Mengapa Ummat Tidak Menghargai Dakwah Islam?

Sebuah fakta. Dalam Pemilu 1955, Partai Masyumi masuk 4 besar peraih suara terbanyak, bersama PNI, NU, dan PKI. Malah Masyumi kalau tidak salah suaranya ada di bawah PNI, lebih besar dari NU dan PKI. Padahal Masyumi itu dalam Parlemen (Konstituante) sangat fundamentalis. Mereka bukan hanya menyerukan tegaknya Syariat Islam, tetapi juga mengkritisi dasar negara Indonesia -sesuatu yang nyaris mustahil terjadi di era ini-. Meskipun fundamentalis, tetapi Masyumi mampu meraih suara besar.

Fakta lain. Sejak Pemilu 1999, partai-partai Islam semakin terpuruk. PK kandas di Pemilu 1999, PBB meraih suara kecil tetapi lolos electoral treshhold. PPP meraih suara lumayan, tetapi tidak sebagus perolehannya selama Pemilu di jaman Orde Baru. Selama Orde Baru, PPP sering menjadi runner up dari 3 kontestan politik. Setelah Reformasi, PPP suaranya selalu di bawah PDIP. Dalam Pemilu 2004, suara PKS menguat, tetapi PBB terjungkal. Adapun partai seperti PBR, PKU, PNU, dan lain-lain yang berbasis Islam, mereka menjadi partai-partai gurem.

Fakta lain lagi. Bukan hanya di tingkat partai, di jajaran ormas Islam pun, situasinya juga memprihatinkan. NU dengan segala perbaikan kondisinya tetap merepresentasikan kekuatan Muslim tradisionalis yang phobia berbicara tentang perubahan, dalam konteks pemahaman, sikap beragama, maupun sikap politik. KH. Hasyim Muzadi dalam Pilpres tahun 2004 menjadi pasangan kandidat presiden, Megawati. Padahal secara kultural NU sangat menolak adanya pemimpin negara seorang wanita. Muhammadiyyah perkotaan, semakin lama semakin digerogoti oleh pemikiran-pemikiran liberal. Syafi’i Ma’arif dan cendekiawan-cendekiawan Muhammadiyyah banyak yang menyuarakan konsep-konsep pemikiran liberal. Salah satunya, perhimpunan Muhammadiyyah pernah menentang fatwa MUI tentang haramnya bunga bank. Sebagian anggota Muhammadiyyah pernah berkunjung ke Israel dengan melakukan kegiatan-kegiatan tertentu disana yang sangat memalukan kaum Muslimin.

Ormas Islam lain, seperti Al Irsyad saat ini terbelah dalam dua rumpun komunitas. Sedangkan Persis, Syarikat Islam, dll. nyaris tidak terdengar kiprahnya. Kata orang, “Wujuduhum ka adamihim” (adanya seperti ketiadaannya). Begitu pula ICMI. Dulu namanya berkibar-kibar luar biasa, tetapi saat ini seperti “hilang vitalitas”.

Ya, alhamdulillah masih ada kekuatan-kekuatan lain yang wajib disyukuri dengan sepenuh hati kepada Rabbul ‘alamiin. Misalnya, Pesantren Hidayatullah, Pesantren Gontor, FPI, MMI, HTI, Wahdah Islamiyyah, dll. yang tetap eksis, saat yang lain-lain mengalami banyak problem internal. Bisa jadi, lembaga-lembaga ini merupakan benteng-benteng terakhir kaum Muslimin di Indonesia. Semoga Allah Al ‘Aziz selalu menjaga mereka dalam kebaikan, istiqamah, kemajuan, serta komitmen ukhuwwah Islamiyyah yang teguh. Allahumma amin.

Singkat kata: Di berbagai sisi kehidupan kaum Muslimin Indonesia saat ini memang sedang “panen masalah”. Banyak sekali masalah itu, beragam bentuknya, bersumber dari bermacam arah, sangat rumit kait mengaitnya satu sama lain.

Sebuah pertanyaan, mengapa dakwah Islam yang kita serukan selama ini kurang mendapat respon dari kaum Muslimin? (Tercermin dari lemahnya dukungan Ummat kepada partai-partai Islam dan ormas-ormas Islam).

Ya, banyak orang akan memberikan alasan, sesuai dengan perspektif masing-masing. Tetapi disini saya ingin memberikan satu jawaban yang mudah-mudahan lebih mendekati kepada kebenaran. Masyarakat selama ini kurang mendukung dakwah Islam, karena mereka tidak merasakan manfaat nyata dari dakwah Islam bagi kehidupannya.

Argumentasinya sederhana, apapun yang selama ini disukai masyarakat luas, kebanyakan karena mereka menganggap apa yang disukainya itu bermanfaat baginya. Contoh, mengapa TV begitu digandrungi masyarakat? Sebab TV dianggap sangat menghibur, bisa membantu mengatasi stress, meskipun iklannya terlalu banyak. Mengapa masyarakat suka dengan musik-musik pop band-band anak muda? Sebab mereka merasa itu keren, menghibur, dan liriknya sesuai dengan fantasi-fantasi mereka. Mengapa masyarakat suka dengan motor keluaran Honda? Karena ia dianggap bandel, irit BBM, lajunya oke, dan purna jualnya tinggi. Mengapa masyarakat suka goyang erotis, seperti Inul, Dewi Persik, dan kloningan-kloningan mereka? Sebab, goyangan mereka dianggap memberi hiburan fantasi seks, sedangkan orang laki-laki “normal” suka dengan hal itu. Mengapa masyarakat senang minum Teh Botol Sosro? Sebab mereka puas, pahitnya pas, manisnya pas, segarnya memberi sensasi. Dan banyak contoh-contoh lain.

Intinya, masyarakat suka sesuatu karena ia memang dianggap bermanfaat. Terlepas, apakah ia benar-benar bermanfaat, atau hanya tipuan saja. Pendek kata, dalam diri manusia itu ada SIFAT PRAGMATIS, yaitu menghitung segala sesuatu dengan ukuran untung-rugi. Dan sifat demikian sifatnya FITHRAH. (Lho kok fithrah-nya? Apa tidak ngibul, tidak ekstrem, tidak sesat?).

Coba saja Anda lihat dalam ayat-ayat Al Qur’an, berapa banyak Allah Ta’ala memberi janji-janji pahala dan syurga kepada orang-orang beriman yang beramal shalih? Lalu berapa banyak pula Allah memberi ancaman berupa dosa, siksa, dan neraka? Apa Allah meletakkan begitu saja ayat-ayat tersebut tanpa memahami karakter dasar manusia yang diciptakan-Nya? Dalam hal ini sampai ada ulama yang menyusun kitab tersendiri yang berisi targhib wa tarhib (pemberian harapan dan ancaman).

Sifat manusia cenderung pragmatis. Kalau mereka tidak mendapati manfaat dari dakwah Islam yang bisa mereka rasakan, mereka lihat, atau mereka terima, tidak berlebihan kalau akhirnya mereka tidak bersimpati kepada dakwah Islam. Memang, dakwah itu sepenuhnya bergantung Hidayatullah, tetapi mungkinkah Allah meletakkan hidayah begitu saja? Bukankah Dia Maha Bijaksana, sehingga Dia akan memberi peluang hidayah yang lebih bagi mereka yang lebih bersungguh-sungguh dalam kebaikan?

Ada sebuah ungkapan baik dari sebagian masyarakat Muslim di Bandung. Saat mereka membandingkan antara ajaran Islam dan Kristen, mereka mengatakan: “Islam itu kaharti, tapi teu karaos. Kristen itu teu kaharti, tapi karaos.” (Islam itu dapat dimengerti ajarannya, tetapi kurang terasa manfaatnya. Sementara Kristen itu tidak dimengerti ajarannya, tetapi dapat dirasakan manfaat dari sumbangan-sumbangan sosialnya). Ungkapan seperti ini seharusnya menjadi tamparan besar kepada para dai-dai Muslim. Jangan sampai, saudara-saudaramu menjadi kaum “muallaf” bagi agama lain, hanya karena kita tidak bisa memanusiakan mereka.

Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menuturkan kisah yang sangat unik. Beliau pernah didatangi seseorang yang bertanya kepadanya. Orang itu punya dua tetangga yang sama-sama Muslim, tapi perilakunya bertolak belakang. Satu adalah seorang haji yang rajin shalat ke masjid, tetapi sikapnya keras, termasuk keras kepada tetangga-tetangganya. Satu lagi adalah seorang dokter yang tidak pernah shalat, tapi sikapnya lembut-ramah kepada tetangga, bahkan kepada hewan piaraan. Dokter itu punya anjing. Suatu saat anjingnya masuk pekarangan Pak Haji, sehingga dilempar sedemikian rupa. Anjing itu lari kesakitan, pulang ke rumahnya, lalu dipeluk sang dokter.

Orang itu bertanya ke Hamka, “Mana yang lebih baik dari kedua orang itu?” (Haji yang shalat tetapi hatinya kasar, atau dokter yang tidak shalat tetapi hatinya lembut?).

Hamka menjawab dengan bijak: “Haji itu kalau tidak shalat, mungkin dia akan jauh lebih kasar lagi. Sementara dokter itu sudah baik, tetapi dia akan lebih lembut lagi kalau mau shalat.”

Penuturan ini memberi gambaran kepada kita, bahwa masyarakat (direpresentasikan oleh seseorang yang bertanya ke Hamka) akan memandang kaum Muslimin itu dengan kebaikan-kebaikan yang memancar dari dirinya. Kalau seorang Muslim minus kebaikan, kecil kemungkinan seruan dakwahnya akan disambut oleh Ummat.

Nabi Saw sendiri tidak ujug-ujug begitu saja menjadi Nabi. Beliau diangkat sebagai Rasul pada usia 40 tahun, sementara sejak kecil sampai usia 40 tahunan itu beliau selalu menabung reputasi. Salah satu bukti kongkretnya adalah gelar Al Amin yang diberikan bangsa Arab kepadanya. Gelar itu tidak pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya, dan begitu pula tidak ada sesudahnya.

Nabi juga pernah kontribusi menjaga keamanan Kota Makkah bersama perserikatan Hilful Fudhul. Beliau pernah menengahi perselisihan meletakkan Hajar Aswad ke dalam Ka’bah. Beliau dikenal jujur dalam berdagang, selalu simpatik dalam safar, sehingga Khadijah bersedia dinikahinya. Nabi juga diakui oleh Khadijah sebagai orang yang banyak berbuat baik, menolong para musafir, menyambung silaturahmi, dan lainnya. Pendek kata, beliau telah memiliki banyak prestasi baik, sebelum menjadi Nabi. Saat kemudian beliau mendakwahkan Islam, beliau telah siap segala-galanya memikul risalah langit tersebut.

Coba mari kita lihat masalahnya dalam kehidupan riil kita:

[o] Saat terjadi krisis lingkungan, adakah dakwah Islam yang turun tangan?

[o] Saat terjadi penggusuran pasar-pasar rakyat untuk dijadikan mall-mall modern, adakah dakwah Islam berdiri di samping para pedagang yang menangis histeris itu?

[o] Saat kedai-kedai kaki lima yang dibangun dengan susah-payah, diberangus oleh petugas Tramtib dan lainnya, adakah satu pun ustadz ada disana?

[o] Saat ada seorang Muslim yang ditindas oleh birokrasi, dengan segala macam modusnya, adakah seorang aktivis Islam yang peduli?

[o] Saat anak-anak Muslim terlantar, ayah-ibunya sangat miskin, tidak mampu bertahan hidup secara layak, lalu membiarkan anak-anaknya menjadi gelandangan dan anak jalanan, siapakah dari angniya’ Muslim yang mau turun tangan menyantuni mereka?

[o] Saat wanita-wanita Muslimah (meskipun belum berjilbab) menjadi korban perkosaan atau kekerasan seksual, adakah dari kita yang peduli?

[o] Saat ada masyarakat yang menjadi korban kekerasan oleh pihak manapun, adakah dari kita yang turun untuk memberikan bantuan?

Dan banyak lagi momen-momen lain yang tidak perlu disebut disini. Betapa asing ajaran Islam di mata masyarakat. Seperti kata orang Bandung itu, “Ajaran Islam bisa dipahami, tetapi manfaatnya tidak kerasa!” Padahal kalau kita ingat bahwa agama ini RAHMATAN LIL ‘ALAMIN rasanya mustahil agama ini tidak ada manfaatnya. Apa gunanya Allah memberi sebutan rahmatan lil ‘alamiin?

Almarhum Buya M. Natsir pernah memberi teladan. Suatu saat ada seorang pemuda Muslim di Bandung ditangkap aparat kepolisian. Beliau sangat peduli, meskipun pemuda itu bukan siapa-siapa. Namun ada pemuda Bandung yang menasehati Buya Natsir. Katanya, “Abah, dia bukan orang kita!” Maksudnya, pemuda itu bukan bagian dari lembaga dakwah Buya Natsir. Namun beliau dengan tegas menjawab, “Bukankah dia Muslim?” Jawaban ini sangat tegas, sehingga aktivis dakwah dari Bandung itu tidak berkutik.

Ya, seharusnya begitu sikap seorang dai Muslim. Selama kita mengemban dakwah, kita harus berjuang memberi manfaat sekuat kesanggupan bagi sekeliling kita. Tidak peduli mereka mau berterima-kasih, mereka mau memuji, atau mereka cemberut dan melupakan jasa kita. Pokoknya, sebarkan, sebarkan, dan terus sebarkan kebaikan. Jangan pernah lemah hati untuk berbuat kebaikan. Biarlah Allah Ta’ala yang akan membalas itu semua. Kita menaburkan benih kebaikan di muka bumi, lalu Allah akan menumbuhkan benih itu, mengembangkan benih itu, lalu memunculkan buahnya, dimanapun Dia kehendaki.

Tidak seperti selama ini. Kebaikan itu begitu mahal disebarkan. Banyak orang selalu berhitung-hitung, “Kalau aku memberi 10 ribu, aku harus mendapat ganti 100 ribu.” Banyak orang merasa kelu berbuat baik, namun sangat bernafsu dalam menuntut kebaikan. Kalau ditanya, “Apa yang Anda inginkan?” Dia segera ngoceh dengan segala tuntutan, harapan, impian, dan apapun yang dia inginkan, untuk memuaskan dirinya. Dia lupa sama sekali untuk mengatakan sesuatu yang bersifat tanggung-jawab dia kepada Ummat.

Kalau baru berbuat kebaikan sedikit, selalu diungkit-ungkit. Setiap orang harus hafal kebaikan yang telah dia lakukan. Tidak lupa masyarakat diberi “sticker” atau “kaos”, biar selalu ingat dengan jasa-jasanya. Seakan-akan mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang beramal untuk dunia.

Dalam konteks lain, kalau ada anak muda Muslim yang bersikap kritis, segera muncul berbagai prasangka buruk: “Siapakah dia? Dia binaan intel kah? Dia dapat rekomendasi dari mana? Dia siapa berani berkata-kata lancang?” Dan seterusnya. Seolah yang berhak berbuat baik, hanya para “senior recomended” saja; sementara mereka kalau ditanya tentang berbagai persoalan Ummat, cicing wae.

Begitulah…betapa banyak alasan yang membuat dakwah Islam di Tanah Air menjadi tidak berharga di mata Ummat. Sungguh, kita tidak usah memakai sorban semua, melucu semua, membuat majlis dengan tangis-tangisan semua, atau bernyanyi-nyanyi semua. Tidak harus untuk berdakwah dengan cara seperti itu. Kita bisa berdakwah dimanapun, kapanpun, dalam kondisi bagaimanapun. Caranya dengan: MENYEBARKAN MANFAAT ke seluruh alam. (Modifikasi dari istilah Tabligh). Sebarkah rahmat Islam kepada siapapun, dengan ikhlas, dengan meminta balasan kepada Allah Ta’ala. Maka nanti, Islam ini akan dihargai oleh Ummat-nya.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 26 Maret 2009.

AMW.

One Response to Mengapa Ummat Tidak Menghargai Dakwah Islam?

  1. Andri berkata:

    Assalamualaikum

    Setiap zaman…semakin berbeda kharakter individu-nya…ketika para sunan berdakwah mereka meng alkulturasi budaya yang ada dengan budaya islam agar mereka dapat menerima. Ada baik-nya mungkin maaf apabila saya salah, cara dakwah kepada masyarakat mengikuti budaya tetapi tidak melanggar aturan agama. Salah satu-nya dengan apa yang Anda lakukan sekarang “Blog…Tehnologi informasi”.

    Seperti yang di lakukan beberapa ustad muda dengan bahasa gaul-nya menurut saya kita jangan Anti….cara ini dapat menambah informasi ke islaman kepada kaum muda yang mulai ke blinger.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: