Siapa Penantang SBY di Pilpres 2009?

Setelah Pemilu April 2009 ini, sudah menjelang Pemilu Presiden pada Agustus 2009 nanti. Kalau tidak salah, Pilpres nanti bebarengan dengan momen Ramadhan 1430 H. Menurut hasil quick count, Demokrat sudah dipastikan sebagai pengumpul suara terbanyak dengan kisaran antara 19 % sampai 21 %.

Lalu bagaimana prospek Pilpres Agustus 2009 nanti?

Sebelum itu, mari lihat hasil kasar quick count versi LSI bekerjasama dengan TVOne, dengan total olah data sekitar 98,30 % (nyaris 100 %). Berikut perinciannya:

1. Partai Demokrat ==> 20, 16 %.

2. Golkar ==> 14, 91 %.

3. PDIP ==> 14, 06 %.

4. PKS ==> 7, 76 %.

5. PAN ==> 6, 06 %.

6. PPP ==> 5, 20 %.

7. PKB ==> 5, 11 %.

8. Gerindra ==> 4, 17 %.

9. Hanura ==> 3, 49 %.

10. PBB ==> 1, 66 %.

Update data sampai pukul 5.00 WIB, tanggal 10 April 2009, di TVOne.

KONFIGURASI PASANGAN CAPRES

Kalau melihat hasil di atas, kita bisa membayangkan beberapa konfigurasi koalisi partai-partai politik untuk maju ke bursa Pilpres pada Agustus 2009 nanti, yaitu sebagai berikut:

[A]. Partai Demokrat dengan mudah akan maju dalam Pilpres Agustus 2009 seorang diri, sekalipun tanpa koalisi dengan partai lain. Dengan asumsi, perolehan kursi PD di Parlemen melebihi 20 %. (Perlu diingat, total suara 20 % dalam Pemilu tidak otomatis menjadi 20 % di kursi Parlemen). Tetapi jika Demokrat membutuhkan koalisi, sangat mudah memilih partai yang dia sukai.

[B]. Partai Golkar dan PDIP jika jadi berkoalisi juga sangat mudah, sebab sama-sama memperoleh suara sekitar 15 %. Tinggal memikirkan, bagaimana formula pasangan Jusuf Kalla dan Megawati akan disandingkan, dengan segala kalkulasi resiko politiknya. Jika menghitung kenyataan selama ini, JK sudah tidak berminat menjadi Wapres, begitu pula Megawati. Mungkin diperlukan figur lain di luar kedua pasangan. Misalnya, JK menjadi Capres, lalu Wapresnya dari PDIP misalnya Pramono Anung. Atau Megawati sebagai Capres, lalu politisi Golkar misalnya Priyo Budi Santoso sebagai Wapres. Adapun JK dan Mega siap menjadi “Ketua Dewan Pembina” partai masing-masing, jika tidak dipasangkan sebagai Wapres.

Jika mau lebih kuat, Golkar-PDIP melanjutkan konsep “golden triangle” yang sudah mereka rintis dengan PPP. Fungsi PPP disana lebih ke arah memperkuat koalisi dan mendukung sukses Pemilu, sebab PPP tidak memiliki figur-figur yang kuat. Bisa juga dicoba, misalnya JK dipasangkan dengan Suryadarma Ali, dengan kerelaan PDIP; atau Mega dipasangkan dengan Suryadarma Ali, dengan kerelaan Golkar. Ya itu tergantung perundingan politik mereka. Di saat seperti ini sangat dibutuhkan ketrampilan berpikir cepat.

Atau bisa juga, Golkar-PDIP bisa menggandeng Hanura yang memperoleh suara sekitar 3 %. Dari sisi suara, Hanura sebenarnya kurang kuat, tetapi dari figur Wiranto, pasangan Capres Golkar-PDIP bisa lebih kuat lagi. Hanura memiliki nilai lebih dari sosok seorang Wiranto, meskipun secara kepartaian mereka masih baru. Dalam praktiknya, Wiranto bisa diangkat sebagai pendamping JK atau Mega. Jika dengan JK, harus atas dukungan PDIP; jika dengan Mega, harus atas dukungan Golkar.

Atau bisa konsep lain, JK menggandeng Sultan Hamengku X dengan dukungan PDIP; atau sebaliknya, Mega menggandeng Sultan Hamengku X dengan dukungan Golkar. Jadi, semua itu tergantung perundingan elit-elit kedua partai. Tetapi koalisi keduanya memang layak menjadi penantang SBY.

[C]. Munculnya barisan alternatif, yaitu koalisi Islam-Nasionalis. Ia adalah gabungan dari partai-partai Islam/massa Muslim yang memperoleh suara di bawah 10 %. Di dalamnya tergabung PAN, PPP, PKB, Gerindra, dan PBB. Kalau ditotal, suara mereka bisa mencapai sekitar 22 %. Hal itu sudah cukup untuk maju ke bursa Pilpres, dengan ketentuan perolehan kursi mereka di DPR melebihi 20 %.

Pasangan yang bisa dimunculkan disini adalah Sutrisno Bachir dan Prabowo. Sutrisno sebagai Capres, sebab PAN menjadi pengumpul suara terbanyak. Sementara Prabowo menjadi Cawapres dengan perhitungan, dia memiliki kharisma sebagai figur sosial yang kuat. Kedua pasangan ini bisa menjadi “kuda hitam” bagi partai-partai lainnya.

POSISI PKS

Lalu pertanyaannya, dimana posisi PKS?

Dari perolehan suara, PKS jelas merupakan partai yang significant, meskipun perolehannya hampir sama dengan Pemilu 2004 lalu. Setidaknya PKS hari ini masuk ke barisan 5 besar parpol di Indonesia. PKS bisa mengungguli PAN, PPP, PKB, yang notabene adalah “senior-senior” PKS dalam jagad perpolitikan Indonesia. Hanya saja, PKS menghadapi kendala sangat kuat dari dua sisi:

(a) Rivalitas dengan partai-partai Islam/basis Muslim. Rivalitas ini sangat jelas antara PKS, PAN, PPP, maupun PKB. Padahal semuanya merupakan partai Islam atau berbasis massa Muslim. Jika memandang ego politik masing-masing, sulit PKS akan bersatu dengan partai-partai itu.

(b) Perilaku politik PKS sangat sulit diprediksi. Termasuk menjelang Pemilu Legislatif kemarin, PKS tampak mendekat ke Demokrat. Apakah kedekatan itu akan dilanjutkan ke koalisi atau tidak, wallahu A’lam. Hanya elit-elit PKS yang memahaminya.

PKS berhadapan dengan pilihan-pilihan. Dia bisa berkoalisi dengan PD, lalu menjadi bagian integral dari regim berkuasa. Atau dia bisa koalisi dengan Golkar-PDIP, melanjutkan harapan mereka semula. Dengan catatan, PKS tidak “sakit hati” soal komitmen koalisi Golkar-PDIP beberapa waktu lalu. Sebagai imbalannya, PKS menerima sejumlah “bagi hasil posisi” yang lebih segar dari yang sudah mereka peroleh pada Kabinet SBY 2004-2009. Kecil kemungkinan PKS akan berkoalisi dengan “barisan alternatif”, sebab mereka biasa menggunakan kalkulasi politik “tingkat tinggi”.

PERTARUNGAN PILPRES

Dari perolehan suara yang sudah ada, berdasarkan quick count, bisa muncul 3 pasangan capres-cawapres, yaitu dari Partai Demokrat, koalisi Golkar-PDIP, dan koalisi alternatif dari PAN, PPP, PKB, Gerindra, dan PBB. Ketiga pasangan ini sangat riil maju ke Pilpres 2009.

Bahkan perlu dicatat, dalam Pilpres 2009 nanti tidak perlu ada PUTARAN KEDUA, cukup satu putaran saja. Dengan sekali putaran saja, sudah bisa ditentukan siapa yang berhak menjadi Presiden RI periode 2009-2014.

Namun jika muncul 3 PASANGAN CALON PRESIDEN-WAPRES, jelas pasangan SBY akan maju menjadi Presiden RI untuk kedua kalinya. Sulit bagi dua pasangan lain untuk mengalahkan SBY jika mereka terpecah dalam dua barisan pasangan. Namun jika yang muncul hanya dua pasangan saja, yaitu SBY dan pasangan penantangnya (misalnya hasil koalisi Golkar-PDIP dan partai lain), insya Allah pertarungan politik akan berjalan sangat ketat.

Sangat disarankan agar pasangan “barisan alternatif” tidak memunculkan calon, agar muncul pasangan SBY dan penantangnya saja. Hal ini akan menghasilkan pertarungan Pilpres yang seimbang. Jika muncul 3 pasangan, bahkan 4 pasangan misalnya, jelas pasangan SBY akan merajai Pilpres. Dan kekalahan pasangan-pasangan lain itu bisa sangat telak, sehingga secara emosional akan sangat berat di depan publik (seperti kekalahan partai-partai yang mendapat suara 0 % di Pileg April 2009).

ALTERNATIF TERBURUK

Apa yang disebutkan di atas adalah skeario normal yang bisa berjalan. Tetapi bisa juga ada kemungkinan lain, yaitu konsep koalisi “terburuk”. Maksudnya, partai-partai berebut mendekat kepada Partai Demokrat dan siap memperkuat SBY untuk memimpin kembali Indonesia pada periode 2009-2014.

Misalnya, Golkar, PKS, PAN, PPP, PKB, dan PBB merapat ke Demokrat. Sehingga mereka mendapat formulasi suara terbanyak dalam teori, dan akan dengan mudah memenangkan Pemilu menghadapi koalisi PDIP, Gerindra, dan Hanura. Namun resikonya, kehidupan politik akan kembali seperti masa lalu; rivalitas PDIP dengan partai-partai penguasa akan semakin kuat; dan keberadaan partai-partai seperti Golkar, PKS, PAN, PKB, PPP, dan PBB hanya menjadi “kembangan politik” saja. Bahkan di masa selanjutnya, eksistensi mereka bisa terus tereduksi.

Atau bisa lebih buruk lagi, semua partai politik penghuni rangking 10 besar berada satu atap di bawah Demokrat, dengan menyisakan PDIP sebagai satu-satunya kekuatan oposisi. Termasuk Gerindra dan Hanura menjadi sekutu Demokrat. Jika demikian, berarti tamat sudah era demokrasi di Indonesia. Ya, tidak ada lagi rivalitas, sebab semua partai ingin mencari aman di depan partai pemenang (Demokrat).

Akan muncul pertarungan politik yang seimbang dan elegan, jika SBY dihadapi penantang dari “golden triangle” yaitu koalisi Golkar, PDIP, PPP. Atau mungkin ditambah partai lain, seperti Gerindra dan Hanura. Jika demikian, baru pertarungan Pilpres akan “enak ditonton”. Dan tentu akan lagi-lagi menjadi “hari raya” bagi lembaga-lembaga surve, seperti diklaim oleh direktur LSI di TVOne.

Selamat bertarung dalam Pilpres Agustus 2009! Ada dinamika politik yang luar biasa, jika para elit politik tidak sekedar memikirkan “gue dapat ya?” Tetapi mereka dengan ketulusan hatinya benar-benar ingin melakukan perubahan peta perpolitikan, demi perbaikan kehidupan bangsa. Semoga!

Bandung, 10 april 2009.

AM. Waskito.

Iklan

5 Responses to Siapa Penantang SBY di Pilpres 2009?

  1. maris berkata:

    Halo bung, kenalkan nama saya ari. Dari tulisan anda ada yang sepakat dan tidak. Saya pernah nulis di comment Pak JK. Secara prinsip saya setuju dengan adanya dua koalisi dan dan dua capres. Namun dilihat dari arah politik sekarang nampaknya berkaitan dengan koalisi golden triangle saya lebih setuju. 3 partai golkar, pdip,p3, gerindra dan hanura disatu pihak dan yang lain dikoalisi lain.

    Namun, kita juga harus bisa menampilkan tokoh yang bisa mengimbangi SBY karena ternyta tidak semua rakyat paham betul politik yang terjadi sekarang. Tokoh perubahan yang ditampilkan harus benar-benar diyakini mampu mengalahkan tokoh lanjutkan yaitu SBY.

    Dalam kaitan dengan hal tersebut saya mempunyai pemikiran agar partai-partai penantang hendaknya menurunkan egonya karena hanya untuk jabatan capres dan cawapres. Sulit rasanya menampilkan mega untuk kembali. Prabowo juga muncul baru saja. Demikian dengan Pak Kalla yang sangat saya hormati tidak mungkin menjadi cawapres saja. Untuk capres rasanya juga sangat sulit. Sultan saya pikir juga belum teruji. Apalagi suara di jogja, golkar juga tidak signifikan. Nah siapakah tokoh itu.

    Tokoh itu hendanya bukan hanya akan mengangkat isu asal bukan S, atau sekedar perubahan saja. Tetapi juga tidak memberikan resiko politik yang besar. Nah, untuk itu dibutuhkan tokoh alternatif yang diusung oleh koalisi yang kuat. Oleh karena itu saya menyarankan agar Pak Amin Rais saja yang diajukan. Nah yang sulit adalah mencari wakilnya ini.

    Yang saya doakan saat ini, agar kalaupun Pak JK mundur dari pentas politik, bisa mundur dengan terhormat. Sosok Pak JK terlalu baik untuk dihujat dan terlalu besar jasanya bagi indonesia daripada untuk disalahkan terus. Satu yang mungkin belum diperhatikan Pak JK selama ini adalah kepedulian di bidang IPTEK, selebihnya sangat sempurna sekali

    Terima kasih

  2. maris berkata:

    Halo bung, kenalkan nama saya ari. Dari tulisan anda ada yang sepakat dan tidak. Saya pernah nulis di comment Pak JK. Secara prinsip saya setuju dengan adanya dua koalisi dan dan dua capres. Namun dilihat dari arah politik sekarang nampaknya berkaitan dengan koalisi golden triangle saya lebih setuju. 3 partai golkar, pdip,p3, gerindra dan hanura disatu pihak dan yang lain dikoalisi lain.

    Namun, kita juga harus bisa menampilkan tokoh yang bisa mengimbangi SBY karena ternyta tidak semua rakyat paham betul politik yang terjadi sekarang. Tokoh perubahan yang ditampilkan harus benar-benar diyakini mampu mengalahkan tokoh lanjutkan yaitu SBY.

    Dalam kaitan dengan hal tersebut saya mempunyai pemikiran agar partai-partai penantang hendaknya menurunkan egonya karena hanya untuk jabatan capres dan cawapres. Sulit rasanya menampilkan mega untuk kembali. Prabowo juga muncul baru saja. Demikian dengan Pak Kalla yang sangat saya hormati tidak mungkin menjadi cawapres saja. Untuk capres rasanya juga sangat sulit. Sultan saya pikir juga belum teruji. Apalagi suara di jogja, golkar juga tidak signifikan. Nah siapakah tokoh itu.

    Tokoh itu hendanya bukan hanya akan mengangkat isu asal bukan S, atau sekedar perubahan saja. Tetapi juga tidak memberikan resiko politik yang besar. Nah, untuk itu dibutuhkan tokoh alternatif yang diusung oleh koalisi yang kuat. Oleh karena itu saya menyarankan agar Pak Amin Rais saja yang diajukan. Nah yang sulit adalah mencari wakilnya ini. Dalam hal ini, saya bukanlah penggemar Amin Rais.bahkan saya sempat geram waktu menurunkan Gus Dur. Tapi tema saat ini adalah “Perubahan dan Kemenangan”////Buat apa kalo tidak menangkan…heheh

    Yang saya doakan saat ini, agar kalaupun Pak JK mundur dari pentas politik, bisa mundur dengan terhormat. Sosok Pak JK terlalu baik untuk dihujat dan terlalu besar jasanya bagi indonesia daripada untuk disalahkan terus. Satu yang mungkin belum diperhatikan Pak JK selama ini adalah kepedulian di bidang IPTEK, selebihnya sangat sempurna sekali

    Terima kasih

  3. Astin berkata:

    hi…
    Analisa anda boleh juga, kalau boleh saya tambahi nih..
    kalau terjadi Golkar koalisi sama PDIP dengan catatan memunculkan figur baru : Sri Sultan X dan salah satu Kader muda PDIP maka predikasinya akan keluar jadi pemenang pilpress.

    Hitung hitungannya begini: basis masa SBY di Jawa akan terbelah ke Sultan, sementara dukungan dari luar jawa akan cenderung ke sultan juga ( karena massa golkar ).

    Akan lebih solid lagi jika menggandeng Gerindra dan Hanura jadi massa golkar yang pada pileg kemarin pecah akan bersatu lagi.

    Yang masih menjadi pertanyaan dimana posisi partai-partai Islam/basis Muslim. Kalau koalisi ke Demokrat maka persaingan akan ketat, jika memilih Golkar-PDIP maka bersiaplah mendapat presiden baru.

  4. kalo menurut saya sih, simpel aja..

    cuman akan ada 2 blok/pasangan presiden-wapres di pilpres nanti..

    kecuali ada poros yang sangat yakin buat nandingin 2 blok itu (SBY dan Mega)

  5. dir88gun2 berkata:

    assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas? 😐

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: