Resiko Konflik Pasca Pemilu 2009

Sebentar lagi kita akan menyaksikan salah satu resiko dari DEMOKRASI LIBERAL yang selama ini disembah-sembah bangsa Indonesia. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bahkan demokrasi yang didukung oleh fatwa ulama. Laa ilaha illa Allah, wallahu Akbar.

Ini bukan ramalan, atau hasil menyingkap mimpi-mimpi, atau mendapat bisikan ghaib sebagaimana yang biasa diklaim orang-orang tertentu. Ini murni dari prediksi eskalasi politik saja. Kalau kita pahami peta politik yang berkembang dengan segala macam elemen yang bermain di dalamnya, dan fakta-fakta yang berkembang, resiko konflik itu sangat mungkin sekali.

Mari kita melihat indikasi-indikasinya:

[1] Resiko golput dalam Pemilu 2009 ini cukup significant. Faktor terkuat yang menyebabkannya adalah sikap para politisi dan partai politik yang hanya menjual janji-janji manis, dengan minim tanggung-jawab atas janji-janji yang diucapkannya. Juga karena perilaku “rebutan suara” yang seringkali dilakukan dengan cara-cara tidak etis.

Golput ini akan menyebabkan suara pemilih yang tidak golput akan berkurang, lalu ia diperebutkan secara ketat oleh partai-partai politik yang ada saat ini.

[2] Politik di Indonesia semakin lama semakin mahal, dengan biaya operasional yang dikeluarkan caleg, politisi, dan partai politik sangat besar. Sebagai contoh, ada politisi yang sempat melakukan publikasi besar-besaran dengan slogan  “hidup itu perbuatan”. Konon, untuk semua tujuan itu dia menghabiskan dana sekitar 300 miliar.

Biaya politik yang besar akan membuat masalah, kalau pihak-pihak yang sudah merogoh dana besar  itu lalu kalah dalam Pemilu, atau tidak lolos menjadi anggota dewan RI/daerah. Atau dia gagal menjadi Presiden RI. Bisa-bisa mereka melampiaskan kekesalannya dengan memicu keributan/perselisihan sosial.

[3] Hasil kerja KPU yang awut-awutan. Sampai ada LSM yang menganugerahi KPU dengan award “penyelenggara Pemilu terburuk” selama era Reformasi. Masalah DPT, jadwal kampanye, kesalahan cetak nama caleg dan nomernya, urusan logistik Pemilu, dll.

Nanti, kalau ada masalah dalam Pemilu, misalnya kandidat tertentu atau partai tertentu kalah, mereka bisa ngamuk, lalu menjadikan KPU sebagai kambing hitam. Apalagi kalau KPU sampai salah dalam mengumumkan hasil-hasil Pemilu. Wuuihh, sensitif banget kelihatannya.

[4] Banyaklah lembaga surve independen dan media-media massa yang melakukan quick count (penghitungan cepat) hasil-hasil Pemilu yang kadang di-update menit per menit. Secara emosional quick count itu bisa memacu adrenalin para pendukung partai-partai bersangkutan.

[5] Kerasnya konstelasi politik dalam memperebutkan posisi  RI I. Meskipun Pilpres masih lama, tetapi ajakan koalisi, mengelus-elus calon Presiden sudah dilakukan jauh-jauh hari. Pihak yang sekarang sedang berkuasa bekerja keras mempertahankan posisinya, sementara para penantangnya juga tak kalah kerasnya dalam usaha ingin mendongkelnya dari kursi kekuasaan itu.

Disini  ada “perang bintang”. Sebab yang bertarung adalah orang-orang yang memiliki  “bintang” (pangkat  jendral, purnawirawan). Belum lagi elit-elit politik yang juga kesengsem dengan posisi RI I, baik dari kalangan usahawan, politisi murni, sultan, tokoh independen, dll.

Dari Pemilu 2009 (baik Legislatif maupun Presiden), jelas akan ada yang menang dan kalah. Itu pasti. Yang menang akan bergembira dan layak menjadi panitia penyelenggaraan negara di periode berikutnya. Sedangkan yang kalah, bisa jadi akan sabar; akan stress, seperti calon bupati Ponorogo yang hilang ingatan; atau akan menumpahkan rasa dendamnya, dalam bentuk apapun yang mereka inginkan.

Kalau melihat ambisi para politisi yang menggebu-gebu, sifat materialis dengan mengucurkan dana berapapun untuk mengejar kemenangan, kecil kemungkinan mereka akan bersikap BIJAKSANA. Artinya, bisa menerima kekalahan politik secara legowo, wise, kepala tetap dingin.

Saya menyarankan kepada Ummat Islam beberapa hal:

Pertama, banyak-banyaklah berdoa, beribadah, berdzikir di rumah memohon ‘afiat, keselamatan, dan perlindungan kepada Allah SWT.

Kedua, bagi yang terlibat kompetisi politik: Anda harus siap menghadapi kekalahan dengan jiwa besar! Jangan marah, emosi, atau menyalahkan siapapun. Sebab dunia politik itu sangat rumit, tidak bisa diterjemahkan dengan bahasa “hitam putih”, seperti: “Ini nih gara-gara Si Anu dan Anu…” Pendek kata, harus siap sabar dalam kekalahan.

Ketiga, bagi ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam yang ada, marilah kita komitmen menjaga perdamaian dan kedamaian kehidupan masyarakat. Jangan ikut terlibat dalam perselisihan politik yang membuat kita berpecah-belah dan saling konflik satu sama lain. Syukur-syukur kalau ormas Islam bisa menghimbau sikap cooling down (mendinginkan situasi) saat terlihat peluang-peluang timbulnya konflik sosial.

Keempat, para pemuda Islam hendaklah bersikap rasional, yaitu tidak ikut memperlebar jurang perselisihan politik/sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kalau perlu mereka terlibat aktif  dalam upaya mendamaikan perselisihan yang ada.

Kelima, sudah sepantasnya Ummat Islam memberikan masukan kepada negara untuk merevisi sistem politik yang berlaku saat ini. Sistem demikian sangat rentan menimbulkan perselisihan sosial di tengah-tengah masyarakat kita sendiri.

Ingat selalu saudaraku:

“Pemilu itu sifatnya temporer, hanya beberapa saat saja. Tetapi perjalanan bangsa kita masih panjang. Jangan karena hal-hal yang bersifat sempit, atau menyangkut ambisi-ambisi politik sepihak, lalu kita korbankan masa depan bangsa ini. Bersikaplah sabar dan bijak untuk memelihara kehidupan manusia di negeri ini!”

Allahumma Antas Salam, wa minkas Salam, Tabarakta ya Dzal Jalali wal Ikram. (Ya Allah, Engkaulah yang Maha Selamat, dari sisi-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Demikian yang bisa saya sampaikan sebagai WARNING bagi kaum Muslimin. Semoga yang kita khawatirkan tidak terjadi! Moga bangsa ini senantiasa ditunjuki oleh Allah Ta’ala untuk menempuh jalan yang lurus dan diridhai-Nya. Allahumma amin ya Mujib.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 24 Maret 2009.

AMW.

Iklan

2 Responses to Resiko Konflik Pasca Pemilu 2009

  1. bursabukusolo berkata:

    Numpang Iklan
    Mau Nikah….
    Binggung cari souvenir pernikahan yang berkesan….
    Temukan cara cerdas mengajak kebaikan di : http://www.bursabukusolo.wordpress.com

  2. Pedy berkata:

    Sungguh naif mereka haramkan golput dengan dalih agama:

    Top 10 Alasan Sesat Wajibnya Pemilu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: