Mencurigai Jejak Pendapat KOMPAS

Baru-baru ini sebuah TV swasta di Indonesia, dalam siaran berita petang, mengangkat hasil jejak pendapat Kompas yang baru dirilis (2 Maret 2009). Dalam jejak pendapat yang diadakan di sekitar 10 kota-kota besar di Indonesia itu, pamor SBY paling mencorong, diikuti Megawati, dan lainnya. Sementara pamor Jusuf Kalla sangat kecil, sekitar 1,7 %. Padahal dia berkali-kali mengklaim siap maju dalam Pilpres September 2009 nanti, jika suara Golkar mencukupi. Pamor capres lain seperti Prabowo, Hidayat Nurwahid, Wiranto, juga relatif kecil. Namun Sri Sultan Hamengku X, dia mendapat suara lumayan. Bahkan disimpulkan, pamor Sri Sultan sebagai cawapres selalu significant jika digandengkan dengan capres yang manapun.

Singkat kata, popularitas SBY terkerek kembali setelah sebelumnya dia sempat kesal karena kalah terus dalam pooling. Begitu juga, Sultan Hamengku yang pro tradisi kemusyrikan semakin moncer saja bintangnya. Meskipun Pilpres masih sekitar 7 bulan lagi, namun jauh-jauh hari Kompas sudah nabung pengaruh. Kompas menempatkan sosok-sosok yang tidak pro Islam sebagai dominator hasil jajak pendapat yang mereka buat. Sementara sosok pemimpin yang sedikit banyak memiliki komitmen terhadap nasib kaum Muslimin, popularitasnya jeblok.

Jejak pendapat seperti ini memang menjadi tradisi khas praktik demokrasi liberal. Di Amerika, tradisi pooling sudah berurat-berakar, berdampingan dengan momen-momen Pemilu. Hanya menjadi kenyataan yang aneh. Selama 2008-2009 jejak pendapat yang diadakan selalu berpihak ke SBY. Hal itu terjadi, setelah SBY secara terbuka mengaku kesal dengan hasil-hasil pooling itu. Tadinya citra SBY selalu negatif; namun setelah dia “merasa kesal” tendensi hasil pooling menjadi berbeda. Entahlah, apakah hal itu ada hubungannya atau tidak.

Tentu saja, kerja politik Ummat Islam jangan terpengaruh hasil pooling Kompas itu. Bahkan kalau perlu, jangan dianggap penting. Sebab kita tahu, sikap politik Kompas setiap menjelang Pemilu, mereka suka nyolot. Sejak dulu, Kompas selalu tendensius dalam mendukung agenda depolitisasi Islam. Lagi pula, hasil pooling tidak menjadi ukuran bagus-tidaknya hasil Pemilu. Kalau hasil quick caunt memang memiliki relevansi yang kuat, tapi hasil pooling sangat tidak menjamin.

Lalu cara pencarian data seperti apa yang ditempuh oleh Kompas?

Caranya dengan menghubungi responden di kota-kota tertentu dengan memakai panduan buku telepon Telkom (yellow pages). Lalu memberi pertanyaan kepada setiap responden sesuai daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Cara seperti ini banyak dipakai oleh media-media dan lembaga surve. Pertanyaannya, apakah cara seperti itu bebas dari kecurangan? Jawabnya, “Tidak dijamin!”

Lembaga pembuat surve bisa bebas memilih responden yang dia sukai dari daftar nama yang tertera dalam buku telepon. Misalnya, lembaga tertentu akan menghindari responden dengan nama Ahmad, Hasan, Karim, Salim, Umar, dan sebagainya. Sementara dia lebih memilih nama-nama seperti Markus, Stepanus, Antonius, Wiliam, Bernard, Simajuntak, Sitompul, Hutabarat, dan lainnya. Hal itu sangat bisa dilakukan. Setidaknya, dia akan memilih nama-nama umum, seperti Siswono, Suparno, Hadibroto, Cahyono, dan sebagainya.

Bahkan sebuah lembaga surve sebelum melakukan pooling, bisa meminta daftar nama dari partai politik tertentu, misalnya Partai Demokrat, PDS, dan lainnya. Mereka meminta nama-nama anggota partai tersebut di setiap kota yang dilakukan surve, dengan catatan nama tersebut tercantum dalam buku telepon Telkom. Jika nama-nama para pendukung Partai Demokrat yang tercantum dalam daftar buku Telkom, lalu mereka ditanya: “Bagaimana pendapat Bapak tentang kepemimpinan SBY? Apakah Anda puas dengan SBY? Apakah Anda mendukung SBY menjadi Presiden kembali? Apakah Anda ngefans berat kepada SBY? Apakah Anda suka lagu ‘Ada Pelangi Di Matamu’ ketika dinyanyikan SBY? Apakah Anda kesengsem dengan kegantengan SBY?” Tentu jawaban mereka: “Yes, 100 %!”

Selain akses partai politik, data-data dari lembaga gereja juga bisa dipakai sebagai bahan untuk memilih responden. Syaratnya, data itu harus tercantum dalam daftar telepon Telkom. Ya, semua bisa diatur-atur!

Kalau mau fair, lembaga-lembaga surve itu harus mencantumkan data-data responden mereka. Nah, dari sana akan ketahuan apakah surve mereka jujur atau penuh rekayasa. Panduan buku Telkom tidak bisa menjadi acuan, sebab masih memungkinkan untuk disusupi kecurangan. Lagi pula buku Telkom tidak mencerminkan realitas sosial sebenarnya. Ia tidak menjangkau masyarakat pedesaaan, bahkan tidak mewakili realitas masyarakat perkotaan. Komunikasi yang paling banyak dipakai saat ini ialah melalui telepon seluler (HP), bukan telepon nomer fix. Nomer fix tidak bisa mewakili kondisi dinamis masyarakat perkotaan.

Idealnya, Ummat Islam bisa membuat surve sendiri. Bukan hanya dalam soal popularitas tokoh politik, tetapi dalam isu-isu lain yang penting. Namun apa daya, secara ekonomis Ummat Islam berada dalam masalah serius. Akibat kelemahan ekonomi, banyak agenda dakwah terhambat. Semoga Allah Ar Rahiim memberikan hidayah dan taufik kepada Ummat ini untuk menegakkan agama-Nya dengan ihsan. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 3 Maret 2009.

AM. Waskito.

Iklan

One Response to Mencurigai Jejak Pendapat KOMPAS

  1. Muslim berkata:

    Dari sisi kompas itu sendiri memang sudah bermasalah kan? Anehnya kenapa kompas itu laku ya? Padahal di Indonesia itu umat Islam adalah mayoritas, yang seharusnya lebih memilih media Islam yang lebih bisa dipercaya. Ana sendiri lebih menghindari informasi dari media tersebut, lebih baik Republika (walau masih banyak kekurangan), atau media lain (yang cukup netral yach) seperti detik.com atau tv one.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: