Bencana Situ Gintung dan Kabel TELKOM

Maret 29, 2009

Ada yang menarik kalau kita melihat titik jebolnya tanggul Situ Gintung. Coba perhatikan gambar di bawah ini secara seksama:

Titik Jebol Situ Gintung (Foto Kompas Images)

Titik Jebol Situ Gintung (Foto Kompas Images)

Dalam foto di atas sangat jelas terlihat ada kabel yang menggelantung dari satu titik ke titik lainnya. Dalam gambar di TV kabel itu juga terlihat. Tanggul memang jebol, tapi kabel tidak terputus. Ia menggantung “tenang”. Ia adalah kabel merah. Biasanya yang memiliki kabel seperti ini adalah Telkom, yang suka menggali-gali pinggiran jalan untuk menanam kabel sambungan telepon baru. Bisa Telkom, bisa PLN, tetapi setahuku Telkom.

Apa yang Anda pikirkan?

Coba perhatikan, bencana Situ Gintung itu terjadi karena tanggul Situ jebol. Tanggul bisa jebol karena memang rapuh, atau tanggul itu sendiri selama ini menerima perlakuan-perlakuan tidak layak. Sebagai contoh, saat tanggul lemah, seharusnya dia ditanami pohon-pohon, dikuatkan, atau dicor semen, biar semakin kuat. Tetapi sebagian orang, sekalipun itu BUMN, kok tega-teganya menggali lubang untuk menanam kabel bawah tanah di tanggul yang tipis itu? Apa sih mau mereka? Apa mereka tidak bisa bedakan, ini tanggul, ini pinggiran jalan, ini selokan?

Tidak terbayangkan, tanggul sudah tipis, tapi masih digali-gali untuk menanam kabel bawah tanah. Ini sangat keterlaluan. Meskipun tindakan menggali lubang untuk kabel itu tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab, tetapi ia jelas telah melemahkan struktur tanah di tanggul itu sendiri.

Bagaimana nih Telkom? Bisa tidak mengambil pelajaran dari bencana mengerikan Situ Gintung ini? Atau semua itu dianggap sebagai “resiko lumrah” proses industrialisasi…

Ya sudah deh kalau begitu… Fasna’ ma syi’ta… Lakukan saja apa yang Anda sukai!

AMW.


Teladan Husnul Khatimah

Maret 29, 2009

Sempat ada seorang ikhwan yang bertanya di board diskusi tentang cerita husnul khatimah yang kita saksikan. Jujur saja selama ini saya lebih banyak mendengar cerita, daripada menyaksikan sendiri seseorang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah.Tapi tidak ada salahnya kita mendengar kisah dari saudara-saudara kita kaum Muslimin yang meninggal dalam keadaan baik, dengan memohon bahwa kelak kita pun akan meninggal dalam keadaan seperti itu. Allahumma amin.

Cerita ini bersumber dari isteri saya, saat dia baru menjenguk guru ngajinya yang sedang dalam kondisi kritis. Dari silaturahim itu, isteri mendengar kisah husnul khatimah tentang gurunya yang sudah meninggal beberapa lama sebelumnya. Saat silaturahim itu isteri menjenguk Ummi, guru wanita yang mengajar dia pelajaran-pelajaran agama sewaktu kecil.¬† Sementara yang mengalami husnul khatimah itu guru laki-laki, yang mengajar dia membaca Al Qur’an sewaktu masih kecil (SD).

Oh ya, sebelum dilanjutkan, guru isteri yang wanita (Ummi) akhirnya meninggal beberapa hari kemudian, setelah isteri menjenguk ke rumahnya. Beliau meninggal dalam keadaan sakit berat, badannya bengkak-bengkak, banyak keluar cairan, katanya sampai seember setiap hari. Sakitnya sangat payah/berat. Kemudian beliau pun meninggal menyusul suaminya yang telah meninggal sebelumnya. Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu anha. Allahumma amin.

Begini cerita husnul khatimah itu:

Apa, panggilan guru ngaji yang laki-laki itu. Beliau istiqamah mengajar anak-anak mengaji Al Qur’an. Salah satu muridnya adalah isteri saya sendiri. Meskipun isteri pernah mengeluh, cara mengajarnya terlalu keras, dengan memakai “alat bantu” tongkat bambu untuk “menertibkan” anak-anak.

Beliau lama menderita sakit, layaknya seseorang yang sudah lanjut usia. Tetapi suatu saat beliau merasa badannya sehat. Keluarga juga merasa dirinya sudah mulai sehat. Banyak orang menyangka, dia akan sembuh. Padahal “sehat” seperti ini biasanya adalah “sehat” untuk pamitan saja. Allah Ta’ala memberi kesempatan dia sehat beberapa saat, untuk melakukan pamitan dengan keluarganya, serta menyiapkan momentum perjalanan pulang terbaik. Hal ini sebenarnya bukan sehat seperti yang banyak disangka. Justru itu akan menjadi akhir kehidupannya.

Saat merasa sehat, Apa ingin menjalankan shalat dhuha. Mula-mula dia merasa ingin buang air besar. Ketika di kamar mandi, dia buang air besar sangat banyak. Berbeda dengan umumnya buang air yang dia alami selama ini. Selesai buang air, dia merasa heran begitu banyak kotoran yang keluar dari lubang pembuangannya. Ya sudah, itu pun dilupakan.

Saat mulai menjalani shalat dhuha, beliau mengucapkan takbir, ALLAHU AKBAR. Tetapi takbir itu sangat keras, tidak seperti layaknya orang takbir dalam shalat Sunnah biasa. Keluarganya merasa heran, mengapa mengucapkan takbir sekeras itu. Tapi mereka tidak terlalu menganggap penting. Ya ia dianggap biasa saja.

Setelah lama menjalani shalat dhuha, Apa tidak terdengar suaranya sama sekali. Isterinya segera memeriksa keadaannya. Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun, ternyata beliau sudah meninggal di atas sajadah. Sepertinya, takbir keras tadi adalah takbir terakhir yang bisa dia ucapkan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ketika dia dimandikan, perutnya sudah bersih, tidak banyak kotoran dari dalam perutnya. Sebab kotoran itu sudah dikeluarkan saat beliau buang air banyak tadi. Masya Allah, begitu indahnya kematian ini. Beliau meninggal dalam keadaan shalat dhuha, setelah mengucap takbir.

Hal ini menjadi sebuah pelajaran tersendiri, sebab Apa itu adalah seorang warga NU, guru NU, mengajar mengaji dengan metode-metode NU. Artinya, andai banyak amal-amalnya jatuh dalam bid’ah karena ke-NU-annya itu, maka perbuatan bid’ah itu tidak otomatis menghalangi seseorang untuk meninggal dalam husnul khatimah.

Bukan berarti bid’ah itu baik dan boleh dikerjakan. Tidak demikian. Tetapi tidak semua pelaku bid’ah otomatis disebut ahli bid’ah yang sesat. Siapa tahu, dia tidak mengerti ilmu, sehingga menganggap bid’ah-nya itu sebagai ilmu yang perlu diamalkan dengan konsisten. Di sisi lain, seorang pelaku bid’ah kadang tidak fanatik dengan bid’ahnya. Hal itu bisa ditunjukkan dengan sikapnya yang ramah kepada pemuda-pemuda yang menjalankan Sunnah. Mereka tidak anti pati, tetapi menghormati pemuda-pemuda itu, meskipun mereka sendiri belum bisa lepas dari bid’ahnya.

Saya juga mendapati teladan husnul khatimah lain dari orang-orang yang kelihatannya pelaku bid’ah. Maka kita harus berhati-hati dalam menilai orang lain. Jangan cepat-cepat mengadili dengan penghakiman yang semena-mena. Jangan sampai kita membenci seseorang yang tidak berhak dibenci, bahkan Allah pun tidak membencinya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Duka “Tsunami Kecil” di Situ Gintung

Maret 29, 2009
Banjir Situ Gintung (Foto dari Kompas Images).

Banjir Situ Gintung (Foto dari Kompas Images).

Jum’at, 27 Maret 2009. Lagi-lagi kita dikirimi peringatan…

Sebuah danau kecil di Cireundeu Tangerang Banten, Situ Gintung jebol.

Luar biasa, Situ (telaga) ini dalam situasi normal dalamnya sekitar 10 m. Saat setelah air menjebol tanggul, mendadak susut luar biasa. Saat ini Situ Gintung nyaris “kering” karena saking dangkalnya.

Bisa dibayangkan, betapa banyak material air yang ditumpahkan ke arah rumah penduduk di bawah tanggul Situ itu. Ada jutaan kubik air, tumplek blek, menerjang rumah-rumah penduduk. Selama puluhan tahun Situ Gintung menampung air, menjadi lokasi penyimpanan aliran air. Tiba-tiba kini airnya habis tandas untuk “memandikan” rumah-rumah penduduk di bawahnya. Luar biasa, betapa mengerikan. Inilah Tsunami Kecil di pinggiran Provinsi DKI Jakarta.

Menurut pihak berwenang dari Badan Mitigasi Bencana, di kawasan JADEBOTABEK masih ada ratusan Situ seperti itu, dan banyak yang bermasalah seperti Situ Gintung. Contoh di Sawangan Depok juga ada Situ yang tak kalah bahayanya kalau sewaktu-waktu ambrol.

Bencana ini mirip sekali dengan Tsunami di Aceh 5 tahun lalu. Persis sekali, hanya materi airnya tidak sebanyak Tsunami di Aceh. Coba lihat, perumahan yang disapu bersih; pohon-pohon tumbang; rumah-rumah roboh; sampah pating slengkrah; juga mobil-mobil berjumpalitan gak karuan. Ini mirip sekali. Sebutlah “miniatur Tsunami”.

Ia terjadi saat masyarakat lagi lelap tidur. Banyak sekali yang hanyut terbawa air. Menurut data terakhir, ada sekitar 80 orang meninggal, ratusan lainnya dinyatakan masih hilang. Konon, ada jenazah yang ditemukan dalam jarak 4 km dari Situ Gintung. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Hal menarik dari musibah ini. Konon retak-retak di tanggul yang jebol itu sudah diketahui sejak 3 tahun lalu. Warga sudah melaporkan ke aparat setempat untuk meminta penanganan. Tetapi laporan warga tidak digubris. Baru kali ini setelah para “warga” banyak yang meninggal, aparat baru peduli. Aparat berjanji macam-macam, setelah semuanya telah “menjadi bubur”. Ya begitulah mental aparat kita. Mereka lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah; membiasakan berkhianat, tidak menepati amanah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Di Situ Gintung itu ada sebuah masjid, namanya Masjid Jabal Rahmah. Ia tetap berdiri tegar, ketika sebagian besar rumah-rumah di sekitarnya hancur diterjang oleh air bah. Hal ini menjadi pelajaran untuk kesekian kalinya; meskipun menurut mental orang Indonesia, pelajaran itu bersifat “hangat-hangat tahi ayam”. Sesaat mereka sadar, setelah itu lupa lagi. Laa ilaha illa Allah, wallahu Akbar.

Akhirnya, kita memohon kepada Rabbul ‘alamin, semoga kaum Muslimin yang wafat dalam bencana ini:

Diampuni dosa-dosanya, digugurkan kesalahan-kesalahannya, dilapangkan kuburnya, dicurahi rahmat dan kasih sayang Allah, serta dimudahkan jalannya ke syurga-Nya. Allahummaghfir lil Muslimina alladzina yamutuna ‘inda hadzal bala’,¬† warhamhum, wa ‘afihim wa’fu anhum. Semoga bagi yang mendapat korban sedikit atau banyak, lahir atau bathin, mereka diampuni-diampuni, diberi taubat nashuha, dicurahi rahmat yang luas, diberi anugrah kesabaran, serta diganti kesedihannya dengan kebahagiaan yang tinggi. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in.

Ampuni pula kami ya Rahman ya Rahim. Boleh jadi kami lebih zhalim dari mereka, tetapi lebih Engkau sayangi, sehingga kami masih berkesempatan mengambil pelajaran dari mushibah ini. Amin ya Rahiim ya Mujib.

Bandung, 29 Maret 2009.

AM. Waskito.


Partai “MAK EROT” Merajai Dunia Politik

Maret 29, 2009

Anda mungkin heran, mana ada Partai “MAK EROT” dalam Pemilu kali ini. Tidak ada satu pun yang namanya “MAK EROT”. Kalau begitu, mengapa ia disebut merajai politik nasional?

Iya, memang ini bukan partai sesungguhnya. Ini hanya fenomena politik saja. Untuk memahami masalah ini, mari kita runut pelan-pelan:

[o] Lihatlah teman-teman budiman, setiap ada kampanye rapat umum di lapangan manapun, terutama di kota-kota besar, disana selalu dihibur dengan hiburan dangdut. Penyanyi dangdutnya kebanyakan cewek-cewek. Dan rata-rata selalu melakukan goyang erotis. Nah, kata EROT itu dari fenomena goyang erotis dimana-mana itu. Termasuk partai yang mengklaim partai Islam juga memakai  goyang beginian. Ironis benar!

[o] Rata-rata yang melakukan goyang erotis itu cewek-cewek genit, penyanyi-penyanyi yang menyuguhkan goyangan erotik untuk menghibur mayoritas para pendukung partai. Termasuk tentu, menghibur elit-elit politik yang juga tak kalah khusyuk-nya saat menikmati goyang erotik itu. Kalau tidak salah menebak, kebanyakan cewek-cewek itu sudah menikah, atau pernah menikah. Bisa dibilang, mereka itu emak-emak juga. Maksudnya ibu-ibu juga, atau pernah menikah. Nah, itulah asal kata MAK.

[o] Kita tidak mengerti mengapa semua partai-partai memakai goyang erotik untuk menyedot para pendukungnya? Malahan para pendukung itu lalu ikut joget-joget di lapangan. Padahal dulu, cara dangsutan ini khas PDI. Ini gaya kampanye mereka. Tapi sekarang semua sudah bererotis-erotis ria. Singkat kata, goyang erotis itu dipakai untuk menyedot perhatian para pendukung politik, para pemuda, atau bapak-bapak yang memang suka goyang erotis. Jadi ini masalah selera “alat gender” kaum laki-laki yang memang suka dimanjakan dengan tontonan erotik. Tetapi ini khas orang-orang fasiq lho, bukan tradisi hidup orang-orang beriman. Kalau soal “alat gender” itu, Mak Erot memang ahlinya. Jadi nyambung kesana.

[o] Saya pikir pantas saja pembahasan RUU APP di DPR kemarin alotnya bukan main. Ya bagaimana tidak, wong mayoritas politisi di partai-partai ternyata penggemar “MAK EROT”. Ya, bagaimana mereka akan serius membahas RUU APP, kalau memang demen dimanjakan oleh tontonan-tontonan cewek-cewek amoral itu? Kalau melihat kenyataan begini, pesimis kita kalau DPR nanti akan memperjuangkan moral. Wong cara main politiknya saja seperti itu. Harusnya jujur saja, mereka membuat “Partai ON CLINIC” sekalian? Ya, biar akur antara dunia Mak Erot dengan On Clinic.

[o] Pertanyaan, mengapa cewek-cewek itu begitu berani melakukan gerakan-gerakan erotik di depan umum tanpa rasa malu? Ya, biasanya mereka sudah “jebol” duluan secara illegal. Maka setelah “jebol”, mereka menjadi tidak merasa malu lagi. Di mata mereka, lenyapnya kegadisan atau lenyapnya kehormatan diri, itu lebih berat ketimbang tampil erotik di depan umum. Tampil erotik di depan umum bagi mereka lebih ringan ketimbang saat mereka “jebol-menjebol” dengan laki-laki durjana. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah a’ ‘afiyah li wa lakum wa li ahlina jami’an. Allahumma amin.

[o] Dari fenomena Partai “MAK EROT” ini kita sudah bisa melihat betapa buramnya wajah politik bangsa Indonesia. Buram, gelap, suram. Mayoritas mengandalkan sarana-sarana erotisme untuk mencapai kemenangan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ya itulah. Kini yang mendominasi keadaan adalah Partai “MAK EROT”. Visi, misi, program, janji, dll. bisa macam-macam, tapi mereka sepakat dalam satu hal, yaitu: Ke-“MAK EROT”-an. Memakai mak-mak untuk goyang erotik di depan ribuan pendukung politiknya. Kasihan betul anak-anak kita yang masih kecil, yang ikut kampanye. Mereka sudah disuguhi hiburan “alat gender” bagi orang-orang dewasa.

Saran saya, nanti cobalah buat hiburan lain. Misalnya, adu gulat, adu panco, adu tarik-tambang, adu silat, adu karate, adu main pedang, dll. Hiburan begitu menghibur, tapi juga sehat. Jangan “Mak Erot” begituanlah. Tobat Mas, Kang, Bang! Tobat deh! Anak-anakmu sendiri pasti akan dilarang memelototi goyangan emak-emak “kurang bahagia” itu.

Sadarlah…

AMW.


Solusi Kebuntuan Demokrasi Liberal

Maret 27, 2009

Saat membahas tema-tema demokrasi, saya sering mendapat kritik. “Kalau memang demokrasi bathil, lalu apa solusinya? Jangan ngomong saja dong! Ayo mana solusinya? Paling-paling hanya bisa mengkritik, hanya bisa nyalah-nyalahin orang, tapi miskin solusi. Lebih baik kita bekerja kongkret daripada nyalah-nyalahin kerja orang lain,” begitulah kira-kira nadanya. Meskipun redaksinya tentu tidak seperti itu.

Sebenarnya gemas juga mendengar istilah SOLUSI ini. Bukan apa, seolah kalau kita mengkritisi demokrasi kita tidak memiliki suatu konsep alternatif yang lebih baik. Alhamdulillah, konsep itu ada. Bahkan bagi saya sendiri, ia telah tersusun dalam buku. Hanya saja, karena penerbit bukunya pro demokrasi, naskah itu tidak bisa diterbitkan. Ya, konsep solusi itu ada, bukan hanya “omong doang”. Lagi pula dalam tulisan-tulisan yang sudah saya publish disini, sebagian sudah saya kemukakan corak solusi itu.

Disini kita ingin lebih terus terang dalam menyampaikan jalan yang diyakini, serta membuat tema khusus tentang SOLUSI, biar nanti tidak ada lagi pertanyaan, “Mana solusinya, Mbah?”

DEMOKRASI LIBERAL

Mula-mula harus dipahami bahwa demokrasi yang berjalan di Indonesia saat ini adalah DEMOKRASI LIBERAL, bahkan mungkin ultra liberal. Di negara-negara Amerika dan Eropa, yang katanya dianggap “Mbah-nya demokrasi”, situasinya tidak seliberal kondisi demokrasi di Indonesia saat ini.

Indikasi sistem demokrasi liberal di Indonesia antara lain sebagai berikut:

[1] Pemilu multi partai yang diikuti oleh sangat banyak partai. Paling sedikit sejak reformasi, Pemilu diikuti oleh 24 partai (Pemilu 2004), paling banyak 48 Partai (Pemilu 1999). Pemilu bebas berdiri sesuka hati, asal memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan KPU. Kalau semua partai diijinkan ikut Pemilu, bisa muncul ratusan sampai ribuan partai.

[2] Pemilu selain memilih anggota dewan (DPR/DPRD), juga memilih anggota DPD (senat). Selain anggota DPD ini nyaris tidak ada guna dan kerjanya, hal itu juga mencontoh sistem di Amerika yang mengenal kedudukan para anggota senat (senator).

[3] Pemilihan Presiden secara langsung sejak 2004. Bukan hanya sosok presiden, tetapi juga wakil presidennya. Untuk Pilpres ini, mekanisme nyaris serupa dengan pemilu partai, hanya obyek yang dipilih berupa pasangan calon. Kadang, kalau dalam sekali Pilpres tidak diperoleh pemenang mutlak, dilakukan pemilu putaran kedua, untuk mendapatkan legitimasi suara yang kuat.

[4] Pemilihan pejabat-pejabat birokrasi secara langsung (Pilkada), yaitu pilkada gubernur, walikota, dan bupati. Lagi-lagi polanya persis seperti pemilu Partai atau pemilu Presiden. Hanya sosok yang dipilih dan level jabatannya berbeda. Disana ada penjaringan calon, kampanye, proses pemilihan, dsb.

[5] Adanya badan khusus penyelenggara Pemilu, yaitu KPU sebagai panitia, dan Panwaslu sebagai pengawas proses pemilu. Belum lagi tim pengamat independen yang dibentuk secara swadaya. Disini dibutuhkan birokrasi tersendiri untuk menyelenggarakan Pemilu, meskipun pada dasarnya birokrasi itu masih bergantung kepada Pemerintah juga.

[6] Adanya lembaga surve, lembaga pooling, lembaga riset, dll. yang aktif melakukan riset seputar perilaku pemilih atau calon pemilih dalam Pemilu. Termasuk adanya media-media yang aktif melakukan pemantauan proses pemilu, pra pelaksanaan, saat pelaksanaan, maupun paca pelaksanaan.

[7] Demokrasi di Indonesia amat sangat membutuhkan modal (duit). Banyak sekali biaya yang dibutuhkan untuk memenangkan Pemilu. Konsekuensinya, pihak-pihak yang berkantong tebal, mereka lebih berpeluang memenangkan Pemilu, daripada orang-orang idealis, tetapi miskin harta.Akhirnya, hitam-putihnya politik tergantung kepada tebal-tipisnya kantong para politisi.

Semua ini dan indikasi-indikasi lainnya telah terlembagakan secara kuat dengan payung UU Politik yang direvisi setiap 5 tahunan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem demikian telah menjadi realitas politik legal dan memiliki posisi sangat kuat dalam kehidupan politik nasional.

SISTEM BERBAHAYA

Harus diingat, sistem demokrasi liberal itu sangat berbahaya. Ia bisa menghancurkan bangsa Indonesia secara cepat. Lihatlah kebobrokan bangsa ini selama 10 tahun terakhir, sejak Reformasi!!! Kalau kebobrokan ini terus berjalan, dalam masa 15 tahun atau 20 tahun ke depan, saya yakin negara ini akan bubar atau terpecah-belah.

Namanya juga demokrasi liberal. Ia tidak punya komitmen terhadap KEPENTINGAN INTERNAL. Komitmen dia hanyalah pada pasar alias market. Negara manapun yang diserahkan ke market, lama-lama akan bubar. Eropa saja sangat protektif dengan EURO-nya. Sementara di Indonesia, proteksi dilarang karena dianggap tidak demokratis. Aneh bin ajaib!

Baca entri selengkapnya »


Mengapa Ummat Tidak Menghargai Dakwah Islam?

Maret 26, 2009

Sebuah fakta. Dalam Pemilu 1955, Partai Masyumi masuk 4 besar peraih suara terbanyak, bersama PNI, NU, dan PKI. Malah Masyumi kalau tidak salah suaranya ada di bawah PNI, lebih besar dari NU dan PKI. Padahal Masyumi itu dalam Parlemen (Konstituante) sangat fundamentalis. Mereka bukan hanya menyerukan tegaknya Syariat Islam, tetapi juga mengkritisi dasar negara Indonesia -sesuatu yang nyaris mustahil terjadi di era ini-. Meskipun fundamentalis, tetapi Masyumi mampu meraih suara besar.

Fakta lain. Sejak Pemilu 1999, partai-partai Islam semakin terpuruk. PK kandas di Pemilu 1999, PBB meraih suara kecil tetapi lolos electoral treshhold. PPP meraih suara lumayan, tetapi tidak sebagus perolehannya selama Pemilu di jaman Orde Baru. Selama Orde Baru, PPP sering menjadi runner up dari 3 kontestan politik. Setelah Reformasi, PPP suaranya selalu di bawah PDIP. Dalam Pemilu 2004, suara PKS menguat, tetapi PBB terjungkal. Adapun partai seperti PBR, PKU, PNU, dan lain-lain yang berbasis Islam, mereka menjadi partai-partai gurem.

Fakta lain lagi. Bukan hanya di tingkat partai, di jajaran ormas Islam pun, situasinya juga memprihatinkan. NU dengan segala perbaikan kondisinya tetap merepresentasikan kekuatan Muslim tradisionalis yang phobia berbicara tentang perubahan, dalam konteks pemahaman, sikap beragama, maupun sikap politik. KH. Hasyim Muzadi dalam Pilpres tahun 2004 menjadi pasangan kandidat presiden, Megawati. Padahal secara kultural NU sangat menolak adanya pemimpin negara seorang wanita. Muhammadiyyah perkotaan, semakin lama semakin digerogoti oleh pemikiran-pemikiran liberal. Syafi’i Ma’arif dan cendekiawan-cendekiawan Muhammadiyyah banyak yang menyuarakan konsep-konsep pemikiran liberal. Salah satunya, perhimpunan Muhammadiyyah pernah menentang fatwa MUI tentang haramnya bunga bank. Sebagian anggota Muhammadiyyah pernah berkunjung ke Israel dengan melakukan kegiatan-kegiatan tertentu disana yang sangat memalukan kaum Muslimin.

Ormas Islam lain, seperti Al Irsyad saat ini terbelah dalam dua rumpun komunitas. Sedangkan Persis, Syarikat Islam, dll. nyaris tidak terdengar kiprahnya. Kata orang, “Wujuduhum ka adamihim” (adanya seperti ketiadaannya). Begitu pula ICMI. Dulu namanya berkibar-kibar luar biasa, tetapi saat ini seperti “hilang vitalitas”.

Ya, alhamdulillah masih ada kekuatan-kekuatan lain yang wajib disyukuri dengan sepenuh hati kepada Rabbul ‘alamiin. Misalnya, Pesantren Hidayatullah, Pesantren Gontor, FPI, MMI, HTI, Wahdah Islamiyyah, dll. yang tetap eksis, saat yang lain-lain mengalami banyak problem internal. Bisa jadi, lembaga-lembaga ini merupakan benteng-benteng terakhir kaum Muslimin di Indonesia. Semoga Allah Al ‘Aziz selalu menjaga mereka dalam kebaikan, istiqamah, kemajuan, serta komitmen ukhuwwah Islamiyyah yang teguh. Allahumma amin.

Singkat kata: Di berbagai sisi kehidupan kaum Muslimin Indonesia saat ini memang sedang “panen masalah”. Banyak sekali masalah itu, beragam bentuknya, bersumber dari bermacam arah, sangat rumit kait mengaitnya satu sama lain.

Sebuah pertanyaan, mengapa dakwah Islam yang kita serukan selama ini kurang mendapat respon dari kaum Muslimin? (Tercermin dari lemahnya dukungan Ummat kepada partai-partai Islam dan ormas-ormas Islam).

Baca entri selengkapnya »


Satpam SMP Itu…

Maret 25, 2009

Tadi pagi saya mengantar putri saya yang kelas III SMP ke sekolah. Lumayan pagi, sebelum jam 6 pagi harus sudah sampai di sekolah. Ini rutinitas bertahun-tahun yang saya tekuni sebagai “tukang ojek” keluarga. He he he… Lumayan untuk ngirit biaya transpot. Alhamdulillah.

Nah, di SMP anak saya itu, di halaman depannya selalu ada seorang satpam. Bapak-bapak masih cukup muda, bertubuh tinggi dan agak gempal. Dia sangat konsisten dengan jadwal menjaga sekolah, sejak pagi sampai siang hari. Sebenarnya, kami tidak kenal secara dekat dengannya, tapi kami sangat tahu beliau, dan beliau tahu kami. Maklum hampir setiap hari saya mengantar anak saya, lalu ketemu dia di halaman sekolah.

Satu kesan yang saya tangkap. Satpam ini orangnya selalu rapi, tidak pernah berpakaian acak-acakan. Tapi memang, dia agak kurang ramah. Ya, tampang khas para satpam lah. Kalau terlalu ramah, mungkin dia akan jadi petugas front office ya… Untuk pekerjaan Humas, kayaknya Pak Satpam itu gak bakat sama sekali. Agak pelit senyum.

Tadi pagi ada yang surprised. Saya memacu motor, sebab jam sudah mendekati jam 06.00. Saat tiba di depan sekolah, ada pemandangan GANJIL yang nyaris tidak pernah saya saksikan selama bertahun-tahun mengantar anak ke SMP itu. Itu tuh…Pak Satpam itu mengeluarkan ujung bajunya. Ini pemandangan yang nyaris tidak pernah kami saksikan di depan SMP itu. Biasanya dia rapi, ya standar satpam lah; baju putih, celana biru, dan berbagai atribut yang dipakai secara kompak.

Lho, kok tumben pagi ini dia keluarkan bajunya. Jadi agak acak-acakan. Mungkin dia sedang lupa memasukkan baju; atau baru keluar dari kamar mandi belum rapi-rapi; atau mungkin sedang protes ke sekolah dengan bahasa “demo” seorang satpam; atau entahlah… Pokoknya nganeh-nganehi, untuk satpam sekolah terpandang yang bertahun-tahun konsisten, kok kali ini tampak agak acak-acakan.

Secara refleks saya bereaksi. Saya menurunkan anak saya dari motor, saya berbisik kepadanya: “Tolong bilang ke Pak Satpam, dia suruh masukkan bajunya!” Mula-mula putri saya itu agak serius mendengar…mungkin dikiranya saya serius. Tetapi setelah sejenak dia cerna, seketika itu dia tertawa! (Artinya, dia juga merasa aneh, kok tumben satpam itu tampil acak-acakan).

Ya, saya tidak bisa lama-lama menanti dia selesai tersenyum. Dan lebih tidak bisa menunggu lagi dia akan menasehati satpam itu agar memasukkan bajunya. Apalagi membayangkan, dia akan bilang ke pak satpam, “Ini aku disuruh abiku, lho!” Wah, bisa berabe gue… (Sesekali pinjam bahasa wong Jakarta. Keluarga isteri kan di Depok dan banyak juga di Jakarta. Biasalah bahasanya, lu gue).

Ya, ini hanya intermezzo saja. Itulah, kadang Allah Ta’ala menghibur kita dengan sesuatu yang spontan, tiba-tiba tampak di depan mata. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Ini sekedar humor ya…