Menanggapi Tulisan Kolom di Majalah SABILI

PENGANTAR PENULIS

Tulisan ini sebenarnya merupakan tanggapan terhadap sebuah tulisan kolom di majalah SABILI edisi No. 10/Dzul Hijjah 1429 H. Judul tulisan ini, Gerakan Wahabi Sebagai ‘Tertuduh’. Ia merupakan tanggapan terhadap tulisan kolom berjudul Wahabisme dan Pemikiran Pembaruan Islam yang ditulis oleh Saudara Agus Widiarto. Saya perlu segera merespon tulisan tersebut, karena semula saya berlangganan Sabili, dan sebagai pelanggan saya merasa tulisan itu tidak adil. Disana tergambar dengan jelas pemikiran stigmatisasi terhadap gerakan Islam, khususnya Wahhabiyyah. Alih-alih sang penulis akan memuji prestasi gerakan Wahhabiyyah, dia malah tenggelam dalam kesenangannya mencari-cari kesalahan dengan metode analisis picik.

Tidak lama setelah tulisan itu terbaca, saya segera menyusun tulisan jawaban sebagai hak jawab seorang pembaca terhadap media yang dibacanya. Mungkin berselang 3 atau 4 hari setelah dibaca, tulisan jawaban itu saya kirim via e-mail ke redaksi majalah Sabili. Namun sayang, beberapa kali kirim e-mail tersebut gagal sampai ke redaksi Sabili. Kalau tidak salah, dalam box e-mail Sabili sudah terlalu penuh kiriman e-mail. Saya coba kirim dengan beberapa versi alamat e-mail, tetapi masih saja gagal. Terakhir, saya kirim ke bagian marketing Sabili, dan alhamdulillah terkirim. Hanya sayangnya, sampai saat ini tulisan itu tidak pernah dimuat. Entah apa alasan redaksi tidak memuat. Atau mungkin artikel itu benar-benar tidak sampai ke tangan redaksi Sabili? Wallahu A’lam.

Karena di SABILI tulisan jawaban ini tidak termuat, ya akhirnya saya muat di blog sederhana ini. Semoga Allah meridhai, kaum Muslimin berkenan, dan atas dosa-dosa kita semuanya diampuni Al Ghafur Ar Rahiim. Allahumma amin ya Karim.

“GERAKAN WAHABI SEBAGAI TERTUDUH”

Kalau berbicara isu gerakan Wahabi di Indonesia, sebagian besar warnanya selalu negatif. Istilah “Wahabi” sendiri sejatinya merupakan pelabelan yang padat dengan sinisme. Warga Nahdhiyin sampai saat ini tidak pernah mengibarkan “bendera persaudaraan” terhadap gerakan ini. Seakan, apa yang mereka sebut Wahabi itu adalah realitas di luar Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Kolom yang ditulis Agus Widiarto, Wahabisme dan Pemikiran Pembaruan Islam, di Sabili No. 10/Th. XVI/6 Dzul Hijjah 1429 H, bukanlah kenyataan baru. Ia hanya stereotip yang selalu diulang-ulang dari waktu ke waktu. Termasuk terbitnya buku baru, Quo Vadis Salafi? Wajahnya sama, maksudnya sejalan, hanya berbeda operatornya saja.

Seharusnya kita bersikap obyektif, memandang sesuatu dari berbagai sisi, dan melepaskan diri dari kedengkian pemikiran; sehingga bisa secara fair menghargai kebaikan, apapun bentuknya, siapapun pelakunya. Jika tidak demikian, maka Ummat Islam tidak akan pernah membangun. Sebaik apapun hasil pembangunan, para pelakunya pasti memiliki cacat dan kelemahan. Kata ungkapan, “Al insan makanu khatha’ wa nisyan” (manusia itu tempatnya salah dan lupa). Orang-orang yang dianggap ‘non Wahabi’ 24 karat sekalipun, kalau mau dilacak, akan terkuak kesalahan dan aibnya.

Saat kita melihat gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; sering disebut gerakan Salafiyah atau Wahhabiyyah menurut yang lain; situasinya tidak se-simple dikotomi hitam-putih. Keragaman pemikiran, pola gerakan, dan aktualisasi dakwah, tampak disana. Perlu diketahui, dalam gerakan ini sejak awal selalu muncul komunitas ekstrem. Mereka dulu dikenali dengan sebutan Kafilah Al Ikhwan. Mereka tidak segan-segan menumpahkan darah siapa saja yang menolak pemikiran Wahabi. Tahun 1979 terjadi peristiwa “kudeta Masjidil Haram” oleh Juhaiman Al Utaibi dan pengikutnya. Di tahun-tahun terakhir muncul gerakan takfir yang diikuti aksi-aksi kekerasan. Semua ini merepotkan Kerajaan Saudi dan para ulamanya, sejak dulu sampai sekarang. Ekstremitas inilah yang banyak menyumbang citra negatif dakwah Salafiyah.

Pengamat yang apriori akan berhenti hanya sampai di titik memperpanjang daftar stigmatisasi. Namun bagi pengamat sportif, dia tidak gegabah menarik kesimpulan. Dakwah Salafiyah sendiri berkontribusi besar dalam isu Kebangkitan Islam di dunia. Hampir setiap gerakan Islam modern, sedikit banyak terimbas gerakan ini. Ikhwanul Muslimin, Jamaah Islamiyyah di Mesir, Jamaat Islami di Pakistan, Salafiyah di India, PAS di Malaysia, gerakan Islam modern di Indonesia (Muhammadiyyah, Al Irsyad, Persis, Masyumi, DDII, Hidayatullah, dll.), sampai gerakan Sanusiyyah di Maroko; disana terdapat jejak pengaruh Salafiyah. Dalam kaidah Ushulul ‘Isyrin (Prinsip 20) Ikhwanul Muslimin, sebagian prinsipnya jelas membawa misi pemurnian Tauhid dan menghidupkan Sunnah Nabi.

Kesalahan utama para pengamat ketika memandang gerakan Wahabi –termasuk kesalahan Agus Widiarto- ialah menganggap gerakan ini sebagai produk pemikiran Syaikh Ibnu Abdul Wahhab atau Ibnu Taimiyyah. Ini kesalahan serius. Pemurnian Tauhid dan menghidupkan Sunnah, dua syiar utama dakwah Salafiyah, sebenarnya merupakan penjabaran kongkret dari Dua Kalimat Syahadat. Sedang Kalimat Syahadat adalah kontrak asasi seorang Muslim dengan Rabb-nya.

Bagaimana Islam akan kembali berjaya dan setiap Muslim mendapati kejelasan arah hidupnya, jika mereka tidak kembali kepada Kalimat Syahadat? Apakah dianggap sebagai kesesatan, dengan mengembalikan Ummat Islam kepada asas agamanya? Ya, hati nurani Anda bisa menjawabnya.

Agus Widiarto menulis, “Wahabisme harus dipisahkan ke ruang berbeda dengan yang lain, ketika gerakan ini tak melanjutkan ijtihadiyah terhadap doktrin-doktrin agama.” Pertanyaannya, apakah untuk Dua Kalimat Syahadat masih dibutuhkan ijtihad? Jelas sangat tidak mungkin. Adapun dalam perkara fiqih atau muamalah, ulama-ulama Wahabi sangat progressif dalam ijtihad. Lihatlah konstruksi bangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi! Ia merupakan fakta monumental sikap progressif ulama Wahabi dalam ijtihad.

Agus menutup tulisannya, “Jika pun Wahabisme dipandang sebagai gerakan puritan yang keras, kaku, dan intoleran, ia bukanlah mainstream pemikiran atau bahkan gerakan dakwah Islam di Indonesia yang penuh toleran.” Pertanyaannya, apakah kita lupa bahwa Dewan Wali Songo pernah mengeksekusi Syaikh Siti Jenar karena berpaham Wihdatul Wujud? Lihatlah, ternyata di masa sebelum Wahabi muncul, sikap tegas membela akidah Islam telah ada, di bumi Nusantara ini.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Bandung, 30 November 2008.

AMW.

Note: Maaf, tulisan ini sudah “cukup umur”. Ditulis akhir November, baru posting sekarang.

Iklan

23 Responses to Menanggapi Tulisan Kolom di Majalah SABILI

  1. a berkata:

    Semoga..semua perdebatan..berujung pada saling menghargai dan memper erat persaudaraan sesama umat islam, tapi perlu di ingat kepada siapapun…janganlah Gampang memurtadkan/mengkafirkan orang lain atau menumpahkan darah orang lain ( Seperti teror yang terjadi selama ini terjadi ), Hukum Islam itu Jelas!!!!, yang menjadi tidak jelas adalah..terjadinya perbedaan dalam menafsirkan…( Mungkin menurut saya,…orang yang dangkal pemahaman tentang agama..berbicara seolah-olah mereka itu ahli )
    Demikian…Mohon maaf bukan saya mau mencela atau menggurui…sekedar ingin…urun..pemikiran saja

  2. La Ode Sahara DM berkata:

    ALLAH SWT yang maha mengetahui.

    Ukhwah islamiyah semoga tetap kokoh. Bukankah ISLAM itu satu..!!??

    Semoga tetap istiqomah. AMIN.

  3. ADIL AKHYAR berkata:

    buku quo vadis salafy sudah cukup untuk menelanjangi baju palsu yang dipakai oleh orang yg mengaku salafy, assunnah atau apasajalah namanya. wajah bengis orang salafy tdk bisa ditutupi dengan jenggot atau kumis tebal. bicaralah secara empirik, krn buku quo vadis salafy berbicara secara empirik.

  4. abisyakir berkata:

    @ Adil Akhyar…

    Buku “Quo Vadis Salafy” itu bukan buku ilmiah. Buku itu hanya merekam fitnah-fitnah yang sudah populer sejak dulu, yang dialamatkan kepada dakwah “Wahhabi”. Fitnahnya sudah bertebaran sejak dulu, sejak saya SMP atau SMA, sudah mengenal fitnah-fitnah semacam itu.

    Iya pun kalau penyusunnya gentleman, mau diskusi secara jujur. Wong, prinsipnya “pokoknya sikat Wahhabi, soal alasan belakangan”. Menghadapi orang macam begitu, meskipun didatangkan segunung alasan, tetap percuma. Sebab niatnya bukan mencari kebenaran, tetapi meneguhkan sikap fanatik.

    Sayang amat jadi manusia. Hidup cuma sekali, tidak terulang lagi. Setelah itu dihitung amal baik-buruknya. Tapi seumur-umur itu mau dikendalikan oleh fanatisme, seperti kerbau dicocok hidung. Duh, sayang sekali Pak.

    Apalagi kalau terus menggumuli fitnah-fitnah, bukan ilmu. Bukan barakah yang didapat, seumur-umur terus saja memikul tumpukan dosa. Yang enak Syaikh Abdul Wahhab. Beliau difitnah terus-menerus, tanpa henti. Keburukan-keburukan beliau diborong oleh para pemfitnah itu, sementara kebaikan-kebaikan para pemfitnah itu terus dikirimkan ke tabungan amal beliau (Ibnu Abdul Wahhab).

    Ya, itu dulu deh…

    == AMW ==

  5. Nomad berkata:

    “Seharusnya kita bersikap obyektif, memandang sesuatu dari berbagai sisi, dan melepaskan diri dari kedengkian pemikiran; sehingga bisa secara fair menghargai kebaikan, apapun bentuknya, siapapun pelakunya.” \

    Nasihat tsb seharusnya ditujukkan kpd Wahabi yg selalu menganggap diri/kelompok mereka plg benar & di luar kelompok mereka sesat/musyrik. Sdh ketahuan koq pemikiran2x jahil Ibnu Taymiyyah & Ibnu Abdul Wahhab. K’lo anda sendiri gentleman, anda bisa berdiskusi di
    http://abusalafy.wordpress.com/ & http://ibnutaymiah.wordpress.com/.

  6. abisyakir berkata:

    @ Nomad…

    Dengan niat baik, insya Allah saya akan masuk blog Anda. Tetapi saat ini tidak dulu, masih banyak kegiatan lain. Maafkan. Tapi insya Allah saya akan kesana. Saya masih ingat sedikit-sedikit tentang blog “salafitobat”.

    AMW.

  7. abu zaid berkata:

    bismillah,

    kalau ahli sunnah difitnah, dijelek2kan orang yang dangkal agamanya, dangkal ilmu keislamannya,
    maka wajar…
    Alhamdulillah….

    justru kalau dipuji mereka (orang yang memakai akalnya saja, kurang ilmu, salah pemahaman tauhidnya, wajib bagi kita istigfar..
    jangan2 kita sama dengan mereka

  8. emha berkata:

    jangan suka menghujat keburukannya.. lalu anda abaikan semua kebaikan yang ada padanya. seolah2 apa yang dilakukannya buruk semua.
    Itulah yang berlaku pada masyarakat kita sekarang. kita bukan fanatik tokoh. Fanatiklah kepada Sunnah…maka engkau akan mendapati yang hak itu hak. jika tokoh melakukan kesalahank, tinggalkan menggunjing, ambil yang hak, tetaplah belajar agar anda tahu ilmu yang seperti apa yang mesti anda ambil.

  9. emha berkata:

    engkau beragama jangan dengan nafsu.. Tapi semua harus dengan hujjah..
    Jika yang berdakwah dengan dalil Engkau abaikan, dan lebih memilih akal, niscaya engkau akan tersesat…
    Berbicara agama adalah berbicara dalil, bukan akal. terlebih dalam masalah aqidah..
    carilah ilmu …

  10. Ummu Abdillah berkata:

    Intinya untuk mengetahui mana yg haq dan mana yg batil kita mesti belajar agama sesuai dengan pemahaman yg benar, yg bersumber pada kitabullah dan sunnah rasul. Tinggalkan yg menyelisihinya dan ambil yg sesuai. Jgn menghujat para ulama yg jelas-jelas ilmunya sangat jauh dibandingkan kita. Untuk Nomad : tlg anda tunjukkan dimana letak pemikiran jahil yg anda sebutkan ada pada ulama2 itu? dan banyak2 beristighfarlah anda karena sudah berani berkata jahil pada para ulama yg berusaha berjalan diatas sunnah. Jgn mencari-cari perbedaan tetapi carilah apa yg benar sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah, dan untuk itu kita harus banyak belajar.

  11. Muharto berkata:

    menjengkelkan.

  12. Abu Hanif berkata:

    Test ja

  13. aoki berkata:

    Polemik ini sesungguhnya bermula dari polemik internal Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Rupanya ada pihak2 yg gerah melihat ternyata dakwah tauhid tersebar di sebagian besar warga irsyadi.

    Secara kebetulan, ketika Sabili mereformasi jajarannya redaksinya dg wajah2 baru, pemimpin umumnya adalah dari mereka yang gerah dengan dakwah tauhid di internal Al-Irsyad. Pihak2 yg gerah ini mendapatkan peluangnya untuk mengungkap kegerahan mereka ini dengan menguasai media Sabili.
    Kegerahan ini semakin menjadi-jadi ketika kelompok muwahiddin di internal Al-Irsyad – yang juga ingin mengembalikan Al-Irsyad sebagaimana amanat Syaikh Surkati rahimahullah – membentuk PP Perhimpunan Al-Irsyad sebagai tandingan untuk memisahkan diri PP Al-Irsyad. Ditambah lagi ternyata Presiden SBY menerima mereka di Istana Presiden dalam rangka perkenalan dan Muktamar I Perhimpunan Al-Irsyad.
    Sekali lagi, secara kebetulan Pemimpin Umum Sabili adalah dari kelompok yang pro PP Al-Irsyad, maka Sabili pun dengan mudah menjadi kendaraan untuk mengungkap berbagai masalah yang pada awalnya intern Al-Irsyad menjadi kendaraan untuk menyerang dakwah tauhid. Bahkan secara MEMBABI-BUTA TANPA ILMU DAN TABAYYUN.
    Subhanallah, mengapa kita terus saja mengedepankan hawa nafsu?
    Wacana pun berlanjut hingga berimbas kepada masalah pendanaan. Otomatis karena berpecah, maka dana pun berkurang bahkan aset-asetpun terjadi perebutan antara sesama Irsyadi. Puncaknya adalah kejadian di Gedung Al-Irsyad jl. Kramat Raya Jakarta, ketika akan dieksekusi oleh kelompok PP Al-Irsyad. Masing2 membawa backingnya sendiri-sendiri. Tak urung seorang Jendral Polisi pun sempat menengahi mereka.

    Akhirnya, tuduhan dana dari pihak asing pun mengemuka di antara mereka. Terutama terlontar dari pihak yang tiba2 saja pendanaannya menyusut. Persoalan ini lambat laun menjadi semakin meruncing. Terlebih lagi setelah kemudian Al-Irsyad Al-Islamiyah di Surabaya ikut memisahkan diri dari PP Al-Irsyad dan menyatakan mandiri tidak terikat oleh kedua belah pihak baik PP Perhimpunan Al-Irsyad ataupun PP Al-Irsyad Islamiyah. Dan memiliki majalah tauhid sendiri bernama Adzakhirah itu.

    UNTUK MAJALAH SABILI
    Dari polemik ini, yang sangat saya sesalkan adalah keterlibatan majalah Sabili. Sebagai majalah berpengalaman, tidak selayaknya Sabili menceburkan diri ke dalam polemik ini terlebih lagi dengan pemberitaan yang tidak berimbang.
    Saya khawatir, Sabili kehilangan profesionalisme sebagai media jujur dan akurat akibat pengaruh pemodal yang kebetulan berada di salah satu pihak.

    Dampak terburuk adalah dakwah tauhid hanya menjadi bahan tertawaan para orang-orang jahil yang tidak tahu syariat agama atau juga para pengamal bid’ah dan kemusyrikan akan semakin leluasa memijakkan amalan-amalan mereka yang menyimpang di bumi Indonesia.

    Subhanallah, sebagai seorang jurnalis saya benar-benar miris dan malu dengan kejadian ini.

    UNTUK KYAI AL-JAIDI
    Buat pak Kyai Al-Jaidi, mengapakah Anda mempermasalahkan jenggot dan celana ngatung? Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga berbuat demikian? Tidakkah Pak Kyai tergerak hati untuk mengikuti cara hidup Nabi? Apalagi Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengiringi perintah itu dengan ancaman?

    Apa sih beratnya membiarkan jenggot dan mengangkat kain hingga di atas mata kaki?

    Mengapa justru Pak Kyai membanggakan tindakan yang sebaliknya? Dengan memasang dan merelakan foto pak kyai besar2 di majalah tersebut?

    Ingatlah Pak Kyai, Bapak adalah contoh dan panutan bagi warga organisasi yg Bapak pimpin. Akankah dengan itu akhirnya umat menjadi mencemooh amalan jenggot dan tidak isbal itu?

    Tidakkah tiba waktunya untuk kembali kepada manhaj salaf dan menjalankan printah syariat sesuai tuntunan para salafussholeh?

    Sungguh hidup itu hanya sebentar. Kalau bukan sekarang kita bersegera mengamalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu kapan lagi waktunya? Untuk meraih pahala dan bekal kita di akhirat nanti.

  14. Stw berkata:

    Waduw,, sesama intern umat berseteru,, yg diluar sana kaum kuffar jadi tepuk tangan dnk!!
    Maaf ya ikhwani semua….

  15. abu syauqi berkata:

    para politisi umbar kata-kata, saling jegal dan menjatuhkan tanpa akhlak demi kedudukan , pamor dan jabatan. para pejabatnya berlomba korup, menumpuk kemewahan dunia. Para pengusaha pada menipu, mengabaikan halal haram. Rakyatnya banyak berdemo menuntut kesejahteraan, bergelimang dengan dosa dan maksiat, saling tawur antar kelompok. DAN PARA DU’ATNYA SALING CACI DENGAN KATA-KATA KASAR, SALING KLAIM KEBENARAN, BAHKAN SALING MENGKAFIRKAN. Duh…….. mau jadi apa ummat ini….

  16. bam bang berkata:

    saling hujat dan saling serang antar muslim dalam pemikiran terlebih lagi secara pisik hanya melemahkan iman dan semakin mudah musuh 2 islam mengadu domba sesama muslim,alangkah baiknya masing2 merenungi apa yang sudah dilakukan dan dikorbankan untuk syi ar islam yg hanya satu yaitu ahlus sunnah wal jamaah

  17. Lulu'uL maknun berkata:

    Assalamualaikum, , ngeri rasanya membaca perdebatan yang telah memperlihatkan ego masing – masing pihak… bukannya berseteruh karena mempertahankan pendapat membuat kita bisa menjadi gelap hati… Yang terhormat antum-antum sekalian, di masa akhir zaman ini yang mesti kita pikirkan bukan benar tidaknya pendapat kita, namun RISAU TIDAKNYA KITA DENGAN UMAT ISLAM YANG SEMAKIN HARI SEMAKIN MENINGGALKAN SHALAT, SEMAKIN HARI SEMAKIN MENINGGALKAN TADHARUS, SEMAKIN HARI SEMAKIN MEMPERTONTONKAN AURAT, SEMENTARA UMAT ISLAM SENDIRI YANG SETIDAKNYA PAHAM AKAN AGAMA HANYA SIBUK DENGAN MEMBANDINGKAN PAHAM – PAHAM MaSING MASING…saya HARAP KITA KEMBALI BISA BERFIKIR JERNIH DENGAN SEMANGAD DAKWAH SALING MENGINGATKAN DALAM AMAL AGAMA…bukannya saling mengingatkan itu lebih baik dari pada saling menghujat

  18. Abuya adil akhyar al medani berkata:

    Ulama dan tokoh2 salafi belajar haditsnya tanggung2, jd pemikirannya jg tanggung2. seperti mahasiswa fakultas kedokteran, blm selesai sdh buka praktek, apa jadinya pasien. banyak yg mati dan sakitnya makin parah. ulama salafy ngakunya `alim, mengerti tentang hadits padahal belajarnya tdk rampung, lalu mengobati penyakit ummat, maka ummat ini akan banyak yg mati dan penyakitya semakin parah.
    wah taubatlah saudaraku. taubat. dan syahadat lagi. kalian sdh banyak menyesatkan ummmat dgn dalih ahli sunnah. taubatlah. semoga taubat kalian diterima Allah swt.

  19. abisyakir berkata:

    @ Abuya Adil Akhyar….

    Ulama dan tokoh2 salafi belajar haditsnya tanggung2, jd pemikirannya jg tanggung2. seperti mahasiswa fakultas kedokteran, blm selesai sdh buka praktek, apa jadinya pasien. banyak yg mati dan sakitnya makin parah. ulama salafy ngakunya `alim, mengerti tentang hadits padahal belajarnya tdk rampung, lalu mengobati penyakit ummat, maka ummat ini akan banyak yg mati dan penyakitya semakin parah. wah taubatlah saudaraku. taubat. dan syahadat lagi. kalian sdh banyak menyesatkan ummmat dgn dalih ahli sunnah. taubatlah. semoga taubat kalian diterima Allah swt.

    Komentar: Ya, dari cara Bapak berkomentar ini juga sudah tidak menunjukkan bahwa Bapak seorang alim. Kalau orang alim tentu tidak akan bersikap ofensif tanpa alasan seperti itu. Mungkin yang Bapak maksud dengan “tokoh Salafi” itu ialah Syaikh Al Abani rahimahullah. Seperti Prof. Dr. Ali MustafaYa’qub, beliau termasuk sangat keras dalam mengkritik Syaikh Al Albani. Namun belakangan, beliau bersikap lebih bijak. Beliau tidak ofensif seperti sebelumnya. Saya berkali-kali membaca hasil telaah Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub di majalah Gontor, terkait dengan hadits-hadits palsu atau maudhu’. Ya, sejatinya, telaah beliau tidak terlalu istimewa dibandingkan telaah Syaikh Al Albani. Ya, standar lah seperti telaah ahli-ahli yang lain.

    Kualitas Syaikh Al Albani telah diakui dunia Islam. Beliau mendapat King Faishal Award. Kitab beliau tentang Silsilah Hadits Dhaif, diakui oleh Lajnah Da’imah lil Buhuts Ilmiyah, Arab Saudi. Dari sisi pentashihah, memang Syaikh Al Albani mendapat kritikan, tetapi dari sisi pendhaifan, kualitas beliau diakui oleh Lajnah Da’imah. Coba Bapak sebutkan, apakah Bapak diakui oleh Lajnah Da’imah, atau ulama-ulama yang Bapak jadikan rujukan diakui oleh lajnah Da’imah? Mohon informasinya.

    Kita suka kalau Bapak mau diskusi. Sebab umumnya, para thulab ini kan muqallid dengan para syuyukh-nya. Kalau syuyukh-nya bilang M, para muqallid teriak M juga. Padahal bisa jadi hakikat yang dikehendaki bukan M, tetapi R.

    Persoalan yang membuat banyak orang “mendengki” kepada Syaikh Al Albani, ialah karena AREA KARYA BELIAU TERLALU LUAS. Beliau mengkritisi sampai kitab-kitab Sunan, yang para ahli lain saja berhati-hati untuk mengkritiknya. Termasuk kritik beliau terhadap beberapa bagian dari Kitab Shahaih Bukhari yang menjadi sumber kritikan sangat luas. Tetapi kalau kita orang alim, semua ini akan dipandang sebagai ijtihad ilmiyyah, bukan doktrin yang bersifat memaksa. Kalau ijtihad benar, mendapat 2 pahala, kalau ijtihad salah, mendapat 1 pahala.

    Satu lagi, sebab lain yang membuat orang tidak suka, ialah bahasa Syaikh Al Albani yang cenderung terbuka. Beliau sering mengatakan, “Aqulu kadza wa kadza.” Hal ini lantaran latar-belakang beliau sebagai orang Eropa (Albania) yang memang biasa bersikap terbuka.

    Terimakasih.

    AMW.

  20. adil Akhyar ( Al Faqir ) berkata:

    sy memang bukan alim, anda juga bukan orang alim, al bani jg bukan orang alim. jgn sok alim. yg merasa alim sesungguhnya dia orang bodoh. dan Allah swt jg mengatakan bahwa kalian adalah orang2 jahil. kenapa kamu mengaku alim. taubatlah saudaraku. bersyahadatlah saudaraku.

  21. ahbab serpong berkata:

    maaf sebelumnya… dikatakan bahwa salafi mengikuti kehidupan para umat terdahulu…. nah ditempat saya, batam dan tempat kuliyah saya di tanggerang mengapa selalu tiada berbaur dengan muslim lainya, seakan hanya nampak waktu shalat berjamaah saja, trus kenapa kebanyakan salafy yg saya temukan saat shalat shubuh selalu enggan melakukan qu’nut padahal imamnya qunut…. saya bukan membedakan cuma, kenapa saya menemukan orang berpaham salafy selalu begini….

  22. abisyakir berkata:

    @ ahbab serpong…

    Iya memang sering ada kenyataan begitu. Antara klaim dan amalan, tidak sinkron. Kalau soal qunut saat shalat Shubuh, ada yang menyuruh kita ikut qunut denga dalil “imam ditunjuk untuk diikuti”. Ada juga yang tidak menyuruh mengikuti dengan dalil “kalau imam keliru, tidak perlu diikuti”. Ada juga imam madzhab yang dngan LEGOWO mengikuti qunut dengan asumsi menghormati pendapat imam lain. Mana yang benar, kami kurang tahu? Wallahu a’lam.

    Admin.

  23. masdultea berkata:

    Sangat disayangkan jika pemikiran dangkal dgn pengetahuan dangkal saling hujat,terutama pengikut-pengikut yang kurang Faham agama.mestinya Islam ini kuat untuk bersatu dan saling berserah diri kpd Allah saja jika ada perselisih paham antara mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: