Kisah “Developer” Rumah Demokrasi

Kalau Allah memberi Anda rizki yang cukup untuk membangun rumah, kira-kira apa yang akan Anda lakukan?

Saya yakin, Anda akan segera merancang bentuk rumah yang Anda inginkan. Anda akan konsultasi dengan isteri, orangtua, kakak-adik, bahkan dengan anak-anak, tentang model rumah yang terbaik. Setelah mendapat model yang cocok, Anda akan mencari developer (pembangun) yang handal untuk menyelesaikan pembangunan rumah itu.

Developer tersebut haruslah memiliki kemampuan teknik yang tangguh, sehingga bisa mengerjakan tugas yang Anda minta. Dia juga harus mengerti kualitas bahan-bahan yang baik, sehingga rumah bisa tahan lama. Dia juga harus cekatan bekerja, sehingga waktu pembangunan rumah bisa lebih cepat. Konsekuensinya, biaya bisa ditekan lebih hemat. Dan satu lagi yang paling penting, developer itu haruslah jujur dan amanah. Dia bukan tukang tipu; manis di bibir tapi pahit di kantong; bekerja sungguh-sungguh, tidak menguras duit klien. Syukur-syukur kalau developer itu memberikan penawaran biaya pembangunan rumah lebih murah. Woow, alangkah senangnya bertemu developer seperti itu.

Dalam membangun rumah, Anda membutuhkan kerja yang tangkas, biaya yang terjangkau, kualitas yang handal, serta waktu yang lebih cepat. Seperti kata seorang politisi pedagang, “Lebih cepat, lebih baik!” Lalu Anda sempurnakan slogan pedagang itu dengan ungkapan yang lebih baik, “Lebih cepat, kuat, murah, dan jujur, lebih baik!” Itulah yang diinginkan setiap pembangun rumah.

Tetapi dunia ini bak panggung sandiwara, ceritanya tidak mudah ditebak. Di dunia ini terlalu banyak kenyataan-kenyataan aneh yang sulit dimengerti. Untuk membangun rumah, seharusnya kita menempuh cara terbaik, yaitu mencari developer yang handal, berpengalaman, jujur, dan bertanggung-jawab. Tetapi kenyataannya, banyak orang justru mencari kondisi sebaliknya.

Mereka lebih suka mendatangkan para developer maniac yang kerjanya total menjengkelkan. Developer itu tidak memiliki reputasi membangun rumah yang berkualitas, atau gedung-gedung prestisius; tetapi reputasi mereka adalah selalu menjengkelkan hati para klien yang mempercayakan pekerjaan kepadanya. They work in order to hurt our hearts only!!!

Kerja Developer Maniac

Lalu bagaimana cara kerja developer maniac itu? Di bawah ini adalah sebagian gambaran cara kerja developer “bikin muntah” itu:

[1] Developer itu tidak pernah melakukan promo, tetapi para klien yang harus mengerjar mereka. Untuk mendapat pelayanan mereka, klien harus membuat surat lamaran rangkap 10, disertai fotokopi KTP, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, Surat Nikah, NPWP, rekomendasi instansi, bukti premi asuransi, surat keterangan dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan. Serta membayar biaya pendaftaran sebesar 5 % dari total anggaran rumah yang akan dibangun.

[2] Setiap klien pendaftar tidak otomatis dikabulkan permohonannya. Klien harus mengikuti test seleksi dulu bersama ratusan klien lainnya. Seleksi dilakukan di arena latihan Kopassus, di bawah pengawasan instruktur-instruktur Kopassus yang setiap tahun hanya tersenyum 6 atau 7 kali saja. Test seleksi dilakukan persis seperti seleksi penerimaan prajurit Kopassus. Standarnya, lolos seleksi setiap pendaftar bisa survive di hutan Kalimantan selama sebulan, tanpa membawa uang, ransel, korek api, HP, ATM, credit card, debet card, dll.

[3] Setelah klien lolos seleksi, mereka diwajibkan menandatangani perjanjian yang isinya sebagai berikut: Satu, segala keputusan dan kebijakan developer tidak boleh diganggu gugat, dan tidak berlaku surat-menyurat; Dua, klien diharuskan membayar DP senilai 80 % anggaran pembangunan rumah (ini sih bukan DP, tapi penjarahan); Tiga, kalau rencana pembangunan rumah dibatalkan secara sepihak oleh klien, DP tidak boleh diambil, bahkan klien diwajibkan membayar denda 20 % (jadi pas 100 %, tidak bekerja dapat uang 100 %); Empat, pekerjaan dibatasi sampai waktu tertentu. Selesai atau tidak selesai, developer berhenti kalau waktunya sudah habis. Kalau klien mau pembangunan diteruskan, dia harus mendaftar lagi dari awal; Lima, kalau klien tiga kali mempertanyakan kerja developer, proyek pengerjaan rumah seketika dihentikan. Developer tidak mengembalikan dana yang telah disetorkan kepadanya, dan klien didenda 20 % karena dinilai kurang ajar.

[4] Kalau surat perjanjian sudah ditanda-tangani, developer langsung melakukan surve lapangan. Dia akan mengecek ketinggian permukaan tanah, struktur tanah, kualitas air, sudut kemiringan tanah terhadap aliran air, kepadatan vegetasi/tanaman, potensi resiko binatang liar, catatan sejarah bencana di tempat tersebut sejak tahun 1800, potensi konflik sosial, keragaman etnis dan budaya, catatan kriminalitas di tempat itu dalam 100 tahun terakhir, profil para tetangga dalam radius 3 kilometer, kepadatan industri, pabrikan, toko-toko, dll. Untuk surve ini biasanya selesai tuntas 4 tahunan, sedangkan waktu pembangunan rumah hanya 6 bulan saja. Kalau klien mau, bisa ditempuh “cara damai”, dengan biaya hanya 10 % anggaran pembangunan rumah. Caranya yaitu difotokopikan hasil surve yang sudah jadi. Untuk biaya fotokopi, klien harus membayar 10 % anggaran. Wuuihhh…

[5] Setelah surve selesai, dilakukan penggambaran model rumah. Pihak developer biasanya akan meminta bantuan beberapa orang profesor arsitektur dari MIT Amerika, untuk membuatkan gambar rumah itu. Harga setiap gambar rumah plus asistensi, biasanya senilai 10 kali perjalanan pesawat klas Emirates bolak-balik Jakarta-Massachusetts. Kalau cara ini terlalu mahal, developer akan mentenderkan gambar rumah itu lewat penawaran di Google. Otomatis semua arsitek di muka bumi bisa ikut tender ini. Setiap peserta tender yang menyerahkan karya, meskipun dari hasil lukisan memakai program PAINT, akan diberi imbalan US$ 100. Maka itu, tender ini banyak diikuti anak-anak TK dari Amerika. Sampai mereka ada yang membuat gambar rumah dengan judul: “Home For The Loser!” atau “Come On Baby!” Dan semua biaya, termasuk pulsa online dibebankan ke klien.

[6] Setelah gambar jadi, developer mulai belanja material. Ini tahap lain yang lebih memusingkan. Developer tidak mau memakai bahan-bahan dari dalam negeri, semuanya produk impor. Batu bata didatangkan dari Nepal, kayu didatangkan dari hutan di Kenya, air diimpor dari lelehan es di Kutub Selatan, paku dibeli dari pabrikan baja di Uruguay, semen dibuat dari ekstraksi batu-batu di Pegunungan Alpen, triplek dibeli dari Irlandia, dan seterusnya. Prinsip yang dipakai oleh pihak developer adalah: “Kalau sesuatu bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?”

[7] Kalau bahan-bahan sudah didatangkan, meskipun dengan susah payah, proses pengerjaan rumah segera dilakukan. Disini developer mulai menerjunkan tim pekerjanya. Namun klien harus memberi jaminan perlindungan dan kenyamanan bagi para pekerja developer. Dalam jaminan itu isinya, antara lain: Para pekerja boleh merokok, makan minum, kirim-kirim SMS selama bekerja; setiap pekerja disediakan layar TV flat ukuran 30 inci dengan multi channel dan remote-nya sekalian. Para pekerja tidak boleh terlalu capek, mereka harus rileks, boleh chatting di internet, boleh ngisi blog, boleh meng-update facebook. Mereka boleh bekerja sambil main catur, main gapleh, mendengar musik, nonton VCD. Pekerja bebas penuh, tidak boleh dimarahi, dikritik, dicela, atau dighibahi. Membicarakan kejelekan pekerja akan terkena pasal: (1) Kalau salah, itu fitnah; (2) Kalau benar, itu ghibah.

[8] Setiap pekerja mendapat kompensasi kerja maksimal dari klien, selain dari developer. Mereka mendapat gaji per menit US$ 5,-. Mendapat bonus akumulasi setiap jam US$ 2,-. Mendapat jaminan asuransi kesehatan, asuransi kebugaran fisik, asuransi pendidikan, rekreasi, keselamatan jiwa, pengembangan profesi, kendaraan, kenyamanan keluarga, persahabatan, kebutuhan cinta, dan asuransi hiburan dari channel khusus selama 7 tahun. Mereka mendapat pakaian baru setiap hari, mendapat perawatan muka dari salon, mendapatkan konsultan wardrobe, cream bath setiap selesai kerja, SPA setiap 2 hari, serta mendapat koleksi VCD MTV terbaru setiap akhir pekan. Mereka mendapat bonus mingguan, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan, dan bonus akhir proyek. Oh ya, hampir lupa, setiap pekerja mendapat jaminan penuh bebas dari wartawan, bebas dari infotainment, serta bebas pajak.

[9] Pihak developer bebas menentukan apakah proyek pembangunan rumah diteruskan atau dihentikan di tengah jalan. Faktor-faktor yang bisa membuat proyek dihentikan antara lain: Musim hujan tiba, jalanan macet, banjir di Jakarta, hasil panen padi gagal (lho, apa hubungannya?), indeks saham di Dow Jones melemah 10 point, kurs rupiah melemah atau menguat setiap Rp. 200,-, ada Pemilu atau Pilkada, ada perayaan 17 Agustusan, Persib bertemu Persija dalam big match, ada demo mahasiswa, ada pembangunan mall baru, tim bulu tangkis Indonesia kalah lagi, dan berbagai faktor yang sangat dicari-cari. Dalam praktiknya, developer sering membatalkan proyek sebelum dikerjakan, sebab mereka sudah punya segepok alasan untuk menghentikan proyek itu. Bahkan pekerjaan utama developer itu sebenarnya lebih banyak membaca koran, baca majalah, nonton TV, browsing internet, untuk mencari-cari faktor yang bisa membatalkan hak-hak klien.

[10] Pekerjaan developer tidak boleh diutak-atik. Protes, demo, kritik, 100 % diharamkan. Developer berhak disebut sebagai pahlawan pembangunan, patriot bangsa, serta berhak mendapat bintang mahaputra; meskipun rumah yang dibangun rata-rata mangkrak di jalan. Developer selalu benar, dan tidak boleh salah. Kalau ada masalah, developer selalu berdalih: “Kerusakan ini warisan developer masa lalu. Banyak developer punya kepentingan politik. Semua ini gara-gara konflik elit developer di Jakarta.” Dan lain-lain alasan sejenis.

Cara kerja developer seperti di atas jelas sangat memuakkan. Rumah yang diinginkan tidak selesai, harapan tidak sampai, masalah semakin bertambah-tambah. Tentu saja ribuan klien kecewa dengan developer “bikin muntah” itu. Jika ada yang tidak kecewa, mereka adalah anak-isteri dari pekerja developer itu.

Dikawal Fatwa

Ketika banyak klien mulai protes, banyak orang mulai muak, developer takut kehilangan pasar. Maka dia segera mendekati ustadz tertentu untuk mendapat dukungan fatwa. Mereka butuh fatwa agar klien tidak lari dari praktik pembangunan rumah yang “bikin muntah” itu.

Disini terjadi percakapan fiktif antara developer dan ustadz:

Developer: Ustadz, sebenarnya praktik bisnis kami ini hukumnya bagaimana?

Ustadz: Oh, itu tergantung permintaan.

Developer: Lho, kok tergantung permintaan? Bukannya tergantung dalil-dalil?

Ustadz: Ya, dulu memang begitu. Dulu, keputusan mengikuti dalil; sekarang lain, dalil mengikuti keputusan.

Developer: Maksud ustadz bagaimana?

Ustadz: Ya, hukum itu bisa dibuat mengikuti permintaan klien. Kalau klien ingin wajib, sunnah, makruh, atau haram; itu bisa diatur-atur. Hukum apapun bisa dibuat, sebab mencari dalil-dalil itu sekarang mudah. Tinggal ketik beberapa kata kunci, wow segera muncul berderet-deret dalil. Ini mudah.

Developer: Apa setiap klien bisa mendapat fasilitas istimewa seperti itu?

Ustadz: Ya, tidak dong. Kita lihat-lihat dulu siapa yang meminta. Kita lihat-lihat dulu “tebal-tipisnya”. Makin tebal, makin banyak dalil yang bisa dikumpulkan, dan makin fasih pula pembacaan fatwanya.

Developer: Ngomong-ngomong, sebenarnya ustadz ini siapa?

Ustadz: Ya, ustadz juga manusia. Ingat kan judul sinetron. Maunya sih, dulu saya mau jadi developer juga. Tapi ya sudah nasib, akhirnya jadi ustadz. Ya, tak apa-apa. Meskipun begini, saya ini ustadz dengan semangat developer, lho.

Developer: Oh, begitu ya. Terus bagaimana syaratnya sampai kami bisa mendapat fatwa itu? Berapa lama proses itu berjalan?

Ustadz: Ya, tentu ada prosesnya. Anda buat lamaran dulu, lalu ikut seleksi khas Kopassus, lalu tanda-tangan surat pernyataan, ada surve, ada DP, dan sebagainya. Ya, seperti biasalah, seperti urusan kita-kita.

Realitas Kita

Mungkin Anda tertawa kalau melihat ada developer “bikin muntah” seperti itu. Tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita mengalaminya. Semua masyarakat Indonesia ingin membangun negara yang sejahtera, adil, bermartabat, bahagia lahir-bathin, mendapat Ridha Allah. Untuk tujuan itu kita membutuhkan sebuah SISTEM POLITIK. Harusnya, sistem politik itu efektif, hemat, simple, namun menghasilkan manfaat yang handal. Tetapi selama ini kita malah memilih sistem yang sangat rumit, penuh birokrasi, sangat menguras energi, biaya, pemikiran, perasaan. Sistem itu pun berpotensi menyebarkan konflik, menghancurkan harmoni sosial, menyuburkan permusuhan antar komponen masyarakat, menyuburkan kebohongan, kemunafikan, serta pengkhianatan amanah. Sistem itu telah memerangkap bangsa Indonesia dalam kebingungan, perpecahan, dan kemiskinan sistematik.

Hasil dari sistem seperti ini, sejak dimulai tahun 1999 lalu, hanyalah kekecewaan belaka. Indonesia tidak pernah keluar dari krisis; persoalan demi persoalan semakin membelit; demoralisasi merata di segala sektor; nilai-nilai insani semakin kabur, berganti perlombaan materi; harga diri kita sebagai manusia tidak ada lagi yang bisa dibanggakan; rasa kepercayaan sosial semakin menipis. Secara lahir bathin, kondisi bangsa kita semakin terpuruk.

Sungguh, untuk membangun bangsa ini kita tidak butuh SISTEM DEMOKRASI LIBERAL (yang digambarkan sebagai developer). Sistem seperti itu sangat membahayakan masa depan bangsa Indonesia.

Kita seharusnya membangun politik yang simple, ringkas, hemat, namun efektif menghasilkan kualitas keputusan politik yang handal. Caranya ialah dengan: mempersedikit kerja politik masyarakat, dan memperketat seleksi para pemimpin. Masyarakat jangan disibukkan oleh kerja-kerja politik yang boros energi, tapi miskin manfaat itu. Biarkan mereka lebih banyak terlibat dalam kerja profesi, belajar, kreatifitas, kerja ekonomi, sosial, keagamaan, dll. yang bermanfaat. Di sisi lain, setiap pemimpin yang dihasilkan (baik pemimpin politik, birokrasi, ormas, maupun sosial) haruslah memiliki kualifikasi yang handal, tangguh, dan kredibel. Mereka harus lolos seleksi penjaringan pemimpin yang ketat. Jangan sembarangan menelorkan pemimpin, baik dari kalangan sipil atau militer.

Secara praktisnya, mari kita kembali ke SISTEM PERWAKILAN. Biarlah masyarakat produktif dengan peran sosial masing-masing. Adapun untuk urusan politik, mari kita percayakan kepada wakil-wakil terbaik yang dipilih oleh masyarakat. Semakin banyak melibatkan masyarakat dalam politik, bangsa ini akan semakin lemah dan terpecah-belah. Serahkan urusan politik kepada tangan-tangan terlatih, berwawasan, dan memiliki komitmen moral. Sudahlah, masyarakat jangan berfantasi akan terlibat membangun negara dengan kerja politik. Fakta berbicara, sejak tahun 1999 sampai saat ini, hasilnya: Nol besar!!!

Hendaknya, media-media massa, para pakar, pengamat politik, akademisi, dan lain-lain; mereka mengerem mulut-mulutnya. Jangan asal njeplak! Komentar-komentar yang semakin membuat SISTEM DEMOKRASI LIBERAL merajalela, pada dasarnya merupakan komentar untuk “membunuh” bangsa ini.

Oke, kita berdemokrasi. Jika ia dianggap paling mungkin untuk saat ini. Tapi mohon, buatlah demokrasi ini sepraktis mungkin, mudah, simple, singkat, dan hemat biaya. Buatlah sistem demokrasi ini sedemikian rupa, sehingga ia menjadi mekanisme seleksi calon pemimpin/wakil rakyat yang berkualitas.

Saya menyarankan, di Indonesia ini cukup sekali Pemilu dalam 5 tahun, untuk memilih apapun. Itu pun diselesaikan hanya dalam satu bulan saja, jangan lebih dari satu bulan. Disana sudah termasuk kampanye, pengumuman caleg, dan proses pemilihan. Seminggu sebelum Pemilu, sebarkan kartu suara ke setiap rumah yang di dalamnya ada warga yang berhak memilih. Biarkan mereka memilih di rumah masing-masing. Berikan panduan profil orang-orang yang akan dipilih. Pada hari “H” Pemilu, setiap pemilih mengumpulkan suaranya di RT masing-masing. Setelah jam 12 siang, suara dihitung. Selanjutnya RT mengumpulkan hasil perhitungan ke RW, lalu RW ke Kelurahan, begitu seterusnya sampai ke Pusat. Cara begini sangat efisien, hemat biaya, praktis, tetapi hasilnya insya Allah lebih baik, sebab masyarakat bisa menimbang-nimbang pilihannya di rumahnya secara tenang. Sudah, begitu saja cara Pemilunya. Tidak usah bertele-tele seperti selama ini.

Pendek kata, jangan rusuhi hidup rakyat dengan tetek-bengek politik yang sangat menguras energi, pemikiran,waktu, dana, dll. Prinsipnya: “Kalau Anda tidak bisa membahagiakan masyarakat, jangan rusuhi hidup mereka dengan urusan politik yang tidak mereka butuhkan!

Menyalahkan Pihak Lain

Atas semua kenyataan buruk yang terjadi selama ini, banyak politisi busuk beralasan: “Kita mewarisi masalah banyak dari era Orde Baru. Semua keburukan ini adalah warisan Orde Baru.”

Kalau memang kita mewarisi banyak masalah, mengapa masalahnya ditambah-tambah lebih banyak? Justru karena Orde Baru meninggalkan banyak masalah, seharusnya kita lebih menghemat energi di segala bidang.

Kemudian, benarkah semata-mata semua keburukan ini warisan Orde Baru? Apakah proses Reformasi politik tidak menghasilkan masalah sama sekali? Bagaimana dengan korupsi akibat otonomi daerah, kebobrokan moral akibat kebebasan pers, konflik sosial akibat sengketa Pilkada, kehancuran ekonomi rakyat kecil akibat liberalisasi bisnis, kemiskinnan merajalela akibat kenaikan BBM, dan sebagainya? Apakah di jaman Orde Baru semua itu sudah ada?

Kemudian ada juga yang beralasan, “Ya, selama ini yang terjadi hanya pergantian sistem saja, dari sistem otoriter Orde Baru ke sistem demokrasi. Tetapi orang-orangnya belum berganti, masih sama seperti Orde Baru dulu.” Ini ciri mental pecundang. Kalau terdesak, selalu menyalahkan orang lain. Tidak ada kemauan untuk introspeksi diri.

Baiklah, orang-orang bermental Orde Baru dianggap sebagai biang masalahnya. Kalau begitu, mengapa kita buat sistem lain yang membuat orang-orang bermental Orde Baru itu semakin tumbuh subur? Mengapa kita buat sistem yang membuat orang-orang Orde Baru itu mengendalikan situasi? Cobalah lihat elit-elit politik yang ada saat ini! Sebagian besar adalah produk Orde Baru. Mereka bukan semakin lemah, tetapi semakin subur keadaannya. Sistem liberal membuat mereka semakin jaya, sebab mereka rata-rata memiliki infrastruktur politik kuat.

Posisi Politik Islam

Banyak politisi Muslim mengecam sikap golput. Alasannya antara lain: “Golput tidak menyelesaikan masalah”; “Golput akan menghasilkan pemimpin yang tidak legitimate”; “Golput merupakan cermin sikap politik tidak bertanggung-jawab”; “Golput akan menguntungkan non Muslim”; “Golput tidak sesuai dengan pandangan Ibnu Taimiyyah”; “Golput sama dengan mencegah kemungkaran, tetapi menghasilkan kemungkaran baru yang lebih besar”; dan sebagainya.

Ya, semua itu adalah alasan-alasan yang biasa dikatakan oleh para “developer”. Mereka takut kehilangan pasar/klien, maka mereka mengembangkan retorika-retorika seperti itu. Dari kacamata “developer” jelas golput sangat merugikan; tetapi dari kacamata klien, golput adalah realistik. Siapa mau mempertahankan suatu sistem yang hanya merugikan diri kita sendiri? Hanya orang-orang minus akal sehat saja yang mau terus dijadikan klien oleh para “developer”.

Justru, kalau para klien sepakat ingin mendongkel “sistem developer” ini agar tidak terus-menerus merugikan, caranya sederhana: jangan mau membeli produk jasa dari developer itu!!! (Ibaratnya, lakukan sesuatu seperti Anda melakukannya terhadap produk-produk yang mendukung Zionis Israel). Jangan membeli dari mereka, sampai mereka mau memperbaiki keadaannya!

Tidak membeli sesuatu dari “developer” adalah suatu tindakan untuk menyelamatkan masyarakat dari kezhaliman sistematik yang terus-menerus menimpa hidup mereka. Adapun mendukung sistem “developer” itu, biarpun beralasan dengan pandangan Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, sama saja dengan mempertahankan kezhaliman. Laa haula wa laa quwwata illa billah!

Fa’tabiru yaa ulil abshar…!

Bandung, 22 Maret 2009.

AM. Waskito.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: