Teladan Husnul Khatimah

Sempat ada seorang ikhwan yang bertanya di board diskusi tentang cerita husnul khatimah yang kita saksikan. Jujur saja selama ini saya lebih banyak mendengar cerita, daripada menyaksikan sendiri seseorang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah.Tapi tidak ada salahnya kita mendengar kisah dari saudara-saudara kita kaum Muslimin yang meninggal dalam keadaan baik, dengan memohon bahwa kelak kita pun akan meninggal dalam keadaan seperti itu. Allahumma amin.

Cerita ini bersumber dari isteri saya, saat dia baru menjenguk guru ngajinya yang sedang dalam kondisi kritis. Dari silaturahim itu, isteri mendengar kisah husnul khatimah tentang gurunya yang sudah meninggal beberapa lama sebelumnya. Saat silaturahim itu isteri menjenguk Ummi, guru wanita yang mengajar dia pelajaran-pelajaran agama sewaktu kecil.  Sementara yang mengalami husnul khatimah itu guru laki-laki, yang mengajar dia membaca Al Qur’an sewaktu masih kecil (SD).

Oh ya, sebelum dilanjutkan, guru isteri yang wanita (Ummi) akhirnya meninggal beberapa hari kemudian, setelah isteri menjenguk ke rumahnya. Beliau meninggal dalam keadaan sakit berat, badannya bengkak-bengkak, banyak keluar cairan, katanya sampai seember setiap hari. Sakitnya sangat payah/berat. Kemudian beliau pun meninggal menyusul suaminya yang telah meninggal sebelumnya. Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu anha. Allahumma amin.

Begini cerita husnul khatimah itu:

Apa, panggilan guru ngaji yang laki-laki itu. Beliau istiqamah mengajar anak-anak mengaji Al Qur’an. Salah satu muridnya adalah isteri saya sendiri. Meskipun isteri pernah mengeluh, cara mengajarnya terlalu keras, dengan memakai “alat bantu” tongkat bambu untuk “menertibkan” anak-anak.

Beliau lama menderita sakit, layaknya seseorang yang sudah lanjut usia. Tetapi suatu saat beliau merasa badannya sehat. Keluarga juga merasa dirinya sudah mulai sehat. Banyak orang menyangka, dia akan sembuh. Padahal “sehat” seperti ini biasanya adalah “sehat” untuk pamitan saja. Allah Ta’ala memberi kesempatan dia sehat beberapa saat, untuk melakukan pamitan dengan keluarganya, serta menyiapkan momentum perjalanan pulang terbaik. Hal ini sebenarnya bukan sehat seperti yang banyak disangka. Justru itu akan menjadi akhir kehidupannya.

Saat merasa sehat, Apa ingin menjalankan shalat dhuha. Mula-mula dia merasa ingin buang air besar. Ketika di kamar mandi, dia buang air besar sangat banyak. Berbeda dengan umumnya buang air yang dia alami selama ini. Selesai buang air, dia merasa heran begitu banyak kotoran yang keluar dari lubang pembuangannya. Ya sudah, itu pun dilupakan.

Saat mulai menjalani shalat dhuha, beliau mengucapkan takbir, ALLAHU AKBAR. Tetapi takbir itu sangat keras, tidak seperti layaknya orang takbir dalam shalat Sunnah biasa. Keluarganya merasa heran, mengapa mengucapkan takbir sekeras itu. Tapi mereka tidak terlalu menganggap penting. Ya ia dianggap biasa saja.

Setelah lama menjalani shalat dhuha, Apa tidak terdengar suaranya sama sekali. Isterinya segera memeriksa keadaannya. Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun, ternyata beliau sudah meninggal di atas sajadah. Sepertinya, takbir keras tadi adalah takbir terakhir yang bisa dia ucapkan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ketika dia dimandikan, perutnya sudah bersih, tidak banyak kotoran dari dalam perutnya. Sebab kotoran itu sudah dikeluarkan saat beliau buang air banyak tadi. Masya Allah, begitu indahnya kematian ini. Beliau meninggal dalam keadaan shalat dhuha, setelah mengucap takbir.

Hal ini menjadi sebuah pelajaran tersendiri, sebab Apa itu adalah seorang warga NU, guru NU, mengajar mengaji dengan metode-metode NU. Artinya, andai banyak amal-amalnya jatuh dalam bid’ah karena ke-NU-annya itu, maka perbuatan bid’ah itu tidak otomatis menghalangi seseorang untuk meninggal dalam husnul khatimah.

Bukan berarti bid’ah itu baik dan boleh dikerjakan. Tidak demikian. Tetapi tidak semua pelaku bid’ah otomatis disebut ahli bid’ah yang sesat. Siapa tahu, dia tidak mengerti ilmu, sehingga menganggap bid’ah-nya itu sebagai ilmu yang perlu diamalkan dengan konsisten. Di sisi lain, seorang pelaku bid’ah kadang tidak fanatik dengan bid’ahnya. Hal itu bisa ditunjukkan dengan sikapnya yang ramah kepada pemuda-pemuda yang menjalankan Sunnah. Mereka tidak anti pati, tetapi menghormati pemuda-pemuda itu, meskipun mereka sendiri belum bisa lepas dari bid’ahnya.

Saya juga mendapati teladan husnul khatimah lain dari orang-orang yang kelihatannya pelaku bid’ah. Maka kita harus berhati-hati dalam menilai orang lain. Jangan cepat-cepat mengadili dengan penghakiman yang semena-mena. Jangan sampai kita membenci seseorang yang tidak berhak dibenci, bahkan Allah pun tidak membencinya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: