Satpam SMP Itu…

Tadi pagi saya mengantar putri saya yang kelas III SMP ke sekolah. Lumayan pagi, sebelum jam 6 pagi harus sudah sampai di sekolah. Ini rutinitas bertahun-tahun yang saya tekuni sebagai “tukang ojek” keluarga. He he he… Lumayan untuk ngirit biaya transpot. Alhamdulillah.

Nah, di SMP anak saya itu, di halaman depannya selalu ada seorang satpam. Bapak-bapak masih cukup muda, bertubuh tinggi dan agak gempal. Dia sangat konsisten dengan jadwal menjaga sekolah, sejak pagi sampai siang hari. Sebenarnya, kami tidak kenal secara dekat dengannya, tapi kami sangat tahu beliau, dan beliau tahu kami. Maklum hampir setiap hari saya mengantar anak saya, lalu ketemu dia di halaman sekolah.

Satu kesan yang saya tangkap. Satpam ini orangnya selalu rapi, tidak pernah berpakaian acak-acakan. Tapi memang, dia agak kurang ramah. Ya, tampang khas para satpam lah. Kalau terlalu ramah, mungkin dia akan jadi petugas front office ya… Untuk pekerjaan Humas, kayaknya Pak Satpam itu gak bakat sama sekali. Agak pelit senyum.

Tadi pagi ada yang surprised. Saya memacu motor, sebab jam sudah mendekati jam 06.00. Saat tiba di depan sekolah, ada pemandangan GANJIL yang nyaris tidak pernah saya saksikan selama bertahun-tahun mengantar anak ke SMP itu. Itu tuh…Pak Satpam itu mengeluarkan ujung bajunya. Ini pemandangan yang nyaris tidak pernah kami saksikan di depan SMP itu. Biasanya dia rapi, ya standar satpam lah; baju putih, celana biru, dan berbagai atribut yang dipakai secara kompak.

Lho, kok tumben pagi ini dia keluarkan bajunya. Jadi agak acak-acakan. Mungkin dia sedang lupa memasukkan baju; atau baru keluar dari kamar mandi belum rapi-rapi; atau mungkin sedang protes ke sekolah dengan bahasa “demo” seorang satpam; atau entahlah… Pokoknya nganeh-nganehi, untuk satpam sekolah terpandang yang bertahun-tahun konsisten, kok kali ini tampak agak acak-acakan.

Secara refleks saya bereaksi. Saya menurunkan anak saya dari motor, saya berbisik kepadanya: “Tolong bilang ke Pak Satpam, dia suruh masukkan bajunya!” Mula-mula putri saya itu agak serius mendengar…mungkin dikiranya saya serius. Tetapi setelah sejenak dia cerna, seketika itu dia tertawa! (Artinya, dia juga merasa aneh, kok tumben satpam itu tampil acak-acakan).

Ya, saya tidak bisa lama-lama menanti dia selesai tersenyum. Dan lebih tidak bisa menunggu lagi dia akan menasehati satpam itu agar memasukkan bajunya. Apalagi membayangkan, dia akan bilang ke pak satpam, “Ini aku disuruh abiku, lho!” Wah, bisa berabe gue… (Sesekali pinjam bahasa wong Jakarta. Keluarga isteri kan di Depok dan banyak juga di Jakarta. Biasalah bahasanya, lu gue).

Ya, ini hanya intermezzo saja. Itulah, kadang Allah Ta’ala menghibur kita dengan sesuatu yang spontan, tiba-tiba tampak di depan mata. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Ini sekedar humor ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: