Politik Itu Kejam? Ya Iyalah…

“Politik itu kejam!” Begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Orang-orang yang biasa berjalan dengan panduan etika, menjunjung tinggi moral, serta hidup bersendikan kejujuran; mereka mengerti makna ungkapan itu.

Salah satu wajah kekejaman dunia politik dapat dipahami dari ungkapan lain yang tidak kalah populernya. Disana disebutkan, “Dalam politik tidak ada lawan abadi atau kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi!” Artinya, lawan politik hari ini bisa menjadi kawan politik esok hari; begitu pula kawan politik hari ini, bisa menjadi lawan politik esok hari. Status lawan dan kawan bisa ditetapkan secara mendadak, tergantung keuntungan politik yang akan didapat.

Disini kita akan membahas sebagian bukti “kekejaman” dunia politik dengan segala macam intrik, siasat, dan pergumulan di dalamnya.

Koalisi SBY-JK

Sebuah contoh, pasangan SBY-JK dalam Pemilu 2004. Pasangan ini pada awalnya tidak didukung partai-partai besar. Mereka adalah pasangan minor yang tidak dianggap bernilai. SBY mau berpasangan dengan JK, karena JK adalah mantan menteri sekaligus penguasaha kaya; sementara JK mau menjadi wakil SBY, karena dia yakin pesona SBY bisa memenangkan Pilpres 2004.

Untuk memenangkan Pemilu 2004, Partai Demokrat sebagai pendukung utama SBY berusaha menggandeng siapa saja. Salah satunya ialah PBB (Partai Bulan Bintang), meskipun ia tidak lolos electoral threshold. Sejak awal Pilpres, ketika sebagian aktivis Islam menghembuskan isu SBY sebagai “antek Amerika”, PBB sudah menjadi mitra setia Partai Demokrat. Ketika Pilpres putaran kedua, SBY lolos menghadapi pasangan Mega-Hasyim. Nah, saat itu semua mata yang tadinya meremehkan SBY, bahkan menyebutnya sebagai “antek Amerika”, mendadak berubah rasa. Dengan segala kecanggihan silat-lidah bahasa diplomasi, mereka mulai merapat ke SBY-JK dan menawarkan dukungan. Disini sangat tampak, bahwa para pendukung baru itu sangat berambisi mencapai kekuasaan. Maka jadilah skema koalisi-koalisi baru mendukung pasangan SBY-JK. Sementara Golkar waktu itu belum menentukan langkah, sebab mereka masih harus mendinginkan rasa “sakit hati” akibat pasangan jagoannya kalah (Wiranto dan Shalahuddin Wahid). “Ngadem dulu dah,” mungkin begitu bahasa lugu para politisi Golkar waktu itu.

Uniknya, koalisi PD dengan PBB mulai terabaikan. PD lebih tertarik melihat teman-teman partai yang agak “gemukan”. Padahal PBB adalah sohib PD ketika banyak aktivis Islam menuduh SBY sebagai “antek Amerika”. PBB mau menjadi bumper SBY, tetapi mulai terabaikan ketika SBY-JK didatangi kekuatan-kekuatan politik yang lebih potensial. Keterabaian PBB terus bergulir, setelah Pemerintahan SBY-JK memegang tampuk kepemimpinan. Puncaknya ketika Yuzril Ihza sebagai Menkumdang dan HAM dicopot oleh SBY-JK, diganti orang lain. Orang-orang PBB jelas sakit hati banget. Sikap politik PBB terakhir, mereka merasa kapok menjalin koalisi tanpa ada komitmen kesetiaan. (Tapi kalau misal SBY menjadi presiden lagi, lalu PBB diberi tawaran posisi menteri lagi, saya yakin tawaran itu akan mereka terima juga. Ya dalam politik kan istilah “sakit hati” itu relatif. Ia bisa diatur-atur, asal ada “bagi hasil” yang cocok).

Tapi bukan berarti saya bersimpati kepada PBB. Ini hanya sekedar penjelasan tentang aplikasi filosofi politik sekuler, “Dalam politik tidak ada lawan abadi atau kawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.”

Posisi JK dan Golkar

Lebih lucu lagi adalah posisi JK dan Partai Golkar. Dalam Pilpres 2004, Golkar jelas telah mencalonkan pasangan Wiranto-Shalahuddin Wahid. Wiranto terpilih sebagai calon presiden Golkar melalui mekanisme konvensi (proses penjaringan dan seleksi internal partai). Di atas kertas Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004, dengan menggandeng Shalahuddin Wahid (adik Abdurrahman Wahid), akan berhasil menggaet suara dukungan warga NU. Dengan suara Golkar sendiri dan dukungan NU ke Shalahuddin Wahid, dijamin calon Golkar akan sukses. Tetapi ternyata mereka gagal. Wiranto-Wahid kalah dalam Pilpres 2004.

Alasannya, suara warga Nahdhiyin sudah terpecah. Sebab pada saat yang sama, KH. Hasyim Muzadi ditarik grup-nya Mbak Mega untuk menjadi cawapres. Kharisma Shalahuddin dengan Hasyim Muzadi, di mata warga Nahdhiyin, jelas kalah. Pak Hasyim kan Ketua PBNU dan sangat berpengaruh di mata NU Jawa Timur. Alasan kedua, naiknya Wiranto sebagai capres Golkar ditentang oleh para aktivis Islam dan mahasiswa, termasuk kalangan idealis PKS. Mereka takut, Wiranto akan membawa politik militerisme kembali. Bahkan posisi Wiranto waktu itu menjadi sumber perselisihan serius di tengah warga PKS. Mereka berada dalam keraguan, antara memilih Amien Rais atau Wiranto. Blok-nya Anis Matta sangat mendukung Wiranto, sementara blok idealis mendukung Amien Rais. (Sikap PKS yang tidak jelas ke pasangan Wiranto-Wahid itu menjadi catatan tersendiri di mata para politisi Golkar. Mereka meragukan PKS bisa menjadi mitra sejati Golkar).

Di mata warga Golkar, manuver Jusuf Kalla yang akhirnya merapat ke SBY dianggap sebagai langkah mbalelo (membangkang). Mereka bukan hanya tidak sudi dengan langkah Kalla, tetapi juga tidak memberi dukungan apapun. Sampai SBY-JK terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, tidak tampak jejak dukungan Golkar kepada pasangan tersebut. Orang-orang Golkar tidak pernah menyangka, bahwa kalkulasi politik Jusuf Kalla sangat manjur. Kalla bisa melihat celah keunggulan SBY, di tengah segala macam kalkulasi rumit-rumit DPP Golkar sendiri.

Terbukti benar. Dengan pesonanya yang lumayan oke, SBY berhasil menarik simpati mayoritas ibu-ibu dan kaum wanita. Lha, wanita mana yang tidak kesengsem melihat sosok pemimpin yang guagah tenan? Apalagi SBY memiliki suara yang lumayan merdu, saat melantunkan tembang, “Ada Pelangi di Matamu.” (Lagu ini sebenarnya mencerminkan dukungan SBY kepada pluralisme, seperti warna pelangi).

Ketika SBY-JK sukses menjadi Presiden dan Wapres, warga Golkar seketika gaduh, merasa demam tinggi, antara percaya dan tidak. “Oh, ini hanya mimpi. Ini tidak nyata. Kita pasti sedang bermimpi. Ini hanya bunga-bunga tidur.” Mereka tidak percaya, bahwa seorang JK bisa membalik opini mainstream di tubuh Golkar. Kemenangan JK perlahan-lahan membuat keretakan di tubuh Golkar. Kubu Akbar Tanjung Cs. jelas tidak ikut bersyukur dengan kemenangan JK. Sementara barisan lain mendadak pro JK, padahal semula menganggapnya mbalelo. Mereka memiliki bahasa tersendiri untuk memaknai kemenangan JK. “Ya, Golkar sejak dulu tidak pernah jauh dari birokrasi,” kilah mereka. Kalimat seperti itu memiliki makna yang jelas, yaitu: “Daripada ikut bersama Bung Akbar, lebih baik ikut Pak JK. Malu dikit gak apa-apa deh, asal tetap dapat akses ke kekuasaan.”

Posisi Akbar Tanjung dengan segala macam idealisme politiknya (kalau dianggap idealis ya), semakin terancam. Sebab JK masih memiliki keinginan kuat untuk “balik kandang” ke inti kekuatan Golkar. Sebagai Wapres dan orang yang paling berjasa mendukung SBY, JK jelas didukung penuh untuk meraih target-target politiknya. Dan benar saja, melalui mekanisme Munas Golkar tidak berselang lama setelah JK menjadi Wapres RI, posisi Akbar Tanjung didepak, lalu Munas menyepakati JK sebagai Ketua DPP Partai Golkar yang baru.

Golkar pun menyambut datangnya sosok pemimpin baru yang kuat dan dianggap lebih tangguh. Pada saat yang sama, mereka melepas kepergian Akbar Tanjung sambil membawa “sakit hati” di dadanya. Maka lagu sendu, “Kulepas dikau pergi wahai pahlawan…” seakan bergema di langit-langit kantor Partai Golkar, diringi isak-tangis (politik). Banyak orang tidak menyangka, Bung Akbar begitu tragis ending perjalanan politiknya. Dengan kekuasaan, dia berhasil disingkirkan dari Golkar. Sejujurnya, sampai saat ini masih ada yang “menangisi” kekalahan Akbar Tanjung. Lihatlah betapa kuat seorang JK; sosok Akbar Tanjung yang dianggap sangat jenius ketika menjadi nahkoda Golkar saat melewati masa-masa transisi, ia takluk di tangan “sang kuda hitam” yang tadinya diremehkan, seorang JK.

Golkar dan BJ. Habibie

Suatu hal yang sangat menarik, para politisi Golkar sedikit sekali yang ingat jasa-jasa Habibie kepadanya. Ini sangat mencengangkan. Katanya, mereka memiliki fatsoen politik yang tinggi, tetapi kok lupa jasa-jasa Habibie kepada Golkar.

Sebenarnya, yang menyelamatkan Golkar sehingga bisa terus berkiprah dalam kompetisi politik saat ini, -secara manusiawi- adalah Habibie. Hal itu terjadi sejak Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Setelah Soeharto lengser, ia digantikan oleh BJ. Habibie. Habibie memimpin sekitar 17 bulan sampai Oktober 1999. Dia menjadi Presiden RI tanpa didampingi seorang Wapres. Unik ya.

Mengapa Habibie dianggap sebagai penyelamat Golkar (secara manusiawi)?

Sebab sejak Soeharto lengser, gerakan mahasiswa di Indonesia sangat gencar dalam menyerukan agar Golkar dibubarkan, sebab ia dianggap sebagai antek Soeharto, sekaligus inti kekuatan politik Orde Baru. Gencar sekali gerakan itu sampai-sampai nasib Golkar benar-benar di ujung tanduk. Logikanya, kalau PKI bubar bersama bubarnya Orde Lama, maka seharusnya Golkar bubar bersama bubarnya Orde Baru. Demo-demo anti Golkar sangat marak di seluruh Indonesia. Untuk meredam semua itu, Akbar Tanjung sebagai Ketua Umum Golkar, dia mengangkat slogan, “Golkar Paradigma Baru”.

Di saat serangan kepada Golkar sangat kuat, Habibie mempertaruhkan posisinya untuk menjadi tameng politik bagi Golkar. Dia berdiri di depan rakyat Indonesia sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar. Dengan posisi ini, Golkar mendapat perlindungan yang kuat; sementara Habibie menjadi sasaran tembak gerakan mahasiswa dan para politisi pro Reformasi. Habibie terus diserang oleh kaum Reformis, sementara para politisi Golkar hidup tenang di balik punggungnya. Mereka sangat percaya Golkar tidak akan dibubarkan, selama Presiden RI menjadi Ketua Dewan Pembina Golkar.

[Bahkan sebenarnya, Habibie berjasa pula mengangkat martabat DPR yang citranya hancur pasca lengser-nya Soeharto. Habibie berjasa besar meletakkan sendi-sendi politik Parlemen di era Reformasi. Hal itu terjadi setelah Kerusuhan Mei, gedung DPR/MPR dikuasai oleh ribuan mahasiswa. Setelah Soeharto lengser, berangsur-angsur ribuan mahasiswa itu meninggalkan gedung DPR/MPR, sambil meninggalkan bertruk-truk sampah, corat-coret, kursi dan kaca-kaca rusak, sampai meninggalkan sisa-sisa kondom. Na’udzubillah min dzalik. Setelah itu Habibie memulihkan kembali wibawa gedung DPR/MPR, beliau memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada. Setelah gedung selesai, dengan kesatria dia datang ke gedung DPR/MPR. Ketika semua orang mencaci lembaga DPR/MPR, Habibie datang menghormatinya. Dia mengatakan, kurang-lebih, “Bagaimanapun juga disini adalah tempat para wakil rakyat.” Saya tidak ingat betul pernyataan Habibie ketika itu, tetapi ia benar-benar memberi angin sejuk bagi DPR yang sebelumnya panen hujatan dari gerakan mahasiswa dan rakyat. Dan ironisnya, DPR pula yang kemudian menyingkirkan Habibie secara sadis dari kompetisi pemilihan Presiden 1999].

Sungguh memalukan kalau Golkar melupakan jasa-jasa Habibie. Sungguh memalukan. Dia berkorban, mempertaruhkan posisi politiknya, demi eksistensi Golkar, tetapi jasanya dilupakan. Sangat ironis!!!

Pasca Pemilu Juni 1999, Golkar menempati posisi ke-2 setelah PDIP. Saat itu Akbar Tanjung naik sebagai politisi yang sangat populer dan kuat posisinya. Selain sebagai Ketua Umum Golkar, Akbar juga menjadi Ketua DPR. Akbar Tanjung yang di masa Orde Baru hanya sebagai Menpora, menempati posisi politik marginal, mendadak menjadi sosok yang mendominasi di panggung Parlemen.

Di antara sikap tidak terpuji Akbar Tanjung yang sungguh menakjubkan ialah ketika setelah menjadi Ketua DPR, dia menanam saham sangat besar dalam menghajar BJ. Habibie. Habibie tidak terpilih lagi sebagai kandidat Presiden RI, meskipun jasa-jasanya selama 17 bulan sangat positif, karena Akbar Tanjung ikut menjatuhkan Habibie melalui alasan “Skandal Bank Bali”. Laporan pertanggung-jawaban Habibie ditolak oleh mayoritas DPR, sementara Akbar Tanjung waktu itu adalah Ketua DPR RI. Logikanya, sebagai Ketua DPR apa Akbar tidak bisa memanfaatkan posisinya dan suara besar Golkar untuk melindungi Habibie? Kenyataannya, Habibie dibiarkan oleh Akbar Cs. tersungkur dari peluang pencalonan RI-1 kembali.

Tentu saja, waktu itu banyak pihak yang menentang Habibie, terutama dari barisan Forkot, Fordem, Amien Rais, PDIP, media-media massa sekuler, dan sebagainya. Tetapi posisi Akbar Tanjung sangat significant disana. Nyaris tidak terdengar disana upaya pembelaan Akbar terhadap Habibie. Kalau kata orang Jawa, “Akbar itu pingin slamet dhewe.” Mungkin Akbar merasa di atas angin, terpilih sebagai Ketua DPR, posisi mulia ketika sebelumnya Golkar tanpa henti dihujat oleh gerakan mahasiswa. Akbar merasa sayang dengan posisinya yang mapan, lalu tega membiarkan Habibie menjadi bulan-bulanan “pengadilan politik”.

Bayangkan, Habibie mengorbankan karier politiknya, demi menyelamatkan posisi Golkar. Bahkan dia dituduh terlibat skandal Bank Bali. Padahal, andai skandal itu memang ada, dana yang ada disana digunakan untuk membiayai Golkar. Tetapi betapa rendahnya perlakuan balasan yang ditunjukkan oleh Akbar Tanjung Cs. Jangankan mau menghargai, ingat saja tidak! Luar biasa!

Itulah bukti bahwa, “Politik itu kejam!” Maka tidak heran jika kemudian karier Akbar Tanjung dihabisi oleh lawan-lawan politiknya. Tersingkirnya Akbar dari pusaran Partai Golkar adalah harga layak untuk berbagai manuvernya di masa lalu.

Habibie dan Soeharto

BJ. Habibie adalah Presiden yang memiliki banyak modal untuk menjadi pemangku jabatan RI-1. Dia sangat pengalaman di birokrasi, karena sejak tahun 70-an sudah terlibat dalam Pemerintahan; dia sangat concern dengan pembangunan SDM dan teknologi; dia seorang ilmuwan, bergelar profesor; dia memiliki akses hubungan internasional yang baik, khususnya dengan Jerman dan Spanyol; bahkan dia berkali-kali menjabat Menristek dan kemudian menjadi Wakil Presiden RI. Ya, apa lagi yang dibutuhkan oleh Habibie untuk menjadi Presiden?

Merupakan kecelakaan sejarah ketika dengan semua bekal sebagus itu, Habibie harus disingkirkan diganti Abdurrahman Wahid. Seperti bumi dan langit, kedua tokoh itu mewakili kecenderungan yang sangat berbeda. Wahid tidak pernah menjadi pejabat negara, dengan posisi apapun; dia dua kali terkena stroke, tidak bisa berjalan, dan matanya buta; dia tidak memiliki wawasan pembangunan, hanya bisa mengkritik ini dan itu; dia kontroverisial, dibenci banyak kalangan Islam.

Sungguh, betapa buruknya ijtihad politik Amien Rais Cs. dengan Poros Tengah-nya. Mereka mengajukan Wahid sebagai Presiden RI, padahal tokoh itu amat sangat tendensius. Lagi pula, PKB sendiri bukan partai besar dalam Pemilu 1999. Ia partai sedang bersama PPP. Orang sebagus Habibie dibuang, sementara yang seburuk Abdurrahman Wahid malah diambil. Alasan Poros Tengah, “Menghindari konflik horisontal antara pendukung Mbak Mega dan Habibie.” Padahal kalau mau jujur, istilah “konflik horisontal” itu hanya lamunan para politisi dan media-media massa. Mereka ngibul dengan membuat cerita nightmare soal “konflik horisontal”. Hingga ketika Wahid dilengserkan melalui SI MPR, yang katanya akibatnya bisa memicu konflik horisontal, ternyata realitasnya biasa-biasa saja. Paling ada puluhan pohon di jalan-jalan Pasuruan yang ditebangi pendukung Wahid.

Habibie naik menjadi Presiden karena dukungan Soeharto, tetapi kemudian banyak orang menilai Habibie-Soeharto mengalami “pecah kongsi” sejak Habibie mendukung program-program Reformasi. Di masanya, Habibie menerapkan banyak kebijakan yang dianggap oleh Soeharto dan Cendana tidak berpihak ke mereka. Misalnya, seputar isu pengadilan terhadap kasus korupsi Soeharto; melepas Timor Timur sebagai negara mandiri; melucuti kekuatan TNI dalam politik; memberi kebebasan pers; merealisasikan Pemilu demokratis; dan lainnya.

Soeharto yang memberi posisi ke Habibie merasa dikhianati. Sampai akhir hayatnya, Habibie tidak pernah lagi bertemu dengan Soeharto. Bahkan sekedar berkomunikasi pun aksesnya ditutup. Habibie dianggap tidak bisa mengamankan posisi Soeharto dan Keluarga Cendana. Hubungan mereka renggang, kalau tidak disebut “pecah”. Padahal Habibie secara jujur berani mengaku, bahwa dia adalah “murid Soeharto”. Pengakuan seperti itu dianggap belum cukup bagi Cendana untuk menunjukkan loyalitas politik Habibie ke mereka.

Secara umum, reputasi politik Habibie baik. Kalau diberi nilai, poinnya 7,5. Habibie tidak banyak dipersalahkan dengan dosa-dosa politik yang berat, selain karena masa jabatannya pendek. Habibie memiliki komitmen kenegaraan, sangat berbeda dengan umumnya politisi yang pragmatis-materialis.

Namun di mata perwira-perwira muda, atau mantan perwira, seperti Prabowo Subianto Cs. Habibie dianggap kurang memberi apreasiasi yang baik atas kerja-kerja politik mereka. (Maklum waktu itu masih ada Dwi Fungsi ABRI). Malah Habibie menulis buku yang menyudutkan Prabowo dan memuji Sintong Panjaitan. Sampai di titik ini, Habibie tetap memiliki kekurangan-kekurangan. Sebagai orang teknik, beliau dianggap terlalu mudah percaya bisikan-bisikan tertentu.

Soeharto dan Soekarno

Soeharto merasa dikhianati Habibie. Setelah menjadi Presiden RI, Habibie dianggap tidak menjaga secara baik kepentingan politik dan bisnis Keluarga Cendana. Padahal jelas-jelas Soeharto berjasa menempatkan Habibie ke tampuk kursi RI-1. Kalau Soeharto mau, dia tidak akan menyerahkan jabatan; dia akan menindas musuh-musuh politiknya; atau dia akan memilih sosok lain, selain Habibie.

Tetapi kalau mau jujur, naiknya Soeharto menjadi Presiden RI sejak tahun 1966, jauh lebih keras caranya dibandingkan jalan yang ditempuh Habibie. Waktu itu Soeharto mengurung Soekarno, menumpas PKI dengan tangan besi (sehingga di kemudian hari anak-anak PKI banyak yang mendendam kepada Islam). Soeharto mengeliminir posisi Soekarno, bahkan ketika meninggal dia tidak boleh dimakamkan dekat Jakarta. Termasuk salah satu misteri yang terus diperdebatkan, yaitu Supersemar. Soekarno secara verbal tidak pernah mengakui bahwa Supersemar merupakan mandat bagi Soeharto untuk menggantikan posisinya. Menurut Soekarno, surat itu hanya untuk pengamanan keamanan saja, bukan pelimpahan kekuasaan. Saat itu Soekarno mengucapkan istilah “Jas Merah” (jangan sampai melupakan sejarah).

Soeharto sebenarnya tidak mencapai level untuk berbicara soal kekuasaan. Dia adalah seorang militer, sedangkan menurut komitmen Jendral Soedirman militer tempatnya di tangsi, bukan di wilayah politik. Lagi pula, Soeharto tidak memiliki akses ke partai-partai politik. Soeharto sangat cerdik dalam membangun opini yang menguntungkan dirinya. Dia menyerang keras PKI, ketika semua mata sedang amat sangat membenci PKI karena kudeta G30S/PKI dan peristiwa Lubang Buaya. Dia juga mengembangkan opini tentang sikap otoriter Soekarno yang cenderung berkiblat ke blok Komunis. Soekarno dianggap mengkhianati Pancasila-UUD 1945. Sementara dalam praktiknya, Soeharto juga menghajar lawan-lawan politiknya. Salah satu contoh, Soeharto sangat keras kepada mantan tokoh-tokoh Masyumi. Masyumi dilarang bangkit lagi, karena militer takut dengan pengaruh politik Islam. Soeharto yang katanya telah merevisi cara berpolitik Soekarno, ternyata menetapkan Masyumi sebagai partai terlarang, sebuah produk politik era Soekarno. Oleh Soeharto, Masyumi disamakan dengan PKI. Na’udzubillah wa na’udzubillah.

Taruhlah, Soeharto sangat lihai dalam memainkan kartu politiknya, sehingga dia bisa menjatuhkan Soekarno secara sistematik. Tetapi bukan berarti Soekarno juga sosok yang baik. Dia juga tidak kalah tangan besinya dibandingkan Soeharto. Kalau membaca jejak sejarah Soekarno, tangannya berlumuran dosa-dosa politik yang banyak juga. Kalau di masa Soeharto, Ummat Islam dikerjai oleh Ali Moertopo, CSIS, LB. Moerdani, Mafia Berkeley, Chinese Overseas, dan kawan-kawan, maka di masa Orde Lama Ummat Islam dikerjai oleh PKI, penumpasan DI/TII, konflik PRRI/Permesta, dan lainnya.

Soekarno menjadi Presiden RI pertama karena dia sukses menjadi Proklamator bersama Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Padahal semula, Soekarno-Hatta termasuk para pemimpin yang manut agenda Jepang. Kalau bukan karena insiatif pemuda-pemuda seperti Soekarni, BM. Diah, Sayuti Melik, dan lainnya belum tentu Soekarno-Hatta akan menjadi Proklamator. Tetapi anehnya, jasa-jasa para pemuda dalam peristiwa Rengas Dengklok itu seperti dilupakan begitu saja.

Pemerintahan Soekarno-Hatta dua kali diagresi oleh Belanda (NICA). Salah satunya berakibat, Soekarno-Hatta dibuang ke Digul. Saat itu ada kekosongan kekuasaan Pemerintahan RI. Lalu Mr. Syafruddin Prawiranegara berinisiatif mengadakan Pemerintahan Darurat RI (PDRI) di Bukit Tinggi Sumatera Barat. PDRI ini berhasil memperpanjang usia Pemerintahan RI, setelah Soekarno-Hatta diasingkan oleh Belanda. Jasa Pak Syaf dan PDRI sangatlah besar bagi kelangsungan RI. Tetapi di kemudian hari Soekarno memerangi Pak Syaf yang dituduh mendukung pemberontakan PRRI/Permesta. Tidak ada maaf sedikit pun bagi Pak Syaf dan kawan-kawan. Bahkan akibat peristiwa itu pula, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno. Sementara PKI yang menusuk dari belakang dalam peristiwa Madiun, oleh Soekarno dibiarkan dan bisa ikut Pemilu 1955.

Bukti lain betapa sadisnya cara bermain politik Soekarno, ialah kasus pemberontakan DI/TII, terutama di Jawa Barat. Perlu diingat, DI/TII melakukan gerakan politik karena tidak setuju dengan Perjanjian Renville yang membahayakan masa depan bangsa. Salah satu butir kesepakatan Renville, pasukan TNI harus dikosongkan dari wilayah RIS dan dipusatkan di wilayah RI (di sekitar Yogya). Almarhum SM. Kartosoewiryo memproklamirkan DI/TII ketika Pemerintahan di Yogya vacum, akibat agressi Belanda. Tapi mereka diperangi tanpa ampun, padahal SM. Kartosoewiryo adalah anak buah Jendral Soedirman yang ditempatkan di wilayah Jawa Barat Banten. Cara-cara Soekarno memperlakukan DI/TII sungguh sangat tidak manusiawi. Padahal anggota DI/TII semula adalah veteran perang kemerdekaan, tetapi kemudian ditumpas sebagai pemberontak haus darah. Dan satu lagi, betapa bencinya Soekarno kepada sosok SM. Kartosoewiryo, padahal keduanya adalah sama-sama murid HOS. Cokroaminoto di Surabaya. Soekarno seperti tidak ingat sama sekali, bahwa Pak Kartosoewiryo adalah teman satu perguruan ilmu dengannya.

Banyak fakta bisa disebut, bahwa pergumulan politik itu kejam. Etika, moralitas, sopan santun, akal budi, dan sebagainya, seperti tidak disentuh sama sekali. Kepentingan pragmatis-materialis menjadi panglima. Lawan bisa menjadi kawan, kawan bisa menjadi lawan, demi kepentingan pragmatis.

Politik Kenabian

“Politik itu kejam!” Tetapi Rasulullah Saw. juga seorang pemimpin politik di masanya. Bahkan beliau adalah pemimpin peradaban Islam yang berjuang merealisasikan corak peradaban Rabbani. (Peradaban itu meliputi segala macam persoalan kehidupan, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, keamanan, hubungan luar negeri, spiritual, kepribadian, keluarga, dan sebagainya). Kalau politik itu kejam, apakah Rasulullah juga kejam?

Ya, tentu berbeda antara politik Nabi dengan politik orang-orang kebanyakan, termasuk politik kaum sekuler di Indonesia. Politik Nabi dan orang-orang yang mengikutinya berbeda dengan politik yang banyak dikembangkan di Indonesia. Disini ada sisi-sisi perbedaan yang sangat menyolok.

PERTAMA, motivasi berpolitik. Kalau politisi kebanyakan motivasinya mencari income, merebut jabatan, mendapat kekuasaan, pengaruh politik, popularitas, dan sebagainya. Sedangkan politik Kenabian motivasinya adalah ikhlas beribadah kepada Allah. Dalam politik seperti ini, seorang politisi Muslim mengharap pahala dari amal-amal politiknya. Kalau politik sekuler, mereka bekerja dengan motivasi dapat saweran. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

KEDUA, acuan kerja politik. Dalam politik Kenabian, yang menjadi acuan berpikir, bertindak, mengambil langkah, membangun manuver, dan sebagainya adalah Syariat Islam. Kalau dalam politik sekuler, yang menjadi acuan adalah: analisis politik, hasil surve, kecerdikan manuver, kalkulasi kekuatan politik, lobi-lobi politik, dsb. Sebenarnya, politisi Muslim juga perlu memahami teknik-teknik seperti itu, tetapi ia tidak boleh bertabrakan dengan prinsip-prinsip Syariat Islam. Contoh, sebuah partai politik Islam haram menjalin koalisi tetap dengan partai lain yang memusuhi Islam dan membenci Syariat Islam.

KETIGA, perhitungan maslahat-madharat. Tujuan hakiki politik Kenabian adalah merealisasikan kemashlahatan dan menolak kemadhratan bagi kehidupan kaum Muslimin di suatu wilayah. Adapun politik sekuler tidak peduli dengan maslahat dan madharat. Seperti sudah kita sampaikan, di mata politisi sekuler, langkah apapun bisa dilakukan, kalau menguntungkan secara materi dan politik.

KEEMPAT, perbedaan sikap kepribadian. Politik Kenabian dibangun di atas dasar ketakwaan. Seorang politisi Muslim bekerja di bidang politik dengan rasa takut kepada Allah. Kalau politik sekuler, jangankan takut kepada Allah, mereka masih ingat shalat, tidak melakukan zina, tidak terjerumus perjudian saja, itu sudah sangat hebat. Moralitas para politisi sekuler rata-rata rendah. (Seperti pernah dikatakan oleh Permadi. Kata dia, di DPR kita ada pemasok wanita-wanita pelacur alias WTS. Video mesum, foto mesum, rekaman anggota DPR memesan “yang berbaju putih itu” beredar luas di masyarakat).

KELIMA, sikap adil dalam segala kondisi. Rasulullah Saw. mencontohkan, betapa beliau bersikap adil kepada musuh-musuh politiknya. Beliau memenuhi janji dengan warga Madinah (terkait Bai’at Aqabah), memenuhi janji kepada Yahudi dan kabilah-kabilah Madinah (terkait Piagam Madinah), memenuhi janji kepada kafir Quraisy (terkait perjanjian Hudaibiyah), bersikap adil dalam peperangan, dan sebagainya. Politisi Muslim, sekalipun dalam perselisihan yang sangat sengit, tidak boleh melepas baju keadilan yang melekat di dirinya. Berbeda dengan para politisi sekuler, keadilan di mata mereka hanya sekedar slogan-slogan kosong saja. Mulut mereka berbusa-busa bicara soal keadilan, tetapi sejatinya mereka bersikap sadis. Tidak ada lawan-lawan politik yang dikasihani di Indonesia ini. (Sebagai perbandingan, pemimpin-pemimpin Masyumi dulu jika berdebat di Parlemen dengan tokoh-tokoh Komunis, amat sangat keras. Tetapi di luar gedung Parlemen, mereka ngopi bareng, berbicara akrab, menanyakan anak-isteri, dan sebagainya. Hanya saja, orang-orang kafir Komunis itu kemudian tidak bisa menyembunyikan kebencian di dadanya kepada orang-orang beriman).

Inilah beberapa perbedaan fundamental cara berpolik orang-orang sekuler dengan politik Kenabian. Akibat berbeda titik-tolak, cara, dan tujuannya, maka berbeda pula hasilnya. “Politik itu kejam!” akan selalu berlaku dalam kehidupan politik sekuler. Sedangkan dengan merealisasikan politik Kenabian, ungkapannya berubah menjadi, “Politik itu barakah!” Politik Kenabian adalah setinggi-tingginya seni berpolitik, yang akan menghantar manusia mencapai Keridhaan Allah Ta’ala.

Dan merealisasikan ayat berikut ini, “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa (kepada Allah), maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 97).

Dr. Fahmi Hamid Zarkasyi dalam sebuah tulisannya di situs hidayatullah.com, beliau membuat analisis, bahwa prospek politik Islam di Indonesia nanti akan dikuasai oleh kalangan Islam moderat, seperti PKS, PAN, dan lainnya. Adapun Islam garis keras (misal seperti FPI, HTI, MMI, dll.) akan semakin tergeser oleh arus Islam moderat.

Menarik mencermati pandangan Direktur INSIST ini. Satu sisi, beliau adalah akademisi, faqih dalam lapangan perdebatan pemikiran. Namun dalam soal pandangan politik, beliau belum teruji. Di sisi lain, adalah substansi pandangan beliau itu sendiri. Lihatlah, bagaimana membandingkan PKS, PAN, PKB, dan sebagainya dengan ormas-ormas Islam seperti FPI, HTI, MMI? Ormas-ormas itu jelas tidak terjun dalam dunia politik. Mereka ekstra parlementer. HTI dan MMI malah dikenal sangat anti dengan sistem demoktasi. Ya, tanpa harus menunggu nanti, saat sekarang pun kalangan “garis keras” itu sudah terpinggirkan. Toh, mereka tidak bermain dalam lingkup politik praktis. Adapun kalau dalam konteks amar makruf nahi munkar secara umum, siapa bisa menjamin bahwa hanya partai-partai politik saja yang bisa bermain di dalamnya? Justru partai-partai itu sering cengengesan kalau diminta merealisasikan amanah amar makruf nahi munkar.

Kemudian siapa berani mengatakan, bahwa para politisi Muslim di Indonesia selama ini telah membangun politik Islam? Andai ada 5 orang saja politisi Muslim yang benar-benar mengemban amanah politik Islami, tentu akan tampak barakahnya dari pergumulan politik selama ini. Saya menyimpulkan, sebagian besar politisi saat ini, termasuk mereka yang mengklaim sebagai partai Islam, atau sebagai partai berbasis massa Islam, sebagian besar telah terjerumus cara-cara politik sekuler. Setidaknya, mereka mengesampingkan amanah Siyasah Islami, dan mendahulukan nafsu pragmatis-materialis yang menggelegak.

Salah satu bukti kongkret. Mengapa PKS selalu memposisikan dirinya sebagai partai eksklusif yang merasa paling “bersih dan professional”? Lalu sangat minim komitmennya untuk bersatu dengan sesama kawan-kawannya? Apakah itu bukti politik Islami yang “wa’tashimu bi hablillah jami’an”? Apa sih yang menghalangi PKS untuk menghargai saudara-saudaranya yang lain? (Sungguh, salah satu sebab kekalahan Politik Islami di Indonesia sejak era Reformasi adalah karena manuver-manuver eksklusif PKS ini. Padahal dalam AD/ART mereka jelas-jelas disebutkan misinya sebagai perekat kesatuan Ummat. Adapun di mata para fanatikus PKS, partai itu seperti Nabi yang ma’shum. Laa haula wa laa quwwata illa billah).

Bukan maksud hati ingin menanamkan sikap pesimis, tetapi kalau memang kita ingin melihat kebajikan Islam tumbuh di tengah-tengah masyarakat, ya harus mau mengusahakan model Politik Kenabian agar tercurah barakah yang luas dari langit dan memancar dari dalam bumi. Kalau terus-menerus ngubek dengan politik sekuler seperti itu, hasilnya hanya capek doang! Maksudnya, capek bagi Ummat; dan sejahtera, aman, sentosa, damai, bagi para politisi.

Ya Allah rahmatilah kaum Muslimin, tolonglah kami, belas kasihlah kepada kami. Bimbinglah kami, tunjukkan jalan kepada kami, ampuni kami, serta anugerahkan kehidupan yang baik bagi Ummat ini. Lindungi kami dari segala kezhaliman, baik yang nampak maupun tersembunyi; dari tangan-tangan yang lemah maupun tangan yang kuat. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 14 Maret 2009.

AM. Waskito.

Iklan

One Response to Politik Itu Kejam? Ya Iyalah…

  1. rz182 berkata:

    assalamualaikum wr. wb.

    kang was, salam kenal. mo tanya nih, gimana hukumnya kalo kita ngomongin kejelekan org meskipun tujuannya sebagai bahan pelajaran?

    nuhun kang,
    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: