Akhirnya DEMOKRAT Menang…

Suatu kenyataan politik yang meleset dari prediksi banyak pengamat, hasil Pemilu Legislatif 2009 memenangkan Partai Demokrat sebagai pengumpul suara paling banyak. Menurut quick count versi LSI dan kerjasama dengan TVOne, Demokrat berhasil meraih suara 20, 16 % mengungguli Golkar dan PDIP. Banyak pengamat menilai, Demokrat suaranya akan menguat, tetapi tidak ada yang menduga ia bisa mengungguli Golkar dan PDIP.

Demokrat yang semula berada di bawah PPP dan PKB akhirnya malah meninggalkan kedua partai itu terpuruk dalam kategori partai kecil dengan perolehan suara antara 5 sampai 6 %.

Hanya saja, kemenangan Demokrat kali ini terjadi dengan cara-cara yang tidak fair. Demokrat menggunakan berbagai cara yang tidak jujur untuk memenangi Pemilu 2009. Cara-cara itu antara lain:

[o] Iklan pemerintah secara terus-menerus melalui PNPM Mandiri, BOSS, Pertamina, departemen-departemen, dll. Sebenarnya, itu terhitung iklan layanan masyarakat. Tetapi karena intensifnya, ia diklaim sebagai bukti-bukti keberhasilan pemerintah SBY atau Partai Demokrat. Iklan layanan masyarakat itu bahkan sudah muncul sejak sebelum era kampanye dimulai.

[o] Pembagian BLT sebesar Rp. 200 ribu/kepala keluarga yang dilakukan pada waktu kampanye terbuka. Jelas pembagian ini sangat menguntungkan posisi PD. Masyarakat merasa berhutang budi kepada pemerintah yang sedang berkuasa.

Selain dua hal itu, Demokrat juga diuntungkan dengan segala macam prosedur dan mekanisme Pemilu 2009 yang sangat ruwet dan kacau. Bisa dikatakan, Pemilu 2009 adalah even Pemilu paling kacau dalam sejarah demokrasi di Indonesia. Kalau di jaman Orde Baru, Pemilu berjalan curang, namun secara mekanisme sangat rapi, maka dalam Pemilu 2009 ini pelaksanaan Pemilu berjalan tidak jujur dan ditunjang oleh urusan logistik, administratif, dan mekanisme pencontrengan yang sangat amburadul.

Beberapa kenyataan bisa disebutkan:

[o] Sampai hari “H” Pemilu, masalah DPT masih terus bermasalah. Banyak warga yang belum tercatat sebagai anggota pemilih. Banyak yang tercatat dobel, banyak yang tidak berhak tetapi tercatat masuk DPT, dll. Masalah DPT bukan hanya di Jatim, tetapi hampir terjadi di berbagai daerah.

[o] Urusan logistik juga kacau. Di Jawa Barat, daerah yang sangat dekat dengan Jakarta, bilik suara tidak ada sehingga masyarakat menyiasati dengan apa saja yang bisa mereka pakai. Surat suara banyak yang tertukar satu daerah dengan daerah lain.

[o] Mekanisme pencontrengan sangat membingungkan. Menjelang hari “H” Pemilu KPU baru mengumumkan ketentuan suara yang sah. Ketentuan suara sah itu sempat berubah-ubah, menimbulkan persepsi berbeda di mata para panitia, parpol, dan pemilih.

Kalau Anda terlibat dalam proses Pemilu 2009 ini, dan Anda menggunakan standar hati nurani, dijamin Anda akan merasa STRESS. Teman-teman yang terlibat di TPS maupun Panwas merasakan benar betapa Pemilu kali ini amat sangat kacau. Sampai ada yang mengatakan, “Pemilu kali ini setengah dagelan.

Secara kuantitas perolehan suara, Partai Demokrat memenangi Pemilu 2009. Namun dari sisi sportifitas dalam Pemilu, kemenangan Demokrat diperoleh dengan cara-cara yang tidak fair. Mungkin, keluarga besar Partai Demokrat merasakan benar kegembiraan menyambut kemenangan Pemilu 2009, tetapi orang lain tidak memandang hal itu sebagai kemenangan. Justru ia dipandang sebagai kekalahan moral. Jika kemenangannya seperti ini, lalu bagaimana perilaku politiknya dalam memimpin negara?

Suka bagi Partai Demokrat menjadi duka bagi partai-partai lain. Hampir semua partai merasakan kedukaan akibat perolehan suara mereka anjlok, terutama Golkar, PDIP, PPP, dan PKB. Begitu pula, PKS dan PAN, meskipun hasilnya tidak terpaut jauh dari Pemilu 2004, tetapi secara politik hasil seperti itu jauh dari harapan mereka. Sebagai contoh, PKS saja menetapkan harapan 15 % sampai 20 %. Begitu pula, Sutrisno Bachir sudah membuang-buang sangat banyak uang melalui iklan “Hidup Adalah Perbuatan” yang tidak tahu apa manfaat iklan itu. Gerindra dan Hanura pun sama. Mereka mendapat suara kecil, sekitar 3 sampai 6 %. Suatu hasil yang jauh dari harapan.

Hanya Partai Demokrat yang benar-benar berpesta meriah pasca Pemilu 9 April 2009 ini. Kemenangan bagi Demokrat, menjadi berita duka bagi partai-partai lain.

Dalam mekanisme demokrasi, kenyataan seperti ini sering terjadi. Sulit mencari sistem yang benar-benar jujur. Tetapi wajar saja, selama orientasi politik itu memang untuk kekuasaan, jangan berharap akan ada perbaikan.

Selamat bergembira, sekaligus selamat berduka! Dan tentu, selamat menikmati “menu politik” yang kata seorang teman seperti “setengah dagelan” ini! Semoga ada hari depan yang lebih baik bagi POLITIK ISLAMI. Allahumma amin ya Rahiim.

Bandung, 10 April 2009.

AM. Waskito.

Iklan

4 Responses to Akhirnya DEMOKRAT Menang…

  1. uungsupra berkata:

    Saya sbg KPPS Duren Jaya Bekasi juga kaget, tangan
    saya sampe pegel-pegel karena kertas hitung yang gede
    harus dibuka terus nyontreng Partei 31 terus menerus,
    tetapi ini jelas reformasi, artinya beda sekali dengan yang lalu, ini kemenangan REFORMASI juga.

  2. Kamila berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Kalau politiknya Islami, jangan menyatakan bahwa Demokrat menang karena curang hanya berdasarkan tafsiran dari berita. Sepengetahuan saya, kebanyakan orang2 yg tidak terdaftar di DPT mau pilih Demokrat juga, termasuk adik saya sendiri. Ingat, Demokrat yg paling rugi dg tidak terdaftarnya banyak pemilih di DPT.

    Yang paling salah dalam kasus DPT ini adalah DPR (PDIP dan Golkar sbg mayoritas) yang terlalu bertele-tele menyelesaikan UU Pemilu dan MK yg meloloskan lebih banyak lagi partai di saat2 terakhir. Trus, bukankah anggota KPU itu diseleksi oleh DPR?

    Saya, keluarga, dan tetangga2 yg pilih Demokrat semua akan pilih SBY yang gagah, soleh, cerdas, dan rendah hati di Pilpres. Suara kami menguat ke Demokrat karena PKS yg kami pilih di 2004 plin-plan soal capres, kalau Golkar memberi sinyal negatif dg mau koalisi dg PDIP jelang Pileg. Jadi masing2 dapat karmanya, bukan karena Demokrat curang. Kalo soal PDIP, tahu sendiri iklan Sembako Murah dibantah sendiri, iklan Awasi BLT tidak ada kenyataannya di lapangan. Orang yang bertanggung jawab tidak akan menyalahkan orang lain untuk kesialan yg ia derita. Itu adalah hasil kerjanya sendiri.

  3. Abuzaky berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Saya sbg anggota KPPS juga heran dengan kasus DPT ini, masak rekan saya yang juga anggota KPPS tidak terdaftar di dalam DPT??? Aneh bin ajaib!!

    Tapi setidaknya rasa kecewa agak terobati… lantaran bukan Demokrat yang menang, setidaknya di TPS saya. he he …

    Lima tahun mendatang, SBY sudah 2x berkuasa, jatah telah hilang.
    Akankah Demokrat sebagai kumpulan “SBY Fans Club” juga melayang seiring SBY menghilang????

  4. imamgoblog berkata:

    Demokrat menang memang asli pilihan rakyat yang tidak menerima sogokan apapun dari Partai ataupun Calegnya. Rakyat sekarang sudah pintar memilih mana yang omong kosong dan mana yang bicara nyata.
    Lucu kita melihat tokoh-tokoh politik yang banyak berkoar-koar baik tokoh yang usang yang ingin mencoba memimpin negara padahal namanya pernah cacat di masa lalu, Ada juga tokoh yang pernah gagal memimpin negara ini dan banyak menjual aseyt negara sekarang ingin coba lagi memimpin dengan seribu janji, Ada lagi tokoh lama dengan kemasan baru tokoh baru tapi sok tahu, semua itu hanya akan menuai kegagalan.
    coba saja lihat nanti mereka yang kalah seperti kebakaran jenggot dan mencari dukungan-dukungan kemana-mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: