Saat SBY Ditinggalkan JK

Baru-baru ini, 20 Februari 2009, di istana Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyatakan kesiapannya untuk menjadi capres Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2009 nanti. Deklarasi kesiapan JK ini memberi efek luar biasa dalam konstelasi politik masa kini. Bukan saja bagi Golkar, bagi Partai Demokrat, tetapi juga bagi partai-partai lain, termasuk PKS yang sejak semula sangat gemas mendesak agar Golkar segera mengumumkan capresnya.

Mari kita sedikit belajar tentang analisis politik. Hal ini sekaligus sebagai bukti bahwa kita bukan antipati dengan politik; tetapi memikirkan bagaimana cara lebih Islami memainkan melodi politik ini.

Kok Presiden Bersaing dengan Wapres?

Banyak orang khawatir, Pemerintahan SBY-JK tidak akan mulus sampai akhir masa bakti kabinet, karena khawatir Presiden-Wapres bersaing dalam Pemilu 2009. Kekhawatiran itu relatif, meskipun dalam konteks demokrasi, ya bisa-bisa saja. Tidak ada keharusan harus seiya-sekata, seiring-sejalan, sampai masa kepemimpinan berakhir.

Lagi pula untuk partai sebesar Golkar, mereka telah memiliki sistem yang kuat, sehingga tidak harus JK diperjuangkan dengan meninggalkan posisinya sebagai Wapres. Justru, Partai Demokrat belum teruji ketangguhan sistemnya. Tapi bagaimanapun, etisnya para politisi Golkar memikirkan bagaimana caranya agar agenda politik mereka tidak merugikan masyarakat Indonesia secara umum.

Ya, inilah realitas demokrasi era Reformasi. Proses perebutan kontrol birokrasi berjalan jauh lebih dinamis daripada di jaman Orde Baru dulu. Salah satu contoh, SBY ketika mencalonkan diri sebagai capres pada Pemilu 2004 lalu, dia mundur dari jabatan Menko Polkam kabinet Megawati. Mungkinkah suatu saat JK akan mundur juga? Ya bisa saja!

Bagaimanapun, jangan karena ambisi kekuasaan, kepentingan masyarakat luas dirugikan. (Tetapi apa artinya harapan ini, wong masyarakat kita sendiri sudah sangat kenyang mendapat ujian-ujian politik).

Golkar Sebagai Partai Gemuk

Istilah gemuk disini untuk menunjukkan bahwa perolehan suara Golkar dari Pemilu 1999 sampai 2004 selalu besar. Bahkan pada Pemilu 2004 lalu Golkar meraih suara tertinggi. Namun besarnya suara Golkar tidak berhasil membuatnya menguasai tampuk kepemimpinan birokrasi. Pasca Pemilu 1999 Wahid dan Mega yang menduduki kursi RI-1, Golkar tidak mendapat pos yang significant. Tahun 2004, Golkar tidak berhasil meraih kursi Presiden, namun hanya mendudukkan Jusuf Kalla di kursi Wapres. Padahal Jusuf Kalla ketika bergandengan dengan SBY, dia seperti politisi yang “tersingkir” dari arus utama politik Golkar. JK waktu itu bisa dianggap sebagai politisi yang bandel, karena bergerak di luar mainstream Golkar.

Orang gemuk biasanya menunjukkan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Tetapi di lain sisi, kelemahan orang gemuk adalah: kurang mampu bergerak lincah. Begitu pula Golkar, suaranya besar, tetapi tidak mampu meraih puncak piramida politik kursi RI-1. Dengan kenyataan seperti ini, tidak heran jika Golkar sangat berhati-hati dalam soal pencalonan capres, khawatir akan semakin trauma dengan peluang RI-1.

Kalau kini Golkar berkata lantang tentang capres-nya, ia adalah sinyal politik bahwa di tubuh partai ini sedang “gemuruh” dengan segala macam aspirasi politik, tetapi pada saat yang ada trauma kalau kalah untuk kesekian kalinya. Seperti orang gemuk, dalam tubuhnya berjalan sekian banyak dinamika biologis, tetapi harus ekstra hati-hati untuk melangkah.

JK Sebagai Capres

Kalau JK akhirnya dicalonkan sebagai capres Golkar, apakah dia siap menjadi seorang Presiden RI? Jawabnya singkat: “Ya, JK siap sekali!”

Apa buktinya? Ya selama menjadi Wakil Presiden RI periode 2004-2009, JK sudah sangat menikmati latihan-latihan sebagai seorang Presiden RI. Sudah bukan rahasia lagi, meskipun SBY-JK merupakan pasangan Presiden-Wakil Presiden, mereka tidak selalu satu pendirian dalam melihat dinamika kepemimpinan nasional dan isu-isu politik yang ada di dalamnya.

Banyak pihak menyebut pasangan SBY-JK sebagai duet yang tidak terlalu harmonis. Persis seperti “Dwi Tunggal” Soekarno-Hatta di masa lalu. Namun sebagai pemimpin negara, baik SBY-JK tidak ingin memperlihatkan perbedaan kepentingan politik mereka.

Kalangan Golkar sendiri sebenarnya tidak memiliki agenda koalisi dengan Partai Demokrat (PD). Ingat, duet SBY-JK bukanlah pilihan yang direkomendasikan oleh DPP Golkar dalam Pilpres 2004. Pasangan yang waktu itu didukung Golkar adalah Wiranto-Shalahuddin Wahid.

Di mata Golkar, perolehan suara PD itu kurang significant, berbeda sekali dengan tabungan suara yang mereka peroleh. Dalam Pemilu 2004 lalu, Golkar memperoleh 24 % suara, hampir seperempat potensi pemilih. Berkongsi dengan PD akhirnya hanyalah pilihan sesuai pragmatisme politik. Istilahnya, “Ya bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain.”

Tetapi karakter Golkar sebagai partai gemuk tetap menyala. Oleh karena itu, ketika Ahmad Mubarak dari PD melontarkan pernyataan yang dianggap melecehkan kehormatan golkar sebagai “orang gemuk”, momentum itu dimanfaatkan untuk menunjukkan jati diri asli Golkar di mata PD.

Kegemasan PKS

Dalam Debat di TV, mempertemukan dua partai, PKS dan Golkar, tentang kepemimpinan nasional. Dari PKS Mahfuzh Shiddiq dan Fahri Hamzah, sedangkan dari Golkar Priyo Budi Santoso dan Fery Mursyidan Balda. Dalam debat itu PKS sangat keras dalam mengkritisi Golkar yang waktu itu belum mengumumkan calon presidennya. Menurut Fahri Hamzah, Golkar seperti banci, sebab memiliki suara besar, tetapi belum berani mengumumkan capres-nya. Baik Priyo maupun Fery merasa terpojok dengan ide segera mengumumkan capres itu, tetapi mereka -dengan segudang pengalamannya sebagai politisi- tidak mau terjebak. Mereka tetap teguh menunggu hasil perolehan suara Pemilu Legislatif April 2004.

Bagi PKS, kalau Golkar telah mengumumkan capresnya, maka PKS kemungkinan akan merapat ke Golkar dengan menyuarakan ide duet pasangan tokoh Golkar dan Hidayat Nur Wahid. Meskipun posisi Wakil Presiden, di jaman sekarang ini sangat significant peranannya. Ya, contohnya Hamzah Haz ketika menjadi Wapres Megawati dan Jusuf Kalla sendiri sebagai wakil SBY. Jika HNW menjadi Wapres, itu adalah posisi politik yang significant. Setidaknya bisa mengatrol posisi PKS menjadi partai yang stabil di kancah politik nasional, bersaing dengan PKB dan PPP.

Begitu kuatnya kegemasan PKS, sampai Mahfuzh Siddiq dalam debat di atas sempat mengatakan, PKS mau menjadi mitra koalisi Golkar, dan tidak mengapa jika hanya mendapat jatah “setengah menteri”. (Saya tidak mengerti apa itu “setengah menteri”. Apakah satu posisi kementrian dibelah dua, jadi setengah-setengah? Atau setengah kursi kementrian di sebuah kabinet? Jika makna kedua itu yang dimaksud, tentu ia adalah transaksi yang sangat besar secara politik. Sejak era Wahid, Mega, sampai SBY, belum pernah terjadi ada sebuah partai politik menguasai setengah kursi kabinet).

Prospek SBY

Pihak yang sangat cemas setelah JK menyatakan dirinya siap menjadi capres Golkar adalah SBY dan Partai Demokrat. Sebab SBY/Demokrat sangat mengandalkan koalisi harmonis dengan Golkar. Golkar selama ini bisa dianggap sebagai “matras empuk” yang menjaga kenyamanan manuver-manuver Partai Demokrat.

Harap dipahami, Partai Demokrat kurang bagus dalam memainkan manuver-manuver politiknya selama 2004-2009 ini. Partai Demokrat membuat banyak jarak dengan partai-partai lain. Dengan PDIP, Demokrat jelas “broken”, khususnya dengan pernyataan Megawati soal “main yoyo”. Dengan PKS, Demokrat juga tidak akur, padahal secara resmi mereka masih satu kongsian politik. Dengan PKB, PPP, PAN, dan lainnya Demokrat juga kurang dekat. Satu-satunya yang diandalkan adalah Golkar.

Nah, kini Golkar mengumumkan calonnya sendiri, siap bersaing dengan SBY dalam Pilpres 2009 nanti. Lha, mau kemana SBY setelah itu?

Pencalonan JK sebagai capres Golkar benar-benar merupakan pukulan telak ke arah Demokrat. Tidak heran jika setelah itu SBY segera memanggil JK untuk pembicaraan tertentu di Cikeas Bogor. Apalagi yang mereka bicarakan, kalau bukan “masalah bangsa”?

Inti problemnya bukan perkataan Ahmad Mubarak. Ia hanya momentum saja. Sementara kekecewaan Golkar kepada mitra koalisinya itu sudah “menggunung es”, hanya ketika Ahmad Mubarak mengeluarkan pernyataan bak “petir” itu, kontruksi gunung es mencair sudah, menjadi gelombang yang siap menelan partainya Mubarak.

Lihatlah betapa kerasnya pernyataan Surya Paloh saat berpidato di depan para pengurus Golkar. Dia menyerang sebagian pengurus DPP Golkar yang sering mengangkat duet SBY-JK sebagai pasangan Presiden dan Wapres dalam Pilpres 2009 nanti. “Apa urusannya!” kata Paloh. Dia menuduh orang yang selalu mengusung duet SBY-JK itu menjual murah posisi Golkar.

Maksudnya begini, Golkar adalah partai besar, sementara PD adalah partai semi sedang (belum masuk kategori partai sedang). Ya, buat apa harus memelas kepada Demokrat? Kenapa tidak mencalonkan pasangan sendiri, toh mereka punya potensi suara bagus? Begitu logika Paloh. Pernyataan Paloh ini semakin memperlebar jarak antara Golkar-Demokrat, meskipun politisi-politisi Demokrat terus membuat pernyataan-pernyataan yang bernada damai.

Pemilu 2009

Sebenarnya, Pemilu raya di Indonesia diadakan untuk memilih anggota DPR/DPRD, anggota DPD, dan Presiden-Wakil Presiden. Namun kita perhatikan bahwa isu utama yang berkembang justru Pemilu Presiden. Jauh-jauh hari orang sudah ribut soal Pilpres, padahal Pemilu Legislatif saja belum digelar. Mengapa?

Ya, karena dalam kultur politik di Indonesia, posisi RI-1 itu sangat kuat dan dominan. Seharusnya DPR yang kuat, sebagai representatif masyarakat. Tetapi kenyataan adalah Presiden. Hal itu sudah terjadi sejak era Soekarno sampai SBY saat ini. Hal ini menjadi bukti, bahwa karakter bangsa Indonesia sangat berhajat kepada kepemimpinan. Tidak heran jika seperti Partai Hanura atau Partai Gerindra, mereka mengangkat isu kepemimpinan sebagai solusi krisis nasional.

Seakan kita mendapat pelajaran, konsep UU seideal apapun, tidak akan efektif kalau tidak ada pemimpin yang kuat dan bagus. Begitu pula, konsep UU yang biasa-biasa saja, kalau pemimpinnya bagus, visoner, dan kuat, ia dipercaya bisa membuahkan kebaikan-kebaikan sosial.

Lalu dimana aspirasi politik Anda, dalam kosntelasi seperti ini, wahai pembaca budiman? Ya itu terserah Anda. Apapun yang ditempuh dalam Pemilu 2009 ini, semoga menjadi pengabdian di sisi Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 26 Februari 2009

AMW.

Iklan

4 Responses to Saat SBY Ditinggalkan JK

  1. kalengrombeng88 berkata:

    hehehehe….
    ndak mau komentar banyak. hanya saya ada cerita unik tentang iklan politik. berikut:
    http://kalengrombeng88.wordpress.com/2009/02/26/pemimpin-ideal-episode-i-iklan-politik/

  2. EKA PUTRA berkata:

    Pro Pak SBY, jangan takut dengan apapun yang terjadi. Allah SWT akan menolong siapapun yang berniat baik.

  3. EKA PUTRA berkata:

    Tp Pak SBY ….
    Apapun makanannya minumnya TETAP Tteh Botol Sosro. Apapun masalahnya TETAP kita serahkan kepada ALLAH SWT

  4. dhedheck berkata:

    semoga dgn istikoroh politik ALLAh memberikan pilihan yang terbaik pd SBY.Semoga klo trpilih nanti hrga minyak gaak naik2 lg ypak…!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: