Nikah Beda Jamaah? Gimana Ya?

Simak dialog berikut:

A: Tau ngga? semangka sama durian ngga akan bisa dikawinin tau. Klo dipaksain juga ngga akan berbuah.
B: Ya iya lah! beda spesies gitu!
A: Ada satu faktor lagi, bukan hanya karena beda spesies. Mereka (si durian dan si semangka)  ngga disetujuin sama orang tuanya! Hahahaha…!
B: Yaelah! kirain kita lagi ngomongin dalam konteks ilmiah, lagi bercanda toh! Hahahaha…!


Percakapan di atas sebenarnya adalah percakapan saya dengan seorang teman sefakultas. Intinya waktu itu kita sedang bincang-bincang ringan soal fenomena pernikahan para aktivis Islam yang berafiliasi di dua Harakah Islamiyah (Pergerakan Islam) yang berbeda, dan dialog di atas sebagai penutupnya.

Disini ada dua kasus yang kita bicarakan. Kasus pertama, seorang ikhwan salafy yang menikahi seorang akhwat Tarbiyah/PKS. Awalnya karena mereka memang sudah saling cinta, kemudian mereka pun meneruskan ke tahap yang lebih serius alias pernikahan. Setelah mereka nikah selangkah demi selangkah dengan rela si akhwat mengikuti suaminya sebagai seorang yang notabene Salafy. Kasus kedua, seorang akhwat salafy yang bercadar dinikahi oleh seorang aktivis ikhwan yang berafiliasi di Hizbut Tahrir, proses “penggebetannya” pun tidak mudah, bagaimana dia harus menghadapi ayah si akhwat yang juga Salafy tulen penuh dengan perjuangan. Akhirnya jadi deh nikah, tapi sayangnya si ikhwan ini menyuruh si akhwat untuk tidak lagi memakai cadarnya. Namun saya yakin kasus “kawin silang” tersebut tidak hanya terjadi pada dua kasus itu saja, namun terjadi banyak kasus di beberapa tempat. Sampai-sampai dalam forum MyQuran.com saya sempat baca bagaimana teman-teman Tarbiyah/PKS ribut-ribut gara-gara banyak akhwat Tarbiyah/PKS “diculikin” sama ikhwan-ikhwan Salafy.

Beberapa Fenomena

Saking penasarannya dengan fenomena tersebut saya pernah menanyakan langsung pada seorang akhwat Tarbiyah/PKS via SMS, “Menurut kamu bagaimana tentang penikahan dau orang ikhwan akhwat yang beda harakah?” Dengan logika yang cukup bagus dan simpel dia pun menjawab, “Wah, bakal sulit tuh. Ibaratnya seperti sebuah perahu yang dinaiki dua orang, terus masing-masing ingin menuju tujuannya masing-masing, kalo dipaksain lama-lama perahu itu kan bisa karam.”

Di lain hari akhwat yang saya tanya ini pun bercerita bahwa sepupunya yang juga seorang salafy pernah bertanya hal yang serupa dengan saya, tentu saja pendapat sepupunya yang salafy tersebut berpendapat dengan gaya khas keilmiahan salafy-nya, “Ini Bid’ah yang diada-adakan!” Artinya sepupunya tersebut menganggap bahwa pernikahan beda harakah itu sah-sah aja, wong sama-sama Muslim kan. Justru kalau dipersulit hanya karena beda harakah itu bid’ah yang diada-adakan. Namun di sisi lain, akhwat yang saya tanya itu lebih memandang realistis, bahwa hampir tidak mungkin disatukan, masing-masing punya pemikiran dimana mereka punya prinsip yang dipegang teguh oleh masing-masing, tentunya akan banyak benturan, dan inilah penyebab dari karamnya bahtera rumah tangga.

Ada lagi pendapat dari sahabat saya yang sekarang sudah menikah (dengan akhwat yang harakahnya sama tentunya), mungkin pendapat ini adalah pertengahan antara dua pendapat yang barusan saya sebutkan tentang kasus nikah beda harakah. Sahabat saya ini berpendapat, “Sebenarnya sah-sah aja. Kan ngga ada dalil yang melarang. Ditinjau dari segi fiqh boleh dan ngga bermasalah. Boleh, kenapa ngga? Tapi saya lebih setuju kalau yang dinikahinya seharakah dengan dia, tujuannya biar lebih menyatukan kekuatan da’wah harakahnya. Kalo nikah dengan yang beda harakah tentunya kemungkinan besar salah satu di antaranya (baik suami atau istri) akan berpindah afiliasi jama’ah/harakah, dan bagi harakah yang ditinggalnya maka akan dirugikan karena berkurangnya SDM yang dimiliki harakah tersebut. Apalagi kalo SDM harakah tersebut terus-tersuan ‘diculik’, bisa tekor SDM tuh! Beda kalo nikahnya dengan harakah yang sama, kan lebih ‘mempersatukan kekuatan’ da’wah, bisa lebih sinergi dan ngga akan ada benturan pemahaman.”

Fenomena semacam ini bila kita tanyakan kepada seorang ulama yang faqih, sepertinya fatwa untuk masalah ini tidak mudah, Wallahu a’lam. Apalagi kalau saya ditanya masalah seperti itu ditinjau dari segi fiqh halal, haram, makruh, atau mubah. Tentunya untuk saat ini saya hanya bisa angkat tangan. Tapi saya coba untuk mengkaji fenomena ini, karena hal ini cukup menarik. Tidak hanya sakedar menarik, tapi urgen. Pasalnya, seperti kita ketahui kebangkitan Islam saat ini boleh dibilang ada di tangan-tangan Harakah Islamiyah yang punya niat ikhlas memperjuangkan Islam sampai ia kembali berkuasa atas seluruh dunia dan meninggikan Kalimatullah, dengan metode dan manhaj Nubuwwah. Nah, apa jadinya beberapa harakah dimana kebangkitan Islam menaruh harapan pada mereka, namun kondisinya tidak stabil gara-gara percekcokan antar harakah. Percekcokan itu salah satu faktornya adalah kasus saling “culik-menculik” dengan jalan pernikahan.

Misal, harakah “Jamiil Jiddan” sering sewot dan marah-marah gara-gara akhwatnya “diculikin” sama harakah “Jayyid Jiddan”. Lalu para pemimpin harakah “Jamiil Jiddan” ngomong ke orang-orang harakah “Jayyid Jiddan”: “Woi, ikhwan-ikhwan Jayyid Jiddan! Antum ini kehabisan stok akhwat ya? Masa nikahin akhwat kita terus!? stok SDM akhwat kita udah mulai berkurang nih gara-gara antum culikin satu-satu! Kita tekor!” Ironis memang, bila memang ada kejadian seperti itu, mengisyaratkan sebuah tafarruq (perpecahan) antar Ummat Islam yang semestinya menjalin persatuan walapun berbeda harakah atau jama’ah. Inilah sisi urgennya sesuatu yang mungkin selama ini dianggap sepele.

Pernah suatu hari, tepatnya tanggal 14 November 2009 hari Jum’at sekitar pukul 16.00 bertepatan saya habis menyelesaikan UTS mata kuliah Psikologi Abnormal. Saat itu saya ditelpon oleh seorang akhwat, kebetulan akhwat ini seorang aktivis dari sebuah harakah Islamiyah yang cukup ternama. Ceritanya si akhwat ini “ngelabrak” saya tentang ulah ikhwan-ikhwan salafy yang kerap kali “menculik” akhwat harakahnya. Maklum, karena oleh akhwat ini saya dianggap sebagai person yang bisa mewakili komunitas salafy karena dia pernah tahu literatur-literatur yang sering saya baca dan style saya yang berjenggot walau masih sedikit plus celana ngatung. Saya sendiri bingung harus menjawab apa, karena saya sendiri belum tahu apa-apa tentang metode yang digunakan kawan-kawan salafy untuk menuju jenjang pernikahan. Kalau di komunitas Tarbiyah/PKS jelas dengan metode saling tukar biodata lewat murabbinya masing-masing. Paling banter yang saya tahu kawan-kawan di komunitas salafy ini kalau sudah berniat menikah menggunakan metode “jantan”, langsung datang ke orangtua si akhwat.


Pada sore itu terjadilah dialog kurang lebih sebagai berikut ini,

Akhwat: Kang, kenapa sih ikhwan-ikhwan Salafy nikahnya sama akhwat-akhwat harakah kita!?

Saya: Lho, mana saya tau? Mungkin mereka kehabisa stok akhwat, karena kalau yang saya tahu perbandingan ikhwan dan akhwat salafy memang lebih banyak ikhwannya, terlihat waktu di beberapa kajian mereka akhwat yang datang memang relatif sedikit. Mungkin karena stoknya memang sedikit mau ngga mau harus nyari yang lain. Nah tentunya mereka juga ngga pengen yang belum terbina keislamannya, yang paling dekat tentunya ya dari harakah tempat anti berafiliasi di dalamnya.

Akhwat: However mereka itu saudari-saudari saya, dan saya agak ngga rela kalau saudari-saudari saya tersebut “dicuci otaknya” untuk pindah harakah lain karena dengan terpaksa mengikuti suaminya

Saya: Lho, salah akhwat-akhwat itu donk. Kenapa mereka menerima si ikhwannya itu? kenapa ngga menolaknya? Sebelum akad terjadi kan masih ada hak untuk menolak? Mestinya si akhwat itu sudah bisa memprediksi konsekuensi menikah dengan ikhwan dari harakah lain, konsekuensinya yaitu si akhwat         ini akan pindah jama’ah dan bergabung dengan jama’ah si suaminya, kalau dia masih ingin konsisten dan istiqomah dengan harakah yang dia berafiliasi di dalamnya dia ngga perlu menikah dengan ikhwan harakah lain, kalaupun datang ikhwan dari harakah lain untuk melamar ya tinggal tolak aja.

Akhwat: Ya tapi dalam beberapa kasus si ikhwan ini datang tepat ketika akhwat ini sudah dituntut untuk segera menikah karena faktor usia atau karena faktor lainnya. Mau ngga mau dengan terpaksa akhwat ini ya mau-mau aja nerima lamarannya.

Saya: (Setelah itu saya lupa menjawab apa. Yang jelas saya tidak bisa menjawab apa-apa hanya sedikit mengalihkan pembicaraan ke topik lain, karena percakapan kita kali itu jadi merembet ke permasalahan perselisihan antar harakah lainnya).


Atau dalam kasus lain saya punya kenalan seorang ikhwan. Dia curhat sama saya bahwa dia sudah sangat jatuh cinta pada seorang akhwat yang berafiliasi di harakah yang berlainan dengan si ikhwan ini, cintanya pun bergayung sambut, akhwatnya juga sudah mencintai si ikhwan ini, keduanya pun saling mencintai. Inginnya sih, dia meneruskan ke jenjang pernikahan. Apa daya, dengan sangat berat hati mereka harus rela untuk “berpisah” dan tidak jadi melanjutkan ke jenjang pernikahan karena di antara keduanya punya prinsip yang berbeda dan masing-masing tetap keukeuh dengan idealismenya. Jadilah “jurang pemisah”, “tembok pemisah”, atau apapun itu namanya yang membuat mereka sulit untuk bersama karena perbedaan idealisme, karena bagi seorang idealis, idealisme di atas segalanya.

Saya benar-benar bisa memahami betapa pedihnya hati mereka, namun di sisi lain terkadang saya geli mendengar kasus seperti ini, kasus seperti ini kelihatan konyol. Bagaimana tidak? Hanya gara-gara beda harakah tidak jadi nikah, kasus seperti ini tidak ada dalam sejarah generasi awal ummat Islam, namun tetap saya bisa memahami betapa sulitnya bila mereka berumah tangga nanti, banyak perbedaan yang tidak bisa dikompromikan di antara mereka berdua. Tetapi, ada satu SMS yang dia kirimkan yang isinya membuat saya tergugah akan pentingnya sebuah ukhuwah, “Saya suka kesal dengan fitnah zaman ini! Kenapa kita berpecah-belah seperti ini? Seandainya kita punya satu imam, kita tidak  perlu berkelompok-kelompok seperti ini, sehingga kita bisa melanjutkan hubungan ini.” Dari panjang lebar curhatan dia, saya sempat berpikir seandainya kasus mereka dibuat novel atau semacam cerpen, saya pikir cukup bagus, mungkin bisa dengan judul “Fitnah Tafarruq Memisahkan Cinta Dua Insan”, atau “Dilema Cinta Aktivis Da’wah”, atau apapun itu. (He..he…he…)

Beberapa Pandangan

Sebagai seorang Muslim tentunya satu-satunya pandangan adalah pandangan menurut Al-Qur’an dan Assunnah, atau mau lebih lengkapnya lagi Al-Qur’an dan Assunnah menurut pemahaman generasi salafushalih. Bila kita memegang prinsip Al-Walaa’ wal Baraa’ (Loyalitas dan Anti Loyalitas), tentunya sesama mu’min kita harus menaruh Walaa’ (loyalitas) seperti rasa kasih sayang, cinta, persaudaraan. Disini saya merujuk pada bukunya Muhammad ibn Sai’d Al-Qahthani yang berjudul Min Mafahim Aqidatis-Salaf Ash-Shalih: Al-Walaa’ wal Baraa’ Fil Islam, dengan judul terjemahan “Al-Walaa’ Wal-Baraa’ : Loyalitas dan Antiloyalitas Dalam Islam”.

Untuk pemaparan masalah dalil dari Al-Qur’an dan Assunnah atau beberapa Atsar silakan rujuk buku tersebut, karena kalau dipaparkan di sini terlalu panjang maka saya tidak memaparkannya di sini. Intinya ada sebuah kaidah yang sangat penting yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Al Qahthan, yaitu sebagai berikut: “Ahlussunnah wajib walaa’ terhadap orang-orang beriman yang memegang teguh Al-Qur’an dan Assunnah, ada pun terhadap ahlul bid’ah maka kita tetap menaruh walaa’ terhadap mereka karena keimanan mereka namun kita tetap membenci perbuatan maksiat dan bid’ah mereka. Kita tetap menjalin hubungan dengan mereka (ahlul bid’ah) dan menunaikan hak-haknya sebagai seorang muslim. Kita tetap bermuamalah terhadap mereka (ahlul bid’ah), berjual beli dengan mereka, mengucapkan salam, membantu dalam hal yang ma’ruf, saling menikahi, dan lainnya. Adapun bid’ah yang sampai mengeluarkannya kepada kekafiran maka sikap seorang Ahlussunnah adalah memusuhi, membenci, serta jihad terhadap mereka setelah terlebih dahulu memberikan peringatan, sikap baraa’ dari mereka tidak berbeda dengan sikap baraa’ terhadap orang kafir yang asli.”

Alasan saya paparkan kaidah di atas karena dua hal:

Pertama, kaidah yang saya paparkan tersebut adalah kaidah dasar bagaimana semestinya seorang muslim berinteraksi dengan sesama muslim, sampai yang kita anggap ahlul bid’ah sekalipun. Karena kita masih tetap harus menaruh walaa’ dengan rasa cinta, kasih sayang, dan persaudaraan walaupun dia seorang ahlul bid’ah, namun tentunya kita harus tetap membenci perilaku maksiat dan bid’ahnya.

Kedua, saya masih melihat adanya sebuah kelompok atau komunitas yang terlalu berlebihan dalam menjauhi dan memboikot yang mereka anggap ahlul bid’ah yang sebenarnya masih Muslim juga dan hak-haknya wajib ditunaikan. Di antara perilaku mereka adalah sangat apriori sekali ketika menerima pemahaman dari luar kelompoknya, selalu bermuka masam ketika bertemu dengan ikhwah dari jama’ah lain, mencela habis-habisan dan membuka aib tokoh-tokoh dari harakah lain sampai menjatuhkan kehormatannya (perilaku yang semestinya ditujukan kepada orang-orang kafit tapi malah ditujukan kepada sesama muslim), sampai-sampai enggan untuk tidak mengucapkan atau menjawab salam padahal masih sesama muslim juga. Dan yang tak kalah penting, terhadap ahlul bid’ah pun karena memang masih sesama muslim tentunya boleh untuk menikahinya (kalo udah nikah harus diarahkan untuk menjadi ahlussunnah ya…).

Coba perhatikan kaidah di atas. Artinya boleh saja menikah dengan ikhwan/akhwat yang beda harakah, dan tidak ada satu dalil pun yang melarangnya, bahkan benar-benar keterlaluan bila sampai ada yang mengharamkannya, dan ini benar-benar bid’ah yang diada-adakan, na’udzubillah. Interaksi kita terhadp harakah lain, bahkan terhadap harakah yang kita anggap ahlul bid’ah adalah tetap menunaikan hak-haknya sebagai seorang Muslim seperti kaidah di atas, termasuk dalam masalah saling menikahi. Hanya saja tentunya bagi seorang ikhwan atau akhwat bila menikahi dengan seseorang dari harakah lain yang dianggap ahlul bid’ah yang terbayang di benaknya tentunya adalah bagaimana dia akan mengubah pasangan hidupnya ini agar sesuai dengan pemahamannya? Dengan kata lain mencoba untuk mengubahnya agar sesuai manhaj kelompoknya.

Adapun dalam kasus lain ada beberapa ikhwan atau akhwat yang tidak mau menikahi orang-orang yang mereka anggap ahlul bid’ah dengan alasan repot atau khawatir tidak bisa mengarahkan/membina pasangan hidupnya untuk menjadi seorang ahlussunnah, karenanya lebih baik menikahi dengan orang-orang yang sudah ahlusunnah duluan. Semuanya sah-sah saja. Yang penting bagaimana bisa berumah tangga sesuai tuntuanan Islam. Ya kan?

Dari pengalaman-pengalaman saya yang telah saya ceritakan di atas setidaknya saya menangkap beberapa pandangan tentang fenomena menikah beda harakah/fikroh, yaitu sebagai berikut:

[1] Nikah beda harakah itu boleh-boleh saja. Alasannya kalau pernikahan hanya dibatasi dan dipasahkan hanya karena beda harakah itu tidak ada dalilnya, alias bid’ah yang diada-adakan. Alasan ini menurut kaidah yang telah saya sebutkan di atas adalah tidak salah.


[2] Jangan menikah dengan orang yang beda harakah. Alasannya banyak benturan yang akan terjadi yang membuat tidak harmonisnya rumah tangga.


[3] Nikah beda harakah itu boleh-boleh saja, secara fiqh pun tidak bermasalah. Hanya pertimbangkan juga kemaslahatannya. Jangan samapi timbul percekcokan antar harakah. Lebih baik menikah dengan sesama harakahnya, karena pasutri ini bisa lebih senergis dan lebih bisa menyatukan kekuatan da’wah. Pendapat ini menurut kaidah yang telah saya sebutkan di atas juga tidak salah.


Sebuah Ide Sinergisitas

Dari semua pandangan tersebut, boleh kan saya juga mengemukakan pandangan? Pandangan saya yang ini sedikit inovatif mungkin. Hanya saja boleh dibilang pandangan ini masih dalam tataran konseptual, masih abstrak, alias belum punya definisi konkret dan operasionalnya. Tentunya kalau mau dicoba juga tidak sedikit resikonya, tapi kalau berhasil bisa membangun kekuatan Ummat yang sangat dahsyat! Dan membuat musuh-musuh Islam menjadi gentar! (Insya Allah). Pandangan ini terinspirasi dari seorang ikhwan haraky juga, tapi alhamdulillah dia sangat terbuka dengan pemahaman-pemahaman harakah dan komunitas Islam lain. Saat ini beliau sedang menempuh pendidikan di Libya.

Pada intinya ikhwan ini pernah mengemukakan pandangannya kepada saya, sebagai berikut: “Bahwa suatu saat memang perlu ada yang bisa mempersatukan kekuatan ummat, entah dengan cara apa, tidak hanya secara formal dalam forum-forum tertentu. Bisa jadi dengan jalur pernikahan, namun saat ini belum ada yang berani melakukannya.” Bertolak dari pernyataan beliau tersebut maka saya jadi terinspirasi untuk mengiyakan pernyatan beliau, bukan berarti saya akan melakukan “kawin silang” dengan akhwat harakah lain, sejujurnya saya pun belum berani mengambil resiko menikah dengan akhwat harakah lain. Hanya saja saya sepakat dengan pernyatan beliau tersebut bahwa suatu saat perlu menjalin ikatan ukhuwah antar harakah, salah satunya dengan jalan “kawin silang”. Jadi jangan melulu “kawin silang” ini dicurigai sebagai momok menakutkan yang bias menyebabkan karamnya bahtera rumah tangga.

Menjalin ikatan ukhuwah antar pergerakan tidak hanya dengan cara membentuk aliansi-aliansi antar ormas dan harakah Islamiyah seperti yang sering kita lihat saat ini, apalagi hanya sebatas bila ada momen-momen tertentu saja. Bila dengan jalur pernikahan ukhuwah yang dijalin akan lebih intens karena unsur terkecil dari sebuah komunitas yaitu keluarga, setiap harinya terus berinteraksi. Kemudian bisa lebih menguatkan ukhuwah dan saling empati terhadap pemahaman masing-masing, seperti halnya kerajaan-kerajaan zaman dahulu di Indonesia ataupun di Eropa yang sering menjalin persahabatan antar kerajaan dengan mengawini pangerannya dengan putri dari kerajaan lain. Dalam konteks harakah Islamiyah sekarang ini, hal itu mungkin saja. Justru itu bisa menjadi pemantik atau pelopor menuju konsep Ummat Islam di bawah satu kepemimpinan seperti konsep Khilafah Islamiyah (Semoga Allah mempercepat untuk tegaknya Khilafah Islamiyah. Amiin). Dasarnya, karena sebelumnya mereka sudah terbiasa untuk berukhuwah. Bila ukhuwah ini terjalin dan tidak lagi ada perselisihan, percekcokan, atau tafarruq (perpecahan), saya yakin betapa dongkolnya dan kesalnya musuh-musuh Islam, betapa kesalnya orang-orang Yahudi laknatullah ‘alaihim. Dalam prinsip Al-Walaa’ Wal-Baraa’, kita harus menaruh Walaa’ kita kepada sesama ikhwah yang berbeda jama’ah sekalipun dengan cara menjalin ikatan ukhuwah, dengan ikhwah yang kita anggap ahlul bid’ah sekalipun, dengan catatan tetap membenci kemaksiatan dan bid’ahnya. Namun, tentunya terhadap sebuah kelompok yang bid’ahnya sudah diluar batas dan mereka cenderung ngeyel dengan pemahaman sesatnya, tentu agak sulit menjalin ukhuwah dengan kelompok yang seperti itu.

Memang secara umum dalam rumah tangga pasutri yang berbeda harakah jelas akan terdapat perbedaan pemahaman dan persepsi akan beberapa hal. Bisa berakibat konflik pada rumah tangga yang akan dibina, dan tidak akan harmonis rumah tangganya bila tidak ada kesepakatan yang solid dan sama dalam hal-hal tertentu. Jadi resikonya memang harus bersiap-siap sering berselisih, namun itu semua bisa diminimalisir dengan kedewasaan bersikap dan saling memahamkan yang paling mendekati kebenaran (Al-Qur’an dan Assunnah).

Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak ada manusia yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) seperti Nabiyullah Muhammad ibn Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau sempurna ibadahnya seperti malaikat. Yang menjadi konten pada sebuah wadah pergerakan tentu saja manusia yang tidak ma’shum tersebut. Setiap harakah tentunya tidak seratus persen sempurna, selalu saja ada kekurangannya. Bahkan sebuah komunitas yang mengaku paling ahlussunnah pun hobinya mentahdzir dan mencela habis-habisan dengan lidah apinya sehingga membuka aib-aibnya dan menjatuhkan kehormatan Muslim lainnya. Sebuah pergerakan yang mungkin kita anggap ahlul bid’ah pun kontribusinya terhadap ummat Islam di Indonesia tidak bisa kita pungkiri, mereka juga berjasa terhadap kebangkitan Islam. Tidak ada jama’ah malaikat, yang ada hanyalah jama’ah manusia yang tentunya memiliki kesalahan dan kekurangan. Sebuah patologi harakah adalah biasanya mereka cenderung ta’ashub atau fanatik golongan, mereka enggan menerima pemahaman dan kritikan dari jama’ah lain, merasa dirinya paling benar bahkan sampai ada yang hobinya menyalah-nyalahkan kelompok lain. Sebuah patologi yang bisa menyulut tafarruq (perpecahan), padahal semestinya ummat Islam ini bersatu dan menjalin ukhuwah. Menerima kritikan atau pemahaman dari kelompok lain sebenarnya sangat konstruktif sekali bagi sebuah harakah Islamiyah, mengakui kontribusi jama’ah lain terhadap kebangkitan Islam dan meng-copy metode da’wah jama’ah lain juga sangat konstruktif demi memajukan sebuah harakah Islamiyah.

Saya berikan sebuah contoh yang sedikit konkret. Di Indonesia, tentunya kita mengenal ada beberapa jama’ah yang sangat bagus sekali dalam bidang keilmuan (yang dimaksud adalah ilmu syar’i), mereka rajin sekali mengakaji kitab-kitab para ulama, meraka hafal dalil-dalil Al-Qur’an dan Assunnah di luar kepala, dalam tampilan dan sikap sehari-hari pun mereka selalu waraa’ (berhati-hati) khawatir keluar dari jalur syari’at, memandang segalanya serba idealis sesuai dengan syari’at, tentunya keistiqomahan mereka tidak kita bisa ragukan, patut kita acungi jempol. Namun ternyata mereka ini kurang up to date terhadap realita yang ada, sehingga kontribusi terhadap ummat pun kurang. Mereka jadi cenderung eksklusif karena tidak tahu kabar-kabar yang up to date, bergaul dengan masyarakat yang awam pun jadi canggung, bahkan bisa diperparah dengan sikap mereka yang hobinya mentahdzir, melecehkan, dan menjatuhkan kehormatan  tokoh-tokoh Muslim lainnya. Sehingga ada yang menyebut mereka bagaikan keledai yang memabwa lembaran-lembaran kitab, ilmunya bermanfaat tapi kontribusinya terhdap ummat sangat sedikit bagaikan keledai. Singkat kata mereka bagus dalam keilmuan namun kurang bisa memahami realita dan kontribusinya terhadap ummat sangat minim.

Di sisi lain, ada pergerakan yang kader-kadernya minim sekali dari segi bekal keilmuan sehingga aksi-aksinya sering mendapat kritikan dari jama’ah lain karena ketidak syar’i-annya, mereka memiliki semangat juang yang luar biasa namun minim dari segi keilmuan, tetapi tidak bisa dipungkiri kontribusi mereka terhadap ummat cukup besar. Singkat kata, kelompok yang satu ini memiliki semangat juang yang tinggi dan keontribusinya terhadap ummat tidak bisa diremehkan, namun masih saja ada dari mereka yang minim dari segi perbekalan keilumannya yang berakibat dalam aktivitas mereka terdapat hal-hal yang kurang syar’i. Sayangnya realita yang saya dapati kedua kelompok ini justru malah saling tahdzir, saling menyalahkan, cekcok, saling membid’ahkan, intinya terjadi perpecahan. Kelompok yang pertama mengatakan kepada kelompok yang kedua bahwa kelompok kalian ini bid’ah, sesat, dhalal, tidak sesuai Assunnah. Sebaliknya kelompok yang kedua mengatakan kepada kelompok yang pertama ini bahwa kalian ini tidak realistis, terlalu idealis, tidak mengerti akan realita, tidak memahami kebutuhan ummat.

Perkawinan antara melon dan semangka tentu akan menghasilkan buah yang sangat lezat (Maaf, ini hanya sebuah analogi, saya sendiri bukan ahli biologi sehingga saya tidak tahu apakah melon dan semangka bisa menghasilkan buah bila dikawinkan? Kalaupun berbuah saya sendiri tidak tahu apakah buahnya memang lezat atau tidak?). Senergisitas antara dua kelompok di atas bisa menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Sinergisitas antar dua kelompok ini bisa saling melengkapi satu sama lain, yang satu paham dari segi syar’iyyah yang satu memahami dari segi realita dan selalu up to date. Kedua kelompok ini bisa saling menasehati dengan cara yang ma’ruf, dengan cara yang hikmah, dan dengan maw’izhatil hasanah. Kelompok yang satu bisa menasihati kelompok yang satunya lagi, “Akhi, bila mengadakan event seperti ini sepertinya kurang syar’i karena pertimbangan beberapa hal, dalilnya adalah ini, itu, dan lainnya…” Kemudian kelompok yang mendapat nasihat berpendapat, “Syukron nasihatnya Akhii, kita juga mempertimbangkan beberapa maslahat, karena tujuan event itu adalah agar saudara-saudara kita sesama muslim yang masih awam bisa lebih tertarik terhadap Islam.” Kemudian dengan serta merta tentunya mereka bisa mempertimbangkan segi maslahat dan madharatnya, mana yang lebih besar maslahatnya mana yang lebih ringan madharatnya, sehingga terjadilah kesepakatan yang tidak menzhalimi salah satu di antara dua kelompok tersebut.

Sinergisitas seperti di atas dan jalianan ukhuwah tentunya bisa terjadi. Salah satu jalannya dengan saling menikahi. Bagaimana tidak? Unsur terkecil dari sebuah komunitas adalah keluarga, sebuah keluarga tentunya sangat intens interaksinya, boleh dibilang hampir 24 jam, walau sang ayah baru pulang kerja agak sore. Interaksi antara suami istri yang berbeda harakah bisa membuat mereka saling memahami, saling berempati, dan mendapatkan ilmu baru tentunya, baik itu ilmu syar’i atau pun metode da’wah. Proses saling mamahami, berempati, saling berbagi nasihat yang berujung jalinan ukhuwah yang kuat antara dua komunitas akan diteruskan oleh mereka dalam lingkup keluarga yang intens melakukan interaksi, sehingga jalinan ukhuwah semakin erat. Dengan kata lain dari interaksi komunitas meng-influence lingkup keluarga dan dari interaksi keluarga meng-influence lingkup komunitas, dalam hal yang baik tentunya. Jadi “perkawinan silang” ini tidak melulu dijadikan momok yang memeberatkan bagi pata kativis da’wah. Sehingga sinergisitas da’wah dan ukhuwah antar harakah bukan tidak mungkin akan terjalin.

Sekali lagi ini baru sekedar tataran konseptual dan masih abstrak. Kalau mau dioperasionalkan harus dipertimbangkan dengan matang dari berbagai segi tentunya. Kalau saya pribadi belum berani mengoperasionalkannya mengingat resiko yang tidak kecil. Anda berani? Bahkan mungkin butuh metode penelitian khusus untuk bagaimana mengoperasionalkannya. Bagi mahasiswa tingkat akhir yang punya idealisme keislaman dan berkiprah di bidang sosial, siapa tahu wacana ini bisa jadi inspirasi untuk menyusun skripsi, he…he…he…

Wallahua’lam bishawwab.

Oleh Aziz Ilyas, mahasiswa Unisba Bandung.

Dengan perbaikan redaksional tertentu.

Iklan

39 Responses to Nikah Beda Jamaah? Gimana Ya?

  1. Insan berkata:

    Assalamualaykum.

    Topik yang sangat menarik. Nikah beda harakah itu adalah salah satu penyebab konflik antar umat Islam. Dalam hal ini saya berpandangan sebaiknya nikah beda harakah ditinggalkan saja, karena tidak mungkin dalam satu rumah tangga terdapat 2 pemahaman yang berbeda, akibatnya rumah tangga yang seharusnya sakinah, mawadah ,warahmah, malah menjadi sering berselisih paham.

    Bayangkan saja apa mau rumah tangga yang idealnya harmonis, tiap hari diwarnai perdebatan misal pandangan mengenai pemilu, saya contohkan suaminya dari salafy dan istrinya dari aktivis tarbiyah/PKS, suami bilang pemilu itu haram, sedang istrinya punya persepsi pemilu adalah satu instrumen untuk mengakomodir aspirasi umat Islam yang sangat maslahat. Dari hal2 yang biasa saja sudah membuat kacau rumah tangga, apalagi hal2 yang fundamental.

    Tapi saya yakin akhwat tarbiyah/ PKS lebih cerdas dan selektif dalam memilih calon suami. Satu hal yang perlu digarisbawahi, akhwat yang sudah punya pandangan modern ke depan dan realistis
    dalam membangun peradaban religius, tidak akan mau punya pemahaman kembali ke zaman salafush shalih yang sangat sangat kolot dan jauh dari post-modernisme yang kental dengan manusia religius-kreatif-inovatif-progresif.

    Dan implikasinya, khawatir akhwat tarbiyah yang dinikahi ikhwan salafy jadi sering mengeluh, kesal, jenuh, dan mengalami kebosanan dengan pemandangan rumah tangga yang tidak ada improvisasi untuk lebih progres, sebab komunitas salafy identik dengan hidup konservatif ala salaf yang tidak relevan dengan era sekarang yang berbuah total dengan peradaban progresif-modernis.

    Lebih fatal lagi ketika ada para lelaki non-muslim jauh lebih punya pandangan yang progresif-modernis dalam membangun sebuah peradaban kehidupan, bisa2 banyak wanita muslimah yang menikah dengan lelaki non muslim, karena apa, karena lelaki non-muslim lebih konkret-realistis dalam bertindak satu hal, dan para lelaki muslim dikalahkan oleh lelaki non-muslim yang punya wawasan universal-komprehensif bukan dikotomis-parsial.

    Dari kasus akhwat yang “diculik” oleh ikhwan-salafy, maka perlu ditelusuri, apakah ikhwan religius yang punya hidup modernis dan ilmu universal sudah tidak ada? Dari sekian banyak harakah saya yakin masih banyak ikhwan-harakah yang lebih kreatif-inovatif.

    Jadi bagi para akhwat yang merasa progresif-modernis kenapa musti nikah dengan ikhwan yang punya hidup kolot, kalau ingin rumah tangganya tidak jenuh dan bosan/ kaku.

    Dan ini menjadi tamparan bagi para ikhwan, kalau ingin maju bersaing dengan lelaki non-muslim kenapa harus menjadi lebih konservatif/ kolot hanya demi menjaga sunnah Rasul, karena belum tentu hidup kolot/ konservatif itu sesuai sunnah.

  2. Ana Jiddan berkata:

    ya klo gt, ikhwa2 salafy yg kolot itu ga usah dinikahi sama akhwat haraky, hehe…

  3. ibnu_ahmad berkata:

    wah , ane nikah dengan akhwat salafy gak masalah tuh , malah tambah banyak temenya suami suaminya temen istri ane

  4. abisyakir berkata:

    @ ibnu ahmad.

    Alhamdulillah Akhi, teruskan langkah Antum. Barakallah fikum wa ahlikum ajma’in.
    Atau, siapa tahu Antum sudah kepikiran “kandidat” baru… he he he. Becanda Akhi.
    Jangan dianggap serius ya!

    AMW.

  5. adawiyah berkata:

    bismillah

  6. adawiyah berkata:

    bismillah…. na’am akh. tema nya sangat menarik karena hal itu banyak terjadi pada jaman sekarang pdahal pda generasi salaf dan para sahabat tak ada hal2 spt itu.. slama dia islam dia boleh menikah sesema muslim.. munrut ana jika ingan menikah dengan yang beda harakah.. di pikir dulu mudharat dan manfaatnya… tp di daerah ana,, kbanykan ikhwan maupun akhwat salafi pengen cari yg sesama harakhnya krna lebih mudah menyatukan pmikiran.. pg kajian sma2 dll.. tapi untk menanggapi komentar akh/ukh insan jgn menggp ikhwah2 slaf pd kolot,, dan bnyak ikhwah salaf yang knal tekhnologi dll..berjiiwa bisnis..dan ikhwah salaf bnar2 memurnikan ajaran2 yang d bawa Rasulullah.. benar skali sabda Rasul kita.. bahwa ada pda suatu zaman yang mana jka kita mengamalkan sunnah bagai mengenggam bara api,jadi serba salah.. ya spt yg ikhwah salaf jalanin di kira orang kolot, d hina dll.. sbagaimana yang di katakan imam bukhari yang judulnya..”berilmulah sebelum berucap dan beramal”…wallahua’lam.

  7. joko berkata:

    Wah jadi pingin nich “kawin silang”.

  8. Ana Jiddan berkata:

    @Adawiyah
    Hemmmm… Pelik juga ya permsalahannya. Sepertinya maksud Insan bukan menghina, tapi lebih kepada berupaya mendimanisasikan ummat ISlam dengan realita yang progressif dan modernis sehingga tdk ketinggalan zaman dengan prang2 kafir yang lebih dahulu progresif peradabannya. Ini mah husnuzhann ana sama Insan aja yaaa, Wallahua’lam maksud beliau seperti apa.

  9. Insan berkata:

    @ Adawiyah

    Saya juga tau hal itu, tetapi yang menjadi masalah adalah kejarangan komunitas salafy yang pandai melakukan improvisasi dan dinamisasi berpikir dalam menjawab tantangan modernitas zaman. Bukankah Islam mengajarkan dinamisasi berpikir dalam menyelesaikan suatu problem, bukan kekakuan bersikap dan berpikir?

    Bagi saya tidak ada ikhwan-salafy yang berpikir kreatif-inovatif soal nikah. Sebab jarang sekali saya melihat ada ikhwan-salafy yang terbuka dengan kehidupan seorang akhwat, buat sekedar sharing atau diskusi tentang Islam. Adakah ikhwan-salafy yang berani mengungkapkan ekspresi hatinya atau perasaannya terhadap akhwat yang dicintainya tanpa murrabi atau perantara orang ketiga sebelum menikah? Atau ikhwan-salafy yang ingin ta’aruf dengan akhwat yang akan dinikahi tanpa melalui perantara? Sangat – sangat jarang kan. Kalaupun ada, mungkin minoritas.

    Lalu kenapa tidak berpikir kreatif-inovatif dalam berstrategi mandiri kalau ingin menikah? dan kenapa harus repot-repot melalui perantara untuk sekedar ta’aruf saja? Bagaimana mungkin masalah asmara seseorang diatur-atur orang lain, sehingga orang yang akan menikah, mengalami ketidakpuasan saat ta’aruf, karena diotorisasi orang lain. Bagi saya, sebagai seorang ikhwan, ini sebuah “kebebalan realita” atau membelenggukan diri dalam penjara batin, bahkan suatu format kekakuan dan kebekuan berpikir seorang muslim yang tunduk pada konservatisme ala salaf.

    Sebuah keterbukaan perasaan, curahan hati, jiwa, dan pikiran terhadap lawan jenis adalah hal yang paling asasi dan agung yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Orang tua, teman dekat, tetangga, murrabi tidak berhak menentukan pasangan yang ideal bagi seseorang, karena hal ini masalah “the taste of indivual”. Sehingga tidak bisa atas nama agama, perasaan hakiki itu dibelenggu, artistik dan estetika romantika itu disembunyikan dulu, lalu saat menikah banyak diekspresikan, sementara agama itu membebaskan manusia untuk mengatur kehidupan duniawi tanpa melepaskan dogma itu sendiri.

    Bagi saya bila ada seorang muslim yang sebelum menikah, proses ta’arufnya mandiri tanpa melalui murrabi/ orang terdekatnya, dengan sepuas-puasnya tanpa mereduksi nilai substansial Islam itu sendiri, sampai saling mengenal betul karakter – karakter tersembunyi dari pasangan yang akan dinikahinya atau lewat media pacaran dahulu adalah hal yang progresif-modernis. Karena setiap individu punya tendensi untuk memiliki sifat dan sikap yang dirahasiakan terhadap orang lain. Sehingga tidak jarang karakteristik otentik yang negatif pada pasangan sering muncul saat sudah menikah, akibatnya rumah-tangga selalu diwarnai keributan. Inilah kebebalan realita sebenarnya.

    Alternatif pacaran mungkin bisa menjadi instrumen krusial dalam menentukan pasangan hidup tanpa melepaskan ikatan dogmatisme Islam itu sendiri, karena Islam ialah agama yang bisa melakukan religiusasi berbagai hal yang mashlahat bagi umat, contoh dengan formula filterisasi hal – hal kontradiktif dalam pacaran dengan Islam, maka bisa menjadi pacaran Islami. Ini baru sebuah contoh dinamisasi berpikir yang progresif-modernis.

    Jadi tidak salah pacaran yang berasal dari produk barat banyak digandrungi muda-mudi Islam, bukan kultur nikah yang diminati..

  10. salafiyun berkata:

    kalo ikhwan/akhwat “salafi sejat” nggak bakalan nikah dg org di luar kelompoknya. Alasanny? Gimana nglamar & ta’arufnya kan di luar kelompoknya harus diHAJR? Gimana ngomongnya? Atau… mungkin kalo urusan TAHTA,HARTA,WANITA ada pengecualian kali ya?

  11. Arek Suroboyo berkata:

    weleh weleh baru urusan nikah aja dah bingung apalagi masalah yang lebih fundamental ……… mudah2an IMAM MAHDI cepet datang biar umat Islam bersatu … Allahu Akbar !!!

  12. Ana Jiddan berkata:

    @ Arek Suroboyo
    Iya akh, bingungin ya? masalahnya nikah juga hal yang cukup fundamental, jadi ga bisa sembarangan cari pendamping hidup…
    Amiin, mudah2an Imam Mahdi cepat datang
    Allahu Akbar!!

  13. adam berkata:

    assalaamu’alaikum
    secara fiqh sepengetahuan saya tidak ada masalah..
    namun kalau dilihat dari segi maslahat dan mafsadat sebaiknya dihindari saja daripada terjadi konflik2 internal di dalam keluarga yang sebenarnya tidak perlu terjadi..

    mungkin ada yang mengatakan, “mungkin saja selama saling toleransi dalam hal yang diperselisihkan”. tapi saya kira akan tetap sulit, apalagi setiap jamaah menganggap kelompoknyalah yang paling benar. Akhirnya bukannya saling bahu membahu malah saling mempengaruhi satu sama lain …

    bagi yang hendak mencari pasangan, carilah yang terbaik menurut Anda. tujuan pernikahan adalah untuk ibadah.

    wallahu a’lam

    @mas insan, anda mengatakan
    tidak akan mau punya pemahaman kembali ke zaman salafush shalih yang sangat sangat kolot dan jauh dari post-modernisme yang kental dengan manusia religius-kreatif-inovatif-progresif.

    —————–
    maaf, tampaknya anda perlu mengkaji lebih dalam lagi seputar pengetian kembali kepada pemahaman salafus sholeh.

  14. asih berkata:

    Seru banget!
    Saya dukung ide sistemisasi “..” nya! Tentunya, dengan pondasi akar yg benar. Ayo2, Bung diresearch!

  15. Na' berkata:

    G pa2 kan nikah beda jamaah. Jodohkan Qadarullah.
    Tp tetep brusaha.hhehehe…
    Smangat,. smangat!!!
    Smoga diberi yg tbaik..

  16. hendra berkata:

    klo udah jodoh ga akan kemana-mana… hehehe..
    mo tarbiyah ato salafy…. semoga Allah memberikan yg terbaik sbagai pasangan kita kelak…

    buat insan: antum terlalu pinter seh, akn lebih baik bl belajar lg tentang salafush sholeh, biar lebih ati-ati lak ngomong

  17. ikhwan berkata:

    Afwan akhi wal ukhti, ana gak setuju perbedaan harokah atau firqatulislaam jadi alasan untuk tdk mnikah, kan perbedaanya cuman idealis/cara pandang fiqh islam yag berbeda, namun prinsip ketauhidan itu yang gk boleh beda

  18. Kautsar berkata:

    Assalamu’alaikum..

    Tulisannya bagus akhi, maaf saya baru sempat baca & mohon izin tuk share ya. Syukron..

    Wassalamu’alaikum

  19. abisyakir berkata:

    @ Kautsar…

    Tafaddhali, monggo kewamon, mangga diangge, silakan aja, OK no problem, mbtenu ngabanglne smlewuo (yg terakhir ini “bahasa afrika ngarang”…he he he).

    Admin.

  20. adnan berkata:

    Aslmkm.ust.abisyakir..bskah sy minta almt emailny?ada hal yg penting ustad.jzklh

  21. keylazzz berkata:

    masyaallah… temanya menarik sekali…
    Menikah merupakan ibadah untuk membangun keluarga di atas kerangka agama Islam yang lurus. Karena menikah adalah sebuah ibadah, maka kita harus berkeinginan kuat agar setelah menikah dapat mewujudkan ibadah tersebut yang diiringi dengan ibadah-ibadah lainnya. Dan pastinya, manhaj yang sama lebih afdhal.

  22. ummu nuha berkata:

    ternyata disini ada tulisan seperti ini….
    membuatku ingin………tersenyum 🙂

    pengalaman pak abisyakir-kah?

    izin share yah !
    syukron.

  23. abisyakir berkata:

    @ Keylazz…

    Terimakasih sudah mampir dan share disini. Jazakillah khair.

    Admin.

  24. abisyakir berkata:

    @ Ummu Nuha…

    Wah, Ibu telat baca. Tulisan ini sudah lama kok. Itu bukan tulisan saya, milik seorang mahasiswa Unisba. Dia mirip Sarma Suraj. He he he… Bukan Bu, bukan pengalaman pribadi. Wong istri saya itu “satu pengajian”. He he he… (seri ke-2).

    Admin.

  25. emprit gepeng berkata:

    Afwan..Tadz…ana ditengah saja…..

  26. abisyakir berkata:

    @ Emprit…

    Di tengah gimana sayyid? Maksudnya bapak di tengah; di kiri ibu pertama; di kanan ibu kedua? Begitu maksudnya? Mohon penjelasan. 🙂

    Admin.

  27. Sapu Korek berkata:

    emang beda ya pks sama salafy???

  28. Fulan berkata:

    ga enak menikah dengan beda harakah apalagi ikhwannya dari HTI

  29. Tri Wijayanto berkata:

    nikah karena akidah..

  30. Rini berkata:

    menurut saya g usah jadikan permasalahan asalkan niatnya satu…ikhlas karena Allah…meski beda kl saling tukar pendapat dan saling menghargai tanpa memaksakan kehendaknya…it’s Ok. Pada kenyataanya akan mengajarkan kita bagaimana bersikap bijak…agar tidak adanya perpecah belahan umat islam…sesuai Ar-rum:32-33…kl umat islam sendiri sudah ribet ttg pemikiran…kapan kita bisa memikairkan yang lain yang lebih penting…so, jauhi sikap ashobiyah (merasa golongannya paling baik)…toh, tiap golongan sudah ada pegangannya sendiri..sendiri…Perdamaian-perdamaian…:)

  31. mhilal berkata:

    Beda harakah? harakat dlommah apa kasrah? :mrgreen:

  32. Menarik..
    ada teman juga yang ngajak diskusi tentang ini..walaupun saya sendiri belum nikah..he

  33. K berkata:

    Berali kali saya pun memikirkan hal ini, namun pada akhirnya pilihan selalu jatuh pada “tidak menikah dengan yang berbeda harakah”. Apalagi saya adalah muslimah, pasti harus mengikuti suami setelah menikah. Jikapun masing2 tetap dalam harakahnya, masalah baru akan timbul ketika mempunyai anak nanti atau bahkan dakwah ke masing2 keluarga. Di satu sisi memang tak ingin ada paksaan, tapi apa yang kita yakini tentu ingin kita sampaikan pada orang2 terdekat. Karena ketika kita memegang suatu hukum maka itu menjadi hukum bagi kita kan? Bagi saya agar tidak ada perpecahan, tak harus dengan pernikahan beda harakah. Karena pernikahan itu jangka panjang dan sangat krusial. Justru karena 24 jam sehari lah, kita perlu yang sefrekuensi.. jangan sampai nanti justru melemahkan.. “selain kesamaan aqidah, kesamaan visi dan misi adalah hal yang utama dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah.”
    Jika sudah ada kaitannya dengan perasaan.. ini cukup sulit, maka dari itu menjaga pandangan itu sangat penting.. jangn sampai jatuh cinta sebelum waktunya sehingga kita mengambil keputusan hanya karena perasaan..
    Wallahua’lam

  34. abisyakir berkata:

    @ K…

    Sebuah pandangan jujur dan obyektif. Terimakasih.

    Admin.

  35. abisyakir berkata:

    @ Wildan…

    Hehehe… Cepetan atuh.

    Admin.

  36. Aisyahrenn berkata:

    Toh sama2 agama islam kenapa harus dipermasalahkan. Islam tidak mempersulit tetapi orang2 yg berselisih itulah yg membuat2 kesulitan. Semoga Allah selalu memberi kita hidayah. Aamiin

  37. fath sa berkata:

    Masya Allah, dari 2009- 2016 waah…
    nimbrung komentar juga lah
    memang ini pembahasan yang menarik dari masa ke masa, dan saat ini saya juga tengah bingung

    Tapi sepertinya seharokah sajalah

  38. agusfa berkata:

    walau udah lewat beberapa tahun,alias udah lama ,, tapi alhamdulillah bisa baca pembahasan yang pembahasannya menarik,,menambah wawasan ilmu..jazakallah khoir…😄

  39. Anonim berkata:

    mohon izin share yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: