Humor: Penjual Kipas di Kereta

Humor ini asalnya dari seorang teman. Saya tidak tahu darimana dia mendapatkannya. Idenya dari cerita teman itu, kemudian diberikan polesan-polesan tertentu. Humor ini cukup lucu, menggelitik (menurutku ya). Tentu saja semua ini fiktif saja, not true story. Sengaja dimuat disini sebagai bahan rehat. Maklum, akibat “radiasi heboh politik” secara intensif selama berbulan-bulan, kita merasa suntuk juga.

Tidak perlu berpanjang-panjang kata, berikut humor itu:

Pada suatu hari…[yee kayak dongeng Malin Kundang saja]. Di atas sebuah kereta banyak orang lalu-lalang berjualan. Mereka menjual makanan, minuman, kertas tissue, permen, oleh-oleh, topi, dompet, dan macam-macam. Maklum, akibat krisis finansial global, banyak orang banting setir berjualan asongan [perasaan sejak dulu sudah banyak orang jualan di kereta. Aya aya wae…]. Salah satu dari mereka adalah seorang bapak penjual kipas.

Baiklah pemirsa, mari kita simak liku-liku penjual kipas ini [lho, kok jadi kayak presenter TV?].

“Kipas, kipas, kipas… Murah Dek, cuma 5 ribu saja,” kata penjual kipas menawarkan.

“Ini kipas hebat, Dek!” kata penjual kipas asal Surabaya itu.

“Kipas ini bermanfaat untuk angin-angin, biar tidak gerah. Ayo murah-murah, cuma 5 rebu aja, Dek!”

“Selain itu, kipas ini juga berguna untuk kecerdasan. Meningkatkan IQ, EQ, dan SQ. Melancarkan perjodohan, melariskan bisnis, membuat rambut keriting jadi lurus, membuat hidung pendek jadi mancung,” kata penjual kipas membual. Tentu saja, orang-orang yang mendengarnya tertawa.

“Bisa aja, Abang ini!” kata seorang pemuda tanggung dari Kalideres.

“Bener, Dek. Ini tak bohong, tak iye. Kipas ini bisa juga meningkatkan vitalitas kaum laki-laki,” kata dia sambil menggoda. Serentak orang-orang tertawa lebih keras.

Penjual kipas itu terus berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain, sambil tekun menjajakan kipasnya. “Aboh aboh, kenapa orang-orang ini? Dari tadi kipasku tidak laku-laku. Masak orang sebanyak ini gak ada yang punya duit 5 ribu? Gak masuk akal, tak iye!” kata penjual kipas agak mengeluh.

Rupanya ada seorang laki-laki yang tertarik membeli. Kelihatan dia kegerahan.

“Bang penjual kipas sini!” teriak laki-laki setengah baya itu.

“Bang berapa harga kipasnya?”

“Oh iya, ini murah saja, Dek! Cuma 5 rebu saja!” kata penjual kipas.

“Wah, mahal banget Bang. Gimana kalau 2 ribu saja,” tawar pembeli.

“Aboh aboh, Sampiyan mau nawar atau ngrampok, Dek? Nawar kok gak kira-kira,” keluh penjual kipas.

“Ya harga 5 rebu itu mahal Bang. Di jaman krisis begini, jangan mahal-mahal!”

“Jangan gitu, Dek. Kipas ini kualitas ekspor. Kalau dijual di Amerika bisa 20 rebu, Dek. Kebetulan saja saya tak punya ongkos ke Amerika, jadi jualan di kereta sini aja,” kata penjual kipas beralasan.

“Ahh, Abang ini ada-ada aja. Sudah deh, kalau mau 2500. Kalau tidak ya sudah, saya tak jadi beli.”

“Ini sudah harga pas, Dek. Tidak boleh kurang. Kipas ini ada barkotnya, Dek. Semalem dibikin sama keponakanku. Ini ada sertifikat SNI, ijin Departemen Industri, Departemen Kesehatan, ada PPN-nya 10 %.”

“Yang bener, Bang?” tanya pembeli.

“Iya, Dek. Semua itu dibikin sama Si Bodin, keponakanku itu.”

Orang-orang yang mendengar hanya bisa tertawa.

Tawar-menawar sangat alot. Pembeli merasa butuh, sebab lagi kegerahan. Sementara penjual kipas tidak mau bergeser dari harganya, 5 rebu. Setelah agak lama, akhirnya tercapai kesepakatan.

“Gini saja, Dek. Kalau Sampiyan tak mau harga 5 rebu. Nah, ini ada kipas yang harganya cuma 2 rebu, Dek. Gimana, apa Sampiyan mau?”

“Ya sudah Bang, tak apa harga 2 rebu juga. Yang penting saya dapat kipas,” kata pembeli mengalah.

Akhirnya, penjual kipas mengeluarkan kipas versi lain dari tasnya. Kipas itu harganya 2 ribu saja. Pas seperti yang diminta pembeli itu. Kipas pun diserahkan, uang diterima. Penjual kipas berlalu, sambil agak menggerutu, “Aboh-aboh, cuma uang 2 rebu aja, sulitnya bukan main. Tawar-menawar sulit betul, kayak gadis-gadis yang diajak nikah aja. Apa kata dunia?” kata penjual kipas menirukan Dedy Mizwar.

Penjual kipas pun berlalu. Dia berjalan ke gerbong lain. Bapak pembeli kipas itu mulai memakai kipasnya. Setelah beberapa kali kipas digerak-gerakkan, pembeli itu merasa heran. Seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan kipasnya. Semakin digerakkan semakin tidak beres. Ooo ala, kipas itu ternyata rusak. Bambunya copot, benangnya putus, kertasnya sobek. Belum 10 menit kipas dipakai, sudah rusak.

Namanya juga pembeli pelit bin koret, dia mencak-mencak begitu melihat kipasnya rusak. Dia marah-marah dan menyumpah-nyumpahi penjual kipas.

“Awas nanti ya, bakal saya adukan ke Komnas HAM. Atau ke Komnas Perlindungan Anak, biar kapok seperti Syekh Puji. Atau saya bawa masalah ini ke Mahkamah Internasional di Belanda. Jelek-jelek begini saya kenal sama Ruhut Sitompul, pengacara kondang itu. Pokoknya saya tak terima. Penjual kipas itu telah melakukan tindak pidana berlapis-lapis!”

“Apa saja Pak, tindak pidananya?” tanya seseorang penasaran.

“Dia melakukan penipuan produk, dia melakukan penipuan informasi, dia mengganggu privasi orang lain, dia mencemarkan nama baik, dia merusak keharmonisan rumah-tangga!”

“Lho, apa hubungannya dengan rumah-tangga?”

“Biarin deh, nyambung gak nyambung, pokoknya disebut. Kebetulan tadi saya baru baca koran, jadi langsung disebut saja,” kata pembeli koret itu.

Orang-orang yang mendengar cuma senyum-senyum saja.

Singkat cerita, penjual kipas itu pun datang lagi. Sebab rute para pedagang di kereta rata-rata dua arah. Mula-mula satu arah dulu, nanti kembali lagi. Istilah kerennya, menyisir ulang. Pembeli pelit yang tadinya marah-marah itu mendadak lunak setelah melihat kumis “gatotkaca” penjual kipas. Rencana dia untuk memanggil Ruhut Sitompul seketika dibatalkan. “Nganu, nganu, nganu, sekarang krisis global. Memanggil pengacara terlalu mahal,” kata pembeli itu beralasan.

“Ada apa lagi, Pak?” kata penjual kipas.

“Sampiyan mau beli kipas lagi, Dek?”

“Bukan, bukan. Ini kipas yang Anda jual sudah rusak. Baru 10 menit dipakai sudah rusak.”

“Oh, begitu. Jadi Bapak mau apa?” tanya penjual kipas.

“Ya, saya mau uang saya kembali. Kipas Anda tidak sesuai harapan.”

“Lha, tadi kenapa kipas ini jadi rusak? Tadi ia baik-baik aja.”

“Iya, setelah beli, kipas saya kipas-kipaskan. Baru 10 menitan, ee sudah rusak. Jadi kipas ini tidak betul. Mohon uang saya kembalikan. Saya butuh uang itu untuk tambah biaya SPP anak saya di Amerika.”

“Aboh-aboh, cuma 2 rebu saja untuk SPP di Amerika, Dek.”

“Begini, Pak. Kipas saya tidak salah. Bapak saja yang salah pakainya,” terang penjual kipas.

“Lho, saya pakai seperti biasa orang memakai kipas. Jangan salahkan saya!”

“Ya itu tadi, Bapak salah pakai kipas 2 rebuan ini.”

“Mestinya bagaimana pakainya?” tanya pembeli bakhil itu.

Kemudian penjual kipas menerangkan cara memakai kipasnya.

“Kalau Bapak beli kipas yang 5 rebuan, kepala Bapak yang diam, kipas dikipas-kipaskan. Angin keluar di situ, Dek.”

“Tapi, kalau Bapak beli kipas 2 rebuan, caranya tidak begitu, Dek!”

“Bagaimana dong?”

Caranya dibalik. Kipas dibuka lebar-lebar, dipegang kuat-kuat biar diam. Lalu, kepala Bapak digeleng-geleng di depan kipas. Nah, angin keluar dari situ. Kalo caranya bener, kipas ini ndak rusak, Dek!

“Oooo…begitu,” kata pembeli agak ketakutan. Sebab, penjual kipas sambil menerangkan, tapi matanya melotot dan tangannya dikepalkan.

Orang-orang di sekitar hanya tertawa melihat kelakuan mereka berdua.

Nah, itu dulu untuk sementara ini. Sekedar rehat, sambil merenungi kenyataan-kenyataan lucu di sekitar kita. Tentu, cerita tadi hanya fiktif saja. Kalau ada kemiripan cerita, lokasi, dan nama, hal itu hanya kebetulan saja. [Kayak di sinetron saja!]. Yo wis lah, monggo dipun sekeca-aken!

Pro LBA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: