Partai “MAK EROT” Merajai Dunia Politik

Anda mungkin heran, mana ada Partai “MAK EROT” dalam Pemilu kali ini. Tidak ada satu pun yang namanya “MAK EROT”. Kalau begitu, mengapa ia disebut merajai politik nasional?

Iya, memang ini bukan partai sesungguhnya. Ini hanya fenomena politik saja. Untuk memahami masalah ini, mari kita runut pelan-pelan:

[o] Lihatlah teman-teman budiman, setiap ada kampanye rapat umum di lapangan manapun, terutama di kota-kota besar, disana selalu dihibur dengan hiburan dangdut. Penyanyi dangdutnya kebanyakan cewek-cewek. Dan rata-rata selalu melakukan goyang erotis. Nah, kata EROT itu dari fenomena goyang erotis dimana-mana itu. Termasuk partai yang mengklaim partai Islam juga memakai  goyang beginian. Ironis benar!

[o] Rata-rata yang melakukan goyang erotis itu cewek-cewek genit, penyanyi-penyanyi yang menyuguhkan goyangan erotik untuk menghibur mayoritas para pendukung partai. Termasuk tentu, menghibur elit-elit politik yang juga tak kalah khusyuk-nya saat menikmati goyang erotik itu. Kalau tidak salah menebak, kebanyakan cewek-cewek itu sudah menikah, atau pernah menikah. Bisa dibilang, mereka itu emak-emak juga. Maksudnya ibu-ibu juga, atau pernah menikah. Nah, itulah asal kata MAK.

[o] Kita tidak mengerti mengapa semua partai-partai memakai goyang erotik untuk menyedot para pendukungnya? Malahan para pendukung itu lalu ikut joget-joget di lapangan. Padahal dulu, cara dangsutan ini khas PDI. Ini gaya kampanye mereka. Tapi sekarang semua sudah bererotis-erotis ria. Singkat kata, goyang erotis itu dipakai untuk menyedot perhatian para pendukung politik, para pemuda, atau bapak-bapak yang memang suka goyang erotis. Jadi ini masalah selera “alat gender” kaum laki-laki yang memang suka dimanjakan dengan tontonan erotik. Tetapi ini khas orang-orang fasiq lho, bukan tradisi hidup orang-orang beriman. Kalau soal “alat gender” itu, Mak Erot memang ahlinya. Jadi nyambung kesana.

[o] Saya pikir pantas saja pembahasan RUU APP di DPR kemarin alotnya bukan main. Ya bagaimana tidak, wong mayoritas politisi di partai-partai ternyata penggemar “MAK EROT”. Ya, bagaimana mereka akan serius membahas RUU APP, kalau memang demen dimanjakan oleh tontonan-tontonan cewek-cewek amoral itu? Kalau melihat kenyataan begini, pesimis kita kalau DPR nanti akan memperjuangkan moral. Wong cara main politiknya saja seperti itu. Harusnya jujur saja, mereka membuat “Partai ON CLINIC” sekalian? Ya, biar akur antara dunia Mak Erot dengan On Clinic.

[o] Pertanyaan, mengapa cewek-cewek itu begitu berani melakukan gerakan-gerakan erotik di depan umum tanpa rasa malu? Ya, biasanya mereka sudah “jebol” duluan secara illegal. Maka setelah “jebol”, mereka menjadi tidak merasa malu lagi. Di mata mereka, lenyapnya kegadisan atau lenyapnya kehormatan diri, itu lebih berat ketimbang tampil erotik di depan umum. Tampil erotik di depan umum bagi mereka lebih ringan ketimbang saat mereka “jebol-menjebol” dengan laki-laki durjana. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah a’ ‘afiyah li wa lakum wa li ahlina jami’an. Allahumma amin.

[o] Dari fenomena Partai “MAK EROT” ini kita sudah bisa melihat betapa buramnya wajah politik bangsa Indonesia. Buram, gelap, suram. Mayoritas mengandalkan sarana-sarana erotisme untuk mencapai kemenangan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ya itulah. Kini yang mendominasi keadaan adalah Partai “MAK EROT”. Visi, misi, program, janji, dll. bisa macam-macam, tapi mereka sepakat dalam satu hal, yaitu: Ke-“MAK EROT”-an. Memakai mak-mak untuk goyang erotik di depan ribuan pendukung politiknya. Kasihan betul anak-anak kita yang masih kecil, yang ikut kampanye. Mereka sudah disuguhi hiburan “alat gender” bagi orang-orang dewasa.

Saran saya, nanti cobalah buat hiburan lain. Misalnya, adu gulat, adu panco, adu tarik-tambang, adu silat, adu karate, adu main pedang, dll. Hiburan begitu menghibur, tapi juga sehat. Jangan “Mak Erot” begituanlah. Tobat Mas, Kang, Bang! Tobat deh! Anak-anakmu sendiri pasti akan dilarang memelototi goyangan emak-emak “kurang bahagia” itu.

Sadarlah…

AMW.

One Response to Partai “MAK EROT” Merajai Dunia Politik

  1. Moris Priyandono berkata:

    Kalau partai2 sekuler “nanggap” dangdutan dari dulu itu juga biasa. Tetapi apa yang kita saksikan baru2 ini sangatlah bertolak belakang. Pantas kalau kita berucap “innalillah” kepada partai2 berasas/ berbasis massa Islam seperti PKB, PKS, PKNU, dll yg menggunakan dangdut/ musik2-an di dalam kampanye2 mereka sementara di sana ada dukun yg menyesatkan ribuan (jutaan??) orang sama sekali tidak mereka hiraukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: