Sikap Politik Amien Rais

April 29, 2009

Terus-terang, saya termasuk salah satu pemerhati yang sulit memahami manuver-manuver politik Amien Rais, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN. Semakin kesini semakin sulit memahami pemikiran sekaligus gerak siyasi seorang Amien Rais. Pro Islam kah, pro reformasi kah, pro perubahan kah, atau pro kekuasaan? Wallahu A’lam.

Masyarakat Indonesia masih ingat dengan baik -kecuali yang sudah lupa- betapa kerasnya sikap politik Amien Rais kepada Pemerintahan SBY, terutama dalam soal “kenaikan harga BBM” dan rencana “penjualan puluhan aset stategis negara”. Waktu itu Amien sampai membuka front politik terbuka menghadang langkah SBY. Tidak tanggung-tanggung, Amien menuduh SBY sebagai agen Washington dengan memperlihatkan surat tertentu. Jelas, SBY kalang-kabut menghadapi serangan Amien Rais itu.

Saya sendiri ikut menyaksikan bagaimana aksi seorang Amien Rais ketika “membantai” Jusuf Kalla dalam sebuah diskusi di MetroTV, bersama BJ. Habibie dan disaksikan salah satunya oleh Hendro Priyono. Amien tanpa kesopanan sama sekali menyebut JK sebagai “Betara Kalla”, padahal seharusnya seorang negarawan itu sebenci apapun kepada musuh-musuh politiknya, dia harus tetap menjaga etika.

Contoh, George Bush ketika dia dilempar sepatu oleh Muntazher Al Zaidi di Irak. Adakah lagi kejadian yang paling memalukan bagi seorang kepala negara, selain dirinya dilempar sepatu dua kali, lalu menjadi bahan lelucon di seantero dunia. Mana lagi ada yang lebih memalukan dari itu? Tapi lihatlah, dengan segala kezhalimannya, George Bush tetap berusaha tenang, berusaha melontarkan komentar secara dingin, dan tidak bermaksud melampiaskan dendam pribadi kepada pelempar sepatu. Seharusnya, seorang pemimpin negara itu tahu batas-batas etika, sekalipun dirinya amat sangat benci kepada orang-orang tertentu.

Lagi pula, kalau mengukur ke masa sebelumnya. Kesalahan yang dilakukan JK -jika bisa disebut demikian, karena bagaimanapun dia hanya seorang Wakil Presiden- masih jauh lebih kecil daripada TIGA KESALAHAN SEJARAH yang dilakukan oleh Amien Rais. Anda tahu, apa saja ketiga kesalahan sejarah itu?

Pertama, Amien Rais menghalangi Habibie menjadi presiden kembali pada SU MPR Oktober 1999. Padahal Habibie adalah sosok yang paling memungkinkan untuk menjadi presiden dengan reputasi, pengalaman, ilmu, dan komitmennya. Patut dicatat, dalam masa 17 bulan kepemimpinannya, Habibie berhasil “menaklukkan” badai krisis ekonomi.

Kedua, Amien Rais mendorong Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI tahun 1999, lalu menjatuhkannya pada tahun 2001. Abdurrahman Wahid dari sisi apapun tidak layak menjadi presiden, baik karena sikap politiknya, budaya kontroversinya, pengalamannya yang minim di bidang birokrasi, maupun sifat fisiknya yang lemah (buta dan lumpuh). Dalam kajian fiqih, Wahid tidak bisa diangkat sebagai pemimpin karena handicap fisiknya itu.

Ketiga, seruan politik Amien Rais untuk membabat habis segala sesuatu yang berbau Orde Baru. Padahal tidak semua yang berasal dari era Orde Baru itu buruk, masih banyak yang baik-baiknya yang seharusnya tetap dipelihara. Sebab kebaikan-kebaikan itu bukan berasal dari tangan Orde Baru, tetapi dari usaha rakyat Indonesia dan sebagai buah rizki Allah.

Dengan dosa-dosa sejarah yang sangat berat ini, seharusnya Amien Rais banyak bertaubat, banyak beristighfar, seperti yang disarankan oleh banyak kalangan. Penderitaan rakyat Indonesia tidak lepas dari kesalahan-kesalahan manuver politiknya di era Reformasi. Akan lebih baik, kalau seorang Amien Rais menjadi tokoh spiritual, menjadi bapak bangsa yang bijak, peduli dengan kehidupan masyarakat, dan tidak berambisi kepada kekuasaan.

Baca entri selengkapnya »


Formula Koalisi Pilpres Juli 2009

April 27, 2009

Partai-partai politik saat ini sedang dilanda kebingungan besar untuk menentukan pasangan koalisi menuju Pilpres Juli 2009 nanti. Alasannya, aturan politik yang ada (UU Politik) dan realitas hasil Pemili Legislatif April 2009, tidak singkron. Aturan politik dibuat seideal mungkin, sementara hasil Pemilu minimalis. Bayangkan, dari 10 besar partai peraih suara terbanyak Pemilu, 7 di antaranya mendapat suara di bawah 10 %. Hanya Demokrat, Golkar, dan PDIP yang mendapat di atas 10 %.

Disini diperlukan penggalian ide-ide untuk menembus kebuntuan formula koalisi menuju Pilpres Juli 2009 nanti. Tujuannya, biar proses menuju tampuk kepemimpinan nasional berjalan lancar.

“Biang Kerok” Masalah

Pangkal dari semua kesulitan ini adalah aturan Pemilu yang mensyaratkan setiap pasangan Capres-Cawapres didukung oleh minimal 25 % suara pemilih dalam Pemilu Legistlatif, atau didukung minimal 20 % jumlah kursi di DPR. Dengan kata lain, hanya “partai gemuk” yang bisa mencalonkan wakilnya dalam Pilpres. Atau partai-partai perah suara kesil saling berkoalisi sehingga tercapai syarat “kegemukan”.

Mungkin asalnya, aturan ini untuk menghalangi partai-partai kecil agar tidak bisa mencalonkan wakilnya sebagai Capres-Cawapres. Tetapi realitas Pemilu April 2009 membuyarkan semua prediksi para politisi. Seluruh partai tidak ada satu pun yang memenui syarat perolehan suara 25 %.

Jika aturan Pemilu itu diterima secara mutlak, jelas tidak ada satu pun partai yang berhak maju dalam Pilpres dengan syarat perolehan suara 25 % pemilih. Paling hanya Demokrat satu-satunya partai yang bisa meraih 20 % kursi di Parlemen. Itu pun kalau perolehan suara Demokrat di Pemilu bisa dikonversi secara mulus menjadi perolehan kursi di Parlemen. Mau tidak mau, partai-partai itu harus koalisi jika ingin melompati limit 25 % perolehan suara dalam Pemilu.

Lalu bagaimana jika partai-partai itu tidak bisa berkoalisi? Atau bahkan bagaimana kalau setiap partai itu tidak mau berkoalisi? Siapa yang mewajibkan bahwa setiap partai harus berkoalisi menuju Pilpres? Apakah ada aturannya, bahwa partai-partai harus menjalin koalisi jika suaranya tidak sampai?

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa UU Politik yang melandasi proses demokrasi selama ini TIDAK REALISTIK untuk dilaksanakan. Pasca Pemilu April 2009 tidak ada satu pun partai yang memenuhi hasil suara 25 %, kecuali kalau mereka mau berkoalisi. Sedangkan koalisi sendiri bukan KEWAJIBAN yang memaksa partai-partai politik untuk melaksanakannya.

Jadi, pelaksanaan UU Politik itu semestinya tidak kaku, tetapi lebih fleksibel, sebab kenyataan hasil Pemilu April 2009 tidak memenuhi syarat ideal pelaksanaan aturan tersebut. Apalagi dalam Pemilu April 2009 ini sangat banyak pelanggaran-pelanggaran proses Pemilu yang merugikan partai-partai. Salah satu contoh ialah adanya puluhan juta pemilih yang tidak masuk DPT dan poses penghitungan suara oleh KPU yang sangat lambat.

Baca entri selengkapnya »


Metode Rusak dalam Menggali Berita (Sebagian Isi Buku “Salafi Ekstrem”)

April 27, 2009

Mula-mula harus disadari, bahwa cara yang dipakai oleh para pemuda ekstrem itu adalah: Tajassus! Ia adalah metode mencari-cari kesalahan manusia, sampai sekecil-kecilnya. Cara demikian tidak boleh ditempuh di antara sesama Muslim, sebab hukumnya haram. Dalam Al Qur’an, “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan (sesama Mukmin), dan janganlah kalian satu sama lain saling menggunjing.” (Al Hujuraat: 12).

Tajassus sangat berbahaya, karena bisa mematahkan persatuan kaum Muslimin, mengobarkan permusuhan di antara mereka, dan menyebarkan kerusakan meluas di muka bumi. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya engkau, jika selalu menyelidiki aurat (kesalahan) kaum Muslimin, maka engkau telah merusak mereka. Atau hampir saja engkau merusak mereka.” (HR. Abu Dawud dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu).

Seandainya tajassus itu halal dilakukan (misalnya karena dibutuhkan oleh penguasa Muslim), maka cara-cara yang ditempuh haruslah Islami. Ia harus dilakukan secara adil, sehingga diperoleh informasi-informasi yang benar, sehingga akhirnya tidak merugikan kepentingan pihak-pihak tertentu. Hal itu ditempuh dengan memanfaatkan informasi dari orang-orang beriman yang dikenal baik reputasinya. Dalam ilmu hadits, ia termasuk metode periwayatan hadits. Hadits tidak diterima, melainkan dari para rawi (pembawa riwayat) yang dikenal tsiqah dan dhabith.

Namun yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Salafi ekstrem itu, mereka bersandar pada metode Googling (mengumpulkan berita melalui search engine Google). Cara demikian jelas sangat keliru, tidak bisa diterima. Untuk mengetahui keadaan seseorang atau suatu organisasi, harus merujuk kepada orang-orang beriman yang mengetahui informasi tersebut. Sedangkan Googling tidak bisa menjamin, bahwa informasi yang diperoleh akan benar, lurus, dan adil. Apalagi di dunia internet sudah dikenal luas, banyak pengguna internet melakukan pemalsuan data. Dalam chatting atau friendster banyak pengguna internet memoles data-data pribadinya, sehingga tampak mengesankan dan penuh daya-tarik.

Lagi pula, jika Google menjadi andalan, maka informasi yang diperoleh tidak akan lengkap, sebab yang tersebar disana hanyalah menyangkut sebagian data-data seseorang atau lembaga. Sebagian lain yang tidak termuat di internet, tidak bisa diketahui keadaannya. Bisa jadi, informasi yang tidak termuat di internet itu justru merupakan inti informasi yang seharusnya diketahui.

Baca entri selengkapnya »


Mukaddimah Buku “SALAFI EKSTREM”

April 27, 2009

Mukaddimah

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wahdahu laa syarikalah, lahul Mulku wa lahul Hamdu Yuhyi wa Yumitu wa Huwa ‘ala kulli syai’in Qadiir. Shalwatullah wa salamuhu ‘ala Rasulil mubin Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim tasliman katsira. Amma ba’du.

Siapapun yang memiliki hati nurani, pasti bisa merasakan bahwa perselisihan itu berat, meletihkan, menguras energi. Apalagi perselisihan antar sesama Muslim, antar sesama aktivis dakwah, antar sesama elemen-elemen Islam. Sungguh, bukan akhlak terpuji dan bukan pula tanda kebenaran iman, dengan melazimkan diri selalu berselisih dengan sesama Muslim, berbahagia dengan pertengkaran, merasa jemu jika hari-hari tidak diisi dengan perseteruan. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari fitnah perselisihan yang membinasakan. Amin.

Namun suatu saat, keadaan memaksa kita untuk berselisih, menerjuni konflik pemikiran berkesinambungan, menunjukkan pendirian yang dipegang, serta membantah kesesatan dan kemungkaran. Semua itu diterjuni bukan hanya karena alasan-alasan khusus, tetapi dengan niatan menolong agama Allah sekuat kesanggupan. Perselisihan jelas sangat meletihkan, tetapi membiarkan Syariat Agama Allah menjadi bulan-bulanan manusia tidak bertanggung-jawab, akibatnya akan lebih meletihkan lagi. Pengaruh kesesatan pemikiran tidak hanya menimpa satu dua orang dalam satu generasi, tetapi ia bisa menyebar luas di tengah-tengah kaum Muslimin, lalu diwariskan dari generasi ke generasi.

Setelah menulis Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (DSDB), saya berharap hal itu dipahami sebagai koreksi balik terhadap pihak-pihak tertentu yang sangat sering mengoreksi orang lain. Prinsipnya sederhana saja: “Siapa yang suka mengoreksi, maka dia juga berhak dikoreksi.” Itulah prinsip dasarnya. Namun, perselisihan itu ternyata belumlah usai, bahkan memunculkan kenyataan-kenyataan baru. Alhamdulillah atas pertolongan Allah ketika kita diberi kesempatan untuk menyampaikan koreksi kepada sebagian kaum Muslimin; dan alhamdulillah pula atas segala kenyataan kemudian yang harus terjadi. Setiap ketentuan-Nya, insya Allah menjadi takdir terbaik yang harus berlaku, atas diri saya, Anda, mereka, Ummat Islam, dan kita semua.

Kenyataan baru yang sangat terasa di masa-masa sekarang ialah munculnya pembelaan membabi-buta dari kalangan sebagian Salafi yang tidak menerima koreksi-koreksi yang ditujukan kepada mereka, termasuk koreksi yang muncul di DSDB I & II. Pembelaan itu dipublikasikan lewat internet. Ternyata, mereka membuat pembelaan-pembelaan yang sangat tidak manusiawi. Demi menolong kehormatan kelompok dan membela slogan-slogan yang dianggap sudah permanen, mereka menyebarkan tulisan-tulisan fitnah, provokasi, kedustaan, sarkasme, penghinaan, adu-domba, dan sebagainya. Menyaksikan perilaku seperti itu, sampai ada yang berkomentar, “PKI saja tidak bersikap seperti mereka!”

Bagi orang-orang itu (selanjutnya disebut Salafi ekstrem),[1] bisa jadi mereka merasa telah menunaikan jihad agung, meraih ghanimah pahala berlimpah, mencetak amal kebajikan menakjubkan, mendapat semerbak wangi puji-pujian, serta mencapai keridhaan Allah, Rasul, dan seluruh makhluk di bumi dan di langit. Tetapi dari keseluruhan sikap yang mereka tunjukkan, ia justru semakin menegaskan kesesatan pemahaman mereka selama ini. Semakin keras mereka menyerang, semakin teliti mereka melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan), semakin terkuak kebathilan manhaj dan pemikirannya. Tidaklah “jihad” mereka bertambah gencar, melainkan semakin menelanjangi kehormatan dirinya sendiri.

Dari sisi lain, ada masalah besar yang harus dicermati. Para pemuda Salafi ekstrem itu, mereka telah melakukan permusuhan terhadap sekian banyak lembaga-lembaga dakwah Islam di Indonesia. Perkara inilah yang paling berat dan sangat riskan jika dibiarkan begitu saja.

Salah satu contoh, yaitu kebiasaan orang-orang itu menelanjangi aktivitas suatu lembaga Islam dan mencari-cari informasi seputar kehidupan para dai dan tokoh-tokoh Muslim yang concern dengan dakwah Islam. Setelah mendapatkannya, mereka susun semua itu dalam tulisan-tulisan terperinci, lalu disiarkan lewat internet, sehingga bisa dibuka oleh seluruh manusia di muka bumi. Cara seperti ini merupakan kemungkaran akbar, sebab mereka membuka rahasia-rahasia Ummat Islam di hadapan kawan dan lawan. Jika diketahui sesama Muslim, ia bisa merusak hubungan Ukhuwwah Islamiyyah; jika diketahui orang-orang non Muslim, mereka akan mendapat “ghanimah” informasi secara cuma-cuma.

Buku ini berjudul, “WAJAH SALAFI EKSTREM DI DUNIA INTERNET: Propaganda Menyebarkan Fitnah dan Permusuhan”. Sebagaimana judulnya, dalam buku ini saya mencoba membahas kemungkaran pemuda-pemuda Salafi ekstrem yang menyebarkan fitnah-fitnah berbahaya melalui media internet. Perbuatan mereka bisa disamakan dengan makar untuk merobohkan dakwah Islam.

Sebagai penulis, saya tidak mengharamkan kritik, bantahan, atau perdebatan yang bersifat ilmiah. Toh, setiap orang memiliki hak untuk berpendapat, dan diri saya sendiri tidak luput dari berbagai salah dan kekurangan. Adanya perdebatan yang sehat, saling mengemukakan argumentasi, dan menguji kekuatan dalil; tentu seperti itulah yang diharapkan. Insya Allah, kita akan merujuk setiap kebenaran yang ditopang oleh alasan-alasan kuat dan shahih. Alhamdulillah. Namun jika sudah menyangkut fitnah, permusuhan, dan makar terhadap dakwah Islam, tentu ia merupakan masalah lain yang perlu dihadapi dengan pendekatan berbeda.

Melalui buku ini saya ingin menasehatkan kepada para pengguna internet (netters), agar mereka menjauhi situs-situs internet yang penuh fitnah, dusta, dan permusuhan. Apa yang ada disana adalah tumpukan fitnah menyala-nyala. Anda jangan pernah sekali pun mempercayai tulisan-tulisan itu, meskipun hanya satu kalimat saja. Bahkan kalau mereka menyebut terjemah Al Qur’an, jangan langsung diterima, tetapi periksalah dulu ke terjemah aslinya. Nanti akan saya tunjukkan sebagian bukti-bukti, bahwa apa yang mereka tulis tidak bisa dipercaya. Hal itu juga berlaku terhadap tulisan dan media-media internet serupa.

Kepada para pemuda Salafi ekstrem, seperti Abu Abdillah Ibrahim, Abdul Hadi, Abdul Ghafur, dan lain-lain, saya ajak Anda kembali ke jalan yang lurus, berdakwah secara ihsan, meletakkan ilmu pada tempatnya, dan menghentikan segala provokasi keji yang sangat berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala. Masih ada waktu untuk berbenah, sebelum ruh sampai di tenggorokan, sebelum matahari belum terbit dari Barat. Berhentilah dari memusuhi elemen-elemen dakwah Islam, mulailah hidup baru, membina kebajikan demi kebajikan, mengganti seluruh perbuatan-perbuatan fasid (merusak) yang selama ini dilakukan. Jika karena ketinggian hati, Anda semua enggan untuk berbenah atau bertaubat kepada Allah, maka ketinggian hati itu pula yang dulu membuat iblis dilaknati sampai akhir jaman.

Dan kepada kaum Muslimin yang diberi anugerah kemampuan, mohon manfaatkan kemampuan Anda untuk melindungi Ummat Islam dari merebaknya fitnah-fitnah yang menyebar dari situs-situs tercela itu. Jika mampu melakukan bantahan, bantahlah; jika bisa memberi nasehat, sampaikan nasehat; jika bersedia berdoa, doakan agar Allah menghentikan semua itu. Amin.

Terakhir, saya sampaikan ucapan terimakasih setulusnya kepada semua pihak yang telah membantu penulisan, penerbitan, dan penyebaran buku ini. Khususnya ucapan terimakasih kepada Penerbit AD DIFA’ Press dan jajarannya. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan yang ada.

Semoga Allah menolong kita untuk meniti jalan yang diridhai-Nya, memaafkan dosa-dosa kita, serta memberikan kesyukuran atas berbagai kebaikan yang dikaruniakan-Nya. Semakin hari perilaku manusia semakin tidak terkendali, hanya pertolongan dan perlindungan-Nya yang bisa diandalkan. Ya Allah ya Rabbi, ringankanlah beban-beban kesulitan yang terpikul di pundak kami dan gembirakan hati kami dengan berita-berita menyenangkan tentang kemenangan agama-Mu. Amin Allahumma amin.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa shallallah ‘alan Nabiy Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AM. Waskito.


[1] Sebagian orang mungkin tidak setuju menyebut mereka sebagai Salafi, sebab perilakunya tidak sesuai dengan keteladanan Salaf. Namun, mereka memang mengklaim diri sebagai Salafi.


Buku: SALAFI EKSTREM di Dunia Internet

April 27, 2009
Cover buku SALAFI EKSTREM di Internet

Cover buku SALAFI EKSTREM di Internet

PROFIL UMUM

Judul: WAJAH SALAFI EKSTREM DI DUNIA INTERNET (Propaganda Menyebarkan Fitnah & Permusuhan).

Penulis: Abu Muhammad Waskito.

Penerbit: Ad Difaa’ Press, Sarijadi Bandung.

Cetakan: I, Februari 2009.

Ukuran: 14,5 cm x 20,5 cm.

Jumlah Halaman: Viii + 163.

Harga Eceran: Rp. 30.000,-

KALAM ILAHI

“Dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Surat Al Ankabut: 36).

MISSI

“Buku ini diterbitkan dalam rangka menjawab fitnah-fitnah berbahaya yang tersebar di tengah dakwah Islam.”

BACK COVER

“Dakwah Islam di jaman modern telah memanfaatkan berbagai media. Salah satunya yang sangat populer ialah INTERNET. Banyak situs-situs Islam bermunculan meramaikan kerja dakwah, baik yang berbahasa Indonesia, Arab, Inggris, Melayu, dan sebagainya.

Namun sayangnya, kemajuan pesat teknologi internet ini justru dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk menyebarkan kerusakan di muka bumi. Sekelompok orang, sebutlah mereka Salafi Ekstrem, sengaja memakai fasilitas internet untuk mencela, memvonis, membuka aib-aib, melancarkan penghinaan, kedustaan publik, melemparkan fitnah, bahkan mengadu domba. Semua itu ditujukan kepada kaum Muslimin, baik lembaga, yayasan, pesantren, tokoh, ustadz, penulism hingga individu-individu Muslim.

Buku ini berusaha memotret gerakan propaganda destruktif itu, membantah kekeliruan-kekeliruannya, membuktikan sikap khianat dan kedustaannya, serta memberi nasehat-nasehat kepada UMMAT. Semoga Allah meridhai upaya ini. Dan selamat membaca!”

DAFTAR ISI

Mukaddimah — Sekedar Catatan Refleksi — Siapakah Salafi? — Sifat Salafi Ekstrem — Mengapa Membahas Masalah Ini? — Manhaj Pemahaman — Dakwah Islam Bukan Menyebarkan Fitnah — Beragam Propaganda Fitnah dan Kesesatan — Mengkritisi Propaganda Sesat (Sebuah Bantahan Ringkas) — Metode Rusak dalam Menggali Berita — Corak Perilaku Manusia Binasa — Pentingnya Memahami Realitas — Kelengkapan Konsep Ilmu — Salah Paham tentang ‘Manajemen’ — Nasehat Ulama — Daftar Pustaka.


Krisis Global dan Kemiskinan

April 23, 2009
Bocah Miskin di Kenya. Kekurangan Air. (www.islamic-relief.com)

Bocah Miskin di Kenya. Kekurangan Air. (www.islamic-relief.com)

Baru-baru IMF melansir data, nilai kerugian akibat krisis finansial global mencapai US$ 4 triliun. Atau US$ 4.000.000.000.000,- (nolnya 12). Kalau satu dolar setara dengan Rp. 10.000,-, maka nilainya dalam hitungan rupiah sama dengan 40.000 triliun rupiah.

[Weleh, weleh, weleh, kalau uang sebanyak itu dibelikan kerupuk, kira-kira sebanyak apa? Mungkin semua permukaan bumi bisa ditutupi dengan kerupuk, kecuali kantor pusat IMF. Maklum, mereka tidak suka makan kerupuk. “Naon? Kerupuk? Naon eta teh?” kata deputi senior IMF].

Dampak nyata dari krisis global ini adalah meluasnya kemiskinan di muka bumi. Semua negara itu sepakat untuk memerangi kemiskinan. Dimana pun ada negara yang membangun, pasti mereka memerangi kemiskinan. Baik berhasil atau tidak, pokoknya secara formal membenci kemiskinan.

Ali bin Abi Thalib Ra. pernah mengatakan, “Andaikan kemiskinan itu berwujud seorang manusia, tentu aku akan membunuhnya.” Begitulah atsar yang pernah saya dengar. Kemiskinan menjadi musuh siapapun yang sedang membangun negaranya.

Dengan krisis global ini, segalanya semakin ruwet. Kemiskinan justru bisa melambung beberapa kali lipat. Negara seperti Indonesia tidak selamat dari bahaya “badai kemiskinan” ini. Apalagi negara-negara miskin di benua Afrika. Jangankan Afrika, negara seperti Amerika dan Eropa saja kewalahan. Hanya Allah Ta’ala yang menjadi tumpuan harapan kita semua. Nas’alullah al ‘afiyah was salamah. Amin.

Menariknya…

Krisis global ini bukan karena di muka bumi ini tidak ada barang, bukan karena tidak ada pasar, tidak sumber alam, tidak ada hasil pertanian, tidak ada transaksi, tidak ada pasar, dan sebagainya. Bukan karena itu semua. Tetapi krisis global terjadi karena SISTEM JAHAT yang selama ini dianut oleh para ekonom di mayoritas negara-negara di dunia. Sistem itu adalah perpaduan antara: Sistem ribawi, uang kertas, perjudian, pasar bebas, dan monopoli para pengusaha. Sistem jahat ini merupakan hasil akumulasi dari sub-sub sistem jahat, sehingga hasilnya adalah lahirnya tatanan ekonomi dunia yang sangat tidak adil (zhalim). Dalam sistem ini, para pemegang modal (kapitalis) mendominasi pasar bisnis, sementara masyarakat miskin menjadi “sampah” yang semakin menderita. Persis seperti kata Bung Haji Rhoma, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Allah Ta’ala tidak menghendaki sistem zhalim seperti ini terus mengangkangi dunia, maka Dia membuat perhitungan dengan menghancurkan sistem itu dari akar-akarnya. “Dan katakanlah: Telah datang kebenaran, dan lenyaplah kebathilan. Sesungguhnya kebathilan itu pasti akan lenyap.” (Surat Al Isra’).

Kalau kembali merenungi sejarah kemenangan Islam di masa lalu. Waktu itu kaum Muslimin memiliki kekuatan dari dua sisi, yaitu: NILAI dan FASILITAS. Value and facility. Secara nilai, konsep Islam sangat sempurna, tidak ada yang sanggup mengunggulinya. Namun secara kekuatan, kaum Muslimin juga memiliki modal yang tangguh.

Kejayaan Islam sulit terwujud kembali di jaman modern, ketika kita hanya memiliki NILAI saja, sedangkan dari sisi FASILITAS kita termasuk golongan MELARAT. Seharusnya, keduanya kita miliki. Di sisi lain ada yang ironis dengan Ummat ini. Sebagian negara-negara Muslim petro dollar, mereka sangat kuat dari sisi FASILITAS, mereka kaya-raya. Tetapi dari sisi NILAI mereka amburadul.

Andai kekuatan NILAI Islam mampu dipadukan dengan kekuatan FASILITAS kaum Muslimin yang tangguh, sungguh mimpi Kebangkitan Islam bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Lalu bagaimana solusinya menurut Anda, wahai Pembaca?

Bandung, 23 April 2009.

AM. Waskito.


Syariat Islam di Lembah Swat Pakistan

April 23, 2009

Kalau membaca tulisan Swat, kita jadi ingat satuan pasukan reaksi cepat Amerika, SWAT. Tetapi ini maksudnya adalah Lembah Swat di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Lembah itu jatuh ke tangan milisi Thaliban, lalu pada awal April 2009 lalu presiden Pakistan Asif Ali Zardari mengesahkan berkalunya hukum Syariat Islam di Lembah Swat. Keputusan ini menarik, satu sisi melegakan hati kaum Muslimin disana yang rata-rata pro dengan gerakan Thaliban; di sisi lain, hal itu mengamankan posisi Lembah Swat agar tetap berada di teritori Pakistan.

Namun seperti biasa. Pemberlakuan Syariat Islam di Lembah Swat mendapat respon negatif dari Gedung Putih, Washington.Melalui juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, Pemerintah Amerika mengatakan, “Kami kecewa karena parlemen (Pakistan) tidak memperhitungkan legitimasi sipil dan HAM,” kata Jurubicara Gedung Putih, Robert Gibbs, sebagaimana dikutip The New York Times. Kalau kita baca laporan Times edisi online, berjudul “Sharia In Swat Valley”, disana sangat tampak kebencian media itu kepada penerapan Syariat di lembah Swat. Mereka seperti biasa melakukan kebohongan media dengan menyebut fakta-fakta bombastis.

Penerapan Syariat Islam di Swat tidak ubahnya seperti ketika Pemerintah RI memutuskan memberikan hak otonomi pemberlakuan sebagian hukum Syariat Islam di Provinsi Aceh Darussalam. Jadi sifatnya pemberlakuan secara lokal, di daerah tertentu. Namun kualitas pemberlakuan Syariat itu apakah seperti di Aceh sana, wallahu A’lam. Kalau mau jujur, sebenarnya GAM bukan pro Syariat Islam, tetapi lebih pro kepentingan lokal masyarakat Aceh sendiri. Pemimpin senior GAM tidak dikenal sebagai sosok yang memiliki andil dalam pembangunan Syariat Islam.

Shalat di Lembah Swat (Sumber: www.welt.de/english-news).

Shalat di Lembah Swat (Sumber: http://www.welt.de/english-news).

Kalau di Lembah Swat situasinya tampak berbeda. Disana mereka ditunjang oleh pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri. Diharapkan, pemberlakuan Syariat tidak sekedar sebagai formalitas belaka. Ya, konsep pemahaman Islam Thaliban sebagai jaminannya. Mereka selama ini dikenal sebagai komunitas Muslim militan yang sangat merepotkan Barat. Hanya bedanya, di kalangan kaum Muslimin sendiri masih banyak yang menganggap Thaliban itu ekstrem. Contoh, Syafi’i Ma’arif kalau berbicara tentang Thaliban, kesannya negatif terus. Kalangan Liberalis kalau ditanya soal Thaliban, rasanya mereka “mau muntah”. [Maklum, sesuatu yang baik akan diterima baik oleh hati yang baik. Sesuatu yang baik akan diterima sebagai “bom” di hati-hati yang rusak].

Mengapa Amerika selalu negatif dengan pemberlakuan Syariat Islam?

Alasannya sederhana, sebab para politisi dan pemikir di Amerika, mereka telah ratusan tahun mempelajari Syariat Islam. Di mata mereka, KUNCI KEBANGKITAN PERADABAN ISLAM ada di SYARIAT ISLAM itu. Kalau diumpamakan sebagai rumah, Syariat Islam ibarat SERTIFIKAT rumah itu. Bagaimana sebuah keluarga akan hidup tenang, damai, dan aman, kalau sepanjang waktu menumpang di rumah orang? Sebelum mereka memiliki “sertifikat” sendiri, sulit bagi mereka akan hidup dengan karya maksimal.

Seideal-idealnya kaum Muslimin hidup di bawah hukum sekuler, masih lebih baik mereka hidup di bawah payung hukum Islam sekalipun kualitasnya terburuk. Pembangunan ekonomi, pendidikan, birokrasi, sosial, budaya, dan lainnya tidak akan pernah tuntas, sebelum hukum Syariat itu berdaulat di negeri kaum Muslimin. Nah, Amerika sangat tahu tentang persoalan KUNCI ini. Maka mereka dengan segala daya berusaha menghalang-halangi.

Di mata kaum Muslimin sendiri, pemberlakuan Syariat Islam itu ditanggapi dalam tiga tahap:

[Pertama], sikap curiga kepada Syariat Islam. Biasanya rasa curiga itu terfokus pada masalah KEBEBASAN. Banyak orang takut jika Syariat berlaku, mereka akan segera dipasung kemerdekaannya seperti Napi di penjara-penjara.

[Kedua], ketakutan luar biasa di hati rakyat jika nanti mereka tidak mampu memikul amanah Syariat Islam itu. “Bagaimana kalau kami belum siap shalat terus, belum siap memakai jilbab, belum siap meninggalkan riba, belum siap berhenti berzina, mabuk-mabukan, dan lainnya?” Semua ini adalah godaan was-was syaitan yang biasa ditiupkan di hati orang-orang yang selama ini jauh dari tuntunan agama (alias fasiq).

[Ketiga], suatu kondisi KEJUTAN luar biasa, ketika ketakutan tiba-tiba berubah menjadi harapan, rasa tenang, kegembiraan, rasa aman, serta kerinduan untuk selalu bersamanya. Hal ini muncul ketika prasangka buruk masyarakat kepada Syariat Islam tidak terbukti, justru mereka menyaksikan pengaruh besar dari penerapan Syariat itu sendiri bagi perbaikan kehidupannya. Pada suatu titik, manakala mereka telah merasakan benar manfaat Syariat Islam, mereka merindukannya dan tidak ingin lepas darinya.

Kegagalan penerapan Syariat Islam selama ini lebih karena rasa KURANG LEGOWO kaum Muslimin, dan mereka lebih menuruti PRASANGKA BURUK dan rela diombang-ambingkan oleh prasangka itu. Jadi, perkembangan Syariat itu baru mencapai tahap kedua, belum masuk tahap ketiga. Al Qur’an sering mengatakan, “Lau kanu ya’lamuun” (andai saja mereka mengetahuinya). Jadi, banyak orang bersikap negatif kepada Syariat Islam hanya karena berdasarkan pertimbangan “katanya, katanya,…”. Andai mereka mau sabar sejenak, dan ikhlas memasukkan dirinya ke dalam kawasan Daarus Salaam (Rumah Keselamatan) yaitu Syariat Islam, sungguh mereka akan menemukan KEJUTAN yang tidak akan mereka jumpai dengan cara apapun, selain penerapan Syariat Islam. Lihatlah kata Al Qur’an, “Andai mereka mengetahui hakikat sebenarnya.”

Di sisi lain, pihak-pihak luar (Amerika-Eropa) yang telah sangat tahu kehebatan Syariat Islam, mereka merasa ketakutan luar biasa. Oleh karena itu mereka tidak henti-hentinya melakukan fitnah dan lobi untuk menghalangi penerapan Syariat Islam. Hal itu diperparah dengan kondisi lembaga, organisasi, partai, atau tokoh Islam, yang juga termakan oleh “opini horor” yang diciptakan orang-orang di luar Islam. Alih-alih mau menolong penerapan Syariat, mereka malah semakin tenggelam ke dalam pemikiran PLURALISME (sebuah pemikiran yang meyakini, bahwa dengan penerapan Syariat Islam atau tidak, sama saja hasilnya).

Ketika di sebuah sudut bumi ditegakkan kembali bendera Syariat Islam, sebenarnya hal itu juga berarti kembalinya KEDAULATAN ALLAH atas bumi yang diciptakan-Nya sendiri. Jadi, kehidupan di bumi kembali kepada fithrahnya semula. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.


Adu “Silat Diplomasi” Golkar-Demokrat

April 23, 2009

Hari Rabu 22 April 2009 kemarin bisa dianggap sebagai “hari cerah” bagi kehidupan politik di Indonesia. Setelah sekian lama kita disuguhi “menu membosankan” berupa semangat pragmatisme partai-partai untuk mendekat kepada Partai Demokrat selaku pemenang Pemilu April 2009, kemarin kita disuguhi seni berpolitik yang berkarakter. Singkat kata, melalui Sekjen DPP Partai Golkar, Soemarsono, Golkar menyatakan mundur dari agenda koalisi dengan Partai Demokrat. Pada malam harinya, Partai Demokrat memberikan jawaban yang tidak kalah berkelasnya. Sikap Golkar maupun jawaban Partai Demokrat menyiratkan cita-rasa seni berpolitik tingkat tinggi.

Jika kita memahami situasinya, kejadian pada “Rabu membara” kemarin banyak pelajaran politik yang bisa diambil. Tidak layak kita abaikan fakta politik kemarin. Lagi pula, secara pribadi saya sudah gemas mendengar analisa-analisa J. Kristiadi dari CSIS yang sulit dipahami parameter yang dia gunakan. Analisis J. Kristiadi cenderung tidak konsisten dengan titik-tolak yang berubah-ubah dari satu momen ke momen lainnya.

PERSPEKTIF DEMOKRAT

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Partai Demokrat sangat membutuhkan peranan Golkar dan partai-partai nasionalis lain untuk berkoalisi dengannya, sebab mayoritas rekan koalisi Demokrat adalah partai Islam. Jika Demokrat tetap “dikepung” partai Islam, mereka bisa rugi dalam Pilpres 2009 Juli nanti. Selain itu, selama 5 tahun ke depan mereka juga akan “ngeri” diceramahi dalil-dalil oleh partai-partai Islam.

Tetapi alasan lain yang tidak kalah menariknya adalah KOMITMEN partai-partai Islam itu sendiri. Secara politik tidak ada satu pun yang kuat komitmennya. Komitmen mereka lebih tertuju kepada kekuasaan, bukan pada kongsi politik tulen untuk mengatur negara secara bersama-sama. Bayangkan, jauh-jauh hari sebelum Pemilu April 2009 partai-partai Islam cenderung merapat ke Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004. Kalau ada yang mendekat ke Demokrat, ia adalah PKS. Itu pun dilakukan beberapa lama menjelang Pemilu April 2009. Itu pun sebagai langkah cadangan setelah PKS ditinggalkan dalam koalisi golden three angle (Golkar-PDIP-PPP).

Lemahnya loyalitas itu sulit bagi SBY. Jangan partai Islam yang belum terbukti ketangguhan loyalitasnya, seorang JK yang sudah 5 tahunan duet dengan SBY pun, menurut parameter SBY dianggap “masih mbalelo”. Apalagi para pimpinan Demokrat sudah berkali-kali mewanti-wanti agar suasana koalisi seperti tahun 2004-2009 “jangan terulang lagi”. SBY butuh loyalitas yang kuat dari mitra-mitra politiknya.

Dengan semua pertimbangan itu, wajar jika Demokrat sangat berharap bisa menjaring sebanyak mungkin dukungan politik dari Golkar. Tetapi Demokrat ingin menghindari kejadian yang lalu-lalu, maka mereka mulai “mengatur” Golkar dengan menentukan kriteria-kriteria tertentu Cawapres yang sesuai dengan harapan Demokrat. “Sebagai pemenang Pemilu, boleh dong kami yang memainkan kartu?” kata Demokrat.

Tetapi Golkar kemudian menjawab tegas: “Pembicaraan dengan Partai Demokrat tidak mencapai mufakat. Kami memberi mandat kepada Ketua Umum untuk menjalin kontak dengan partai-partai lain.” Perkataan seperti ini serasa bagai petir menyambar di telinga para elit Demokrat. Mereka tidak menyangka, para elit Golkar akan memilih sikap yang sedemikian dramatis.

Tidak mengherankan jika dalam tanggapan politiknya, yang dibacakan sekitar jam 8 malam di Puri Cikeas Bogor, Anas Urbaningrum mewakili Demokrat memberikan respon besar: Mereka tidak menyangka Golkar memutuskan komunikasi secara sepihak; mereka mengklaim tidak berbuat semena-mena kepada Golkar; mereka tetap berharap ada peluang kerjasama politik di masa ke depan dengan Golkar; dan secara umum Demokrat menghargai sikap politik Golkar.

Jawaban seperti yang disampaikan Anas Urbaningrum itu bukan hanya tertuju ke DPP Golkar yang sudah menyatakan “cerai”. Tetapi juga ke para peserta Rapimnassus Golkar yang akan digelar pada hari Kamis 23 April ini. Siapa tahu dengan komunikasi seperti itu bisa melunakkan para peserta Rapimnassus Golkar agar mempertimbangkan lagi sikapnya untuk “cerai” dari Demokrat. Para elit Demokrat masih percaya bahwa dalam Rapimnassus nanti, diharapkan ada rekomendasi yang lain selain “cerai” dengan Demokrat. Yorris Raweyai termasuk elit Golkar yang juga berharap “masih ada harapan” rujuk dengan Demokrat.

Sangat tampak Demokrat masih membutuhkan Golkar, tetapi “tidak butuh” Jusuf Kalla. Ya, bahasa kasarnya begitulah. Demokrat sangat senang andai ada nama lain di tubuh Golkar selain “dia”. Kalau kata orang, Demokrat itu seperti seorang gadis yang “malu-malu tapi mau”. Dan disini juga tampak bahwa Demokrat mulai memainkan dominasi politiknya kepada pihak di luar Demokrat. Itu sah-saha saja dalam politik.

PERSPEKTIF GOLKAR

Meskipun Golkar bukan pemenang Pemilu April 2009, tetapi mereka memegang posisi kunci. Golkar bisa diibaratkan sebagai “The Real Queen”. Seorang ratu memang hanya di posisi “nomer dua”, tetapi kalau tidak ada dia, posisi “nomer satu” terguncang. Dalam konstelasi politik pasca Pemilu April 2009, suara Golkar sangat menentukan. Bargainingnya sangat kuat. Kemanapun Golkar memberikan dukungan, pihak yang didukung bisa memenangi Pilpres 2009 nanti. Tetapi kalau “sang ratu” maju sendiri mengajukan sosok Capres, kecil kemungkinan dia akan menang. Selain karena faktor modal suara yang kurang memadai untuk menenangi Pilpres, juga karena faktor elektabilitas calon Golkar yang banyak dibahas oleh para pengamat. Saat ini image Golkar tertumpu ke sosok Jusuf Kalla. Sementara di mata para pemilih wanita di Indonesia, penampilan beliau “kurang menjual”.

Baca entri selengkapnya »


Antara Buah Maja dan Durian

April 21, 2009

Coba perhatikan sebuah foto di bawah ini. Ia adalah buah Maja, diambil dari koleksi YOSSIE3660. Buah ini menjadi inspirasi munculnya nama Majapahit di masa lalu. Ukurannya sebesar Semangka bulat, atau seperti Jeruk bali ukuran besar. Perhatikan detail bentuk fisik buah tersebut!

Buah Maja di atas pohon.

Buah Maja di atas pohon.

Kemudian perhatikan buah di bawah ini! Anda pasti mengenalnya. Kalau tidak, diragukan Anda orang Indonesia. Buah ini sudah amat sangat populer. Kulitnya berduri, maka ia dikenal sebagai DURIAN.

Durian muda di atas pohon.

Durian muda di atas pohon.

ANDAIKAN…

Anda belum pernah mendengar kisah “Majapahit” dan belum pernah tahu, apa itu durian dan bagaimana rasanya? Lalu Anda disuruh memilih satu dari dua jenis buah tersebut, Anda akan memilih yang mana?

KEMUNGKINAN BESAR…

Anda akan memilih buah maja, sebab bentuknya bulat, hijau segar, dan sangat halus permukaan kulitnya. Penampilan buah maja sangat menggugah selera. Pertama kali saya melihatnya di sebuah kuburan di kampung sebelah, saya ingin mengambil buah itu dan memakan isinya. Namun kemudian saya diberitahu, bahwa buah itu sangat pahit, baunya langu. Bisa membuat pusing orang yang terlalu lama mencium baunya. Secara penampilan fisik, buah maja sangat bagus; tetapi isinya wow…pahit dan langu.

Sebaliknya, buah durian. Tampak dari luar tidak menyenangkan, berduri kasar. Kalau ditekan dengan telapak tangan, rasanya sakit. Warnanya juga biasa, tidak tampak menarik. Namun buah durian yang telah matang, selain aromanya sangat harum (tetapi sebagian orang tidak kuat dengan aromanya), juga rasa buahnya sangat istimewa. Durian adalah buah yang bisa membuat para penikmatnya ketagihan. Ia bisa dianggap sebagai “raja buah” di Indonesia yang memiliki koleksi ribuan jenis buah ini. Di supermarket, harga sebuah durian utuh bisa mencapai 50 ribu, 60 ribu, 80 ribu, bahkan di atas angka 100 ribu rupiah.

Secara fisik, penampilan durian tidak menarik, malah menakutkan, karena berduri. Tetapi isi buahnya luar biasa, laa haula wa laa quwwata illa billah. Begitu juga buah maja, penampilan fisiknya membuat liur kita menetes. Tetapi isi di dalam buahnya, laa haula wa laa quwwata illa billah. Kalau Anda mau makan isi buah maja satu sendok saja, saya berani mengganti keberanian Anda dengan uang tunai Rp. 5000,- (…halah cuman 5 ribu. Sedikit amat. Kirain 50 ribu atau 100 ribu. Mohon maklum, sekarang lagi krisis global, jadi harus dihemat-hemat).

APA ARTINYA…

Banyak di antara kita menilai sesuatu dari penampilan luar, bukan dari sisi substansi, hakikat, manfaat, atau hikmah yang terkandung di dalamnya.

BEGITU PULA…

Masyarakat kita umumnya awam. Mereka melihat kepemimpinan politik hanya dari cover luarnya saja. Mereka lupa dengan catatan-catatan yang telah terekam bertahun-tahun lamanya. Sampai ada yang mengatakan, “Bangsa kita memorinya pendek.” Hanya dengan iming-iming uang 100 atau 200 ribu, mereka lupa segala-galanya. Ya, yang dilhat hanya cover luarnya saja, bukan hakikat masalahnya.

Inilah Indonesia masa kini, Indonesia yang tertipu oleh COVER, tidak mau melihat SUBSTANSI. Sayang sekali ya…tapi apa hendak dikata, begitulah kenyataannya. Akhirnya, SELAMAT BERPIKIR!!!

Bandung, 21 April 2009.

AMW.


Mayoritas Rakyat Indonesia Orang Awam

April 20, 2009

Kalau mencermati kehidupan bangsa Indonesia, kerap kali kita merasa kecewa. Cara termudah memahami realitas masyarakat ialah dengan mencermati dinamika politiknya. Mengapa harus politik? Sebab politik itu menyangkut hubungan timbal-balik antara pemimpin dan rakyatnya (raa’in wa ra’iyyah).

Ide-ide yang dibawa Dr. Rizal Ramli, Dr. Hendri Saparini, Dr. Ichsanudin Noorsi, dan lain-lain adalah ide yang baik. Ia ingin melepaskan bangsa Indonesia dari kolonialisme baru yang terus menekan bangsa Indonesia melalui mekanisme liberalisme-kapitalisme. Ide yang dibawa oleh Partai Gerindra (atau Hanura) yang menghendaki perubahan, agar bangsa Indonesia lebih concern dengan kepentingan nasional, dan resisten terhadap kepentingan asing, hal itu juga bagus dan layak didukung. Begitu juga ide penegakan Syariat Islam dari ormas-ormas seperti HTI, MMI, FPI, KPSI, dan lainnya adalah sangat positif dan layak didukung.

Semua ide-ide itu sebenarnya karakter dasarnya ada 3, yaitu:

[1] Peduli dengan penderitaan masyarakat Indonesia saat ini.

[2] Menawarkan konsep perubahan dimulai dari perubahan PARADIGMA BERPIKIR. Jadi bukan perubahan cover atau merk saja, tetapi perubahan fundamental dalam tataran pemikiran.

[3] Mengharapkan perubahan baik pada kehidupan rakyat Indonesia, tidak selalu terpuruk dalam penderitaan, kesengsaraan, dan kehinaan martabat.

Hanya bedanya, jika kalangan Islamis memakai titik-tolak perjuangan Islam; maka kaum nasionalis berangkat dari simbol dan pemikiran keindonesiaan. Keduanya bisa bergulir seiring sejalan, selama tetap konsisten dengan MASHLAHAT hidup masyarakat dan mencegah MADHARAT hidup dengan segala bentuknya.

Namun di mata masyarakat kita, ide-ide perbaikan tersebut “kurang laku” dijual. Masyarakat terlalu lugu dalam memahami kenyataan yang ada. Mereka merasa segala sesuatu berjalan baik-baik saja, kehidupan normal, kesejahteraan tercapai, pendidikan murah, sembako ada, kesehatan tersedia, dan lainnya. Di mata masyarakat, ukuran KUALITAS HIDUP itu hanya sekedar: makan-minum, biaya sekolah, dan BBM. Mereka terlalu sederhana dalam menyikapi kehidupan yang sangat komplek ini.

Dulu, pada Pemilu 1999, saya termasuk pihak yang sangat kecewa dengan kekalahan Partai Keadilan (PK). Di mata saya, partai ini sudah “nyaris” ideal. “Namun mengapa malah kalah?” begitulah keluhan kami. Tetapi seiring waktu berjalan, akhirnya kami mengerti bahwa memang kondisi masyarakat Indonesia SERBA AWAM. Taraf berpikir masyarakatnya masih sederhana. Akibatnya, mereka sulit mencerna konsep-konsep yang tinggi; mereka sulit memahami pesan-pesan yang dalam; dan mereka lemah ghirah untuk mewujudkan perbaikan. Di mata mereka, selama masalah makan-minum, biaya sekolah, dan BBM teratasi, segalanya telah dianggap sempurna. Bahkan saat ini, menurut sebagian besar rakyat Indonesia, “Selama di rumah ada TV dengan banyak channel, hidup ini selesai sudah!”

Para elit politik sangat memahami kenyataan ini. Oleh karena itu, mereka menuruti saja hajat basic masyarakat, lalu mengabaikan fakta-fakta kerusakan konsep fundamental. “Asalkan di atas permukaan masyarakat kelihatan makan, sehat, bisa bayar uang sekolah, bisa nonton, cukup sudah. Masyarakat cukup diberi itu saja. Mereka tidak perlu terlalu pintar, nanti malah minteri,” logika para elit politik.

Saya lukiskan, seperti membangun rumah di atas kawah gunung berapi. Di atas kawah itu ada endapan tanah yang cukup luas, seperti tanah lapang.  Sebagian orang nekad membuat rumah di tanah tersebut, lalu diikuti yang lain-lain. Akhirnya terbentuk sebuah perkampungan di atas kawah. Mereka merasa enak dan nyaman hidup di atas tempat seperti itu, sambil membuat kebun, bermain bola, membuat kolam ikan, nonton TV, dan lainnya. Malah ada investor tertarik mendirikan mall di atas tanah itu. Tetapi harus diingat, secara fundamental, pemukiman tersebut berdiri di atas kawah gunung berapi. Sewaktu-waktu kawah bisa memuntahkan material magma dari dalam perut bumi. Ancamannya sangat dahsyat, tetapi masyarakat seperti tersihir oleh kesibukan-kesibukan melalaikan. Nah, seperti itulah bangsa Indonesia saat ini. Di atas permukaan kita baik-baik saja, tetapi secara fundamental kondisi bangsa ini sangat mengkhawatirkan.

Persis seperti bencana banjir Situ Gintung kemarin. Masyarakat disana hidup puluhan tahun di bawah tanggul danau. Mereka ratusan sampai ribuan orang beranak-pinak di bawah danau. Hidup dijalani dengan segala aktivitas yang melalaikan. Suatu ketika, tanpa diduga, tanggul jebol, air jutaan meter kubik yang menggenangi Situ Gintung seketika amblas menerjang perumahan warga. Kehidupan yang semula kompleks, mendadak sirna seketika.

Apakah hal-hal seperti ini tidak menjadi pelajaran bagi kita?

Sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolak, bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah orang-orang yang awam, lugu, dan pasif. Mereka sulit mencerna isyarat-isyarat yang samar, dalam, dan tinggi. Selera masyarakat kita terlalu sederhana. Slogan yang selalu mereka ucapkan, “Kami ini rakayat kecil. Kami ikut saja bagaimana orang-orang di atas sana.” (Termasuk mau ikut saja digiring ke kobaran api neraka? Na’udzubillah min dzalik).

Tugas dakwah Islam untuk mendidik kaum Muslimin sebaik mungkin, mencerahkan pemikirannya, membersihkan spiritualnya, membangun keberdayaannya, dengan ijin Allah Ta’ala. Jangan sampai masyarakat tenggelam dalam keawamannya, enggan memperbaiki diri, dan merasa cukup dengan kehidupan yang dibumbui hiburan-hiburan. Sebab di puncak segala kelalaian itu, biasanya Allah akan menurunkan peringatan keras. Tinggal kita sendiri, apakah kita mau menjadi manusia yang sadar diri, atau selalu menjadi korban bencana demi bencana?

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.