Seandainya Kita Harus Memilih…

Saudara-saudariku rahimakumullah.

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Sebentar lagi, hanya tinggal menghitung hari, bangsa Indonesia akan menghadapi momen penting, yaitu Pemilu Legislatif untuk memilih wakil-wakil rakyat di DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, dan anggota DPD (Senat). Di antara kita sudah ada yang siap ikut Pemilu dan sebagian lain memilih golput.

Bagi yang siap bersikap golput, mohon dipahami sikap politiknya dan dihargai. Mereka telah berpendapat dengan segala pertimbangannya, maka sepatutnya sikap seperti itu dihargai sebagai bentuk ekspresi politik juga. Dalam Islam, ijtihad yang satu tidak bisa menggugurkan ijtihad yang lain. Lagi pula, sikap abstain (alias tidak memilih) dihormati dalam sistem demokrasi dimanapun. Hanya para penggiat sistem demokrasi primitif yang tidak mengenal atau menghargai sikap abstain (golput). Sekali lagi, hormati mereka yang tidak memilih, sebagaimana Anda ingin dihormati sebagai para pemilih dalam Pemilu.

Adapun bagi yang siap memilih dalam Pemilu, ada beberapa nasehat yang ingin disampaikan disini, yaitu:

PERTAMA, memilih dalam Pemilu bukanlah masalah kecil, sebab ia menyangkut kepemimpinan, perwakilan, legislasi Undang Undang, dan pengawasan Pemerintahan. Ini masalah besar, bukan masalah muamalah sederhana. Maksudnya, apapun pilihan kita, pasti kelak Allah akan mempertanyakan pilihan itu. Maka jangan sampai Anda salah dalam memilih, sehingga Anda nanti dianggap bersyarikat dalam mendukung kemungkaran-kemungkaran.

KEDUA,sebelum menentukan pilihan, pastikan bahwa Anda memilih dengan NIAT BAIK. Anda memilih bukan karena terpaksa, karena ikut-ikutan, karena diberi sejumlah uang, karena merasa segan, dll. alasan yang tidak Islami. Anda harus meyakinkan diri, “Saya memilih partai ini atau tokoh ini karena dia saya percaya akan memperjuangkan Islam dan Ummatnya. Sejauh pengetahuan saya, partai atau tokoh itu komitmen dengan kepentingan kaum Muslimin.” Dengan alasan seperti ini jika di kemudian terbukti ternyata keliru, partai/orang yang Anda pilih ternyata penipu, maka di hadapan Allah Anda akan memiliki alasan untuk bertanggung-jawab. Tinggal Anda katakan, bahwa diri Anda memilih dengan NIAT BAIK. Soal kemudian dukungan Anda disalah-gunakan oleh pihak yang Anda pilih, itu tanggung-jawab dia sendiri.

KETIGA, pilihlah wakil atau partai tertentu yang memiliki komitmen bagi perbaikan kehidupan Ummat Islam. Jika ada partai yang sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat Islam (bukan sekedar klaim palsu penuh dusta seperti yang biasa dilakukan partai penipu Ummat), maka pilihlah partai itu. Jika tidak ada, maka pilihlah partai yang bersifat umum tetapi visi dan missinya sungguh-sungguh ingin memperbaiki kehidupan masyarakat. Ingat, jika berbicara tentang masyarakat Indonesia, itu sama dengan berbicara tentang mayoritas penduduk Muslim. Siapa yang sungguh-sungguh membela masyarakat, berarti dia sungguh-sungguh membela mayoritas Muslim.

KEEMPAT, idealnya setiap Muslim yang ikut Pemilu memilih partai Islam. Tetapi karena reputasi partai Islam selama 10 tahun terakhir ini buruk, tidak banyak berbeda dengan partai-partai sekuler, maka hak keistimewaan memilih partai Islam itu menjadi hilang. Maka pilihlah partai mana saja, selama bukan partai yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin, yang visi-misinya lebih dekat kepada MASHLAHAT dan lebih jauh dari MADHARAT.

KELIMA, dalam memilih hindari partai-partai yang berciri sebagai berikut:

[-] Partai itu ingin menghidupkan kembali ideologi tertentu di masa lalu yang sangat tidak Islami dan membahayakan akidah Islam.

[-] Partai itu mengklaim sebagai partai non Muslim. Jelas-jelas dia mengklaim sebagai partai Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, dan lainnya.

[-] Partai itu terkenal jejak politiknya sering menjegal aspirasi Ummat Islam (misalnya dalam soal pornografi, sistem pendidikan nasional, UU Perkawinan, dll). Hindari, hindari partai yang dadanya sumpek terhadap aspirasi perjuangan Ummat Islam.

[-] Partai yang telah mendukung lahirnya UU Ketenagakerjaan yang menyengsarakan para pekerja dengan sistem outsourcing; partai yang mendukung liberalisasi ekonomi; partai yang mendukung penjualan aset-aset strategis negara; partai yang mendukung kepentingan asing daripada rakyat sendiri; partai yang tidak peka dengan produk kebijakan negara yang menyengsarakan masyarakat luas.

[-] Partai berlabel Islam, tetapi kebijakannya, sikap politiknya, perilaku elit-elitnya, serta komitmen wakil-wakilnya di Parlemen, jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka alergi dengan Syariat Islam dan merasa malu untuk memperjuangkan kepentingan Ummat. Hindari partai seperti itu, hindari.

KEENAM, jika Anda telah memilih, lalu dukungan Anda dikhianati oleh pihak-pihak yang Anda pilih, lakukan komplain kepada pihak tersebut. Sampaikan keluhan, kritik, dan masukan dari Anda kepadanya. Kalau dia menerima lalu memperbaiki sikap, alhamdulillah. Kalau dia tetap berkhianat, maka catat orang seperti itu sebagai pihak yang tidak menunaikan amanah.

KETUJUH, dari sekian kali Anda mengikuti Pemilu, coba pikirkan apakah harapan-harapan baik Anda selama ini telah terwakili dan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang Anda pilih? Jika ternyata, sebagian besar kenyataan Pemilu itu hanya mengecewakan diri Anda, maka janganlah bersikap seperti “kambing congek” (maaf). Artinya, pengalaman berkali-kali ikut Pemilu itu sudah bisa memberi pelajaran bagi Anda apakah sistem demikian ini (demokrasi Pemilu) baik atau tidak.  Jika memang tidak baik, maka kita perlu memikirkan cara lain untuk melakukan perbaikan. Jangan pernah merasa bahwa Pemilu itu bersifat mutlak, tidak ada pilihan lain selainnya. Namanya juga sistem buatan manusia, ada baik-buruknya, dan bisa diperbaiki, jika kita mau melakukannya.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “La yanshurullah man yanshuruh” (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong agama-Nya). [Surat Al Hajj]. Sejauh pilihan Anda ditujukan untuk membela Islam dan kaum Muslimin, insya Allah hal itu merupakan satu kontribusi bagi kemenangan Islam. Semoga Allah menerima amal Anda, melimpahkan pahala, barakah, dan pertolongan-Nya. Allahumma amin.

Demikian beberapa nasehat yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 6 April 2009.

Abu Muhammad Waskito

(Supervisor Langit Biru Articles, https://abisyakir.wordpress.com/).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: