hukum wajib berarti pelakunya dipuji dan diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Sebaliknya, yang tidak melaksanakan kewajiban itu tercela, berdosa, dan akan mendapatkan balasan siksa Allah SWT. Na’udzubillahi mindzalik!

Oleh karena itu, poin mewajibkan umat Islam memilih calon Imam dan wakil rakyat dengan kriteria di atas itu tidaklah main-main. Tentu harus dengan dasar yang kuat. Dalam fatwa MUI tersebut disebutkan antara lain dasar penetapan fatwanya dengan firman Allah SWT:

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa 59).

Perintah Allah SWT mewajibkan kita taat kepada Ulil Amri dalam ayat di atas mengandung pengertian kewajiban untuk mengangkat ulil amri yang wajib ditaati itu. Sebab, kalau mengangkat ulil amri tidak wajib, maka keberadaan ulil amri itu tidak wajib pula. Dan bila ulil amri itu tidak wajib adanya, artinya bila boleh saja umat Islam tidak punya ulil amri, maka perintah Allah yang mewajibkan taat kepada ulil amri menjadi tidak bisa diamalkan. Ini tentu tidak bisa dibenarkan.

Oleh karena itu, dipastikan bahwa umat Islam wajib memilih atau mengangkat ulil amri yang bertugas dan bertanggung jawab mengurus urusan kaum muslimin. Dan ulil amri yang diangkat kaum muslimin itu wajib menerapkan hukum syariah dengan standar kebenaran Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. sehingga bilamana dalam pelaksanaan hukum Allah SWT dalam pemerintahannya ada perselisihan antara ulil amri dengan rakyat, maka diselesaikan di depan mahkamah yang akan mengatasi persoalan dengan merujuk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang ada dalam Al Quran dan Sunnah.

Ulil Amri yang wajib dipilih dan diangkat oleh kaum muslimin adalah ulil Amri yang beriman dan bertqwa, yakni yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pemerintahannya. Oleh karena itu, tepat sekali Ijtima Ulama MUI di Padang Panjang mencantumkan -sebagai dasar penetapan fatwa- pernyataan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar pada saat pengangkatan mereka sebagai Khalifah yang berkuasa atas kaum muslimin.

Khalifah Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai sekalian manusia, jika aku dalam kebaikan maka bantulah aku, dan jika aku buruk maka ingatkanlah aku… taatilah aku selagi aku menyuruh kalian taat kepada Allah, dan jika memerintahkan kemaksiatan maka jangan taati aku”. Pidato Khalifah Umar r.a.:“Barangsiapa diantara kalian melihat aku dalam ketidaklurusan, maka luruskanlah aku…”.

Kedua, butir lima dari fatwa MUI tersebut adalah: Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram.

Butir ini juga tidak terkomunikasi dengan baik melalui media massa. Seolah-olah di media massa diopinikan bahwa tidak memilih alias golput secara mutlak adalah haram. Padahal yang diharamkan dalam butir ini adalah bila tidak memilih sama sekali alias golput padahal ada calon yang memenuhi syarat-syarat nomor empat yang sudah diterangkan di atas. Lebih dari itu, justru yang diharamkan bagi setiap muslim adalah memilih calon Imam dan wakil rakyat yang tidak memenuhi kriteria dalam poin empat di atas.

Jadi dalam pemilu legislatif maupun pilpres nanti setiap muslim yang dirinya masih punya iman dan hatinya terikat dengan ajaran agama Islam yang dianutnya HARUS HATI-HATI JANGAN SAMPAI MEMILIH CAPRES DAN CALEG yang tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

Kiranya tepat sekali dasar penetapan poin ini merujuk kepada hadits Nabi saw:

“Dari Abdullah bin Amr bin ‘Auf al-Muzani, dari ayahnya, dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda:“Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”. (HR At-Tirmidzi).

Artinya, umat Islam harus waspada terhadap caleg-caleg maupun capres-capres yang disinyalir akan melahirkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Yakni, caleg-caleg sekuler yang abai bahkan menentang diformalisasikannya syariat Allah SWT sebagai konstitusi, undang-undang, dan hukum yang berlaku di negeri ini.

Dengan demikian tegaslah bahwa Fatwa MUI tentang memilih dalam Pemilu itu adalah : (1) WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. (2) HARAM BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

Fatwa tersebut selain mengikat umat Islam dalam memilih, juga mengikat para capres dan caleg muslim agar menyesuaikan dirinya dengan kriteria tersebut bila ingin dipilih oleh oleh umat Islam.

Terakhir, kami memberikan peringatan kepada kaum muslimin dan diri kami sendiri, dalam urusan memilih dan mengangkat pemimpin ini, janganlah kita termasuk orang yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin lantaran salah pilih atau memilih secara asal-asalan, atau memilih karena dorongan hawa nafsu dan tergoda bujuk rayu dengan sedikit urusan dunia. Renungkanlah sabda baginda Rasulullah saw.:

“Barangsiapa memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang lain yang lebih pantas untuk dijadikan pemimpin dan lebih faham terhadap kitab Allah dan sunnah RasulNya, maka ia telah menghianati Allah, RasulNya, dan semua orang beriman”. (HR. At-Thabrani). (mj/www.suara-islam.com).

Sumber: http://www.suara-islam.com/index.php/Komentar-MAK/SOSIALISASI-FATWA-GOLPUT.html

Demikianlah, betapa pentingnya metode komunikasi yang tepat, sehingga tujuan semula yang mulia bisa mencapai sasaran seperti yang diharapkan. Seperti ungkapan di bagian awal, seseorang bisa menolak kebenaran bukan karena substansinya, tapi karena cara penyampaiannya yang salah.

Secara pribadi saya memohon maaf kepada MUI jika dari tulisan-tulisan yang ada di blog ini ada sesuatu yang melanggar hak-hak MUI. Insya Allah, saya atau kita semua, senantiasa bersikap baik kepada dewan ulama Ummat ini. Mungkin bila-bila ada perbedaan pandang, dan hal itu wajar belaka. Namanya manusia, tidak bisa selalu utuh, bulat, dan sebentuk. Sekali lagi mohon dimaafkan, dan kepada Allah Ta’ala saya memohon ampunan-Nya. Sekaligus tulisan ini sebagai ralat atas kekeliruan persepsi pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Nabi Saw. sendiri salah satu kelebihannya, beliau memiliki Jawami’ul Kalam (perkataan yang meliputi). Ia adalah suatu metode komunikasi terbaik yang dikenal manusia. Bahasa yang disampaikan sangat tepat, mengena, membekas, dan mendorong perubahan positif. Kata orang, bahasa singkat, padat, dan berisi. Selayaknya dewan ulama-ulama kita memulai memiliki instrumen yang dapat mengejawantahkan makna Jawami’ul Kalam itu dalam tingkat operasional kehidupan kita. Sehingga fatwa yang terbit, selain kokoh secara ilmiah, juga menghunjam di hati (meminjam istilah Aa Gym).

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 20 Februari 2009.

AMW.

Iklan

7 Responses to Komunikasi MUI dan “Fatwa Golput”

  1. Abdillah Syafei berkata:

    Assalamu Alaikum…
    Tak lama setelah ribut-ribut FATWA HARAM GOLPUT saya langsung menelpon KH. Zaini Na’im (Ketua MUI Samarinda) Beliau juga mengatakan bahwa MUI tidak mengharamnkan Golput. MUI mengharamkan sikap tidak memilih seorang pemimpin, jika memang disana ada kandidat yang memenuhi syarat Islami untuk dipilih.

  2. Abdillah Syafei berkata:

    Ketika saya tanya bagaimana kalau calon pemimpin yang ada tidak bisa dipercaya? Sedangkan kalau memilih pemimpin yang nggak memenuhi syarat juga berbahaya. Beliau menjawab: “kalau yang begitu memilih HUKUMNYA MUBAH”.
    Mohon maaf kalau ada kutipan saya yang tidak sesuai aslinya…Maklum berdasar daya ingat saja…

  3. abisyakir berkata:

    @ Abdillah Syafei

    Wa’alaikumsalam warahmatullah.

    Antum masih enak Akhi, bisa telpon Ketua MUI disana. Nah, saya, beberapa waktu lalu dapat forward SMS dari rekan di Jakarta. Katanya dalam SMS itu, kira-kira, “Yang tidak setuju Fatwa MUI adalah Nashrani, JIL, dan Salafi. Jangan ditambah lagi.” Begitu kira-kira. He he he…ya gak apa-apalah, namanya juga beda pendapat.

    Tapi memang, MUI tidak mengharamkan Golput, tapi mengharamkan tidak memilih, kalau memang ada kandidat yang memenuhi syarat. Seperti kata Antum itu lho. Jazakumullah khair.

    AMW.

  4. zonapikir berkata:

    Golput Haram, Buah dari Hilangnya Kepercayaan Rakyat!
    Selama pemilu hanya berkisar pada pemilihan sosok pemimpin atau wakil rakyat saja, jangan salahkan rakyat jika golput di tahun 2009 ini akan meningkat, dan akan meningkat terus pada pemilu periode akan datang. Yang diperlukan sekarang adalah pergantian sosok para wakil rakyat dan pemimpin serta penerapan sistem yg baik (diganti ke; selain sistem kapitalisme, demokrasi, ataupun sosialisme)

  5. Sarjono berkata:

    Assalamu’alaikum WW

    Sebenarnya yang di niatkan MUI adalah hal yang mulia yang patut kita sebagai orang islam ikuti. Kena apa MUI mengharamkan GOLPUT, karena kewatir kita mendapat pemimpin yang tidak islami. Apa yang demikian (mendapat pemimpin yang tidak islam) mungkin terjadi padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim?? Ya mungkin sekali terjadi jika GOLPUT dihalalkan. Jika GOLPUT dihalalkan maka ada kemungkinan orang-orang ISLAM tidak memilih dan orang-orang nom muslim memilih maka yang terpilih adalah pemimpin yang bukan dari kalangan orang muslim.

    Padahal Alloh telah berfirman :
    Hai orang-orang yangberiman, janganlah kalian mengambil menjadi teman kepercayaanmu(pemimpin), orang-orang yang berada di luar kalanganmu karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa-apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami jika kamu memahaminya QS Ali Imron 118.

    Sekarang yang penting bagi kita orang Islam adalah mensosialisasikan para calon pemimpin dari kalangan Islam yang layak untuk kita unggulkan menjadi pemimpin. Ini sangat penting agar kita dipimpin oleh orang yang diberkahi Alloh Subhanahu Wata’ala.

    Taqobalallohu mina waminkum wa’afu minkum

    Assalamu’alaikum WW.

  6. abisyakir berkata:

    @ Akhi Sarjono.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Syukran atas komentar Antum. Jazakallah khair.

    AMW.

  7. […] Maret 2009 / Rabi’ul Awwal 1430 H) tanpa terduga, qadarullah,saya membaca artikel di weblog Abdurrahman Ath-Thalibi yang menyatakan bahwa sebenarnya MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa golput adalah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: